.
.
Segerombolan orang berduyun-duyun memasuki kastel dalam lautan emas, perak,dan baja mengilap, tiga ratus orang jumlahnya, rombongan gilang-gemilang yang terdiri atas para pengikut dan kesatria, pasukan yang bersumpah setia dan prajurit bayaran.
Mordred Pendragon melihat dengan tatapan licik para segerombol orang yang berada di bawahnya dari kursi singgasanan. Tangan kanannya menopang sebelah pipi disertai wajah yang dipolesi seringai keji.
Daniel Von Blumenthal, yang berdiri di sebelah Mordred, maju beberapa langkah ke depan. Ia melihat dengan seksama semua orang yang berkumpul di lantai bawah tangga.
"Baiklah! Seperti yang kalian ketahui, bahwa, banyak dari bangsawan kerajaan yang menentang kepada raja Mordred …"
Segerombolan orang-orang yang di sana sama-sama mendongak dalam diam mendengar ajudan dari raja Mordred itu mulai berbicara.
"… bangsawan-bangsawan itu telah menunjukkan beberapa kali pemberontakan kepada kita … dan kita tidak bisa membiarkan mereka begitu saja! Oleh karena itu …"
"… raja Mordred memerintahkan kepada kalian untuk … kumpulkan sebanyak-banyaknya orang-orang kalian! Perangi mereka! Tidak perlu melakukan negosiasi! Kalian boleh menjarah harta-harta mereka jika kalian berhasil menumbangkan mereka yang menentang kepada raja Mordred!"
Perintah-perintah yang disampaikan oleh Daniel membuat sekumpulan orang-orang di sana menyeringai bengis. Bahkan beberapa dari mereka ada yang tertawa sinis dengan pelan.
Daniel menuduk dan mengangkat tangan kirinya untuk berdehem sedikit, kemudian ia kembali memandang kepada orang-orang di sana dengan tatapan serius.
"Lakukanlah perintah raja Mordred! Dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian mau!"
Setelah itu, segerombolan orang-orang itu mulai bersorak-sorak keras, bahkan sampai-sampai ada yang tertawa-tawa keji dengan keras di antara tenggelamnya bersama sorak-sorai orang-orang.
"AKU AKAN KAYA!"
"AKAN KURUSAK ISTRI-ISTRI DAN PUTRI-PUTRI MEREKA!"
"AKAN KUHANCURKAN MEREKA SEMUA!"
"BUNUH! BUNUH!"
"AKU CINTA TERIAKAN-TERIAKAN PENDERITAAN!"
"HAHAHA …"
"… HAHAHA …"
"… HAHAHA!"
Seruan-seruan serta tawa-tawa penuh nafsu dan gairah bercampur menggemahi ruangan kastel Camelot. Mereka menyuarakan dosa-dosa mereka begitu jelas tanpa pengecualian. Tanpa moral, tanpa nurani, mereka mengulas semua keburukan hati mereka kepada penyaksi.
Mordred ikut tertawa sinis dengan terbahak-bahak. Teriakan-teriakan yang terdengar olehnya, bak nada-nada musik yang sangat indah di telinganya.
Sedangkan Daniel hanya menyeringai bengis dengan kedua tangan yang mencengkram di belakang pinggangnya.
Kemudian Mordred menghentikan tawanya dan berdiri dari kursi. Ia berjalan ke depan beberapa langkah dengan pijakan-pijakan yang angkuh.
"BAIKLAH KALIAN SEMUA! KUMPULKAN PASUKAN!"
Sorak-sorai bertambah keras setelah Mordred mengatakan itu. Setelah itu, segerombolan orang-orang itu mulai berbalik melangkah keluar kastel dengan langkah-langkah gembira dicampuri gairah-gairah yang tak terbendung.
Mordred berbalik dan kembali duduk di singgasananya setelah semua orang itu pergi meninggalkan ruangan dengan keburukan-keburukan mereka yang tumpah.
Daniel berbalik dan memandang datar kepada Mordred yang sudah duduk dengan posisi angkuhnya di singgasana.
"Apakah anda akan ikut pergi melakukan penyerbuan ini?"
Mordred menyeringai mendengar pertanyaan Daniel kepadanya.
