Naruto ( c ) Masashi Kishimoto

"Vice Versa"

( c ) Hitomi Sakurako

Chapter 2

"Ayo berangkat! Waktuku tidak banyak." pinta Sasuke sambil membenarkan posisi duduknya. Kemudian ia memasang seatbelt-nya.

Sakura melongo, menatap makhluk yang seenaknya memasuki mobilnya dan memerintahnya. Sasuke membalas tatapan Sakura dengan wajah datar.

"Hah?!"

Sakura masih cengo, ia memperhatikan kembali Sasuke dari atas sampai bawah. Masih tidak mengerti kenapa makhluk itu dengan seenaknya memasuki mobilnya.

"Apa yang kau lakukan? Bukannya kau punya mobil pribadi?" tanya Sakura heran.

"Tentu saja ke acara ulangtahunnya. Lagipula hari ini aku tidak bawa mobil," ucap Sasuke dengan nada santai.

"Kau diundang? Ah, bukan! Maksudku, lalu kenapa harus di mobilku?" tanya Sakura lagi.

Sasuke tidak menanggapi Sakura. Ia hanya menatap lurus ke depan, kemudian mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Sakura masih terdiam, akhirnya ia menyerah karena Sasuke tidak memberikan jawaban. Ia juga tidak mengerti, kenapa Sasuke harus ikut hadir di acara ulangtahun pacar Sasori. Apakah Sasuke mengenalnya? Sepertinya tidak mungkin Sasuke sampai tahu mengenai pacar baru Sasori.

Sesampainya di gedung tempat dilaksanakannya pesta itu, Sakura segera turun dari mobilnya diikuti oleh Sasuke. Sakura masih bingung menatap Sasuke yang sekarang sudah berjalan lebih dulu di depannya. Dengan cepat Sakura segera menyusul Sasuke. Untuk diperjelas, Sakura dan Sasuke tidak sebegitu akrabnya. Mereka memang berada di jurusan yang sama ketika kuliah, tapi pada saat itu Sasuke adalah senior Sakura. Sakura hanya beberapa kali mengobrol dengan Sasuke, itupun ia tidak pernah berada di kelas yang sama dengan Sasuke. Ketika mereka telah memiliki perusahaan masing-masing pun Sakura tidak begitu sering menemui Sasuke, mereka hanya bertemu ketika ada acara besar, itupun mereka tidak mengobrol akrab. Sakura tahu Sasuke bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang lain.

"Kau mengenal Sasori?" tanya Sakura yang kini sudah menyamakan langkahnya dengan Sasuke. Mereka berdua berjalan memasuki gedung tersebut.

"Tidak." jawab Sasuke singkat. Ia bahkan tidak melirik ke Sakura.

Sakura yang semakin bingung langsung menahan tangan Sasuke.

"Lalu kenapa kau ada di sini?" tanya Sakura lagi.

"Aku hanya mencoba membantumu." ucap Sasuke sambil menatap mata Sakura. Sakura yang ditatap seperti itu hanya bisa membuang muka. Karena jujur saja, ia tidak dapat menahan diri ketika ditatap cukup lama seperti itu. Tatapan Sasuke kemudian berpindah pada lengannya yang ditahan oleh Sakura. Sakura yang menyadari itu segera melepaskan genggamannya.

"Membantuku?" Sakura meletakkan telunjuknya di dagu, memasang pose berpikir.

Sasuke menyeringai kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

"Kalau kau datang sendirian, kau pasti terlihat sangat menyedihkan. Makanya kau harus datang bersamaku, aku yakin cowok itu akan menyesal seumur hidupnya." jelas Sasuke. Apa ini? Sasuke Uchiha bisa menjelaskan sedetail itu kepada orang lain selain kliennya, terlebih lagi kepada Sakura yang notabene tidak begitu akrab.

