Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :

Guest—hahah nanti HitsuRuki punya fiction tersendiri. Tapi, saya selesaikan dulu yang satu ini supaya tidak utang fic tidak numpuk. terima kasih sudah review.


Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo

.

.

.

.

.

Aphelion adalah jarak terjauh Bumi dari Matahari sebesar 152,1 juta kilometer.


II. 149,6 Juta Kilometer (Bagian Pertama)


Jangan tertipu dengan tampang pikun Orihime. Tatsuki membuktikan selama berteman lima tahun, si jingga adalah karakter disiplin dan penepat janji terpercaya.

Maka ketika jam menunjukkan 07.18 pagi, seperempat jam lewat dari waktu rutinitas setiap hari berangkat sekolah bersama, Tatsuki mencium firasat buruk. Orihime adalah ratu disiplin waktu, dan sobatnya mustahil meninggalkannya dengan menuju ke sekolah terlebih dulu. Kaki tanpa komando langsung bergerak menuju apartemen tua berlantai dua. Menapaki tangga besi reyot yang tinggal tunggu waktu rubuh, tiba pada pintu tengah dari lima jajaran kamar. Tangan mengetuk, diupayakan santai, Tatsuki berharap ia hanya berlebihan.

"Orihime."

Suara itu normal; tanpa respons.

"Orihime...!"

Suara itu setengah tak sabar; lagi, tanpa respons.

"Orihime!"

Suara itu mulai panik; lagi-lagi, tanpa respons.

"Orihime!"

Ketukan telah berubah gedoran, suara sudah kalap; kini, menjemput respons—

"Berisik! Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?!"

─dari pria paruh baya sebelah kamar Orihime, membuka pintu dengan wajah mengantuk, menggaruk perut serampangan.

"Ma-maaf mengganggu. Apa Anda tahu ke mana perginya pemilik kamar ini? Dia tidak datang sekolah hari ini."

Pria berjanggut tipis memberi Tatsuki kuapan cueknya. Andai si tomboi sedang tidak dirongrong cemas, satu tendangan sudah mendarat di kepala orang ini.

"Orihime-chan?" Ia menggaruk rambutnya yang urakan. "Entahlah. Semalam aku pulang larut, jadi tidak begitu yakin."

Tatsuki mencoba peruntungan terburuk. "Apa saat itu Anda tidak merasa aneh? Atau mendengar suara berisik, seperti ledakan atau raungan? Atau melihat hal-hal yang tidak biasa?" Ia sudah gila, lihat pandangan ganjil pria ini. Tapi, Tatsuki sudah kepalang tanggung. Ia trauma atas hilangnya Orihime dua tahun lalu, dan itu melibatkan hantu, monster atau apalah itu. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang.

Kalau begitu kemungkinannya, hanya satu orang yang bisa diandalkan.

Ia lalu pamit pergi, mohon maaf sudah mengganggu, dan meminta untuk melupakan apa yang dikatakannya tadi. Berlari pergi menuju sekolah untuk bertemu orang yang paham betul tentang makhluk di luar nalar manusia.

Ichigo.

Berdiri berhadapan di bawah pohon keyaki tua raksasa, yang sejarahnya berumur sama dengan sekolah, Tatsuki menceritakan semuanya.

"Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan...?" Tatsuki tidak tahu makhluk bertopeng itu disebut apa. Monster? Ia tidak berharap memiliki mimpi buruk itu lagi, cukup satu kali.

Tapi, tidak ada jawaban dari Ichigo.

Ia lantas berpaling pada Kurosaki, yang menyembunyikan raut di balik poni pendeknya. Dua tangan bersembunyi di saku, tangan itu pasti mengepal kencang, Tatsuki yakin itu. Mereka menderita mimpi buruk yang sama dengan insiden menghilang Orihime saat masih kelas satu. Tidak, Ichigo mengalami mimpi yang jauh lebih buruk. Laki-laki ini melihat segalanya secara langsung. Sedangkan dirinya ... hanya bisa menanti.

Bayangan Kurosaki bergerak maju. Tatsuki tidak sempat mengelak ketika ditimpa tubuh Ichigo. Namun berbekal refleks atletis, tangannya sigap menangkap, dan menjumpai dua Ichigo berdiri di depannya.

Samurai ber-kimono hitam seakan keluar dari buku Sejarah. Ini kali pertama, Tatsuki menjumpai Ichigo berubah menjadi Shinigami tepat di depan matanya. Seberapa kali pun, ia meyakinkan diri bahwa Ichigo berbeda dengannya, dan orang kebanyakan; seberapa kali itu pula, ia tetap sulit percaya bahwa makhluk yang disebut Shinigami, berjarak dua langkah darinya adalah si kepala jeruk cengeng yang dihajarnya di dojo.

Ichigo...

