Kado Taufan.

Chapter 2. Penjara.

.

.

.

Halilintar menaikkan sebelah alis matanya ketika ia melihat Taufan yang berjongkok di dekat kakinya. "Uh, kamu ngapain, Fan?" tanya Halilintar selagi ia mengamati gerak-gerik Taufan. Sangat janggal bagi Halilintar yang melihat Taufan membawa plastik cling wrap ke dalam kamar. Lembaran plastik yang tergulung itu biasa digunakan Gempa untuk membungkus makanan atau menutup makanan sisa yang disimpan dalam kulkas.

"Lihat saja nanti. Sekarang rapatkan kakimu." titah Taufan yang berjongkok sembari memegang segulung plastik cling wrap di tangannya.

Halilintar menuruti kemauan adiknya yang bernetra biru safir itu. Ia merapatkan kedua kakinya sesuai dengan kemauan Taufan.

"Nah, kita mulai, Hali." Taufan mengupas sedikit plastik cling wrap yang ada di tangannya. Lembaran plastik itu ditempelkan pada kaki Halilintar sebelum dililitkan secara hati-hati mengelilingi dan menyatukan kedua kaki kakaknya itu.

"Kamu mau mengikat aku dengan plastik itu? Ngga akan mempan Fan, paling nanti bisa kusobek." Halilintar terkekeh ringan selagi melihat Taufan yang meliliti kedua kakinya dengan lembaran plastik cling wrap tanpa terputus.

"..." komentar Taufan yang meliliti kedua kaki Halilintar semakin tinggi dengan plastik cling wrap. Perlahan tapi pasti, lilitan plastik itu bertambah tebal dan bertambah tinggi.

Dengan sengaja Taufan mempertebal lapisan plastik cling wrap yang melilit kedua lutut Halilintar. Beberapa kali Taufan membawa gulungan cling wrap yang mengitari kedua lutut Halilintar sampai ia merasa puas dengan ketebalan plastik yang mengurung kedua lutut kakaknya.

"He-hey, Taufan?" Halilintar mulai merasakan firasat yang tidak baik. Kedua lututnya yang terkurung lilitan plastik cling wrap itu terasa kaku dan sulit untuk digerakkan.

Lilitan plastik cling wrap Taufan dengan cepat berlanjut melilit kedua pinggul Halilintar. Bahkan batang kejantanan Halilintar mulai ditutup Taufan dengan lapisan plastik cling wrap yang sengaja dibuat tebal dan berlapis olehnya.

Halilintar meneguk ludahnya. Ia mulai merasakan bahwa lilitan plastik cling wrap hasil karya Taufan itu mulai merenggut kebebasannya untuk bergerak. Tidak hanya sulit untuk bergerak, Halilintar mulai merasa gerah pada bagian tubuhnya yang dililit lembaran plastik oleh Taufan. Sementara itu, lembaran plastik itu kini melilit hampir mendekati pinggangnya.

"Angkat tanganmu, Hali." titah Taufan sembari mengambil gulungan plastik cling wrap yang baru. Dengan gulungan plastik cling wrap yang baru, Taufan menyambung lilitan plastik yang dudah melekat di tubuh Halilintar.

"Masih lama kah, Fan?" tanya Halilintar sambil mengangkat kedua tangannya seperti yang diminta oleh Taufan.

"Tunggu saja." Taufan menjawab singkat. Dari pinggang, Taufan mulai melilit bagian perut dan dada Halilintar. Dengan sengaja Taufan membuat lapisan plastik pada pinggang dan perut Halilintar itu lebih tebal sementara bagian dadanya tidak terlalu tebal.

"Nah turunkan tanganmu." ucap Taufan ketika lilitan plastiknya mencapai dada Halilintar.

Halilintar menurunkan kedua tangannya yang langsung diposisikan menempel pada pipi bokongnya oleh Taufan. Tidak sempat Halilintar bertanya ketika Taufan kembali meliliti tubuhnya dengan lembaran plastik cling wrap, namun kali ini kedua tangan dan lengan Halilintar yang menempel di sisi tubuhnya ikut dililit dengan plastik cling wrap.