"Biarkan saja orang-orang bodoh itu melakukannya, kita cukup menunggu dan menikmati di sini. Ohya …"
"… panggil para knight round table untuk datang kemari! Ada yang ingin kusampaikan kepada mereka."
Daniel dengan tanpa membantah ataupun bertanya-tanya menundukkan kepalanya kepada Mordred.
"Baik, My Lord."
Setelah itu, Daniel berjalan menuruni tangga dan mulai keluar ruangan itu untuk melaksanakan perintah rajanya itu.
Mordred hanya menyeringai melihat itu. Ia kemudian dengan santai menyandarkan punggungnya dan menopang pipi kirinya dengan tangan kiri.
"Ah, selanjutnya mungkin aku akan mencoba menguasai negara lain."
Sisi teratas arunika mulai menampakkan diri di atas horizon timur. Membawa kesegaran yang membelai-belai sejuk di setiap tubuh yang tertepa kemampuannya.
Dalam angka-angka kilas balik, tidak pernah memberitahu bahwa matahari yang terbit pernah memberikan emosi-emosi negatif kepada si penerimanya. Mungkin ada di antara triliyunan makhluk yang hidup, namun jika itu didapati, sebenarnya bukan si surya lah yang menyeludupinya.
Keburukan tidak akan pernah berhenti membiarkan kebaikan ataupun kesucian, menyelimuti dengan hangat setiap makhluk. Laiknya pakaian putih bersih yang digunakan anak-anak bermain sepak bola, kubangan lumpur bekas hujan tidak akan membiarkan baju itu pergi dibawa pulang tanpa sedikit noda darinya.
Matahari ketika itu mulai sedikit lagi naik, sehingga menampakkan setengah permukaannya. Sabana yang ditumbuhi tanaman-tanaman yang sehat, tertepa sinar-sinar matahari yang membuat mereka menunjukkan tanda-tanda kehidupannya tanpa bermalas-malasan.
Di tengah-tengah sabana pun, terlihat 2 orang sedang berjalan berdekatan; satu orang pria berambut merah bertubuh kekar dan besar, dan satu lagi pria jangkung dengan surai pirang pucat. Mereka adalah Alexander dan Naruto.
Alexander yang berjalan sedikit lebih ke depan dari Naruto, menoleh ke belakang untuk melihatnya.
"Apa kau berpikiran sama sepertiku, Naruto? Caesar terlihat seperti orang yang berbahaya."
Naruto berjalan dengan menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar.
"Mungkin." Ujar Naruto singkat.
Alexander kembali mengalihkan pandangannya ke depan sembari tetap meneruskan langkahnya.
"Aku merasakan keganjilan mengenai apa-apa yang diucapkan olehnya,"
Kedua tangan Alexander mencengkram di masing-masing sisinya. Rahangnya sedikit mengeras.
"Bagaimana mungkin dia mengatakan bahwa kita dimanfaatkan. Atau mungkin ..."
"... dia benar-benar tahu ada yang salah di antara kita."
Naruto hanya tetap diam dengan ekspresi datarnya yang berjalan di sisi belakang Alexander.
"Sepintas, Caesar memang terlihat seperti orang yang memikirkan orang lain. Tapi, aku merasa dia seperti memiliki maksud lain dari dirinya. Seperti ..."
Alexander semakin mengeraskan rahangnya. Kedua cengkraman tangannya pun juga semakin mengerat.
"... ada yang dia incar di balik penaklukan ini."
Naruto sedikit menoleh kepada Alexander di depannya, kemudian mengangkat sebelah alisnya.
"Seperti dirimu, aku juga merasa orang itu memiliki maksud yang tersembunyi dari semua ini. Bahkan, dia memutuskan pergi sendirian dibandingkan kita yang saling berpasangan. Tapi ..."
Naruto kembali memandang ke depan dan menutup kedua matanya. Ia berjalan dengan sedikit menunduk.
"... aku tidak tertarik."
Alexander menoleh lagi ke belakang dan menatap Naruto dengan alis yang bertaut.
"Apa sikap tidak pedulimu itu sudah melekat dari dulu, Naruto? Kau seperti tidak cocok untuk menjadi orang yang dimintai tolong dari dewi Merlin."
Naruto semula diam beberapa saat sambil terus berjalan dengan kedua mata yang masih tertutup.
