Chapter 2

...The Genius Magic Student...

Summary: Naruto Namikaze, seorang remaja yang tidak memiliki sihir bawaan sejak lahir. Karena itulah, dia harus memelajari sendiri, sihir yang ada di dunia untuk menjadi yang terkuat.

Disclaimer: [Naruto] by Masashi Kishimoto | [High School DxD] by Ichie Ishibumi | [Fate Series] by Type-Moon | [Fairy Tail] by Hiro Mashima.

This Story by Me

Genre: Fantasy, School Life, Action, Adventure, Friendship, dan mencoba menyelipkan sedikit Humor(yang garing).

Pair: ...x...

Rated: M (For Save)

Warning: Alternative Universe, Magic World, Harem(maybe), OOC(s), OC(s)(mungkin), GaJe, PUEBI Salah, Penggunaan Kata Tidak Tepat, Typo(s), Miss-Typo(s), Alur Berantakan, And Many More.

Enjoy it~


Arc I: MPLS


Chapter 2: Teman Asrama Dan Awal Ujian Tes Akademi Konoha


.

Akademi Konoha. Siapa yang tidak mengenal sekolah sihir terbesar dari Kerajaan Ivalice itu?! Sekolah sihir yang berada di dalam kawasan daerah kota Konoha, yang merupakan salah satu kota termaju di dalam Kerajaan Ivalice. Selain itu, kota ini juga merupakan ibukota dari kerajaan Ivalice itu sendiri, yang dipimpin oleh bangsawan klan Senju.

Akademi Konoha berada di bagian barat dari kota Konoha. Luasnya bahkan hampir mencapai 1/5 dari keseluruhan tanah kota itu. Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya sekolah sihir ini.

Pagi hari di gedung Asrama putra, Akademi Konoha.

Didalam sebuah kamar asrama milik laki-laki, seorang remaja berambut jabrik kuning sedang duduk di meja belajarnya dengan sebuah buku yang sudah setia dari tadi berada di tangannya. Padahal jam masih menunjukkan pukul 05.27, tapi pemuda itu sudah terjaga dari tidurnya bahkan sambil membaca buku. Sesuatu yang jarang terjadi pada anak remaja pada masa sekarang.

Laki-laki itu menutup bukunya dan di letakkannya buku itu pada meja didepannya. Kemudian ia putar kursi yang sedang dia duduki itu dan memandang kamar asramanya yang berukuran 5x3 meter.

"Seperti yang di intruksi 'kan kepala sekolah kemarin ... " gumam Naruto pelan kepada dirinya sendiri, " ... hari ini adalah tes bagi murid baru." Naruto memandang kaca jendela kamarnya. Dari gorden yang telah dia buka tadi, terdapat sinar matahari pagi yang menembus kaca kamarnya.

Seperti yang dikatakan Naruto tadi. Setelah dirinya berada di Akademi selama dua hari, dan menjadi yang ketiga pada hari ini, murid-murid baru sudah diberi tahu kalau akan diadakan ujian pengetesan murid baru, yaitu jatuh pada hari ini. Ujian ini bertujuan untuk mengetes kemampuan calon murid Akademi Konoha dan untuk membuat daftar dari murid-murid berbakat. Juga menentukan seberapa hebat murid yang akan belajar di Akademi ini.

Naruto menghela nafas. Ia mengangkat dan memandang tangan kanannya. Beberapa saat terdiam, dia mulai mengalirkan Mana miliknya dalam jumlah kecil ke telapak tangan kanannya. Seketika, di sekitar tangan berwarna tan itu mulai muncul semacam listrik kecil berwarna biru yang bergerak tak beraturan.

Sssscrreest!

Tak berselang lama, muncul semacam garis-garis terbuat dari Mana yang mulai membentuk sesuatu. Beberapa saat kemudian, garis-garis Mana tadi mulai memadat dan menciptakan sebuah buku bersampul biru polos.

Yaah ... Yang tadi itu merupakan salah satu kekuatan dari sihir Naruto. Seperti yang diketahui, Naruto memiliki [Magic Maker], sihir yang dapat membuat sesuatu. Benda, senjata, apapun itu dapat Naruto buat menggunakan sihirnya, meskipun ada batasan kalau dia tidak bisa menciptakan makhluk hidup.

Sihir yang selalu ia "katakan", merupakan sihir hasil ciptaannya. Bahkan kedua orang tuanya tidak tahu, sejak kapan anak mereka bisa menguasai sihir tersebut. Tidak ada yang tahu darimana Naruto bisa memiliki "pemikiran" untuk menciptakan sihir seperti itu.

Naruto menatap buku hasil "ciptaan" nya dengan bosan. Dia dari tadi memikirkan segala kemungkinan, ujian seperti apa yang akan digunakan pihak sekolah untuk mengetes murid baru pada tahun ini. Naruto memikirkan hal itu karena memang ujian yang digunakan setiap tahun nya itu berbeda. Contohnya saja tahun kemarin, ujiannya adalah membantu warga sekitar Akademi, atau tahun sebelum itu, para murid diberikan soal-soal susah untuk dikerjakan. Sedangkan tahun sekarang, belum ada pemberitahuan ujian tes seperti apa yang akan digunakan pihak Akademi.

Buku ditangan Naruto lenyap meninggalkan semacam butiran-butiran Mana berbentuk debu berwarna biru. Menghela nafas lelah, Naruto pun mulai berdiri dari duduknya dan merenggangkan kedua tangannya kesamping. "Yaah ... memikirkan itu juga percuma saja."

