2 tahun kemudian...

"apakah shion akan datang?"

Sasuke membenarkan dasi hitam yang di pakainya. Onxynya melirik mikoto melalui pantulan cermin di hadapannya,

"aku juga tidak tau." balas si raven pendek. Mikoto menghela napas dalam. Ia menatap punggung putra bongsunya

Setelah itu ia berjalan ke arah sasuke dan berdiri di belakangnya.

"apa kau sudah menghubunginya?"

Mikoto menatap khawatir pada sasuke. Sasuke hanya melirik

"apa maksud ibu? Ibu khawatir pada nya?"

Sasuke berbalik menghadap mikoto dengan sebelah alisnya terangkat tinggi.

"ibu- mikoto mengigit bibirnya sendiri "-juga tidak tau."

Sasuke berdengus mendengar ucapan mikoto. "setelah bertahun-tahun.. Baru sekarang ibu khawatir padanya?"

"sasuke—"

"bukan kah memang dari dulu ibu tidak pernah merestui hubungan kami?"

"sasu-!"

"dan ibu juga tidak datang ketika pesta pernikahan kami berlansu—"

"Sasuke cukup!!?"

Kalimat sasuke terhenti mendengar bentakan mikoto,

Napas mikoto memburu. Ia menatap sasuke yang kini menatap ke bawah

"ibu hanya ingin shion datang ke acara perlantikan mu sebagai pemegang utama uchiha corp. Itu saja!"

"dan setelah itu ibu ingin mengatakan sesuatu yang membuat shion akhirnya akan pergi lagi?-

Mata sasuke terpejam sembari mengambil napas dalam.

"apa ibu pikir aku tidak tau? Ibu lah yang memaksa shion untuk pergi ke amerika, dan menyuruh shion untuk mengatakan pada ku yang ia ada rekan kerjasama di sana?"

Mikoto terdiam mendengar ucapan sasuke. Ia tidak berani membantah. Benar, dia lah yang memaksa menantunya itu ke sana dengan ancaman yang dia akan menyuruh sasuke menceraikan shion. Yah karena pada saat itu ia ingin menjodohkan sasuke dengan seorang wanita yang ia inginkan, Dan setelah satu tahun di amerika sana mikoto mula rasa bersalah dan ingin menyuruh shion untuk kembali ke sini. Namun, sampai saat ini menantunya itu masih tidak bisa di hubungi

"apa lagi rencana ibu setelah ini." sasuke bersedekap dada.

"ibu-"

"menjodohkan aku dengan keturunan hyuga itu?"

Mata mikoto membulat mendengar ucapan sasuke.

"sasuke-kun darimana kau—?"

"mengetahuinya?" sasuke tersenyum tipis. "apa pun yang ibu lakukan. Semua aku bisa tau."

Sasuke mengambil ponselnya dari meja rias dan memasukkannya ke dalam saku celananya.

"kita akan membahas ini di lain hari ibu. Aku ingin bekerja."

Dan Meninggalkan mikoto yang mematung di kamarnya

My Little Bride

"sakura-chan. Turun lah sarapan sudah siap! Sebentar lagi kau akan ke sekolah, nanti kau telat!"

Suara haruno tsunade bergema di rumah dua tingkat itu. Sakura menuruni tangga dengan sebelah tangannya mengorek telinga sendiri.

'Fake mother!'

Gumannya dalam hati ketika melihat penampakan tsunade di hujung tangga, dengan fake smile di wajah nya, mungkin ayahnya ada di samping ibu tirinya saat ini, pantesan! Lakonannya mantap seperti selebriti terkenal. Ingatkan sakura kalau ada competisi mencari bakat pelakon untuk mendaftarkan ibu tirinya!

"selamat pagi sakura-chan."

Tsunade tersenyum lebar. Hampir semua gigi putihnya kelihatan. Okay, sakura merasa mual saat ini. Ia perlukan toilet! Ia perlukan toilet!

"selamat pagi ibu"

Sakura juga memancarkan senyuman lebar. Dan hei! Jika di lihat dengan jarak sangat dekat itu mirip senyuman sinis!

"dan selamat pagi juga papa." sakura berlari kecil ke arah kizashi dan memberikan pelukan kecil di leher ayahnya. Setelah itu ia mengambil tempat duduk di samping kizashi,

Tsunade yang baru berbalik menghadap meja makan langsung melotot melihat anak tirinya, yang dengan seenak jidatnya merampas haknya! Ralat- tempat duduknya

"Sakura?!" teriak tsunade keras.

"huh?"

Kizashi yang sedang membaca koran Langsung melirik tsunade. Begitu dengan sakura sedang melahap roti bakarnya juga melihat ke arah tsunade dengan bingung

Sedar dengan apa yang ia lakukan. Tsunade tersenyum kaku, dengan gerakan perlahan ia berjalan ke meja makan. Ia meletakkan kedua tangannya di hujung kursi kayu itu

"sa-sakura-chan itu kan tempat duduk ibu."

