FATAMORGANA

Genre: Drama, Fantasy, BL. Romance

Rated: M

Chaptered

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 1

Suara batu yang bertalu menggetarkan gendang telinga. Peluh mengucur dari atas kepalanya menuju dagunya. Ia pun menyeka aliran air itu dengan punggung tangannya setelah berbagai tumbuhan herbal itu tercampur aduk dalam sebuah cobek.

Tanaman herbal yang telah menjadi bubuk itu ia masukkan menggunakan sebuah corong ke dalam sebuah toples kaca berukuran kecil. Seusai itu ia pun menaruhnya di rak berisikan tanaman - tanaman herbal bubuk lainnya.

Bibirnya membuat sebuah lengkungan lebar, ia puas. Pekerjaannya pada akhirnya selesai dalam waktu singkat.

"Baekhyun-ah! Makan siang!"

"Ye~! Sebentar lagi, hyung!" Mendengar alarm itu dengan cepat tangannya membereskan peralatannya. Tak lupa ia mengambil serbet kecil yang tersampir bebas di atas sebuah kursi untuk membersihkan meja tempatnya meramu.

Dengan langkah tak sabar ia pergi ke tempat lelaki itu berada. Ia berada disana lengkap dengan celemek berwarna hitamnya serta sendok kayu di tangan kanannya.

Wangi masakan pun menyeruak memasuki rongga hidungnya, membuat perutnya meronta - ronta akan makanan tersebut.

Tangan kirinya pun menarik salah satu kursi dari meja makan itu lalu duduk di atasnya.

"Cuci—"

"—Ah, iya maafkan aku," sembari terkekeh ia beranjak dari kursinya menuju wastafel yang jaraknya tak jauh dari kompor.

Aliran air membasahi tangannya yang dipenuhi busa. Dengan apik ia mengusap - usapnya sampai bersih.

"Apa hyung ada jadwal kerja hari ini?" Lelaki bermata bulat itu pun sedikit mendongakkan kepalanya, mengingat - ingat jadwalnya sebagai tabib dalam sebuah pack.

Lelaki itu pun menjentikkan jarinya, "Ah, aku baru ingat bahwa alpha Park menyuruhku untuk datang ke bilik instalansi siang ini."

Bibir tipis milik pemuda di sebelahnya pun mengerucut, "Tidakkah ada satu hari kau berlibur, hyung? Sungguh, aku bosan sendirian."

Lelaki bermata bulat itu pun menoleh padanya dengan tatapan sendu, "Aku harap pun kau bisa ikut denganku ke bilik instalansi."

Baekhyun mengelap tangan basahnya ke sebuah handuk kecil yang tergantung di samping wastafel lalu kembali duduk di tempatnya tadi. Lauk pun tumpah tepat di atas piringnya lengkap dengan semangkuk kecil nasi.

"Apa aku benar - benar tak bisa keluar dari sini, Kyungsoo-hyung?" Matanya berbinar penuh harap pada lelaki yang duduk di seberangnya. Sembari membenarkan letak kacamatanya, lelaki berumur dua puluh lima itu pun menggeleng kecil.

"Kau tau sendiri, Baekhyun. Aku sudah diamanahkan oleh alpha Park untuk mengasuhmu dan mengajarimu tentang apapun yang aku tau. Begitu pula tentang kehadiranmu di dalam pack, itu mungkin akan membuat beberapa wolves terkejut."

Genggamannya pada sumpit sedikit mengencang, "Lalu kenapa aku dibiarkan tinggal disini jika pada akhirnya aku dikurung? Apakah si Park itu tak tau perasaanku?!"

"Tenanglah, Baek," melihat gurat kebencian itu semakin membuatnya iba. Walaupun begitu perkataannya ada benarnya juga. Sebanyak apapun pemimpin pack itu mengirim makanan ke tempatnya untuk Baekhyun, sesering apapun pemimpin pack itu menanyakan kabarnya, takkan mengubah pertanyaan yang terus ada dalam benak manusia itu.

Tentang kenapa ia diselamatkan, kenapa ia dibiarkan tinggal, dan kenapa ia harus dikurung bersamanya entah sampai kapan.