Mata safir itu bergerak dan tidak sengaja menatap sebuah tubuh yang masih tertidur di salah satu ranjang di dalam kamar asrama itu, dengan tubuh yang tertutupi selimut, sehingga hanya menampakkan kepalanya saja.

Naruto hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dari teman sekamar nya itu. Padahal matahari sudah mulai muncul dari timur, tapi remaja itu belum bangun juga. Mencoba untuk tidak memermasalah 'kan hal itu, pemuda berambut kuning itu pun melangkah kearah pintu untuk keluar dari kamar asramanya dan menuju kamar mandi umum laki-laki yang ada didalam gedung asrama putra, dengan membawa beberapa barang yang dibutuhkan tentunya.

Setelah beberapa menit mandi, Naruto pun kembali ke kamar asramanya dengan handuk kecil diatas kepalanya. Saat sudah sampai di kamar, dia mendapati kalau ternyata teman sekamarnya itu belum bangun juga. "Ya ampun. Dia itu mau sampai kapan sih, tidur terus?!" gumam Naruto tidak habis pikir dengan kemalasan orang itu.

Matanya melirik kearah satu-satu nya jam di dalam kamar itu yang sudah menunjukkan pukul 06.49. "Padahal sudah jam segini. Apa dia lupa kalau hari ini adalah MPLS?" kakinya berjalan mendekati ranjang dari orang tadi. Saat sudah disamping ranjang itu, Naruto memandang datar pada tubuh yang tertutupi sepenuhnya oleh sebuah selimut.

Menghela nafas sebentar, tangan nya pun bergerak memegang ujung dari selimut dan menariknya dengan kuat hingga membuat selimut tadi jatuh diatas lantai. Naruto memandang datar seorang remaja laki-laki yang masih tidur dengan memeluk guling miliknya, bahkan mata Naruto juga melihat adanya sungai kecil di bantal milik remaja itu, berasal dari mulutnya yang tersenyum mesum dengan lebar.

Naruto menghela nafas, lagi. Tangan tan miliknya terangkat sedikit keatas, dan dengan mengalirkan sedikit Mana pada tangan kanannya, muncul semacam aliran listrik kecil berwarna biru. Tak berselang lama, tercipta sebuah botol minuman dengan didalam nya terdapat air tentunya.

Naruto melirik botol berisi air di tangan kanan nya sebentar kemudian kembali memandang seonggok tubuh didepan nya. Dengan tanpa perasaan sedikitpun, dia pun menyiram tubuh remaja laki-laki itu dengan air didalam botol yang dia bawa.

Byuuurrrr ...

"Waaaaaahhhh! banjir! banjir! selamatkan barang-barang kaliaaan!" teriak remaja itu dengan keras.

"Pfft, bwahaha."

"Eh?" Remaja tadi yang baru saja Naruto bangun kan dengan cara yang "halus", langsung berekspresi bingung saat mendengar sebuah suara tertawa yang berasal dari sampingnya. Memutar lehernya kesamping kiri, pemuda tadi dapat melihat wajah dari orang yang dia ketahui bernama Naruto sedang tertawa seperti mengejek dirinya.

Mata berwarna coklat milik pemuda itu melihat sebuah botol ditangan kanan Naruto yang masih tersisa sedikit air di dalamnya, kemudian melirik kaos singlet yang dia kenakan untuk tidur terlihat sedikit basah. Otaknya berputar memikirkan kejadian barusan. Dia mulai menyambungkan kejadian antara Naruto yang tertawa mengejek dirinya, botol di tangan pemuda pirang itu, sampai pakaian miliknya yang basah juga muka dan rambutnya.

Setelah beberapa saat, dia mulai mengerti apa yang terjadi. Matanya menatap kesal kearah pemuda dengan marga Namikaze itu. Dengan cepat dia berdiri diatas ranjang miliknya yang sedikit basah, dengan telunjuknya yang mengarah pada hidung Naruto. "Apa yang kau lakukan, sialan!?"

Naruto mengangkat kedua bahunya. Ibu jari kirinya menunjuk kearah jendela kamar mereka yang sudah tertembus sinar matahari. "Kau tidak lihat kalau matahari sudah meninggi. Lagipula hari ini kan MPLS, apa kau lupa, Issei?!"

Issei Hyoudou, itulah nama teman sekamar Naruto. Seorang remaja dengan rambut dan mata berwarna coklat. Wajahnya yang selalu menampilkan senyum mesum pada setiap perempuan, membuat para kaum hawa selalu ingin menjauh dari pemuda itu. Naruto sendiri juga awalnya enggan mengakui kalau Issei itu mesum, tetapi setelah kemarin melihat sendiri kelakuan dari remaja itu yang bisa dibilang sifat mesumnya itu sudah melewati batas normal seorang laki-laki, maka Naruto yang akan paling setuju jika ada yang bilang Issei itu sangat mesum.

Coba kalian bayangkan, jika kalian berjalan bersama seorang laki-laki yang selalu menatap para gadis dengan pandangan yang sangat menjijikkan, tidak peduli bahwa gadis itu dia kenal ataupun tidak. Lalu bagaimana yang kalian rasakan? Tentu saja ingin menghajar wajahnya kan?! Dan itulah yang Naruto rasakan saat itu.