Tunjuk Tsunade senyuman sedikit di paksakan, giginya mengeretak. Apa lagi melihat tatapan sakura yang sok bingung. Membuatnya menahan diri agar tidak meneriakkan sakura seperti biasa

'anak tiri sialan!?'

"tempat duduk ibu?" soal sakura masih dengan mode sok polos. Ia menyeringai dalam diam ketika melihat tangan tsunade yang memutih akibat mencekam kuat hujung kursi makan.

"memangnya kalau tempat duduk ibu kenapa?" sakura memiringkan kepala nya ke kanan. Memandang tsunade dengan bingung

"sakura-chan juga taukan? Yang ibu tidak suka bertukar-tukar tempat duduk."

"jadi?"

Brak!!

"pokoknya kau harus duduk di mana tempat kau selalu duduk sakura-chan! Jangan manja!?"

Tsunade mulai habis kesabaran. Ia mengebrak meja. Kizashi menghela napas. Tanpa berkata apa-apa ia kali ini melirik sakura,

"sakura-!" kata kizashi sembari melipat lembaran korannya. Ia meletakkan korannya di sebelah kopi miliknya.

"baiklah kalau begitu." tsunade tersenyum kemenangan mendengar ucapan pasrah sakura

"ibu tunggu saja aku selesai makan. Okeh"

Atau mungkin tidak! Senyuman tsunade langsung luntur. Tsunade memandang sakura dengan tatapan melotot!

"kau!?-"

Dan sakura kembali membalas tatapan tsunade. Dua Aliran listrik saling bertubrukan memalui kedua mata anak dan ibu tiri itu, kizashi yang melihat itu hanya menghela napas pasrah

"ehem!"

Ia berdehem untuk menghentikan pergaduhan tidak jelas anak dan istri keduanya. Pancaran listrik tsunade dan sakura terputus, mereka berdua menoleh pada kizashi

"papa ingin membicarakan sesuatu dengan sakura." kata kizashi

"-dan sayang." panggil kizashi. "-duduk saja di sini."

Kizashi menepuk tempat duduk tsunade yang sepatutnya tempat duduk sakura,

tsunade menduduki tempat duduk sakura dengan wajah menekuk. Dan sakura menahan diri agar tidak terbahak saat itu juga

"apa yang papa ingin bicarakan?- Tuangkan juga untukku ibu."

Tanya sakura pada kizashi, sembari memberikan gelasnya pada tsunade yang sedang menuangkan susu hangat di gelasnya. Bahkan sakura sempat mendapat tatapan tajam dari tsunade karena dengan seenaknya memerintahnya! Namun karena tidak ingin author penat mengetik tsunade hanya menurut saja. Ia juga menuangkan susu hangat di gelas sakura

"ini."

"terima kasih."

Sakura menyaut gelas yang diberikan Tsunade padanya. kemudian ia kembali memandang kizashi.

"papa.- kizashi menghela napas dalam. "rancangan papa ingin menghantar sakura-chan dulu pada mebuki."

Maksud kizashi adalah istri pertamanya.

"mama?"

sakura yang baru meminum susu hangatnya. Langsung menghentikan gerakannya, ia menatap kizashi dengan mata berkedip lucu. Kizashi mengangguk

"mauuu!!!" pekik sakura senang. Mengabaikan susu yang tertinggal di sudut bibirnya.

"berapa lama aku akan disana?" emerland sakura berbinar memandang kizashi.

"sekitar lima bulan."

"hanya lima bulan?" Semangat sakura langsung luntur

"sakura-chan seperti kurang senang." kata kizashi dengan kesal. Cara sakura berkata seolah ia tidak senang tinggal bersama nya dengan tsunade.

Wajar saja toh. Mana ada anak yang ingin tinggal bersama ibu tiri, benarkan?

Sakura tertawa renyah mendengar omongan kizashi.

"papa bagaimana kalau papa balikan saja sama mama?"

Tsunade berdecak sambil membuang muka. Mana kalah kizashi hanya tersenyum kecil tanpa menjawab soalan sakura

"saku—"

"haruno apa kau ingin terlambat?!" kalimat kizashi terpotong oleh tsunade. Sakura menatap malas pada ibu tirinya

'dasar penganggu!?'

"memangnya sekarang jam berapa?" soal sakura malas

"lihat saja sendiri." balas tsunade acuh. Sakura melihat jam di tangan kirinya

'omaygod?! Setengah jam lagi.'

"ohh tuhan aku telat?!" sakura tanpa berkata apa-apa pada kizashi. Langsung berdiri dan mengambil tasnya. Ia berlari menuju pintu utama

"sakura." dan gerakannya terhenti oleh panggilan kizashi

"huh?"

"pulangnya jangan telat! Karena hari ini juga papa akan menghantarmu pada mebuki."

"baik."

helenachaan