Staying at home day 2

.

.

Hari kedua karantina terasa melelahkan bagi Doyoung, ia mungkin libur dari pekerjaannya tapi ia tidak libur dari bekerja bersama suaminya.

Jaehyun yang tengah bermain bersama Jeno atau lebih tepatnya mengerjai anaknya yang kini menunjukkan wajah meweknya.

Bocah berusia dua tahun itu merengek pada Jaehyun yang menyembunyikan mainannya.

"Eommaa," tangis Jeno mengadu pada ibunya yang berbaring malas di atas sofa.

"Jaehyun sebaiknya kau kembalikan mainanya jika kau tidak ingin mendiamkannya," gerutu Doyoung tapi Jaehyun yang keras kepala justru menarik Jeno menjauh dari Doyoung dan meninggalkannya di dapur lalu berlari bersembunyi di balik sofa.

"Huwaaaaaaa," tangis bocah itu melengking, dan Doyoung hanya melempar tatapan membunuh pada Jaehyun.

Si kecil Jeno berjalan dari dapur menuju ruang tamu dengan wajahnya yang di banjiri air mata dan liurnya.

"Jaehyunnn!" Jerit Doyoung kepada suaminya yang kini tertawa terbahak-bahak.

Doyoung yang tidak tega langsung berdiri menggendong Jeno, mengabaikan nyeri di pinggangnya akibat haid hari pertamanya.

"Ssshh sudah ya sayang," ucap Doyoung mengusap air mata Jeno, putra kecilnya itu membenamkan wajahnya pada belahan dada Doyoung sementara tangannya melingkar erat di leher sang ibu.

Doyoung merutuki Jaehyun yang kini duduk dengan santainya bermain ponsel setelah menangisi anaknya.

"Dasar menyebalkan," marah Doyoung menendang kaki Jaehyun lalu berlalu ke dapur.

Doyoung mendudukkan Jeno di counter meja, ia lalu berkata, "eomma buatkan susu mau?" Rayu Doyoung dan si kecil mengangguk mengiyakan.

Selagi Doyoung memasak air panas, ia membersihkan wajah Jeno dengan kain basah, lalu mengecup pipi gembil sang anak yang tampak menggemaskan.

Setelah matang Doyoung memasukkan air tadi ke dalam botol susu, sebelum memberikan susunya pada Jeno, Doyoung terlebih dahulu mengukur suhunya agar lidah Jeno tidak terluka karena kepanasan.

Selesai dengan acara membuat susunya, Doyoung dan Jeno muncul dari dapur dengan si kecil yang kini menyedot dot susunya riang.

Doyoung mendudukkan Jeno di sofa bersebelahan dengan Jaehyun tapi putranya itu menggeser tubuhnya, sedang merajuk pada ayahnya Jeno pasti tidak mau mendekatinya.

Jadilah Doyoung kini duduk di antara Jaehyun dan Jeno, si kecil bersandar pada sandaran sofa tapi kakinya berada di paha Doyoung sementara Jaehyun kepalanya lah yang berada di pahanya.

Jeno tidak terlalu memperdulikan orang tuanya, ia sibuk menyusu dan menonton tv yang kini menayangkan acara kesukaanya yaitu pororo.

"Apa kau?" Ketus Doyoung pada Jaheyun yang kini mengelus tangan Doyoung yang memijat kaki si kecil.

"Oh ayolah, aku hanya bercanda dengan Jeno, kenapa kau marah seperti ini," balas Jaehyun, biasanya Doyoung tidak akan marah seperti ini jika ia menangisi Jeno.

"Aku lelah, badanku sakit Jaehyun, dan kau hanya menambah masalahku," marah Doyoung tapi Jaehyun justru menanggapinya dengan enteng, pria itu memijat pinggang Doyoung lalu merayap naik ke dua gundukan milik Doyoung.

"Mana yang sakit? Ini yah?" Goda Jaehyun, meremas dan memencet payudara sang istri layaknya mainan, Doyoung yang kesal langsung menepuk tangan Jaehyun. "Jangan menyentuhku".