Naruto benar-benar malu jika harus berjalan bersama Issei yang sedang dalam mode mesum. Issei itu tipe orang yang tidak peduli jika yang dia jadikan objek pandangan adalah orang yang tidak dia kenal. Bahkan kemarin, Issei menatap dengan pandangan menjijikkannya pada seorang guru yang dia kira merupakan senpai nya di Akademi. Dan karena itu juga, Naruto hampir kena masalah gara-gara kelakuan dari teman sekamarnya itu.

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku tadi bertanya, kenapa kau menyiram ku dengan air hah?!" teriak Issei tidak terima. Yaah ... tentu saja dia marah, karena dia tadi sedang menikmati mimpinya bersama seorang gadis dan melakukan sesuatu-yang-kau-tahu-apalah-itu. Sungguh mimpi yang menjijikkan.

Naruto tampak berpikir sejenak. "Hmm, membangunkanmu?"

"H-han-hanya karena i-tu ... " Tangan Issei terkepal erat " ... apa kau tidak tahu, kalau aku tadi sedang bermimpi–"

"Aku tidak peduli." Naruto memotong perkataan pemuda didepannya dengan datar. Ya, dia tahu apa yang akan dikatakan Issei, karena itulah dia tidak mau mendengarnya.

"S-sialan kau, Kasanova!"

Pemuda Namikaze itu hanya memutar matanya bosan, kemudian berbalik arah menuju lemari pakaian nya yang ada disebelah ranjang miliknya. "Cepat mandi sana! kalau tidak, kau akan ketinggalan MPLS ..."

Sementara Issei hanya menatap Naruto dengan raut wajah suram. Terdiam beberapa saat, Issei pun mulai menuju lemarinya dan mengambil barang yang dia butuhkan dikamar mandi.

Kaki Issei mulai bergerak kearah pintu asrama, dan membuka pintu itu. "Tunggu saja, Kasanova. Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!"

Braak!

Naruto hanya melirik sekilas pintu itu, kemudian menghela nafas. "Ya ampun ... kenapa aku memiliki teman sekamar seperti dia, sih?!"

.

.

...«T~G~M~S»...

.

.

Tap tap tap

Naruto saat ini sedang berjalan di lorong gedung Akademi menuju kantin. Dia memakai kemeja putih yang dibaluti sebuah blazer berwarna merah dengan lambang Konoha's Akademi di dada kirinya dan semacam motif garis panjang berwarna hitam di beberapa bagian blazer. Blazer itu juga memiliki dua saku diluar dan satu saku di bagian dalam. Sementara bagian bawah, sudah terpasang celana panjang berwarna sama seperti blazer miliknya dan motifnya pun juga sama. Tak ketinggalan sebuah dasi merah yang melilit lehernya dengan sempurna. Sepatu berwarna hitam mengkilat yang dia gunakan terus saja bersuara saat kakinya melangkah menuju tempat tujuan ia pergi.

Dia berjalan dengan tenang. Tangan kanannya, ia masukkan kesaku celana, membuat gelang unik miliknya yang selalu dia bawa kemana-mana itu jadi tidak terlihat. Mata sewarna safir itu melirik pada arloji di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 07.11. 'Hmm, masih ada waktu sebelum MPLS dimulai.' batin Naruto dengan mata yang sudah menatap lurus kedepan.

"Naruto-kun!"

Pemuda Namikaze itu menghentikan langkahnya saat mendengar sebuah suara yang sangat dikenalinya sedang memanggil namanya. Menoleh sedikit kebelakang, dapat dia lihat seorang gadis yang berambut orange kecoklatan dan dua buah telinga hewan yang ada diatas kepalanya. Gadis Demi-human itu juga memakai pakaian yang sama seperti Naruto, hanya saja bagian bawahnya dia mengenakan rok setengah paha, sehingga memerlihatkan kulit putih dari paha miliknya.

Raphtalia terus berlari kecil kearah Naruto, membuat ekor rakun miliknya terus bergerak kekanan dan kekiri. "Hm? Kau sendirian? Biasa nya kau selalu bersama Issei-san." ucapnya bingung saat sudah disamping Naruto. Matanya bergerak sekeliling memastikan apakah orang yang tadi dia sebut ada disekitar sini atau tidak.

Pemuda pirang itu melirik sebal pada Raphtalia. "Jangan mengatakan itu seolah kami ini adalah pasangan, Raphtalia!" ucap Naruto dengan mendengus pelan. Sementara Raphtalia tersenyum gugup dengan tangan kanan yang di kibas-kibaskan.

"Gomen gomen, aku tidak bermaksud seperti itu."

"Haah ... sudahlah, lupakan saja. Kalau soal Issei, mungkin dia masih mandi." Namikaze muda itu kembali memandang kedepan dengan tenang.

"Hah?! Jam segini masih mandi?" Gadis Demi-human itu bertanya dengan heran pada Naruto dan hanya dijawab anggukan oleh pemuda itu.

"Pasti dia kesiangan lagi." gumam Raphtalia.

"Yaah, begitulah ..."

Keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka menuju kantin Akademi. Beberapa kali mereka tampak asik berbicara juga bahkan kadang tertawa bersama. Karena hal itu pula, tidak sedikit murid-murid yang melihat keduanya, menganggap bahwa mereka itu adalah sepasang kekasih.

.

.

.

Setelah beberapa menit berlalu, Naruto dan Raphtalia saat ini sudah duduk di kursi salah satu meja kantin. Didepan mereka masing-masing sudah tersedia makanan yang baru saja mereka pesan.

