Semua karakter milik masashi kishimoto
Tapi cerita ini milik saya
.
.
.
.
"Sensei, kenapa Sasuke tidak masuk lagi?" Rasa penasaran menghantui anak-anak yang lain , mungkin para menggemar Sasuke sudah mulai khawatir, karena idola mereka sudah tidak masuk beberapa hari.
anak itu sudah tidak masuk selama 4 hari, apa dia membolos., tidak Sasuke itu anak teladan dia tidak mungkin membolos, lagi pula jika dia membolos orang tuanya pasti marah besar. Setidaknya jika mereka masih ada.
"Aku mendapat kabar bahwa dia sedang sakit, Sasuke masih belum bisa mengikuti pelajaran bersama kita". Naruto tau Iruka-sensei bohong, "tapi kalian tenang saja, Sasuke baik-baik saja". Sebenarnya Naruto tau, dia telah mendengarnya kemarin saat dia ingin menemui Kakek Hokage, clan Uchiha telah di bantai, hanya satu orang yang masih hidup yaitu Sasuke. Dan yang lebih parahnya lagi pelakunya adalah kakak nya sendiri.
Iruka-sensei sudah memulai kembali pelajaran nya, dia harus memperhatikan atau pura-pura memperhatikan saat pelajaran kali ini cukup membosankan baginya. Iruka-sensei bilang pelajaran awal hari ini adalah teori tentang taijutsu, yang di mana menurutnya belajar teori tanpa praktik secara langsung itu membosankan.
Tidak berapa lama wajah bosan Naruto kembali cerah saat dia mendengar kalimat terakhir Iruka-sensei, dia bilang setelah selesai teori mereka akan mempraktikkannya langsung yaitu latih tanding seperti biasa.
Biasanya saat latih tanding 1 lawan 1 seperti ini dia akan memilih Sasuke sebagai lawannya, Begitu juga sebaliknya Naruto rasa latih tanding melawan Sasuke itu penuh tantangan, menegangkan, dan tentu saja mendebarkan, karena Naruto akui bahwa Sasuke itu lawan yang kuat. Terkadang dia memikirkan nya, apakah Sasuke juga merasakan hal yang sama dengan dirinya, rivalitas tanpa batas?, entahlah dia tidak tau.
.
.
.
Tidak dia sangka ke tiadaan Sasuke juga akan berefek padanya. Kali ini dia bingung, saat di suruh memilih lawannya untuk latih tanding, Sasuke tidak ada lalu siapa?, dia tidak pernah menantang anak yang lain.
Bagaimana dengan Shikamaru?, tidak dia terlalu pemalas, Naruto yakin Shikamaru akan langsung menyerah. Choji? Dia sama saja, anak itu terlalu baik, saking baiknya dia bahkan tidak mau menyakiti temannya. Kiba? Entahlah, hanya saja dia punya firasat bahwa dia akan menang dengan mudah melawan anak ini. Shino? Anak ini misterius, lihat saja cara dia berpakaian, sangat tertutup, lagi pula dia tidak pernah berbicara dengan Shino jadi sebaiknya jangan.
Lalu dengan siapa? Dia bingung sekarang, kebingungannya bertambah saat Iruka-sensei mendesaknya. "aku menantang mu" tangannya bergerak sendiri, mulut nya berucap sendiri, apa yang terjadi?. "aku terima" sekarang Naruto dalam masalah, dia malah menantang anak perempuan. Sedangkan anak-anak yang lain hanya menertawainya karena menantang perempuan sebagai lawannya "Naruto, jika kau kalah melawan perempuan sebaiknya ganti saja celana mu dengan rok pendek" dan gelak tawa anak-anak lain memenuhi tempat itu.
.
.
Kegiatan akademi sudah berakhir. Latih tandingnya? Tentu saja Naruto yang menang, itu pasti. Hari sudah sore, dia ingin jalan-jalan sebentar. Perasaannya sedang buruk hari ini, saat di akademi tadi dia merasa seperti hilang kendali sesaat, entahlah mungkin hanya perasaannya saja. Tapi itulah awal mula mod nya memburuk.