"Jangan cemas, Tatsuki." Ichigo menoleh setengah wajah, tersenyum pasti. "Inoue pasti akan baik-baik saja."

Tidak. Bagi Tatsuki, Ichigo adalah Ichigo. Si bocah cengeng; dan akan tetap cengeng, bahkan bila bokongnya ditendang sekarang.

Kaki melayang pada pantat ber-hakama, berbalas pekikan sakit. "Tentu saja, Ichigo! Kau masih terlalu cepat 100 tahun untuk belagak dewasa di depanku!"

Kini tangisan cengeng, berganti gerutuan sebal. Itu jauh lebih baik.

"Kutitip tubuhku, Tatsuki."

"Tentu. Akan kusampaikan juga pada Kojima dan Asano."

Ichigo berpaling penuh. Ada kilatan di matanya, seolah mengaku salah.

Tatsuki paham. "Jangan khawatir. Mereka mungkin merasa tersisih. Tapi, kau yang paling tahu bagaimana mereka. Mereka tidak akan berubah."

Ichigo tidak ingin teman-temannya merasa ditinggalkan dan tidak membantunya apa-apa. Ia hanya sedang berusaha beradaptasi dengan semua ini, dengan segala di sekelilingnya perlahan tahu jati dirinya yang lain, dan dua tahun masih belum cukup untuk membuat Ichigo terbiasa. Mana mungkin, ia melibatkan Keigo dan Mizuiro pada kesulitan ini ketika ia sendiri masih kerap bimbang.

"Ya, dan terima kasih."

Bergerak cepat, berpindah tempat ke atap sekolah, meninggalkan Tatsuki dan tubuh tanpa jiwanya, bersama kibasan debu.

Bel tanda masuk berbunyi.

Tatsuki cepat-cepat mencari tempat aman menyembunyikan mayat Ichigo, sebelum orang lain mengira kalau si jingga sudah berpulang ke alam baka.


. . . . .


Ini aneh.

Berdiri di atas gedung tertinggi di kota, Gedung Pusat Kepolisian KaraKura, Ichigo tidak merasakan aura negatif dari makhluk sekelas Espada, Vasto Lorde atau sekaumnya. Hanya aura para Hollow kelas teri, tidak lebih. Ada kemungkinan terburuk, insiden ini melibatkan manusia setipe Fullbringer.

Kejadian ini terlalu mendadak. Hidup damai dalam beberapa bulan, membuat Ichigo naif. Ia tidak menyangka bahwa tidak mengikutsertakan Kon ke sekolah adalah pilihan buruk. Mau bagaimana lagi, boneka itu kelewat berisik. Andai Urahara dan para pegawainya sedang tidak berlibur ke Hawai, ia bisa cari petunjuk hilangnya Inoue. Yoruichi pun sedang berada di Soul Society, melampiaskan rindu (katanya) pada adik laki-lakinya.

Kalau begini―

"Ichigo-san."

Ryuunosuke Yuki, pengawas Karakura yang baru, menggantikan si pria kribo "Imoyama-san" (nama asli: Kurumadani) datang setelah berpatroli. Mendekat pada lokasi Ichigo setelah menangkap reiatsu kuat si kepala jingga. Seperti biasa, Ichigo selalu terang-terangan mengobarkan tekanan roh, seakan mengundang Hollow menyerangnya. Padahal, Ichigo saja yang tidak becus mengendalikan reiatsu-nya. Bukti itu adalah pedang raksasa di punggung, Zangetsu bentuk shikai, yang aktif 24 jam non-stop.

Ichigo ikut-ikutan menghampiri. Memang belum pasti bahwa kasus ini melibatkan Hollow. Tapi jelas orang itu akan murka, dan menghajarnya tanpa ampun bila tidak dilibatkan saat temannya mengalami kesulitan. "Nah, Yuki, apa kau punya denreishinki?"

Eh? "Tentu saja. Semua Shinigami yang menjadi pengawas di Dunia Manusia wajib punya."

Bagus. "Kalau begitu, bisa kau sampaikan pesanku pada Rukia Kuchiki?"

Selain alasan bahwa Rukia cakap dalam mencari petunjuk, gadis itu pun paling benci ditinggalkan sendirian.


. . . . .


23 Maret. Upacara resmi kelulusan kelas tiga SMA Karakura.

Ada yang kurang. Jelas ada yang kurang.

"Ichigo, jangan cemas," Chad berbisik, mengerling pada kaki si jingga yang mengetuk lantai.

Meneguk ludah, Bergumam maaf, gelisah sudah menggerogoti Ichigo, entah sudah sampai di tahap mana. Ini sudah hari kedua Inoue menghilang, lenyap begitu saja.

Chad dengan cepat mendapati kabar ini setelah tidak berjumpa Orihime di kelas kemarin. Mereka, bersama Ishida dan Tatsuki berada di kelas 3-3; sedangkan Ichigo, Keigo dan Mizuiro di kelas 3-6. Ishida pun tidak butuh waktu lama menyadari, meminta konfirmasi langsung padanya dan Tatsuki.