"Kau tidak berhak berbicara seperti itu. Jika ingin protes ..."
Naruto membuka matanya, dan memandang datar ke arah Alexander.
"... lakukanlah pada dewi itu yang sudah menghilang entah ke mana."
Tatapan datar Naruto membuat Alexander tertarik, iapun menoleh ke depan sembari mengangkat sudut bibir kanannya ke atas.
"Tidak, aku tarik kembali kata-kataku. Ada sesuatu yang menarik dari dirimu yang membuat dewi itu juga memilihmu."
Naruto kembali menunduk dan menutup matanya lagi, menimbulkan kesan yang tidak tertarik padanya mengenai apa yang dikatakan Alexander tentang dirinya.
Mereka pun sama-sama diam sembari menuruskan perjalanan untuk pergi ke tempat salah satu keluarga kerajaan yang diketahui memberontak kepada pemerintahan Mordred.
Di pelataran kastel Camelot, berkumpul ribuan orang prajurit yang ramai, bak ingin melakukan parade. Mereka laiknya para tentara yang ingin mencoba untuk menaklukkan dunia. Begitu padat, kekuatan-kekuatan yang unggul dengan kelengkapan yang kokoh.
Di antara mereka semua, tidak hanya tentara dengan seragam prajurit kerajaan, namun juga ada yang berkeahlian assassin ataupun pembunuh jarak jauh.
Sorak-sorai memenuhi pelataran bahkan hingga menggemakan kastel. Beribu-ribu orang berteriak kesenangan dengan membawa hasratnya masing-masing, yang diulas dengan sangat jelas di wajah-wajah mereka semua.
Tanpa beraturan, barisan pawai yang berantakan dari mereka semua, memecahkan keributan di antara mereka. Terjadi pertengkaran tak berkeinginan, dan juga pertikaian dengan nafsunya masing-masing.
Di antara keributan yang begitu riuh terjadi, Daniel keluar di balkon kastel dan berdiri di belakang pagar pembatas. Ia berdehem sejenak, kemudian membawa tangan kanannya ke depan wajah. Muncullah lingkaran sihir berwarna ungu di bawah wajahnya.
"Perhatian semuanya!"
Dengan bantuan sihir, suara Daniel mengalun keras sehingga terdengar oleh ribuan orang yang berada di pelataran kastel. Membuat suasana mendadak bungkam.
"Hari ini ada hari pembentukan kembali! Britania adalah milik kita! Dan itu harus berada di bawah kekuasan Camelot! Di bawah pemerintahan raja Mordred! Tidak ada kehidupan bagi yang menentang raja Mordred!"
Suasana yang sesaat bungkam, kembali riuh dengan sorakan-sorakan para prajurit di pelataran kastel, merespon apa-apa yang dinyatakan oleh Daniel.
"Kita akan datangi mereka! Kita akan hancurkan mereka! Semuanya! Dan setelah semua kita dapatkan! Britania sempurna milik kita akan terbentuk!"
Keadaan semakin riuh dengan sorakan-sorakan yang bertambah intensitas. Di antara ombak-ombak suara itu, dari belakang Daniel berjalan Mordred dengan langkah angkuhnya, kemudian berdiri di sebelah Daniel.
Daniel yang melihat Mordred telah berdiri di sebelahnya, memundurkan beberapa langkahnya ke belakang. Setelah itu, ia berdiri diam sedikit di belakang Mordred, dengan kedua tangan ditautkan di belakang pinggul.
Ribuan orang yang berada di pelataran kastel, dalam dongakan mereka yang ketika mendapati Mordred di sana, mereka menjadi diam kembali.
Mordred melihat dengan mata tajam beberapa saat ribuan orang yang berkumpul di pelataran kastel, di bawah tempatnya berdiri. Kemudian ia membuat lingkaran sihir yang sama dengan Daniel dan posisi yang sama pula.
"Prajurit-prajuritku yang berbahaya! Kekuatan kalian akan menundukkan mereka para bau tanah! Mereka bukan bangsawan jika menetangku! Hancurkan mereka dengan semua yang kalian punya!"
Kemudian terjadilah lagi sorakan-sorakan penuh hasrat dan kekejian di antara para prajurit di pelataran kastel. Mordred yang melihat itu menyeringai lebar.
