Sasuke menyadari ekspresi wajah Sarada yang aneh di pagi itu.

"Kau terlihat kelelahan."

Sarada memainkan pisau makannya dengan malas. "Ya."

"Melakukan kegiatan melelahkan semalam?"

"Um. Aku hanya ... " Sarada terdiam sejenak. "bermimpi."

Ujung bibir Sasuke terangkat. "Mimpi apa yang membuatmu begitu kelelahan?"

"Semacam ... berolahraga."

Sarada merasakan tangan Sasuke membekap keningnya. "Tubuhmu hangat." Tangan itu turun ke leher. "Apa kau," Hingga mendarat di perut dan menekannya. "sakit?"

Napas gadis kecil itu tertahan. Matanya menatap mata Sasuke yang kini melihat kedua bola matanya dengan intens. "Kurasa."

"Aku akan menemanimu tidur malam ini."

.

.

Baru kemarin Sarada mendapatkan gempuran mimpi yang membuatnya terkencing-kencing, kali ini orang menyerupai sosok yang menggempur saluran kencingnya kemarin, kini berbaring di sebelah tubuhnya, tanpa dipisahkan jarak sejengkal pun.

Sarada tidur membelakangi dengan napas memburu. Kedua tangan kekar Sasuke melingkar di perutnya. Kedua tubuh mereka menempel. Kain bertemu dengan kain. Hangat bertemu hangat. Detak jantung Sasuke meletup-letup di punggung Sarada.

Suara bariton Sasuke mengejutkannya. "Sarada," Telapak tangan itu mengelus-elus perutnya. "aku akan memeriksa tubuhmu."

Sarada mengangguk pelan dan mencicit. "Baik, Ayah."

"Baiklah." Sasuke mendesah.

Sarada merasakan salah satu dari tangan besar itu mendorong turun hingga sampai di daerah bagian bawah perutnya. Ia merasakan tangan itu memijat-mijat daerah sana, mengaduknya dengan pelan.

"Apa yang kau rasakan?"

Sarada memejamkan mata. "Ungh, mulas."

Sasuke memijat semakin kuat. Mengirimkan stimulasi yang semakin hebat pada perut bagian bawah anaknya.

"Bagaimana rasanya?"

"Ungh, ingin buang air kecil."

Paha Sarada merapat kuat.

"Buka kakimu." Suara Sasuke merendah.

Sarada tidak mampu. Ia tidak ingin pipis di depan ayahnya.

"Sarada. Buka kakimu. Sekarang."

Sarada menggeleng. Napasnya tersengal. Matanya terpejam dan alisnya mengkerut. "T-tapi, Ayah, nghh .. Angh!"

Sebelum Sarada sempat menjawab. Kakinya terbuka paksa. Pahanya terlonjak ke udara. Salah satu tangan Sasuke memaksanya terbuka. Semerbak udara dingin seketika menciumi permukaan dinding pertahanannya. Sarada tidak lagi bisa menutup pahanya, meski pun sudah sekuat tenaga ia berusaha menutupnya. Sebagai gantinya, dinding basahnya mengisap-isap satu sama lain.

Satu tangan Sasuke yang masih memijit kuat-kuat, semakin mendorong ke bawah, memberikan stimulan yang kian luar biasa menuju saluran pelepasannya.

"Aku akan memeriksa saluran urinmu."

Sarada yang tidak dapat menutup pahanya, bergetar saat merasakan kedua jari Sasuke mendorong belahan labia bagian atasnya. "Ungh, Ayah! Ngh ... " Jari itu memutar-mutar cepat.

"Ayah, ohh ... "

"Aku akan membuatmu kencing."

"Angh-a-hhh, "

Tubuh Sarada tersontak sengatan rangsang saat lima sentimeter jari-jari Sasuke membelah dinding basahnya dan mengaduk-aduk di sana. Pinggul Sarada terkocok-kocok kuat saat lengan perkasa itu terus menggenjotnya dengan gagah. Delapan sentimeter lebih dalam. Pinggul Sarada tersengat. "Angh .. " Jari itu mematuk cepat seperti burung pematuk, menghantam keras seperti palu godam, mengaduk keras seperti pembuat adonan.

