Namikaze cloud

Yah, alasan kenapa dihapus karena pair haremnya.

Hehe

Gak kayaknya :)

Guest

Bukan dari karakter anime sih si M :D

Renew000

Kekuatannya original + ada sedikit tambahan :)

Intetsu-san

Haha, yang jelas si M bukan dari anime :)

Mashiro Yuuki

Gak ada sharingan gan :)

Ichie Hilarion

Woke :)

Crucufix

Siap :D

Guest

Karena pair haremnya :)

EROstrator

*chuckle* untuk saat ini, identitas si M bukan berasal dari karakter anime :)

Di sini pair naru single, dan tentu saja kandidatnya adalah salah satu spirit :)

deadly god

Yah, gitulah bro. Kebanyakan cewek bikin pusing juga pas buat lanjut lanjutannya :D

Ada pasukan, ada juga monster. Tapi yah bukan berarti monsternya cuma satu jenis saja :D

Ma, tanpa basa-basi lagi silahkan simak chapter terbaru di bawah ini :)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Season I

Maelstrom

.

.

.

.

.

Summary :

{Namaku Takamiya Naruto. Lima tahun yang lalu Ibu dan Ayahku tewas dalam tragedi Kebakaran Fuyuki. Saat umurku mencapai tujuh belas tahun, sedikit demi sedikit rahasia tentang masa laluku terungkap. Masalahnya, ini menyangkut masa laluku dari kehidupan yang lain}

Disclaimer :

Semua karakter, unsur, yang ada di cerita ini murni hanya pinjaman. Saya meminjam mereka demi memenuhi harapan imajinasi saya.

.

.

.

.

.

Chapter 2

Misi dan Memori

.

.

.

.

.

.

.

.

(Story Start)

"K-Kakashi-san?"

Kakashi tersenyum dibalik masker hitamnya.

"Kau baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?"

Anggota timnya tercengang mendengar kata-kata Kakashi, seakan tidak percaya bahwa dia adalah Kakashi yang mereka kenal selama ini.

Mana berkedip, menggeleng.

"Syukurlah kalau begitu."

Ketiganya sweatdrop.

Acuh tak acuh, Kakashi menengok ke Kiba.

"Kiba, tolong kau bawa Mana ke tempat aman."

"Dimengerti," ujar Kiba, menengok ke Mana, "Mana-san, tolong ikuti aku."

Meski Mana memiliki banyak pertanyaan di kepalanya, dia sadar kalau sekarang bukan saat yang tepat, tanpa protes dia mengikuti Kiba yang bergerak ke suatu arah. Saat mereka pergi, Amazon berhasil melepaskan lidahnya dari tiang, menyadari keberadaan ketiganya dan memperlihatkan giginya.

Kakashi beralih pada Sasori dan Tayuya, membuat gerak isyarat menggunakan tangannya. Paham, keduanya menarik sebuah perangkat mirip ponsel dari sisi sabuknya, membuka itu lalu menekan angka lima sebanyak tiga kali dan menekan enter.

[Standing By]

Lalu, Sasori dan Tayuya memasang ponsel di bagian depan sabuk dalam kondisi tertutup.

[Complete]

Garis putih di suit keduanya menyala akan warna merah. Merasa tidak tahan lagi, Amazon melompat menuju mereka. Menyadari hal ini, Sasori, Kakashi, dan Tayuya, tepat waktu memisahkan diri ke arah yang berbeda saat Amazon mendarat di tempat mereka sebelumnya.

Menggeram, Amazon mengayunkan tangan kanannya pada Tayuya, targetnya yang paling dekat. Itu bersiap merobek perutnya menggunakan sirip tajamnya. Akan tetapi, Tayuya lenyap dalam partikel merah sebelum Amazon berhasil melukainya, tak sempat mengelak ketika Sasori menendangnya di bagian punggung. Terima kasih kepada daya tahan tubuh non-humannya, Amazon tak merasakan apapun meskipun dia nyaris terjatuh.

Marah, sang makhluk air berbalik dan mencoba mencakar wajah Sasori. Sasori mengelak ketika dia berguling ke samping, di saat bersamaan, Tayuya muncul di samping Amazon lalu meninju matanya, membuat monster tersebut meraung. Itu terlihat merasakan efek dari serangan tersebut.

Di sisi lain, Kakashi mengambil ponsel dari sabuknya. Ponsel ini sedikit berbeda dari ponsel sebelumnya. Dia menekan angka sembilan, satu, tiga.

[Standing By]

Kakashi memasang ponsel di bagian depan sabuk dalam posisi menyamping.