"PERGILAH! DAN JANGAN BERI AMPUN KEPADA MEREKA!"
Sorakan-sorakan bertambah riuh dengan berisik. Di antara mereka juga banyak yang meneriakkan nafsu-nafsu keji dengan suara yang tenggelam.
Setelah itu, mereka pun berbondong-bondong bergerak keluar dari pelataran kastel. Berdesak-desakan karena tergesah-gesah dengan hasrat mereka.
Beralih ke sisi pedalaman Cornwall, di permukaan-permukaan tanah pastur yang subur, terlihat 2 orang saling melangkah tidak berselisihan.
Di waktu pagi yang sudah lumayan tinggi, bau-bau segar yang mulai menguap, 2 orang itu yang adalah Richard dan Diarmuid, sedang berjalan dengan santai.
Sejauh puluhan kilometer mereka telah menempu perjalanan, mereka sama-sama tidak saling berbicara. Mereka berdua seperti sedang dibisukan suaranya, yang membuat mereka laiknya terpenjara dari pembicaraan.
Tidak banyak penyebab yang membuat mereka menjadi seperti itu. Semuanya hanya karena kegelisahan mereka yang tidak berhenti dari saat itu. Saat bagaimana Caesar membuat mereka merasa gentar kepadanya.
Padahal, dari sejarah hidup mereka, menunjukkan bahwa mereka adalah pendekar yang tangguh. Terlalu tangguh untuk mampu tertekan oleh desisan murah dari Caesar, terlebih bagi Richard.
Namun, yang tidak mampu untuk mereka bisa menguasai diri mereka adalah, bagaimana cara Caesar, serta fenomena motorik yang dibawanya untuk mendiskriminasi kuasa mereka.
Saat itu di mata Richard dan Diarmuid, Caesar seperti memiliki hak atas diri mereka. Mereka merasa, pergerakan-pergerakan mereka berada di bawah kekuasaan Ceasar. Entah bagaimana hal itu dapat mereka rasakan.
Ketika terus membayangkan hal itu, Richard merasa malu kepada harga dirinya. Bagian dari nalurinya yang apati memunculkan dendam. Tidak bisa dipungkiri, bahwa apa yang dilakukan oleh Ceasar padanya sangat mengganggu jiwanya.
Akibatnya, tanpa sadar Richard berhenti berjalan dan mendadak tubuhnya menunjukkan reaksi aneh. Aura biru gelap membungkus dirinya dengan tipis-tipis.
Diarmuid berhenti di belakang Richard dengan terlonjak, ketika kesadarannya merasa terancam dengan reaksi yang diutarakan oleh Richard. Ia memundurkan kaki kirinya seraya tangan kanannya beralih memegang gagang pedang yang tersampir di pinggang kirinya;
Gagang pedang itu berwarna emas, yang di pangkal gagang pedang itu tertanam permata kecubung ungu.
"O-oy!"
Dengan tenggorokan yang kering, Diarmuid mencoba untuk menegur Richard.
Yang ditegur pun masih tetap berdiri dalam keadaan kaku yang kepalanya menunduk. Richard menggerakkan tangan kanannya untuk memegang gagang pedang yang tersampir di pinggang kirinya;
Gagang pedang yang sama dengan milik Diarmuid, hanya permatanya yang berbeda. Miliknya berwarna biru terang.
Richard menggeser kakinya sedikit ke kanan. Dengan pelan ia memutar tubuhnya ke belakang, seraya sedikit demi sedikit gagang pedangnya ia tarik. Mengeluarkan bilah pedang dari sarungnya.
Namun, Richard langsung tersentak dan kontan menghentikan gerakannya. Sebilah perak murni mengambang di bawah lehernya, dan nyaris mata bilahnya menohok tenggorokannya.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Richard kembali tersentak mendengar suara berat yang mengetuk gendang telinganya. Ia menggerakkan bola matanya untuk melihat ke sana, dan mendapati Diarmuid dengan ekspresi datar yang menjadi pelaku penodongan kepadanya.
Beberapa saat mereka berdiaman dalam keadaan itu, sampai pada Richard yang kembali menyarungkan pedangnya yang setengah dari bilahnya telah nampak itu. Ia kemudian memundurkan langkahnya sedikit.
