title : Human with his Blade

Crossover : Naruto X Highschool DxD X dll

Disclaimer : Naruto, HS DxD, dan yang lainnya bukan punya saya

Warning : OC, OOC, typo, bahasa tidak baku, dll

Rate : M (jaga - jaga)

Arc : Introduction

.

.

.

Chapter 2 : Blue Star Dormitory

.

.

.

Hagun Academy

Kelas 1-B

" Baiklah, jam pelajaran telah selesai. Silahkan kembali ke asrama masing – masing. Sampai jumpa besok. " Ucap Ibiki lalu pergi dari kelas 1-B

" Akhirnya pelajaran selesai. " Gumam Cao Cao

" Naruto-san, apa kau mau kami antar ke asrama kami? " Tanya Vali

" Ah... Ide yang bagus. Aku tidak mau tersesat di malam yang dingin. Baiklah, ayo kita pulang. " Ucap Naruto sambil membawa tas miliknya.

" Btw, di mana kau menaruh kopermu? " Tanya Cao Cao

" Aku menaruhnya di dekat ruang kepala sekolah. " Ucap Naruto.

" Berarti di dekat ruangan para pillar. " Uap Vali.

" Pillar? "

" Itu hanya sebutan saja. Mereka adalah 10 murid terkuat di sekolah ini. Mereka memiliki jabatan dan wewenang di atas OSIS dan mereka merupakan tangan kanan langsung kepala sekolah. Mereka bahkan memiliki wewenang lebih tinggi dari para guru. " Ucap Cao Cao

" Tapi tenang saja, standar 10 murid terkuat itu agak rancu. Biasanya ada beberapa murid yang lebih kuat dari 10 pillar, tapi karena jarang menunjukkan kemampuannya, merek atidak menjadi anggota pillar. " Ucap Vali.

" Begitu, ya. " Ucap Naruto.

.

.

.

Di dekat ruangan 10 Pillar.

Terlihat barang milik Naruto masih utuh dan rapi.

" Untung saja mereka tidak merusaknya. " Gumam Naruto

" Baiklah, ayo kita kembali sebelum para pillar melihatmu. Pertarunganmu dengan Hyodou menarik perhatian banyak orang. " Ucap Cao Cao

" Oke. "

KRIET

Sebelum mereka sempat pergi dari sana, muncul 4 orang keluar dari ruangan para pillar.

" Baiklah, minna-san, saya dan Rias undur diri dulu. " Ucap seorang perempuan pendek berambut hitam dan berkacamata.

" Oke. Terima kasih, So-tan. " Terdengar suara balasan dari dalam ruangan. Dan setelah itu, perempuan pendek itu menutup pintu.

" Ah... aku ingin segera mandi dan tidur. " Ucap perempuan berambut merah.

" Ara, Rias, kau kesal karena Issei-kun kalah, kan? " Ucap perempuan berambut raven di sebelah si merah.

" Terserah kau saja. " Ucap si merah.

" Siapa mereka? Apa mereka anggota dari 10 pillar itu? " Tanya Naruto

" Yang merah itu adalah Rias Gremory, the 8th Pillar : Ruin Pillar; sedangkan yang berambut hitam pendek itu adalah Sona Sitri, the 9th Pillar : Water Pillar, dia juga merupakan ketua OSIS saat ini. " Ucap Cao Cao

" Begitu, ya. "

Naruto dkk segera pergi berjalan, mereka bertemu dengan Rias, Sona, serta 2 orang di dekat mereka.

" Tunggu, Namikaze. " Terdengar Rias memanggil Naruto.

Naruto yang dipanggil berhenti. Itu juga membuat Vali dan Cao Cao ikut berhenti.

" Aku tidak menyangka kau berhasil mengalahkan Ise. " Ucap Rias.

" Aku juga tidak menyangka dia semenyebalkan itu. " Balas Naruto tanpa menghadap lawan bicaranya.

" Maafkan dia. Ise memang seperti itu. Tapi, kau berhasil mengalahkannya, walaupun Emiya-senpai mengatakan kalau kalian belum serius, tapi tetap saja kau berhasil mengalahkannya. " Ucap Rias

" Ara, Rias, apa kau mau merekrutnya? " Tanya si raven.