Tapi bukan Jaehyun namanya, semakin di cegah maka semakin di buatnya. Jaehyun bahkan menciumi perut Doyoung menggoda.

"Ayolah sayang," ucap Jaehyun dengan suara seraknya, Doyoung hanya memakai blouse tipis langsungan sepanjang lutut, Doyoung adalah jenis wanita yang tidak suka memakai pakaian yang menyulitkan dirinya dan Jaehyun menyukai itu.

Jaehyun bahkan membangunkan tubuhnya dari posisi berbaring, bergelayut manja di leher sang istri.

Pria itu melingkarkan satu tangannya di leher Doyoung, menciumi leher sang istri sementara tangan yang lainnya meremas payudara Doyoung nakal.

"Berhentilah, ada Jeno," tegur Doyoung, ia tidak menggubris perbuatan Jaehyun, malas mengomeli Jaehyun yang bebal.

"Ia tidak akan perduli, pororonya sedang muncul dan kau tahu ia tidak akan memperhatikan hal lain selain burung yang tidak bisa terbang itu", rayu Jaehyun lagi, tapi Doyoung masih menggelengkan kepalanya dan berkata ,"Tidak bisa".

"Tapi kenapa?" Tanya Jaehyun dengan wajah kesalnya, kenapa susah sekali sih mengajak istrinya berbuat mesum.

"Aku sedang haid," jawab Doyoung tanpa sedikitpun memperhatikan Jaehyun yang kini memelas sedih.

"Tapi semalam kita masih melakukannya," tutur Jaehyun tidak percaya, bisa saja Doyoung membohonginya.

"Tadi pagi aku dapatnya," dan Jaehyun hanya mengerang kesal.

Sial! Batin Jaehyun.

"Kenapa kau harus dapat," rutuk Jaehyun, pria itu kini duduk dengan posisi yang sama seperti si kecil, menjauhkan dirinya dari Doyoung, merajuk. Pantas saja Doyoung badmood dari tadi.

"Ya karena sudah waktunya Jaehyun," ucap Doyoung malas pada suaminya yang bertingkah melebihi anak kecil.

"Yasudah oral saja," balas Jaehyun dengan moodnya lagi, 'cepat sekali berubahnya' pikir Doyoung.

Dan Doyoung menggelengkan kepalanya, ia tidak mau dan tidak ingin melakukannya lagi, memang Doyoung sesekali mengoral Jaehyun tapi tetap saja ia akan teringat bagaimana Jaehyun memintanya melakukan itu saat hamil Jeno dulu dan Doyoung trauma akan hal itu.

"Tidak Jaehyun, aku tidak mau, mulutku sakit, dan aku tidak ingin menenggak spermamu," jawab Doyoung singkat, istrinya itu bahkan menutup mulutnya.

"Ish menyebalkan," rutuk Jaehyun.

"Terserah," acuh Doyoung yang kini mengusap kepala Jeno yang mengantuk, karena jam tidur siangnya di pakai bermain jadilah Jeno tidur sore.

Dan kini Jaehyun hanya menangisi nasibnya hingga 3-5 hari kedepan, niatnya karantina ini adalah menghsbiskan waktu untuk bercumbu ria dengan Doyoung pupus begitu saja.

Jika hari kerja, Jaehyun sibuk, ia akan pulang dalam keadaan lelah, dan Jaehyun juga tidak tega karena Doyoung pun bekerja dan merawat anak secara bersamaan.

Jaehyun sering menyuruh Doyoung untuk berhenti dari pekerjaannya, tapi wanita itu menolaknya, padahal Jaehyun sendiri saja sudah cukup menghasilkan pundi-pundi uang yang tidak akan habis hingga Jeno menikah sekalipun.

Memang pekerjaan Doyoung santai dan bisa di kerjakan dari rumah karena ia seorang freelance yang kerjanya berdasarkan projek, tapi tetap saja mana Jaehyun tega memaksa Doyoung yang kadang tertidur pulas di ruang tamu menunggunya pulang kerja.

Jika tahu begini, Jaehyun tidak akan mau di karantina.

•Day 2 done•