Deojun HighSchool, 5 May

Sehun tidak henti bersungut menampilkan wajah terjelek sepanjang perjalanan menuju sekolah baru. Chanyeol yang ada di kursi kemudi hanya terkikik kecil, merasa puas membuat siluman rubah itu berekspresi walau sangat tidak sedap dipandang.

"Kau tidak mau membuat image jelek di hari pertama sekolah kan?" Chanyeol melirik sekali lagi pada Sehun yang masih berekspresi jelek.

Sehun menghela napas, "Kenapa aku harus ikut masuk?"

"Karena kau harus."

"Hyung- aku sudah bosan melakukan hal berbau sekolah dan belajar yang sudah ratusan kali ku lakukan. Aku bosan."

"Kau tidak lupa sumpahmu sendiri kan?"

Chanyeol menatap Sehun datar, membuat laki laki itu mengerang kesal. Tidak tahu harus senang karena sumpahnya di ingat mengingat hampir beberapa abad ini Chanyeol seolah melupakannya atau kesal karena sumpah itu juga yang membuatnya terjebak disini.

Sehun seperti yang telah di sebut adalah jelmaan siluman rubah putih. Dulu ia adalah makhluk abadi yang bebas, berkeliling memperhatikan gerak gerik manusia sambil sedikit membisikkan rayuan setan dan memakan sesajen yang bukan untuknya bertemu dengan Chanyeol. Saat itu ia yang hampir mati dikeroyok arakan manusia yang merasa dirugikan, diselamatkan oleh Chanyeol yang langsung membawanya kabur, mengobati luka dan menyembuhkan 5 tulang ekor dari sembilan miliknya yang patah diinjak sekumpulan manusia. Saat itu lah ia bersumpah akan selalu setia di bawah kaki Chanyeol. Ikut kemanapun si Dewa Penjaga pergi dan jadi tameng pertama yang melindungi Dewa Penjaga itu.

Namun setelah berabad-abad sumpahnya seolah menjadi angin lalu, hari ini ia harus mendengarnya di ungkit kembali oleh Chanyeol.

"Baiklah, Yang Mulia," ucap Sehun melembutkan sedikit ekspresinya.

Chanyeol menyunggingkan senyum singkat, mobil yang di kendarai oleh mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Chanyeol langsung melepas seatbelt lalu keluar diikuti oleh Sehun.

Iris sekelam malam itu melirik Sehun yang terlihat risih melihat beberapa siswa memperhatikan mereka dengan pandangan kagum. "Pasang senyummu, Sehun."

"Kenapa harus sekolah ini?"

Ransel navy itu ia sampirkan di bahu kanan, sebelah tangannya masuk ke dalam kantong saku celana. Chanyeol melirik sekeliling Deojun. Ia juga tidak tahu kenapa harus memilih salah satu sekolah seni di Seoul ini. Namun insting elang di dalam dirinya merasa jika ia akan mendapatkan kejutan disini. Dan semoga saja, apa yang jadi harapannya selama berabad-abad ada di Deojun.

"Aku hanya merasa jika yang kucari ada disini."

"Gadis itu?" tanya Sehun sedikit melirik kearah Chanyeol yang fokus memperhatikan jalan di hadapannya.

Hingga langkah itu berhenti di salah satu ruangan, Sehun memilih masuk terlebih dahulu diikuti oleh Chanyeol. Di ruangan itu duduk seorang laki-laki paruh baya dengan sebuah kacamata baca di hidungnya.

"Murid pindahan Hojoe?" kedua laki-laki itu mengangguk, memilih duduk setelah dipersilahkan.

"Maaf aku tidak bisa mengantar kalian ke kelas. Tapi aku sudah meminta salah satu siswa di kelas yang akan kalian masuki untuk mengantar." Pergelangan tangan yang dilingkari jam tangan di lirik, "Mungkin sebentar lagi."

"Terima kasih, Kwajangnim." sahut Chanyeol.