Dia malah memilih lawan secara acak. Tidak ada ketegangan sama sekali di pertandingan tadi, Naruto juga langsung mengakhirinya dengan cepat dan tanpa ampun, itu membuatnya mendapat hadiah lagi dari teman-temannya "dasar tidak punya perasaan, berani-beraninya menyakiti perempuan" sebuah ejekan yang cukup menusuk.
Jika seperti itu dia harus bagaimana, mengalah? Membiarkan dirinya di hajar? Tidak akan. Lagi pula hasilnya akan sama saja, sama-sama di ejek. Dan siapa juga yang tidak punya perasaan.
Rasa sesak di dada saat melihat sebuah keluarga yang sedang bersama, rasa rakut saat orang-orang di sekitarmu melihatmu dengan benci, rasa sedih saat tidak ada orang yang menyambutmu ketika pulang ke rumah, rasa bahagia saat ada orang yang memanggil mu dan memberi makanan padamu, rasa bahagia saat ada orang yang selalu memperhatikanmu, rasa bahagia saat ada yang datang mengunjungimu, rasa tenang saat dia sendirian. Apakah itu namanya bukan perasaan.
Sialan, dia benar-benar sensitif jika membahas tentang perasaan, mencoba menghapus perasaan yang tidak menyenangkan Naruto terus berjalan mengelilingi desa, mengabaikan setiap tatapan benci yang di tujukan padanya, dia sudah mulai terbiasa dengan itu.
Tujuannya kali ini tidak jelas. Naruto ingin latihan tapi dirinya malas, sesekali bolos latihan tidak apa-apakan.
Langkahnya terhenti, tepat di depan gerbang masuk perumahan Uchiha. Tidak ada seorang pun di sana, tempat ini di tutup. Sangat di sayangkan, salah satu klan terkuat di Konoha telah di bantai oleh orang dari klannya sendiri, dan hanya menyisakan satu orang, betapa kejamnya orang itu.
Ini adalah salah satu kejadian besar yang tidak dapat di cegah.
Naruto yakin perasaan anak itu pasti hancur. Di tinggalkan oleh orang-orang terdekat, di tinggalkan oleh kedua orang tuanya. Dan lebih parahnya lagi Kakaknyalah pelaku di balik semua ini.
Naruto kembali berjalan, terus berjalan sampai dia Melewati sebuah danau yang tidak jauh dari perumahan Uchiha. Anak itu di sana, duduk sendirian, dia sudah menduganya. Naruto ingin melewatinya dalam diam, tapi hatinya gelisah. Anak itu terlihat lebih murung dari biasanya. Inilah salah satu hal yang dia benci dari dirinya, selalu ikut campur masalah orang lain.
Katon: Gōkakyū no Jutsu
Naruto mengarahkan jutsu api yang sempurna itu tepat melewati samping kanan Sasuke. Anak itu berbalik melihatnya, menatapnya dengan tatapan membunuh.
Sasuke, tentu saja dia kaget, di serang tiba-tiba seperti itu, terlebih lagi orang itu menggunakan jutsu yang masih belum dia kuasai. Ini semakin memperburuk suasana hatinya.
"apa maksudmu, Naruto? Apa kau juga ingin membunuhku?"dia sepertinya marah, tentu saja, siapa yang tidak marah jika di serang tiba-tiba seperti itu. Dan membunuh? Hoi Naruto tidak sekejam itu "aku hanya ingin menghentikan lamunanmu". Habisnya Naruto tidak tau bagaimana cara menyapa orang ini dengan benar.
"Aku sering melihatmu latihan bersama ayahmu disini" Naruto sering lewat sini, hanya sekedar jalan-jalan karena tempat di sekitar sini cukup indah baginya. "apa kau sudah menguasainya? Jutsu itu?". Sasuke hanya diam, tidak merespons sama sekali.
"Tapi masa-masa indah itu sudah tidak ada lagi bukan?" sepertinya dia membuat Sasuke marah "jika kau kesini hanya untuk menghinaku, lebih baik kau pergi". Dia tidak bermaksud begitu, Naruto hanya ingin Sasuke selalu mengingatnya. Mengingat kehangatan sebuah keluarga, mengingat kasih sayang sebuah keluarga yang pernah dia miliki.