[Complete]

Kali ini garis putih di suit-nya bercahaya seperti warna matahari, bahkan warna iris matanya berganti dengan kuning. Berkat "penglihatan" ini, Kakashi mampu melihat struktur tubuh lawannya dalam bentuk x-ray, sekaligus menemukan kelemahannya.

Tak berhenti sampai di situ, dia menarik blaygun dari sabuk, lalu memasang logam kecil dengan simbol [X] dari ponsel pada itu.

[Ready]

Bagian yang sebelumnya tak ada di blaygun, terwujud dalam bentuk bilah bersinar kuning. Selagi Sasori dan Tayuya menyibukkan makhluk tersebut, Kakashi membuka ponsel dan menekan tombol [Enter], menutupnya lagi sebelum suara mesin terdengar.

[Exceed Charge]

Mengingat bagian dari rencana, Sasori dan Tayuya menjauhkan diri dari Amazon. Tak lama kemudian ketua mereka bergerak cepat ke arah lawannya, melewati sang monster air setelah menebas tubuhnya beberapa kali. Kurang dari lima detik pola Xmuncul di tubuh Amazon sebelum raganya hangus terbakar api.

Kakashi, Sasori, dan Tayuya, mencopot ponsel dari sabuknya masing-masing. Garis di suit mereka bersinar sebentar sebelum berubah menjadi putih.

"Aku akan kembali ke Fraxinus untuk membuat laporan. Kalian ingin ikut?"

""Tidak, terima kasih.""

Kakashi terkekeh.

Lalu, ketiganya mengalihkan pandangan pada Kiba, yang datang mendekat dengan nafas yang tidak beraturan, dia berhenti tepat di depan Kakashi.

"Aku sudah *huft* mengantar Mana-san *huft* ke tempat yang aman *huft*."

Dia mengangguk.

"Boleh aku tahu di mana?"

"Halte."

Kakashi menaikkan sebelah alisnya, tapi tidak mengatakan apapun.

Kiba berkedip ketika mencermati sekelilingnya, menghembuskan nafas.

"Lagi-lagi aku tidak kebagian aksi," ujarnya.

Sasori tertawa geli.

"Lihat sisi baiknya, kau berhasil menyelamatkan seorang gadis imut yang sedang kesusahan."

"Dan mungkin jika kau beruntung, kau bisa dapat teman kencan, Inuzuka," tambah Tayuya.

Kiba memutar bola matanya.

{Line Break}

Naruto meringis, merasakan dahinya terasa sakit setelah membaca pesan misterius tersebut. Uzumaki Naruto? Siapa? Dia? Bahkan nama keluarganya yang pertama saja bukan Uzumaki. Tapi kenapa satu nama keluarga asing dapat membuatnya seperti ini?

"Naruto-san, kau baik-baik saja?"

Saat iklan mengambil alih layar, Yoshino beralih pada Naruto dan merasa khawatir melihat ekspresinya. Dia terlihat seperti menahan sesuatu yang menyakitkan.

"Huh?"

Saat ditanyakan Yoshino, Naruto menyadari bahwa apa yang dirasakannya tadi telah menghilang sepenuhnya. Dia menyengir, tak ingin membuat Yoshino cemas.

"Aku baik-baik saja. Hanya… " Naruto menggaruk rambutnya. "... merasa lapar saja."

Yoshino [ohh], memandang piring kecil yang di atasnya terdapat potongan buah berbeda bentuk. Yoshino mengangkat piring itu kepada Naruto sambil tersenyum malu-malu.

"Umm… kalau Naruto-san mau, ambil saja beberapa."

"Err, tapi makanan ini 'kan buat Yoshino-chan. Aku pikir…"

Yoshino cemberut.

"…dengan senang hati akan aku makan."

Yoshino berseri. Dia terkekeh gugup.

Naruto menggigit kecil buah apel lalu mengunyahnya perlahan. Mendengar suara, mereka menengok ke pintu, yang dibuka oleh seseorang yang sangat mereka kenal.

"Onii-sama!"

Naruto tak siap saat Mana melompat lalu memeluknya. Mereka hampir saja terjatuh jika bukan karena Naruto berpegangan erat pada kursi.

"Ma-Mana?" Naruto terkejut, bertanya-tanya kenapa sikap adiknya aneh sekali. "Kau baik-baik saja?"

"…"

Melepaskan dirinya dari Naruto, Mana tertawa gugup.

"Hehehe, tak ada apa-apa. Mana hanya rindu saja dengan Onii-sama," ujarnya.