"T-tunggu! Sasori bukan orang yang seperti itu, dia tidak akan berpikiran seperti itu. Jangan membuatku bingung, kau harus pulang!" protes Sakura. Ia berjalan meninggalkan Sasuke, menghampiri Sasori dan pacar barunya untuk memberi selamat.

Sasori yang menyadari keberadaan Sakura sontak menatap gadis yang kini berdiri di hadapannya. Ia tersenyum, "Sakura, kau datang!" seru Sasori bersemangat.

"Siapa dia?" tanya seorang gadis di samping Sasori. Gadis itu tersenyum dengan begitu manisnya, membuat Sakura tertegun sesaat.

"Temanku," jawab Sasori sambil tersenyum lembut kepada gadis itu.

Jleb! Sakura merasakan hatinya memanas. Sasori benar-benar melupakannya, ia tidak sedang bercanda. Perlakuannya terhadap gadis itu memberikan tamparan keras bagi Sakura bahwa ia tidak dapat berharap untuk memperbaiki hubungannya dengan Sasori lagi.

Sasori menggenggam tangan gadis di sampingnya –atau sebut saja Rin– dengan sangat erat. Hati Sakura mencelos melihat pemandangan di hadapannya itu. Ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak terjatuh.

Sakura mencoba tersenyum kemudian membuka mulutnya, "Ah, s-sela–"

Grep! Tiba-tiba Sakura merasakan tangannya digenggam dari belakang.

"Selamat." ucap Sasuke singkat yang menatap kedua pasangan di hadapannya. Wajahnya datar seperti biasanya, tapi genggaman tangannya sangat erat.

Sakura menoleh menatap Sasuke heran. Kemudian matanya beralih kepada Sasori yang menatap Sasuke dengan paras kebingungan.

"Ah, siapa dia?" tanya Sasori yang masih menatap Sasuke, kemudian berpindah menatap Sakura untuk meminta penjelasan.

"Oh, d-dia–" Sakura mencoba menjelaskan, namun lagi-lagi Sasuke memotong pembicaraannya.

"Maaf atas kelancanganku karena tidak memperkenalkan diri sebelumnya, aku Uchiha Sasuke, pacar Sakura Haruno," ucap Sasuke yang sontak membuat Sakura berteriak dalam batinnya. Apa-apaan itu? Dan lagi, ia menekankan kata 'pacar'. Tolong, ini tidak seperti kenyataannya.

"Sakura, apa itu benar?" tanya Sasori yang sepertinya tidak mempercayai perkataan Sasuke. Saat ini Sakura bersyukur Sasuke datang dan menyelamatkannya. Eh, menyelamatkannya?

Rin bukan gadis bodoh, melihat pemandangan seperti ini, sepertinya jelas sekali kalau Sakura pernah memiliki hubungan khusus dengan Sasori. Rin menatap Sakura dengan tatapan sedih. Sakura yang menyadari tatapan Rin akhirnya merasa bersalah, kemudian Sakura tersenyum kecil.

Sakura mengangguk begitu saja, kemudian Sasuke menyeringai puas karena Sakura sepertinya bisa diajak kerjasama. "Terima kasih telah melepaskannya, Sasori-san," ucap Sasuke dengan nada sarkastik sambil menatap Sasori dengan tatapan tajam.

Rin menatap Sasori dengan tatapan heran. Sasori yang ditatap hanya terdiam. Sakura yang menyadari suasana kaku ini segera angkat bicara.

"Rin-san, selamat ulangtahun. Untuk sekarang aku harap kalian berdua bisa bahagia. Aku akan mendoakan kalian selalu, Rin-san, terima kasih karena telah memilih Sasori," ucap Sakura sambil tersenyum tulus kepada Rin dan Sasori. Ini adalah hal yang seharusnya Sakura katakana. Ia harus melupakan Sasori, Rin lebih pantas untuk memilikinya. Perkataaan Sakura membuat Rin lega, kemudian ia membalas senyum Sakura.

.

.

.

