Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Freezing: Lim Dall-young and Kim Kwang-Hyun
.
.
.
Quietly
By Hikasya
.
.
.
Chapter 2. Menyambut
.
.
.
Saat sarapan berlangsung, Minato berbicara dengan Naruto yang duduk berhadapan dengannya. Sementara Kushina terdiam mendengarkan mereka.
"Naruto, hari ini Cassie sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ayah minta kau yang menjemputnya," ungkap Minato seraya menunjuk Naruto dengan sumpit.
"Baiklah," sahut Naruto mengangguk patuh, "berarti misi itu dimulai hari ini, 'kan?"
"Ya. Setelah sarapan, kau cepat pergilah ke rumah sakit."
"Baik, Ayah."
"Jangan lupa, nanti kalian berdua pulang sebelum jam makan siang tiba," sela Kushina dengan tegas, kemudian wajahnya merona merah sambil memegang kedua pipinya, "ah, aku tidak sabar bertemu dengan Cassie yang kalian maksud itu. Naruto, cepat bawa dia pulang ke sini, ya."
"Ya, Bu."
Naruto mengangguk sekali lagi dan buru-buru menghabiskan sisa-sisa makanannya serta minumannya. Minato dan Kushina tercengang karena melihat Naruto yang langsung melesat meninggalkan mereka. Suara Naruto yang keras hinggap ke telinga mereka.
"Ayah, Ibu. Aku berangkat duluan, ya!" seru Naruto yang berlari kencang keluar dari rumah. Hatinya tidak sabar ingin bertemu Cassie.
Ketika Naruto berjalan menyusuri jalanan yang dipenuhi banyak orang, dirinya bertemu dengan Sasuke dan Sakura. Ia tersenyum seraya melambaikan tangan pada kedua temannya itu.
"Hai, selamat pagi, Sasuke, Sakura!" sapa Naruto dengan wajah berseri-seri, "apa kalian berdua sedang kencan?"
"Kami tidak kencan, tahu!" balas Sakura melototi Naruto, tetapi semburat merah tipis terukir di wajahnya.
"Kalau bukan kencan, lalu apa?"
"Ini ... aku mau mengantarkan Sasuke sampai ke pintu gerbang perbatasan desa. Soalnya Sasuke mau pergi lagi."
"Eh? Kau mau pergi lagi, Sasuke? Padahal kau baru tinggal di sini beberapa hari, 'kan?"
"Banyak hal yang harus kulakukan di luar sana," tutur Sasuke dengan tenang, "urusan Cassie, kau yang menanganinya, 'kan, Naruto? Karena itu, aku bisa lebih tenang meninggalkan desa ini."
"Ya. Aku akan menjalani misi untuk menjaga Cassie hari ini. Tapi, hei, kau sudah berjanji pada Sakura kalau kau tidak akan pergi lagi, 'kan, Sasuke?"
Naruto hendak maju untuk mendekati Sasuke, tetapi dihalangi Sakura. Wajahnya mengeras dengan sorot mata yang tajam. Sedikit kesal karena Sasuke tidak menepati janji.
"Naruto, sudah!" Sakura memegang tangan Naruto agar tidak terjadi perkelahian.
"Tapi, Sakura..."
"Maaf, aku harus pergi sekarang." Sasuke segera melangkah meninggalkan Naruto dan Sakura. Wajahnya tidak kelihatan karena tertutupi poni sehingga tidak diketahui bagaimana ekspresinya. Namun, yang pasti, ia tidak ingin meninggalkan Sakura.
Naruto dan Sakura terperanjat. Sakura yang berlari mengejar Sasuke. Suaranya yang keras sungguh memekakkan telinga.
"Tunggu, Sasuke!" Sosok Sakura menghilang di keramaian. Naruto tidak berminat mengejar mereka karena terhalang misi dari Ayah.
"Dasar, Sasuke. Dia tidak memahami perasaan Sakura sama sekali, lebih mementingkan urusan pribadinya. Mereka juga sudah berpacaran, tetapi tidak terkesan berpacaran," bisik Naruto memegang dagu dengan tangan kanannya, "aaah. Entah mengapa aku sendiri yang merasa sendiri."
Naruto memutuskan untuk pergi ke arah yang berlawanan dari Sasuke dan Sakura pergi tadi. Langkahnya gontai. Hatinya tidak menentu. Entah apa yang terjadi.