Sasuke menahan Sarada tetap berada di posisinya dan memastikan dia tetap menerima rangsangan yang ia berikan. Ia mempercepat tusukan jarinya, mengabaikan rasanya seperti mencelupkannya ke dalam lem lengket, terus memberikan stimulan terbaik yang bisa ia berikan, dan mendorong-dorongnya sedalam dinding basah paling belakang.

"Aah-Ay-ah!"

Suara kecipak daging basah yang saling menampar satu sama lain memenuhi ruangan.

Tampak siluet tubuh Sarada dari samping yang membuka lebar kakinya, sementara sebuah tangan terus mengocok segitiga celana dalamnya tanpa henti. Lima belas menit Sarada merasakan titik vitalnya diserang. Lima belas menit jari itu menggerogoti liang kentalnya. Lima belas menit batang daging itu menggedor-gedor dinding pertahanannya yang kini menampung banyak kelenjar basah.

"Sudah ingin keluar?" Tanya Sasuke tidak menghentikan gerakan tangannya.

"Y-ya-hhh … "

"Baiklah. Jangan menahan dirimu."

Sasuke menarik jarinya perlahan sembari terus memberikan pijatan. Sumbatan itu tercabut. "Aangh!" Sarada mengencingi pahanya sendiri dengan deras.

Sasuke menyaksikan sendiri saat cairan kental berwarna bening itu tersemprot berkali-kali dari lubang kecil puterinya. Visualnya sangat indah. Segala kenikmatan Sarada, segala stimulan, rangsangan yang mengendap di kantong cairan orgasmenya kini membludak dan menyemprot tidak henti-henti. Sarada terengah keras tiap kali menyemprotkan getah kenikmatan itu ke udara.

"Aanghhh ..." Semprotan sekali. "Aanghhh ..." Semprotan lagi. "Anghh ... " Semprotan lagi.

Pahanya terhempas ke tanah. Perut Sarada mengempis, "Aangh ...", memaksa cairan itu keluar. Yang terisa hanyalah jeritan dan dinding hangat yang merapat.

Napas Sarada terengah-engah. Pelepasan kenikmatannya tadi lebih melelahkan daripada berlari mengitari Konoha dan membuat jantungnya hendak meledak,

Sasuke menyaksikan tubuh puterinya bergetar-getar karena nikmat.

.

.

Semenjak kejadian di malam intim mereka, Sasuke menjadi semakin menawarkan jasa penjarian untuk membuat Sarada mengucurkan air seninya lagi. Karena Sarada mengingat perkataan Sasuke di malam itu.

"Semakin sering kita mengeluarkan mereka, semakin cepat pula siksaan ini akan berhenti."

Tentu saja Sasuke berdusta. Justru semakin sering bagian itu dirangsang, semakin mudah klimaks pula tubuh omega kecil anak gadisnya. Akan ada masa di mana Sarada akan datang orgasme hanya dengan sekali jilatan lidah.

Sasuke menawarkan berbagai posisi untuk membuat Sarada keluar semakin cepat. Sarada menerima dengan pengetahuan ia harus mematuhi Ayahnya seorang.

"Duduk di sini."

Sasuke mengatur posisi kursi makan. Sarada didudukkan dengan posisi meja di samping lengannya. Sarada disandarkan dengan rileks. Sasuke membantu kaki sebelah Sarada naik dan tergeletak di atas meja, sementara kaki satunya tergantung di atas gendongannya.

Sasuke memasukkan jarinya ke sela daging yang terbuka dan mengaduk-aduknya cepat.

.

.

Tiga puluh menit berlalu dan Sarada masih membuka kakinya untuk distimulasi oleh jari Sasuke.

Seluruh tubuh Sarada berkeringat di kursi. Wajahnya memerah, bola matanya terputar ke belakang, dan mulutnya menganga.

Tepat di tengah ketidaksadaran Sarada yang berada di awang-awang, kedua belah bibir Sasuke mengemut sisa-sisa air mani langsung dari saluran pembuangannya.

Di sisa kesadarannya, Sarada merasakan kulit berlendir seperti siput menyedot saluran kencingnya.

Dan itu adalah bibir dan lidah milik Sasuke.

.

.