Epilogue.
Bumi tampak lebih tenang setelah itu.
Tidak ada hujan maupun petir. Hari itu cerah dengan matahari berada di batas horizon yang menyembunyikan terik, cukup untuk membayangkan dua orang dengan senyuman familiar saling berpapasan di ambang pagar abu-abu setinggi siswa taman kanak-kanak pada umumnya.
Senyum merekah dari seorang pria berperawakan mungil, mengungkapkan ketulusan yang mendalam kepada anak-anak sepantaran Kyungin yang berlarian dari ruang kelas menuju area parkir yang berada tidak jauh dari pintu utama.
Kedua lengan mungil terbentang selebar yang ia mampu sebelum figur kecilnya di dekap oleh seorang pria yang ia panggil, "Uncle Jongin!"
"Hi, cupcake."
Lantas, Jongin menyerahkan satu kotak happy meals berisikan kentang goreng ukuran kecil dan empat potong Mcnugget sebagai hadiah yang selalu diterima gadis itu ketika nilai matematikanya mencapai sembilan puluh.
"Thank you, Uncle. Oh! Look, hari ini Mr. Soo membantuku menggambar pantai." Gumamnya girang seraya memperlihatkan Jongin selembar kertas gambar dalam genggaman.
"That's beautiful, cupcake." puji Jongin, kemudian sorot mata beralih pada guru favorit gadis tersebut. "Thank you for always taking care of her." sambungnya, kali ini ia berbicara pada Kyungsoo.
Topik itu tidak seharusnya menjadi dalih bagi mereka untuk duduk di dalam sebuah café pada musim hujan, merajut basa-basi yang membosankan sambil menyesap kopi pahit di malam hari. Pembicaraan itu terlalu ringan dan terkesan lambat kala pria yang satunya lagi hanya menjawab dengan dengus kecil setelah kembali menyeruput lembutnya tekstur susu coklat.
"It's my job, and I love kids." gumamnya santai.
Dua diantara mereka saling melirik satu sama lain, bertukar gelak setelah menyadari bahwa tatapan itu bermakna lebih jauh dari sekadar ucapan terima kasih dan kekaguman yang diungkapkan Jongin kepada Kyungsoo secara terang-terangan.
Kala itu hujan telah reda, Kyungsoo menatap keluar kaca bersisa bulir demi mengalihkan senyuman yang memaksa terpatri di ujung bibir. Di saat yang sama, Kyungsoo membayangkan dirinya berselimut kehadiran Jongin yang sehangat hembusan napas setelah hari-hari yang begitu panjang sedingin lautan lepas, berharap ia tidak harus memulai rindu yang baru, lagi.