Mana mengalihkan pandangan pada Yoshino.

"Bagaimana kabarmu, Yoshino-chan?"

"Baik seperti biasanya, Mana-chan."

Lega, Mana menghela nafas. Keduanya pun berbincang mengenai film yang barusan ditonton Yoshino, sadar atau tidak mereka mengabaikan kehadiran Naruto.

'Dasar.'

Naruto menggelengkan kepalanya, sudah terbiasa dengan hal ini. Meski begitu, pikirannya melayang pada nama Uzumaki.

Melihat sekali lagi nomer si pengirim pesan, Naruto membuat keputusan saat berjalan ke arah pintu, hal ini disadari oleh keduanya. Mana angkat bicara.

"Onii-sama, kau mau ke mana?"

Naruto melirik ke arah Mana, tersenyum simpul.

"Aku hanya ingin mencari udara segar di luar. Ngomong-ngomong, apa kau sudah makan, Mana?"

"Belum."

"Mau kubelikan sesuatu?"

"Sandwich katsu dan susu kaleng."

Naruto menaikkan sebelah alisnya, menyeringai.

"Seingatku aku hanya menawarkan makan saja."

Mana cemberut, sementara Naruto terkekeh. Yoshino terkikik saat melihat tingkah laku mereka. Naruto berseri.

"Canda."

Mengeluarkan dirinya dari sana, Naruto menggerakkan kakinya ke arah lift. Kebetulan, ada seorang wanita tua yang masuk ke lift yang terbuka, dengan sepenuh hati Naruto menyusul masuk. Dia cukup terkejut menyadari kehadiran Naruto, lalu menunjukkan senyum ramah.

"Mau ke lantai mana, Nak?"

Naruto membalas dengan hal yang serupa.

"Lantai 1, Nek."

"Sama. Nenek juga mau ke lantai 1."

Kemudian, wanita lansia itu menekan tombol angka [1], pintu lift tertutup dan percakapan terjadi di antara keduanya.

"Ngomong-ngomong, kerabatmu dirawat di sini?"

Naruto melirik ke arahnya, mengangguk.

"Begitulah. Kalau nenek sendiri?"

"Suami nenek juga dirawat di sini."

Dia [Ohh].

"Aku doakan semoga cepat sembuh ya suami nenek," ujarnya.

Nenek itu berseri.

"Terima kasih atas doanya, Nak."

Karena tak ada lagi yang dibicarakan, keheningan melanda situasi mereka. Bosan, Naruto memasang earphone lalu mendengarkan musik. Tanpa disadari oleh Naruto, si wanita tua menggerakkan kepalanya ke arah dia.

"..."

Menyeringai, dia membuka mulutnya selebar mungkin dan barisan gigi putihnya berubah menyerupai gigi hiu, yang membedakan hanyalah warnanya gelap. Dengan perlahan, wanita tua itu menggerakkan mulutnya ke leher Naruto.

Ding.

Panik, dia segera menoleh ke depan dan menutup mulutnya, berjalan duluan karena sadar bahwa yang 'muda' selalu mengalah kepada yang 'tua'.

Tak lama setelah dia keluar, Naruto menggerakkan kakinya menuju pintu masuk rumah sakit. Melewati itu, Naruto menoleh ke sana-kemari, bahagia ketika menemukan jajaran vending machine si seberang jalan. Dia mendekati tempat tersebut.

"Tidak kusangka ada juga."

Memasukkan beberapa koin yang dibutuhkan ke salah satu vending machine, Naruto memilih [Sandwich Katsu Black Sauce] dan menunggu itu jatuh. Mengambil pesanan Mana, Naruto mengulang hal yang sama tapi di vending machine berisikan minuman.

Selesai, Naruto kembali ke gedung khusus untuk orang sakit. Dalam perjalanan, dia mencoba menghubungi nomor asing itu.

"Maaf, nomor yang anda tuju tidak terdaftar di jaringan. Pastikan bahwa pengguna nomor yang kau inginkan telah melakukan registrasi sebelum kartu simnya digunakan."

"..."

Naruto mengeraskan ekspresinya.

{Line Break}

Sesudah mengucapkan salam pada Nagisa dan Yoshino, pasangan kakak-beradik itu keluar dari sana dengan tujuan ke rumah. Mereka saat ini melangkah di jalur khusus para pejalan kaki. Mengingat jarak yang cukup jauh antara kediaman Takamiya dan bangunan kesehatan tersebut, mereka sepakat untuk pergi ke halte dulu.

"Mana."

"Hmm?"