Baekhyun menyumpit makanannya dengan cepat sampai makanan itu kandas. Dengan sedikit bantingan saat menaruh sumpit, lelaki itu membereskan bekas tempat makannya tanpa menunggu tabib itu selesai.

Kyungsoo hanya bisa bergeming ketika anak itu kembali dirundung rasa kesal akan pemimpin pack-nya.

Anak lelaki itu banyak membantunya selama ini. Mengesampingkan sifat manja dan mudah emosinya, sebenarnya anak itu anak manusia terceria yang pernah ia temui. Anak itu pun mudah menyerap pelejaran yang diberikannya sehingga ia dapat dengan cepat mengetahui berbagai jenis tanaman untuk ramuan di umurnya yang masih belia.

Sungguh, anak emas yang disia - siakan oleh kelompoknya sendiri.

Kyungsoo mendongak menatap lantai dua rumah kecilnya. Anak itu pasti akan mengurung dirinya sendiri sampai ia kembali pulang, ramalnya. Kejadian seperti ini bukan yang sekali dua kali baginya, jadi ia sudah hapal jelas apa yang akan dilakukan Baekhyun kelak.

Seusai mencuci bersih alat makannya, Kyungsoo pun bersiap - siap untuk pergi bekerja.

"Baek, aku akan kembali sebelum fajar tenggelam! Jangan lupa menyiram tanaman saat senjadatang, ne?"

Wujudnya pun seketika berubah. Bulu - bulu halus berwarna hazel itu tertiup angin sepoi - sepoi di musim semi dari luar rumahnya. Netra berwarna keemasannya pun kembali menatap ke arah lantai dua untuk memastikan.

"Ye…" mendengar jawaban itu ia pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari sana. Meninggalkan anak manusia itu sendirian, lagi.

∅∅∅—∅∅∅—∅∅∅

Senggukan kecil terdengar di telinganya, bahunya pun terlihat bergetar. Cairan bening itu luruh untuk yang kesekian kalinya sejak pertama kali mereka berjua.

Perkataan rendahan yang ditujukan untuk dirinya sendiri kembali ia lontarkan. Pada dasarnya, ia hanya manusia. Manusia biasa yang tak tau apa - apa.

"Apa alpha Park sangat membenciku sampai - sampai ia tak ingin aku keluar dari pintu depan? Buktinya lihat, aku bisa menemuimu kapan pun kumau."

Para wolves memang terkenal kejam. Namun entah kenapa mendengar cerita Baekhyun membuatnya sedikit… bingung? Terlebih lagi kabar burung yang ia dengar beberapa tahun lalu tentang hubungan mereka dengan manusia.

Ia pun menyuguhkannya secangkir teh melati. Anak manusia itu menatap bayangannya dalam teh itu. Ia terlihat menyedihkan, bahkan lebih menyedihkan dari seekor lalat capung yang hanya hidup satu hari.

Ah, betapa ia berharap menjadi lalat capung saja. Kenapa pula ia masih hidup sampai kini? Bukankah dulu ia sempat hampir mati?

Tuhan memang kejam padanya.

"Apa alpha Park pernah bertandang ke rumah tabib Kyungsoo?"

"Sering, kenapa?"

Lelaki itu kemudian menjentikkan jarinya, seolah baru saja menemukan jawaban dari soal matematika tersusah.

Baekhyun mengernyitkan dahinya, tak mengerti.

"Aku tau ini konyol, tapi bagaimana jika kau berkamuflase menjadi seekor—"

"Tidak! Xiumin, yang benar saja! Aku tidak akan pernah—!"

Jari telunjuk lelaki itu menempel di bibirnya guna memberhentikan aksi tolakannya.

"Dengar dulu, kau ingin tau—atau setidaknya berguna untukmu yang sangat ingin tau sekali kehidupan para wolves," Baekhyun mengedikkan kedua bahunya lalu menyandarkan kepalanya padameja bar.

"Aku tidak sebegitu inginnya mengetahui kehidupan mereka, hanya saja… untuk apa aku meramu banyak obat dan tau cara mengaplikasikannya jika tidak benar - benar dipraktekkan?"

Lelaki itu mengangguk - anggukan kepalanya, perkataan anak manusia itu ada benarnya juga. Untuk anak seusianya, ia cukup cekatan dan mudah mengerti. Jika saja sihir yang ia punya bisa dipelajari secara bebas, mungkin saja ia sudah membagikannya pada Baekhyun.

