Karena Usaha Tak Pernah Mengkhianati

JaeDo

Typo(s) everywhere!!

Thanks for reading my story

Pict owned by はるこ

Jaehyun terbangun dari tidurnya, bukan karena ia terganggu, hanya terbangun di gelapnya langit malam dengan sang kekasih di sampingnya, tangan putih Jaehyun meraba pipi Doyoung yang memerah akibat ulah bodohnya tadi.

Sesungguhnya Jaehyun selalu berjanji bahwa dirinya tidak akan pernah melukai makhluk yang bernama wanita apalagi wanita itu kekasihnya sendiri, tapi entah bagaimana tangan bodohnya ini dengan entengnya menampar sang kekasih.

Pria bersurai hitam keabuan itu menghela nafasnya, dengkuran halus Doyoung mengalun indah melalui indra pendengarannya, jari-jari kurus itu bergerak mengusap bibir Doyoung yang membengkak dengan luka kecil di sisinya.

"Maafkan aku" bisik Jaehyun lalu mengecup kening dan bibir Doyoung sebelum beranjak dari atas kasur, mengumpulkan kembali kemeja dan celana kerjanya yang ia lucuti ketika menyetubuhi Doyoung tadi.

Menatap nanar pada ponselnya yang kini mati dengan ratusan retakan kecil pada layarnya, bersyukur setidaknya ia hanya menghancurkan luarnya saja.

Dan sekali lagi pria itu mengceupi kening dan pipi sang kekasih sebelum berjalan keluar dari kamar milik Doyoung, ia yakin wanita itu pasti membutuhkan waktu untuk sendiri begitu juga dengan dirinya setelah semua kejadian ini.

.

Sore hari yang cerah untuk menemui seseorang yang menjadi masalahmu, apalagi di dalam ruang kantornya sendiri yang tenang dengan suasana damai yang memberikan kenyamanan sekaligus stress bagi Jaehyun yang kini duduk manis dengan tumpukan kertas pekerjaan yang tiada habisnya, sembari menyesap kopi hitam kesukaannya.

Sesekali ia mengecek ponsel pintar miliknya yang baru saja ia ganti, hanya sebuah ponsel bukan hal besar bagi Jaehyun, membalas pesan yang hanya berhubungan dengan pekerjaan, melewati satu nama yang kini pesannya hanya bertumpuk tanpa di baca selama tiga hari belakangan, Jaehyun menghindar karena ia masih merasa bersalah, tanpa sadar bahwa sosok yang ia tunggu daritadi sudah berdiri cantik di depannya.

"Jika kau hanya ingin mengacuhkankun dan memilih ponselmu maka sebaiknya aku pergi saja," tegurnya, dan Jaehyun langsung menolehkan pandangannya pada sang pelaku, ia hanya tersenyum simpul menanggapi.

"Jadi ada apa? Jika kau menyuruhku menemuimu, itu berarti kau membutuhkan sesuatu dariku," tanyanya dengan nada yang di buat - buat serius.

"Aku butuh penjelasan dari mu," jawab Jaehyun tanpa ragu.

"Hah? Penjelasan apa? Tentang apa," tanya Taeyong bingung, ia baru menemui Jaehyun beberapa hari yang karena merindukannya tapi sialnya Taeyong justru membuat ke salah pahaman di antara Jaehyun dan Doyoung, padahal sebenarnya Taeyong hanya butuh teman cerita mengenai hubungannya dengan sang kekasih, lalu Jaehyun meminta penjelasan darinya? Memangnya ia menghamili Jaehyun apa, oh tidak jangan bilang karenanya Jaehyun dan Doyoung jadi putus.

"Apakah kau putus dengan Doyoung," tanya Taeyong cemas.

"Tidak tentu saja! kau gila ya? Oh astaga Taeyong," jawab Jaehyun cepat dan Taeyong bernafas lega mendengarnya.

"aku hanya ingin meminta penjelasan tentang kita, tentang yuta dan tentang perasaanku yang sebenarnya," singkat, padat dan menuntut, penuturan Jaehyun membuat Taeyong terdiam begitu saja.

"Pertama, aku selalu bertanya-tanya apakah selama kita berpacaran kau hanya merasa kasihan saja padaku? kau hanya merasa tidak enak untuk menolak perasaanku hingga kau karena itu kau mudahnya meninggalkanku demi Yuta," Jaehyun bertanya tanpa memberi celah sedikitpun pada Taeyong yang masih diam mencoba mencerna kemana arah pembicaraan mereka.

Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Jaehyun, mengumpulkan kembali ingatannya tentang masa lalu mereka, "kau tahu aku menerimamu bukan karena kasihan Jaehyun, aku hanya berusaha untuk membalasmu,"

"kau selalu mengejarku, kau sangat baik padaku, kau bahkan rela melakukan apa saja untukku, usahamu cukup untuk membuat hatiku tergerak Jaehyun, kupikir dengan bersamamu aku mungkin bisa melupakan Yuta yang meninggalkanku ke jepang tanpa alasan yang jelas membiarkan hubungan kami yang tergantung begitu saja," jelas Taeyong dengan rasa bersalahnya

"Tapi siapa sangka Yuta kembali, aku tidak dapat berbohong bahwa aku masih sangat-sangat mencintainya, dan kebetulan Doyoung sudah menyukaimu saat itu jadi kupikir bukan masalah untuk mengakhiri hubungan kita karena aku yakin kau akan bersama Doyoung setelahnya karena itu dengan mudahnya aku meninggalkanmu begitu saja bersama semua cinta yang sudah kau beri ,"

"aku yakin setelahnya kau pasti menganggapku wanita jahat bukan?" lanjut Taeyong bertanya dengan wajah bersalahnya pada Jaehyun, yang langsung di tanggapi dengan gelengan dari Jaehyun.

"Tidak kok, aku hanya merasa kecewa saja," bohong Jaehyun, ia tidak marah, hanya mabuk-mabukan saja sambil meracau merutuki dan menyumpahi Taeyong yang meninggalkannya.

Jaehyun meringis jika mengingatnya.

"Tapi sungguh Jaehyun, aku sangat berterima kasih untuk semuanya, terima kasih sudah mencintaiku tapi maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu," ucap Taeyong dengan senyuman cantiknya, Jaehyun menatap Taeyong dengan seksama, dan Taeyong memang bersungguh-sungguh dengan perkataannya.

"Tidak tidak, aku berterima kasih setidaknya kau sudah membalas perasaanku, dan setidaknya aku sudah mencoba walaupun gagal," balas Jaehyun dengan tenangnya, sekarang ia tahu bahwa perasaannya memang tidak terbalaskan pada Taeyong.

Taeyong menepuk pundak Jaehyun pelan sebelum Jaehyun menanyainya kembali, "sekarang bagaimana kau dan Yuta? Masih belum ada kabar darinya?" Wanita itu menggelengkan kepalanya, membuat Jaehyun bingung dengan apa maksudnya.

"Astaga Jaehyun aku sampai lupa untuk bercerita, kau harus tahu setelah pulang dari kantormu Yuta bilang bahwa Mark tiba-tiba menangis karena berpisah dariku tapi siapa sangka ketika aku datang ketempat yang Yuta suruh, ternyata dia melamarku, romantis sekali bukan!!" Antusias Taeyong.

"ia bilang itu hanya seknario buatannya saja untuk rencana romantis tapi menyebalkannya itu, menjengkelkan memang," Tambah Taeyong lagi, sementara Jaehyun hanya membrengut bingung mendengar nama lain yang di ucap oleh Taeyong.

"Mark?" Ulang Jaehyun menanyakan siapa gerangan si "Mark" ini, ia tidak terlalu fokus dengan cerita Taeyong.