"Kau pesan itu lagi, Naruto-kun?!" tanya Raphtalia dengan nada yang sedikit tidak suka. Mata orange-nya menatap tajam Naruto yang sedang bersiap memasukkan makanan kedalam mulutnya.

"Apa?" Naruto mengangkat sebelah alisnya. Dia meletakkan kembali sumpit yang sedang ia pegang kedalam mangkuk makanannya.

Raphtalia menunjuk makanan yang dipesan remaja laki-laki itu yang ternyata adalah ramen. "Kenapa dari kemarin kau selalu memesan makanan itu sih?! Kau tahu kan kalau ramen itu tidak baik untuk tubuh, jika kau memakannya terus menerus!"

"Huh? Memangnya kenapa? Aku suka dengan ramen kok!" ucap pemuda itu tidak peduli. Tangan kanannya kembali memegang sumpit yang tadi dia letakkan karena memerhatikan perkataan dari gadis yang saat ini duduk di sebelah kanan kursinya.

Grep. Gadis Demi-human itu memegang tangan kanan Naruto, membuat makanan itu berhenti di udara tepat di depan mulut dari si rambut pirang. "Tunggu dulu ... aku belum selesai bicara!" Mata Raphtalia berkilat saat melihat Naruto yang sepertinya sedang mengabaikan nya.

Naruto menghela nafas sebentar. Matanya menatap uap ramen di depan nya yang menandakan kalau makanan itu masih hangat. "Kalau begitu bicara saja. Apa kau tidak lihat kalau aku sedang sarapan." ucapnya tanpa melirik sedikitpun pada Raphtalia. Benar-benar mengabaikan keberadaan gadis itu.

Naruto menggerakkan tangan kanan nya bermaksud untuk melepaskan tangan Raphtalia. Tetapi bukannya lepas, cengkeraman gadis itu malah semakin kuat membuat Namikaze muda itu meringis kecil karena merasakan sakit di tangan kanannya.

"Jangan mengabaikanku, Baka." Raphtalia berucap dengan nada rendah. Suaranya entah mengapa terdengar begitu dingin di telinga Naruto, bahkan membuat bulu kuduknya terasa berdiri.

Naruto menolehkan kepalanya sedikit kesamping kanan, dan dapat dia lihat Raphtalia yang saat ini sedang menundukkan kepalanya, sehingga membuat matanya tertutupi oleh poni rambutnya. Secara samar, muncul semacam tambahan efek-efek aura hitam di sekeliling nya yang entah kenapa menambah kesan menakutkan bagi Naruto.

Tubuh gadis pemilik rambut orange kecoklatan itu bergetar pelan. Naruto yang melihat itu entah kenapa malah menjadi bingung, 'Kenapa nih cewek? Aku tidak melakukan kesalahan kan?!' batinnya bingung.

"Oi oi ... kau tidak apa kan, Raphtalia?" Tanya pemuda pirang itu dengan tangan yang terjulur untuk menyentuh pundak Raphtalia. Saat tangan Naruto hampir menyentuh pundak gadis itu–

Duaagh!

–dia lebih dulu kena pukulan dari si gadis Demi-human.

.

.

.

"Aduuh ... kenapa kau memukulku, Raphtalia? Itu tadi benar-benar sakit, kau tahu?!"

Naruto saat ini sedang menaruh kepalanya diatas meja kantin. Tangan kanannya mengelus kepala kuning miliknya yang sepertinya sedikit benjol.

"Huh! rasakan itu~" Raphtalia menjulurkan lidahnya bermaksud mengejek Naruto. Kemudian dia melipat kedua tangan miliknya dibawah dadanya yang berukuran sedang. Matanya memandang tajam pemuda Namikaze itu. "Aku paling tidak suka jika diabaikan. Ingat itu baik-baik!"

"Ha'i ha'i, Raphtalia ..." Naruto menghela nafas, kemudian berniat melanjutkan acara makannya yang tertunda.

"Loh? kemana perginya ramenku?!" teriak remaja laki-laki itu dengan kebingungan yang sangat tinggi. Karena hal itu, murid-murid yang sedang berada di kantin pun menatap Naruto dengan pandangan aneh.

"Kau itu berisik sekali, Naruto-kun!"

"I-itu loh ... ramenku tiba-tiba meng– kenapa kau memakan ramenku?!"

"Hm? aku kan tadi sudah bilang, kalau kau jangan terlalu sering makan ramen ... " gadis itu menelan makanan yang di dalam mulutnya, kemudian melanjutkan berbicara " ... itu tidak baik untuk kesehatanmu."

Si pemuda pirang menatap kesal Raphtalia. "Lalu kenapa kau makan ramen, heh!?"

Sedangkan si gadis pemilik surai orange kecoklatan itu hanya tersenyum. "Aku kan tidak terlalu sering makan ramen, jadi itu bukan masalah untukku ..."

Naruto terdiam, tidak menemukan balasan yang tepat untuk menyangkal perkataan dari gadis di sampingnya itu. Si Namikaze muda mendecih pelan. Dia kesal karena kalah berdebat dari seorang perempuan.

Hmm ... Naruto, mungkin kau harus mulai memahami arti dari kalimat "Perempuan Selalu Menang".

Naruto menghela nafas kemudian berdiri dari duduknya. "Eh? Mau kemana kau, Naruto-kun?" tanya Raphtalia dengan sebelah alis yang terangkat.