Naruto terdiam. Nengingat sikap "aneh" Mana, dia menunjukkan ekspresi serius ketika menatap adiknya.

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, apa aku salah?"

Deg.

Mana menelan ludah, jika ada orang yang bisa melihat 'kebohongan'nya dengan jelas, sudah pasti itu adalah kakaknya. Mau bagaimana lagi, dengan kebersamaan mereka selama ini, tidak aneh sebetulnya.

Tak lama kemudian, Kiba berhasil membawa Mana ke area yang aman dan jauh dari pertempuran. Terima kasih kepada ancaman Amazon, tak ada orang yang berani keluar rumah karenanya. Keduanya berhenti di tempat pemberhentian bus.

"Kelihatannya sampai sini saja," ujar Kiba, menatap Mana, "Mana-chan, soal yang tadi maukah kau berjanji sesuatu padaku?"

Melihat ekspresi seriusnya, Mana tak tahu harus mengatakan apa selain mengangguk.

"Apa yang kau temukan tadi, kau hanya bisa memberitahunya pada orang yang kau percaya. Apa kau paham?"

"...paham."

"Umm..." Dia berusaha merangkai kata-kata. "Berjanji kalau kau tidak akan panik?"

Naruto berkedip, mengangguk.

"AkudiserangamazondanberhasilkaburberkattimKakashi-san."

"Hah?" Naruto sweat drop.

Mana menarik nafas panjang kemudian membuangnya, berbicara dalam nada pelan.

"Aku bertemu Amazon."

"…"

Dia nyaris terkejut saat Naruto mengguncang bahunya, kepanikan terlihat jelas di wajahnya.

"Apa kau terluka?! Bagian mana yang sakit?! Bagaimana dengan–"

"Aku baik-baik saja."

Perkataan Mana sukses membuat Naruto diam. Tersenyum, dia pun melanjutkan.

"Kau tahu tim Alpha yang sering muncul di berita? Mana diselamatkan oleh mereka."

Naruto menghembuskan nafas, kelegaan menguasai dirinya.

"Mengejutkannya lagi, Kakashi-san adalah salah satu anggotanya."

"Hah?"

Memang warga kota Tengu sudah tahu keberadaan tim Alpha dan makhluk buruan mereka, Amazon, hanya saja bukan berarti para penduduk tahu siapa anggotanya. Lagipula, hanya orang bodoh yang berani mendekati tim Alpha saat mereka sedang menjalankan kewajibannya. Mendengar bahwa salah satu kenalannya adalah bagian dari kelompok tersebut sangat membuat Naruto terkejut.

"Ketimbang memikirkan hal yang tadi, lebih baik kita segera ke rumah." Naruto menambahkan. "Kau masih lapar, bukan?"

Kali ini, Mana tertawa gugup.

Kemudian, keduanya meneruskan perjalanan mereka. Mana tak menyadari bahwa Naruto mengepalkan tangannya.

{Line Break}

"Di mana aku?"

Membuka matanya, Naruto saat ini tidak lagi berada di kamar tidurnya, melainkan di lorong panjang serta gelap. Namun, entah mengapa dia merasa kenal dan sadar tempat ini apa. Hanya saja berapa kali dia mencoba mengingat, ingatan yang diinginkannya tak pernah muncul dalam otaknya.

"Halo? Apakah ada seseorang di sini?"

Tak ada jawaban, seharusnya Naruto sudah menduganya. Lagipula, siapa juga yang mau tinggal di tempat seperti ini?

"Mau kau percaya atau tidak, aku sudah menganggap 'penjara' ini sebagai rumahku sendiri, Naruto."

Deg.

Berat, tapi secara bersamaan lembut, anehnya kedua itu menyatu di suara ini, siapapun pemiliknya Naruto sendiri tidak tahu.

"Kalau kau penasaran siapa aku, kau hanya perlu mengikuti arah lorong ini."

Naruto mengerutkan keningnya, berpikir apakah bijak mengikuti kata-kata 'seseorang' ini. Mengejutkan, dia sama sekali tidak merasa takut walaupun hanya kegelapan yang menemaninya, seolah-olah dia pernah berada di sini sebelumnya. Berjalan di sepanjang lorong selama beberapa saat, Naruto menghentikan aksinya saat dia melihat pintu baja raksasa dengan sebuah kertas yang terdapat tulisan Fuin di sana.

'Segel? Apa yang disegel?'

Ia kemudian mendekati gerbang tersebut dan menyentuh bagiannya. Lalu, Naruto terkejut saat cahaya merah muncul begitu tangannya membuat kontak dengan permukaan itu sebelum akhirnya meredup. Keheningan melanda situasinya.