" Tentu saja, Akeno. Namikaze Naruto, aku mengundangmu untuk bergabung dengan klubku. " Ucap Rias.

" Klub? "

" Klub Penelitian Ilmu Gaib (Occult Research Club). "

" Woy, Vali, Cao Cao, di sekolah ini ada klub aneh semacam itu? " Tanya Naruto.

" Entahlah, itu mungkin hobi mereka saja. " Ucap Vali.

" Aku menolaknya, Senpai. Aku benci hal gaib. " Ucap Naruto sambil berbalik dan menghadap Rias. " Aku ingat. Kau salah satu harem dari si Hyodou, kan? " Ucap Naruto melanjutkan.

" Kau benar. Biar aku memperkenalkan diri. Namaku Rias Gremory, the 8th Pillar : Ruin Pillar. Dan dia adalah Akeno Himejima, wakilku. Jadi, setelah kau mengetahui siapa aku, apa kau berubah pikiran. " Ucap Rias.

Naruto berjalan mendekati Rias. Rias tersenyum. Ia berpikir Naruto berubah pikiran karena mengetahui identitasnya. Tapi, secara mengejutkan, Naruto melewati dan pergi ke arah Sona.

" Yo, chibi, apa kau begitu membenciku sampai tidak mau memberikan salam padaku? " Tanya Naruto sambil memegangi kepala Sona.

" Sudah kubilang, jangan panggil aku chibi, baka! " Ucap Sona sambil memukul perut Naruto.

Naruto yang perutnya dipukul langsung mundur. " Mengapa tidak boleh, di antara kita berempat, kau yang paling pendek. " Ucap Naruto

" Berisik. " Balas Sona

" Kaicho, kau mengenal Namikaze-kun? " Tanya perempuan berambut hitam panjang.

" Ya, dia teman masa kecilku. " Ucap Sona yang sudah tenang.

" Wah, kau masih berwajah tembok saja. " Komen Naruto.

" Tunggu, teman masa kecil? Bukankah kita sudah berteman sejak umur 10 tahun? " Tanya Rias

" Naruto, kami tunggu di luar gedung sekolah. " Ucap Vali lalu pergi bersama Cao Cao.

" Oke. "

" Biar kujawab, Rias. Aku bertemu dengan Naruto, Sasuke, dan adiknya saat berusia 5 tahun. " Ucap Sona.

" Ehem... kembali ke topik. Bagaimana Namikaze-kun, apa kau berubah pikiran? " Tanya Rias mengembalikan arah pembicaraannya.

" Tidak. Itu hanya membuat si Hyodou semakin mudah mendekati adikku. " Ucap Naruto lalu pergi. " Sampai jumpa lagi, Sona. " Ucapnya melanjutkan sambil membawa kopernya.

" Sampai jumpa, baka. Tsubaki, ayo kita kembali ke asrama. " Ucap Sona lalu pergi.

" Ha'i, Kaicho. " Ucap si rambut panjang alias Tsubaki. Lalu mereka berdua pergi dari sana.

" Akeno, kita juga kembali. Aku tidak mau semakin kesal karena perbuatannya. " Ucap Rias lalu pergi.

" Oke, Rias. Aku sudah kangen dengan Ise-kun. " Ucap Akeno lalu pergi bersama Rias.

KRIET

Terlihat pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis berambut pirang.

" Jadi Naru sudah mengambil kopernya, ya. Aku tidak sempat bertemu dengannya. " Ucap gadis itu.

.

.

.

Blue Star Dormitory

" Baiklah, selamat datang di Blue Star Dormitory. " Ucap Vali.

" Kamarmu berada di nomor berapa? " Tanya Vali

" Nomor 303. " Jawab Naruto.

" Baiklah, kau masuklah ke kamarmu, lalu datanglah ke kamar 205. " Ucap Cao Cao.

" Aku mengerti. " Ucap Naruto.

.

.

Kamar 303

Setelah masuk ke kamarnya, Naruto langsung memasukkan semua pakaiannya ke dalam lemari.