"Ta-Taufaaan?" Halilintar meneguk ludahnya ketika tangan dan lengannya menempel ketat pada tubuhnya sendiri di dalam lilitan berlapis-lapis plastik cling wrap. Barulah Halilintar mulai menyesal karena sudah mau menuruti Taufan. Namun terlambat sudah bagi Halilintar untuk menarik kata-katanya karena kini tubuhnya sudah seluruhnya terbungkus lilitan plastik cling wrap dari ujung kaki sampai ke pangkal lehernya.

"Sudah Fan! Gerah! Aku ngga bisa gerak!" protes Halilintar. Ia mencoba menarik tangannya dari lilitan plastik cling wrap yang membungkus tubuhnya. Usahanya sia-sia karena lembaran plastik yang biasanya mudah sobek itu ternyata cukup kuat dan keras apabila digunakan berlapis-lapis.

"Aku belum selesai." Taufan menyungging senyum lebar sembari mengambil sebuah gulungan plastik cling wrap yang masih baru. Dari bagian kaki, Taufan kembali meliliti tubuh Halilintar yang sekarang terlihat seperti seekor ulat berkepala manusia dalam kepompong.

"Sudah Taufan! Cukup! Panas!" keluh Halilintar sembari menatap adiknya yang masih sibuk dengan plastik cling wrapnya. Halilintar mencoba untuk bergerak, namun betapa terkejutnya dia ketika menyadari bahwa seluruh tubuhnya terasa kaku bagaikan papan.

Namun Taufan tidak peduli. Ia mengambil segulung lakban perak yang dibawanya. Dengan menggunakan lakban perak itu, Taufan membungkam mulut Halilintar.

"Hnggh?!" lenguh Halilintar dengan kedua netra merah rubinya yang mendelik. Ia berusaha membuka kedua rahangnya sebelum lakban yang digunakan Taufan benar-benar melekat dan menutup mulutnya. Sayangnya usaha Halilintar terlambat...

"Nah, bagian terakhir." ucap Taufan dengan cerianya. Dari pangkal leher Halilintar, Taufan melilitkan plastik cling wrapnya ke atas sampai menutup mulut Halilintar yang sudah terbekap lakban. Beberapa kali Taufan mengulangi proses lilitan terakhir itu sampai lapisannya cukup tebal.

"Satu lagi, Hali..." ucap Taufan sembari mengambil gulungan lakban perak yang tersisa. Dari ujung kaki Halilintar, Taufan mengulangi proses lilitannya dengan menggunakan lakban. Dengan teliti Taufan melilitkan lakban peraknya pada tubuh Halilintar sampai ke lehernya. Begitu rapat dan rapinya lilitan hasil karya Taufan bahkan lapisan plastik cling wrap di tubuh Halilintar tidak terlihat lagi.

Tibalah lilitan lakban Taufan pada pangkal leher Halilintar. "Siap, Hali?" tanya Taufan dengan seringaian jahilnya.

"Mmph... Hngh..." Halilintar hanya bisa melenguh dan menggelengkan kepalanya. Bahkan menggelengkan kepala saja sudah terasa sangat sulit, lehernya terasa sangat kaku karena lilitan plastik cling wrap Taufan yang begitu tebalnya.

"Baguslah kalau begitu." Taufan pun lanjut melilitkan lakban peraknya mengelilingi leher Halilintar. Taufan tidak terlalu menekan lilitan lakbannya pada bagian leher Halilintar karena maksudnya bukan untuk mencekik si kakak, hanya membuat leher kakaknya itu menjadi semakin kaku.

"Hmmmph!" lenguh Halilintar yang berusaha protes. Kedua manik netra merah safirnya bergerak-gerak mengikuti tangan Taufan yang melilitkan lakban perak itu sampai menutupi setengah wajahnya.

"Nah selesai!" ucap Taufan dengan penuh kepuasan. Ia melangkah mundur untuk mengagumi hasil karyanya.

