SUASANA yang cukup hening di kediaman pasangan Uchiha dan Haruno membuat tangisan sang balita semakin terdengar nyaring. Sasuke menyeret langkahnya menuju kamar dengan cepat. "Sakura!" panggilnya panik sembari membuka pintu. "Apa Sarada masih demam?"
Sang istri melirik kemudian mengangguk sebagai jawaban. "Kita harus segera membawanya ke dokter,"
Tanpa banyak berbicara lagi, mereka segera keluar rumah, memasuki mobil dan mengunjungi dokter anak terdekat. Sasuke bersyukur karena ternyata putri semata wayangnya hanya demam biasa, tak ada penyakit serius.
Dalam perjalanan pulang, keheningan menyelimuti mereka dikarenakan saat ini Sarada tengah tertidur lelap dalam pangkuan Sakura. Sesekali netra hijau Sakura melirik sang suami, menatapnya dengan ekspresi sendu. "Saat aku meneleponmu, kau sedang di mana?"
"Apa hakmu menanyakan hal itu padaku?" Sasuke menyahut sinis tanpa menatapnya.
Sakura menelan ludah, ia tahu Sasuke memang tak suka jika ia banyak bertanya tentang urusan pribadinya, terutama urusan yang berkaitan dengan seorang wanita bermarga Uzumaki yang amat Sakura benci. "Aku istrimu. Kurasa wajar saja aku menanyakan hal itu padamu."
Netra hitam Sasuke balas melirik, memberikan pandangan penuh rasa jijik dan benci. "Ya, kau memang istriku. Kau memang ibu dari anakku. Tapi, hanya sebatas status. Selebihnya kau tetap bukan siapa-siapa bagiku." Sasuke menarik pandangannya, kembali fokus pada jalanan. "Kau hanya orang asing,"
Setiap kata yang Sasuke lontarkan sungguh melukai Sakura. Wanita bersurai pink itu hanya bisa terdiam. Terbungkam oleh perasaan sakitnya sendiri.
Sesampainya di halaman rumah, Sakura segera turun bersama Sarada yang berada dalam gendongannya. Sedang Sasuke masih berdiri di hadapan mobil, terlihat sibuk memainkan ponselnya. Sakura tahu siapa yang tengah Sasuke kirimi pesan. Tapi, ia tak berani untuk menggubris. Ia terlalu takut. Takut pada cercaan yang akan Sasuke berikan lagi.
Mereka mulai disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Sakura sibuk menyamankan tempat tidur untuk Sarada, sedang Sasuke sibuk berkutat dengan ponselnya. Pria itu terlihat cemas. Namun, lagi-lagi Sakura tak berani bertanya. Wanita itu masih takut untuk bersuara. Nyalinya selalu menciut jika Sasuke sudah bersikap sinis padanya. Bahkan Sakura juga tak menawarinya makan malam. Bukan Sakura malas melayani sang suami, Sakura justru senang jika harus melayani Sasuke dalam hal apapun. Hanya saja, Sasuke selalu menolak masakkannya. Sasuke tak pernah mau memakan makanan yang dibuatkan atau pun yang dibeli olehnya.
Mendengar Sarada yang kembali merengek, Sasuke mengalihkan atensi, menghampiri sang anak yang terusik dari tidurnya. "Sssshhh," Sasuke membelai puncak kepala Sarada kemudian menepuk-nepuk paha mungilnya dengan lembut. "Mimpi buruk, hm? Jangan takut. Ayah ada di sini, Sayang," bisiknya seraya mengecup dahi serta pipi balita itu.
Hati Sakura sedikit membaik melihat pemandangan di depannya. Meski Sasuke selalu bersikap sinis dan kasar padanya. Tapi, Sakura senang jika sudah melihat perlakuan Sasuke terhadap Sarada. Pria itu terlihat begitu menyayanginya.
Sarada mulai tenang dan kembali tertidur meski suhu tubuhnya masih belum turun. Sasuke menghela napas lega sebelum memberi kecupan terakhir pada jemari kecil sang anak.
"Sedang apa kau di sini?"
Pertanyaan dengan intonasi sinis itu membuyarkan lamunan Sakura. "Melihatmu dan Sarada. Apa tidak boleh?" Sakura menyahut tenang.
