Kamus Jepang (unfaedah)
* Demo: Tapi
* Oishii: Enak
* Nanda: Apa
* Mite Kudasai: Liat ini
* Soka: Begitu ya
- Forgotten Memories -
"Siapa?" tanya Tetsuya. Alisnya berkerut seperti berusaha mengingat wajah laki-laki di depannya. Tapi ia tidak menemukan gambaran apapun tentang laki-laki di depannya. Bagaimana laki-laki tersebut mengetahui namanya dan bahkan berani memanggil nama asli-nya, Tetsuya tidak mengerti. Apakah ia mengenalnya? Tapi Siapa?
Dibandingkan yang lain, Akashi lah yang paling tercengang. Hatinya terasa begitu sakit. Seperti ada seseorang yang menggenggam kuat-kuat. Pikiran bahwa Tetsuya akan memaki-maki dirinya, menyuruh dirinya untuk pergi dan tidak menemui dirinya lagi musnah sudah. Tergantikan dengan pertanyaan yang justru lebih kejam dan jauh lebih menyakitkan.
"Kuroko, pertanyaan macam apa itu? Dia Akashi." Ucap Midorima.
"Akashi?" Tetsuya semakin mengernyitkan dahinya. Berusaha mencari nama Akashi dalam memorinya. Namun nihil. Tidak ada nama Akashi di dalam ingatannya. "Gomenasai. Apa… kita sebelumnya saling mengenal?"
"Oi Tetsu. Bercandamu kelewatan, kau tau?" Tetsuya menatap Aomine bingung. Sedangkan ekspresi Aomine berubah menjadi kaget ketika menatap Tetsuya. Tidak ada kebohongan dari aquamarine milik Tetsuya. Segala tentang Akashi seperti hilang dari ingatan Tetsuya. Tapi kenapa? Kenapa hanya Akashi?
"Oi Kise, sebaiknya kau segera bergegas menemui dokter." Titah Aomine tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Tetsuya. Berusaha untuk mencari kebohongan dari mata tersebut dan tetap saja hasilnya nihil.
"Hai'"
- Forgotten Memories –
Akashi menutup pintu apartemen—yang dibelinya sebagai tempat tinggal antara dirinya dengan Tetsuya—pelan. Ini adalah kali pertamanya lagi memasuki apartemennya, setelah seminggu penuh ia berada di rumah sakit. Dan entah kenapa, sore ini, apartemennya terlihat jauh lebih sunyi dan lebih luas untuk dirinya. Bayangan Tetsuya yang menyembulkan kepalanya dari pintu dapur sambil mengenakan apron merah favoritnya untuk menyambut kepulangan Akashi muncul.
"Sei-kun, okaerinasai! Selagi makan malamnya sedang disiapkan, aku sudah menyiapkan air hangat untuk Sei-kun mandi."
Akashi memejamkan matanya. Tangan kanannya meremas dada bagian kirinya. Berusaha untuk menghilangkan rasa sakit yang menyakitkan, tapi tentu saja hal itu hanya kesia-siaan belaka. Hatinya teramat sakit dan rasa sakit ini perlahan membunuhnya.
Andai saja ia tidak melakukan kesalahan fatal, mungkin ia masih dapat mendengar sambutan hangat dan ocehan penuh kasih sayang dari Tetsuya. Tapi, akankah ia mendapatkan kehangatan dari orang yang sama lagi? Setelah apa yang ia lakukan pada Tetsuya dan setelah apa yang terjadi hari ini.
Tes. Tes.
Bulir-bulir bening mulai saling bejatuhan membasahi pipi Akashi. Sungguh, kenyataan ini adalah hal yang paling menyakitkan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tidak ada yang lebih kejam dari semua hal ini. Tetsuya melupakannya dan hal itu sangat sulit diterima oleh Akashi.
"Tetsuya…"
- Forgotten Memories –
"Benturan yang terjadi kepada kepalanya pada saat kecelekaan membuat Tetsuya kehilangan sebagian ingatannya. Hilang ingatan ini bisa temporary atau permanen. Bergantung dengan keinginan Tetsuya untuk mengembalikan ingatannya atau tidak. Dan sepertinya ingatan yang hilang adalah kenangan yang menyakitkan bagi Tetsuya."
Aomine menghela nafasnya pelan. Penjelasan dokter mengenai keadaan Tetsuya setelah bangun dari masa-masa kritisnya terus terngiang-ngiang selama beberapa hari ini. Semua orang masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Terlebih lagi Akashi sendiri. Laki-laki tersebut pasti jauh lebih sakit hati dan tidak percaya dibandingkan siapapun.
