RATAPAN ORANG KECIL (FANFIC VERSION)
DISCLAIMER : NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
RATE : T
Summary : Sebuah kisah dari 2 orang remaja yang merasakan pahitnya dunia dan mulai berjuang dengan sekuat tenaga menaklukkan dunia bersama orang-orang yang mereka kasihi.
.
.
.
.
I
N
A
R
U
T
O
Malam semakin larut, tampak cahaya rembulan yang berada di balik awan tengah menyinari sawah yang membentang di depanku. Lahan yang mulai ditumbuhi oleh benih–benih padi yang masih hijau sejauh mata memandang itu bagaikan permadani di bawah langit malam yang kelam. Hanya terdengar suara desauan angin yang mendayu-dayu diikuti dengan semilir angin yang mulai hinggap ke kulitku ini.
Tiada lagi ada yang menemani diriku saat ini selain suara desauan angin dan juga suara jangkrik yang terus bersahut-sahutan di tengah sawah ini. Aku yang tengah terdiam di sebuah gubuk di tengah sawah sembari menikmati rembulan yang kini malu-malu menampakkan cahayanya.
Api lentera yang kubawa tidak bisa mengusir gelapnya malam yang kini semakin dingin. Tiada yang bisa kulakukan saat ini selain terdiam dan merenung di tengah-tengah sunyinya malam yang kian larut itu sembari berjaga-jaga agar tiada tikus maupun burung-burung yang merusak lahan yang baru saja kutanami itu.
Lahan ini adalah lahan peninggalan kakekku yang memang sehari-harinya bekerja sebagai petani dan selalu memberikan hasil panennya kepada seorang pengusaha beras yang amat kaya di desaku ini. Semenjak kedua orang tuaku meninggal sepuluh tahun yang lalu dikarenakan kecelakaan yang menimpa mereka, aku dan adik kecilku dirawat dan dibesarkan oleh kakek-nenek dan juga paman-bibiku di desa ini.
Butuh tiga tahun bagiku untuk melupakan kesedihan yang kualami ketika ditinggalkan oleh mereka dan kembali menata hidupku bersama adikku yang memang perlu bimbingan. Kehidupanku yang sempat nyaman di kota kecil harus kutinggalkan karena sebagian besar keluargaku berada di desa tempat kakekku tinggal saat ini.
Mungkin agak sulit bagiku yang biasanya hidup di tengah hiruk pikuk kota harus terdampar beberapa kilometer dari pusat kota. Tetapi dengan bantuan kakekku, aku mulai terbiasa dengan kehidupanku di desa ini. Bahkan kini aku membantu kakekku untuk menggarap lahan yang dimiliki oleh kakekku.
Sudah delapan tahun lamanya, aku membantu kakekku yang bernama Hiruzen dalam menggarap lahannya untuk melupakan kesedihan yang sebelumnya terus melingkupi hatiku hal telah kulakukan bersama kakekku dari menggarap lahan, menyiapkan benih, membantu memanen padi, mengirim hasil panen ke juragan, dan lain-lain.
Selama delapan tahun itu, kesedihan yang kualami semenjak kematian kedua orangtuaku mulai terobati. Kini aku telah menemukan sosok yang bisa menggantikan kedua orangtuaku. Sosok ayah yang selalu mengayomi dan melindungi keluarganya, yang selalu menghidupi kebutuhan keluarga, yang menghiburku di kala terpuruk, telah digantikan oleh sosok kakekku.
Sosok yang kini kukagumi, yang tak pernah lelah menghidupi kami, meski kami berdua hanya menumpang di kediamannya, yang selalu mengecup kening kami sebelum kami tidur, yang selalu mengingatkan kami untuk selalu bertakwa kepada Tuhan. Meskipun usianya yang tak lagi muda, ia tetap semangat untuk menggarap lahan yang ia miliki.
Keringat yang terus bercucuran dari kepalanya tidak ia pedulikan, tulang-tulang yang telah renta dan hanya berbalut kulit tak membuat ia jengah. Hanya demi kami cucunya yang telah kehilangan sosok panutan, ia bekerja keras siang dan malam. Terkadang di kala petang menjelang, ia masih menyempatkan diri untuk bermain bersama kami. Meski rasa lelah selalu menghampirinya, ia tidak pernah mengeluh.
Jauh di dalam lubuk hatiku, ada satu hal yang diriku dan adikku tidak lagi kehilangan sosok yang benar-benar berharga di dalam takut untuk kehilangan cukup kedua orangtuaku yang telah kurelakan untuk pergi dari perlu ada lagi yang harus pergi dari sisiku.
Aku tidak ingin adikku yang saat itu baru genap berusia sepuluh tahun kembali merasakan kesedihan yang mendalam. Aku tidak ingin melihat adikku kembali terpuruk setelah apa yang kami rasakan saat kehilangan kedua orangtua kami. Namun seperti sebuah kutukan yang selalu merengut kebahagiaan dari hidupku, seseorang yang sudah kuanggap sebagai pengganti ayahku harus menyusul kedua orang tuaku.
Figur seorang kakek yang telah menjadi pengganti ayahku yang selalu membina dan membimbing yang selalu menghiburku di kala sedih, figur yang menyemangatiku di kala terpuruk, telah terbujur kaku di dalam tanah dua tahun yang yang selalu menghiasi wajahku itu kini kembali berubah menjadi derai tangis yang menyayat hati.
Aku pun kembali terpuruk karena hilangnya sebuah cahaya yang sempat menjadi rasanya hati ini hanya dengan mengingat hal itu. Hal yang saat itu kutakutkan malah terjadi di depan mataku.
Waktu itu petang telah tiba dan aku baru saja pulang dari kediaman kakek yang kecil, namun terawat itu. Di depan teras, terlihat nenekku yang bernama Biwako tengah duduk sembari menatapku dengan tatapan berbinar di raut wajah tuanya, seperti mengharap-harapkan kedatanganku sedari tadi. Kuhampiri beliau kemudian menyalaminya. Lalu aku pun bertanya kepada beliau, "Ada apa nek? Kelihatannya nenek mengharapkan kedatangan Naru sedari tadi."
Dengan suara yang terdengar risau nenek menjawab, "begini Naru-kun, sedari tadi nenek memang menunggumu di sini untuk meminta tolong panggilkan kakekmu nak. Sudah sedari tadi ia belum pulang juga ke rumah. Nenek takut terjadi apa-apa samakakekmu. Kan kamu tahu sendiri kalau kakekmu tengah bekerja di sawah, pasti ia tidak pernah kenal waktu."
Aku pun menghela napas yang menjadi kekhawatiran kami kepada kakekku. Memang kegigihan beliau untuk bekerja patut diapresiasi, tetapi hal itu juga menyebabkan kondisi kesehatan kakek terus menurun. Jika terjadi sesuatu kepada kakek, maka kami pun harus kehilangan seseorang yang kami kasihi lagi.