Mungkin.

"KEJUTAN!"

"AAAAAAAAAAAAAAAA!"

Naruto tak sengaja menjerit saat sang monster tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada pintu baja, lalu itu tertawa terbahak-bahak. Monster yang dibicarakan merupakan rubah berbulu jingga, raksasa, dan memiliki ekor berjumlah sembilan. Rubah ini memiliki iris mata merah gelap.

"Maaf, maaf, aku rasa aku sudah berlebihan barusan." Itu menyengir lebar. "Sudah lama sekali kita tidak berjumpa, apa kau masih menyukai ramen? Tunggu, bukan Naruto namanya bila tidak menyukai ramen, apa aku benar?"

Naruto mengambil langkah mundur, mencermati itu dengan waspada.

"Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu namaku? Tempat apa ini?"

Makhluk ini menatap Naruto dalam diam, berpikir tentang sesuatu.

"Kau bisa memanggilku… Kyuubi. Mengenai kenapa aku bisa tahu namamu, itu sebuah rahasia." Dia menjelaskan. "Aku tahu ini terdengar lucu, tapi aku sama sekali tak mempunyai niat buruk padamu."

"…begitu."

Kyuubi berkedip.

"Kau percaya padaku?"

Naruto mengangguk.

"Kau tak berniat 'memakan'ku, dan memilih mengajakku bicara. Walaupun tampangmu mengerikan, aku rasa tak ada salahnya memberimu kesempatan untuk membuktikan perkataanmu."

"Aku pikir kau akan ketakutan. Rupanya prediksiku salah," ujarnya, terkekeh.

Naruto tertawa gugup.

"Kau mungkin tidak percaya karena ini pertemuan pertama kita, tapi entah mengapa aku merasa kita bisa jadi teman dekat."

"..."

"Aku akan senang menjadi temanmu."

Naruto berseri.

"Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong, apa kau tahu kita ada di mana sekarang?"

"Di alam bawah sadarmu."

"Maaf?"

"Aku bilang, di alam bawah sadarmu."

"..."

Naruto mengedipkan matanya, lalu mengelus dagunya.

"Jadi secara tidak langsung kita seperti Natsu Dragneel dan Igneel, huh?"

"Natsu? Igneel? Kau ini bicara apa?"

"Bukan apa-apa."

Kyuubi keheranan melihat ekspresi Naruto, karena baru terbangun, dia jadi tidak tahu hal apa saja yang telah dilalui rekannya selama ini. Kalau ada hal yang sangat dia tahu, yaitu fisik tubuh baru partnernya kalah jauh dibandingkan fisik tubuh lamanya.

"Kyuubi, bukan?"

"Ya?"

"Apa kau tahu makhluk yang bernama Amazon?"

Nama yang jelek, begitulah pikir Kyuubi.

"Tidak. Kenapa kau berpikir bahwa aku tahu?"

"Amazon adalah makhluk air. Karena di tempat ini mengalir banyak sekali–"

"Jangan diteruskan. Aku paham maksudmu."

Naruto mengangguk, saat ingin berbicara lagi, tiba-tiba dia berpindah ke suatu ruangan dengan sebuah pintu terwujud di depannya. Dengan bahan yang sama seperti pintu raksasa yang menahan jarak dia dan Kyuubi, di pintu ini terpasang kertas dengan tulisan Basic dalam pola kanji.

"Er... Kyuubi, kau bisa mendengarku?"

"Jelas dan lancar."

Naruto mengernyitkan dahinya.

"Aku sedang di mana?"

"Kau lihat kertas dalam pandanganmu? Sentuh itu dan kau akan kembali ke dunia nyata."

Menghembuskan nafas, Naruto mendekati pintu lalu menyentuh kertas, hal terakhir yang dia lihat adalah sinar biru sebelum kegelapan menyelimuti pandangannya.

Di sisi lain, Kyuubi memejamkan matanya. Ekspresinya serius saat dia membukanya kembali.

'Aneh, padahal Naruto tidak mengalami reinkarnasi, tapi kenapa dia tidak mengingatku sama sekali?'

Saat memperkenalkan dirinya, Kyuubi berharap kalau Naruto akan mengatakan "Hah? Kyuubi hanya julukanmu, Kurama. Kau tidak mungkin bisa membohongiku lagi dattebayo!". Namun, nasib malah menamparnya dengan cara paling mengerikan.