"Ah, itu putraku namanya Lee Minhyung tapi Yuta bilang ia lebih suka memanggilnya Mark," ucap Taeyong menjelaskan, dan hanya di balas Oh ria oleh Jaehyun setelah rasa bingungnya terjawab.

"Ah jadi kalian memang sudah memiliki anak yah? Artinya kau dan Yuta tidak akan berpisah?" Tanya Jaehyun memastikan, ia serius bertanya.

Dan Taeyong menatap Jaehyun kesal, tangannya memukul bahu Jaehyun dan langsung menjawab, "tentu saja tidak! tidak akan pernah dan tidak akan terjadi, justru kami akan menikah tahu, kau tidak mendengarkan ceritaku tadi yah?" dengus Taeyong. Jaehyun hanya terkekeh di buatnya.

"Sekarang mari membicarakan tentang perasaanmu? Ada apa dengan persaanmu eoh ?" Kini Taeyong berbalik bertanya, dia masih sangat bingung dengan pertanyaan Jaehyun satu ini.

"Ah itu, aku hanya ingin meyakinkan apakah aku sudah move on darimu atau belum karena itu-" ucap Jaehyun menggantungkan perkataannya.

"Karena itu?" Tiru Taeyong.

"Cium aku atau goda aku jika perlu," ucap Jaehyun dengan santainya. Taeyong membelakkan matanya tidak percaya.

"Oh astaga Jaehyun? Apa kau gila? Aku tidak mau, aku ini akan menikah dan kau menyuruhku menggodamu, kau pasti bercanda kan," tolak Taeyong.

"Aku serius, aku ingin memastikan perasaanku saja," jelas Jaehyun.

"Kenapa tidak dengan wanita lain," cecar Taeyong panik, ia bukannya tidak mau mencium Jaehyun hanya saja ia sudah memiliki Yuta begitu juga dengan Jaehyun pria itu sudah memiliki Doyoung, Taeyong bukanlah wanita murahan yang akan menggoda pria mana saja apalagi ia akan menikah.

"Bukankah sudah kukatakan, aku ingin memastikan apakah perasaanku padamu itu masih sama atau tidak, jika kau menyuruhku dengan wanita lain,aku tidak perlu repot-repot menyuruhmu menemuiku ," jengkel Jaehyun dengan perkataan bodoh Taeyong, wah wanita ini benar-benar tidak punya perasaan menurutnya.

"Lagipula yang kupacari itu kau bukan wanita lain dan anggap saja ini ciuman perpisahan darimu, kau tidak lupa bukan bahwa kau memutuskanku lewat pesan singkat dan ketika ku temui kau justru sedang bermanja ria dengan Yuta-mu itu," ucap Jaehyun mengingatkan.

"Terima kasih sudah mengingatkanku tuan Jaehyun yang baik hati, aku tidak bermaksud memutuskanmu lewat pesan singkat tapi aku tidak berani untuk mengatakannya sendiri secara langsung dan karena kau sudah terlebih dahulu menemuiku yang kebetulan sedang bersama Yuta jadi yah kukatakan saja," ucap Taeyong tidak enak pada Jaehyun, dan pria itu hanya menggeleng tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Sekarang bagaimana? Kau mau?" Tanya Jaehyun lagi, memastikan Taeyong.

"Di pipi?" Taeyong berbalik bertanya.

"Di bibir tentu saja, kau bisa mencium siapa saja di pipi tapi tidak di bibir bukan," ucap Jaehyun memprotes.

Taeyong tampak berfikir keras sebelum akhirnya menyerah, ia mengangguk menyetujui, beruntung ini di kantor dan ruangan milik Jaehyun, jadi tidak ada yang melihat tapi tetap saja Taeyong sesungguhnya enggan melakukannya.

"Berjanjilah bahwa kau tidak akan meminta yang lebih dari ini," ucap Taeyong memastikan.

Jaehyun menaikkan satu alisnya, lalu mengangguk mengiyakan 'memangnya ia akan meminta apa? Seperti ia mau saja dengan bekasan pria lain, pikir Jaehyun.

Taeyong lalu berdiri mendekat pada Jaehyun, menghapus jarak antara dirinya dan pria tampan itu, "tutup matamu," pinta Taeyong yang kini duduk di atas paha Jaehyun yang menurutinya untuk menutup mata.

Jaehyun bisa merasakan nafas Taeyong menerpa permukaan wajahnya, wanita itu mengelus pipi Jaehyu sebelum mengusap bibir pria itu, hidung mereka sudah bersentuhan satu sama lain, sebelum Jaehyun mendorong Taeyong menjauh hingga bokong indahnya lah yang berciuman dengan lantai.

Entah kenapa ia teringat akan Doyoung, teringat bagaimana wanita itu tertawa karena ulahnya, marah karena sifat workaholic Jaehyun ataupun ketika mendesah di bawahnya saat mereka bercinta, bayangan tentang Doyoung menghantuinya begitu saja.

"Yyak! Apa yang kau lakukan," kesal Taeyong, jika Jaehyun ingin mempermainkannya, paling tidak Jaehyun bisa mendorongnya dengan lebih lembut beruntung Taeyong memakai jins jika tidak ia bisa malu jika rok atau dressnya tersingkap.

"Maaf, aku rasa aku tidak bisa," ucap Jaehyun merasa bersalah dan Taeyong mendengus kesal sebelum memukul Jaehyun pelan.

"Padahal kau yang meminta tapi kau juga yang menolak, dasar aneh," rutuk wanita bersurai perak kebiruan itu sambil menepuk-nepuk membersihkan pantatnya dan kembali duduk di kursi yang bersebrangan dengan Jaehyun.

"Aku tidak tahu, aku hanya teringat Doyoung begitu saja," sesal Jaehyun pada Taeyong yang memberengutinya terus.

"Itu artinya kau sudah tidak menyukaiku lagi oh astaga Jaehyun bodoh," kesal Taeyong yang menoyor kepala Jaehyun gemas.

"Benarkah?" Tanya Jaehyun takjub.

Taeyong memutar matanya malas, Jaehyun memanglah tampan tapi sayang otaknya kadang tidak memadai.

"Jadi aku tidak perlu menciumu lagi kan?" Giliran Taeyong melemparkan pertanyaan dan Jaehyun hanya menatap Taeyong dengan cengiran menyebalkannya yang terlihat sangat menjengkelkan menurut wanita itu.

"Tidak usah, tapi jika kau memaksa yasudah aku pasrah selagi kau belum menjadi istri orang," gurau Jaehyun yang sekali lagi memancing kekesalan Taeyong.

"Tidak terima kasih! baguslah jika kau tidak menginginkannya lagi, aku tidak perlu merasa bersalah pada Yuta karena mencium pria lain dan pada Doyoung karena mencium kekasihnya," timpal Taeyong yang terhenti karena ponselnya berdering dan wanita itu langsung menjawabnya.

Jaehyun hanya menatap Taeyong yang sedang fokus dengan acara menelfonnya di pojok ruangan, dan Jaehyun sudah tidak perduli lagi dengan hal itu, yang terpenting adalah ia akan menemui Doyoung, dan meminta maaf untuk segalanya, setidaknya sekarang Jaehyun sudah tahu akan perasaannya yang sesungguhnya terhadap Doyoung.

"Jaehyun, aku pulang yah, Yuta bilang Mark kembali rewel, jadi sampai jumpa," Ucap Taeyong yang berlekas pergi, Jaehyun mengikuti Taeyong dari belakangnya, lalu menahan wanita itu yang kini menatapnya bingung seolah bertanya ada apa pada Jaehyun.

Dan tanpa aba-aba atau mengakatakan sepatah katapun Jaehyun langsung memeluknya, Taeyong yang terkejut hendak melepas pelukan Jaehyun, well ia cukup trauma dengan hal ini, beberapa hari yang lalu Doyoung mendapatinya bersama Jaehyun dalam keadaan seperti ini hingga membuat wanita itu salah paham padanya.