Sakura dan Sasuke berjalan keluar dari gedung. "Terima kasih karena sudah membantuku, mungkin kalau kau tidak ada di sana aku sudah menangis," ucap Sakura sambil tersenyum pada Sasuke.

"Benarkah? Kupikir tadi kau mau menghancurkan acaranya," kata Sasuke yang segera dibalas Sakura dengan ekspresi kesal. Pria itu berdiri di hadapan Sakura, membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Tangannya terulur seolah meminta sesuatu.

"Apa?" tanya Sakura bingung.

"Kemarikan kunci mobilmu, biar aku yang menyetir. Ada yang mau kubicarakan," ucap Sasuke. Sakura tampak berpikir sebentar kemudian menyerahkan kuncinya kepada Sasuke.

Ternyata Sasuke membawa Sakura ke sebuah restoran. Sakura juga ingat, ia belum makan sama sekali. Sasuke berjalan menuju sebuah meja yang ada di dekat jendela, diikuti oleh Sakura. Tanpa basa-basi lagi, mereka segera menduduki kursi di sana. Sakura terdiam, Sasuke hanya melempar pandangannya ke luar jendela. Sedangkan Sakura hanya menatap Sasuke, menunggu pria itu mengatakan sesuatu.

Tak lama setelah itu, seorang pelayan menghampiri mereka sambil membawa buku menu dan dua gelas air. Sakura menerimanya dengan semangat.

"Aku harus makan apa ya…" ucap Sakura seolah berpikir. Ia mencoba untuk memecah keheningan di antara mereka, matanya menjelajah buku tamu sambil sesekali mengintip Sasuke dari balik buku menu.

Sasuke yang menyadari Sakura mengintipnya dari balik buku menu kemudian tersenyum tipis. Membuat Sakura tersentak dan kembali fokus pada menu. Setelah Sasuke dan Sakura menyebutkan pesanan mereka, pelayan itu segera berlalu dari hadapan mereka.

"Sekali lagi terima kasih karena telah membantuku," ucap Sakura sambil tersenyum tulus kearah Sasuke.

"Hn, tidak masalah." balas Sasuke. Ia kembali menatap ke luar jendela.

Suasana kembali menjadi hening. Sakura berharap pelayan akan cepat membawa makanannya. Karena yang hanya ada di hadapannya saat ini cuma segelas air. Selain karena memang lapar, Sakura juga tidak tahan harus berada dalam suasana canggung ini. Karena pelayan yang diharapkan belum muncul, akhirnya Sakura memberanikan berbicara lagi.

"Kenapa kau mau membantuku?" tanya Sakura. Ia meneguk air dari gelas yang ada di hadapannya.

Sasuke tidak menoleh ke arah Sakura, "Aku memang suka menolong orang yang sedang sial dan..." Sasuke menjeda perkataannya, kemudian menatap Sakura sambil tersenyum, "...wanita yang cantik," lanjut Sasuke.

Sakura tersipu malu, ia tersenyum sambil menatap Sasuke.

"Baguslah, aku adalah salah satunya," ucap Sakura dengan percaya dirinya. Ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya, kemudian menopang dagunya menggunakan satu tangan.

"Oh ya? Menurutku tidak." ucap Sasuke sambil menggeleng menatap Sakura. Ia mulai menyeringai tipis.

"Maksudku orang yang sial," ucap Sakura dengan nada ketus. Sasuke menyeringai menatap Sakura yang sedang kesal kepadanya. Ah, lucu sekali bisa menggoda orang ini, pikir Sasuke.

"Kau tadi mau membicarakan sesuatu, apa itu tentang perusahaan?" tanya Sakura yang sepertinya moodnya sudah membaik.

Sasuke terdiam sejenak. Kemudian menggeleng pelan. "Sebenarnya ini tentang urusan pribadiku," ucap Sasuke dengan nada pelan.