Kyuubi masih bisa maklum kalau Naruto melupakan cara bertarungnya. Mengingat partnernya itu mendapat tubuh baru, maka hanya masalah waktu sampai dia bisa menggunakan lagi semua Jutsu-nya. Tapi lain ceritanya jika menyangkut ingatan.

'Aku mendapat firasat buruk tentang ini.'

{Line Break}

Matahari menyapa bumi, menyinarinya dengan cahaya tak pernah padam. Bulan yang merasa tidak diperlukan untuk sementara waktu, memilih beristirahat dan menunggu gilirannya lagi.

Dalam suatu kamar di kediaman Takamiya, Naruto membuka matanya ketika mendengar bunyi burung di luar. Menggosok sedikit matanya, dia bangun dan menggeser gorden, membiarkan sebagian cahaya si mentari masuk ke kamarnya. Merapihkan tempat tidur sebelum keluar dari ruangan pribadinya. Naruto sempat meraih handuk ketika menuju lantai dasar melalui tangga, mandi selama beberapa menit lalu kembali ke kamar untuk mengganti baju.

Selesai, Naruto memasuki ruang dapur, melihat Mana mengenakan celemek putih dengan tangan memegang pisau, jelas sekali dia sibuk memotong beberapa jenis sayuran.

"Mana?"

Menyadari pemilik suara itu, Mana menengok ke Naruto, berseri.

"Selamat pagi Onii-sama!"

Naruto tersenyum.

"Pagi." Dia menyadari sesuatu. "Oh, benar juga. Sekarang giliranmu yang membuat sarapan."

Mana mengangguk ceria.

"Tepat sekali! Ngomong-ngomong, maukah Onii-sama menyiapkan meja selagi Mana memasak?"

Naruto menaikkan sebelah alisnya.

"Kau memerintahku?"

Mana cemberut, Naruto terkekeh geli.

"Aku hanya bercanda."

Saat Mana kembali ke tugasnya, Naruto mengambil peralatan makan yang mereka butuhkan dan meletakkan semuanya di atas meja. Naruto juga membantu menaruh makanan yang sudah matang ke piring. Selain itu, Naruto menuangkan susu ke gelas.

"Mana akan duluan ke kamar mandi. Onii-sama tidak keberatan makan tanpa Mana?"

"Jangan lama, nanti makanannya dingin."

"Ya!"

Ketika mengatakan itu, Mana sudah setengah jalan ke kamar mandi. Naruto menggelengkan kepalanya saat melihat tingkahnya.

{Line Break}

Dalam perjalanan menuju sekolah, Naruto berjalan dengan beberapa orang dewasa di trotoar sambil menghadap lurus ke depan. Dikarenakan arah sekolah mereka berbeda, Mana berangkat bersama temannya. Melihat lampu lalu lintas masih menjadi merah, tanpa pikir panjang dia berjalan lagi. Beruntung, Hagun High School terletak tak jauh dari rumahnya, jadi dia bisa bersantai saat ke sana.

"Naruto!"

Menghentikan langkah kakinya, Naruto sweat drop saat seorang remaja berambut hitam mengenakan kacamata hijau gelap berhenti di sampingnya. Remaja ini mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan.

"Kau tidak perlu sampai berlari hanya untuk mengejarku, Tatsuo."

Tatsuo, nama lengkapnya Itsuka Tatsuo, berbicara.

"Jika aku tidak melakukannya *huft* aku takkan bisa *huft* menyusulmu *huft*."

Naruto berkedip, mengelus dagunya.

"Huh, aku rasa kau benar."

Saat dia merasa lebih baik, Tatsuo dan Naruto melangkah secara beriringan. Mereka berbincang satu sama lain dengan topik beberapa game yang baru keluar bulan ini, selain itu keduanya membicarakan sebagian anime yang sedang hits.

"Aku dengar Kantai Collection akan dibuat sequel-nya."

"Benarkah?"

"Yep." Tatsuo memperbaiki posisi kacamata-nya. "Episode 1 akan tayang malam ini di channel langganan kita."

Naruto menyengir.

"Ini benar-benar berita bagus."

"Tepat sekali."

Setibanya di gerbang sekolah, keduanya mendekati mading setelah bersusah payah melewati kerumunan para murid. Naruto dan Tatsuo mencari namanya masing-masing, hanya untuk menemukan itu di barisan absen kelas 2-4.

"Kita satu kelas lagi tahun ini," kata Naruto.

"Sudah nasib mungkin," balas Tatsuo.

Dia heran menyadari Naruto sedikit menjauh darinya.

"Kau kenapa?"