Sasuke hanya mendengkus kasar mendengar jawaban Sakura. Pria itu hendak beranjak dari sana jika saja Sakura tak mengucapkan sesuatu yang menyulut emosi dalam hatinya, membuat Sasuke muak mendengarnya. "Aku selalu senang melihatmu dekat dengan Sarada. Aku senang melihatmu bersikap lembut dan penuh kasih sayang padanya. Seandainya aku juga bisa ikut bergabung dalam momen manismu bersama anak kita, mungkin semua akan terasa lebih menyenangkan,"
"Menyenangkan untukmu, tidak untukku," ucap Sasuke seraya berlalu, meninggalkan Sakura yang kini hanya bisa menelan bulat-bulat rasa kecewanya disertai kedua mata yang mulai memanas.
"Tch, kenapa tidak aktif, sih?" Sasuke menggerutu saat ia mencoba menghubungi wanita yang tadi ditemuinya. Perasaan cemas mulai melanda hati pria itu, tetapi ia tak bisa keluar rumah untuk kembali menemui Naruto. "Sarada sedang sakit, tidak mungkin aku pergi lagi ke sana," gumamnya seraya menghela napas pasrah. Ia harus menunggu hari esok.
Sakura berjalan lamban memasuki kamar, dilihatnya Sasuke sudah tertidur pulas. Wanita itu ingin sekali tidur di samping Sasuke seperti biasa. Ya, meski ia tak bisa memeluk atau tanpa disentuh Sasuke, tapi Sakura sudah bahagia bisa tidur satu ranjang dengan sang suami. Namun sayang sekali, untuk malam ini Sakura tak bisa tidur bersama Sasuke. Ia harus menemani Sarada di kamarnya.
Setelah mengambil satu bantal dan selimut miliknya, Sakura terdiam sebentar, menatap wajah damai Sasuke yang tengah terlelap. Satu tangannya menyentuh bibirnya sendiri. Sakura ingin sekali mengecup pipi atau bibir Sasuke seperti yang biasa ia lakukan sebelum tidur. Tetapi, sepertinya Sasuke belum terlalu lelap. Sakura takut Sasuke terbangun. Bisa-bisa Sasuke murka padanya jika mengetahui kebiasaan Sakura yang selalu diam-diam menyentuhnya saat ia tengah tertidur pulas.
Naruto yang biasa senang mengawali pagi harinya dengan merapikan dan membersihkan rumah, kini masih terdiam lesu di atas kasur padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan.
Netra biru Naruto melirik ponselnya yang tergeletak di dekat pintu, benda pipih itu telah hancur berkeping akibat perbuatannya semalam. Alih-alih menyesali perbuatannya karena merusak alat komunikasinya dengan Sasuke, Naruto justru bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada hatinya? Akhir-akhir ini emosinya memang tak bisa dibendung dan untuk melampiaskannya ia selalu merusak barang-barang di sekitarnya.
Menghela napas, Naruto menutup wajahnya menggunakan telapak tangan dalam beberapa detik sebelum beranjak dari ranjang dan mulai membersihkan diri. Namun, baru saja Naruto keluar kamar, ia harus dikejutkan oleh seseorang yang tengah terduduk santai di sofa ruang tengah. "Sasuke-kun?" gumamnya.
Sasuke yang semula fokus menonton kini mengalihkan atensinya pada wanita yang berdiri tak jauh dari tempat ia berada, sesosok wanita yang sangat ia cintai setelah Mikoto—ibunya.
Naruto hanya terdiam saat Sasuke melambaikan satu tangannya. Pria Uchiha itu memang memiliki kunci duplikat rumah ini, sehingga ia bisa masuk dan pergi kapan saja sesuai keinginannya. Dan ini bukan kali pertama Sasuke tiba-tiba ada di dalam rumahnya. Sasuke cukup sering melakukan hal demikian. Masuk tanpa permisi.
Melihat Naruto yang tak sedikit pun beranjak, Sasuke lantas berdiri dan menghampirinya. "Wajah bangun tidurmu jelek sekali," guraunya seraya melempar senyuman menawan.
"Ih," Naruto menahan dada Sasuke saat pria itu semakin mendekat dan hendak mencium bibirnya.
"Kenapa?" Sasuke memiringkan kepala, menatap Naruto dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat. "Sudah bosan dicium olehku?"
