C10H16

Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto

Chapter 2 : Botol

Pairing : Naruto/Hinata


Apa sih yang bisa kau harapkan dengan pergi ke karnaval seperti ini? Bikin pusing kepala saja. Tapi disinilah Hinata, duduk di bawah pohon momiji sembari menatap bianglala yang berputar tak jauh darinya. Ia merasa telah ditipu Hanabi, si adik manis yang ia kira polos itu ternyata menyebalkan bukan main. Bagaimana mungkin anak itu menyeretnya ke karnaval malam dan meninggalkannya sendirian. Oh ayolah, Hanabi tengah berkencan dengan Konohamaru, tidakkah itu menyakitkan. Hinata cemburu, lebih tepatnya cemburu karena ia tidak memiliki pacar. Tapi yeah, tetap saja sih ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahlan Hanabi untuk itu.

"Ah, sial." Ia menyesap minuman dalam tangannya kuat-kuat, mengabaikan lalu-lalang pejalan kaki di hadapannya. Sebaiknya ia segera pulang, paling tidak menghabiskan malam minggunya dengan tidur akan membuatnya merasa lebih baik.

Ketika botol minuman di tangannya telah tandas, Hinata melemparkannya asal ke belakang. Sebagai bentuk kekesalan atas malam yang menyedihkan ini, sekaligus hei siapa juga yang akan melintas di semak-semak sepi di belakangnya. Tapi...

"Ouch, siapa yang melemparkan ini?"

Mendengar pekikan kesal dan setengah jengkel dari makhluk di belakangnya, gadis Hyuuga itu mematung di tempat. Ya Tuhan, padahal ia ingin segera lari dari sana, tapi kakinya mendadak berat dan tak bisa memindahkan bobot tubuhnya. Belum juga pikiran-pikiran negatif mengenai sosok tinggi besar yang akan menghancurkannya berakhir, seorang lelaki muncul dari balik semak-semak. Oh tidak.

"Hei, kau yang melemparkannya?"

Untuk beberapa saat Hinata mengerjap, tak paham dengan apa yang terjadi. Seolah kebetulan aneh bertubi-tubi menyerangnya tanpa permisi. "Uhm, yeah."

"Mengenai kepalaku." Dia mengusap kepala pirangnya, dan meskipun lemparan botol tidak benar-benar membuat kepalanya cidera tapi tetap saja, itu agak mengesalkan. "Padahal kau tahu kan jika membuang sampah sembarangan itu tidak baik."

Oh yeah, Hinata memutar bola matanya. Jangan mulai ceramah deh. Kendati demikian, lidahnya seolah kelu untuk sekedar berujar 'well, kau tahu aku tidak sengaja dan tolong maafkanlah aku' seolah rangkaian kata itu adalah beton berat yang tak akan mampu ia keluarkan dari dalam lubang.

"Tidakkah kau--"

"A-aku minta maaf, Naruto. Aku tidak sengaja." Meskipun berusaha mengumpulkan tenaga untuk bisa menatap iris biru pemuda itu, kenyataannya ia hanya mampu menunduk malu dan berharap waktu segera berlalu. Atau paling tidak ia punya alasan yang bagus untuk pergi dari sana.

"Oke, aku maafkan." Rasanya agak canggung, dan hiruk pikuk di sekitar mereka seolah terlupakan begitu saja. "Hei, kau sedang apa disini?"

Sedang apa? Gadis itu pun bingung sedang apa ia di tempat itu? Ah tidak mungkin juga ia menjawab tengah menunggu adiknya yang sedang pacaran kan? Ya Tuhan, itu mengerikan. "Menghabiskan malam minggu, maksudku, menikmati pemandangan karnaval." Apalagi kalau bukan itu? "Kau sendiri?" Ia berusaha keras menjaga suaranya agar tidak kedengaran grogi.

Pemuda itu masih diam terpaku di tempatnya berdiri, memegang botol kosong yang diputar-putarnya tanpa ada niat untuk membuangnya. "Apa ya? Sejujurnya aku tadi sedang sembunyi dari Sasuke dan Kiba."

"Eh?"

"Mereka mau mengajakku naik bianglala. Well, aku kan tidak pernah berani dengan ketinggian." Ada kekehan di akhir kalimatnya, dan tanpa sadar si lawan bicara pun ikut tertawa pelan.

Tapi Naruto tidak sendirian sepertinya. Oh yang benar saja, niat untuk pulang malah terhalang oleh kehadiran mantan. Kalau begini bagaimana caranya ia kabur?

"Hinata."

Gadis Hyuuga itu mengerjap, mendongakkan kepala untuk menatap sepasang iris menawan di hadapannya. "Ya?"

"Mau naik komedi putar bersamaku?" Sebagai alibi juga untuk menghindari kejaran si brengsek Sasuke dan Kiba.

What? Seenaknya saja mengajaknya begitu? Apa lelaki itu amnesia jika dia ini mantannya? Tapi yeah, menolak pun ia tidak tahu caranya. Jadi ketika Naruto menatapnya kembali dengan sorot mata ragu, ia segera berdiri dari bangku panjang yang didudukinya. "Boleh juga." Paling tidak ia tidak tersiksa parah melihat adiknya yang tengah berduaan dengan pacarnya.

end