"Lagipula, seperti yang pernah Kyungsoo-hyung katakan, para wolves sangat peka dengan bau, terlebih bau manusia... " penyihir ulung berumur ratusan tahun itu pun mengetuk - ngetukkan jemarinya pada meja bar miliknya.

"Mereka… sangat membencinya."

Masih mencari jawaban dari perkataan manusia itu, ia pun mencoba untuk mengendus - endus tubuhnya. Wewangian stroberi pun menguar, namun secara bersamaan aroma manusianya masih tertangkap oleh indera penciumannya, dan hal itu masih membuatnya buntu.

Setelah penyihir itu mengendusnya lalu melihat ekspresinya yang mengatakan bahwa aroma tubuhnya masih tercium, ia merengut.

"Andai saja ada ramuan penghilang aroma…"

Tubuh itu terlonjak kaget ketika sang penyihir tiba - tiba saja terjatuh. Dan sialnya kulit putih milik penyihir itu tergores oleh lantai kayunya. Ia meringis lalu melihat sebuah botol kaca berukuran kecil yang berisi cairan berwarna ungu.

Dengan rasa penasaran, penyihir itu pun meraihnya lalu menyimpannya di atas meja bar. Sembari mengingat - ingat, ia pun membuka tutup botol itu lalu iseng memasukkan setetes cairan itu pada teh melati miliknya.

"Ramuan apa?"

"Entah, aku pun lupa."

Sembari mengaduk - aduk tehnya ia pun kembali berpikir, "Aku berandai - andai jika aku pernah membuatnya…"

Tanpa sadar jari telunjuk dan ibu jarinya mengapit gagang cangkir lalu mendekatkannya pada bibirnya. Ketika hampir saja minuman itu jatuh ke dalam mulutnya, rongga hidungnya lebih cepat menangkap baunya. Ia mengernyit saat mendapati bau aneh dari minumannya tersebut.

"Apa aku yang lupa atau apa—sumpah, minumanmu teh melati, bukan?" Baekhyun mengangkat cangkirnya lalu mengendus aroma melati yang menyengat dari dalam cangkir itu.

Baekhyun mengangguk lalu menyodorkan cangkirnya pada penyihir itu. Penyihir itu pun kembali mengendus, dan benar. Teh yang dimiliki Baekhyun adalah teh melati, sedangkan miliknya…

"Kenapa… teh ini berbau buah persik? Kau tau sendiri kan… aku tidak pandai membuat teh selain teh melati."

Baekhyun pun seketika merampas botol kecil itu lalu mengendusnya. Tanpa berpikir panjang ia langsung meminum isi botol itu hingga habis.

Melihat itu Xiumin langsung merampas botol itu kembali dengan wajah panik, "Baek! Yang benar saja! Jika ramuan ini menolak tubuh manusia bagaimana?!"

Baekhyun mengedikkan kedua bahunya tak peduli. Saat ini hanya ada dua opsi yang akan terjadi. Pertama, aroma manusianya akan hilang tergantikan aroma buah persik sama seperti teh milik Xiumin. Dan kedua, perkataan Xiumin benar bahwa ramuan itu tidak cocok untuk manusia dan bereaksi seperti racun di tubuhnya.

Dan benar saja…

"U—uhuk!" Baekhyun terjatuh ke atas lantai kayu itu sembari menekan perutnya. Ia tak henti - hentinya terbatuk sampai warna merah menghiasi lantai itu.

Bibir itu membuat lengkungan tipis, ternyata takdir memilih opsi kedua. Masa bodoh dengan hidup, bukankah sejak awal juga ia tak berguna di bumi ini?

"Bodoh!" Xiumin pun melompat melewati atas meja bar-nya lalu mengeluarkan serulingnya secepat yang ia bisa sebelum malaikat maut benar - benar membawanya.

Saat ia mendekati tubuh itu, tak sedikit pun ia mendekatkan bibirnya pada seruling. Aroma buah persik begitu keras menguar dari tubuh manusia itu, mirip seperti omega yang tengah dalam masa heat.