Pernah suatu kali aku meminta kakek untuk beristirahat saja di dalam rumah dan membiarkan diriku yang menggantikan dirinya untuk bekerja. Waktu itu, petang tengah menjelang. Aku melihat kakek baru saja duduk di serambi gubuk dan mengistirahatkan raganya di atas tilam yang ada pada serambi itu. Aku pun menghampiri kakek sembari berkata, "Kek, lebih baik kakek istirahat saja. Tidak usahlah kakek bekerja lagi. Usia kakek sudah sangat tua, dan raga kakek semakin melemah."
"Aku takut terjadi apa-apa sama kakek ketika kakek tengah bekerja. Biar Rama saja yang menggantikan kakek untuk bekerja," lanjutku. Kakek hanya tersenyum mendengar perkataanku. Kemudian, beliau bertanya, "lalu bagaimana dengan sekolahmu Naru?" Aku pun menjawab, "untuk sekolah bisa diurus nanti kek, yang penting kakek istirahat saja karena kondisi kesehatan kakek sudah menurun,".
Mendengar hal itu, kakek hanya tersenyum tipis. Dan sambil mengeluskan tangannya ke kepalaku, beliau berkata, "kakek senang jika Rama sangat mengkhawatirkan kakek. Tetapi Naruto, kau tidak boleh menyepelekan pendidikanmu. Kakek bekerja keras siang dan malam hanya demi masa depanmu dan Sara, adikmu."
"Dan apakah kau tahu, jika pendidikan itu berguna bagi masa depanmu?" tanya kakek kepadaku. "Iya kek," jawabku dengan mantap. Sembari terkekeh, beliau berkata, "Hehehe.., anak pandai. Kalau kamu tahu bahwa pendidikan itu berguna bagi masa depanmu, jangan kamu ke sampingkan hal itu. Jadi kakek minta untuk tidak mengorbankan sekolahmu itu ya Naru, karena itu sama saja menyia-nyiakan pengorbanan yang kakek lakukan, oke?" "Oke kek," jawabku sembari tersenyum.
Selain beliau adalah seorang yang pekerja keras, beliau juga seorang aktivis gereja yang sangat aktif di dalam gereja stasi kecil yang ada di pinggir desa yang lain. Jika setiap hari senin sampai sabtu beliau selalu bekerja di lahan miliknya, maka setiap minggu beliau akan sibuk mengurusi setiap jemaat yang ada di gereja itu meski memang mayoritas masyarakat di desa itu memeluk agama Islam.
Tapi meski beliau berbeda agama, beliau memang sangat disegani oleh setiap orang yang beliau jumpai di desa. Beliau selalu mengayomi dan membantu orang-orang yang benar-benar membutuhkan di desa itu. Jikalau ada orang yang membencinya, beliau ridak mempersalahkan itu. Beliau hanya tersenyum saja."Untuk apa kita marah kepada orang yang membenci kita? Itu terserah dia jika mau membenci kita. Yang penting kita selalu berbuat baik kepada setiap orang," ujar beliau jika ditanyai oleh orang lain.
Karena kata-kata itulah ia semakin dihormati dan disegani oleh siapa saja, baik dalam gereja maupun dengan orang-orang desa. Dan karena hal itu juga, aku semakin mengagumi sosok beliau yang telah menggantikan sosok ayah yang memang telah tiada itu.
Lamunanku terhenti saat itu juga ketika aku menatap wajah nenek yang masih memandangku dengan penuh harap. "Bagaimana Naru, kamu mau kan?" tanya beliau dengan gelisah. Dengan nada tegas dan pasti, aku pun berkata, "jangan risau nek, akan kususul ke sawah dan kupanggil beliau sekarang. Berdoa saja kalau tidak terjadi apa-apa pada kakek,".
Mendengar ucapanku itu, kegelisahan yang terpancar pada raut wajah beliau mulai sirna. Sembari terkekeh pelan, beliau berkata, "Ya sudah.., hati-hati di jalan ya." Aku pun menganggukkan kepala dan dengan segera kutaruh tas punggungku di atas kursi teras, dan setelah berpamitan kepada nenek, aku pun bergegas menuju sawah milik kakek.
Dengan sepeda tua yang diberikan oleh kakek, aku pun melaju dengan cepat menuju lahan sawah milik kakekku itu. Kukayuh dengan cepat sembari menikmati indahnya pemandangan sang permadani yang disinari cahaya matahari senja itu. Langit yang ditambah semburat oranye itu bagaikan kanvas yang dilukiskan oleh Yang Mahakuasa.
Sesekali aku menjawab sapaan dari orang-orang yang kutemui sepanjang jalan. Tiba-tiba, terdengar suara adzan berkumandang dari surau masjid. Semburat oranye di cakrawala telah semakin pekat yang akhirnya membuatku mengayuh sepedaku sekuat tenaga.
Ketika jarak yang harus kutempuh hanya beberapa meter lagi, aku melihat sekelompok orang tengah mengerumuni sebuah gubuk kecil di tengah sawah yang kuyakini adalah sawah milik kakekku. Seketika hati ini merasa kalut dan gelisah. Gubuk kecil nan tua itu adalah gubuk yang sering digunakan oleh kakekku ketika sedang ingin melepas penat setelah bekerja seharian.
Rasa kalut dan gelisah itu semakin mengebu-gebu, ketika jarak antara diriku dan gubuk itu semakin dekat. Kulihat tatapan orang-orang tengah cemas akan sesuatu. Aku pun berlari dengan cepat meninggalkan sepedaku yang tergeletak tak berdaya di pematang sawah. Deru napasku yang terputus-putus kuhiraukan begitu saja. Yang ada di pikiranku saat itu hanya satu, kondisi kakekku saat ini.
Salah satu orang di antara kerumunan orang itu sempat melihat ke arahku, dan kemudian ia berseru dengan suara nyaring, "Hei Naruto, cepat kemari!". Kupercepat laju lariku hingga semakin kencang. Ketika sampai di dekat kerumunan orang itu, aku pun mulai mendesak kerumunan orang itu agar bisa memberi jalan agar aku bisa melihat apa yang terjadi.
Sesampainya di tengah kerumunan, aku pun hanya bisa berdiri kaku setelah melihat apa yang terjadi di depan mataku. Kulihat kakekku tengah berbaring dengan lemas dengan deru napas yang terputus-putus tiada henti. Matanya yang selalu berkilat tajam kini terlihat lemah seperti tiada sinar di dalamnya. Hilang sudah rona warna pada kulit wajahnya. Raga tua yang selalu kokoh dan tak pernah tergoyahkan itu kini terbaring tak berdaya di atas tilam yang ada di gubuk itu.
Hatiku terasa remuk redam seperti baru saja dihantam oleh palu godam yang sangat besar. Lidahku menjadi kelu hanya dengan melihat beliau yang menjadi sosok pengganti ayahku itu kini tergeletak tak berdaya. Tak lama kemudian, aku berteriak ke sekeliling dengan panik, "Tolong! Siapa saja!? Tolong bawa kakekku ke puskesmas desa!"