Beberapa menit kemudian ketukan halus dan kepala yang menyembul dari celah pintu menyambut mereka. Chanyeol dan Sehun langsung mengikuti laki-laki yang memperkenalkan namanya Eunwoo untuk mengikutinya sampai kelas.

Perjalanan itu tidak canggung. Eunwoo yang ternyata adalah seorang KM di kelas yang akan mereka tempati termasuk friendly dan talkactive. Bahkan Sehun beberapa kali tertawa mendengar lelucon laki-laki itu. Hingga akhirnya langkah mereka sampai di kelas XI-A.

"Karena kalian masuk di pertengahan semester aku akan meminta sekretaris kelas meminjamkan catatan dan beberapa tugas yang akan dikerjakan nanti. Untuk sekarang aku akan meminta ijin kepada guru di dalam dan setelah kalian dipanggil langsung masuk saja, ok?" Eunwoo menyunggingkan senyum tipis sebelum melangkah masuk ke dalam

Chanyeol dan Sehun mengangguk, terlebih Sehun sudah merasa rahangnya sedikit kaku akibat terlalu lebar membukanya saat tertawa karena lelucon Eunwoo. Sepertinya ia masih harus membiasakan diri membuka rahang lebih sering agar tidak kaku.

Suara dari dalam kelas membuat mereka langsung saja masuk ke dalam. Tidak seperti ekspektasi Chanyeol yang dimana mendapat tatapan antusias bahkan celotehan centil dari beberapa gadis ketika baru masuk sekolah. Kelas XI-A nampak hening bahkan beberapa terlihat acuh seolah mereka tidak terlihat. Dari sudut matanya juga Chanyeol bisa melihat Sehun yang juga sedikit heran.

Seulas senyum miring terpatri di bibirnya, 'Menarik'

"Selamat pagi. Namaku Park Chanyeol dan ini Oh Sehun adik sepupuku. Kami baru saja pindah dari Hojoe HighSchool. Dan mohon bimbingannya."

Tepat setelah ia memperkenalkan dirinya dan Sehun, pintu kelas kembali bergeser memperlihatkan sosok bersurai biru laut dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bahkan ia langsung saja melangkah masuk seolah hanya ia yang ada di dalam ruangan.

"Terlambat lagi, Byun?" tanya sang Guru pada sosok berwajah kaku yang terus melangkah menuju kursinya di sudut kelas tepat di samping jendela besar.

Tak ada jawaban untuknya seperti biasa, membuat guru itu menyilahkan Chanyeol dan Sehun langsung menempati tempat kosong paling belakang di tengah kelas. Chanyeol terus memperhatikan sosok yang baru masuk dengan tidak sopan itu, bangkunya yang ada di belakang tepat di sebelah si surai biru cukup memudahkan Chanyeol memperhatikan paras kaku berwajah dingin yang setia memperhatikan jendela. Jantungnya berdebar keras, insting mengatakan jika dia adalah orang yang sama yang telah ia tunggu ribuan tahun. Sosok yang ia rindukan setengah mati, sosok yang membuatnya kuat namun lemah sekaligus. Sosok Byun Baekhyun, gadis kecil kesayangannya yang menutup mata dengan senyum cantik. Gadis yang sangat ia cintai hingga meminta dengan sang penguasa untuk melahirkannya kembali.

Tapi kenapa? Kenapa wujud gadis kesayangannya harus seperti ini? Wajah itu sama persis namun tentu jenis kelamin mereka berbeda. Byun Baekhyun yang terlahir kembali adalah seorang laki-laki berwajah datar sebelas dua belas dengan Sehun si Rubah.

Chanyeol tidak tahu haruskah ia senang atau menangis darah saat ini.


"Kau tampak buruk, Hyung."

Sehun mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan Chanyeol yang tiba-tiba saja berwajah murung seolah ada awan hitam di atas kepalanya.

Saat ini sudah memasuki jam istirahat dan ternyata tatapan antusias bahkan beberapa lirikan centil masih saja mereka dapatkan. Hanya kelas XI-A saja yang cukup membuat lega karena penghuninya seolah merasa wajah yang di atas rata-rata adalah hal biasa.