"Ramuan?" seorang wanita bertanya padanya sembari mengangkat botol kecil itu. Ia tersenyum kecil.

"Ramuan ini adalah ramuan yang bersifat kuat namun manjur. Efek sampingnya mungkin cukup menyakitkan untuk manusia, namun percayalah ramuan ini ramuan yang ampuh."

Hal ini pun kembali terjadi padanya. Pandangannya berbayang melihat Xiumin yang hanya menatapnya datar. Akhirnya saat ini terjadi juga, akhirnya ia dapat menatap sang ilahi.

"Apa namanya?" wanita itu pun tertarik dan mulai membuka tutupnya.

"Hoho~ namanya, ya? Bagaimana jika kau yang menamainya?"

Wanita itu pun mendekatkan sisi botol itu dengan bibirnya, "Bagaimana jika kuberi nama Violet? Nama yang cantik, bukan?"

"Violet…" penyihir itu bergumam sembari menatap tubuh tak berdaya itu.

∅∅∅—∅∅∅—∅∅∅

Kyungsoo datang dan dikejutkan oleh kehilangan Baekhyun. Semua perkiraannya salah, anak itu ternyata sudah muak dengan keadaannya selama ini. Ia pun sudah mencari kesana kemari, termasuk ke tempat biasanya ia meramu obat. Namun ia tetap tidak bisa menemukannya!

Nahasnya, alpha Park sedang bertandang ke rumahnya untuk menemui Baekhyun saat ini.

Emosi sang alpha seketika tersulut ketika Kyungsoo berkata bahwa anak manusia itu tak ada di rumahnya. Binar khawatir terpancar jelas pada obsidian berwarna merah darah itu. Mereka pun berinisiatif untuk mencarinya ke dalam hutan belantara, tepat berada di belakang rumah Kyungsoo.

Jarak rumah tabib itu terbilang cukup jauh dari jangkauan wolf lainnya. Itu karena alpha Park sendiri yang memintanya untuk sekedar menjaga anak manusianya. Dan Kyungsoo menyetujuinya, atau dengan kata lain, hanya dia satu - satunya tabib yang ingin menjaga Baekhyun layaknya keluarga sendiri.

Sang alpha melolong memberitau wana bahwa ia sedang mencari anak manusianya, berharap ada jawaban dari pencariannya. Netranya mengedar kesana kemari mencari sang anak, namun hasilnya tetap nihil dan hari semakin gelap. Senja mulai terbenam tergantikan malam.

Kyungsoo menatap sang pemimpin dengan wajah sendu, "Maafkan saya alpha Park, saya lalai…"

Kyungsoo belum pernah melihat pemimpinnya sesedih ini setelah hari itu, dan jni pertama kalinya. Ia seperti sedang kehilangan anak semata wayangnya.

"BYUN BAEKHYUN!"

"Kenapa kau tidak ingin mengubah margamu, anak manusia?"

Anak manusia bersurai hitam legam itu pun tersenyum kecil padanya, "Karena Byun adalah marga ibuku, dan aku sangat mencintainya!"

Kepala pack itu terus - menerus memanggil anak manusianya. Hati siapa yang tak retak mendengar lolongan kesedihan itu di dalam heningnya hutan belantara tanpa mendengar adanya jawaban. Hingga pada akhirnya kepala pack itu terlihat putus asa karena usahanya yang sia - sia.

Melihat sang pemimpin tiba - tiba mengubah wujudnya lalu tertunduk lemas, sang tabib hanya bisa menepuk punggung ringkihnya dengan kaki depannya. Tabib itu merasa punggungnya bergetar, dan ia tau bahwa pemimpin pack itu tengah menangis.

"Anakku…" Sebutan yang biasanya hanya ia sematkan untuk anak semata wayangnya seorang.

Kyungsoo pun melingkari tubuh ringkih itu dengan tubuhnya lalu menghangatkannya dengan bulu - bulu tubuhnya, berharap hatinya cepat membaik dan menemukan Baekhyun dengan segera.

"Menarik."

Suara itu seketika membuat keduanya memasang siaga. Kedua pasang netra itu mengedar tajam mencari sumber suara. Sampai suara gemersik semak - semak membuat mereka berpusat pada semak - semak itu.