Orang-orang di dalam kerumunan itu hanya bisa menatap diriku dengan pandangan iba, tak kuat rasanya melihat kondisi diriku saat di tengah-tengah kerumunan itu, seseorang yang tadi sempat berseru kepadaku itu kini berkata, "Sabar Naruto, Kakashi sedang mengambil motornya yang ia parkir di pinggir sawah miliknya. Tunggu saja hingga ia tiba."
"Tapi kalau terlalu lama nanti terjadi apa-apa sama kakek," ujarku dengan risau. "Berdoa saja agar tidak terjadi apa-apa terhadap beliau, yang penting kamu tenagkan hatimu dulu dan kita tunggu sebentar lagi," ujar orang tadi. Tak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu sedari tadi telah tiba. Kami pun bergegas membopong raga kakek ke atas motor Kakashi-nii, tetangga dekat dari kakekku.
Motor Kakashi-nii pun melaju dengan kencang sembari membawa kakekku ke puskesmas yang terletak di tengah desa kami. Saat aku ingin menyusul mereka, tiba-tiba aku teringat dengan nenek yang tadi sempat khawatir dengan kondisi kakek. Timbulah pergolakan yang ada di dalam batinku. Di satu sisi, aku tidak ingin nenek tahu tentang kondisi kakek saat ini. Karena jika nenek tahu kalau terjadi sesuatu pada kakek, mungkin informasi itu juga malah mempengaruhi kondisi nenek.
Namun di sisi yang lain, kalau aku tidak memberitahukan hal ini kepada nenek, aku malah dikira menutup-nutupi apa yang harusnya di ketahui oleh nenek. Setelah beberapa saat aku berpikir, akhirnya kuputuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu untuk menjemput nenek dan Sara agar bisa menyusul Kakashi-nii ke puskesmas.
Setelah menimbang hal itu, aku pun bergegas mengambil sepedaku yang sempat tergeletak itu dan kukayuh sekencang-kencangnya menuju rumah. Sesampainya di rumah, lagi-lagi aku melihat nenek tengah berdiri di teras rumah sambil harap-harap cemas menunggu kedatanganku dan kakek. Ketika aku sampai ke depan teras, aku pun diserbu oleh beragam pertanyaan dari beliau.
"Lho Naru, kakekmu mana? Kok tidak kelihatan bersama-sama denganmu? Wajahmu juga rerlihat pucat. Apa yang sebenarnya terjadi Naru?" tanya nenek sembari menatapku dengan pandangan penasaran. Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini, tetapi pada akhirnya kukuat kan tekadku dan kukukuh kan semangatku untuk mengatakannya pada beliau.
"Maaf nek. Sebenarnya sesampainya saya di sawah milik kakek, saya melihat ada banyak orang tengah berkerumun di depan gubuk milik kakek. Karena penasaran, akhirnya saya segera berlari ke arah gubuk itu. Sampai di sana, aku malah melihat kakek dengan wajah yang sangat pucat tengah berbaring di atas tilam yang ada di gubuk itu. Tapi sekarang kakek sudah dibawa oleh Kakashi-nii ke puskesmas desa dan kini saya ingin menjemput nenek dan Sara untuk menyusul mereka ke puskesmas saat ini," jelasku pada nenek.
Mendengar itu, beliau hanya terdiam dan aku tahu bahwa hati beliau sendiri tidak kuat untuk menerima kabar yang telah kusampaikan ini. Dengan nada yang dibuat tegar, nenek berkata, "Ya sudah, sebaiknya kita segera berangkat ke sana. Untuk masalah Sara, nenek akan memanggil bibimu Karin untuk bisa menemani Sara yang kini tengah tertidur. Tak tega nenek membangunkan Sara untuk ikut ke puskesmas."
Setelah bibi Karin sampai ke rumah kami, aku dan nenek pun segera bergegas menuju Puskesmas desa yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Kami tengah dirundung rasa cemas saat kami tengah bergegas ke Puskesmas itu. Bahkan aku sempat merasakan firasat yang tidak enak tentang hal ini. Sesampainya di Puskesmas, kami melihat Kakashi-nii tengah berjalan kesana-kemari seperti orang yang tengah kebingungan.
Kami pun menghampiri Kakashi-nii. Melihat kami telah sampai di Puskesmas itu, Kang Kasim mengembuskan nafas lega untuk sementara dan berkata kepada kami, "Syukurlah nenek dan Naruto sudah sampai di sini. Kata dokter, kondisi kakek saat ini tengah kritis. Penyebabnya adalah karena beliau mengalami kelelahan yang sangat parah, namun saat ini dokter masih memeriksa lebih lanjut keadaan kakek."
Tak lama setelah Kakashi-nii selesai berbicara, tiba-tiba dari pintu kamar kakek keluar seorang suster sembari membawa sebuah catatan di tangannya. Sambil melihat ke arah kami, ia berkata, "Permisi, untuk keluarga Bapak Hiruzen dimohon untuk masuk." Mendengar ucapan sang suster, kami bertiga pun masuk ke dalam kamar kakek.
Setelah kami masuk, kami melihat raga kakek yang kini masih berbaring lemas di atas kasur seperti tidak ada lagi kekuatan untuk menopang tubuhnya. Nafasnya kian lama semakin melemah. Tetapi entah darimana datangnya kekuatan itu, kakek melambaikan tangannya ke arahku. Seketika itu juga aku berjalan dengan pelan sembari menundukkan kepala, tak kuat melihat raga sang panutan yang kini tengah terbaring lemah.
Tiba-tiba kurasakan sebuah usapan pelan pada kepalaku yang masih menunduk, dan kemudian kakek berkata dengan suara lirih, "Naruto, sekarang kamu udah beranjak dewasa. Kakek tahu perjalanan hidupmu sangat berat karena harus ditinggal oleh orangtuamu ketika masih sangat muda. Tapi kakek harap kamu masih mempunyai semangat untuk hidup. Tidak hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk nenek dan adikmu Sara."
"Kakek mohon kau bisa membimbing Sara dengan baik. Hiburlah dia di kala ia sedih. Berilah ia semangat jika ia terpuruk. Jagalah ia, karena ia satu-satunya saudara yang kamu miliki. Jangan bertengkar hanya karena masalah sepele. Dan juga jangan sepelekan pendidikanmu. Kamu masih ingat pesan kakek kepadamu tentang sekolahmu kan?" lanjut kakek sembari bertanya kepadaku.
"Iya kek," jawabku sambil meneteskan air mata. Hatiku kembali merasakan perih yang sangat dalam ketika mendengar nasihat kakek saat ini. Aku tahu bahwa hal itu akan menjadi nasihat terakhir beliau kepadaku sebelum beliau menyusul kedua orangtuaku. Kakek hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan susah payah.