Di hadapan Taufan berdiri Halilintar yang sudah terbungkus lilitan plastik cling wrap yang diganda dengan lilitan lakban perak. Dari ujung kaki sampai ke bawah hidung, tidak ada lagi bagian tubuh Halilintar yang terbuka.

"Hmph?" Halilintar menatap sendu pada adiknya yang sudah menjadikannya mumi hidup. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Halilintar merasakan kebebasannya benar-benar direnggut. Plastik cling wrap di bawah lapisan lakban itu benar-benar memeluk dan melekat pada seluruh permukaan kulit tubuhnya.

"Nah, waktunya tidur, Hali." Taufan mendorong tubuh Halilintar yang sudah kaku ke belakang.

"HNGGGHHH!" Halilintar melenguh sejadi-jadinya ketika tubuhnya didorong oleh Taufan. Ia tidak bisa melihat kemana arah jatuh tubuhnya itu. Halilintar memejamkan kedua kelopak matanya erat-erat dan bersiap mental untuk merasakan kerasnya lantai kayu kamar pada punggungnya.

Alih-alih lantai, Halilintar menemukan dirinya mendarat mulus di atas ranjang miliknya sendiri. Sedikit ia bernapas lebih lega karena sudah berbaring di atas ranjang. Lagipula kedua kaki Halilintar terasa pegal karena harus berdiri selama Taufan menggarap dirinya.

Namun Taufan tidak berhenti sampai disitu saja. Kembali ia mengambil gulungan plastik cling wrap yang tersisa sebelum melilit kedua kaki Halilintar dari betis sampai telapaknya. Terakhir, lilitan cling wrap pada kaki Halilintar ditutup dengan lilitan lakban perak.

"Selesai, Hali." ucap Taufan dengan riangnya. Dengan bertolak pinggang ia mengamati hasil karyanya, yaitu Halilintar yang seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai mulutnya tertutup lapisan plastik cling wrap dan lakban perak. "Bagaimana? Enak kan?"

Halilintar mencoba menggelengkan kepalanya, namun lehernya yang kaku hanya bisa bergerak beberapa sentimeter saja. "Mph..." lenguhnya lemah sembari menatap Taufan yang berdiri di sampingnya.

Hilang sudah tatapan tajam netra merah safir Halilintar yang legendaris. Hanya pandangan yang mengiba dibarengi dengan alis melengkung ke bawah terlihat menghiasi wajah Halilintar yang setengah tertutup lapisan plastik cling wrap dan lakban perak.

Tidak hanya tatapan matanya, harapan Halilintar untuk melepaskan diri dari kukungan kepompong plastik itu pun sirna dengan cepat. Praktis seluruh anggota tubuh Halilintar tidak bisa dan tidak mampu bergerak kecuali bola matanya saja.

Di dalam lapisan cling wrap dan lakban yang mengekang seluruh tubuhnya, Halilintar merasa panas dan gerah. Tidak ada udara yang menyentuh permukaan kulitnya, hanya lembaran plastik saja yang ia rasakan melekat pada tubuhnya. Keringat yang mengucur seharusnya bisa mendinginkan tubuhnya, namun yang terjadi adalah Halilintar merasa semakin gerah karena tidak ada udara di dalam kepompong plastiknya.

"Hngh... Hmph... Nggh..." Lenguhan-lenguhan pendek Halilintar terdengar ketika ia mencoba untuk berbicara. Lakban yang melekat pada mulut Halilintar berfungsi dengan baik, karena kedua bibirnya tidak bisa dibuka untuk berbicara.

Taufan terkekeh geli melihat Halilintar yang berusaha bergerak. "Kasihannya kamu, Hali. Pasti panas ya di dalam situ." ucap Taufan sembari merebahkan tubuhnya yang telanjang dada di sebelah Halilintar.