Pidato panjang bikin tidur dari Kepala Sekolah, selesai juga. Berlanjut pada pemberian sertifikat kelulusan. Nama dipanggil satu per satu berdasarkan urutan peringkat nilai.

Pesan yang dititip Ichigo pada Ryuunosuke belum menunjukkan hasil. Tidak ada tanda-tanda tekanan roh Rukia atau Renji yang didapati saat keluar rumah tadi pagi. Jika bantuan Soul Society terlalu lama, tidak ada pilihan lain, ia akan meminta bantuan Vizard yang tersisa di Karakura, atau yang terburuk adalah para Fullbringer. Batasnya hingga sore nanti, ia tidak yakin bisa menanti lebih lama dari itu.

Nyawa Inoue ... menjadi taruhannya.

Ada desir ganjil meletup-letup pada pembuluh darah, getar dingin menusuk-nusuk penampang kulit. Ichigo bersumpah, mimpi buruk di Hueco Mundo tidak akan terulang lagi. Tidak ada yang bisa membawa Inoue menjauh lagi darinya. Tidak!

"Uryu Ishida."

Siswa terpintar di angkatan. Ichigo diam-diam kagum bagaimana tenangnya Ishida di situasi kini. Tegap dan bermuka pongah andalannya, naik ke podium, dan berhadapan dengan Kepala Sekolah, menerima sertifikat sebagai yang terbaik.

"Orihime Inoue."

Tidak ada respons. Ichigo membawa pandang pada kursi di samping Ishida. Kosong.

"Orihime Inoue!"

Ichigo berpaling pada pintu ganda aula yang tertutup. Diam-diam berharap bahwa Inoue akan datang menerobos, memekik maaf seakan mau bersujud, lalu cengengesan polos berkata kalau ia tersesat sampai keluar kota saat berbelanja di minimarket. Dan orang-orang hanya bisa maklum atas kecerobohan gila Orihime.

"Orihime Inoue!"

Namun panggilan ketiga, sudah lebih dari cukup untuk memutus asanya. Orihime ... tidak akan kembali.

Maka di baris keempat, Tatsuki berdiri menyampaikan bahwa Inoue demam dan tidak sanggup bangun dari kasurnya. Kepala Sekolah terpaksa maklum, dan berlanjut pada nama berikutnya.

Aliran reiatsu menyentak saraf Ichigo. Aura ini, tekanan roh ini...

"Ichigo." Chad turut merasakannya.

Bertukar anggukan. "Kuserahkan di sini padamu, Chad."

Chad melayangkan jempol, menambahkan bahwa ia dan Arisawa akan menyusul nanti.

Bertempat dua kursi paling pinggir, Ichigo gampang saja merendahkan tubuh nyaris tengkurap, seperti prajurit perang yang berlindung dari serangan musuh. Berderap pelan dan pasti menuju pintu, abai saja pada pandangan teman-teman yang mengiringinya hingga lolos, dan tiba di teras. Inilah alasan pentingnya membawa Kon setiap saat. Ia seakan bisa mendengar Rukia menceramahinya.

"Kau lama, Kurosaki."

Ada Ishida, punggung menempel tiang bata, tangan bersedekap, dan kacamata berkilat songong.

Sampai seberapa jauh si Quincy akan mengagetkannya. "Ba-bagaimana kau―?" Mata Ichigo bergulir dari Ishida dan gedung aula. Laki-laki ini duduk di baris terdepan, berhadapan langsung dengan Kepala Sekolah, bagaimana cara ia melarikan diri?

Ishida mendengus sengak, tidak lupa menyentuh persimpangan kacamata, bersinar keren belagak paling pintar. "Tentu saja aku minta izin kalau hamster peliharaanku sedang kritis, dan membutuhkanku untuk mengantarkannya ke alam baka."

Alasan paling dungu yang pernah didengar Ichigo.

"―tidak seperti seseorang yang mengendap-ngendap─"

Kosong. Ichigo sudah berlari kencang keluar sekolah, meninggalkannya mengoceh sendirian di belakang sana.

Tidak ada waktu melawak dan membentak. Ishida menyusul Ichigo menuju kediaman Kurosaki setelah mendeteksi tekanan roh Rukia Kuchiki.


. . . . .


"Selamat atas kelulusan kalian, Ichigo, Ishida."

Berseragam sekolah, Rukia duduk sopan di tepi kasur (tanpa izin), berteman secangkir cokelat panas, ditaruh di meja belajar. Dibuat Yuzu, namun dihidangkan Karin. Ichigo tahu kalau Karin paling malas melayani tamu. Tapi, satu orang yang dibawa Rukia dari Soul Society, menciptakan teori bahwa si tomboi bisa juga feminin bila menyangkut laki-laki yang disukainya.