"Jaehyun jangan seperti ini,bagaimana jika Doyoung kesini lagi dan ia menjadi semakin salah paham kepadaku," ucap Taeyong panik yang mencoba melepas pelukan Jaehyun. Taeyong tidak masalah Jaehyun memeluknya hanya saja ini di luar ruangan Jaehyun ia tidak ingin orang lain melihatnya seperti ini, Taeyong tidak ingin jadi bahan gosip.

"Lalu kenapa? Kau harus tahu bahwa sampai kapanpun satu-satunya orang yang aku cintai adalah kau-" ucap Jaehyun menggantung sembari menatap Taeyong dengan mata senduhnya, ia bukannya mencari kesempatan atau apapun, Jaehyun hanya ingin melepas seluruh perasaannya yang selama ini ia simpan kepada Taeyong.

Tanpa menyadari bahwa di balik lorong di depan mereka ada Doyoung yang kini menangis lalu pergi begitu saja meninggalkan Lucas yang terdiam karena syok mendengar pembicaraan mereka.

"tapi itu dulu, sekarang aku sadar bahwa kebahagiaanmu dan cintamu bukanlah diriku dan aku," sambung Jaehyun.

"aku sadar bahwa Doyoung adalah segalanya untukku, aku baru menyadarinya setelah kau datang dan yah ternyata perasaanku padamu hanya obsesi semata," ucap Jaehyun dengan penuh percaya diri sementara Taeyong hanya terkekeh mendengarnya.

"Ngomong-ngomong selamat yah atas rencana pernikahanmu dan Yuta, siapa sangka pria itu akan melakukan hal berlebihan seperti itu dan tunggu saja aku juga akan menyusul kalian," ucap Jaehyun tak mau kalah, dan Taeyong hanya tertawa geli di buatnya, siapa sangka Jaehyun yang pemalu, yang dari dulu hanya mengejar-ngejarnya akan jatuh cinta seperti ini.

"Yayaya berdoalah Doyoung masih mau menerimamu," ejek Taeyong dan Jaehyun hanya merengut kesal.

"Haha aku bercanda, Kalau begitul ayo berpelukan lagi tapi hanya sebagai teman lama," titah Taeyong dan Jaehyun menurutinya, ia memeluk Taeyong erat sembari berterima kasih untuk semua kenangan mereka dulu dan karenanya Jaehyun mendapatkan Doyoung tanpa tahu bahwa ia akan kehilangan wanita itu setelah ini.

Lucas yang sudah kembali tersadar dari ke terdiamannya dan sudah mendengar semuanya, teringat bahwa Doyoung sudah pergi dari tadi tanpa mendengar lebih jauh tentang pembicaraan Sang bos dan mantan kekasihnya itu.

Pria bernama lengkap Wong Yukhei itu buru-buru lari kembali kemejanya ketika Taeyong dan Jaehyun mulai beranjak dari tempatnya, ia dengan cepat berdiri di belakang mejanya lalu tersenyum pada Jaehyun dengan nafas yang terengah-engah.

"Kenapa kau bernafas seperti itu?" Tanya Jaehyun bingung.

"Itu-itu karena a-aku baru saja dari toilet hyung," bohong Lucas, dan Jaehyun masih menatapnya bingung.

"Toilet?" Ulang Jaehyun

"I-iya toilet," gagap Lucas, Jaehyun merasa ada yang aneh tapi ia tidak tahu apa itu.

"Kau tidak harus berlarian seperi itu, aku tidak akan memecatmu hanya karena kau meninggalkan mejamu untuk ke toilet," ucap Jaehyun lalu menepuk pundak Lucas lalu meninggalkan pria itu yang kini terduduk lemas karena panik dan cemas yang bercampur menjadi satu.

Lucas hanya berdoa dan berpikir bahwa setelah ini sebaiknya ia mengundurkan diri dari perusahaan Jaehyun, ia tidak sanggup terlibat lagi dengan urusan percintaan sang bos.

...

Jaehyun tersenyum bangga dengan hadiah yang baru saja ia beli. Tidak sabar untuk melihat bagaimana reaksi Doyoung nantinya.

Jaehyun yang tadinya dengan gagahnya dan penuh percaya diri, berdiri di depan apartemen sang kekasih, memencet bel apartemen Doyoung tapi nihil, tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda dari Doyoung.

Ia menunggu, Jaehyun menelfon Doyoung dan tidak ada jawaban dari wanita itu, Jaehyun yang khawatir bahkan bertanya kepada staff keamanan Doyoung, dan pria itu hanya menjawab bahwa Doyoung pergi beberapa jam lalu.

Pria itu sempat menawarkan Jaehyun untuk menunggu Doyoung di tempatnya, tapi Jaehyun menolak, ia lebih memilih menunggu di depan pintu apartemen Doyoung, merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah hafal dengan kode apartemen Doyoung.

Dan kini hampir satu jam ia menunggu di sini dan tidak ada tanda dari Doyoung untuk muncul. Nomornya tidak kunjung aktif. Jaehyun khawatir tentu saja,sudah tiga hari ia tidak bertemu dengan Doyoung, ia tidak ingin sesuatu terjadi pada kekasihnya itu.

Sesungguhnya hadiah yang Jaehyun beli adalah tanda permintaan maafnya pada Doyoung atas perlakuannya kemarin, dirinya sudah sangat kelewatan ketika ia menampar Doyoung kemarin, lalu memaksa untuk menidurinya dan pergi begitu saja, ia tidak ingin menjadi kekasih brengsek.

Jaehyun juga ingin mengajak Doyoung bertemu dengan orang tuanya yang baru saja tiba kemarin, Jaehyun sudah tidak sabar untuk melihat wajah menggemaskan milik Doyoung ketika tahu bahwa dirinya akan bertemu dengan keluarga Jaehyun.

Khayalan Jaehyun pecah begitu ia mendengar suara Doyoung yang terkekeh di ujung jalan, netra gelapnya menangkap sang kekasih dengan sesosok pria tinggi di sebelahnya, dan Jaehyun tahu siapa itu, oh ayolah Jaehyun dan Doyoung memang sudah berteman dari awal jadi ia kenal siapa pria yang baru saja mengusak rambut Doyoung dan di tanggapi dengan rajukan manja wanita itu, dan Jaehyun tidak menyukainya tentu saja.

Ia lalu berjalan menuju arah Doyoung dari arah berlawanan, senyumnya hilang di gantikan oleh wajah datar miliknya, Jaehyun lalu berdehem membuat Doyoung dan Johnny berhenti tepat di depannya sebelum Doyoung menabrak tubuh tegap kekasihnya.

"Wah, kupikir sesuatu yang buruk terjadi denganmu, tapi tampaknya kau habis bersenang-senang?" Sindir Jaehyun, Johnny yang mendengarnya hanya mendengus kesal.

"Apa maksudmu Jaehyun," tanya Doyoung padanya yang kebingungan, ia baru saja tiba di apartemennya dan Jaehyun sudah menyindirnya seperti ini.

"Apa kau terlalu bodoh untuk mencerna perkataanku?" Ejek Jaehyun.

"Kau tidak perlu mengatainya bodoh bukan," ucap Johnny tidak senang dengan tangannya yang menarik kerah kemeja Jaehyun.

"Santai hyung, kenapa kau marah? dia kekasihku," cibir Jaehyun sambil mendorong Johnny lalu menarik Doyoung ke sisinya hingga wanita itu meringis kesakitan karena cengkraman Jaehyun pada tangannya.

"Bisakah kau tidak bersikap kasar dengannya? ia kesakitan," Johnny berusaha melepas pegangan tangan Jaehyun dari Doyoung, tapi pria itu justru menarik kerah kaus Johnny yang di balas pula oleh Johnny.