"Bagus jika kamu masih mengingat hal itu Naru. Kakek merasa sangat senang karena memiliki dirimu yang sangat menyayangi dan selalu mengkhawatirkan keluargamu. Mungkin hanya sampai di sini saja bagi kakek untuk bisa merawat dan membesarkanmu. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kakek bagi dan berikan kepadamu, tetapi apa daya bagi kakek karena Tuhan telah memanggil kakek untuk menyusul kedua orangtuamu," ujar kakek sembari meneteskan air matanya.
Air mataku yang mengalir keluar kini mengalir dengan deras setelah mendengar ucapan kakek. Hatiku terasa sesak dan perih ketika melihat kakek tengah berjuang dengan sisa-sisa tenaga yang beliau punyai untuk memberikan nasihat terakhirnya kepadaku. Nenek pun juga hanya bisa berlutut sambil terisak-isak ketika melihat kakek tengah pamit kepada kami. Dokter, suster dan Kakashi-nii yang juga berada di dalam kamar itu hanya berdiri sambil membisu ketika kakek masih mengucapkan kata-kata terakhirnya.
Tiba-tiba saja, kakek terbatuk-batuk. Nafasnya terlihat semakin memburu, seolah-olah segala tenaga yang beliau miliki tengah terkuras banyak hanya untuk sekedar mempertahankan kesadarannya. Tidak hanya nafasnya yang terlihat memburu dan terputus-putus. Detak jantung dan denyut nadinya juga mulai bergemuruh seperti sebuah drum yang ditabuh berkali-kali.
"Kakek!" seruku cemas. Melihat beliau yang saat ini meski terbaring tak berdaya di atas ranjang, namun hanya bermodalkan tekad saja beliau berjuang mempertahankan kesadarannya ini, aku merasa benar-benar tak tega. Kakek tersiksa hanya karena beliau ingin menyampaikan pesan terakhirnya kepada kami.
Kakek berusaha untuk tetap tersenyum sembari berkata kepadaku, "Kakek baik-baik khawatir Naru." "Baik-baik saja! Kakek tidak terlihat baik-baik saja! Aku mohon sekali ini saja turuti permintaanku kek. Aku mohon kakek cukup beristirahat saja, menyembuhkan diri kakek sendiri dan menyerahkan segala urusan kepadaku."
"Aku mohon kek… aku mohon…" rintihku sembari menangis tersedu-sedu. "Aku mohon kek… demi nenek… demi Sara… demi warga desa… dan demi aku kek," harapku kepada beliau sembari menatapnya dengan pandangan mendamba. Kulihat beliau kembali melihat ke sekeliling ruangan itu, mengharapkan bantuan untuk menegarkan hatiku yang terluka ini.
Tapi sepertinya beliau harus kecewa karena tidak ada satu orangpun yang beranjak dari tempat mereka berdiri. Semuanya hanya terpaku dan terdiam di tempat mereka masing=masing. Bahkan beliau melihat nenek dan Kakashi-nii juga melihat beliau dengan tatapan mendamba.
Kakek pun kembali melihat ke arahku dan berusaha untuk menghiburku, "Sudah, tidak perlu menangisi kepergian kakek. Kakek harap kamu mau merelakan kepergian kakek. Akan kakek doakan dirimu di atas sana bersama-sama dengan kedua orangtuamu." Beliau pun melihat ke arah nenek dan kemudian kembali berkata, "Aku titip kedua cucu kita ya bu, semoga dirimu bisa membimbing mereka."
Nenek hanya bisa menganggukkan kepalanya diiringi isakan tangisnya yang semakin terdengar. Kemudian kakek melihat ke arah Kakashi-nii dan berkata kepadanya, "Kakashi, kamu sudah saya anggap anak sendiri. Jadi saya minta tolong titip ibu dan kedua cucuku ya Kakashi, terutama Naruto ini. Semoga kamu bisa menggantikan diriku untuk membimbing mereka."
Kakashi-nii menganggukkan kepalanya dengan mantap dan berkata kepada kakek, "Jangan khawatir pak, saya akan melakukan amanah yang bapak tinggalkan kepada saya." Beliau pun tersenyum kepada Kakashi-nii. Tak lama setelah itu, beliau kembali berpaling ke arahku.
"Sudahlah Naru, tak usah menangis. Aku ingin kau tersenyum pada kakek untuk terakhir kalinya ya," pintanya sambil menatapku penuh harap. Sebenarnya aku tidak memiliki kekuatan hanya untuk tersenyum karena terlalu terlarut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Tetapi karena tahu itu adalah permintaan terakhir kakek, akhirnya kupaksakan diriku untuk tetap tersenyum.
Senyum hangat pun terukir di wajah kakekku setelah melihat diriku tersenyum dan setelah hal itu, beliau menghadap ke langit-langit kamar Puskesmas itu. Tak lama kemudian, ia menutup mata untuk selamanya. Senyum hangat pun masih terukir di wajahnya yang rapuh. Raga tua yang selalu menopang kami, kini mulai terkulai tak berdaya.
Nafasnya yang terputus-putus telah hilang, dan detak jantung yang sebelumnya kian melemah, kini sudah tidak berdetak. Terlihat wajah beliau yang kini telah beristirahat dengan damai, seperti tidak ada lagi beban yang dipikulnya. Senyum yang telah kupaksakan mulai luntur oleh kesedihan.
Di saat itu pula hujan mulai turun ke atas desa, mengantarkan jiwa kakek kembali ke tangan Sang Pencipta. Derasnya hujan yang turun membuat desa itu terlihat seperti menangisi kepergian kakek yang selalu baik kepada warga desa. Sesosok orang yang menjadi panutan seluruh warga karena selalu membantu tanpa melihat siapa pun yang dibantunya, kini telah tiada.
Paginya ketika kami pulang, Sara dan bibi Karin tengah berada di depan teras rumah sambil mengharapkan berita baik tentang kakek. Namun ketika mereka melihat raut sedih yang terlukis di wajah nenek dan aku, perasaan mereka mulai tidak enak. Karena tidak kuat menanyakannya kepadaku atau nenek, maka bibi Karin bertanya kepada Kakashi-nii, "Kakashi, sebenarnya apa yang terjadi di Puskesmas tadi?"
Kakashi-nii sebenarnya juga tidak tega untuk memberikan kabar yang tidak baik ini kepada Sara maupun bibi Karin. Tetapi sebagai pihak keluarga yang ditinggalkan, mereka harus menerima kabar ini. Maka dengan sangat terpaksa, Kakashi-nii pun menjawab, "Maaf Karin, Sara. Kakek Hiruzen tidak dapat diselamatkan oleh dokter. Beliau meninggal dikarenakan kelelahan yang parah akibat bekerja terlalu keras."
Setelah kabar tak mengenakkan itu telah keluar dari mulut Kakashi-nii, Sara dan bibi Karin hanya bisa terdiam membatu karena terkejut. Tak pernah disangka oleh mereka bahwa kakek yang selalu giat bekerja siang dan malam itu kini telah meninggalkan dunia ini. Setelah pulih dari rasa terkejutnya, Sara langsung berlari ke dalam rumah sambil menangis meraung-raung. Ia menumpahkan segala kesedihannya di dalam kamar.