Toushiro Hitsugaya.

Juga, berseragam sekolah, duduk selonjor satu kaki, kaki lainnya menekuk sebagai tumpuan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam cokelat panas, bersantai di jendela kamar yang terbuka. Dasar bocah sok keren. Jelas-jelas di sini ada kursi, apa yang dilakukannya di sana? Tiga tahun berkunjung ke kamarnya, apa Toushiro tidak tahu guna jendela?

"Nah, tunggu. Apa yang dilakukan Toushiro di sini?" Ichigo yakin Ishida pun mempertanyakan hal yang sama.

Yang disinggung langsung sewot. "Apa kau punya hak melarangku ke Karakura, Kurosaki?"

"Ya, bukan begitu─" Ichigo memang tidak menyertakan nama Renji pada pesan yang dititipnya. Namun bak induk dan anak itik, si nanas merah selalu mengekori Rukia ke mana pun si mungil pergi.

"Hitsugaya-taichou punya banyak pengalaman dengan kasus orang hilang. Oleh karena itu, beliau memutuskan ikut."

Ajaib, Rukia menjawab normal senormal-normalnya tanpa mengirim tendangan ke wajah Ichigo. Seolah-olah, gadis itu tidak mau menunjukkan sikap barbarnya di hadapan Toushiro.

Jaga imej. Entah untuk apa.

Namun dari sudut mana pun, Rukia hanya terdengar mengarang alasan atas kedatangan Toushiro yang (jelas) ganjil. Berdasar pengalaman, Toushiro tidak suka menjalankan misi di Dunia Manusia. Postur kecil mirip anak SMP, sering menjatuhkan harga diri si kapten. Di sini, hukum panggilan wajib 'Hitsugaya-taichou' tidak berlaku.

Tapi, ini─

"Hitsugaya-taichou, itu namanya cokelat panas. Enak, bukan?"

"Ketimbang enak, rasanya aneh."

"Anda suka manis, kan? Dihirup saja pelan-pelan, nanti terbiasa."

Ichigo bertukar lirik dengan Ishida, yang sama-sama duduk di lantai, menengadah pada sepasang Shinigami yang berbincang ria tentang cokelat panas. Entah kenapa, kamarnya bermetamorfosis menjadi kafe beraura merah jambu yang dijatuhi kelopak bunga sakura yang sama merah jambunya. Ia penasaran, apa Ishida melihat fatamorgana yang sama.

Ichigo merasa matanya sudah rusak.

Rukia berbincang dengan Toushiro, bersama rona wajah bahagia (yang aneh). Si mungil pasti sedang kerasukan.

Kemudian bantal terbang mendarat pada wajah si kepala jeruk.

"Ups, tanganku kepeleset. Kau harusnya hati-hati dengan pandanganmu, Kurosaki-kun~."

Inilah Rukia yang sebenarnya. Ratu Drama. Lantas lalu, ia melirik Toushiro, dijemput aura beku. Perasaan Ichigo saja, atau kamarnya berubah fungsi menjadi lemari pendingin? Ia tidak akan kaget kalau cokelat di cangkir Toushiro telah jadi es cokelat.

Apa dosa yang diperbuatnya? Ia tidak bilang apa-apa!

Toushiro kemudian berdeham. Berpindah pada kursi depan meja belajar setelah cokelat (yang sungguhan beku) ditaruh di meja, berdampingan dengan cangkir punya Rukia. Ditariknya kursi, lebih mendekat pada sang Kuchiki (seolah ingin menunjukkan area kepemilikan si kapten), lalu duduk di sana, layaknya pemimpin rapat.

"Jadi, Kurosaki, Ishida, bisa ceritakan kembali apa yang terjadi pada Inoue?"

Ichigo-Ishida bertukar pandang. Saatnya kembali pada kasus yang menyeret mereka untuk berembuk kini. Tidak butuh waktu lama bagi Toshiro untuk memahami ujung pangkalnya.

"Informasinya terlalu minim. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan kalau Inoue menghilang."

Toushiro mengerti perasaan Ichigo dan teman-temannya. Ini kasus yang sensitif. Tidak dideteksinya keberadaan Inoue, seakan membawa mereka kembali pada trauma dua tahun lalu ketika Orihime dibawa pergi Espada Nomor Empat. Dan Toushiro pun merasa bertanggung jawab. Ia dan Matsumoto ada tempat kejadian perkara saat itu, dan tidak ada apa pun yang bisa diperbuat, selain mengikuti protokol aturan untuk segera kembali ke Soul Society tanpa sempat membantu Kurosaki dan yang lainnya.

Maka dari itu, Hitsugaya akan melakukan sebisa dan semaksimal mungkin untuk membantu mereka kali ini.