" Ada kamar mandi, meja belajar, dan dapur. Cukup lengkap. Asrama ini memiliki 4 lantai. Dan setiap lantai ada 20 kamar. Cukup banyak untuk sebuah asrama. Tapi ini asrama yang sudah tua, jadi mungkin Cuma sedikit yang ada di asrama ini. "

Kemudian Naruto mengganti bajunya dengan baju santai dan pergi dari kamarnya menuju kamar 205.

.

.

Kamar 205

TOK TOK TOK

" Ah, Naruto. Silahkan masuk. " Ucap Vali

Setelah itu, Naruto masuk. Di sana terlihat beberapa orang sedang memakan camilan yang ada.

" Sudah kubilang berapa kali kalau jangan gunakan kamarku untuk acara seperti ini. Kamar milik Emiya-senpai lebih luas dan peralatan memasaknya lebih banyak. " Ucap lelaki berambut hitam

" Tapi bahan untuk membuat makanannya lebih banyak. " Jawab seorang pemuda berambut merah maroon yang sedang memasak.

" Selain itu, kamarmu juga lebih nyaman dibandingkan kamar milik Emiya-senpai. " Ucap seorang pemuda berambut pirang yang sedang meminum semacam jus.

" Sudahlah, minna. Naruto sudah datang. Naruto, kau bisa perkenalkan dirimu. " Ucap Cao Cao.

" Halo, minna. Aku Namikaze Naruto dari kelas 1-B. Kamarku nomor 303. Salam kenal. " Ucap Naruto

" Aku Vali, kau sudah kenal aku. Kamarku nomor 203. "

" Aku Cao Cao. Kau juga sudah kenal aku. Kamarku nomor 201 "

" Namaku Arthur Pendragon. Aku dari kelas 1-A. Kamarku nomor 402. "

" Namaku Tobio Ikuse. Aku dari kelas 1-C. Ruangan ini adalah kamarku. "

" Namaku Asama Miya. Aku dari kelas 1-C. Kamarku nomor 204. Salam kenal Naruto-kun. "

" Emiya-senpai, tolong bawakan makanan. Kami lapar. " Ucap Vali

" Oke, guys. " Ucap Shirou sambil membawa makanan. Terlihat perempuan berambut ungu yang membantunya ikut membawa makanan. " Perkenalkan, namaku Emiya Shirou. Aku dari kelas 3-B. Kamarku nomor 101. Salam kenal, Naruto-kun. "

" Dan aku Sakura Matou dari kelas 2-B. Kamarku nomor 102. Salam kenal, Naruto-kun. "

" Semoga kau nyaman di asrama ini. Silahkan dinikmati makanannya. " Ucap Shirou

" Terima kasih, Emiya-senpai. " Ucap Naruto

.

.

3 jam berlalu sejak pesta penyambutan Naruto dimulai. Sebagian dari mereka sudah tertidur. Semua kecuali Naruto, Sakura, Shirou, dan Vali.

" Emiya-senpai, kau membuat mereka mabuk, ya? " Tanya Naruto

" Tentu saja tidak. Kalian semua masih di bawah 17 tahun, kecuali aku dan Sakura. " Ucap Shirou.

" Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? " Tanya Naruto

" Ikut aku, Naruto-kun. Sakura, tolong bersihkan piringnya. " Ucap Shirou lalu berjalan keluar

" Ha'i, senpai. "

Naruto yang melihat itu mengikuti Shirou.

.

.

.

Halaman belakang Blue Star Dormitory.

" Jadi, ada apa, Emiya-senpai. " Tanya Naruto

" Sebelum itu, biarkan aku memperkenalkan diriku sekali lagi. Namaku Emiya Shirou, the 7th Pillar : Archer Pillar. Aku anggota dari 10 Pillar dan mantan pengurus OSIS. Aku adalah pandai besi yang menempa Lightborn Saber. " Ucap Shirou memperkenalkan diri.