"Aku malu!" Naruto menggeleng. "Aku 'kan baru bangun tidur. Belum mandi dan gosok gigi,"
Mendengar jawaban sang kekasih, Sasuke tertawa kecil dengan suaranya yang parau dan berat. "Apa masalahnya? Kau juga sering menciumku jika aku masih tertidur,"
Kedua pipi Naruto merona bersebab malu. Ternyata Sasuke sudah tahu kebiasaan dirinya yang selalu menghujani wajah Sasuke dengan morning kiss jika pria itu bermalam dengannya baik ketika mereka sedang tidur di rumah mau pun menginap di hotel.
"Aku tidak menyangka, ternyata istriku agresif juga," Sasuke semakin menggoda Naruto yang sudah terlampau malu.
Hati Naruto selalu berbunga-bunga jika Sasuke sudah memanggil ia sebagai istrinya. Naruto berharap, kelak ia benar-benar akan menyandang status tersebut, bukan lagi khayalan mereka semata.
"Ah, kau menyebalkan!" Naruto menggerutu kesal bercampur malu dengan satu tangan yang mencubit pinggang pria itu, membuat Sasuke tergelak dibuatnya.
Hati Sasuke menghangat melihat Naruto yang mulai tersenyum padanya. Ia benar-benar bersyukur. Ia pikir, Naruto akan merajuk dengan memakan waktu yang sangat lama. "Apa kau sudah memaafkanku?" Sasuke mulai berbicara serius. Tangan kirinya menarik pinggang Naruto agar tubuh mereka saling menempel, sedang tangan kanannya ia gunakan untuk membelai sebelah pipi Naruto, mengusap mata Naruto yang sembap. Sasuke tahu, kekasihnya ini pasti menangis semalaman. "Hanya perasaanku atau ..., akhir-akhir ini kau begitu cengeng?"
Meski Sasuke bertanya serius, tapi Naruto merasa bahwa pertanyaan pria itu hanyalah untuk menggodanya. "Apa kau sedang mengejekku?" sahutnya sembari mengerucutkan bibir.
Sasuke tergelak. "Tidak, Sayang. Aku serius. Akhir-akhir ini kau terlihat lebih manja dan lebih emosional," tuturnya jujur, karena biasanya Naruto tak seperti ini. Wanita itu selalu terlihat energik, ceria dan tak mudah menangis apalagi merajuk.
"..." Naruto diam sebentar sebelum mengangguk lamban. "Kau benar," akunya sedikit enggan. "Aku juga tidak tahu kenapa aku menjadi sensitif begini. Kau pasti risih, ya?"
"Tidak. Sama sekali tidak," Sasuke tersenyum tulus kemudian menarik tubuh Naruto ke dalam dekapannya. "Mood seseorang bisa berubah, bukan? Dan aku mengerti itu. Lagi pula aku senang kau menjadi sangat manja, dulu kau selalu bersikap sok mandiri 'kan, tak pernah mengandalkanku."
"Aku tidak masalah pada perubahan mood-mu saat ini. Yang paling aku takutkan adalah perubahan perasaan dalam hatimu untukku. Aku takut kau tidak mencintaiku lagi,"
Naruto balas memeluk, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Sasuke, menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang menguar kuat. "Aku selalu mencintaimu," sahutnya sembari memejamkan mata, berada dalam dekapan Sasuke memang hal yang ternyaman baginya. "Sejak kapan kau di sini?"
"Belum lama. Sekitar satu jam yang lalu. Saat bangun aku langsung mandi dan pergi ke sini,"
"Kenapa tidak membangunkanku?" Naruto melepas pelukan, menatap Sasuke dengan satu alis terangkat. Jika Sasuke berkunjung tanpa permisi sedang ia masih terlelap, biasanya pria itu akan mengganggunya hingga Naruto terbangun.
"Tidurmu terlihat sangat pulas. Aku jadi tidak tega untuk mengganggumu," Sasuke melirik ke arah kamar Naruto, tepatnya pada benda yang telah hancur berkeping di atas lantai. "Sepertinya kau butuh ponsel baru, Sayang," tuturnya dengan senyum terkulum. Awalnya Sasuke terkejut saat memasuki rumah dan membuka pintu kamar Naruto kemudian mendapati ponsel wanita itu hancur berkeping di atas lantai. Tetapi, menyadari bahwa saat ini emosi Naruto memang tak stabil membuat Sasuke mengerti.