"Jadi, apa saranmu, Toushiro?"

Sang kapten seakan dipertemukan kembali dengan Kurosaki dua tahun lalu. Rasa frustrasi, putus asa, berharap, namun si jingga sudah sedikit lebih dewasa. Ia memikirkan cara paling logis dan rasional, menunggu bantuan Soul Society dalam bentuk sosok Rukia. Pengalaman betul-betul memberinya pelajaran.

Toushiro tersenyum meyakinkan, berdiri, memutuskan, "Kita ke apartemen Inoue sekarang juga. Menyisir TKP adalah langkah terbaik untuk memutuskan langkah selanjutnya. Minta Tatsuki Arisawa menyusul kita ke sana. Sebagai sahabat terdekatnya, dia yang paling memahami Inoue."


. . . . .


Ini namanya tindakan kriminal.

Pintu yang didobrak, sebagai salah satu bukti bahwa Tatsuki punya tangki kesabaran berisi cetek. Ponsel Inoue tidak bisa dihubungi selama dua hari, dan ketidakhadirannya di hari penting kelulusan, cukup menghanguskan ketenangan Arisawa. Orihime punya dua ponsel, ponsel pintar dan ponsel lipat. Itu pun gara-gara Tatsuki memaksa Orihime membelinya. Namun, entah ke mana perginya kegunaan ponsel yang tidak aktif 48 jam non-stop?

"Mangkuk bekas tempura yang kuberi dua hari lalu, masih ada di bak cuci. Itu berarti Orihime menghilang tepat lusa malam kemarin saat aku datang." Orihime punya kebiasaan membersihkan piring sebelum berangkat sekolah.

Duduk mengelilingi meja pendek segi empat di kamar apartemen Inoue. Tidak ada satu pun yang berani menyinggung kriminalitas diperbuat enam orang, yang menerobos masuk rumah orang tanpa izin.

"Kurasa, kau harus meralat kata menghilang yang kau sebut barusan."

Empat kepala berpaling pada Toushiro berdiri bersedekap, di samping Chad yang duduk bersila kaki.

"Masih tidak ada bukti kalau Inoue sungguhan menghilang."

Ishida sepakat dengan Hitsugaya. Sesaat setelah berhasil menapaki kaki di kamar Inoue-san, tidak ada tanda-tanda ganjil yang menunjukkan bahwa gadis itu dibawa pergi secara paksa. Aura Hollow atau Espada, Quincy atau Shinigami, bahkan tekanan roh manusia sekelas Fullbringer pun nihil. Kamar ini hanya diliputi oleh reiatsu Orihime seorang. Berarti─

"Inoue-san pergi, entah ke mana, tanpa memberitahu kita satu pun."

Toushiro lega bahwa satu dari mereka punya ketenangan yang bisa diandalkan. Ia tidak suka bila segala insiden yang berkisar pada Kurosaki dan kawan-kawan harus dikaitkan dengan dunia spiritual dan makhluk di dalamnya.

"Ta-tapi, kenapa─? Kenapa Orihime harus pergi? Kenapa dia tidak memberitahu kita?" Tidak bilang apa pun padaku. "Itu tidak masuk akal." Kalau memang sobatnya pergi atas kehendaknya sendiri, ke mana...?

"Tenanglah, Tatsuki."

"Inoue tidak akan pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas." Berpikir logis adalah nama tengah Chad.

Dan kesimpulan sobat tinggi besarnya, mengantar Ichigo pada sesuatu. Ia serasa baru dicubit.

"Ada apa, Ichigo?" Rukia memergoki.

"Nah, Kurosaki, apa kau tahu sesuatu?" Ishida ikut curiga.

Kabut kecemasan pelan-pelan menyusut dari kepala Tatsuki, berpaling pandang pada Ichigo. Kurosaki berutang penjelasan tentang sikap aneh Orihime tempo hari. Ichigo turut menatap Tatsuki, paham.

"Ya, kurasa Inoue pergi karena a─"

"Itu tidak mungkin." Tatsuki sendiri yang mementalkan pengakuan si jingga. "Yang bisa kupastikan adalah kau lah alasan Orihime berkelakuan lebih gila dibanding biasanya. Tapi apa pun yang terjadi pada kalian waktu itu, tidak akan cukup membuat Orihime pergi tanpa mengabari kita satu pun. Jangan meremehkan Orihime, Ichigo."

Biarpun begitu, Ichigo masih tidak tampak tenang.

Selebih dari mereka diam, menelan mentah-mentah pemahaman yang dibeberkan Arisawa.

"Lalu, kenapa Inoue-san pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa?"