"Baekhyun..." lirih Chanyeol.

"Hm?"

Helaan napas berat Chanyeol keluarkan, berharap beban yang menumpuk di bahu dan kepala sedikit berkurang. Rencana dimana ia akan menarik Baekhyun langsung ke altar setelah menemukan reinkarnasinya terpaksa kandas saat mengetahui jika gadis kesayangannya terlahir sebagai laki-laki. Laki-laki berperawakan pendek, cukup mungil namun punya aura yang berbeda. Berbeda dari Baekhyun-nya dulu yang punya aura secerah mentari, Baekhyun yang sekarang punya aura sesuram langit kelabu. Bahkan sosok Baekhyun yang saat ini terlihat sangat misterius dan susah untuk didekati.

Apa tidak akan jadi masalah, ia yang seorang Dewa mendekati Baekhyun yang saat ini terlahir sebagai seorang laki-laki?

"Permisi..."

Suara lirih itu membuat atensi Sehun yang tengah menyantap ramyeon dan Chanyeol dengan pasta yang dimainkan beralih menatap seorang gadis yang nampak gugup dengan pipi kemerahan.

Sehun memutar kedua bola matanya malas, ia sudah hapal gelagat seperti ini. Jika bukan ia maka Chanyeol yang akan mendapatkan gangguan. Maka dari itu Sehun harus mengunyah lebih cepat agar terhindar dari rutinitas menyebalkan masa sekolah ini.

"N-Namaku Im Nayeon. Boleh aku tahu namamu, eum?" gadis itu menatap Chanyeol dengan wajah memerah bak kepiting rebus. Chanyeol yang sudah biasa mendapatkan hal seperti ini hanya tersenyum kecil. Ia sedang malas beramah-tamah, maka setelah memberi respon bisu, Chanyeol memilih pergi tanpa menoleh kebelakang lagi.


Kelas itu nampak sunyi seperti tidak berpenghuni jika ia tidak melihat di sudut kelas ada sosok yang tengah bersandar menutup kedua matanya dengan telinga tersumbat earphone. Chanyeol tahu wujud mereka berbeda, namun paras itu masih sama cantiknya, sama manisnya dan masih bisa membuat jantungnya bertalu hebat. Niatnya yang ingin mengistirahatkan tubuh beralih menjadi memperhatikan sosok bersurai biru di sudut kelas.

Sebelah matanya terbuka kala merasa cahaya matahari yang menusuk mata. Iris hazel menangkap sebuah kamus tebal dengan posisi berdiri menghalangi cahaya dari balik jendela. Baekhyun menegakkan tubuh, memperhatikan kelas yang sudah terisi beberapa siswa hingga tatapannya beralih pada sosok yang duduk di seberang bangkunya. Baekhyun memperhatikan laki-laki itu, bagaimana surai hitamnya yang sedikit bergoyang tertiup angin lalu kedua tangannya yang memegang sebuah buku tebal. Sebelah alisnya naik saat melihat buku yang dibaca lalu beralih pada wajahnya yang terlihat kaku dengan kening mengkerut.

Chanyeol menahan napas, ia tentu sadar Baekhyun memperhatikannya dengan intens. Namun ia berusaha acuh, tidak ingin sosok cantik bersurai biru itu curiga dengan ia yang meletakkan sebuah buku di dekat wajah sang reinkarnasi guna menghalangi sinar matahari. Salahkan saja dia yang masih tidak bisa melihat sosok yang ia cintai kesulitan sedikit pun.

Baekhyun mengubah posisi tubuh mengarah pada Chanyeol yang spontan menoleh. Bibir tipis itu terbuka namun Chanyeol langsung bersuara membuat Baekhyun terdiam dengan wajah datar namun kedua matanya bersinar geli.

"B-bukan aku yang meletakkan buku itu, aku bahkan tidak tau buku fisika siapa itu."

"Bagaimana kau tahu kalau itu buku fisika?"