" Lightborn Saber. Pedang yang konon katanya dibuat dari 10 unsur elemen api dan cahaya; seperti magma, batu lava, fosil naga, sinar matahari, dan lain sebagainya. Aku sendiri bahkan masih kesulitan untuk melakukan itu. " Ucap Naruto

" Kemampuanmu adalah Unlimited Blade Works. Menciptakan berbagai macam pedang dari objek – objek tertentu. Kau bisa meniru berbagai pedang dengan kekuatan sihir, namun tidak dengan kekuatannya. " Ucap Shirou

" Kudengar orang yang menempa Lightborn Saber menyebut dirinya Nameless Blacksmith. Kemampuannya adalah projection. "

" Ya. Projection tidak hanya mampu meniru pedang saja, namun juga berbagai benda. Namun, semakin kuat benda itu, maka semakin lemah tiruan yang bisa kubuat. "

" Lalu, apa yang kau inginkan? "

" Aku ingin kita sparring. "

" Hanya sparring, kan? Aku setuju. " Dengan cepat Naruto memunculkan sebuah 2 buah katana.

" Trace on. " Lalu di tangan Shirou muncul sebuah bokken.

" Bokken? Apa kau yakin? "

" Ya. "

Keduanya melesat menuju tengah halaman. Naruto menebas ke arah Shirou dengan pedang di tangan kirinya. Namun dengan mudah Shirou menahan serangan Naruto dengan bokken miliknya. Melihat celah yang ada, Naruto menebas dengan tangan kanannya.

" Terlalu mudah untuk dibaca. " Dan dengan cepat, Shirou memegang pergelangan Naruto.

" Sial. "

Shirou mendorong katana milik Naruto, kemudian memberikan sebuah tebasan ke kepala Naruto. Naruto yang melihatnya mengarahkan pedangnya untuk menghadang serangan Shirou. Tapi...

PRANG

BUK

Pedang milik Naruto patah dan bokken milik Shirou menghantam kepala Naruto dan menghempaskan Naruto ke samping.

'Bagaimana bisa?'

" Apa kau berpikir mengapa aku bisa menghancurkan pedangmu hanya dengan sebuah bokken? Jawabannya simpel. Aku mengalirkan mana ke bokken milikku. " Ucap Shirou.

" Tunggu, jika seperti itu, bukankah harusnya ada pendar biru di sekitar bokken-mu? Selain itu, bukankah seharusnya menjadi lebih tajam? "

" Itu tergantung pengendaliannya. Semakin stabil mana yang kau alirkan, semakin tak terlihat pendar yang muncul. Selain itu, kau bisa mengubah bentuknya menjadi tumpul untuk mengurangi luka. "

" Kau menjadi pillar hanya dengan kekuatan itu? "

" Emiya-senpai adalah murid dengan kemampuan pengendalian mana yang terbaik. Bahkan melebihi para guru dan First Pillar. " Ucap Vali yang menonton sparring itu.

" Kau tidak mau melawannya, Vali? " Tanya Naruto

" Tidak. Terakhir aku melakukannya, aku dipermalukan habis – habisan. " Jawab Vali.

" Mengalirkan mana ke pedangmu tidak hanya memperkuat seranganmu, tapi juga meningkatkan daya tahan pedangmu. Akan kugunakan ini. " Ucap Shirou lalu mengambil sebuah tas berbentuk tabung.

" Tas untuk satung pedang? "

" Tet tot. Kau salah. Ini adalah gulungan kertas yang kugunakan untuk membuat sketsa dari pedangku. " Ucap Shirou sambil mengeluarkan gulungan kertas sepanjang 40 sentimeter.

" Itu hanya sebuah kertas, kan? "

" Tidak, kertas ini sedikit lebih tebal daripada kertas biasa. "

" Tapi itu hanya sebuah kertas, kan? "

" Tidak, kertas ini kugulung dengan diameter 10 sentimeter. "

" Tapi itu hanya sebuah kertas, kan? "

" Tidak juga, aku pernah membunuh seekor babi hutan dengan kertas ini. "

" Tunggu.. Apa!? "

" Ya, aku pernah membunuh babi hutan dengan kertas ini. Coba serang aku dengan pedangmu. " Ucap Shirou.

" Oke. " Dengan cepat, Naruto melesat dan memberikan tebasan ke arah Shirou.

TRANG

Namun, Shirou dengan mudah menahan serangan Naruto dengan gulungan kertas miliknya. Ingat, gulungan kertas.

" Kau mengalirkan mana pada gulungan itu, ya. " Ucap Naruto

" Tunggu dulu. Walaupun seperti itu, seharusnya itu tidak bisa membuat gulungan kertas menjadi sekeras besi. " Ucap Vali.

" Semuanya tergantung kemampuanmu. " Ucap Shirou.