"Rasanya sakit sekali bukan? Benci, dendam dan ke inginan untuk membalas mulai menghapus kebahagiaan pernah yang melekat di hatimu" itu yang dia rasakan sebelum nya dengan kasus yang berbeda.
"Memangnya kau tahu apa!? Hah!?" memangnya Naruto tahu apa?, Perasaan sakit yang dia terima saat ini, rasa dendam yang muncul di hatinya saat ini, memangnya Uzumaki Naruto itu tahu tentang dirinya?.
"Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga, tapi aku tahu rasanya sendirian di kegelapan".
Naruto, anak itu. Sasuke tahu, dia hannyalah seorang anak yang bahkan tidak tahu siapa orang tuanya. Seorang anak yang di jauhi orang-orang desa. Seorang anak yang di perlakukan tidak baik oleh orang-orang desa. Dia tahu bahwa Naruto telah hidup dalam kesengsaraan dan kesendirian.
Berbeda dengan dirinya. Dia lahir sebagai seorang Uchiha, klan terhormat di konoha. Dia lahir dengan memiliki keluarga yang lengkap, seorang ayah yang hebat, seorang ibu yang baik, seorang Kakak yang menajadi kebanggaan klan dan orang-orang yang baik di sekitarnya
Dia dilahirkan di keluarga yang penuh kebahagiaan. Tapi semua itu telah di renggut darinya. Hanya rasa dendam yang tersisa, Sekarang dia sudah tidak punya tempat untuk pulang.
"Tapi kesendirian itu akan hilang, rasa sepi itu akan hilang, saat ada orang yang memanggil namamu dengan penuh kasih sayang, saat ada orang yang sangat peduli padamu, saat ada orang yang selalu memperhatikanmu, dan disanalah kau harus kembali" Naruto melanjutkan kata-katanya, Sasuke mengerti itu, rasa senang saat orang tuanya memanggil namanya, rasa senang dan bahagia saat dirimu di perhatikan oleh orang lain. Dia menginginkan perasaan itu. Apakah dia bisa mendapatkannya lagi.
"Dan jika saat itu tiba, kegelapan di hatimu akan hilang digantikan oleh perasaan bahagia yang luar biasa".
"Lagi pula, balas dendam itu percuma, yang hilang tidak akan bisa kembali"
Setelah itu Naruto langsung pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Sasuke hanya diam. Memikirkan hal yang baru saja terjadi. Apakah kata-kata Naruto tadi benar. Jika iya, rasa benci dan dendam ini tidak ada gunanya, lalu apa yang dia lalukan ke depannya. Apa dia bisa merasakan perasaan itu lagi? Apakah dia bisa kembali berharap.
Tidak, dia bisa saja berharap menemukan sebuah kebahagiaan yang baru tapi yang hilang tidak akan kembali. Tapi bolehkah dia mencari kebenaran, kebenaran di balik semua ini, kebenaran yang telah merenggut kebahagiaan yang dia miliki.
Mungkin dia bisa melanjutkan hidup dengan lebih tenang.
.
.
.
.
.
Saat kamu memiliki segalanya, kamu merasa dirimu adalah orang paling beruntung di dunia. Tapi saat sebagian kecil dari apa yang kamu miliki di ambil dan menghilang darimu. Kamu merasa dirimu adalah orang yang paling sial dan menderita di dunia ini. Dan kamu mulai berpikir apakah dunia membenciku? Apakah tuhan membenciku. tuhan pun menjawab, dengan cara memperlihatkan orang lain yang tidak pernah memiliki apa yang kamu miliki, tidak pernah merasakan kebahagiaan yang pernah kamu rasakan. Dan orang itu masih bisa tersenyum dan bersyukur di hadapan semua orang dan Tuhannya. Lalu bagaimana dengan dirimu? Hanya karena kamu kehilangan sesuatu kamu lupa bersyukur dan lupa melihat sekelilingmu. Dan bukan berarti hidupmu sudah berakhir. Percayalah suatu saat nanti, kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar dari pada yang kamu miliki saat ini.