Sesampainya di rumah sakit, Naruto menemui Cassie di bangsal. Cassie sedang memasukkan semua pakaian ke tas berukuran besar. Tas itu terletak di atas ranjang. Naruto terdiam memperhatikan Cassie di balik pintu.
Cassie, gadis asing yang berasal dari dunia lain. Aku diperintah Ayah untuk menjaganya. Kupikir ada baiknya juga kalau aku memiliki saudara seperti dia, batin Naruto. Senyuman pun terukir di wajahnya saat masuk ke bangsal.
"Selamat pagi, Cassie," sapa Naruto seraya berjalan menghampiri Cassie.
"Selamat pagi," balas Cassie, "oh. Kau rupanya, Naruto."
"Atas perintah Hokage Keempat, aku ditugaskan untuk menjadi pengawalmu selama kau tinggal di sini."
"Oh, begitu. Terima kasih."
"Ya, sama-sama. Lalu biar aku yang membawa ini."
Naruto menyambar tas yang hendak dijinjing Cassie. Ia menggendong tas itu di punggungnya. Cassie tersenyum karena mendapatkan perlakuan baik dari orang-orang yang baru dikenalnya di dunia ini. Menumbuhkan rasa tak terduga ketika berbicara langsung dengan Naruto untuk pertama kalinya.
"Oh ya, umurmu berapa, Naruto?" tanya Cassie tiba-tiba. Ia tersenyum.
"Sembilan belas tahun. Kalau umurmu sendiri?" Naruto balik bertanya, turut tersenyum.
"Tujuh belas tahun."
"Kita beda dua tahun. Aku lebih tua darimu rupanya."
"Ya. Maaf, kalau aku memanggilmu dengan namamu saja."
"Tidak apa-apa. Kau boleh memanggilku begitu."
"Syukurlah."
Cassie menghelakan napas lega. Naruto memperhatikan penampilan Cassie dengan saksama. Pakaian Cassie sudah sesuai dengan keadaan di dunia itu karena Sakura yang membelikan pakaian-pakaian baru untuknya. Tas yang digendong Naruto adalah pemberian dari Minato sebagai bentuk hadiah dari seorang Ayah pada putrinya.
Cassie mengerutkan kening. "Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa penampilanku aneh?"
Naruto membulatkan mata, buru-buru menggeleng bersama rona merah di dua pipinya. "Tidak aneh."
"Lalu?"
"Bagaimana kalau kita berkeliling desa ini dulu agar kau tahu tentang semuanya?"
Naruto mengalihkan perhatian sebelum Cassie menjawab pertanyaannya yang tadi. Ia menggandeng tangan Cassie dan menariknya paksa keluar dari bangsal.
"Tunggu! Kita akan kemana?" Suara Cassie menggema saat dirinya berlari bersama Naruto menyusuri koridor yang sepi.
"Kemana saja. Kau ikut saja, Cassie." Naruto menyengir sambil menoleh pada Cassie. Membuat Cassie terdiam hingga keluar dari rumah sakit.
Naruto dan Cassie pergi menjelajah ke seluruh desa. Naruto mendadak menjadi pemandu perjalanan yang menjelaskan pada Cassie tentang tempat-tempat dikunjungi. Mereka berjalan di antara orang-orang yang lalu-lalang. Di sisi-sisi jalanan dipenuhi pertokoan, restoran, penginapan, dan lain-lain. Menarik perhatian Cassie selama di perjalanan. Mereka juga tidak lupa mengunjungi kantor Hokage untuk menemui Minato.
"Kau akan tinggal bersamaku, Cassie," ucap Naruto usai menjelaskan berbagai hal tentang desa Konoha saat berjalan menjauhi kantor Hokage, "ibuku tidak sabar bertemu denganmu hari ini."
"Ya. Aku tahu itu dari Sakura. Terima kasih karena kalian sudah berbaik hati merawatku dan memberiku tempat tinggal. Aku tidak tahu harus melakukan apa demi membalas hutang budi ini pada kalian," sahut Cassie tersenyum lembut. Ia berjalan di samping Naruto.
"Tidak perlu membalas budi. Kami ikhlas menolongmu."
"Tapi..."
"Sudahlah. Lupakan itu. Yang penting, kita harus cepat ke rumah sebelum makan siang tiba. Kalau terlambat dari waktu yang ditentukan, Ibu bisa marah padaku."