"Maaf, aku kelepasan."
Diarmuid masih memandang datar kepada Richard dengan posisi yang sama, sebelum kemudian ia menyarungkan pedangnya kembali, tanpa melepas pandangan datarnya kepada Richard.
"Ada apa denganmu?"
Richard semula diam dengan kepala tertunduk ketika ditanya seperti itu oleh Diarmuid.
"Aku tidak tahu. Hanya ketika terus mengingat Gaius, aku merasa marah."
Diarmuid menaikan sebelah alisnya bingung, mendengar apa yang dikatakan oleh Richard.
"Caesar?"
Richard hanya diam, dengan masih mendudukkan kepalanya. Diarmuid yang melihat itupun menghembuskan napas berat yang panjang.
"Wajar kau marah, dia begitu sombong."
Mendengar itu, Richard langsung mencengkram erat kedua tangannya. Rahangnya mengeras secara sadar.
"Mungkin dulunya dia adalah bangsawan dari negeri lain, karena itu dia mempunyai sikap yang seperti itu."
Richard mendongakkan kepalanya untuk memandang kepada Diarmuid yang baru saja kembali berbicara.
Diarmuid menutup kedua matanya. "Aku sama sepertimu, menghajarnya mungkin akan membuat perasaan kita lebih baik."
"Seenaknya juga dia memerintahkan kita seperti ini."
Diarmuid membuka matanya dan langsung memandang heran kepada rekannya itu.
"Kenapa? Kau sepertinya juga keturunan bangsawan karena semarah itu ketika diberikan perintah."
Richard hanya membuang mukanya ke samping ketika ditanya seperti itu oleh Diarmuid. Sedangkan Diarmuid yang melihat reaksi rekannya itu, hanya menaikkan bahunya.
"Terserah dengan urusan kalian itu, tapi …"
Diarmuid berjalan mendekati Richard, kemudian berhenti tepat di sebelah rekannya itu, di arah dia membuang muka. Ketika itu juga, Diarmuid mendelik tajam ke arah Richard.
"… lain kali kuasai dirimu!"
Richard bukannya takut atau merasa terintimidasi oleh Diarmuid, ia malah balas memandang tajam kepada orang itu.
Diarmuid mengabaikan tatapan tajam Richard padanya. Ia kemudian kembali melangkahkan kakinya.
"Kau bisa memperpanjang urusanmu dengannya nanti, mungkin aku akan membantu. Tapi itu nanti setelah tugas kita selesai."
Richard menutup matanya ketika Diarmuid berlalu dari pandangannya.
"Aku hanya malas ketika diperintah."
"Aku tidak peduli."
Richard kembali membuka matanya. Seperti mengabaikan apa yang dikatakan Diarmuid barusan, ia menggerakkan kaki-kakinya untuk menyusul rekannya itu.
"Kau tahu? Aku akan benar-benar membantumu berurusan dengan Caesar setelah ini, jika di sana nanti bangsawannya tidak mempunyai orang-orang cantik."
Diarmuid berbicara seperti itu setelah Richard berjalan sejajar dengannya. Sedangkan Richard kembali menutup matanya mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya itu.
"Aku tidak peduli."
Alis Diarmuid langsung berkedut ketika mendengarnya. Ia kemudian mendelik kepada Richard.
"Ck, kau pendendam sekali rupanya."
Richard mengabaikan tuduhan Diarmuid, membuat rekannya itu kembali mendecih kesal.
Duchy atau Kadipati Wales menempati kurang lebih sepersepuluh dari luas total Britania Raya, dengan luas sekitar 20.779 kilometer persegi (8.020 sq mi). Topografi kadipati Wales sebagian besar bergunung-gunung, dan Snowdonia adalah bagian dari kadipati ini yang memiliki gunung-gunung tertinggi.
Awalnya, ketika Arthur masih memegang kendali pemerintahan di tanah Britania, setiap wilayah bagian dari Britania Raya masih kerap mendapatkan kesejahteraan, begitupun Wales.
Semua penduduk Wales hidup dengan rukun karena diberikan kemakmuran oleh Arthur. Sekitar 3 juta penduduk yang tinggal di wilayah bagian ini, hidup dengan baik-baik saja tanpa mengalami kesulitan yang berarti.