Aomine menepuk kedua pipinya pelan. Ia tidak boleh terlihat khawatir di depan Tetsuya. Dibukanya pintu kamar rawat Tetsuya. "Tetsu!" sapanya. Membuat laki-laki berambut biru muda mengalihkan pandangannya dari buku bacaan yang berada ditangannya.
"Aomine-kun!" Sapanya dengan senyum yang siapapun jika melihatnya akan merasa tenang dan jatuh hati.
"Aku membawakan vanilla milkshake favoritmu."
"Owah~ arigato, Aomine-kun." Tetsuya mengambil minuman favoritnya dari tangan Aomine tidak sabaran. Vanilla milkshake dari tempat makan fastfood adalah yang terbaik.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah jauh lebih baik. Kau seharusnya tidak terus disini menemani kau tau? Perjalanan Tokyo-Kyoto pasti akan menyita banyak waktumu."
Aomine mengacak rambut Tetsuya pelan. "Berisik. Lagi pula, jika tidak ada aku siapa yang akan menjagamu? Si mungil yang ceroboh."
"Berhenti memanggilku seperti itu Aomine-kun! Kau membuatku kesal." Tetsuya memajukan bibirnya beberapa senti. Selalu begitu. Aomine selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Sedangkan Aomine hanya tertawa sambil mengacak-ngacak rambut Tetsuya semakin keras. Laki-laki di depannya, terkadang Aomine meragukan jenis kelamin dari laki-laki bersurau biru muda ini. Terlalu imut dan menggemaskan sebagai laki-laki.
"Dan berhenti tertawa, Aomine-kun!"
"Haa hai', hai'." Aomine menduduki dirinya di kursi yang terletak tepat disamping ranjang Tetsuya. "Lagi pula, aku dan yang lainnya masih di Kyoto sampai kau keluar dari rumah sakit. Manajemen yang menaungi Kise meminjamkan tempat untuk kami berlima disini. Ah, kecuali Satsuki. Ia pamit lebih dulu untuk kembali ke Tokyo ada hal yang tidak bisa digantikan. Jadi kau tidak perlu khawatir."
"Demo…kalian tidak perlu melakukannya untukku. Aku hanya semakin merasa bahwa aku adalah beban untuk kalian."
Aomine menghela nafas kemudian memajukan tubuhnya mendekati Tetsuya yang menunduk merasa bersalah. Dari jarak sedekat ini, Aomine dapat melihat jelas wajah Tetsuya. Wajah yang selalu menenangkan untuk dilihat dan tentu saja menggemaskan untuknya. "Aku harus melakukannya." Aomine mengangkat dagu Tetsuya. Membuat mata mereka saling bertemu.
"Aku harus tetap berada disampingmu, Tetsu. Setelah kau berada diluar jangkauanku, hal yang menyeramkan seperti ini malah terjadi padamu. Dan tidak akan ku biarkan kejadian menyakitkan seperti ini terulang untuk kedua kalinya. Jadi, tetap berada disampingmu, aku harus melakukannya." Tetsuya terbelalak kaget mendapati jawaban dari Aomine. Mata sapphire blue yang masih menatapnya dengan lembut, serta senyum tipis yang terukir di wajah Aomine tanpa sadar membuat kedua pipi Tetsuya bersemu merah.
Suasana berubah menjadi hening. Masing-masing dari keduanya sibuk dengan degub jantung mereka yang entah kenapa berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Tentu saja karena kau begitu ceroboh, Tetsu." Aomine lebih dulu memutus kontak mata dengan Tetsuya. Mengendikkan bahu seolah-olah memberi gesture bahwa Tetsuya adalah sosok yang paling ceroboh.
"Berhenti meledekku, Aomine-kun!" untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit ini Aomine berhasil membuat Tetsuya sangat kesal. Sedangkan Aomine hanya tertawa karena berhasil meledek Tetsuya. Walaupun tanpa Tetsuya sadari, Aomine sedang berusaha mati-matian mengontrol dirinya dan degub jantungnya yang masih belum mau berdegub secara normal. Jika saja ia tidak memutuskan kontak mata dengan Tetsuya, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat ini.
Kendalikan dirimu, Aomine Daiki.