'Wah! Apa ini?! Ada angin apa sampai seorang Sasuke Uchiha yang terkenal misterius dan cuek bisa berbicara sesantai ini, selain itu ia bercerita mengenai masalah pribadinya. Apakah Sasuke s-s-su-suka padaku?! Tapi tadi dia sudah menggodaku, huh!' Sakura berteriak dalam batinnya. Tanpa ia sadari ia senyum salah tingkah. Sadar akan tatapan heran dari Sasuke, Sakura segera menghentikan senyum anehnya.

"A-ada apa?" tanya Sakura dengan nada serius. Ia mencoba menghilangkan asumsi aneh yang sempat hinggap di pikirannya tadi.

"Aku mau kau katakan ke calon tunanganku kalau kita pacaran," ucap Sasuke dengan nada malas. Ia kembali membuang muka ke luar jendela sambil mendengus pelan.

HAH?–Sakura cengo.

"T-tu-tunangan?" entah kenapa Sakura menjadi gagap ketika ikut dalam percakapan bersama Sasuke, sepertinya pria itu sudah membuatnya bingung dan terkejut beberapa kali hari ini. "Maksudmu, kau ditunangkan? Dengan siapa? Tunggu dulu, kau menyuruhku berbohong?"

"Hn. Kau tahu Hinata Hyuuga? Ayahku ingin menjodohkanku dengan gadis itu, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan perjodohan, katanya kalau aku membawa seorang gadis mungkin ia akan berpikir dua kali," jelas Sasuke.

Sakura mencoba mengingat sesuatu. Sosok Hinata agak familiar di ingatannya. Ah, ia ingat bertemu Hinata di elevator tadi. Apakah yang dimaksud Hinata tadi itu adalah Sasuke? Dan Sasuke kabur untuk pergi bersamanya ke acara ulangtahun pacar Sasori. Uh! Sakura merasa menjadi karakter antagonis yang merebut calon tunangan seorang gadis baik seperti Hinata.

"Sepertinya benar orang yang dicari Hinata tadi adalah kau." teriak Sakura sambil menunjuk Sasuke dilengkapi dengan tatapan tidak percayanya.

"Tadi? Kau bertemu dengannya?" tanya Sasuke sedikit terkejut.

Sakura mengangguk beberapa kali. "Iya, di kantorku. Kalian tidak melakukan hal aneh kan? Aku takut dia ke perusahaan dan mengira aku merebutmu." ucap Sakura dengan sangat dramatis dan hanya dibalas dengan wajah datar ala Sasuke.

"Aku tidak tertarik dengan hal bodoh seperti perjodohan. Karena tadi aku sudah membantumu, kau juga harus membantuku sekarang," ucap Sasuke yang lebih terdengar seperti perintah.

'Dia membantuku karena mengharapkan imbalan, benar-benar pikiran yang licik sekali," batin Sakura yang mulai kesal. Sakura berpikir sebentar, kemudian menatap mata Sasuke. Tidak ada sirat bercanda di sana. Sakura meneguk air liurnya.

"Bukannya kau bisa mengatakannya sendiri? Tapi menikah dengan Hinata bukan ide yang buruk, tentunya untuk kelancaran perusahaan juga." Sakura cengengesan, mencoba mencari jalan agar tidak terlibat dalam kehidupan drama dua calon pasangan itu.

Sasuke mengepalkan tangannya yang berada di atas meja. Kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi, menghembuskan napas pelan. "Percuma, Hinata juga sepertinya tidak banyak berkomentar tentang hal ini. Aku ragu sebenarnya dia pasrah dengan nasibnya." ucap Sasuke.

Sakura terdiam cukup lama mendengar penuturan Sasuke. Tak lama setelah itu, pelayan membawakan pesanan mereka. Sakura tersenyum ramah sambil menerima makanannya, tak lupa ia menggumamkan terimakasih kepada pelayan tersebut.

"Ah, sebenarnya alasanku tidak mau menikah karena aku sudah punya sesuatu yang harus aku jaga." Sasuke tersenyum singkat, kemudian menyantap makanan di hadapannya dengan sangat tenang.