Chanyeol berdehem, sadar akan kebodohannya. Dalam hati merutuki betapa tidak jantannya ia di hadapan reinkarnasi kekasihnya.

"Aku hanya ingin mengatakan jika buku yang kau baca terbalik," ucap Baekhyun lalu berlalu pergi tanpa peduli jam istirahat yang sudah berakhir.

Chanyeol langsung membalikkan posisi bukunya dengan suara tawa canggung. Membuat Baekhyun yang meliriknya tersenyum geli sebelum hilang di balik pintu.

"Idiot."


Paviliun Heojo, Kerajaan Shima

"Apa maksudmu Baekhyun tidak ada di istana?"

Joohyuk, sang pangeran kedua menatap tajam prajurit yang berlutut dibawah kakinya. Beberapa menit lalu harusnya ia sudah berangkat ke hutan Seolim untuk mencari penawar racun pangeran pertama. Namun saat akan berpamitan dengan putri panglima besar kerajaan itu kabar hilangnya lah yang ia dapat.

"Kami baru saja mendapat kabar jika Nona Baekhyun menyusup keluar istana menuju hutan Seolim, Pangeran."

Joohyuk bangkit, baju kebesarannya bergoyang dramatis. Pedang dan panah di sudut kamar di ia raih, kedua matanya menatap dingin perawakan seorang wanita yang ia kenal sebagai ibu Baekhyun. Wajah wanita itu datar, tidak ada satupun raut khawatir akan hilangnya anak gadis mereka satu-satunya. Joohyuk mendengus samar, tentu saja. Baekhyun adalah anak yang tidak mereka harapkan, justru hilangnya gadis kecil itu membuat mereka senang.

"Kau sepertinya tidak khawatir dengan kondisi putri satu-satumu, Nyonya Byun," ucap Sehun seraya melangkah menuju wanita berhanbok merah itu.

"Tentu saja hamba khawatir, Yang Mulia. Namun, apa yang bisa hamba lakukan kecuali menunggu kabar dari prajurit yang membantu mencarinya," wanita itu menunduk semakin dalam. Kedua tangannya saling bertauti dalam lapisan baju.

"Lagipula ini adalah kesalahan anak hamba yang teledor."

Senyum tipis terulas, Joohyuk ingin sekali menggores wajah berpoles itu yang masih setia menundukkan kepalanya. Dengan tanpa membalas ia berbalik diikuti beberapa pengawal, tujuannya saat ini adalah hutan Seolim.


Langkah demi langkah dilewati, dua sosok dengan postur kontras berjalan menapaki dedaunan yang jatuh. Chanyeol sesekali melirik gadis yang masih setia menundukkan kepalanya sambil diam membisu seolah mengabaikan eksistensinya.

"Langkahmu sungguh lambat."

Baekhyun mendongak, mempercepat gerakan kakinya hingga hanya berjarak 3 langkah. Chanyeol sontak melambatkan langkahnya hingga mereka kembali sejajar. Beberapa menit lalu Baekhyun mengatakan tujuannya yang mencari Chanyeol di gerbang menuju hutan. Berkata jika Pangeran Pertama tengah di ambang maut dengan tubuh penuh racun dan hanya aconite yang tumbuh di dalam hutan yang dapat menyembuhkan. Laki-laki berbaju khas bangsawan berwarna coklat itu tentu saja dengan senang hati mengantar Baekhyun menuju tempat dimana tanaman itu tumbuh. Bukan apa, Chanyeol hanya merasa tidak ingin menggores putih dan lembutnya kulit gadis berhanbok putih ini dengan cakarnya. Hal yang biasa ia lakukan saat orang asing masuk ke dalam kawasannya.

"Terima kasih, Tuan Chanyeol." Baekhyun membungkukkan tubuh mengucap terima kasih sepenuh hati saat beberapa kantong berisi aconite biru sudah aman di tangannya. Iris sewarna madu itu memperhatikan rupa Chanyeol yang masih tetap tampan bahkan di bawah sinar bulan yang temaram.