- Forgotten Memories -
Hari demi hari terlewati. Senin berganti selasa, selasa berganti rabu, rabu berganti kamis, dan begitu seterusnya. Sebenarnya keadaan Tetsuya sudah jauh lebih baik, tetapi Dokter masih belum memberikan izin untuk dirinya keluar dari rumah sakit. Walaupun terlihat sudah sangat sehat, kondisi mental Tetsuya terkadang masih kurang stabil. Beberapa kali ia akan merintih kesakitan dibagian kepalanya, atau terkadang secara tiba-tiba kondisi tubuhnya menjadi turun sangat drastis. Kagami, Kise, Aomine, Murasakibara, Midorima setiap hari saling bergantian menjaga Tetsuya. Meskipun berkali-kali Tetsuya meyakinkan mereka bahwa tidak perlu setiap saat menjaganya, tetap saja mereka semua menolak dan tetap datang ke rumah sakit.
Dan terkadang, kehadiran mereka mampu membuat Tetsuya lupa dengan kekosongan dan kehampaan yang sering ia rasakan. Seperti ada ruangan gelap dibagian dirinya yang bahkan ia tidak tau jawaban yang dapat mengisi ruang kosong tersebut. Setiap kali ia seorang diri, secara tiba-tiba ia akan merasa kesepian dan bahkan merasa sangat sedih. Pernah suatu saat, Aomine begitu kaget mendapati Tetsuya menangis tanpa tau penyebab mengapa ia tiba-tiba mengeluarkan air mata, hanya saja tiba-tiba ia merasa sangat sakit di bagian dadanya. Seperti ada benda tajam tak terlihat mengiris-ngiris hatinya. Dan tanpa bertanya lebih banyak, laki-laki berkulit kecokelatan itu langsung merengkuh tubuh Tetsuya dan seketika hatinya akan merasa tenang.
Selain itu, hampir setiap malam, ia akan memimpikan berbagai macam. Terkadang mimpi yang menyedihkan atau terkadang mimpi yang mampu membuat tidurnya sangat nyenyak. Anehnya, dalam setiap mimpi Tetsuya, selalu ada sosok laki-laki yang tidak Tetsuya kenali. Tetsuya tidak bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas, setiap ingin menatap mata sosok tersebut akan ada cahaya yang sangat terang sehingga membuat wajah laki-laki tersebut tidak terlihat.
Seperti tadi malam, ia bermimpi sangat indah. Mimpi yang bahkan membuat seperti ada ratusan kupu-kupu di perutnya. Perasaan bahagia seketika menyeruak diseluruh ruang di hatinya. Walaupun hanya mimpi, tapi cukup membuat Tetsuya bahagia dan tersenyum setiap kali mengingat mimpi tersebut.
Tetsuya mengelus permukaan cincin berlapis emas putih dengan berlian berwarna merah ditengah yang terpasang di jari manisnya. Ia menemukan cincin tersebut di saku jaketnya ketika ia ingin mencari udara segar kemarin sore. Awalnya, ia pikir cincin tersebut adalah miliki temannya yang lain, tetapi setelah melihat detail dari cincin tersebut ia menemukan namanya terukir di bagian dalam cincin tersebut. 'A. Tetsuya'. Walaupun Tetsuya tidak mengerti dengan inisial 'A.' yang terukir di cincin tersebut, yang jelas ini adalah miliknya dan entah mengapa ia merasa bahwa benda ini sangat berharga baginya.
Tetsuya mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruangan yang bergeser.
"Aomine-kun!" seru Tetsuya mendapati Aomine masuk ke dalam ruangannya. Senyumnya mengembang sangat lebar.
"Ho? Kau terlihat sangat senang dengan kehadiranku, Tetsu." Aomine tersenyum kemudian mengacak rambut Tetsuya pelan. Kebiasaannya tidak pernah hilang setiap kali melihat Tetsuya. Dan semenjak kejadian ia memergoki Tetsuya menangis, Aomine memilih untuk menjenguk Tetsuya lebih sering dari yang lainnya.
Tetsuya mengangguk mantap. "Tentu saja, karena setiap Aomine-kun ke sini pasti selalu membawa vanilla milkshake kesukaanku."
"Ah~ jadi kehadiranku diharapkan hanya karena vanilla milkshake sialan ini?" Aomine memasang wajah pura-pura kecewa, meletakkan vanilla milkshake yang ia bawa di atas nakas samping ranjang rawat Tetsuya. Tetsuya tertawa kemudian mengelus rambut Aomine lembut, melakukan hal yang selalu dilakukan Aomine kepadanya.
"Tentu saja aku bercanda." Jawabnya dengan tawa khasnya. Melihat Tetsuya begitu senang, timbul perasaan lega dan senang di hati Aomine. Sampai akhir, ia ingin selalu menjaga senyuman tersebut. Apapun biayanya, apapun caranya, Tetsuya harus bahagia.