Sakura cukup terkejut mendengarnya. Sasuke Uchiha yang terkenal tanpa ekspresi ini ternyata punya dambaan hatinya sendiri. Sampai kemudian ia menyadari sesuatu. "Lalu, kalau sudah punya kenapa tidak menikahinya saja?"

Sasuke terdiam. Ia menatap wajah Sakura cukup lama, alisnya sedikit mengerut. Sekilas menatap heran pada Sakura. "Apa kau mengerti situasinya?" tanya Sasuke yang juga mulai kesal. "Tentu saja aku tidak bisa melakukannya. Lagipula kalau masalah perusahaan, posisimu juga bersaing dengan Hinata, aku rasa itu tidak masalah."

Sakura bukanlah orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Ia penasaran, kenapa Sasuke bersikeras untuk tidak membawa gadis itu saja sebagai pengganti Hinata, sebenarnya masalah apa yang terjadi di antara mereka. Apa gadis yang dimaksud Sasuke hanya gadis biasa dan bukan dari keluarga pemilik perusahaan? Kondisi ini sangat mirip nasibnya bersama Sasori ia merasa itu bukan sesuatu yang harus dia ketahui sehingga ia tidak bertanya lebih.

Sakura menghembuskan napas, menyadari bahwa Sasuke mungkin terjebak dalam masalah yang sama dengan dirinya.

"Baiklah! Aku hanya tinggal mengatakannya pada Hinata, kan?" tanya Sakura. Sasuke mengangkat wajahnya, menatap Sakura, kemudian mengangguk pelan.

Sakura yakin membantu Sasuke bukanlah hal yang beresiko untuk saat ini. Selain itu, ia percaya Sasuke sudah memikirkan masalah ini dengan matang. Ia sangat tahu apa yang dirasakan Sasuke sekarang. Lagipula ia harus membalas perlakuan Sasuke yang sudah membantunya tadi, meskipun caranya cukup licik.

.

.

.

Setelah kegiatan makan siang itu, Sakura mengantar Sasuke kembali ke perusahaan. Kemudian karena masih ada beberapa pekerjaan tambahan, ia masih harus bekerja karena ayahnya pulang lebih cepat hari ini.

Beberapa jam berlalu. Ia telah menyeselesaikan pekerjaannya hari ini. Sakura meregangkan tubuhnya kemudian menyandarkan kepalanya pada lengannya yang diselonjorkan di atas meja. Sakura memejamkan matanya cukup lama, mencoba berpikir keras. Ia sudah setuju akan membantu Sasuke, tapi ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

"Ah, benar juga. Apa yang harus kukatakan padanya?" Sakura segera beranjak, ia berdiri sambil meletakkan jarinya di dagu, mencoba berpikir. Kemudian, ide-ide aneh mulai muncul di pikirannya. Ia membayangkan dirinya menatap Hinata dengan penuh kesombongan sambil mengatakan kalau ia berpacaran dengan Sasuke. Setelah itu ia membayangkan Hinata akan marah dan mereka bertengkar sambil menjambak rambut. Sakura tertawa kecil, bayangan itu perlahan menjadi sesuatu yang konyol dan membuat Sakura tertawa lagi.

Cklek! "Maaf, Sakura-sama. Ini adalah dokumen yang Anda min-" Obito yang membuka pintu dengan sedikit tergesa-gesa, melihat posisi Sakura yang tertawa tanpa sebab. Sakura mendadak terdiam, sesegera mungkin memperbaiki posisinya dan menatap Obito yang masih menatapnya dengan wajah heran.

"-ta." Obito menyelesaikan ucapannya ketika menyadari kondisi awkward yang sangat tiba-tiba ini.