Raungan tangis kesedihannya bahkan terdengar sampai keluar. Tak hanya Saras, bibi Karin juga hanya bisa menangis sedih di teras rumah itu. Lututnya mulai goyah dan tak kuat menahan beban jatuh berlutut sembari terisak-isak. Kakashi-nii langsung memeluknya, menjadikan dirinya sendiri sebagai sandaran bagi bibi Karin untuk meluapkan kesedihan setelah ditinggalkan oleh sang ayah.
Aku pun hanya bisa menatap kosong ke arah mereka. Hal yang selalu kutakutkan kini telah terjadi di depan mataku. Raut wajah kesedihan, ratapan demi ratapan, suara tangisan yang tiada henti benar-benar menggetarkan jiwa dan hatiku. Keceriaanku benar-benar menguap hilang entah ke mana. Pikiranku tidak pada tempatnya pada saat ini.
Rumah yang biasanya diselimuti oleh kehangatan dan keceriaan yang dipancarkan oleh sang penghuni rumah kini diselimuti oleh hawa dingin dan kesuraman karena telah ditinggalkan oleh cahaya yang sangat terang oleh rumah itu. Tiada lagi kehangatan dan keceriaan yang ada, seperti nyala sebuah api pada lentera yang kian lama kian redup. Bahkan telah habis ditiup oleh angin yang membawa cahaya itu pergi.
Rumah yang selalu ramai oleh canda tawa kini terlihat sunyi, seperti tak ada gairah bagi orang-orang di dalamnya hanya untuk bersenda gurau. Suasana sunyi dan berkabung sangat terasa ketika memasuki rumah itu. Tiada satu pun dari kami yang juga berbicara satu sama lain, karena hati ini masih tak rela untuk ditinggalkan oleh seseorang yang sangat berarti bagi kami.
Keesokan harinya, kabar meninggalnya beliau mulai tersebar ke seluruh desa, layaknya sebuah api yang membakar rumput yang kering. Banyak sekali warga yang menyayangkan kepergian beliau. Seorang lansia yang selalu memberikan pelajaran kepada mereka yang lebih muda akan pentingnya suatu kehidupan. Sosok yang telah dianggap sebagai orangtua, sanak saudara dan sahabat dari para warga desa harus pergi untuk selamanya.
Para warga berbondong-bondong menuju rumah duka setelah mendengar kabar meninggalnya kakek, ingin berbela sungkawa sembari memberikan penghormatan terakhir kepada kakek. Tidak ada satupun di antara mereka yang tidak hadir dalam pemakaman itu, bahkan sang Kepala desa juga ikut turun untuk mengantarkan jenazah kakek menuju tempat peristirahatannya yang terakhir.
Tak hanya warga desa yang berbondong-bondong, tapi semua umat yang ada di paroki kota kecil itu juga berbondong-bondong menuju ke rumah kakek untuk mempersiapkan misa Requiem dan ikut menghantarkan beliau menuju peristirahatannya yang abadi.
Misa dilakukan dengan khidmat dipimpin langsung oleh pastur kepala paroki kota itu. Terlihat sekali suasana harmoni namun sendu yang sangat kentara di rumah itu. Tidak ada yang saling membeda-bedakan agama di sana, namun semua berkumpul dan bersatu untuk menghantar sosok kakek ke dalam pangkuan Bapa yang Mahakuasa.
Doa demi doa beserta segala lagu didaraskan untuk mengiringi kepergian sosok beliau. Baik yang pernah membenci beliau maupun yang benar-benar menyayangi beliau tengah bersatu dengan khidmat untuk melambungkan setiap darasan doa yang ikut mengiringi setiap perjalanan yang beliau tempuh menuju tempat yang telah disediakan oleh-Nya.
Beliau dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum yang berada di pinggir desa. Pemakaman beliau berlangsung dengan khidmat dan diikuti oleh seluruh warga desa. Semua orang ikut serta dalam mengantarkan raga kakek menuju ranjang abadinya yang terletak di pinggir desa. Sepanjang perjalanan, hanya ada deraian air mata dan suara ratap tangis yang mengiringi para rombongan untuk sampai ke sana.
Pada saat kakek mulai masuk ke dalam peristirahatan yang terakhir, banyak sekali orang yang merasa sangat kehilangan dengan kepergian beliau. Terutama kami yang ditinggalkan oleh beliau. Sara, adik kecilku, sedari tadi hanya bisa terisak di dekatku. Tidak kuat melihat raga kokoh sang kakek harus berada dalam liang lahat.
Nenek yang biasanya tersenyum kepada siapa saja, kini hanya ada ratap tangis yang keluar dari mulutnya. Sebuah tangisan pilu yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, karena harus menyaksikan raga dari sang kekasih harus terpendam bersama dengan kenangan demi kenangan manis semasa hidupnya. Kekasihnya yang sangat setia, hingga akhirnya maut pun harus memisahkan mereka.
Bibi Karin juga hanya bisa berlutut di samping pusara kakek sambil menangis tersedu-sedu, tak kuasa melihat raga dari sang ayah yang sangat ia sayangi harus terbaring di dalam kubur. Di sebelahnya, berdirilah Kakashi-nii yang hanya bisa menatap nanar pusara kakek yang telah ia anggap sebagai orangtuanya sendiri.
Di antara orang-orang yang berada di pemakaman kakek, hanya aku yang terlihat diam dan menatap kosong hal itu. Ada perasaan menyangkal di dalam hatiku. Aku masih benar-benar tak terima bahwa kakek harus diambil dari sisiku. Beliau yang selalu mendampingiku harus direngut dan harus menyusul mereka yang juga mendapatkan tempat di hidupku.
Setelah raganya telah menyatu dengan tanah dan memasuki peristirahatannya yang abadi, satu persatu warga pun beranjak pergi dari makam tersebut. Meninggalkan kami yang masih berdiri terdiam menatap pusara kakek. Sesekali ada di antara mereka yang menghibur nenek untuk tidak bersedih.
Baru saat mentari telah berada di ufuk barat, kami pun beranjak dari kubur itu menuju kediaman kami. Suasana berkabung masih sangat terasa di antara kami. Tak ada satu pun dari kami yang bisa mengusir rasa kelam dan sunyi setelah kepergian kakek saat ini.
Hanya nenek dan Kakashi-nii yang berusaha untuk tetap tegar dan melanjutkan aktivitas, sedangkan bibi Karin yang melanjutkan aktivitasnya sambil dirundung duka yang mendalam. Aku dan Sara masih belum bisa menerima kepergian kakek beberapa hari setelah pemakamannya. Duka yang sangat mendalam telah mempengaruhi mentalku untuk melanjutkan hidup.
Sedari setelah pemakaman kakek, Sara selalu mengurung dirinya sendiri di kamar. Ia bahkan tidak keluar untuk makan. Ia hanya keluar apabila ia perlu ke kamar mandi saja, setelah itu ia akan terus mengurung diri di kamar selama seharian penuh hanya untuk menangis dan meratapi kepergian kakek.