Namun, setelah Arthur dikudeta, dan terbunuh. Kekuasaannya diambil alih oleh anaknya sendiri, Mordred, membuat seluruh wilayah-wilayah bagian yang pro kepada Arthur dirugikan.
Karena pengaruh dari pusat kerajaan di Camelot, atau lebih tepatnya raja baru yang menggantikan Arthur bertindak rezim. Banyak warga dari kadipati Wales yang merantau ke berbagai wilayah di beberapa penjuru dunia, karena pengaruh buruk yang diberikan Camelot kepada Wales.
Karena Wales berada di bawah kukungan monarki dari Camelot, membuat mereka tidak bisa berbuat banyak ketika pemerintahan yang dipegang oleh Mordred, sudah terlalu banyak merugikan mereka.
Duke Cadell Ddyrnllwg sebagai pemimpin dari wilayah bagian ini, tidak bisa berbuat apapun yang bisa menghalangi kepergian dari sebagian rakyatnya.
Karena mereka yang pergi, sudah tidak tahan lagi dengan kesengsaraan yang dihujamkan oleh Mordred kepada mereka. Kemiskinan tanah yang membuat mereka lapar, beban pajak yang menguras kehidupan layak mereka hingga kritis, membuat mereka akhirnya memutuskan untuk pindah.
Mordred benar-benar menghancurkan siapa-siapa saja bagi mereka yang menentangnya. Meski tidak secara kontan, dan benar-benar membunuh mereka, Mordred mengambil semua nyawa mereka dari kesejahteraan mereka yang dulu.
Karena tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menentang Mordred, mereka hanya bisa diam, dan bertahan dari kejahatan-kejahatan yang menimpa mereka.
Tidak ada lagi harapan dari mereka yang tertindas, untuk memiliki kehidupan yang baik jika terus-terusan berada di Wales. Akhirnya, banyak dari penduduk Wales yang benar-benar telah putus asa, memutuskan untuk pergi dari tanah kelahiran mereka itu.
Cadell hanya melihat bagaimana banyak dari rakyat-rakyatnya yang kumuh berbondong-bondong meninggalkan tanah Wales, tanpa mencoba lebih banyak lagi untuk menghalangi kepergian mereka, setelah sebelumnya ia sudah banyak mencoba menyakinkan mereka untuk tetap tinggal.
Namun, Cadell tetap tak kuasa melakukannya. Sebagian rakyatnya tetap memutuskan untuk pergi dari Wales, untuk mencari kehidupan yang lebih layak di negara ataupun benua lain.
Keadaan itu membuat Cadell kalap beberapa saat, ia menolak dengan keras untuk menyalahkan dirinya sendiri. Karena itu ia akan terus membenci Mordred beserta pengikutnya, dan takkan pernah untuk menerima tunduk kepadanya.
.
Di daerah barat laut dari kadipati Wales, tepatnya di Snowdonia. Terdapat 2 sosok yang menyusuri dataran-dataran terjal di tempat itu. Mereka adalah Darius dan Charlemagne.
Sinar matahari siang yang menyengati kulit-kulit mereka, tidak mereka tanggapi. Tubuh mereka tidak dipermasalahkan oleh hal itu sama sekali.
karena juga, suhu masih sangat baik-baik saja untuk dinikmati di waktu-waktu seperti ini ketika berada di Snowdonia. Wilayah yang memang menjadi yang tertinggi dan terdapat banyak pegunungan dari Wales.
"Nah, Char-san."
Darius bersuara untuk memanggil Charlemagne di sebelahnya, setelah mereka berdua habis melewati penurunan.
"Hn?" jawab Charlemagne.
"Apa kau memiliki kecurigaan yang sama denganku? Mengenai Julius."
Darius akhirnya mengeluarkan keresahan yang berada di dalam kepalanya.
"Caesar maksudmu?"
Charlemagne menoleh ke arah Darius di sebelahnya, dan matanya melihat bahwa rekannya itu mengangguk. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
"Tentu saja aku curiga. Dan kurasa, semuanya pun juga curiga kepada orang itu."
Darius mengangguk. "Apa yang dimilikinya sehingga membuat kita mau menuruti perintahnya?"