Jaehyun tersenyum mengejek pada Johnny yang menampilkan wajah marahnya, tangan mereka bertautan satu sama lain. Jaehyun lalu mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat Johnny habis kesabaran, "Dia kekasihku, apa yang kulakukan bukan urusanmu hyung, sadarlah kau itu hanya TEMAN-nya," cibir Jaehyun mengejek.

Johnny hendak melayangkan sebuah pukulan padanya tapi genggaman tangannya berhenti ketika Doyoung meneriakinya, "Johnny hentikan!", Jaehyun terkejut ketika pria itu berhenti hanya karena Doyoung meneriakinya. Mereka justru saling memandang satu sama lain, dan Jaehyun benar-benar jengkel di buatnya.

"Pulanglah John, aku tidak apa," ucap sang kekasih berusaha meyakinkan mantan sahabatnya itu, Jaehyun bisa melihat Johnny yang hanya menghela nafas kasar, pria itu lalu dengan tidak sopannya mengelus rambut Doyoung yang langsung ia tepis begitu saja. Tapi Johnny malah bersikap acuh dan berpamitan pada wanita itu, "telfon aku jika terjadi sesuatu," Johnny seolah mengingatkan dan Doyoung mengangguk mengiyakan, Jaehyun benar-benar tidak tahu apa yang sudah ia lewatkan selama tiga haris terakhir.

Ia tahu Doyoung dan Johnny masih akrab, tidak seperti dirinya dan Johnny yang bertengkar karena pria itu memaksanya untuk memutuskan Doyoung setelah tahu bahwa wanita itu sendirilah yang mendatanginya dengan cuma-cuma memberikan tubuhnya dan juga perasaannya pada Jaehyun.

Lagipula itu salah Johnny sendiri yang tidak pernah menyatakan perasaannya pada Doyoung, kenapa ia harus mengalah pada Johnny, lagipula Doyoung tidak pernah mau ia putuskan, tapi Johnny justru memusuhinya yang mengakibatkan berakhirnya pertemanan mereka, padahal Jaehyun sudah menganggap Johnny seperti saudara sendiri.

Sebelum Johnny pergi, mereka sempat melempar tatapan tidak suka satu sama lain, sejujurnya ia benar-benar tidak menyukai Johnny berada di dekat Doyoung tapi ia masih menghargai Doyoung yang notabenenya adalah kekasihnya jadi Jaehyun membiarkannya karena menurutnya itu hak Doyoung untuk berteman dengan siapa saja.

Setelan kepergian Johnny, Doyoung dan Jaehyun langsung masuk kedalam apartemen milik wanita itu. Tidak ada yang membuka suara, entah itu dirinya ataupun Doyoung, bahkan Doyoung berjalan mendahuluinya seakan-akan tidak menganggap dirinya ada di sana.

Merasa di abaikan, Jaehyun memeluk Doyoung yang membelakanginya, mengecup leher putih Doyoung yang terekspose karena ia menguncir cepol rambutnya barusan.

"Kau dari mana? Apa yang kau lakukan Johnny hyung?" Tanya Jaehyun yang sarat akan kecemburuan.

"Ia hanya menemaniku pergi ketempat Ten," jawab Doyoung malas.

"Kenapa harus bersama dengan Johnny?" Lagi Jaehyun bertanya dengan tidak sukanya.

"Memangnya kenapa? Ia temanku apa salahnya jika ia menemaniku," ucap Doyoung yang mulai kesal, Jaehyun yang mendengar Doyoung meninggikan suaranya memutar tubuh wanita itu agar menghadap kearahnya.

"Tentu saja, kau kekasihku bagaimana bisa kau berjalan denga pria lain," jawab Jaehyun tak kalah lantang sembari menatap tajam kearah Doyoung.

Memarahi sang kekasih.

"Kau cemburu hanya karena aku pergi dengan temanku, tapi kau? Aku melihatmu berpelukan dengan mantan kekasihmu tapi aku tidak cemburu ? Justru kau yang memarahiku,memukulku dan bahkan memperkosaku," teriak Doyoung pada Jaehyun di iringi tangisannya, Jaehyun terkejut dengan amarah Doyoung yang membludak begitu saja.

Ia hendak mengatakan sesuatu tapi Doyoung sudah terlebih dahulu memotongnya. "Kau bahkan pergi begitu saja lalu menghilang selama tiga hari tanpa meminta maaf ataupun memberi kabar padaku sedikitpun".

"Aku yakin selama tiga hari kau mungkin menemui Taeyong sepuasmu dan menghabiskan waktu dengannya, tapi kau kembali lagi karena dia mungkin menolakmu seperti biasanya ? Atau kau sudah tidur dengannya tapi sayang karena kau tidak puas kau mendatangiku lagi bukan?" Jaehyun terdiam dengan tuduhan Doyoung, ia tidak menyangka bahwa kekasihnya akan berpikiran seperti itu.

Jaehyun mengangkat tangannya, tapi Doyoung justru memejamkan matanya seolah pasrah dengan apa yang akan ia perbuat padahal ia hanya ingin membelai pipi Doyoung lembut.

Netranya menangkap Doyoung yang kini membuka matanya perlahan, dan kekasihnya itu justru mendecih kesal, "kenapa kau tidak jadi menamparku lagi seperti kemarin?" Tantangnya.

Sejujurnya Jaehyun bingung dengan maksud amarah Doyoung, tapi ia hanya tersenyum dan menggeleng pelan.

Jaehyun malah mendekatkan wajahnya pada Doyoung dan mencium bibir sang kekasih lembut. Tadinya Doyoung membalasnya sebelum wanita itu mendorongnya begitu saja hingga ciuman mereka terlepas.

"Aku minta maaf oke, aku tahu aku salah dan aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama,jadi maafkan aku," bujuk Jaehyun tulus, ia mencoba meraih bibir Doyoung lagi tapi wanita itu mengelak dan memalingkan wajahnya.

"Percayalah, aku bukannya menghilang ataupun bersama Taeyong, aku hanya meyakinkan diriku Doie, semua tuduhanmu itu salah," ucap Jaehyun kembali mencoba meyakinkan Doyoung.

Tapi wanita itu justru mendorongnya menjauh dan menatap Jaehyun dengan mata sembabnya dan senyuman di bibirnya, Jaehyun bertanya-tanya ada apa dengan Doyoung yang menjadi sangat melankolis seperti ini.

Tidak menyadari dan tidak tahu bahwa Doyoung dengan jelas mendengar ketika dirinya berkata bahwa ia masih msncintai Taeyong.

Wanita itu berbicara dengan suaranya yang bergetar, "Tidak Jaehyun, Kau tidak salah, dari awal akulah yang salah karena terus mengejar dan memaksamu, tapi sekarang aku sadar, kau tidak akan berubah, kau pasti masih sangat mencintai Taeyong bukan?"

"Karena dari itu aku menyerah, aku rasa semua ini sia-sia, pengorbananku, perasaanku dan hubungan ini sia-sia Jaehyun, aku lelah mengejarmu," Jaehyun tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, wanita itu baru saja mengeluarkan keluhannya yang di sertai dengan tangisan penuh lukanya. Jaehyun tidak tahu bahwa itu akan menjadi tangisan terakhir Doyoung karena dirinya.

"Apa maksudmu," tanya Jaehyun bingung, ia menatap pupil hitam Doyoung dengan seksama, mencari kebohongan melalui tatapan wanita itu tapi nihil, hanya keputus asaan yang Jaehyun dapatkan.

"Ayo putus Jaehyun," ajak Doyoung tanpa ragu memperjelas maksud ucapannya tadi.