Melihat keadaan Sara yang benar-benar terpuruk, mentalku juga kembali terpuruk. Hati kecilku kembali terluka setelah melihat Sara hanya bisa mengurung diri dan tidak mau melakukan aktivitas apapun. Terlalu banyak beban mental yang harus kutanggung. Dan perlu waktu yang sangat lama bagiku untuk meringankan sedikit bebanku sebelum melanjutkan aktivitasku.
Beberapa hari setelah kakek disemayamkan, segala aktivitas yang harusnya kuselesaikan harus terbengkalai. Sekolah kutinggalkan, lahan peninggalannya juga kubiarkan tak terawat. Bahkan aku hanya bisa merenung di dalam kamar tanpa menggubris setiap hal yang ada di sekitarku. Sesaat kutatap langit-langit kamarku, banyak sekali kenangan demi kenangan yang muncul di dalam benakku.
Ketika aku melangkah keluar kamar, semakin banyak kenangan yang merangsek masuk ke dalam benakku tanpa bisa kuhindari. Langkah demi langkahku terasa semakin berat tanpa bisa kupikul. Yang bisa kulakukan hanya menatap kosong setiap aktivitas yang dilakukan oleh nenek tanpa adanya gairah maupun semangat.
Sampai pada suatu hari, aku dengan nekat pergi meninggalkan kediaman kakek karena tidak mau terbayang-bayang memori demi memori tentang kakek semasa beliau hidup. Tanpa mengetahui bahwa kepergianku ternyata membuat panik tidak hanya seisi rumah, tapi juga seluruh desa.
Aku hanya berjalan tanpa tahu arah dan tujuan. Hanya bergerak ke mana kaki melangkah. Yang kupikirkan hanyalah untuk menghilangkan segala beban pikiran yang ada di dalam benak dan batinku. Ingin rasanya aku meluapkan segala emosiku dengan cara mengakhiri hidupku.
Langkah demi langkah telah kutempuh, membawaku ke sebuah sungai yang mengalir di pinggiran desa. Sebuah sungai utama yang digunakan untuk mengairi setiap lahan milik warga desa. Aku berhenti di atas sebuah jembatan tua yang telah lama berdiri di situ. Kulihat aliran sungai yang jernih dan deras. Kulihat ikan-ikan tengah berenang dengan tenang mengikuti aliran arus.
Melihat ikan-ikan itu berenang tenang, ingin rasanya aku menceburkan diriku ke dalam sungai. Menghilangkan rasa penat akan beban pikiran yang selalu memenuhi pikiranku. Membiarkan setiap beban itu hanyut terbawa air menuju ke hilir. Lama sekali rasanya aku berdiri terdiam di atas jembatan itu. Entah darimana datangnya pikiran itu, aku mulai menaiki tali penghubung jembatan itu.
Kupijak tali yang terlihat sangat rapuh itu. Kembali kulihat ke bawah, ke arah sungai yang mengalir dengan sangat deras itu. Pikiranku kosong tanpa memikirkan apa-apa. Hanya ada pandangan kosong dan nanar yang terlihat di dalam bola mataku. Dan kusiapkan diriku untuk melepaskan peganganku terhadap jembatan itu.
"Naruto!" terdengar sebuah suara seruan yang familiar ke dalam telingaku. Tapi aku menghiraukan seruan itu dan kemudian melompat ke dalam sungai. Luapan rasa dingin mulai memenuhi indra perasaku. Hawa dingin mulai menusuk ke dalam indra perasaku. Nafasku mulai sesak karena air telah masuk ke dalam saluran pernafasanku. Apa yang kulihat hanyalah air dan ikan yang berenang ke sana kemari sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.
Segala hal menjadi sunyi dan suram. Tidak ada yang bisa kudengar maupun kulihat. Yang ada hanyalah sebuah kekosongan dan kehampaan seperti apa yang kurasakan dalam hatiku. Tiada lagi beban yang kurasakan saat itu. Seperti ada suatu ketenangan yang membuat hatiku terasa sangat lega. Seolah-olah beban yang kutanggung itu benar-benar larut oleh air sungai yang mengalir dengan sangat deras.
Namun lama-lama, hanya ada kesendirian yang bisa kurasakan saat itu. Tak ada suara desauan angin maupun aliran air. Tak ada suara kicauan burung yang selalu ada di desa itu. Hanya ada aku. Tidak ada yang lain. Hanya kosong dan gelap sejauh mata memandang.
Pikiranku melayang-layang di tengah-tengah kegelapan itu. Inikah ketenangan yang benar-benar kucari? Apakah aku yakin dengan pilihanku ini? Apakah aku akan menyusul kedua orangtuaku dan kakekku? Atau aku harus menanggung penderitaan yang lebih berat lagi? Segala hal itu terus berkecamuk di dalam pikiranku.
Lalu, yang kurasakan berikutnya adalah takut. Takut kalau aku telah membuat keputusan yang salah. Takut kalau aku ternyata tidak bertemu dengan kedua orangtuaku dan kakek. Takut kalau ternyata keputusanku ini membuat hidup Sara menjadi runyam. Dan segala rasa takut yang lain.
Apa benar ini adalah kematian? Ketika aku melihat segala masa lalu dan menyesalinya kemudian. Apakah ini yang kurasakan ketika kematian menghampiri setiap orang? Apakah kakek dan kedua orangtuaku merasakan hal yang sama? Kembali segala pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiranku.
Tiba-tiba, muncul secercah cahaya di depanku. Aku kembali berpikiran yang aneh-aneh dan melayang entah ke mana. Apakah itu adalah tempat dimana ayah, ibu dan kakek berada sekarang? Ataukah ada sesuatu hal yang lain? Namun sebelum pikiranku melayang jauh ke arah yang lain, cahaya itu semakin lama semakin membesar dan semakin terang.
Rasa dingin yang menusuk tadi mulai menghilang digantikan oleh rasa hangat yang langsung merasuk ke dalam kulitku. Cahaya hangat dari sang mentari mulai menyelimuti pandanganku, mengusir segala kegelapan yang sebelumnya menyelubungi diriku. Nafasku yang sebelumnya sesak mulai kembali seperti sediakala. Kulihat keadaanku saat ini, terbaring di atas rumput dengan kondisi basah kuyup.
Saat aku mencoba untuk bangun, tiba-tiba ada seseorang langsung datang menghampiri pandanganku yang masih sedikit kabur. "Naruto! Naruto!" serunya dengan cukup lantang. Kufokuskan pandanganku kepadanya. Dan kulihat Kakashi-nii tengah berada di depanku sembari menatapku dengan cemas.
"Kakashi-nii? Apakah itu kau, Kakashi-nii?" tanyaku yang masih sedikit pening. Raut kecemasan yang terukir di wajah Kakashi-nii mulai memudar dan diganti oleh perasaan lega."Hah, syukurlah kau baik-baik saja. Kukira terjadi sesuatu terhadapmu," ujarnya dengan perasaan lega.
