Chapter 2

.

Disclaimer

Apapun yang tertulis disini hanya fiksi belaka. Penulis tidak bermaksud untuk mencemarkan nama EXO dan tokoh lainnya. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian nyata, maka itu murni ketidaksengajaan penulis.

Semua kejadian disini tidak mengikut dengan apapun yang berdasar dunia nyata. Doctor AU disini murni imajinasi penulis.

Warning

Khusus 21 Anak dibawah umur yang tidak nyaman dengan adegan disini, dianjurkan untuk tidak membacanya.

Last

Segala tulisan dari cerita ini merupakan fiksi penulis. Penulis tidak bermaksud apapun. Maksud dari tulisan ini hanya untuk hiburan semata.

Selamat membaca.

.


.

Dengan tubuh yang sudah menggigil, Chanyeol menggendong Baekhyun—Brudernya dengan gaya bridal style.

Kedua tangannya ia kalungkan di leher Chanyeol, menatap wajah tampan itu dengan tatapan terpukau.

Entahlah, Baekhyun rasanya masih di mabuk obat dosis tinggi yang Chanyeol beri.

Tubuh mungil itu ia dudukkan di bangku depan, kemudian mengambil selimut bulu berwarna coklat muda dan menyelimuti tubuh polos Baekhyun.

Pria tinggi itu menutup pintu mobil dan duduk di bangku supir sedang Baekhyun sudah mengantuk dengan suhu dingin di dalam klinik sejak tadi akhirnya memejamkan matanya.

.

.

.

Si mungil bangun dari tidurnya ketika tubuhnya dibanting kasar.

Ternyata itu Dokter Chanyeol yang mendaratkan tubuhnya di kasur berukuran super besar miliknya.

Sudah lama Baekhyun tidak ke apartemen mewah milik Dokter itu.

Sekitar 2-3 bulan lalu sepertinya. Mengingat Chanyeol yang memilih tidur di klinik daripada di apartemen besarnya itu.

Dan selama itulah Baekhyun rela menjadi pelampiasan libido Chanyeol setiap malam. Bahkan, hampir tiap malamnya Baekhyun tak pernah mengenakan apa-apa.

Chanyeol kemudian berjalan menuju kamar mandi, deras suara shower dari dalam sana terdengar oleh Baekhyun karena apartemen lebar ini sangat sepi.

Suara jarum jam di dinding pun bahkan terdengar jika Chanyeol mematikan showernya.

Pria tinggi itu selesai tidak lama setelahnya. Dengan tubuh telanjang, Baekhyun dapat melihat tubuh atletis, dada bidang, serta kejantanan Dokternya dengan urat-uratnya sangat jelas.

Sampai ketika Chanyeol menyadarinya.

"Apa yang kau lihat?" Tanyanya dengan ketus.

Dia menggeleng pelan.

Kemudian Dokter Chanyeol melilitkan handuk putih di pinggangnya dan berjalan keluar kamar.

Jika di pikir-pikir, Baekhyun belum makan apapun dari pagi. Bahkan, ia belum meminum apapun sejak kemarin.

Lalu, bagaimana Baekhyun dapat bertahan hidup tanpa sumber energi?

Ia berjalan mengikuti Chanyeol dari belakang. Setidaknya 2-3 bulan tidak kemari, tidak akan membuatnya tersesat bukan?

Baekhyun mengikuti Chanyeol dan pria itu berakhir di depan kulkas di dapur.

Meneguk air dingin dengan jantannya. Dan lihat! Bahkan jakunnya ikut bergerak.

Tangan lentik itu memegangi lehernya sendiri, merasakan apa ia memilikinya juga namun nyatanya, nihil.

Mata hazel itu menatap kedua tangan dengan jari lentik. Mengapa ia diberi jari seperti ini? Bukankah itu terlihat tidak jantan untuk laki-laki sepertinya?

"Bukankah benda ini sudah cukup membuktikannya, Baekhyun?" Tangan Chanyeol meraba penisnya.

Baekhyun sontak kaget ketika Dokter Chanyeol berbisik ditelinganya. Kedua tangannya memeluk pinggang Baekhyun mesra.

"Kau haus?" Tanyanya santai.

Dengan cepat, Baekhyun balas dengan anggukan.

Dokter Chanyeol kemudian memberikannya segelas air dan dengan cepat Baekhyun meminumnya hingga habis.

Salah satu tangan Chanyeol menjamah kejantanan Baekhyun. Tangan besar itu memainkan dua bola kembar dibawah sana.

Desahan hebat tak tertahankan lolos dari mulut Baekhyun. Tangannya membantu Chanyeol untuk melakukan lebih disana.

Chanyeol membawa tubuh itu ke arah kulkas dan kemudian mengambil beberapa sosis yang sudah dibuka.