"Kau bercanda bukan?" Tanya Jaehyun mengulang, apa ia tidak salah dengar?.

"Eumm, aku tidak bercanda Jaehyun, aku sangat bersungguh-sungguh," ucap Doyoung, tangannya mengelus wajah tampan Jaehyun lalu mencium bibirnya, tidak ada lumatan ataupun hisapan yang Jaehyun rasakan, wanita itu hanya menempelkan bibirnya di bibir Jaehyun secara singkat.

Jaehyun yang tadinya diam kini hanya tertawa miris, ia memeluk Doyoung secara paksa, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Doyoung yang sekarang menjadi bau kesukaannya.

Tidak ada lagi tangisan yang Doyoung keluarkan, wanita itu membungkam mulutnya sendiri, dan mengelus punggung Jaehyun dengan lembut.

"Kalau begitu baiklah, tapi aku tidak ingin kita berpisah" ucap Jaehyun bergetar,

"Aku hanya akan menganggap bahwa kita hanya sedang break saja untuk sementara waktu, aku yakin kau butuh waktu untuk berpikir,"

"kau tahu kan semua ini hanyalah salah paham," Jaehyun kembali meyakinkan Doyoung, bukan ini yang Jaehyun rencanakan, bukan ini yang ia harapkan dari tadi, tapi wanita itu hanya menggeleng lemah.

"Tidak Jaehyun, aku benar-benar ingin putus," Doyoung bersikeu-keuh dengan keinginannya.

Jaehyun menjauhkan diri dari Doyoung dan menatap wajah wanitanya dengan seksama, "baiklah jika kau bersikeras maka aku tidak bisa memaksa, Jangan menyesal dengan permintaanmu ini," ucap Jaehyun angkuh, ia yakin Doyoung akan memohon kembali padanya, Jaehyun percaya itu, ia sedih tapi Jaehyun tetap bertahan pada harga dirinya.

"Aku pulang, sampai jumpa," pamit Jaehyun lalu mengecup kening Doyoung singkat, meninggalkan Doyoung, ia bisa mendengar wanita itu kembali menangis, tapi Jaehyun tetap pergi begitu saja, bukan karena dia tega, tapi Jaehyun ingin Doyoung mengejarnya dan memohon karena menyesali perbuatannya seperti biasa.

Jaehyun terlalu percaya diri bahwa Doyoung akan selalu mencintainya dan wanita itu akan selalu kembali padanya, karenanya ia tidak berusah lebih keras untuk mempertahankan Doyoung, ia tidak tahu bahwa dirinya akan sangat menyesali pilihannya ini nanti.

...

Pria bersurai gelap itu berjalan masuk ke dalam sebuah cafe, yang ia yakini adalah milik Ten.

Iseng, ia hanya ingin melihat apakah Doyoung ada di sana atau tidak, ini adalah minggu kedua semenjak dia dan Doyoung putus, tidak ada tanda dari wanita itu untuk menemuinya.

Sesungguhnya Jaehyun tidak tahu dimana dirinya bisa menemui Doyoung selain di apartemen dan cafe milik Sahabatnya ini, karena biasanya Doyounglah yang mengejar dan mencarinya ataupun berinisiatif untuk menemuinya duluan.

Jaehyun baru menyadari selama berpacaran dengan Doyoung, tidak ada satu halpun yang Jaehyun ketahui tentang wanita itu, orang tuanya, pekerjaannya, atau apapun tentang Doyoung, egois bukan? Jaehyun baru menyadarinya.

Karena yang ia tahu wanita itu akan selalu ada di saat ia membutuhkannya.

Ragu-ragu, Jaehyun memesan sebuah es kopi untuk di bawa pergi, hanya sebagai modus saja untuk mendekati Ten yang kini sibuk berbincang dengan pegawainya, Jaehyun tidak tahu apa yang terjadi tapi sepertinya Ten sedang memarahi pekerjanya yang baru saja memecahkan cangkir untuk kesekian kalinya.

"Ten," panggil Jaehyun, setelah pesanannya selesai di buat, ia sedikit menyingkir dari meja kasir dan berdiri bersebrangan dari Ten yang di batasi oleh counter pesanan.

"Eoh? Jaehyun," tanya Ten bingung, wah selama ini Ten hanya bertemu Jaehyun dua kali dan itu pun selalu ada Doyoung bersamanya, ia yakin Jaehyun bermaksud untuk menanyai Doyoung pastinya, Ten tahu itu karena Doyoung sudah bercerita bahwa dia dan Jaehyun putus.

Rasanya Ten ingin melempar wajah tampan Jaehyun dengan mug kopi cafenya yang keras tapi mudah pecah ini, Ten rela pegaiwainya memecahkan mug-mug lucu itu asalkan benda tersebut di lempar ke Jaehyun.

"Ada apa?" tanya Ten membuka suara.

"Tidak ada, aku hanya kebetulan membeli kopi dan ternyata ini cafemu," bohong Jaehyun, padahal ia memang sengaja datang kesini untuk mencari Doyoung.

"Oh, kupikir kau kesini untuk bertemu dengan Doyoung, tapi kau hanya iseng membeli kopi maka selamat menikmati," ucap Ten sarat akan sindiran. Jaehyun mendecih, jika bukan karena Doyoung ia juga tidak akan seperti ini.

"ngomong-ngomong tentang Doyoung, apa kau tahu dia dimana?" Tanya Jaehyun pada akhirnya, ia malas mencari masalah, Jaehyun hanya perlu kembali pada tujuannya, yaitu mencari Doyoung.

"Aneh, bukankah kau kekasihnya? Kenapa bertanya kepadaku," akting Ten seolah-olah bingung padahal dalam hati ia sedang tertawa mengejek Jaehyun.

"Atau jangan-jangan kalian sudah putus putus yah?" Timpal Ten menambahi dengan wajah terkejutnya, Ia ingin memancing Jaehyun saja.

Tapi Jaehyun tidak menanggapi pertanyaan Ten," baiklah jika kau tidak tahu dia dimana, sampai jumpa," tutur Jaehyun lalu pergi begitu saja.

Dalam hati Ten merutuki Jaehyun yang sangat tidak sopan itu.

.

Jaehyun berjalan malas masuk kedalam gedung kantornya, ia benar-benar tidak mood untuk kembali menemui tumpukan kertas sialan yang harus ia baca dan tanda tangani.

Apalagi usahanya mencari Doyoung sia-sia saja.

Ponselnya berdering dan Jaehyun menjawabnya dengan ogah-ogahan.

"Halo?" Jawab Jaehyun.

"Jaehyun-ah kau dimana?" Tanya sang penelfon,

"Di jalan menuju ruanganku," jawab Jaehyun malas.

"Kalau begitu cepatlah, aku menunggumu daritadi," balas seorang wanita di seberang sana.

Jaehyun bingung, apa yang sedang di lakukan Taeyong di tempatnya lagi.

"Baiklah-baiklah," ucap Jaehyun dan langsung mematikan sambungan telfonnya.

Ia berdiri bersandar di dalam lift, memainkan ponselnya sembari menslide galeri fotonya yang penuh dengan foto Doyoung yang ia punya, mengabaikan dua pegawainya yang beridiri takut di depannya, sepasang pria dan wanita yang kini terus-terusan berdoa karena bosnya mengeluarkan atmosfer dingin yang mengerikan.

Mereka menyesal sudah setuju ketika Jaehyun mengizinkan mereka naik lift bersama, jika tahu seperti ini mereka akan menolak dan membiarkan Jaehyun sendirian saja.

Beruntung kini mereka sudah berada di lantai yang mereka tuju, basa-basi sang pegawai wanita menegur Jaehyun, "kalau begitu kami permisi Bos," ucapnya takut-takut dan Jaehyun hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.