"―Tolong jangan khawatir, Tatsuki-chan. Karena kau pasti akan datang mencariku. Itulah kenapa, aku bisa pergi ke mana pun tanpa cemas. Jika tempat yang kudatangi tidak bisa kau jangkau, lalu tolong tunggu aku di sini, aku pasti akan kembali. Aku pasti akan kembali ke sisi Tatsuki-chan."[1]

Itu adalah izin Orihime saat si jingga harus pergi ke Soul Society, menyelamatkan Kuchiki.

Pikiran Tatsuki sudah betul-betul jernih sekarang. Kumpulan dugaan yang terkait dengan insiden Orihime yang diculik oleh Hollow, menyingkir ke tepi. Memberi ruang jawaban yang paling masuk akal bila didasari tabiat Orihime.

"Ya, ini mungkin simpel saja. Aku tidak yakin ke mana Orihime pergi." Ada satu tempat yang dicurigai sebagai labuhan Inoue. Bagaimanapun, si jingga hanya punya seorang kerabat yang tersisa di dunia ini. "Tapi, kemungkinan besar Orihime dapat telepon darurat, dan harus buru-buru pergi entah ke mana. Itu pasti masalah yang sangat mendesak sampai Orihime tidak sempat menghubungi kita." Bahkan, tidak sempat menyimpan kunci apartemen yang selalu ditaruh di bawah pot bunga matahari. "Dan kalian tahu, kan, bagaimana buruknya Orihime bila berurusan dengan teknologi?"

Ah, begitu.

Ichigo, Ishida, dan Chad paham betul bagaimana gaptek-nya Inoue. Jangan tanya.

Kesimpulan sederhana ini, membuat mereka ingin menjedotkan kepala ke tembok, lalu terbahak sampai pingsan.

"Jadi, ada kemungkinan bahwa Orihime berusaha menghubungi kita. Tapi, justru orangnya sendiri tidak tahu bagaimana menggunakan ponselnya sendiri."

Tidak ada yang lebih lucu dari seseorang yang tidak tahu mendayagunakan barang milik sendiri. Dan tidak ada yang lebih konyol dari seseorang yang menyesatkan mereka dengan dugaan Hollow, ujung-ujungnya memberi mereka solusi atas dugaan gaptek.

Tatsuki akui, ia dan Orihime sama-sama bodoh.

Mari tertawa, Kawan-kawan.

Terdengar kemudian notifikasi e-mail dari saku jaket birunya.


. . . . .


Tiket kereta tujuan Yamagata senilai kurang lebih 12.000 yen.

Bagi anak kemarin sore (baru lulus sekolah, kerja masih tidak punya), uang sebesar itu sama dengan uang saku sebulan penuh. Ichigo tidak punya uang sebanyak itu, bahkan setelah ia membobol celengannya. Tatsuki dan Chad punya nasib sama tidak beruntungnya.

Karena itu, bersama kibaran jaket ala kesatria putih, Ishida menawarkan bantuan tak main-main.

"Jangan cemas. Aku yang menanggung semua biaya perjalanan kalian pergi-pulang."

Tidak tanggung-tanggung, tawaran untuk Toushiro dan Rukia tidak luput. Namun dengan kerennya, sang kapten menolak penawaran langka itu.

"Jangan khawatir, Ishida. Aku dan Kuchiki punya biaya perjalanan sendiri."

Lalu bersantai ria melewati pintu kereta menuju dua kursi, duduk bersama Rukia sambil mengobrol seru entah apa. Mata uang Soul Society (kan) sudah diganti menjadi mata uang Dunia Manusia (yen) jauh-jauh hari saat ditugaskan di Karakura, dan bank untuk para Shinigami adalah Toko Urahara. Kapten dengan gaji setingkat pejabat tinggi Jepang dan putri bangsawan dengan kekayaan sekelas keluarga kaisar tidak perlu khawatir tentang isi dompet di mana pun mereka berada.

Ichigo maklum saja, berpaling pada Ishida yang duduk diagonal darinya. "Nah, kau yakin, Ishida? Uang sebanyak itu, kau dapat dari mana?"

"Tenang saja, Kurosaki." Telunjuk ditaruh pada persimpangan kacamata. "Orang itu tidak akan jatuh miskin, sebanyak apa pun aku mengeruk uangnya."

Orang itu, ayahnya, Ryuuken Ishida. Hebat sekali, putra direktur rumah sakit terbesar di Karakura, tinggal gesek kartum ATM bersampul emas, apa pun bisa dibeli.

"Selain itu, aku sudah merepotkan kalian, juga Inoue-san." Ia menyinggung Perang Besar Kaum Quincy. "Ini tidak apa-apanya sama sekali."

Ishida masih diselimuti rasa bersalah. Dibebani oleh dosa kaumnya di masa lalu, mengakhiri pertikaian adalah tugasnya sebagai keturunan terakhir, bahkan bila itu harus berbayar nyawa. Namun, bersandiwara sebagai pengkhianat tidak semudah yang dipikirnya. Terlebih, bila memiliki rival yang bertabiat jauh lebih keras kepala darinya. Kepala Kurosaki pasti terbuat dari baja. Ia berutang banyak hal pada si jingga, Sado, dan Inoue-san.