Naruto hanya terdiam dengan kedua pipi yang bersemu. Hari ini Sasuke senang sekali menggodanya.
Melihat tingkah Naruto yang selalu menggemaskan, Sasuke tak tahan untuk tidak menghujani wajah sang kekasih dengan ciuman-ciuman basah sebelum meminta wanita itu agar segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi bersamanya.
"Kita mau ke mana?" tanya Naruto setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian sederhana namun cukup elegan.
"Membeli ponsel baru untukmu," Sasuke menahan pergerakan Naruto yang hendak meraih sebuah blush on dan lips stick. "Tidak usah memakai make up,"
Naruto mengernyit. "Kenapa?"
"Kau mau menjadi pusat perhatian laki-laki lain?" Sasuke bertanya sarkas. Naruto hampir saja lupa. Pria Uchiha itu 'kan memang sangat tidak suka jika Naruto keluar rumah dengan memakai make up, baik jika pergi bersamanya atau pun tidak. Pasalnya, pria di luaran sana selalu memperhatikan Naruto, dan Sasuke benci melihat hal itu. Ia tak senang apabila ada mata pria lain yang menatap Naruto dengan pandangan memuja.
Bahkan, karena sifat posesifnya yang terlampau tinggi, Sasuke meminta Naruto untuk keluar dari pekerjaannya sebagai seorang barista. Bukan tanpa alasan Sasuke melakukan hal tersebut. Melainkan karena rekan kerja Naruto yang bernama Kakashi selalu berusaha dekat dengan Naruto. Meski pekerjaan Sasuke tak sama dengan Naruto, tapi di sela-sela kesibukannya sebagai pegawai kantoran Sasuke selalu berusaha menyempatkan diri untuk memantau gerak-gerik sang kekasih di tempat kerjanya. Dan ketika menyadari bahwa Kakashi menaruh perhatian lebih pada kekasihnya, Sasuke meminta Naruto untuk keluar dari sana. Hingga saat ini pun Sasuke tak mengizinkannya untuk bekerja. Semua kebutuhan wanita itu ia yang menanggungnya. Ya, Sasuke pikir lebih baik begitu daripada Naruto digoda oleh pria lain dan berpaling darinya. Membayangkan Naruto ada di pelukan pria lain saja membuat hati Sasuke berdenyut tak nyaman.
Naruto menurut. Keinginan Sasuke memang selalu mutlak. Ia tak boleh membantah. Namun, Naruto sama sekali tidak merasa risi atas sikap over protective yang Sasuke miliki. Naruto justru merasa senang karena itu artinya Sasuke betul-betul menyayanginya.
Tak butuh waktu lama bagi mereka mencari ponsel untuk Naruto. Sasuke membelikan wanita itu sebuah ponsel keluaran terbaru. "Bagus, 'kan?"
"Bagus, sih. Tapi, aku 'kan hanya butuh yang biasa saja. Yang penting kita bisa berkomunikasi," Naruto merasa tak enak pada Sasuke. Pria itu harus mengeluarkan uang yang cukup banyak meski nyatanya bagi Sasuke itu tidaklah seberapa.
Sasuke hanya tersenyum menanggapinya dengan satu tangan yang mengusap lembut puncak kepala Naruto. Selama perjalanan pulang, mereka saling melempar canda hingga ketika tiba di rumah pun suasana hati mereka masih secerah dan sehangat mentari.
"Hari ini kita membuat camilan kesukaan—" ucapan Naruto terpotong kala dering ponsel Sasuke menginterupsinya. "Siapa?" tanyanya saat pria itu merogoh ponsel dalam saku celana.
"Sakura," jawab Sasuke sedikit enggan. Pria itu hendak menerima panggilan tersebut, namun Naruto dengan cepat merebut ponselnya. "Kembalikan, Sayang,"
Alih-alih mengembalikan ponsel itu kepada sang pemilik, Naruto justru menolak panggilannya kemudian menonaktifkan ponsel tersebut. "Aku tidak mau waktu kita terganggu," sahutnya tanpa menyadari perubahan raut wajah Sasuke yang terlihat sedikit kesal.
"Cukup, Naruto!" bentaknya tanpa sadar, membuat wanita itu berjengit kaget. Pasalnya, Sasuke belum pernah meninggikan suara kepadanya dalam konteks marah.
Naruto yang awalnya tengah bersandar manja pada tubuh Sasuke, kini sedikit menggeser posisi duduknya, menatap Sasuke dengan pandangan tidak percaya.
