Hanya ada gelap sejauh mata memandang.

Akutagawa melangkah tanpa arah di antara kegelapan yang terasa mencekik napas tersebut. Ia tidak tahu ini di mana, dan apa yang sebenarnya ia tuju. Instingnya berkata ia hanya perlu melangkah, ke mana saja, yang penting ia tidak hanya diam di tempat.

Ada tangan dingin yang menyentuh pundaknua ketika pandangannya fokus ke depan. Akutagawa berhenti, sontak menoleh.

"Larilah, Akutagawa-san!"

Seketika Akutagawa terbangun.

Kamarnya masih gelap, tapi setidaknya tidak segelap tempat aneh yang ada dalam mimpinya barusan. Akutagawa melirik ke kiri. Tampak Tachihara masih tertidur pulas di tempatnya, lengkap dengan guling dalam pelukan dan selimut menuyupi tubuh dari kaki hingga bahu. Si pemuda beranjak duduk, lantas menengok ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu.

Jam 3 pagi, pantas saja teman sekamarnya itu masih anteng di ranjang sendiri.

Akutagawa meleguh. Pemuda itu memilih kembali berbaring, berniat tidur sambil melupakan mimpi aneh barusan.

~o~

Countdown

02

By Vira D Ace

Bungou Stray Dogs by Asagiri Kafka and Harukawa Sango

[little note: a prequel of Boarding School]

DLDR!

~o~

"Akutagawa-kun, sebelah sini!" Dazai melambai ke arah Akutagawa yang nampak kebingungan di tengah-tengah ramainya aula makan.

Pemuda yang dipanggil itu menoleh. Akutagawa mulai mendekat ke arah Dazai dan Chuuya yang sudah duduk di salah satu meja paling pinggir.

"Duduk, duduk," Dazai memasang senyum ceria. Akutagawa mengangguk saja, dan duduk di seberang Dazai dan Chuuya yang duduk berdampingan.

Senin, seminggu setelah kematian Alicia. Kegiatan belajar-mengajar akan mulai berjalan hari ini, setelah libur panjang tambahan yang membuat perasaan bercampur aduk karena alasan di baliknya.

"Kalian sudah lihat papan pengumuman?" Di sela-sela menyumpit nasi, Dazai bertanya.

Akutagawa menggeleng, sementara Chuuya mengernyit sambil menatap teman seangkatannya itu dengan tatapan aneh.

"Aku kira pembagian kelas baru akan diumumkan hari ini?" tanyanya bingung.

"Well ..." Dazai nyengir. "Ango kan anak OSIS. Sebelum dia pulang ke rumahnya, dia bilang padaku, kalau nanti aku bakal masuk kelas 3-A, hehe."

"... Akutagawa, doakan aku untuk tidak sekelas dengan si Idiot ini lagi tahun ini."

"Chuuya jahat!"

Chuuya pura-pura tidak mendengar. Akutagawa fokus melahap sarapannya.

"Omong-omong, Chuuya ..." Dazai menatap Chuuya.

Chuuya melirik. "Apa?"

"Kamarmu juga di lantai satu, kan?"

Dahi Chuuya lagi-lagi mengernyit. "Hah?"

"Tadi malam ... aku dengar sesuatu," ucap Dazai pelan. "Seperti langkah kaki dan suara benda berat yang diseret di atas lantai. Sebelumnya juga aku pernah dengar–kalau nggak salah malam saat Ango pulang. Rasanya aku merinding tiap mengingatnya, hii ..."

Atensi Akutagawa ikut teralihkan kala Dazai berujar. Pemuda itu menatap kedua seniornya bergantian, menunggu salah satu dari mereka bicara.

"Benda berat yang diseret?" tanya Chuuya bingung.

Dazai mengangguk. "Kau pasti tahu bagaimana. Sumpah, suaranya mengerikan," lagi, pemuda itu bergidik sendiri.

Chuuya mengerjap. "Pikir positif aja," katanya sambil mengangkat bahu. "Mungkin itu Oda-san?"

"Ngapain coba, Odasaku lewat bawa barang di koridor lantai satu? Lagipula seberat apa bendanya hingga harus diseret?"

Chuuya terdiam. "Tapi ... aku nggak dengar apa-apa, lho."

Dazai ikut terdiam. Meja ketiganya mendadak tenggelam oleh ramainya aula makan yang luas ini.

Akutagawa, entah kenapa, tiba-tiba teringat mimpinya tadi subuh.

~o~

Kelas 2-B bukan kelas yang buruk buat Akutagawa. Setidaknya ada beberapa orang yang sempat sekelas dengannya dulu saat masih kelas 1. Salah satunya, Tachihara Michizou, pemuda yang juga sekamar dengannya di asrama.

Duduk di bagian paling belakang kelas selalu jadi kebiasaan Akutagawa semenjak pertama kali masuk sekolah. Sejujurnya ia tidak terlalu suka berbaur, berada di antara orang-orang yang bersenda gurau seraya tertawa-tawa itu memuakkan buat dirinya–namun, Dazai Osamu dan Nakahara Chuuya adalah pengecualian, Akutagawa punya alasan buat mereka berdua.

"Baik, semua sudah hadir?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Mori-sensei di depan sana. Semua terkejut, karena baru sadar bahwa guru biologi itu sudah masuk ke kelas mereka.

Mori-sensei menghela napas. Ia meraih lembaran berisi daftar absen siswa kelas 2-B di atas meja dan menatap seluruh siswanya.

"Mark Twain?"

"Hadir!"

"Tanizaki Juunichirou?"

"Hadir!"