Jaehyun rindu Doyoung tentu saja, bohong jika ia bilang tidak, bagaimana pun Doyoung adalah wanita yang paling mengerti Jaehyun, tingkah cerewet Doyoung ketika ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya adalah hal yang paling Jaehyun rindukan.

Ia tidak makan dengan baik, tidurnya pun kurang, bahkan ketika orang tuanya di rumah Jaehyun hanya sesekali bersama mereka, ia menghabiskan waktunya untuk bekerja agar melupakan fakta bahwa dirinya dan Doyoung sudah berakhir.

Jaehyun menghela nafas berat, liftnya berhenti, ia sudah berada di lantainya, ketika Jaehyun keluar dan berjalan beberapa langkah ia bisa melihat Lucas yang kini berbincang bersama Taeyong yang tidak sendirian.

"Jaehyun, kau lama sekali," keluh Taeyong dan Jaehyun hanya diam tidak menanggapi yang langsung di hadiahi pukulan dari Taeyong.

"Ada apa nona Taeyong dan tuan Yuta ?" Tanya Jaehyun dengan suara nya yang di buat-buat.

Taeyong tertawa sementara Yuta hanya menyimpulkan senyumnya ke arah Taeyong seolah memberi tahu Jaehyun bahwa Taeyonglah yang mengajak kesini.

"Aku ingin memberikanmu undangan pernikahanku," ucap Taeyong bangga sembari menyodorkan sebuah undangan.

"Ini khusus untukmu dan Doyoung, kalian harus datang!" Titah Taeyong yang kini memeluk lengan Yuta.

Jaehyun lagi-lagi menghela nafasnya, sebelum mengatakan fakta yang membuat Taeyong dan Lucas terdiam begitu saja.

"aku sudah putus dari Doyoung," ucap Jaehyun singkat.

Taeyong menutup mulutnya tidak percaya, sementara Lucas, pria itu oleng begitu saja, pantas akhir-akhir ini kantor terasa seperti neraka, Jaehyun sekarang sudah berubah menjadi rajanya neraka.

"Kau pasti bercanda," ucap Taeyong masih tidak percaya, Jaehyun menggeleng lemah.

"Sejak kapan?" Tanya Taeyong mengintrogasi Jaehyun.

"Dua minggu yang lalu," jawab Jaehyun.

"Apa!" "Apa?" Taeyong dan Lucas kompak berteriak kepada Jaehyun.

Jaehyun dan Taeyong beserta Yuta menatap Lucas yang kini menutup mulutnya lalu menggelengkan kepala seolah ia tidak bermaksud berteriak seperti tadi.

"Tapi bagaimana? Kupikir kalian sudah berbaikan," Taeyong tidak habis pikir dengan apa yang ia dengar.

"Aku juga tidak tahu, semuanya terjadi begitu cepat, ia tiba-tiba saja meminta untuk mengakhiri hubungan kami," Jaehyun tidak ingin menceritakan ini tapi ia juga butuh untuk mengeluarkan keluh kesahnya.

"Dan kau menyetujuinya begitu saja?" tanya Taeyong lagi dan Jaehyun menangguk mengiyakan.

"Oh astaga, bagaimana kau bisa sepayah itu Jaehyun," Marah Taeyong dan Jaehyun hanya mengangkat bahunya tidak tahu.

"Kau tahukan, Awalnya aku hanya berpikir bahwa aku menganggap Doyoung sebagai pelarian darimu saja, aku tidak tahu bahwa aku akan sangat mencintainya dan siapa sangka ia akan meminta putus," balas Jaehyun putus asa pada Taeyong.

Dan Yuta langsung menepuk pundak Jaehyun, seolah menyemangati pria itu.

"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, aku tidak akan ikut campur dan maaf karena sudah merebut Taeyong darimu tapi aku tidak akan melepaskan Taeyong tentu saja,"

"sekarang sebaiknya kau mengejar kekasihmu itu sebelum kau menyesal karena kehilangannya," nasehat Yuta singkat pada Jaehyun sebelum berlalu meninggalkan Taeyong, Jaehyun dan Lucas.

"Aku akan menunggu di mobil," Yuta mengecup bibur Taeyong singkat lalu pergi dari tempat Jaehyun, ia tidak ingin terlibat dengan urusan percintaan orang lain, sedangkan Taeyong hanya melambai pada sang calon suami.

"Sekarang bagaimana?" Tanya Taeyong, dan Jaehyun hanya diam tidak tahu harus menjawab apa.

"Bagaimana aku akan mengundang Doyoung kepernikahanku," tangis Taeyong di buat-buat dan Jaehyun hanya menatap Taeyong jengkel.

"Jadi kau hanya perduli dengan undangan pernikahanmu?" Tanya Jaehyun tidak percaya. Taeyong awalnya mengiyakan pertanyaan Jaehyun sebelum menjawab bahwa ia bercanda saja.

"Pertama katakan, apa yang membuat Doyoung marah padamu? Apa kalian bertengkar lagi karenaku?" Taeyong jadi tidak enak sendiri pada Jaehyun apalagi sekarang pria itu sedang di ujung tanduk seperti ini.

"Tidak, aku rasa Doyoung memang benar-benar lelah mengejarku," ucap Jaehyun sedih, "ia bilang bahwa semuanya sia-sia dan ia tidak ingin bersamaku lagi," tambahnya.

Lucas hanya duduk bimbang, ia ingin memberi tahu Jaehyun tapi ia juga takut, tidak ada yang bisa menebak Jaehyun sebaik Doyoung mengetahui sifat pria itu.

Taeyong hanya mengusap punggung Jaehyun, "Lalu kau akan melakukan a-" "Hyung," panggil Lucas memotong pembicaraan Taeyong.

Jaehyun hanya menatap Lucas malas, ia hanya menaikkan satu alisnya seolah bertanya ada apa.

Lucas menelan ludahnya kasar, tenggorokannya terasa kering, ia takut tapi ia juga kasihan melihat Jaehyun seperti ini.

"Sebenarnya-"

"Sebenarnya apa? Jelaslah sedikit ketika berbicara," perintah Jaehyun pada Lucas yang terbata-bata.

"Waktu itu Doyoung nuna ke sini, aku sudah mencoba menahannya tapi ia justru memaksa untuk menemuimu, dan semuanya terjadi begitu cepat, Doyoung nuna mendengar pembicaraan kalian tapi ia tidak mendengar semuanya dan pergi begitu saja tanpa tahu bahwa yang ia dengar hanyalah ke salah pahaman," cicit Lucas, semakin panjang ceritanya semakin mengecil suara Lucas.

Taeyong masih mencerna perkataan Lucas sementara Jaehyun sudah menatapnya dengan tatapan membunuhnya.

"Maafkan aku hyung," mohon Lucas.

"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal sialan," umpat Jaehyun, dan Lucas hanya menunduk diam.

Sementara Taeyong hanya menutup mulutnya sembari berkata astaga, karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

Tamat sudah riwayat Lucas, ia yakin ibunya akan memarahinya setelah ini.

"Aku sungguh ingin memberi tahumu, tapi kau sudah pergi terlebih dahulu, aku juga sudah menghubungi Doyoung tapi ia tidak menjawab panggilanku," jelas Lucas, jika bukan karena wajah tampannya, Lucas sudah ingin menangis dari tadi, Jaehyun memang baik tapi tetap saja mengerikan baginya.

"Kan apa kubilang, kau memelukku sembarangan padahal sudah kukatakan kau itu sudah punya Doyoung, jadi kau harus menghargai perasaannya bagaimanapun juga," Taeyong memukul pundak Jaehyun, wanita itu ingin menghilang dari dunia sekarang juga jika ia tidak ingat akan Yuta dan Mark.