"Maaf, saya tidak mengetuk terlebih dahulu." Obito menunduk beberapa kali, penuh bersalah. Kemudian cepat-cepat menyerahkan tumpukan kertas yang ada di tangannya ke meja Sakura. Ia menunduk lagi, tanda untuk permisi meninggalkan tempat itu sesegera mungkin dan berlalu keluar dari ruangan Sakura.

Sakura sudah sepenuhnya sadar akan hal memalukan yang dilakukannya. "I-ini tidak seperti yang kau lihat…" gerutu Sakura. Ia menepuk jidatnya. Apa yang ada di pikiran Obito sekarang? Bisa-bisanya ia memberikan pemandangan memalukan itu di depan sekretarisnya sendiri. Sakura mengutuk dirinya sebal.

Saat langit sudah mulai gelap, Sakura berencana untuk segera bergegas. Ia mengambil tasnya, kemudian membuka pintu ruangannya perlahan, memperhatikan sekeliling. Ia masih malu akan kejadian tadi dan berharap tidak menemui Obito saat ini juga.

Drrt! Drrt! Tiba-tiba ponsel Sakura bergetar. Sakura sontak terkejut dan sempat merutuki sang penelpon. Ia segera mengangkat panggilan tersebut.

"Sakura, apa kau bisa ke rumah sakit sekarang?" tanya Ino, sang penelpon.

"Ada apa tiba-tiba?" bukannya menjawab, Sakura malah kembali bertanya. Tapi suaranya dibuat kecil seolah sedang berbisik.

"Kenapa kau berbisik? Ah, tapi intinya aku lapar, temani aku makan malam," ucap Ino dengan nada memelasnya. Sakura tertawa kecil mendengar suara Ino. Ah, kebetulan Sakura juga ingin menceritakan kejadian hari ini.

"Baiklah, aku akan menjemputmu," ucap Sakura yang kemudian memutuskan panggilan. Ia berjalan dengan sedikit hati-hati keluar dari perusahaan, kemudian berlari tergesa-gesa memasuki mobilnya. Setelah masuk, ia mengelus dadanya perlahan tanda situasi sudah aman. Entahlah, Sakura sebenarnya tidak perlu sampai melakukan hal itu. Setelah itu, ia membawa mobilnya menuju Rumah Sakit Konoha.

.

.

.

Sakura membuka pintu ruangan Ino. Tapi ia tidak melihat Ino di sana, yang ada hanya tumpukan kertas dan laporan di atas meja Ino.

"Kemana dia?" gumam Sakura. Gadis itu akan mengubungi Ino tetapi pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dan menampilkan Ino yang memasang wajah lelah.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura khawatir pada kondisi Ino.

"Ya, aku hanya lapar, aku tidak makan sejak tadi pagi," ucap Ino. Ia merapikan tumpukan kertas di hadapannya. "Terlalu banyak kerjaan hari ini," lanjut Ino lagi.

Sakura menatap Ino prihatin. "Kau harusnya lebih memperhatikan kondisimu, kau ini dokter," ucap Sakura sambil membantu Ino merapikan laporannya.

"Tidak apa-apa, lagipula aku senang kau datang menjemputku!" seru Ino senang. Ia meraih tasnya kemudian menyeret Sakura untuk pergi. Sedangkan Sakura hanya ikut saja ditarik seperti itu.

"Kau mau makan di mana?" tanya Sakura sambil mengendarai mobilnya. Ia memperlambat kecepatan berkendaranya karena masih belum tahu harus berhenti di mana.

"Bagaimana kalau pasta? Aku mau makan pasta! Ah, aku rekomendasikan restoran yang di sudut sana," ucap Ino dengan nada semangat. Dasar, ia menjadi sesemangat itu padahal tadi sempat suntuk.

Sakura memarkirkan mobilnya di tempat parkiran sebuah restoran yang direkomendasikan Ino. Mereka berdua berjalan memasuki restoran dan duduk di salah satu meja di sana.

"Kau mau pesan apa?" tanya Ino.