"Tch! Hampir saja aku ingin membuang vanilla milkshake ini." Aomine mengulurkan vanilla milkshake tersebut ke arah Tetsuya yang langsung disambut dengan antusias oleh Tetsuya—si penggila vanilla milkshake. Menyesap minuman tersebut. Rasa manis dari rasa vanilla langsung menyebar di mulutnya.
"Oishii~"
Aomine menghela nafasnya, membuka majalah yang baru saja ia beli pada saat perjalanan menuju rumah sakit. Terkadang, Tetsuya seperti mencintai vanilla milkshake dibandingkan apapun dan siapapun.
"Ne, Aomine-kun,"
"Nanda, Tetsu?" jawab Aomine tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari majalah yang tengah dibaca. Palingan juga perihal seberapa enaknya vanilla milkshake yang ia beli di restauran maji burger dan berlanjut dengan ceramah tentang sejuta kelebihan dari vanilla milkshake kesayangannya.
"Kau tau tidak? Semalem aku mimpi sangat indah. Aku bermimpi bahwa aku menikah dengan seseorang. Tapi aku tidak bisa melihat wajah laki-laki tersebut. Dan entah mengapa, disetiap mimpiku laki-laki tersebut selalu hadir menemaniku. Aneh bukan?" Tetsuya terkekeh diakhir cerita singkatnya. Mengingat-ngingat mimpi indahnya semalam. Sedangkan Aomine membeku diposisinya saat ini. Mata sapphire blue yang sayu sedikit terbelalak mendengarkan cerita Tetsuya.
"Ne, Aomine-kun, mite kudasai."
Aomine mendongakkan kepalanya dari majalahnya. Fokusnya sudah tidak lagi ke majalah ditangannya sejak awal Tetsuya bercerita. Matanya semakin terbelalak kaget mendapati benda yang tengah terjulur di depannya. Sebuah cincin dan Aomine sangat tau cincin tersebut. Perlahan dan ragu-ragu Aomine mengambil benda mungil berbentuk lingkaran tersebut. Cincin berlapis emas putih dengan berlian berwarna merah di bagian tengahnya. Pada bagian dalam cincin tersebut terdapat ukiran bertuliskan 'A. Tetsuya'. Membuat Aomine semakin yakin bahwa cincin tersebut benar cincin yang ia maksud.
"Aku menemukannya di saku jaketku. Aku pikir benda itu bukan milikku, tetapi ternyata namaku terukir di belakangnya. Tapi, aku tidak mengerti kenapa A. Tetsuya? Apa Aomine-kun tau maksud dari 'A.' disitu? Seberapapun aku mencoba mengingatnya, tetap saja aku tidak menemukan jawabannya. Bahkan aku tidak ingat pernah membeli cincin seperti ini."
Aomine menelan ludahnya. Apa yang harus ia jawab? Sebagian dirinya ingin menjawab jujur, tetapi entah mengapa sebagian dirinya yang lain menolak. Dan bagaimana pula benda berbentuk lingkaran ini bisa berada di jaket milik Tetsuya?
"A-ah, kau memesan cincin tersebut. Tapi terjadi kesalahan pada saat melakukan pengukiran nama di cincinmu. Aku bahkan sangat ingat sebagaimana marahnya kau saat terjadi kesalahan seperti ini. Shinpai Shina," jawab Aomine sambil kembali mengelus kepala Tetsuya.
Damn it! Jawaban macam apa itu, aho?!
"Soka," Tetsuya mengambil cincin tersebut dari tangan Aomine kemudian mengenakannya kembali di jari manisnya. Binar antusias dan bahagia dari matanya seketika berkurang. Menatap cincin yang kembali melingkar di jari manisnya dengan sendu. "Demo, entah mengapa aku merasa bahwa cincin ini lebih berharga dari apapun. Rasanya, seperti seseorang selalu bersamaku."
Aomine mengepalkan kedua tangannya. Bukankah ia yang sangat ingin Tetsuya bahagia? Bukankah ia pula yang meletakkan kebahagiaan Tetsuya diatas apapun termasuk diatas kebahagiaan dirinya sendiri? Tapi, mengapa ia juga yang mengecewakan Tetsuya dan membuat laki-laki mungil tersebut bersedih?
Aomine terhenyak. Tiba-tiba dadanya seperti tertusuk ribuan benda tajam tak terlihat. Pertanyaan Tetsuya menyadarkan kesalahan yang telah ia lakukan. Kesalahan bodoh yang membuatnya tidak berbeda dari laki-laki yang sudah menghancurkan hati dan seluruh hidup Tetsuya.
"Ne Aomine-kun, mungkinkah aku sudah menikah?"
- Forgotten Memories -
- To Be Continued -