"Ngh!" Halilintar berusaha mengangguk. Ia berada dalam situasi yang serba salah. Hembusan udara sejuk dari AC kamar memang terasa nyaman di tubuhnya walaupun terhalang lapisan cling wrap dan lakban. Namun hembusan udara sejuk itu mengurangi keringat yang keluar dari tubuh Halilintar sehingga plastik yang melilit tubuhnya itu menempel semakin lekat.

Taufan tidak mempermudah situasi Halilintar karena jari-jari Taufan mulai mengelitiki permukaan lakban dimana puting Halilintar berada.

"Mmmphhh!" lenguh Halilintar tanpa daya. Ia bisa merasakan sentuhan jari Taufan pada kedua putingnya namun sentuhan itu terasa asing dan aneh dibalik lapisan plastik dan lakban yang membalut tubuhnya. Walaupun begitu, tetap saja sentuhan itu cukup untuk membuat kejantanan Halilintar kembali mengeras.

Sayangnya lembaran plastik dan lakban menahan bagian depan selangkangannya. Mulailah Halilintar mengerang-ngerang karena batang kejantanannya yang mengeras itu terjepit diantara lapisan plastik cling wrap dan tubuhnya sendiri.

Lenguhan, dan erangan pilu Halilintar bagaikan musik di telinga Taufan yang semakin giat mengelitiki puting Halilintar. Kini jari-jemari Taufan mulai mengelitiki lapisan lakban pada bagian selangkangan Halilintar yang menonjol.

"HNGGGHHH!" lenguh Halilintar sejadi-jadinya. Kedua kelopak matanya terpejam erat ditengah dera siksaan Taufan yang tidak kunjung berakhir. Memang batang kejantanannya yang sudah keras itu haus akan sentuhan, namun bukan sentuhan plastik yang Halilintar inginkan melainkan sentuhan nyata dan lembut dari jari-jemari Taufan.

Meronta tidak membuahkan hasil bagi Halilintar, sebaliknya malah memperburuk keadaannya. Hawa panas di dalam kepompong plastik hasil karya Taufan yang dipadu dengan cucuran keringat malah membuat tubuhnya semakin lengket dengan lapisan plastik yang ia remehkan sebelumnya.

"Hngh... Hmpf... Hngh...Nghnhh." Halilintar melenguh lirih sembari menatap iba pada Taufan. Belum pernah Halilintar merasakan dorongan keinginan untuk bebas yang begitu kuatnya. Saat ini ia merasa lebih baik dipasung beberapa hari berturut-turut oleh Gempa daripada harus berlama-lama lagi di dalam kepompong plastik buatan Taufan.

"Kenapa Hali?" tanya Taufan sembari menopangkan sebagian tubuhnya di atas badan Halilintar. Dengan sengaja Taufan menggosok-gosokkan lututnya pada lapisan lakban yang menutup batang kejantanan Halilintar.

Terdorong keputus asaan, Halilintar mencoba mendorong-dorong pinggulnya. Batang kejantanannya yang kaku dan keras di balik lapisan plastik cling wrap dan lakban berak itu benar-benar sudah haus akan sentuhan. "Mmhhh." lenguh Halilintar dengan harapan Taufan mengerti bahasa isyarat yang ia sampaikan.

Antara tidak paham atau memang tidak peduli, Taufan mengacuhkan Halilintar yang tengah mengiba belas kasih. Alih-alih memberikan Halilintar klimaks yang sangat dudambakan, Taufan malah menperlambat tempo permainannya. Lututnya masih menggesek selangkangan Halilintar, namun dengan sengaja diperlambat.

"Hngh?! Hngh!" lenguh Halilintar yang putus asa sembari berusaha mendorong-dorong pinggulnya. Lapisan plastik cling wrap yang sengaja dipertebal oleh Taufan pada daerah persendian tubuh Halilintar berfungsi dengan baik. Mungkin malah terlalu baik karena upaya Halilintar berakhir sia-sia belaka.

Gerah luar biasa akibat kepompong plastiknya dan usahanya bergerak-gerak untuk melepaskan diri malah membuat keringat Halilintar mengucur semakin deras. Bagian punggung Halilintar yang tadinya hanya terasa kering, kini terasa basah total karena banjir keringatnya.