"Aku tidak tahu bahwa akan jadi seperti ini," tutur Jaehyun melemah, ia tidak berniat memarahi Lucas, setidaknya sekarang ia tahu kenapa Doyoung terlihat begitu putus asa waktu itu.

"Hyung maafkan aku," panik Lucas dan Jaehyun hanya melambaikan tangannya menyuruh Lucas untuk diam.

"Sudahlah, ini sudah terjadi, mau bagaimana lagi," ucap Jaehyun tidak bersemangat.

"Jangan seperti itu Jaehyun, lakukan sesuatu, kau harus menemui Doyoung dan menjelaskan semuanya, jika tidak kau akan sangat menyesal," Taeyong meyakinkan Jaehyun untuk kembali optimis.

"aku akan melakukan apa saja yang ku bisa untuk membantumu," Bujuk Taeyong.

"Tapi aku tidak tahu harus apa, aku saja tidak tahu sekarang dia dimana bagaimana kau akan membantuku," ucap Jaehyun semakin pesimis.

"Astaga Jaehyun kau ini," Taeyong benar-benar ingin membabat habis kepala Jaehyun hingga botak agar pria ini sadar betapa bodoh dirinya.

"Sekarang sebaiknya kau berusaha menghubungi Doyoung semampumu, aku akan memberikan undangan untuk Doyoung melalui Ten,"

"Kau mengenal Ten?" Tanya Jaehyun.

"Tentu saja, aku berteman dengan mereka, hanya saja Doyoung menjaga jarak dariku karena kau," marah Taeyong, Jaehyun memang definisi pria brengsek abad ini menurutnya.

Doyoung mungkin masih menganggapnya teman walaupun sekarang mereka tidak seakrab dulu dan beruntung Ten masih mau berteman dengannya, setidaknya dengan adanya Ten, Doyoung dan Taeyong masih memiliki hubungan. Taeyong sangat-sangat berterima kasih kepada Jaehyun.

"Kau harus tahu, jika bukan karena Johnny memberi tahuku bahwa kau dan Doyoung berhubungan, mungkin aku tidak akan pernah tahu," jelas Taeyong pada Jaehyun yang kini seperti anak kecil yang tengah di marahi oleh ibunya.

"Dan kau tahukan bagaimana Johnny menyukai Doyoung, ia sangat menentang hubunganmu dan Doyoung, tapi aku terus meyakinkan Johnny bahwa kau mungkin saja berubah jika aku menghilang, apa kau tahu kenapa aku menjauhimu? Supaya kau fokus pada Doyoung dan melupakanku bukannya terjebak dengan nostalgia masa lalumu Jaehyun," Taeyong benar-benar ingin menangis pada Jaehyun.

"Dan juga, alasan lain aku memutuskanmu adalah karena Doyoung sudah terlebih dahulu menyukaimu jauh sebelum kau menyatakan perasaanmu padaku, sejujurnya aku sudah mulai menyukaimu tapi di sisi lain aku menjaga perasaan temanku, beruntung Yuta datang, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika Yuta tidak kembali padaku," dan kini Jaehyun baru menyadari karena perasaannya, dia melukai dua wanita sekaligus.

"Maafkan aku," sesal Jaehyun, sekarang ia tahu bagaimana Doyoung mengorbankan segalanya.

"Aku sudah memaafkanmu, tapi sebaiknya kau berusahala lebih keras, setidaknya kau tidak akan menyesal setelah semua ini," ucap Taeyong, ia tidak bisa berada lebih lama bersama Jaehyun, ada Yuta menunggunya.

"Percayalah padaku, aku akan membantumu sekali lagi," Taeyong menyemangati Jaehyun dan pria itu mengangguk menuruti.

Taeyong memeluk Jaehyun mencoba menenangkan pria itu, "aku akan mengabarimu jika Ten dan Johnny memberi tahu kemana Doyoung," ucapnya lalu pergi meninggalkan Jaehyun yang duduk di kursi tamu.

Lucas yang sedari tadi diam mendengarkan hanya bisa merasa bersalah pada Jaehyun.

"Hyung?" Panggil Lucas.

"Hmm?"

"Kau baik? Jika tidak pulang saja, aku akan menyusun pekerjaanmu, kau bisa mempercayakannya padaku," Lucas mencoba menyemangati Jaehyun juga.

Sebelum Lucas beranjak menjauh dari Jaehyun, Ia sempat membisikkan sesuatu pada bocah itu, "kau sebaiknya bekerja dengan sepenuh hatimu dan lebih mengabdi kepadaku," ucap Jaehyun sembari meremat pundak Lucas, dan bocah Wong itu hanya menunduk mengiyakan.

...

Hampir satu bulan dan Doyoung benar-benar seperti menghilang dari kehidupan Jaehyun, semua pesan singkat yang ia kirim tidak pernah di balas, telfonnya hanya di jawab oleh wanita lain yang justru memberitahukan bahwa nomor Doyoung sudah tidak aktif.

Terakhir yang ia tahu, Doyoung sudah pindah dan mengontrakkan apartemennya, Ten ataupun Johnny tidak memberi tahu di mana Doyoung berada, mereka hanya bilang bahwa Taeyong bisa menitipkan undangan pernikahannya kepada Ten.

Sekarang satu-satunya harapan Jaehyun untuk menemui Doyoung adalah hari ini, hari pernikahan Taeyong, Jaehyun yakin Doyoung pasti datang.

Jaehyun merapikan kembali Tuxedonya, rambutnya yang kini jadi lebih memanjang dari sebelumnya hanya di sisir kebelakang dengan di berikan sedikit minyak rambut.

Ia begitu yakin bahwa Doyoung akan datang karena Taeyong bilang Ten sudah berjanji jika Doyoung akan menghadiri pernikahannya.

Dan disini lah Jaehyun, di sebuah taman yang kini di sulap menjadi pelataran pernikahan Taeyong, wanita itu memilih garden party sebagai tema pernikahannya.

Acaranya belum di mulai tapi tempatnya sudah ramai dengan tamu undangan, Jaehyun hanya duduk diam, sesekali ia menyapa teman-teman lamanya, tidak ada percakapan panjang, hanya sapaan singkat yang berlalu begitu saja.

Jaehyun terlihat tidak nyaman dalam duduknya, pria itu terus saja melihat kekanan dan kekiri, mencari Doyoung yang tidak jua menunjukkan batang hidungnya.

Ia mengehala nafas putus asa, apa Doyoung tidak akan datang? Pikir Jaehyun kecewa, sebelum teriakan Ten yang heboh karena bertemu temannya, membuat Jaehyun kembali tersadar.

Dan di sana, Jaehyun bisa melihat Doyoung dengan balutan dress longgarnya dan dandanan natural andalannya, Doyoung terlihat sangat cantik. Jaehyun tidak dapat memalingkan pandangannya dari Doyoung, berharap wanita itu akan melihat kearahnya.

Dan gotcha! Pandangan mereka bertemu satu sama lain, netra cokelat keabuan milik Jaehyun menatap Doyoung seolah memanggil tetapi wanita itu langsung memutuskan kontak mata mereka begitu saja dan memilih bersembunyi di belakang Johnny, Jaehyun mendecih, apa pria itu tidak bisa menyingkir dari Doyoungnya.

Beruntung, Jaehyun duduk di tempat tamu khusus dan ia berada di barisan yang sama dengan Doyoung, setidaknya Taeyong sudah berusaha sebisanya untuk membantu Jaehyun dan ia mensyukuri itu.

Tapi sialnya, Johnny dan Ten seolah tidak mengizinkan rencananya untuk berjalan dengan lancar, Doyoung yang seharusnya duduk di samping Jaehyun di gantikan oleh Ten dengan Johnny di sebelahnya dan Doyoung dengan seorang pria lain yang seingat Jaehyun adalah kakak tingkatnya dulu.