Naruto langsung menggandeng tangan Cassie lagi. Gadis berambut hijau tosca itu terseret oleh langkah Naruto yang tergesa-gesa. Tanpa banyak bicara, ia menurut dan mengikuti kemana pun Naruto membawanya.
Tak lama kemudian, Naruto dan Cassie tiba juga di rumah. Mereka disambut oleh senyum merekah dari Kushina yang berdiri di dekat pintu.
"Selamat datang di kediaman keluarga Namikaze. Kamu pasti Cassie Lockhart itu, 'kan?" Kushina memegang kedua tangan Cassie erat sekali. Wajahnya cerah dengan mata yang berbinar.
"Iya, Tante siapa, ya?" Cassie tersenyum manis.
"Aku Namikaze Kushina, Ibu Naruto. Kamu panggil saja aku Ibu, bukan Tante, karena mulai sekarang kau bagian dari keluarga ini. Kau adiknya Naruto."
"Baiklah, Ibu."
"Oh, akhirnya aku mendapatkan anak perempuan. Terima kasih Tuhan."
Kushina memeluk Cassie kuat saking bahagia. Sehingga membuat Cassie merasa kehabisan napas, tetapi senyuman tetap terpatri di wajahnya. Naruto sendiri yang panik, langsung berusaha melepaskan pelukan maut sang ibu dari tubuh Cassie.
"Ibu, lepaskan Cassie. Kasihan dia," ujar Naruto dengan wajah khawatir.
"Ah, maaf, Cassie," tukas Kushina spontan melepaskan pelukan dari badan Cassie.
"Tidak apa-apa, Ibu," balas Cassie tersenyum lagi.
"Aduh, kamu benar-benar cantik dan menggemaskan."
Kushina mencubit kedua pipi Cassie hingga memerah. Naruto menghelakan napas karena Kushina bertingkah lagi, lantas menarik Kushina agar menjauh dari Cassie.
"Ibu, kami lapar. Apa kami bisa makan sekarang?" pinta Naruto dengan wajah semringah, "Ayah tidak sempat pulang karena sibuk bekerja di kantor."
"Oh, begitu. Oke, tunggu apa lagi. Ayo, kita makan!" seru Kushina seraya menarik tangan Naruto dan Cassie. Perasaannya menari gembira, seakan ada bunga-bunga indah bermekaran di sekitar dirinya.
Kemudian Naruto, Cassie, dan Kushina makan siang bersama. Naruto terdiam selama makan siang berlangsung, memilih mendengarkan Cassie dan Kushina yang berbicara. Pandangannya terus tertancap pada wajah Cassie yang menurutnya sangat menarik hatinya.
Dari awal bertemu dengan Cassie, aku merasa ada sesuatu yang aneh muncul di hatiku. Perasaan yang sama seperti saat aku mencintai Sakura. Sekarang aku memang sudah melupakan perasaan itu. Sakura hanya untuk Sasuke.
Naruto membatin itu di hati. Kedua pipinya merona merah seiring makanan yang disantapnya habis. Tanpa sadar, mata Cassie beradu pandang dengan matanya. Cassie penasaran mengapa Naruto terus memperhatikannya tanpa berkedip. Menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya.
Usai makan siang, Cassie membantu Kushina membereskan meja dan mencuci piring. Ia menyuruh Kushina beristirahat sehingga Kushina semakin senang.
"Ibu sayang sekali dengan saudara perempuanmu, Naruto," kata Kushina sambil mengamati Cassie dari kejauhan. Ia berdiri di balik pintu bersama Naruto.
"Aku juga," timpal Naruto tersenyum, "usiaku lebih tua dua tahun darinya. Itu berarti dia itu adikku."
"Ya. Tentu saja."
"Aaah. Sayang sekali jika dia harus menjadi adikku."
"Kenapa? Atau jangan-jangan kau..."
"Bu ... bukan apa-apa. A ... aku mau keluar dulu ... menemui Ayah!"
Naruto menghilang disertai kepulan asap. Ia menggunakan hiraishin supaya bisa cepat sampai ke tempat Ayahnya. Kushina bengong, lalu tersenyum simpul.
"Sepertinya ada yang tidak beres pada diri Naruto. Aku harus menyelidikinya," gumam Kushina berwajah serius.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Apa alurnya kecepatan, ya? Ya, memang sengaja bikin kayak gitu karena target hanya sepuluh chapter. Jadi, terasa cepat.
Oke, terima kasih ya sudah membaca chapter ini.
Kamis, 20 Februari 2020