Ia pun membantuku untuk bangun dan berkata kepadaku, "Kamu sebenarnya kenapa Naru? Kamu tiba-tiba menghilang dari rumah dan pergi entah kemana. Ditambah saat aku menemukanmu, kamu malah menerjunkan diri ke dalam sungai. Kenapa kamu Naru?"
Aku hanya bisa menunduk ketika Kakashi-nii berkata seperti itu. Aku bingung harus menjawab apa kepadanya. Dan kemudian aku menjawab, "Tidak apa-apa nii-san, aku hanya ingin berenang saja." Kakashi-nii hanya menaikkan alisnya ke atas. Seperti heran saja dengan jawabanku tadi.
"Kau berbohong Naru. Ini pertama kalinya kau berbohong kepadaku. Sebenarnya ada apa Naru? Kenapa kau bersikap seperti itu?" tanyanya kepadaku. Sepertinya aku tidak bisa mengelak lagi dari Kakashi-nii. Akhirnya aku menjawab kepadanya.
"Sebenarnya aku ingin mencoba untuk mengusir pikiran-pikiran yang membebani otakku, nii-san. Apalagi setelah kematian kakek, beban yang kurasakan semakin berat. Aku… aku hanya merasa bahwa hidupku benar-benar tidak adil. Sekarang lihatlah aku! Sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih anak-anak, kedua orangtuaku harus pergi meninggalkan diriku dan adikku sendirian."
"Kemudian kakek dan kalian datang, merawat kami dan juga membimbing kami dengan kasih sayang yang lebih dan mulai menggeser peran mereka yang telah pergi, terutama kakek yang sudah kuanggap sebagai pengganti ayahku. Saat itu yang kupikirkan adalah satu, aku tidak akan pernah mau kehilangan seseorang yang berharga lagi. Baik adikku, kakek, nenek, bibi Karin dan kau nii-san."
"Tapi sekarang apa… apa! Aku harus kembali kehilangan lagi! Dan sekarang Sara harus benar-benar terpuruk di rumah sana. Mengurung dirinya sendiri dalam kamar hanya untuk menangisi dan meratapi kepergian kakek. Bibi Karin yang juga harus melanjutkan aktivitasnya sambil diliputi kesedihan. Aku benar-benar tidak kuat menanggung setiap kesedihan yang menyelimuti keluarga ini. Aku tidak sanggup!" seruku mengeluarkan segala emosi dan beban yang ada di pikiranku.
Kakashi-nii mendengar semua hal itu sembari tertegun dengan setiap perkataan yang kuucapkan saat itu. Ia juga terlihat seperti orang yang terluka ketika segala ucapan demi ucapan itu keluar dari mulutku. Terlebih ia melihatku dengan derai air mata yang terus mengalir dari mataku.
Sambil menghela nafas pelan, ia berkata, "Sudahlah Naru, mungkin kau tengah mendapatkan cobaan dari Tuhan. Cobalah kamu sabar untuk menghadapinya." "Sabar! Aku sudah cukup sabar selama ini! Aku sudah kehilangan sejak kecil dan kali ini kehilangan lagi. Apakah Ia membantuku dalam setiap kesulitanku? Tidak! Apakah Ia membantuku saat aku kehilangan kedua orangtuaku sepuluh tahun yang lalu? Iya… tapi setelah itu apa? Ia malah mengambil kembali orang yang menjadi panutanku saat ini," raungku dengan sangat keras.
Luapan demi luapan emosi terus kuucapkan di depan Kakashi-nii. Tak pernah sama sekali aku melakukan hal ini di hadapan Kakashi-nii. Bahkan ini adalah pertama kalinya aku menjadi seperti ini. Hanya raungan amarah yang bergema sangat keras di pinggir sungai itu. Raut wajahnya terlihat sangat terluka setiap kali aku berkata. Tak ada yang bisa kulakukan selain merutuk Bapa yang telah memanggil kakek ke dalam pangkuan-Nya.
Belum selesai aku merutuk dan mengucapkan sumpah serapahku kepada Bapa, aku merasakan sesuatu menghantamku dan diikuti suara yang sangat nyaring. Badanku menjadi limbung ketika merasakan hantaman yang kuat itu. Aku hanya meringis kesakitan ketika merasakan pipiku berdenyut-denyut nyeri karena rasa sakit dari sesuatu yang menghantam itu.
Aku pun mengalihkan pandanganku ke depan, kulihat sebuah tangan teracungkan di depanku. Kemudian kuarahkan pandanganku ke wajah Kakashi-nii, kulihat raut wajahnya yang berubah dari sebelumnya. Jika sedari tadi Kakashi-nii menunjukkan raut wajah seperti menahan sebuah luka di sana, maka kali ini hanyalah datar dan dingin yang terukir di wajahnya.
Matanya yang sebelumnya menampakkan sebuah sinar kelabu yang mengasihani, kini tampak berkilat-kilat tajam seperti sebuah mata pisau yang siap menusuk dan menghujam kepada siapa pun yang ditemuinya.
Hal inilah yang membuatku terrtegun saat menatap wajah Kakashi-nii. Ini pertama kalinya bagiku untuk melihat Kakashi-nii semarah ini. Biasanya jika ia sedang marah, ia hanya menampakkan raut wajah jengkel meski masih ada binar-binar jenaka yang terpancar di matanya. Tapi kini yang kulihat hanyalah datar dan dingin yang terukir di wajahnya.
Rahang yang kokoh dan selalu terangkat ke atas bila ia tersenyum, kini tampak mengeras. Dan hal ini semua terjadi setelah aku mulai menyumpah dan merutuki segala ketidakadilan yang kurasakan kepada Tuhan."Apa kamu sudah sadar?" suara yang biasanya terdengar lembut, kini memberat dan tak sanggup menahan emosi yang ingin keluar dari dalam dirinya.
Entah karena memang emosi yang telah menguasai segala akal sehatku, aku kembali bersungut-sungut di hadapannya, "Sadar?... Sadar!? Aku sudah sadar sedari tadi! Aku sudah sadar jika hidupku ini memang menyedihkan! Ditinggal oleh orangtua sedari kecil… kemudian setelah diberi harapan lagi, kini harapan itu kembali terengut persis di depanku. Tak ada yang baik di hidupku selain tangisan dan ratapan semata! Mengapa Bapa tidak mau mendengarkan aku?"
Kembali sebuah hantaman keras hinggap di pipiku yang satu lagi. Kuraba-raba bekas tamparan yang dilakukan oleh Kakashi-nii itu dan kemudian aku berkata, "Mengapa Kakashi-nii malah menamparku? Apakah tidak cukup segala penderitaan mental yang kurasakan selama ini sehingga kau menambahkannya dengan kekerasan? Apakah memang tidak ada satupun lagi orang yang benar-benar peduli kepadaku? Apakah hidupku memang diisi oleh penderitaan semata?"