Sakura berpikir, tadi ia sudah makan bersama Sasuke. Tapi melihat Ino yang sangat semangat, selain itu Sakura juga belum pernah mencoba makanan di restoran ini, akhirnya Sakura menyerah dan ikut memesan.

Setelah pelayan mencatat pesanan mereka dan melenggang pergi, Ino kembali berfokus pada Sakura. "Jadi bagaimana acaranya?" tanya Ino.

Ah, iya. Sakura juga akan menceritakan itu, untung Ino mengingatkannya. "Hm, sangat lancar," ucap Sakura sambil tersenyum.

Ino tersentak, kemudian ia memajukan wajahnya sedikit ke arah Sakura, "Oh, iya. Aku lupa mengatakannya padamu, tadi kau datang ke sana sendirian? Pasti Sasori sangat kasihan melihatmu, kemarin aku–"

"Aku tidak pergi sendirian," potong Sakura dan dibalas tatapan heran dari Ino. Sebelum Ino kembali bertanya, Sakura segera menyambung pembicaraannya. "Aku pergi bersama Sasuke,"

"Apa?! U-Uchiha-san?" teriak Ino terkejut. "B-bagaimana dia bisa bersamamu?" tanya Ino.

Sakura menceritakan kejadian tadi siang mengenai Sasuke yang membantunya. Ino sudah jejeritan beberapa kali mendengarnya. Ino jejeritan karena tidak menyangka Sasuke akan berbuat seperti itu untuk Sakura.

Mereka mulai menyantap makanannya. Ino yang masih bersemangat, terus saja menyuapkan makanannya sambil memaksa Sakura bercerita. "Tapi kenapa seorang Sasuke Uchiha yang derajatnya tinggi itu sampai membantumu?" tanya Ino.

Sakura memasukkan sesuap E'Canneloni ke dalam mulutnya. Kemudian ia kembali mengingat permintaan Sasuke, Sakura mendecih pelan. "Ah, kebetulan. Aku ingin memberitahumu sesuatu." ucap Sakura dan dibalas anggukan beberapa kali dari Ino.

"Sasuke meminta bantuanku, ia ingin aku membantu menolak pertunangannya," bisik Sakura pelan.

Ino memekik kaget sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, "Benarkah?! Sasuke punya calon tunangan? Ceritakan padaku!"

Sakura mulai menceritakan semua hal mengenai Hinata dan mengapa Sasuke ditunangkan. Ino mengangguk dan cekikikan beberapa kali. "Tapi, kenapa dia menolaknya?"

Sakura memperbaiki posisi duduknya, "Aku baru tahu kalua dia sudah punya pacar. Kalau tidak salah, sebelum kami berpisah ia mengatakan kalau nama gadis itu adalah Elizabeth." jelas Sakura dengan wajah serius.

Ino membulatkan matanya, sangat terkejut. "O-Orang luar negeri? Tapi kenapa dia malah menyuruhmu?!" seru Ino, ia mencoba menahan diri untuk tidak melompat-lompat saking hebohnya.

Sakura kembali menceritakan mengenai pembicaraannya bersama Sasuke tadi siang, juga bagaimana ia tidak mengerti kenapa Sasuke tidak memilih pacarnya saja.

"Jadi kau akan menurutinya?" tanya Ino.

Sakura mengangguk. "Tentu saja, entah mengapa aku bisa merasakan apa yang dirasakan Sasuke pada saat itu. Selain itu, dia sudah membantuku," ucap Sakura sambil tersenyum tipis.

.

.

.

Sakura memasuki apartemennya. Ia meletakkan tasnya di atas tempat tidur. Memasuki kamar mandi sebentar untuk menyalakan air panas, kemudian kembali ke tempat tidurnya. Ia melepaskan sepatu dan pakaiannya. Tiba-tiba ponsel Sakura bergetar membuat gadis itu terlonjak kaget.

Sakura menatap layar ponselnya. Nomor tidak dikenal. Siapa? Akhirnya dengan sangat terpaksa Sakura mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Haruno di sini," ucap Sakura, menunggu sang penelpon membalasnya.