"Kau keterlaluan," Sasuke berdecak sembari berusaha meraih ponselnya dalam genggaman Naruto, tetapi wanita itu masih mencengkeramnya dengan kuat. "Kembalikan,"
"Keterlaluan ...?" Naruto membeo dengan suara bergetar. "Apanya yang keterlaluan?" Kedua matanya mulai memanas.
Sasuke sadar bahwa ialah yang sudah keterlaluan karena membentaknya. Pria itu segera menyentuh jemari Naruto dengan lembut. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Tapi, kau harusnya mengerti—"
"Apa yang harus kumengerti lagi!?" Tatapan Naruto menajam, namun meski begitu, perasaan terluka tak mampu wanita itu sembunyikan. "Kenapa kau semarah ini hanya karena aku mematikan ponselmu saat Sakura sedang mencoba menghubungimu?" Perasaan sesak mulai menjejali dadanya. "Apa kau mulai menyukainya? Apa kau mulai mencintainya?"
Sasuke menghela napas. "Ini bukan masalah tentang siapa yang meneleponku. Tapi, di sana anakku sedang sakit. Aku ingin menjawab panggilannya karena aku takut sesuatu terjadi kepada Sarada. Kau paham, kan?"
Mendengar jawaban Sasuke, hati Naruto semakin berdenyut sakit. Naruto mulai melepaskan ponsel Sasuke, menyimpannya secara asal di atas paha pria itu. Netra birunya yang telah membendung cairan bening tak lagi memandang Sasuke, kini Naruto hanya menatap kosong ke depan. "Jika kau sebegitunya khawatir pada Sarada, kenapa kau datang ke sini? Kenapa kau mengunjungiku? Seharusnya kau diam saja di sana, menemani istri dan anakmu."
"Nar, dengarkan penjelasan—"
"Semuanya sudah jelas." Naruto menyelanya cepat. "Semenjak Sarada hadir, jarak kita semakin jauh. Kita menjadi jarang menghabiskan waktu bersama. Kau lebih sering pergi, membiarkan aku sendiri di sini. Ya ..., sepertinya aku memang sudah tidak begitu penting bagimu. Aku tahu, perlahan posisiku akan berubah. Takkan lagi menjadi prioritasmu. Aku akan menjadi orang asing dalam hidupmu. Semua akan berubah seperti awal ketika kita hanya sebatas mengenal nama."
Sasuke segera memeluknya dari samping. "Maafkan aku, aku hanya berusaha adil. Jangan salahkan Sarada. Dia hanya seorang anak kecil yang tak mengerti apapun, seorang anak kecil yang hanya ingin terus berada di dekat ayahnya. Mengertilah, kumohon ..."
Ucapan Sasuke benar-benar seperti sebilah pisau yang menyayat hati sang pendengar. Sadar bahwa Sasuke tetap bersikukuh membela Sarada—sang anak, Naruto memilih untuk melepas pelukan pria itu dan segera beranjak menuju kamar. "Aku mengerti, sangat mengerti. Jadi, pergilah. Pulang ke kediamanmu dan Sakura," ucapnya mengabaikan Sasuke yang menatapnya nanar.
"Naru," Sasuke berusaha menyusul langkahnya, namun ucapan Naruto selanjutnya membuat tubuh pria itu membeku di tempat, seperti ada batu besar yang menghantam hatinya saat itu juga.
"Jangan pedulikan aku. Pergi dan tak perlu kembali,"
Setelah berada di dalam kamar, Naruto segera menguci pintu dan bersandar pada daun pintu tersebut. Punggung Naruto berguncang hebat bersebab isakannya yang terdengar sangat memilukan. "Haruskah kita kembali menjadi orang asing ...?" Di sela-sela isakannya, ia bergumam seraya menegakkan pandangan dengan satu tangan yang mengelus perutnya sendiri. "Seandainya aku mengandung dan melahirkan anak kita, apa kau akan memperlakukannya seistimewa sikapmu pada Sarada?" gumamnya semakin lirih.
.
.
.
TBC
Selalu jaga kesehatan, ya. Jangan keluar rumah jika tidak ada urusan yang begitu penting/mendesak. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan اللّٰه. Aamiin. #DiRumahAja
Wattpad, 28/03/20
FFN, 29/03/20