"Mengapa aku menamparmu?" desisnya pelan. Kilatan-kilatan tajam yang ada di matanya tampak semakin jelas, seolah-olah memang dirancang untuk menusukku hingga ke dalam relung jiwaku. "Aku menamparmu untuk kebaikan sendiri! Tidakkah kau sadar dengan apa yang kau katakan!? Dengan seenaknya kau menyalahkan dan menghina Tuhan Yang Mahakuasa atas segala penderitaanmu!"
"Itu benar, karena kenyataannya memang begitu!" "Lalu untuk apa kau selama ini berdoa!? Untuk apa kau selama ini ke gereja dan mengikuti misa!? Untuk apa kau selalu mengunjungi Gua Maria di daerah Osaka sana jika kau malah menyalahkan segala sesuatunya kepada Tuhan!?" teriakan demi teriakan kami menggema di daerah pinggir sungai yang sepi itu. Tak ada satupun orang yang lewat maupun mendengar teriakan kami.
"Itukan memang kewajibanku sebagai orang beragama! Selain itu juga karena hal itu yang selalu diingatkan kakek kepadaku!" "Jika kau hanya menganggapnya sebagai kewajiban, lalu untuk apa kau beragama!? Untuk apa kau mengimani Allah Tritunggal!? Dan juga jikalau kakekmu mengingatkan untuk selalu takwa kepada-Nya, lalu untuk apa kamu malah merutuki-Nya? Bukankah itu juga membuat kakekmu sedih? Apa kau tidak ingat apa yang dikatakan kakekmu sebelum beliau meninggalkan kita?" raung Kakashi-nii.
Naruto, sekarang kamu udah beranjak dewasa. Kakek tahu perjalanan hidupmu sangat berat karena harus ditinggal oleh orangtuamu ketika masih sangat muda. Tapi kakek harap kamu masih mempunyai semangat untuk hidup. Tidak hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk nenek dan adikmu Sara.
Kakek mohon kau bisa membimbing Sara dengan baik. Hiburlah dia di kala ia sedih. Berilah ia semangat jika ia terpuruk. Jagalah ia, karena ia satu-satunya saudara yang kamu miliki. Jangan bertengkar hanya karena masalah sepele. Dan juga jangan sepelekan pendidikanmu. Kamu masih ingat pesan kakek kepadamu tentang sekolahmu kan?
Kakek merasa sangat senang karena memiliki dirimu yang sangat menyayangi dan selalu mengkhawatirkan keluargamu. Mungkin hanya sampai di sini saja bagi kakek untuk bisa merawat dan membesarkanmu. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kakek bagi dan berikan kepadamu, tetapi apa daya bagi kakek karena Tuhan telah memanggil kakek untuk menyusul kedua orangtuamu,
Sudah, tidak perlu menangisi kepergian kakek. Kakek harap kamu mau merelakan kepergian kakek. Akan kakek doakan dirimu di atas sana bersama-sama dengan kedua orangtuamu.
"Sekarang… lihat apa yang kau lakukan!? Kau ingin mengakhiri hidupmu dan meninggalkan adikmu sendirian lagi? Kau ingin adikmu itu hanya mengurung dirinya sendirian, tanpa ada satupun yang bisa menjadi penyokongnya? Apakah kau mau ia kehilangan satu-satunya keluarga kandung yang ia punyai saat ini? Apakah kau tega melihat ia hancur hanya karena kehilanganmu juga?"
Aku menundukkan kepalaku ketika mendengar kata-kata itu. Ingin rasanya menggali sebuah lubang yang dalam dan masuk ke dalam sana, menghilang di telan bumi ketika kata-kata itu terngiang di telingaku. Akal sehatku mulai menguasai segala emosi yang sedari tadi mempengaruhiku.
"Apakah kamu tahu, kalau adikmu saat ini tengah mencemaskanmu ketika kau tidak ada di rumah? Apakah kamu tahu, kalau Sara menjadi panik saat tidak menjumpai dirimu saat ia memasuki kamar tidurmu? Hah! Apa kamu tahu Naru!?" emosi dari Kakashi-nii benar-benar meluap-luap. Tak bisa dibendung dan tak bisa dikuasai.
Yang bisa kulakukan saat itu hanya menundukkan kepala saja. Suara keras yang selalu keluar dari mulutku kini telah menguap entah kemana. Mulutku kini terkunci dengan sangat rapat bagaikan induk domba yang berada di tempat cukur. Lidahku kelu seperti anak domba yang dibawa ke tempat pembantaian.
Kemudian Kakashi-nii memejamkan matanya dan mengatur nafas secara perlahan-lahan. Mengatur segala emosi yang sempat meledak-ledak di dalam dirinya. Suasana yang sebelumnya memberat karena percekcokan antara aku dan Kakashi-nii kini mulai meringan dan tergantikan suasana sunyi yang menenangkan. Ditambah tiupan angin sepoi-sepoi yang mengalun dengan lembut.
"Maaf Naru jika aku menjadi seperti ini, tapi aku melakukan hal ini juga hanya untukmu." Nada menyesal terlontar begitu saja dari mulut Kakashi-nii. Terlihat ia membuka matanya perlahan sembari memandangku kembali dengan pandangan lembut. Aku hanya menganggukkan kepala saja. Tidak ada suara yang keluar dari mulutku.
"Ingat Naru… kau sebenarnya tidak sendirian. Kau masih memiliki Sara, nenekmu, bibimu Karin dan juga aku. Jika kau tidak bisa menanggung sebuah beban yang sangat berat, katakan saja kepada kami. Kami akan selalu membantu dan mendukungmu," ujar Kakashi-nii. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
Benar…aku masih memiliki orang-orang yang sangat berharga di sisiku. Jika aku seperti ini, aku hanya membuat mereka sedih. Apalagi malah membuat kecewa kakek dan kedua orangtuaku. Baiklah… saatnya untuk merubah diriku!
"Baik nii-san. Aku mengerti," balasku sembari tersenyum. Kakashi-nii pun menghela nafas lega dan ikut tersenyum tahu bahwa aku sudah bisa bangkit dari keterpurukanku itu dan mulai mendapat semangat baru untuk mengarungi kehidupan yang berat ini. "Baiklah, ayo pulang. Ini sudah mulai malam," katanya kepadaku.
Aku mengangguk dan kemudian pergi bersama hari yang baru dengan diriku yang baru.
~TBC~
A/N: Yoo.. langsung update chapter pertama dari fic ini.. untuk chapter berikutnya mungkin agak sedikit lebih lama, tapi akan kuusahakan untuk update selama 2 minggu ini. Fic ini akan mengisahkan pilu beberapa orang yang bisa dibilang berada dalam permasalahan sosial dan psikologis masing-masing kemudian bersatu untuk berjuang melawan ketidakadilan mereka. Standar kehidupan yang ada di fic ini akan mengikuti standar kehidupan masyarakat di Indonesia, karena awalnya untuk novel yang baru saya siapkan memang menggunakan standar kehidupan orang Indo.. mungkin sekian yang bisa saya sampaikan.. akhir kata… ciao