"Ah, Sakura?" Sakura membulatkan mata, suara baritone yang khas ini, tidak lain tidak bukan hanya dimiliki Sasuke Uchiha.

"Ya. Darimana kau tahu nomorku?" tanya Sakura. Sasuke tersenyum di seberang sana, meskipun Sakura tidak melihatnya.

"Tidak ada yang tidak diketahui Sasuke Uchiha," ucap Sasuke.

Sakura tertawa kecil. "Ada apa menelponku?" tanya Sakura.

"Ah, ini mengenai perjodohan itu. Aku ingin besok kau ke perusahaanku, ayahku akan datang dan akan menemui Hinata juga, jadi aku sarankan kau ke perusahaanku dan menjelaskannya kepada ayahku," ucap Sasuke.

Sakura terkejut. "Hah? Aku harus menjelaskannya ke ayahmu juga? Bukannya hanya ke Hinata saja?" tanya Sakura. Perasaan takut mulai menyelimutinya, pasalnya Fugaku Uchiha terkenal sebagai orang yang disiplin, tegas dan keras kepada siapapun. Salah bicara bisa-bisa perusahaannya yang jadi taruhan.

"Ya, bantu aku menjelaskannya," ucap Sasuke singkat.

"…" Sakura terdiam cukup lama di telepon. Ia mulai menyadari tindakan ini bisa saja merugikan perusahaan keluarganya, meskipun sejauh ini hubungan kedua perusahaan mereka tidak ada masalah. Sasuke yang menyadari itu segera membuka pembicaraan.

"Sebaiknya kau istirahat." ucap Sasuke singkat namun sangat dalam. Sakura menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap benda itu dengan wajah heran setelah mendengar penuturan Sasuke yang mendadak perhatian itu.

"Uh, baiklah," ucap Sakura, meskipun sebenarnya dia sangat takut. Panggilan berakhir, Sakura menggenggam erat ponselnya, kemudian menaruhnya di atas meja.

Keesokan harinya, Sakura melangkah memasuki gedung Uchiha Group. Dengan cekatan, Sakura segera memasuki elevator, ketika pintu akan tertutup Sakura melihat seorang gadis berlari ke sana. Sakura menahan pintu elevator agar tetap terbuka sehingga membiarkan gadis tadi masuk.

"Hah, syukurlah," ucap Hinata, gadis yang berlari tadi.

"Ah, Hinata-san!" teriak Sakura kaget. Bisa-bisanya ia bertemu di waktu yang sangat tepat ini. Sakura meneguk air liurnya perlahan. Ia menoleh ke arah Hinata. "Apa kau mau menemui Sasuke?" tanya Sakura mencoba memastikan.

Hinata tersenyum sangat lembut. "Iya, Sakura-san."

Begitu pintu elevator terbuka, Hinata mengucapkan permisi dan berjalan lebih dulu daripada Sakura. Sakura yang masih terdiam di tempat menatap punggung Hinata. Ketika pintu akan tertutup, Sakura segera menahannya. Ia keluar dari elevator mengikuti Hinata.

"Hinata-san…" Sakura memanggil untuk menghentikan Hinata yang kelihatannya akan berjalan lebih jauh. Hinata menoleh sambil memasang wajah heran.

"Apa kau ada waktu sebentar?" Sakura menghentikan ucapannya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Kemudian melanjutkan ucapannya, "Aku ingin membicarakan sesuatu." ucap Sakura dengan penuh keyakinan.

To Be Continued –

Woops~ Thank you sudah sampai sini, terima kasih untuk yang sudah review, fav dan follow. Untuk chapter ini, tolong berikan masukan dan sarannya. Apa alurnya terlalu cepat ya? Aku kepikiran jangan-jangan kalian bingung sama ceritanya hueee. Sampai jumpa di chapter depan. Bye~