Naruto dan Vali terdiam.

" Naruto-kun, berapa banyak pedang yang bisa kau buat dalam satu waktu? " Tanya Shirou

" Mungkin sekitar dua puluh sampai dua puluh lima. " Jawab Naruto

" Seharusnya kau bisa menggunakannya untuk melakukan serangan hujan pedang. Seperti ini. Trace On! " Tiba – tiba dari langit muncul hujan pedang. Namun, pedang – pedang itu tidak mengenai Vali maupun Naruto.

" Lima puluh. " Gumam Naruto saat menghitung jumlah pedang yang Shirou ciptakan.

" Baiklah, ini sudah malam. Aku tidak mau membangunkan siapapun. Ayo kita kembali. " Ucap Shirou berjalan meninggalkan halaman. Perlahan pedang – pedang yang Shirou ciptakan berubah menjadi serpihan cahaya biru.

" Walaupun dia ada di peringkat ketujuh, dia sekuat ini. Aku yakin dia masih memiliki beberapa kemampuan. " Ucap Naruto

" Ya. Inilah kekuatan para pillar. " Ucap Vali.

.

.

.

Keesokan harinya

Naruto duduk di ruang santai sambil menikmati sarapan yang ia buat. Hari ini adalah hari Sabtu, para murid lainnya pasti masih tidur.

" Kau sudah bangun, ya, Naruto-kun. " Terdengar Shirou memanggil Naruto. Dia membawa segelas teh hijau dan dorayaki.

" Senpai sendiri untuk apa bangun di Sabtu pagi. "

" Aku tumbuh di daerah konflik. Aku harus selalu waspada walaupun saat aku tidur. Tidur selama 5 menit sehari sudah cukup untukku. " Ucap Shirou.

" Aku mengerti. "

" Naruto-kun, apa kau mau mengambil misi denganku? " Tanya Shirou

" Misi? "

" Selain pelajaran di sekolah, sekolah ini memiliki misi. Bisa dibilang sekolah ini memiliki prinsip seperti sekolah militer. Misi adalah salah satu cara untuk mendapatkan nilai praktek dan uang tambahan. Semakin tinggi ranking misi, semakin tinggi nilai dan bayarannya. " Ucap Shirou

" Bagaimana jika kita mati saat melakukan misi? "

" Kita akan dianggap lulus. Itu saja, simpel. "

" Apakah hanya kita berdua? "

" Tidak. Aku akan mengajak Sasuke-kun dan Mito-kun. "

" Baiklah, aku akan ikut. "

" Besok kita akan berangkat. " Ucap Shirou sambil duduk di kursi goyang miliknya. " Ah~ Teh hijau di pagi hari memang nikmat~ "

" Ohayou, minna. " Terlihat Tobio dan Miya sudah dengan pakaian rapi.

" Ah, kalian mau menjalankan misi, ya? " Tanya Shirou

" Itu benar, Emiya-senpai. " Jawab Miya

" Oke. Hati – hati. " Ucap Shirou

" Arigato, senpai. "

" Naruto, kami pergi dulu. " Ucap Tobio

" Oke. "

.

.

.

Di gerbang depan Blue Star Dormitory

" Hah... Mengapa kau memanggil kami di hari Sabtu, baka. " Ucap Shirou

" Ada hal penting yang ingin kukatakan pada kalian semua. " Ucap seorang pria yang seumuran dengan Shirou.

" Mentang – mentang kau First Pillar, kau bisa seenaknya. " Ucap Shirou

" Jangan seperti itu, Shirou. Kita ini teman, kan? " Tanya si Frist Pillar

" Terserah. "

" Eto... Emiya-senpai. " Terdengar suara perempuan memanggil Shirou

" Ah, Tenshin-kun. Ada apa? " Tanya Shirou

" Apakah Naru ada di dalam? "

" Naru? "

" Maksudku Namikaze Naruto. Apa dia ada di dalam? "

" Seingatku dia sudah pergi. "

" Begitu, ya. Terima kasih, Emiya-senpai. " Ucap perempuan itu lalu pergi

" Kau berbohong, ya. " Ucap First Pillar

" Entahlah. Ayo pergi ke ruang rapat. Aku harus mempersiapkan diri untuk misi besok. " Ucap Shirou

" Oke. Santuy. " Ucap First Pillar sambil berjalan menuju ruangan para pillar yang diikuti Shirou

.