Naruto menatap bosan remaja perempuan itu. "Tentu saja membeli makanan lagi. Makananku kan sudah kau makan."

"Maaf maaf. Lagipula, kau tidak perlu membeli makanan lagi ... " Tangan Raphtalia menggeser piring miliknya yang berisi makanan dengan kebanyakan berasal dari sayuran, kearah Naruto " ... ini, makan saja milikku. Tenang saja, aku belum menyentuhnya sedikitpun kok." ucapnya dengan tersenyum manis.

Salad, makanan yang terbuat dari campuran beberapa sayur dan buah. Naruto sebenarnya malas untuk makan makanan seperti ini, apalagi pada waktu pagi hari. Tidak, dia bukannya membenci salad ... hanya saja, karena mood nya yang sedang buruk sebab kejadian tadi, dia malas bahkan jika hanya untuk menyentuhnya saja.

"Tidak, terima kasih. Aku akan membeli lagi saja." Tolak Naruto dengan halus. Raphtalia menatap pemuda itu dengan pandangan menyelidik ...

"Hmm ... kau pasti ingin memesan ramen lagi kan?!"

"B-bukaaann!"

"Kalau begitu, makan saja ini! Itu bagus untuk kesehatanmu, kau tahu."

"U-uuh~"

Mata safir Naruto yang tidak sengaja melihat waktu di arlojinya sudah menunjukkan pukul 07.38, langsung menghela nafas, lagi. Entah sudah berapa kali dia menghela nafas untuk hari ini.

'Haah, karena MPLS akan segera dimulai, aku tidak punya pilihan lain untuk memakannya.' batin Naruto pasrah akan keadaan yang menimpanya untuk hari ini. Tentu saja, tidak mungkin kan dia menjalani kegiatan dengan perut "kosong". Dia pun duduk kembali di kursinya.

"Cepat makan, Naruto-kun!"

"Iya iya, kau ini cerewet sekali, sih!"

Naruto mengangkat sendok nya yang sudah berisi salad mendekati bibirnya. Tetapi saat makanan itu sudah masuk kedalam mulutnya ...

Braaakk!

'APA LAGI SEKARANG!' Teriak batin Naruto yang benar-benar hampir habis kesabarannya. Jujur saja, dia tadi hampir tersedak karena terkejut. Tidak lucu kan kalau ada berita yang menyebar di Akademi ini dengan topik "Seorang Pewaris Klan Namikaze Mati Karena Tersedak Makanan". Itu benar-benar tidak lucu sama sekali.

Naruto mendongakkan kepalanya dan dapat ia lihat seorang remaja laki-laki sedang berdiri didepan nya. Dia memiliki rambut coklat dengan gaya rambut yang menurut Naruto pribadi sedikit aneh. Mata coklat milik pemuda itu menatap tajam mata safir biru si pemuda pirang. Yaah ... Naruto kenal siapa nama orang yang saat ini sedang berdiri didepannya. Issei Hyoudou.

'Satu orang aneh sudah datang. Ya ampun~' batin Naruto. Dia yakin, si mesum itu pasti akan memermalahkan sesuatu yang tidak berguna. "Apa?" tanya Naruto malas. Ia melanjutkan kembali acara sarapannya yang sedikit tertunda dengan tenang. Benar-benar tidak menghiraukan keberadaan dari Issei.

"Kenapa kau tadi meninggalkanku, Kasanova?!" Teriak Issei marah. Kedua tangannya meletakkan makanan miliknya yang dia bawa keatas meja.

"Memangnya siapa juga yang mau menunggu seseorang mandi, huh!? Salahmu sendiri yang bangun kesiangan."

"Kau kan bisa membangunkan ku!"

"Aku sudah membangunkan mu."

"Tapi tidak perlu menyiramku juga dengan air kan?!"

"Ooh ... begitu? Baiklah, besok aku akan membangunkan mu dengan minyak saja. Bagaimana?"

"S-sialan kau, Naruto!"

"Sudahlah kalian berdua ... " Raphtalia yang melihat perdebatan dari dua orang yang sudah di kenalnya, mencoba untuk melerai " ... disini itu kantin. Jadi, jangan berisik dan makan saja makanan kalian." Yaah, Raphtalia memang baru kenal Issei kemarin, tapi dia sudah paham kalau mereka berdua pasti akan selalu berdebat tentang sesuatu yang tidak penting, seperti tadi contohnya.

Issei mengalihkan pandangannya kesamping kiri dan dia baru sadar kalau ternyata ada Raphtalia disebelah kanan Naruto. Matanya kembali memandang pemuda Namikaze didepan nya dengan tajam. "Aku paham sekarang. Kau meninggalkan ku, pasti karena kau ingin makan berduaan saja dengan Raphtalia-chan kan?!" tuduh si pecinta payudara itu pada orang yang selalu dia panggil dengan sebutan Kasanova.

"Huh? Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Raphtalia saat menuju kesini, kau tahu."

"Aku tidak peduli. Ayo kita bertarung lagi. Aku tidak terima kalau kau bersama dengan Raphtalia-chan!"

"Haah ... terserah apa katamu. Aku sedang malas meladenimu, Issei."

"Hooo~ kau takut ternyata. Baguslah kalau kau paham, bahwa aku lebih kuat darimu, hmm~"

"Apanya yang lebih kuat?! Kau sudah kalah dariku dua kali kemarin, Sialan!"