"Lakukan ini." Ucap Chanyeol yang kemudian di balas anggukan oleh Baekhyun.

Ia mengambil salah satu sosis dan kemudian menjilatnya dengan lidah dan mulut terbuka. Melumuri tubuh sosis besar itu dengan liurnya sedang Chanyeol membuka pahanya lebar dan memainkan kejantanannya dengan desahan kecil.

Baekhyun kemudian memakan sosis pertama. Kemudian mengambil satu lagi dan ia kunyah segera.

Sosis terakhir adalah sosis berukuran paling besar. Itu sosis yang masih beku dengan warna merah pucat.

Baekhyun melirik Chanyeol yang sedang memejamkan matanya dan mengocok penisnya sendiri.

Sosis itu kemudian Baekhyun masukkan ke dalam lubangnya dan rasa dingin seketika menusuk seluruh tubuhnya.

Desahan kencang Baekhyun loloskan dan membuat Chanyeol sadar dari permainannya.

Cairan alami dari lubang Baekhyun membanjiri lantai.

Bahkan sosis itu belum sepenuhnya tenggelam dalam lubang Baekhyun.

Chanyeol bangkit dan membantu mendorong sosis itu dalam lubangnya.

Baekhyun mendesah dengan matanya yang sudah banjir air mata kenikmatan.

Dengan ritme dorongan lambat, Chanyeol memasukkan sosis itu sehingga Baekhyun merasakan dingin yang teramat sangat dalam tubuhnya.

Sosis keras itu kemudian Chanyeol hentak cepat secara tiba-tiba. Membuat kejantanan Baekhyun ikut terhentak.

Dan dorongan terakhir adalah yang terdalam. Baekhyun keluar untuk pertama kalinya dengan sebuah sosis panjang dan keras itu.

Chanyeol kemudian membalikkan tubuh Baekhyun dan langsung berhadapan dengan ia yang juga tanpa busana.

"Apa penis Kim Jongin senikmat itu?"

Baekhyun menggeleng.

"Apa tiang infus senikmat itu?"

Baekhyun menggeleng.

"Apa sosis senikmat itu?"

Baekhyun masih menggeleng.

"Lalu kenapa kau mendesah untuk hal yang tidak kau nikmati?!!"

Chanyeol membuka kedua belah paha Baekhyun kasar dan memasukkan jari tengahnya kedalam lubang Baekhyun sedang tangan satunya menggenggam tangan Baekhyun.

"C-chan-yeol..."

Chanyeol masih menggerakkan jari besarnya dengan kasar dalam lubang Baekhyun.

"MENDESAHLAH BAEKHYUN!" Teriaknya.

Ia tak bisa.

"Masukkan penismu, ahhhh, aku milikmu-hhh.."

Chanyeol kemudian mengambil sosis tadi dan memasukkan sosis itu dalam lubang Baekhyun bersamaan dengan jarinya disana.

"Kau pikir aku gigolo, hah?"

Baekhyun tersentak. Bukankah... itu kenyataannya?

"Shhh...ahh..." Baekhyun masih mengeluarkan kalimat erotis dari bibir pucatnya.

Chanyeol belum menciumnya dan jika boleh jujur, pelembab bibir alami yang paling ia suka adalah ciuman. Dan itu dari Chanyeol seorang.

Baekhyun memang aneh dalam memilih.

Ia menarik wajah Chanyeol dengan kedua tangannya lalu mencium kasar bibir tebal itu. Chanyeol balas kasar dan menghisap bibir manis di depannya. Memutar lidahnya dengan teratur dan tepat.

Baekhyun kalah telak memang.

Chanyeol kemudian bangkit dan menggendong tubuh Baekhyun lalu membawanya kekamar.

Ciuman panas itu tetap berlangsung ketika Chanyeol membanting tubuh Baekhyun ke ranjangnya.

Baekhyun membuka pahanya kembali, dan melihat sosis panjang itu masih tersangkut di lubangnya dengan sangat dalam.

Chanyeol mengambil penutup mata serta borgol yang kemudian ia pasangkan pada Baekhyun.

Kedua tangannya ia angkat keatas. Baekhyun terbaring dengan sosis panjang yang sudah mulai lembek dalam lubangnya.

Chanyeol kemudian menariknya dan menggantinya dengan vibrato.

"SSHHHHHHH...Ahhhhhhh..." Desah Baekhyun bertambah lantang dan Chanyeol tersenyum puas akan itu.

"Ch-chan-yeol... lepaskan... benda itu.."

Kini tubuh mungil itu terpampang sempurna. Sedang Chanyeol menahan libidonya yang sudah sangat memuncak pada Baekhyun.

Berpikir cara apa yang akan ia lakukan untuk menuntaskan nafsunya.