Ia beruntung memiliki mereka.

"Yamagata." Chad menginterupsi. "Apa itu kampung halaman Inoue?" Memberi selintas pandang pada Tatsuki yang melamun di sisi jendela.

Yang disinggung tersentak, menegakkan badan, dijemput oleh lima pasang mata. "Ya, itu kampung halaman Orihime."

Prefektur Yamagata adalah tempat kelahiran sahabatnya, sebelum Orihime dibawa pergi oleh Sora-nii, 15 tahun yang lalu. Anehnya, Tatsuki tidak memaksa Orihime bercerita alasan kenapa sang kakak pergi dari rumah, hingga tiba di Karakura, yang beratus-ratus kilometer jauhnya dari kampung halaman. Permasalahan keluarga selalu menjadi topik terlarang, dan Tatsuki akan menunggu sampai Orihime mau menceritakannya. Satu-satunya kerabat si jingga, yang rutin mengirim biaya sekolah tinggal di prefektur tersebut.

Tatsuki merogoh ponsel dari saku jaket biru tuanya, membuka pesan.

'Tatsuki-chan, aku minta maaf. Kau boleh memukulku sesukamu gara-gara tidak sempat menghubungi selama dua hari. Aku minta maaf. Aku minta maaf. Aku buru-buru pergi karena Koharu-bachan kecelakaan. Tidak ada siapa pun yang menjaganya. Nanti aku hubungi lagi. Maafkan aku, Tatsuki-chan.'

Yamagata punya koneksi telepon dan internet yang buruk. Terlebih, distrik di mana bibi Orihime tinggal sekarang. Tatsuki membayangkan bahwa kondisi Koharu-bachan betul-betul parah hingga Orihime sibuk, tanpa sempat menghubungi teman-temannya. Saat sadar, dua ponselnya kompak kehabisan baterai. Si jingga pasti meminjam ponsel entah siapa, dan langsung mengirim e-mail padanya. Kebetulan, bahwa alamat e-mail Tatsuki sudah dihapalnya luar kepala.

Isi pesan Orihime tidak meminta Tatsuki untuk datang. Karena ia dan Orihime sama-sama tahu, ia akan menyambangi si jingga dan menemukannya, ke mana pun gadis itu pergi. Jadi, pukul 04.00 dini hari tadi, ia berkemas setelah mengantongi izin orangtuanya. Tidak disangka saat membuka pintu, Ichigo berdiri yang sudah bersiap dengan jaket tebalnya. Apa inisiatifnya terlalu jelas sampai otak tumpul Ichigo bisa menebaknya? Perjalanan menuju stasiun kereta, mereka dihadang empat orang, yang memaksa turut serta menuju Yamagata.

Konyol sekali. Baru sampai stasiun; ia, Ichigo, dan Chad sadar kalau uang di dompet tidak cukup membawa mereka ke Yamagata dengan shinkansen. Betul-betul modal nekat.

"Yamagata, kah," Ichigo menggumam seolah penasaran. "Tempat seperti apa itu?" Menengok pada Tatsuki yang duduk di sampingnya. "Kau pasti sudah pernah ke sana, kan, Tatsuki?"

Dua pasang mata dari kursi di depannya, ditambah dua pasang perhatian milik Rukia dan Toushiro di seberang sana, mendengarkan diskusi mereka.

Tatsuki mengiyakan. Tentu pernah, liburan musim dingin saat kelas 3 SMP.

"Bagaimana tempat itu?" Ichigo tidak menyembunyikan penasaran pada tanah kelahiran Inoue. Apa tempat itu secerah tingkah Inoue? Apa tempat itu seindah senyum Inoue?

Ia rasanya ingin menggebuk kepalanya sendiri.

Mata gelap Tatsuki dilempar pada telapak tangan, meraba-raba, seolah mengingat kembali memoar ketika menginjakkan kaki di kampung halaman Orihime. "Dingin─sekali. Udaranya―kering. Saljunya—terlalu lama. Gunung. Rumah-rumah. Sekolah. Orang tua─banyak sekali." Ada detik suram menjeda. "Tidak apa pun di sana, seolah tempat itu tidak mengharapkan apa-apa."

Aneh bahwa Rukia bisa membayangkan semua penggambaran Arisawa. Tempat yang tidak mengharapkan apa-apa, Yamagata. Tempat yang tidak memberi harapan apa-apa, Inuzuri. Jadi, Inoue juga berasal dari tempat yang sulit? Toushiro meliriknya, lantas diam-diam menelusupkan jari-jemari pada tangan kurus dan lembut si gadis Kuchiki. Rukia berjengit, membalas pandang, lantas tersenyum lembut. Paling tidak, ia punya seseorang sebagai tempatnya berbagi, segalanya. Perhatian ini hanya untuk mereka berdua, empat orang di seberang sana tidak perlu tahu.