Charlemagne menutup kedua matanya beberapa saat untuk berpikir, sembari mereka tetap meneruskan langkahnya di tanah yang saat ini cukup horizontal.
"Entahlah, semuanya pasti menanyakan hal itu. Aku pun heran kenapa dia bisa bersikap superior begitu di hadapan kita semua."
Darius mengeraskan rahangnya ketika mendengar itu, kedua tangannya mencengkram erat.
"Seenaknya saja dia memerintahkan kita."
Charlemagne menutup kembali matanya. "Apa lagi dia pergi ke arah barat daya itu sendirian, pasti ada yang diincarnya."
"Aku benci dengan sikap sok memimpinnya itu." Tanggap Darius.
"Kalau aku lebih tidak menyukai sikapnya yang mengambil bagian yang lebih banyak untuk dirinya sendiri. Entah apa itu …"
Charlemagne membuka matanya dan langsung memandang tajam ke depan.
"… sepertinya dia ingin mengambil banyak bagian sendirian."
Kedua bola mata hijau gelap Darius menajam.
"Kau benar, pasti ada hal besar yang diincar olehnya. Sesuatu yang jika dia dapatkan, membuatku semakin membencinya."
Charlemagne memandang ke arah Darius. "Kita harus waspada kepadanya, karena di antara kita semua, hanya dia yang berlaku aneh kepada dewi yang sudah tiada itu."
Darius yang mendengar itu, menggerakkan tangan kirinya untuk mencengkram surai hijaunya di bagian poni, membuat mata kirinya tertutup.
"Setelah ini, aku akan menyelidiki niatnya itu."
Charlemagne mengalihkan pandangannya dari Darius, kemudian menutup itu.
"Kita tunggu dulu sampai ini selesai. Dia bilang akan membebaskan kita, aku penasaran dengan hal itu."
Darius mendelik kepada Charlemagne. "Kau menganggap kita keledai juga, sama seperti yang Julius itu katakan?"
"Bukan itu, lebih baik kita tunggu saja. Karena rasa-rasaku, itu akan menjadi jawaban kenapa kita berada di situasi sekarang ini."
Mata Darius sedikit mengejut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya itu. Ia merasa seperti diingatkan akan sesuatu.
"Ini memang aneh."
Charlemagne sedikit membuka mata kirinya untuk melirik kepada Darius, yang saat ini kepalanya sedikit menunduk dengan bayang-bayang kedua matanya yang sedang mencari-cari.
Setelah itu, ia membuka kedua matanya secara normal. Kemudian sedikit mempercepat langkahnya mendahului Darius.
"Kita percepat perjalanan kita, aku mendapat firasat aneh."
Darius mendongak untuk melihat Charlemagne yang sudah berlalu mendahuluinya, sebelah alisnya naik. 'firasat aneh?' Batinnya.
Secara tiba-tiba langit yang semula cerah mendadak mendung. Angin bertiap lebih kuat dari sebelumnya, dan berlawanan arah.
Hal itu tidak terlepas dari perhatian Darius. Ia menoleh ke arah timur, yang di sana diisi oleh ngarai-ngarai pegunungan yang menyerupai lembah. Tempat darimana angin mengubah arahnya.
Darius menajamkan penglihatannya. 'Sepertinya benar, ada yang tidak beres.'
Beralih ke Somerset, sebuah county yang dipimpin oleh seorang Duke yang berama Stuart. Salah satu kadipati dari kerajaan Britania yang juga menantang kepada pemerintahan yang sekarang.
Kondisi pelik yang terjadi di kadipati ini tidak jauh berbeda dari yang dialami oleh Wales, ataupun daerah lain yang pro kepada Arthur.
Di pelataran luas yang dilapisi marmer, terlihat Caesar sedang berdiri di sana. Di hadapannya berdiri kokoh gerbang untuk menuju ke dalam kastel, tempat Stuart mengerjakan tugasnya sebagai Duke di Somerset.
Caesar memandang kastel abad pertengahan itu dari luar gerbang dengan seringai yang tersemat di wajahnya. Ia berdiri dengan angkuh di sana.
"Kastel yang rapuh."
Kemudian Caesar melangkahkan kedua kakinya untuk memasuki gerbang kastel itu. Seringai angkuh semakin menghias wajahnya.
"Kita mulai permainannya."