Sepanjang acara sakral itu Jaehyun hanya mengeluarkan wajah masamnya, ia tidak bisa mendekati Doyoung barang sedetikpun, dan sekarang para tamu sedang menikmati hidangan tapi Jaehyun tidak begitu berselera, ia memutuskan untuk ke toilet.

Sedangkan Doyoung, wanita itu tadinya menikmati saja makanan yang ada tapi perutnya sungguh tidak bisa di ajak bersahabat, tiba-tiba saja ia mual padahal makanan yang ada sangatlah enak menurutnya.

"Aku akan ke toilet sebentar," pamit Doyoung pada Ten dan Johnny yang tengah menikmati makanan mereka, kedua insan itu pun langsung berhenti dari acara ayo makan gratis di pesta pernikahan temanmu.

"Apa perlu kutemani?" Tanya Ten menawarkan diri dan Doyoung hanya menggeleng sembari menutup mulutnya.

"Kau yakin?" Kali ini Johnny yang bertanya dan Doyoung mengangguk cepat.

"Kalian makan saja, aku tidak ingin membuat merusak nafsu makan kalian," gurau Doyoung dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Johnny, Ten dan Taeil.

Jaehyun berdiri di depan wastafel, mencuci tangannya, rasanya berada di toilet lebih nyaman daripada berkumpul dan melihat Doyoung tapi tidak bisa mendekatinya barang se-inci pun.

Tapi Jaehyun bukanlah orang yang tidak sopan, ia tidak mungkin melewatkan acara sekali seumur hidup milik Taeyong ini. Pada akhirnya Jaehyun keluar dari toilet, berjalan melewati toilet wanita sebelum seseorang menabraknya.

"Hei! apa kau tidak punya ma-" "Doyoung," ucap Jaehyun senang, ia tidak jadi memarahi orang yang tadinya keluar dari toilet tanpa melihat lagi.

Doyoung yang terkejut hanya tersenyum kaku pada Jaehyun, ia langsung mengambil ancang-ancang untuk beranjak dari tempatnya berada, tidak baik baginya untuk berada di dekat Jaehyun, "aku permisi," turur Doyoung yang hendak kabur.

Sayangnya Doyoung kalah cepat, Jaehyun sudah terlebih dahulu menarik pinggangnya dan memeluk Doyoung.

Wanita itu panik sejadi-jadinya, sejujurnya ia merindukan Jaehyun tapi ia sadar mereka bukan lagi sepasang kekasih, dan Doyoung juga sadar bahwa sampai kapanpun Jaehyun tidak akan menyukainya.

Doyoung ingin menangis, ia galau antara ingin membalas pelukan Jaehyun atau melepaskannya.

"Ja-Jae jangan seperti ini," ucap Doyoung tebata-bata, mencoba melepaskan Jaehyun yang justru memeluknya semakin erat.

Katakanlah dirinya sangat tidak keren karena memaksa Doyoung untuk berpelukan di depan toilet tapi apa pedulinya, persetanlah dengan dimana ia berada sekarang, ini satu-satunya kesempatan Jaehyun untuk menjelaskan segalanya pada Doyoung.

"Jaehyun kumohon lepaskan," pinta Doyoung dan pria itu tidak mengindahkannya, Jaehyun hanya menjauhkan wajahnya tapi tidak dengan tubuhnya, ia bahkan memojokkan Doyoung ke arah dinding.

Wanita itu meletakkan kedua tangannya pada dada bidang Jaehyun, menahan agar dirinya dan Jaehyun tidak semakin menempel.

"Jaehyun kumohon, jangan seperti ini, lepaskan aku," pinta Doyoung lagi, ia sudah putus asa, jika Jaehyun tidak melepaskannya sekarang juga ia yakin dirinya tidak akan bisa menahan tangis karena sangat merindukan Jaehyun.

"Lihatlah, kau tampak lebih berisi dari biasanya, apakah sebahagia itu kau berpisah dariku?" Tanya Jaehyun sedih, tangannya mengusap pinggang Doyoung yang terasa melebar dari biasanya dan juga perut Doyoung sedikit lebih membuncit, beruntung dress Doyoung bisa menyamarkannya tapi tetap saja Jaehyun bisa merasakannya.

Ia menyerngit heran, setaunya Doyoung itu kurus tapi berisi di tempat-tempat tertentu dan selama ia bersama Doyoung, Jaehyun yakin seyakinnya bahwa perut Doyoung tidak sebuncit ini walupun tidak sebegitu buncit seperti orang hamil, tunggu dulu, apakah Doyoung hamil? Pikirnya, Tangan Jaehyun tergerak untuk mengelus perut Doyoung.

Doyoung yang panik,langsung berteriak dan meronta dari pelukan Jaehyun, "lepaskan aku Jaehyun," bentak Doyoung, tangannya bahkan menepis tangan Jaehyun.

Tapi bukan Jaehyun namanya jika mengalah begitu saja, ia justru memegang kedua tangan Doyoung agar wanita itu berhenti memberikan perlawanan kepadanya, "tenanglah Doie, aku tidak akan melakukan apapun," Jaehyun mencoba meyakinkan tapi Doyoung hanya menggelengkan kepalanya menolak.

"Kumohon Jaehyun hiks," tangis Doyoung, dan tiba-tiba saja tubuh Jaehyun terdorong kebelakang di sertai dengan sebuah pukulan indah dari Johnny yang kini berdiri di depannya dan Ten yang kini memeluknya.

Johnny, Ten dan Taeil yang berdiri sendiri di pojokan menyusul Doyoung karena khawatir wanita itu berada terlalu lama di toilet tapi siapa sangka mereka justru mendapati Jaehyun yang tengah memojokkan Doyoung yang sedang menangis.

"Tidak bosankah dirimu membuat Doyoung menangis?" Tanya Johnnya marah, sementara Jaehyun hanya mengusap bibirnya, menghapus darah segar yang mengalir dari bibirnya akibat pukulan Johnny.

Johnny yang masih kesal hendak memukul Jaehyun lagi tapi Doyoung dengan cepat menahan tangan Johnny, "Johnny hentikan, ayo kita pergi saja," ajak Doyoung, ia tidak tega melihat Jaehyun terluka karenanya, bagaimanapun Jaehyun adalah pria yang ia cintai dan ayah dari bayinya ini.

Hanya saja Doyoung tidak mau Jaehyun mengetahui jika dirinya hamil, Doyoung tidak menginginkan itu, ia tidak ingin Jaehyun terpaksa kembali padanya hanya karena ia hamil, Doyoung tidak ingin Jaehyun merasa bersalah, cukup yang lalu saja ia bersama Jaehyun sebagai pelarian pria itu saja.

"Jika kau mencoba mendekatinya lagi, aku tidak segan untuk memberikanmu lebih banyak pukulan," ancam Johnny yang berjalan membuntuti Doyoung, Ten dan Taeil.

"Doie, kumohon biarkan aku menjelaskannya dulu padamu," pinta Jaehyun yang menahan Doyoung, tapi wanita itu hanya menggelengkan kepalanya dan menepis tangan Jaehyun yang memegang lengannya.

Doyoung menangis, dalam hati ia terus meminta maaf karena mengacuhkan Jaehyun seperti itu.

Dan Jaehyun hanya bisa melihat Doyoung pergi bersama ketiga orang tersebut, pria itu bahkan menendang kotak sampah yang berada di dekatnya hingga terjatuh berserakan.

Jaehyun hanya ingin mengajak Doyoung berbicara untuk menjelaskan semua kesalah pahaman yang ia dengar tentang dirinya dan Taeyong.

Atau lebih tepatnya Jaehyun hanya ingin meminta maaf dan mengajak Doyoung kembali padanya, hanya itu.

•TBC•

And I love you guys for reading my story * byeee '-')*