Seorang lelaki bersurai pirang pun menampakkan wujudnya. Kedua wolf yang tadinya hendak menyerang tiba - tiba terhenti karena mantra yang lelaki itu ucapkan.

"Dia ada bersamaku."

∅∅∅—∅∅∅—∅∅∅

"Kau bisa memanggilku ayah."

Anak itu mengernyit mendengar penuturannya. Melihat ekspresi tak mengenakkan darinya, ia pun terkekeh canggung.

"Jika tidak mau—"

Tetesan air itu menyentuh punggung tangannya yang dingin. Melihat dadanya yang dihiasi bekas jahitan kembang kempis pun ia sudah bersyukur. Rasa terima kasih yang teramat dalam ia panjatkan kepada sang Dewa karena masih berbaik hati memberi anak manusianya nyawa.

"Tenang saja wolf, aku sudah mencoba memperbaiki beberapa organnya yang sedikit rusak sebisaku," ucap Xiumin di atas sebuah meja sembari melihat deretan kukunya yang berkilau, tak mengindahkan kedatangan mereka ke tempatnya.

Padahal ia sendiri yang mengundang.

Kyungsoo bersujud hormat padanya, "Terima kasih yang amat sangat penyihir muda—"

"Umurku sudah 570 tahun."

"—maksud saya tua, karena telah menyelamatkan permata pemimpin saya."

Penyihir bermata tajam itu pun mengerling ke arah sang kepala pack.

"Apa ia benar - benar berarti bagimu, alpha Park?"

Kepala pack pun menoleh padanya dengan kecepatan tinggi, "Bagaimana kau—"

"Jawab pertanyaanku, wolf," potongnya tegas tak mengindahkan bantahannya. Ia sudah cukup lelah menanggapi amukan kepala pack itu sesaat ia datang dan menemui Baekhyun di kediamannya.

Ditambah lagi tuduhannya yang tidak jelas. Masih untung anak manusianya ia selamatkan.

"T-tentu saja…"

"Kenapa kau gugup?" Lelaki paruh baya itu meneguk salivanya dalam - dalam.

"Anak itu 'kan hanya sekedar anak manusia, bukan golongan wolf sepertimu. Lalu kenapa kau bersudi menyelamatkannya tujuh tahun lalu? Bukankah, para wolves membenci umat manusia karenamu dan anakmu?"

Lelaki paruh baya itu menggertukkan giginya mendengar pernyataan fakta tersebut keluar dari mulut sialan penyihir ulung itu. Akan tetapi rasanya terlalu lancang jika ia beraninya mengutuk penyihir itu tepat di wajahnya, terlebih lagi ia sudah menyelamatkan nyawa anak manusianya.

Padahal organ anak manusia itu baik - baik saja sebenarnya.

...mungkin?

"Ini semua karena mate-ku…"

…..

….

..

.

"Abeoji!"

Tubuh itu terlonjak bangun dari tidurnya. Napasnya terengah - engah seolah - olah habis dikerjar oleh anjing rabies, serta keringat dingin mengucur membasahi sekujur tubuhnya termasuk kepalanya.

Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri mencari sang ayah, namun hasilnya nihil. Kakinya pun menyentuh lantai kayu dan melangkah menuju kamar ayahnya. Tangan itu memutar kenop. Gelap pun menyapa indera pengelihatannya, lalu ia memilih masuk ke dalam kamar itu.

Matanya memicing mencari sisa - sisa cahaya dari remangnya bias cahaya rembulan untuk melihat ranjang ayahnya. Namun tetap, hasilnya nihil.

Malam itu, tanpa memedulikan tampilannya, wolf itu beranjak menuju kalangan beta dan alpha yang bertugas malam ini.

"Alpha! Beta! Dimana keberadaan alpha Park?"

Sekelompok wolves itu pun saling berpandangan lalu menggeleng pelan, "Maafkan kami alpha, tapi kami benar - benar tidak tau."

Mendengar jawaban tak memuaskan itu membuat sang alpha menggeram murka. Obsidian berwarna peraknya bersinar tajam menatap mereka.

"Cepat cari! Saya tidak ingin mendengar kabar kematiannya!" titahnya telak.

Malam itu adalah malam yang penuh dengan kekacauan bagi anggota pertahanan.

.

.

.

.

To Be Continued