Tangan yang lebih kecil terulur, Chanyeol menerima uluran sebuah gelang tali dengan mainan kayu berbentuk matahari. Sederhana namun cantik dalam satu waktu.

"Itu untuk anda, Tuan," ucap Baekhyun lirih dengan sapuan merah muda di kedua pipinya.

Chanyeol mengernyit, memperhatikan ukiran dari kayu yang seperti nya dipahat dengan hati hati. Entah kenapa hatinya sedikit menghangat, "Kau membayar aconite langka ku dengan gelang sederhana seperti ini?"

Surai hitam sepunggung bergerak mengikuti gelengan kepala, "T-tidak. Itu murni karena Tuan sudah membantu saya berkali-kali, bahkan mengambil beberapa aconite di malam hari seperti ini."

Chanyeol menyunggingkan senyumnya tipis, tangan yang dua kali lebih besar dari milik Baekhyun mengelus lembut surai itu.

"Apa bocah sepertimu tidak takut?"

"Takut?"

"Jika kau masih ingat ini adalah hutan Seolim, kau pasti tahu rumornya kan?"

Baekhyun mengangguk, rumor tentang hutan Seolim sebagai hutan kematian dimana kau masuk maka kau tidak akan keluar tentu saja ia tahu dengan rumor itu. Namun entah apa yang ia pikirkan saat melihat sosok Chanyeol. Ada rasa nyaman seperti saat bersama laki-laki itu, membuat Baekhyun bahkan melupakan ketakutannya pada hutan terlarang ini. Lagipula Chanyeol juga sudah menyelamatkannya sebelumnya dari hutan ini.

"Itu benar. Tapi berkat tuan, saya bisa keluar dengan selamat-" langkah keduanya sampai pada jalan keluar hutan. Baekhyun hanya tinggal berjalan beberapa langkah ke depan maka ia akan mendapati jembatan merah yang menjadi penghubung, "-bahkan membantu saya mendapatkan penawar racun."

"Kau berlebihan."

Suara ketukan kaki kuda dan beberapa obor yang dinyalakan bisa mereka lihat dari balik rimbun pohon. Chanyeol mengendikkan dagunya kearah bayangan para rombongan yang ia yakini milik istana. "Sepertinya jemputan sudah datang."

Baekhyun melangkahkan kakinya menuju bayangan rombongan yang ada di balik pepohonan. Sekali lagi ia melihat kembali pada Chanyeol yang masih berdiri memperhatikannya dengan senyum tipis.

" Tuan Chanyeol…"

"Hm?"

"Apa tuan suka Jeonbokjuk?"

Baekhyun menggigit bibirnya gugup, merutuki keberaniannya. Sosok laki-laki itu hanya terdiam memperhatikan Baekhyun dengan alis mengerut. Dengan lambat kedua tungkainya berbalik kaku, menuju rombongan di luar hutan.

"Bawakan aku Sujeonggwa sebagai pelengkap," Chanyeol menepuk pelan kepala Baekhyun lalu mengusapnya lembut.

"Baekhyun."

Seruan memanggil nama gadis itu membuat keduanya kembali menoleh pada rombongan di balik pepohonan. Baekhyun kembali menatap Chanyeol dengan kedua matanya yang sedikit berbinar. Surai hitam legam itu bergerak seraya kepalanya mengangguk, Baekhyun tersenyum lebar hingga kedua mata sipitnya melengkung dengan cantik. Dan Chanyeol bersumpah itu adalah senyum tercantik selama ratusan tahun ia hidup.

"Saya akan membawakan pesanan anda sesegera mungkin, Tuan Chanyeol."

Chanyeol terkekeh saat gadis dengan senyum sehangat mentari itu sudah berbalik di seruan kedua namanya dipanggil. Hingga sampai rombongan itu pergi meninggalkan hutan pun Chanyeol masih setia menatap kedepan, dimana sosok gadis mungil itu hilang ditelan lebatnya pepohonan.

"Tidak sabar menunggu kunjunganmu berikutnya, Baekhyun."

-to be continue.