Chanyeol memasukkan vibrato itu makin dalam dengan sosis lembek yang masih tertanam disana.

"Kau lapar, Baekkie?" Berat suara Chanyeol bertanya.

Baekhyun mengangguk dalam keadaan gelap.

Ia menarik sosis yang bercampur dengan cairan pelepasan Baekhyun dan cairan dari vibrato dan kemudian menyuapkan sosis itu pada Baekhyun.

Mengunyahnya dengan lahap.

Sesekali ia menghisap sosis lembek bagai sebuah lolipop lezat.

Lidahnya berusaha membersihkan tiap sisi mulutnya sendiri.

Baekhyun benar-benar telah memakan sosis milik Chanyeol.

"Ahh...ahhhh...Akkhhh..."

Suara itu terus terucap dari bibir merah mudanya. Vibrato itu terus bergetar memainkan lubang sempitnya dan lihat, sudah berapa kali penis pendek itu menyemburkan spermanya?

Chanyeol membawa dirinya pada lubang Baekhyun dan menarik vibrato itu kemudian membuangnya sembarang.

Lidahnya menjelajah lubang banjir kemerahan itu dengan nikmat. Memasukkannya ke sela-sela kecil dan mencimumi sesekali.

Menghisap lubang sempit dan menelan setiap cairan yang terus keluar dari sana.

Ia lesakkan jari tengahnya dan mencungkil tiap dinding sempit disana.

Baekhyun membusungkan dadanya dan mendesah keras. Tiap sudut sentuhan Chanyeol membuatnya ingin meminta lebih.

Pria itu terus menarik ulur hasrat Baekhyun yang lemah.

Anak itu hanya ingin Chanyeol keluar di dalam-nya

Memang sesulit itu.

Chanyeol beralih pada penis yang sedang penetrasi dan kemudian menghisapnya dengan seksual.

Kecil, kemerahan, dan bersih tanpa ada satupun bulu kemaluan.

Hidungnya menciumi bau dewasa dari kejantanan Brudernya yang luar biasa,

"Seksi..."

Dadanya kembali membusung, penisnya naik dan mengeluarkan cairan sperma yang dengan sigap pria dibawahnya menelan keseluruhan yang ia semprotkan.

"Bagaimana, kalau kau masuk padaku?"

Baekhyun tak mendengar apa yang Chanyeol katakan. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mengangguk.

Karena bisa saja Chanyeol menawarkan untuk membuat kehidupan bersama dengannya, bukan?

Bagaimana Baekhyun dapat kesempatan menolak itu?

Chanyeol membalik tubuh Baekhyun yang kemudian menampakkan bokong mulus dengan cairan yang tersisa disana.

"Lubang ini harus diisi sesuatu, Byun.."

Baekhyun hanya mengangguk dengan apa yang ia dengar dari Chanyeol.

Libidonya tidak turun sedikitpun hingga Chanyeol masuk di dalamnya.

Pria itu datang dengan membawa sebuah stetoskop kesayangannya.

Ayahnya memberi itu saat ia sedang melangsungkan sekolah kedokterannya sekitar 5 tahun lalu.

Ia memasukkan salah satu tangkainya ke dalam lubang Baekhyun dengan kasar bersamaan dengan jari tengahnya untuk ikut merasakan kenikmatan di dalam sana.

"ARGH! Ahh.. ahhh..shhhhh.aaahhhhh..."

Baekhyun menaikkan pinggangnya refleks. Kedua belah bokong itu Chanyeol tampar keras dan meninggalkan jejak kemerahan.

Chanyeol memeluk Baekhyun intim. Penisnya menggesek luaran lubang Baekhyun yang tertanam stetoskop milik Dokternya itu.

Sedang tangan Chanyeol memegang vibrato dan tangan satunya memegang penis Baekhyun.

Ia arahkan benda itu pada penis Baekhyun. Pria di bawahnya menggila dan tubuhnya tak terlihat lelah dengan penyatuannya dengan benda-benda aneh yang masuk padanya.

Dan tentu, penyatuan ini adalah yang paling parah dari biasanya.

Berbeda dengan Chanyeol, ia tidak mau penisnya sia-sia di dalam lubang sempit Baekhyun jika akhirnya Baekhyun sakit.

Tahu kenapa?

Chanyeol tidak akan mau melepas penisnya bahkan hingga seminggu lamanya.

.


.

Saat itu Baekhyun sedang membuat sarapan roti panggang selai nanas.

Hanya berbekal jas putih kebesaran milik Chanyeol dan celana dalam berwarna pink dengan pita manis.

Bagian tengahnya berlubang sehingga kedua bola kembarnya tergantung dengan imut setiap kali ia berjalan.

Chanyeol melihat itu dan kemudian membalikkan tubuh Baekhyun. Mencium bibirnya panas hingga Baekhyun hampir mati dalam kenikmatan mereka.