"Tsujimura Mizuki?"

"Hadir!"

Akutagawa tidak lagi mendengar suara Mori-sensei dan teman-temannya secara jelas. Semuanya mendadak bergaung ketika pemuda itu mengalihkan atensinya pada jendela yang menghadap koridor. Koridor yang kosong, juga begitu sunyi. Karena ini jam pelajaran, harusnya tidak ada yang lewat di koridor itu setidaknya hingga bel pergantian jam berbunyi.

Harusnya begitu.

Akutagawa berjengit ketika tiba-tiba sepintas bayangan lewat di koridor yang seharusnya kosong. Cepat sekali, hingga Akutagawa tak dapat berkutik. Ia tidak tahu apa yang barusan lewat tadi.

"... Ryuunosuke? Apa Akutagawa Ryuunosuke ada di sini?"

"Psst, Akutagawa!" teguran dari Tachihara yang–baru Akutagawa sadari–duduk di depannya membuat fokus Akutagawa kembali. Begitu sadar, atensi seisi kelas tertuju padanya, termasuk Mori-sensei yang memasang raut wajah bingung.

"Akutagawa Ryuunosuke?"

"H-hadir, Sensei ..." Akutagawa menjawab pelan.

"Kamu sakit, Akutagawa-kun?" tanya Mori-sensei khawatir. "Wajahmu pucat ..."

"Tidak, Sensei ..." Dari dulu wajah saya memang begini, Akutagawa melanjutkan kalimatnya dalam hati.

Mori-sensei mengerjap bingung. Namun, setelahnya ia mangut-mangut saja. "Baiklah ..." ia meletakan lembaran absen kembali ke atas meja dan beralih pada buku paket biologi kelas 2 SMP. "Saya Mori Ougai, seperti yang kalian ketahui bahwa saya adalah guru biologi. Mulai hari ini hingga setahun ke depan, saya akan jadi wali kelas kalian!"

"Sudah kuduga ..." gumam Akutagawa dalam hati.

~o~

Menu makan siang hari ini, nasi putih ditemani ikan bakar dan sup miso yang tumben-tumbenan rasa bumbunya begitu kuat.

Akutagawa memandang makanan di hadapannya dengan tatapan datar. Bukan tidak berminat makan, hanya saja ada hal aneh yang terasa mengganjal dan membuatnya tanpa sadar menunda makan. Barangkali karena kejadian tadi pagi, entahlah.

Sementara Dazai dan Chuuya melahap makan siang mereka dengan semangat berlebih–agaknya kelelahan setelah jam olahraga yang menguras tenaga, Akutagawa tahu karena kedua seniornya itu mengenakan baju olahraga yang sudah basah oleh keringat masing-masing.

(Sebuah instruksi dari para pengurus asrama tadi malam, untuk berjaga-jaga jangan lupa bawa baju olahraga, karena kegiatan belajar mengajar sudah efektif dan barangkali salah satu dari pelajaran hari itu nanti ialah olahraga.)

Omong-omong, sedikit trivia, doa Chuuya tadi pagi tidak terkabul, karena pemuda itu mendapati namanya berada dalam salah satu kolom berlabel kelas 3-A yang juga dihuni oleh Dazai.

"Akutagawa-kun, kalau nggak makan nanti ikannya kuambil, lho," Dazai iseng berceletuk. Sebelum juniornya itu menjawab, Chuuya langsung memotong.

"Makan saja, Akutagawa," potong Chuuya sambil menyikut si helai cokelat. "Nggak usah perdulikan seniormu yang satu ini."

Akutagawa tidak menjawab, namun Chuuya tahu anak itu mengiyakan ucapannya–terlihat dari tangan pucatnya yang pelan-pelan meraih sumpit kayu sekali pakai yang ada di samping mangkuk nasinya. Maka Chuuya lanjut makan, menuntaskan kuah misonya yang tersisa sedikit hingga benar-benar tak bersisa. "Ah, menu hari ini enak banget ..." gumamnya.

"Omong-omong, Chuuya," Dazai–yang rupanya sudah menghabiskan makan siangnya lebih dulu–menatap pemuda yang duduk di sampingnya. "Malam ini aku boleh menginap di kamarmu, nggak?"

Chuuya mengernyit. "Hah?"

"Chuuya kan tidur sendirian~ Bolehin aku tidur di kamarmu dong~"

"Tidur di kamarmu, sana! Lagipula ada si Ango juga, kan?"

"Aish, Ango belum pulang ..."

Akutagawa mengerjap. "Ango-senpai ... belum pulang?"

Dazai menoleh, lalu mengangguk. "Padahal aku kira dia bakalan pulang tadi malam, tapi kemarin aku masih tidur sendirian."

Gantian Chuuya yang merasa bingung. "Serius?"

Yang ditanyai lagi-lagi mengangguk. "Mungkin dia sakit," Dazai mengangkat bahu. "Tapi Chuuya, aku mau tidur di kamarmu malam ini! Boleh, ya?"

Nada bicara Dazai membuat Chuuya seketika mual. Sebelum betulan muntah, ia mengangguk terpaksa. "Terserahmu ..."

"Yeay!"

-tbc-

Sebenernya, nggak tau mau ngomong apa :"v /hoi

Btw Fitz-sensei kita belom muncul. Tapi chapter depan muncul kok :D /lirik draft chapter selanjutnya yang lagi dikerjakan

(by the way, Countdown artinya hitung mundur /ga ada yg nanya Vir/. Saia pilih judul ini karena sesuatu :v /paan sih Vir)

-Vira D Ace-