.

Ruangan para pillar

" Baiklah, jadi semuanya sudah sampai di sini. " Ucap First Pillar

" Baiklah, apa yang akan kita bicarakan? " Tanya Shirou

" Tenanglah, Emi-tan. " Ucap Third Pillar

" Sudah kubling berapa kali untuk tidak memanggilku Emi-tan, ********! " Ucap Shirou emosi.

" Sudahlah, ****. Kau juga Shirou. Kau harusnya tahu begaimana sifatnya. " Ucap Fourth Pillar

" Banyak bacot kau, *****. Sudah cepat selesaikan rapatnya, aku harus menyiapkan banyak hal untuk misiku besok. " Ucap Shirou jengkel

" Emiya-senpai. "

" Ada apa? " Tanya Shirou pada orang yang memanggilnya.

" Aku ingin melakukan battle lagi denganmu. " Ucap Sixth Pillar

" Untuk apa kau melawanku? Yang harusnya kau lawan itu ******, bukan aku, ********. Selain itu kau sudah mengalahkan pemilik 6th Pillar sebelumnya, kan? " Ucap Shirou

" Tidak. Dia bukanlah ahli pedang. Aku hanya ingin mengalahkan ahli pedang. ******-kun bukanlah ahli pedang. " Ucap Sixth Pillar

" Akan kulakukan setelah menjalankan misi. " Ucap Shirou

" Baiklah, kalian sudah selesai, kan. ********, seharusnya kau lebih dewasa. Kau adalah Kepala Dewan Kedisiplinan. Kau juga Shirou. Kau seharusnya tidak melakukan hal seperti itu. " Ucap First Pillar'

" Terserah aku, sih. " Balas Shirou cuek

" Kau terlalu santai dalam battle sampai – sampai kau dikalahkan oleh pemilik Fifth Pillar sebelumnya. Itu membuat nama baikmu sebagai kelas 3 hancur. Kau berada di bawah ****** dan ******** yang berada di kelas 2. " Ucap First Pillar

" Hidupku itu milikku sendiri, *******. Apa kau ingin melawanku dengan mempertarukan gelarmu sebagai First Pillar? " Tantang Shirou

Seketika keluar pendar berwarna merah kehitaman di tubuh First Pillar. Di sisi lain, Shirou mengeluarkan pendar berwarna biru untuk membalas intimidasi dari First Pillar. Lalu, First Pillar menghilangkan pendar merah di tubuhnya.

" Jika kau sudah serius aku tidak akan mengalahkanmu. Baiklah, mari kita mulai akan menentukan peserta Festival Bulan Biru untuk mencari penerus dari kita. Dengan kata lain, pengganti dari aku, *****, ********, *****, dan Shirou. " Ucap First Pillar.

" Siapa yang akan kalian rekomendasikan, minna-san? " Tanya Third Pillar

" Aku merekomendasikan Namikaze Naruto. " Ucap Shirou

.

.

.

Di suatu tempat

" Semua siap. "

" Siap. "

" Tembak! "

Dan dengan teriakan itu, ribuan anak panah melesat ke sebuah desa. Panah – panah itu memburu semua warga yang ada. Lansia hingga bayi, tidak ada yang terlewat. Teriakan dan ratapan terdengar di antara para warga. Menciptakan melodi kematian yang menusuk hati.

" Masih ada yang selamat. "

" Dia perempuan, ya. Bawa dia. "

" Ha'i. "

.

.

.

TBC

.

.

.

Yo

Ketemu lagi dengan saya

Alexander Nicholas

.

.

Ya, karena hari Sabtu saya gabut, saya memutuskan membuat lanjutan FF ini.

.

Di sini ada update tentang anggota lain dari 10 Pillar. Lalu, mulai chapter depan, Naruto akan memulai misi dan akan masuk ke alur utama

Dan ya... Heroine kali ini adalah Gabriel sang Pillar Cahaya.

.

.

.

Sekian dulu chapter 2 dari Human with his Blade

Saya Alexander Nicholas

Sampai jumpa chapter depan

Bye~