"…perkataanmu membuatku takut."

"Yang mana?" Tatsuo berkedip. "Kau sadar 'kan kalau aku gampang melupakan sesuatu yang tidak penting?"

Naruto mencubit hidungnya, menahan diri untuk tidak mencekik leher temannya itu. Kemudian, dia dan Tatsuo menaiki anak tangga yang menuntun mereka menuju lantai kedua, mengambil beberapa langkah lalu masuk ke kelas. Keduanya duduk bersebelahan di paling belakang.

Saat bel berbunyi lebih dari satu kali, sisa murid mulai berdatangan dibarengi seorang wanita berkulit pucat dan berambut pirang pucat, sepasang iris matanya berwarna ungu. Wanita itu berhenti di meja guru lalu memandang para siswa-siswi dengan senyum tipis

"Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku adalah Ellen Mathers, guru baru sekaligus wali kelas kalian untuk satu tahun ke depan."

Bisik-bisik terdengar dari sebagian siswa dan siswi, kebanyakan berkomentar mengenai penampilannya, sementara sisanya penasaran dari mana negaranya berasal.

"…baru kali ini sekolah kita mendapat guru kewarganegaraan asing," ujar Tatsuo, kaget.

Naruto mengangguk. Dia juga sama kagetnya seperti sahabatnya.

{Line Break}

Ellen tidak habis pikir dengan pemikiran temannya.

Percaya atau tidak, alasan kenapa dia ada di sekolah ini adalah karena ketua dari organisasi yang bertugas melenyapkan para monster dan menjaga manusia, DEM(Deus Ex Machina), Elliot Woodman, memintanya untuk mengawasi seorang remaja yang kebetulan merupakan kakak dari orang yang pernah diselamatkan tim Alpha.

'Bukan berarti ini hal buruk. Setidaknya aku bisa menjauh dari Westcott untuk sementara waktu.' Dia berpikir, mengingat salah satu temannya yang sering bertingkah… kekanakan.

Menatap ke depan, Ellen mencermati satu per satu muridnya, dia baru saja memberikan mereka tugas beberapa menit yang lalu. Tidak sulit, hanya menulis rangkuman mengenai kondisi lingkungan di beberapa daerah.

Bip!

"Hm?"

Mengambil ponselnya, Ellen menggeser layar dan menekan suatu aplikasi, terkejut saat radar digital mendeteksi adanya kehadiran energi sihir.

'Seseorang dengan energi sihir ada di sekolah ini? Apa maksudnya ini?!'

Wajar bila Ellen kaget, dia berani bersumpah bahwa baru sekarang dia menemukan seseorang yang "sama" seperti mereka.

'Janganbilang ini adalah alasanmengapa Elliotmemintaku untuk mengajar di sini.'

Jika benar begitu, maka temannya itu berhutang penjelasan padanya.

Ketika Ellen mengikuti arah yang ditunjukkan radar, itu mengarah pada Naruto, yang fokus pada kegiatannya. Dia tersentak melihat Naruto menengadahkan kepalanya, mengamati sekitar sebelum berhenti ketika memandang Ellen.

"…"

"…"

'…sial.'

Selagi Ellen mengutuk dirinya sendiri, Naruto mengerutkan keningnya saat menyadari guru baru itu mengamatinya.

'Dia sedang mengamatiku.'

"Siapa?"

'Guru baru di sekolahku.'

"Kalian pernah bertemu?"

'Ini pertemuan pertamaku dengannya.'

"Huh, mencurigakan."

'Kyuubi.'

"Ya?"

'Tree Climbing. Walk on Water. Leaf Concentration. Apakah semua itu benar-benar bisa aku lakukan?'

Wajar jika Naruto memiliki keraguan, memori yang didapatnya tentang ketiga itu lebih dari cukup untuk membuatnya terkesan sekaligus tercengang. Tentu saja akan ada sedikit rasa cemas jika dia tak mampu melakukannya.

"Percaya dirilah! Kau pasti bisa!"

Naruto menarik nafas panjang kemudian membuangnya. Benar apa yang dikatakan Kyuubi, dia seharusnya percaya diri. Jika Amazon berani mengincar orang-orang yang disayanginya, maka sudah sepantasnya bila Naruto turun tangan. Lagipula, meskipun ada team Alpha, mereka tidak mungkin bisa berada di tempat berbeda dalam waktu yang sama.

'Kau benar. Terima kasih atas bantuan moralnya.'

"Tak masalah. Itu gunanya teman, bukan?"