"A-apa? Aku saat itu sedang lengah. Dan kau hanya beruntung kemarin."

"Sudah kalah tapi tidak mengaku. Huuu~"

"S-sialan kau, Kasanova!"

Raphtalia yang melihat keduannya malah beradu mulut lagi hanya mengepalkan kedua tangannya erat dengan alisnya yang berkedut kesal. Kalau sudah begini, dialah yang memang harus turun tangan menghentikan keduanya ...

Duagh! duaagh!

... Mereka berdua pun tepar diatas meja kantin.

.

.

...«T~G~M~S»...

.

.

Setelah kejadian absurd tadi, mereka bertiga pun pergi menuju aula Akademi Konoha untuk melakukan kegiatan MPLS.

MPLS singakatan dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, yaitu sebuah kegiatan yang diadakan pihak sekolah agar para murid nya lebih mengenal dari tempat yang akan mereka gunakan untuk belajar. Jika di sekolah umum mungkin akan lebih dikenal dengan sebutan MOS (Masa Orientasi Siswa).

Tapi yang membedakan nya, kegiatan MPLS ini biasanya digunakan oleh pihak Akademi untuk menilai kemampuan murid-murid mereka. MPLS ini sendiri selalu berlangsung selama satu minggu. Dan yang paling penting, setiap tahunnya MPLS ini selalu berbeda seperti yang sudah dijelaskan di awal-awal tadi.

"Hei Raphtalia-chan, kira-kira ... seperti apa MPLS nya nanti?" tanya si pecinta payudara, pada Raphtalia yang sedang berjalan diantara Naruto dan Issei.

Raphtalia memegang dagunya dan memasang pose berpikir, "Hmm, entahlah. Sampai saat ini pihak Akademi masih merahasiakan nya kan?"

"Memang benar sih." gumam Issei. Dia melirik pada Naruto yang berjalan dengan tenang, "Bagaimana menurutmu, Naruto?"

Naruto menoleh pada orang yang bersuara tadi dengan alis yang terangkat sebelah. "Hm? Kau bertanya padaku, Issei?" tanyanya pada si pemilik rambut coklat.

"Kau ini suka sekali cari masalah denganku, ya...?" ucap Issei dengan alis yang berkedut kesal. Dia memasang wajah jengkel dengan mata yang masih menatap Naruto. " ... cepat jawab saja pertanyaanku!"

Naruto mengangkat kedua bahunya kemudian berucap, "Kalau menurutku itu wajar saja. Pihak Akademi merhasiakannya karena memiliki tujuan agar para murid tidak bisa memersiapkan apapun. Itulah mengapa di setiap tahunnya MPLS nya selalu berbeda, kalian tahu itukan?" tanya si pemuda pirang diakhir ucapan nya pada kedua sahabatnya. Raphtalia dan Issei yang mendengar itu pun mengangguk.

Ketiganya terus berjalan sampai mata mereka melihat aula Akademi. Tidak hanya itu, ketiganya juga melihat murid-murid tahun pertama sedang mengantri sambil mengambil sesuatu sebelum masuk kedalam aula. Mengikuti teman-temannya, Naruto, Raphtalia dan Issei juga mengambil sesuatu tersebut, kemudian mulai masuk ke aula dan mencari tempat duduk. Mereka bertiga memilih tempat duduk di bagian tengah-tengah aula.

"Kau dapat angka berapa, Naruto-kun?" tanya Raphtalia penasaran. Dia duduk disamping kanan Naruto, sementara Issei duduk di depan Raphtalia.

"Huh? Angka apa?" jawab Naruto dengan pertanyaan.

Raphtalia cemberut, "Kau ini bagaimana sih! Tentu saja angka di kertas yang kau ambil tadi!"

"Oh, entahlah ... aku belum melihatnya."

"Kalau begitu cepat buka. Aku ingin tahu."

"Iya iya, sebentar." Naruto merogoh saku blazer bagian dalamnya dan mengambil kertas yang tadi dia taruh disitu. Si pemuda pirang kemudian membuka kertas kecil yang tergulung itu kemudian melihat isinya.

"Angka 7."

"Begitu ya. Aku dapat 22."

"Uwoooh benarkah, Raphtalia-chan? Aku juga dapat angka 22." Issei tiba-tiba berteriak keras sambil menoleh kebelakang. Karena kehebohan nya banyak murid-murid yang memandang nya aneh, sinis dan masih banyak lagi.

"Hehehe. Kali ini aku satu langkah di depanmu, Kasanova ... " ucap Issei dengan senyuman lebar " ... aku tahu, maksud nomer di kertas ini pasti digunakan sebagai ajang perkenalan untuk membuat murid lebih dekat dengan murid lain yang memiliki nomer yang sama." kata nya dengan pemikiran yang menurutnya benar. Padahal belum tentu -_-.

"Terserah apa katamu saja lah, Issei." kata Naruto mencoba untuk tidak peduli.

"Hahaha. Aku tahu, kau pasti saat ini sedang frustasi kan, Naruto?! Karena nanti aku dan Raphtalia-chan akan berkencan. Benarkan, Raphtalia-chan?" Issei tertawa kencang. Benar-benar tidak sadar bahwa murid disekitar nya merasa terganggu karena perbuatannya. Sementara Naruto hanya memutar matanya bosan dan Raphtalia yang tertawa garing untuk menanggapi perkataan dari si maniak payudara.