"Mau kukeluarkan, Hali?" tanya Taufan dengan cengiran jahilnya. Jari-jemari tangannya menari pada permukaan lakban perak, tepat di atas batang kejantanan Halilintar yang menonjol.

"Hnggghhh!" lenguh Halilintar sambil mengangukkan kepalanya sekuat tenaga. Siksaan dari Taufan kali ini benar-benar membuatnya tidak berdaya. Berbeda dengan diborgol atau diikat dengan tali dimana Halilintar masih bisa bergerak-gerak, kali ini Halilintar tidak bisa bergerak sama sekali.

Taufan tidak berkata apa-apa. Ia memijat lapisan lakban dimana batang kejantanan Halilintar tersrmbunyi.

Untuk pertama kalinya sejak dimasukkan ke dalam kepompong plastik itu Halilintar bisa bernapas lega. Sebisa mungkin ia mendorong-dorong pinggulnya mengikuti ritme pijatan tangan Taufan.

"Hngh?" Kedua netra merah safir Halilintar mendadak mendelik. Ia merasakan perutnya tergelitik aneh dan sesuatu mulai mendesak untuk keluar dari pangkal batang kejantanannya.

"Mmpphh! Mmh! Hnggh! MPPHHH!" Halilintar melenguh tanpa tertahan lagi ketika seluruh isi kejantanannya menyembur keluar. Ia bisa merasakan cairan yang hangat dan kental membasahi daerah selangkangan sampai pada perutnya. Beberapa kali Halilintar mengejang dan mengeluarkan isi kejantanannya sampai kering total. Begitu kuatnya kontraksi otot-otot Halilintar sampai ia merasa betisnya keram.

"Mmmm..." lenguh Halilintar seraya memejamkan kedua netra merah safirnya. Ia sudah berhasil mencapai klimaksnya walaupun dengan tubuh yang tidak bisa digerakkan. Kini ia tinggal menunggu untuk dibebaskan dari kepompong plastik yang mengukung seluruh tubuhnya.

Namun kebebasan yang dinanti tidak kunjung tiba...

Halilintar membuka kelopak matanya. Ia melihat Taufan sudah berdiri di tepi ranjangnya. "Mmph?" lenguhnya singkat seraya menatap adiknya itu.

"Oh ya, Hali..." ucap Taufan. Perlahan-lahan kedua manik netra biru safirnya bergerak menatap Halilintar. "Tunggu disini sebentar ya, aku mau ambil sesuatu."

Kedua kelopak mata Halilintar mengedip cepat. "Hng?" ia hanya bisa melenguh singkat ketika dilihatnya Taufan keluar dari kamarnya. Kepergian Taufan dari kamar itu membuat batin Halilintar terasa diiris-iris. Ia masih belum bebas dari kepompong plastik yang menjadi penjara pribadinya dan kepergian Taufan yang mendadak seperti itu membuat Halilintar ketakutan.

Tiap menit yang berlalu terasa seperti berabad-abad bagi Halilintar yang hanya bisa diam di dalam penjara pribadi plastiknya. Ia mencoba menyobek plastik cling wrap yang memeluk erat tubuhnya, namun ujung jari-jarinya bukanlah alat pemotong yang baik ditambah lapisan plastik itu licin karena keringatnya sendiri. Usaha Halilintar untuk melepaskan diri dari penjara pribadinya itu gagal total.

Pasrah...

Tidak berdaya...

Lemah...

Itulah yang melintas di dalam benak Halilintar. Kedua bola matanya bergerak-gerak memandangi jam dinding, jendela kamar yang tirainya sedikit tersibak, AC kamarnya, dan pintu kamar yang tertutup.

"HHHNNGGHHH!" lenguh Halilintar sekuat tenaga di tengah ketidak berdayaan dan keputus asaannya. Ia memanggil seluruh tenaga otot-ototnya untuk berontak dan berusaha melepaskan diri dari kukungan kepompong plastik yang menjadi penjara pribadinya.