Sepi suram memberi spasi.

Masing-masing dari mereka memutuskan diam. Entah apa saja yang berkecamuk di benak. Beristirahat, ini akan jadi perjalanan panjang untuk empat jam ke depan.

Ichigo ... tidak tahu bagaimana perasaannya kini. Ia serasa baru ditonjok begitu keras. Sadar bahwa ia tidak tahu apa pun soal Inoue. Ia betul-betul buta dengan segalanya, dan lantas seenaknya mengajak Inoue―

"Sial."

Tatsuki saja yang mendengar umpatannya.

Corak kuning pelan-pelan menyingsing dari sisi timur. Panorama mentari pagi siap menyongsong. Membias pada jendela, jatuh pada wajah Ichigo yang berkerut. Ia tidak peduli, ia lelah, dan kesal pada dirinya sendiri.

"Kenapa?"

Ichigo merapatkan lengan pada sisi tubuh, menutup mata. Gelap memeluknya.

"Kenapa?"

Inoue bertanya ketika itu.

Tapi bahkan kini, Ichigo masih tidak tahu jawabannya.


. . . . .


Orihime meniup tangan yang lebam biru karena dinginnya salju. Tangan tanpa kaus begitu kaku setelah bekerja dua jam menyekop tumpukan salju di halaman samping. Sudah bulan Maret, namun salju di Yamagata selalu bertahan lebih lama dari belahan Jepang yang lain. Di Karakura, bunga sakura pasti sudah mekar, berjajar rapi di tepi trotoar, memberi perasaan hangat bagi pejalan kaki. Ah, Orihime rindu. Ini baru tiga hari, tapi serasa berbulan-bulan ia tidak menginjakkan kaki di Karakura.

Pagi begini, Tatsuki-chan pasti sedang kerja sambilan sebagai asisten instruktur di dojo. Ishida-kun tengah membuat pola untuk pakaian musim semi. Sado-kun berkunjung ke panti jompo sebagai kegiatan selingannya. Kurosaki-kun ... Inoue berpikir ... apa, ya, yang dilakukan Kurosaki-kun di jam segini saat tidak sekolah? Membersihkan rumah? Membantu di klinik ayahnya? Atau―

Orihime menyipitkan mata pada kejauhan. Ada sosok tinggi jangkung, memakai wig berwarna mencolok, oranye. Wah, ia tidak tahu kalau ada orang lain yang memiliki rambut seterang Kurosaki-kun di Yamagata. Hebat...!

Kurosaki-kun, apa yang sedang dilakukannya kini?

"Inoue!"

Yang pasti, tidak sedang memanggil namanya dari jalan depan sana.

"Orihime!"

Ah, bahkan ada perempuan yang semirip perawakan dan suara Tatsuki-chan.

Sosok-sosok itu kian memotong jarak; 100 meter, 75 meter, 50 meter.

Sekop Orihime jatuh berdebum di tanah salju. Ia tidak perlu mengucek mata untuk yakin bahwa mereka-mereka di depan sana adalah teman-teman Karakura-nya yang bermigrasi ke Yamagata.

"Ta-Tatsuki-chan! Kurosaki-kun! Ishida-kun! Sado-kun! Kuchiki-san! Toushiro-kun, juga!"

Ya, ampun. Tipikal Inoue. Mengabsen satu per satu para pendatang sambil berlari merentangkan tangan rindu ala drama picisan. Hanya Tatsuki yang rela ikut-ikutan adegan pertemuan dua terkasih yang terpaut jarak dan waktu. Turut maju menghampiri, membuka lengan menyambut rindu sohib karibnya.

Inoue menangis terharu untuk disambut─tinju keras di kepala!

"Ittaaaaaaai!"

Jangan lupa. Ibu selalu punya 'hadiah' bagi balasan tingkah nakal anaknya. Tatsuki selalu punya bogem mentah sebagai balasan kelakuan bandel Orihime.


To be continued...


[1] Bleach Manga; chapter 68, pages 16-17

[2] saya lupa omake di episode berapa yang bilang kalau Orihime itu gaptek. Tapi sepertinya dia udah akur ma teknologi saat di arc Fullbringer, hahah

.

.

.

.

.

A/N:

Jangan salahkan paniknya Tatsuki. Dia dan Ichigo yang paling trauma saat Orihime diculik Ulquiorra.

Di tengah2, saya hampir kebablasan gara2 HitsuRuki. Hampir kepikir kalau ini pair-nya HR, sebelum saya kembali ke jalan yang benar, hahah.

Disiplin physical distancing, dan cuci tangan, teman-teman.

Terima kasih sudah membaca.

.

03 April 2020