Setelah murid-murid beberapa menit menunggu dengan cara mengisi waktu mereka berbincang bersama teman yang mereka kenal ataupun yang baru saja mereka kenal, acara pembukaan MPLS pun dimulai. Diatas panggung yang memang sudah dipersiapkan, berdiri seorang wanita berambut kuning pucat. Dia merupakan Kepala Akademi Konoha, namanya Tsunade Senju.

Tsunade pun mulai memberikan pidato sambutan pada murid-murid baru yang ada di depannya. Setelah menghabiskan waktu puluhan menit dia pun menyudahi sambutan nya dan menyuruh naik pada salah satu guru untuk menjelaskan tentang acara MPLS.

"Baiklah, akan saya jelaskan acara MPLS pada tahun ini. Seperti yang kalian tahu, bahwa disetiap tahunnya MPLS di Akademi ini akan selalu berbeda. Dan pihak Akademi sudah memutuskan bahwa MPLS ini akan diadakan dalam dua tahap." ucap guru itu dengan mikrofon sihir agar murid yang berada di bagian belakang bisa mendengarnya.

"Di tahap pertama ini kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan nomor yang kalian dapatkan dan setiap kelompok berisi oleh tiga orang. Nah, kalian lihat gambar dua bola orb buatan besar ini?" tanya guru itu sambil menunjuk kearah hologram sihir besar yang ada dibelakannya. Di hologram itu terdapat semacam gambar dua bola orb berbeda warna dan juga tulisan.

"Setiap kelompok atau tim akan diberikan masing-masing satu bola orb buatan. Dan tugas kalian adalah mencari pasangan dari orb yang kalian miliki. Kami sudah menyebarkan bola orb buatan di dalam Dungeon Death Forest, tempat yang akan kalian gunakan di tahap satu ini. Tentu saja kami menyembunyikan nya di tempat yang rahasia agar kalian dapat berusaha mencarinya. Tapi selain itu, kalian juga boleh menggunakan "cara lain" untuk mendapatkan orb buatan itu."

Banyak murid yang memasang ekspresi bingung saat mendengar guru itu mengatakan "ada cara lain untuk mendapatkan orb buatan". Meskipun ada beberapa murid yang memang memiliki otak jenius, paham maksud dari ucapan sang guru, termasuk salah satunya adalah Naruto.

"Seperti yang sudah saya katakan tadi, tempat yang akan kalian gunakan adalah Dungeon Death Forest, tempatnya hanya sebatas pada lantai satu saja. Tujuan kalian selain mencari pasangan orb adalah menuju menara yang ada di tengah-tengah Dungeon. Jika kalian sudah memiliki pasangan orb lengkap, tapi tidak sampai pada menara, maka kalian akan kalian akan dianggap gagal pada tahap pertama. Ataupun jika kalian sampai menara, tapi pasangam orb kalian tidak lengkap, maka kalian juga dianggap gagal. Pada tahap pertama ini kalian akan diberi waktu selama tiga hari, jadi jika ada yang melebihi batas waktu itu kalian akan dianggap gagal. Dan siapapun yang gagal tidak akan mendapatkan nilai."

Murid-murid hanya mendengarkan penjelasan dari guru itu, meskipun ada juga murid yang protes pada peraturan nya. Sang guru melanjutkan ...

"Kurasa cuma itu yang bisa saya sampaikan. Untuk lebih detail nya kalian bisa tanyakan pada guru yang sedang berjaga diluar Dungeon."

Setelah itu semua murid pun mulai berbondong-bondong keluar dari aula Akademi dan pergi menuju tempat Dungeon Death Forest berada.

.

.

.

Naruto saat ini sedang mencari barisan dari kelompoknya berada, setelah berpisah dengan Issei dan Raphtalia. Beberapa menit berjalan melewati barisan para murid yang sedang berdiri didepan Dungeon Death Forest, Naruto akhirnya menemukan barisan kelompoknya yang berisi dua gadis.

Gadis pertama memiliki rambut panjang berwarna hitam keabu-abu-an yang diikat twinstail. Matanya berwarna biru cerah. Tubuhnya tinggi semampai. Ia memakai pakaian khas perempuan Akademi Konoha.

Sedangkan gadis kedua memiliki rambut yang juga panjang berwarna kuning di biarkan tergerai dengan poni yang menutupi keningnya. Matanya berwarna hijau terang. Tubuhnya sedikit pendek dari gadis pertama. Dia juga memakai pakaian khas perempuan Akademi Konoha seperti yang lainnya.

Naruto berjalan kearah dua gadis itu. "Maaf, apa ini benar kelompok 7?" Kedua gadis itu yang mendengar suara mengalihkan pandangan mereka kearah Naruto.

"Ah, iya. Apa kau anggota kelompok yang terakhir?" Naruto yang mendengar pertanyaan dari gadis kedua hanya mengangguk singkat.

Sementara si gadis pertama menatap Naruto dengan intens, mencoba menilai seperti apa pemuda yang ada didepan nya itu. Si pemuda pirang yang menyadari kalau dirinya sedang ditatap oleh salah satu gadis itu hanya menggaruk pipinya gugup dengan jari telunjuknya.

"Err ... apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Naruto membuat gadis pertama yang sedang menatapnya intens, menghentikan kegiatannya.

"Oh, bukan apa-apa." Gadis itu menggeleng pelan. Kemudian dia memerkenalkan dirinya dan gadis berambut kuning disebelahnya, "Kalau begitu perkenalkan, namaku Rin Tohsaka dan dia Asia Argento." ucapnya sambil tersenyum. Gadis bernama Asia itu juga tersenyum menatap Naruto.