Terkekeh, Naruto kembali fokus pada kegiatannya. Sementara itu, Ellen menyipitkan matanya ke arah dia.

{Line Break}

Bel berbunyi sebanyak dua kali, pertanda jam makan siang, beberapa murid sudah keluar dan pergi ke kafetaria maupun bertemu teman lain di kelas berbeda, sedangkan sisanya bermain smart phone dalam kelas. Kebetulan, Naruto dan Tatsuo berjalan di lorong dan berniat ke loteng sekolah, masing-masing membawa bekal.

"Naruto, apakah menurutmu kita harus punya pacar?"

Naruto sweat drop.

"Kau makan apa tadi pagi?"

Mengabaikan kata-katanya, Tatsuo melanjutkan.

"Habisnya tahun lalu aku pernah mendengar rumor aneh tentang kita."

Mereka berjalan menaiki tangga, terus melakukan itu sampai mencapai pintu yang mengarahkan mereka ke loteng sekolah.

"Soal?"

"Bagaimana menjelaskannya ya... " Tatsuo mengusap dagunya. "Kau Seme, aku Uke, dan kita penyuka sesama jer-"

"…tolong jangan diteruskan."

"Oh, baiklah."

Naruto menghela nafas, tak habis pikir dengan pola pikir orang-orang seperti itu. Saat Naruto membuka pintu, dia dan Tatsuo duduk dengan punggung menghadap ke penghalang.

"Kau bawa apa hari ini?"

Raut wajah Naruto menggelap seketika, ingatan mengenai kejadian tadi pagi berputar di kepalanya.

"Tidak boleh!"

Mana menatap tajam Naruto, yang gelagapan saat ini. Mereka berada di dapur dan sedang berdebat mengenai hal yang penting.

"Memangnya kenapa?!"

"Hanya karena ramen enak bukan berarti itu layak dijadikan bekal!"

Sangat penting.

"Sekali saja?"

"Tidak."

"Sekaliiii saja?"

"Tidaaaak."

Naruto menghela nafas, ekspresinya serius.

"Mana, aku peringatkan kau. Jangan berani menghina makanan para dewa atau mereka akan mengutuk–"

Blam.

Naruto nyaris melompat saat Mana meletakkan kotak makan siang berwarna biru di atas meja. Mana menyipitkan matanya.

"Jika Kaa-san dan Tou-san tahu kebiasaanmu–"

"Aku tarik kata-kataku tadi."

Adiknya terlihat senang.

"Mana tidak mengizinkanku untuk membawa bekal ramen."

Tatsuo terdiam, mengelus dagunya.

"Aku tidak melihat ada yang salah dengan itu. Jika apapun, tindakannya benar."

Naruto cemberut, sesuatu yang sangat jarang dia lakukan kecuali menyangkut hal yang digemarinya. Tatsuo tersenyum simpul saat melihat perilakunya.

"Dan juga, apakah kau pernah berpikir bahwa Mana bersikap seperti itu karena mengkhawatirkan kesehatanmu?"

"…"

Naruto berkedip.

"Huh, kurasa kau benar juga."

Tanpa disadari keduanya, berdiri di samping pintu, Ellen diam-diam mengawasi Naruto. Dia sudah berada di sini semenjak dua menit yang lalu.

'Dilihat dari tingkah lakunya, kelihatannya Takamiya masih belum sadar kalau dia punya energi sihir.'

Dia menyipitkan matanya.

'Meski begitu. Bukan berarti sikapnya tidak mencurigakan.'

Puas dengan pengamatannya, Ellen dengan hati-hati berjalan menuruni tangga.

Kembali ke keduanya, Tatsuo berkedip, sesuatu yang disadari oleh Naruto.

"Ada apa?'

"Aku lupa belum beli minum. Kau mau aku bawakan sesuatu?"

Naruto menyengir.

"Seperti biasa."

"Jus jeruk, benar? Tunggu di sini. Aku tidak akan lama."

Tak lama setelah teman baiknya pergi, Naruto membuka kotak makan siangnya. Namun, tanpa diduga sebuah bola api raksasa melesat ke lokasi Naruto, menimbulkan ledakan yang mengguncang gedung sekolah.

{Line Break}

TBC

{Line Break}

A/N : Hai, hai minna-san! Ini adalah chapter lanjutan fic Maelstrom. Semoga readersan sekalian suka :)

Seperti kelihatannya, mengingat season ini membahas perkembangan kekuatan main character, alur kali ini dibuat agak lambat karena itu memang disengaja oleh author :D

Ma, until next chap jaa ne ^_^

Open Your Eyes To the Next Phase