Hasilnya nihil, malah Halilintar ototnya nyaris keram lagi karena usahanya berontak.

Mendadak tuas pegangan pintu kamar berputar. Betapa leganya Halilintar ketika ia melihat daun pintu kamarnya perlahan membuka. "Akhirnya! Aku bebas!" teriak Halilintar di dalam batinnya.

Alangkah terkejutnya Halilintar ketika ia melihat Taufan melangkah masuk ke dalam kamar.

Taufan kembali ke kamar tidur bersama salah seorang adiknya. Masalahnya, si adik yang digotong Taufan bernasib sama dengan Halilintar. Kecuali setengah dari wajahnya, si adik yang digotong Taufan juga terpenjara dalam kepompong plastik dan lakban perak.

"Hnh!" lenguh si adik yang digotong Taufan ketika ia dilemparkan begitu saja ke atas ranjang.

Halilintar menolehkan kepala sebisanya. Ia berusaha mengenali si adik yang bernasib sama dengannya.

"HMMPH?!" Halililintar melenguh terkejut ketika ia melihat sepasang manik netra kelabu tengah menatap dirinya.

"Hmf Hhff." Si adik mencoba berbicara, namun mulutnya yang terbekap lakban tidak bisa dibuka.

"Aku tahu apa yang kamu perbuat dengan Solar ini, Hali..." desis Taufan tanpa senyum sedikitpun diwajahnya. "Dan Solar... Kamu jadikan Halilintar-ku mainanmu? Biarpun perintah Gempa, tetap aku ngga setuju (Fanfic Menundukkan Halilintar, Mengendalikan Halilintar, Hadiah Untuk Halilintar). Kalian berdua patut aku hukum!"

"Hmmph!" Halilintar dan Solar yang sama-sama tidak berdaya berusaha menggelengkan kepala mereka.

"Sampai besok pagi, Halilintar, Solar... Nikmati penjara pribadi kalian itu!" Taufan mendengus sebelum ia membalikkan badannya. Tanpa melihat lagi pada Halilintar atau Solar, ia meminggalkan kamar tidurnya dan mengunci pintunya dari luar.

Mati-matian kali ini Halilintar berusaha melepaskan diri. Sekuat tenaganya ia berontak dan berusaha merobek lapisan plastik cling wrap dan lakban yang mengukung tubuhnya.

Solar yang berada yang sama dengan Halilintar pun menggeliat-geliut seperti cacing yang digarami. Ia benar-benar tidak mau menghabiskan waktu dari sore sampai esok pagi dengan keadaan terpenjara kepompong plastik dan lakban.

Usaha Halilintar dan Solar hanya berlangsung sebentar saja sebelum pada akhirnya mereka berdua terkulai lemas kehabisan tenaga.

"Hmph..." Solar melirik ke arah Halilintar yang sudah berhenti meronta.

Halilintar pun melirik ke arah Solar. Lirikan iba mata keduanya saling bertemu, berharap salah satu dari mereka ada yang bisa lolos dari penjara plastiknya.

Solar tahu bahwa dirinya tidak mungkin lolos tanpa bantuan Halilintar dan Halilintar sendiri tahu bahwa ia tidak mungkin bisa lepas tanpa Solar. Keduanya akhirnya tiba pada satu kesimpulan yang sama yaitu mereka telah menjadi tawanan Taufan tanpa ada celah untuk melepaskan diri.

Pada saat itulah Solar melihat segaris air mengalir turun dari sudut mata Halilintar yang diiringi suara sesegukan pilu si kakak tertua...

.

.

.

Tamat.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang sudah bersedia singgah. Bila berkenan bolehlah saya meminta saran, kritik atau tanggapan pembaca pada bagian review untuk peningkatan kualitas fanfic atau chapter yang akan datang. Sebisa mungkin akan saya jawab satu-persatu secara pribadi. Mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan.

Sampai jumpa lagi pada kesempatan berikutnya.

"Unleash your imagination"

Salam hangat, LightDP.