Tangan besar itu menjamah dibalik jasnya sendiri menuju bokong Baekhyun. Meremasnya dan kemudian menamparnya dengan kuat dan menimbulkan suara yang cukup keras.

Celana dalam itu ia robek kuat dan membuangnya asal.

"Kau tahu, hukuman memakai celana dalam?"

Baekhyun menggeleng, menarik tebal bibir Chanyeol dan kembali menciumnya tanpa ampun.

Chanyeol tetaplah Chanyeol si pemenang.

Meski Baekhyun yang mencuri bibirnya, nyatanya lidahnya kalah telak melawan lidah terlatih Chanyeol.

Ia membalikkan tubuh Baekhyun kasar dan menyingkirkan jas putihnya kesamping.

Memasukkan penis raksasanya ke dalam lubang Baekhyun.

Tangannya memegang pinggang ramping Baekhyun dan memaju mundurkan dengan tempo kuat.

Sedang tangan Baekhyun memilin pentil kemerahan miliknya dan satunya mengocok penisnya.

Ia mencuri cairan dari penyatuannya dengan Chanyeol untuk ia jilat jarinya.

Tempo yang Chanyeol lakukan bertambah cepat setiap Baekhyun mendesah.

Baginya, desahan Baekhyun adalah alunan paling indah di muka bumi ini. Sungguh. Itu sangat indah.

Penis itu berada di ujung pelampiasannya dan Chanyeol kemudian menariknya keluar. Membawa kejantanannya pada mulut Baekhyun yang sudah menganga untuk apapun yang siap ia telan.

Seluruh cairan Chanyeol ia telan habis. Dengan senyuman bangga di akhir.

Namun itu belum permulaan bagi Chanyeol.

Ia membalik tubuh Baekhyun kembali dan melesakkan penisnya dengan kasar. Memasukkan dua jarinya bersamaan dengan penisnya sendiri.

Lubang itu bahkan terlihat telah melebar dan Chanyeol benci lubang lebar tanpa tekanan yang akan menekan penisnya.

Saat Chanyeol berusaha mengambil pil, suara ponselnya mengacaukan segalanya.

Ia mengambil ponsel itu dalam saku jas putih yang sedang Baekhyun kenakan.

Itu dari Yoora, kakak sulungnya.

"Halo.." Chanyeol menyapa dengan nada biasa seolah tak terjadi apa-apa.

"Sedang apa adikku?~"

"Bekerja." Jawabnya singkat.

"Temanku akan datang malam ini ke klinikmu, aku takkan jelaskan detailnya dan yang pasti ia akan tiba 4 menit lagi. Dah."

Telepon di tutup sepihak.

Komunikasi antar kakak adik itu tidak menghentikan penyatuan Chanyeol dengan Bruder cantiknya.

Sekali hukuman, tetap hukuman. Chanyeol harus konsisten.

Ia menggendong Baekhyun dengan penisnya yang masih berada dalam lubang Baekhyun.

Kemudian duduk di mejanya dengan memangku Baekhyun.

Pria mungil itu menghadap Chanyeol dan menunjukkan padanya ekspresi paling sensual yang pernah ia lakukan. Tangannya menjambak belakang rambut Chanyeol sedang satunya memilin pentil merah jambunya yang telah mengeras.

Chanyeol menghisap itu bagai seorang bayi besar yang sedang menyusu.

Baekhyun mencium puncak kepala Chanyeol dengan sayang sedang pinggangnya terus bergoyang dengan ritme yang berubah.

Baekhyun naik ke meja dan membuka kedua belah pahanya. Mengambil sebuah pena dan memasukkannya dalam lubangnya sendiri. Chanyeol berdiri dari tempatnya tiba-tiba.

"Aku akan menjemput pasien di luar. Tetap disini." Baekhyun mengangguk dan Chanyeol meninggalkannya.

Meski sedang solo, bukan tak mungkin Baekhyun tak mendengar suara desah wanita di lorong.

Bruder cantik itu bangkit dan mengintip dari pintu.

Kedua hazelnya menangkap Chanyeol yang sedang menenggelamkan wajahnya dalam payudara raksasa seorang wanita disana.

Entah kenapa, sudut kecil dalam dirinya merasakan sesak.

Sakit.

Tapi ia tak yakin itu dengan pasti.

Ia masuk kedalam dan tidur di ranjang kecil di ruangan Chanyeol dengan jas putihnya sebagai selimut.

Brak!

Suara keras itu mengagetkan Baekhyun. Ia menghadapakan dirinya dengan tembok untuk tak melihat apapun lagi yang membuat dirinya merasa sesak.

"Silahkan duduk."

Itu suara Chanyeol.

to be continued...

.

.

.

TATTOED HEART