Naruto mengangguk. "Namaku Naruto Namikaze, salam kenal." ucapnya dengan tersenyum tipis.

"Hoo ... Bangsawan Namikaze, hm?" gumam gadis bernama Rin tertarik.

"Err, begitulah." Ketignya pun terus berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan guru.

Setelah itu, seorang guru menghampiri mereka dengan memberikan sebuah orb buatan sebesar bola pim-pong. Orb itu berwarna ungu dengan tulisan kanji "Bumi".

"Nah, karena kalian mendapatkan orb "Bumi", maka kalian nanti harus mencari orb "Langit". Apa kalian mengerti?" tanya guru itu.

"Ha'i!" jawab ketiganya serempak.

"Dari sini, kelompok kalian akan di teleportasikan oleh guru menuju kedalam Dungeon dengan pos yang berbeda dari kelompok lain. Jadi tunggulah sampai giliran kalian tiba." Setelah mengucapkan itu, guru tadi pun kembali ke barisan para guru.

Beberapa menit ketiganya menunggu, akhirnya pemberangkatan untuk memulai ujian MPLS pun dimulai. Naruto, Rin dan Asia maju kedepan seorang guru untuk di teleportasikan menuju kedalam Dungeon dengan tempat yang berbeda dari kelompok lain.

"[Time-Space Magic: Teleportation]"

Muncul lingkaran sihir besar berwarna putih dibawah kaki tiga remaja itu, sebelum akhirnya ketiga nya diselimuti cahaya terang dan menghilang dari tempat itu, menuju kedalam Dungeon Death Forest.

Ujian tes Akademi Konoha, dimulai!

.

.

.

ToBe Continued


Magic's Update:

Jenis-jenis Sihir:

-Time-Space Magic. Sihir yang berhubungan dengan ruang dan waktu.

Macam-macam Sihir:

-Magic Maker. Sihir yang dapat menciptakan segala sesuatu. Tetapi memiliki batasan, yaitu tidak bisa menciptakan makhluk hidup.

-Time-Space Magic: Teleportation. Sihir untuk meneleportasikan barang ataupun makhluk hidup.


[A/N]:

I'AM COME BACK!

Yo! Aku kembali dengan update fic baruku. Yaah, meskipun fic ku yang satu juga masih baru, sih. Baiklah aku disini akan sedikit bercuap-cuap.

Oke, yang pertama. Saya berterima kasih karena yang dukung fic ini lumayan banyak ternyata. Lumayan lah chapter 1 yang Review ada sekitar 30 an, kalo gak salah sih ... Saya juga berterima kasih untuk yang sudah membaca walaupun tidak memberikan Review. Ya, terima kasih untuk itu, aku paham kok, karena aku kadang juga seperti itu kalo lupa wkwkwkw ...

Yang kedua. Sedikit informasi karena di chap 1 aku lupa menulisnya. Jika ada yang bertanya Raphtalia dari anime apa, dia dari anime/manga/LN Tate no Yuusha no Nariagari.

Lalu yang ketiga. Tentang kekuatan sihir Naruto, disini aku lebih memilih menggunakan kekuatan Shirou Emiya/Archer, karena nanti aku punya alasan tersendiri kenapa aku milih kekuatannya Shirou daripada kekuatannya Gilgamesh. Maaf jika ada yang berpikir kalo sihirnya pake kekuatan nya Gilganesh, gak akan terjadi. Karena nanti kekuatan nya Gilgamesh udah ada yang make, tapi masih lama, kalo aku gak salah. Tapi nanti pasti muncul kok kekuatannya Gilgamesh di fic ini, tenang saja...

Yang terakhir. Untuk yang nanyain pair, aku masih bingung sih mau gunain siapa main pairnya. Aku masih mikir-mikir sih ini, apa nanti bakal single pair or harem pair. Tapi itu nanti aja, yang penting fic udah bagus dan masalah pair, pikir belakangan. Gampang itu mah, kalo buat aku. Nanti akan aku kasih dah sedikit fanservice antara Naruto dan beberapa gadis di fic ini.

Oke sekian dari saya. Untuk update selanjutnya, aku mau up fic ku yang satunya. Namanya "The Boy And The Power Of Magic", bagi yang belum baca silahkan dibaca. Kayaknya fic ku yang itu belum terlalu terkenal, jadinya ya ... yang Review cuma sedikit. Mungkin teman-teman bisa bantuin promosiin fic millikku.

Nanti aku update nya fic ku yang TBaTPoM kalo nggak hari senin ya selasa. Jangan lupa ya baca, kita ramaikan kembali Fanfiction Indonesia!

Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Ciao!

.

.

.

Please favorit and follow me..!

Give me a Review..?


Tolong berikan saya kritik, saran, dan dukungan yang baik, agar saya bisa memerbaiki cerita ini untuk kedepan nya.

Jika ada kesalahan penulisan, kata yang kurang/hilang dan tanda baca yang salah, saya mohon maaf.

Jika readers-san ingin bertanya atau ingin menyalurkan ide, kalian boleh kok coret-coret di kolom Review asalkan menggunakan kata-kata yang baik, dan di Chapter selanjutnya akan saya usahakan untuk menjawabnya.


Tertanda. [FI. AkaRyuu666]. (11-4-2020)