"Jabberwock menantang para Kiseki no Sedai bermain basket lagi di outdoor dekat alun-alun kota Kyoto."

Setahun berlalu semenjak kekalahan anak-anak basket jalanan dari Amerika itu dan kini mereka datang lagi untuk menantang Kiseki no Sedai bertanding.

"Yang benar saja?! Memangnya dalam rangka apa mereka menantang kumpulan bocah pelangi itu lagi?" tanya si lawan bicara sambil membetulkan tali ransel di punggungnya. Tatapan mata dibalik kacamatanya fokus menunduk untuk menatap si lawan bicara.

"Entahlah, Hyuuga. Aku juga tak tahu," jawab seorang cewek bersurai cokelat pendek. Dikedua tangannya terdapat beberapa buku paket.

Mereka bedua baru saja keluar dari perpustakaan kampus mereka. Dan kini tengah berjalan di lorong kampus yang ramai.

"Trus dapet info dari mana kalau Jabberwock mau nantangin gitu?" tanya Hyuuga lagi.

"Papa. Tadi malam aku pinjem ponselnya dan mendapati email dari Nash. Iseng-iseng aku baca pesannya." Riko pun menjelaskan.

"Tapi sepertinya Papa tidak peduli. Buktinya dia tidak bilang apa-apa padaku tadi pagi," lanjutnya lagi.

"Kalau begitu abaikan saja. Gak penting juga kan? Daripada memikirkan hal itu mending selesaikan tugas-tugas kita untuk dipresentasikan nanti siang."

Riko hanya mengangguk mengiyakan. Namun, diam-diam ia mengirimi kabar tersebut pada Kuroko dan Momoi.

...

..

"Wah, kapan dan di mana tempatnya? Aku siap adu tanding dengan mereka lagi." Aomine Daiki menghentikan aktivitas bermain basketnya dalam GOR sekolah Touou begitu mendengar berita mengejutkan dari sobat pink-nya. Matanya langsung berkilat dan ia buru-buru menghampiri Momoi.

"Di outdoor dekat alun-alun Kyoto, Dai-chan. Kalau soal waktunya, aku tidak tahu. Nanti biar aku tanyain lagi ke Riko-san," jawab Momoi sambil mengutak-atik layar ponselnya.

"Bagus itu! Kebetulan aku lagi gabut banget akhir-akhir ini. Dan semenjak lawan Jabberwock tahun kemarin, rasanya basket jadi agak membosankan karena gak ada yang bisa ngalahin aku lagi. Ditambah, si Bakagami lagi gak ada di Jepang."

Momoi mencibir mendengar curhatan sobat itemnya. "Sok iye lu, Dai-chan. Winter cup kemarin aja kamu dikalahin sama timnya Akashi-kun. Kamu juga pernah dikalahin sama Tetsu-kun."

Aomine gelagapan. "Ya itumah beda lagilah. Maksudku selain mereka gitu."

"Halah!"

...

..

Kuroko Tetsuya mengerutkan keningnya ketika membaca e-mail dari mantan kantoku-nya.

"Pesan dari siapa, Kuroko?" Seorang cowok bersurai brunette menghampiri Kuroko.

"Dari kantoku," jawabnya singkat. Fokusnya masih tertuju pada ponsel.

"Tumben. Emangnya kasih kabar apa? Apa dia menanyakan anak-anak didiknya di sini?" tanya cowok itu beruntun.

"Bukan, Furihata-kun. Kau ingat Jabberwock yang dari Amerika itu gak?" Kuroko menatap Furihata yang mengerutkan dahinya tampak menggali ingatan tentang kata Jabberwock. Furihata tampak bingung.

"Itu, loh, anak-anak basket jalanan dari Amerika yang tahun lalu bikin ulah di negara kita," lanjut Kuroko.

Netra Furihata membola. Tampaknya dia mulai ingat. "Oo, yang kaptennya bernama Gold-gold itu ya? Trus ada salah satu anggotanya yang jago nge-dunk kayak Kagami itu kan ya? ... Oo, kalau itu, sih, aku ingat!"

Dengan buru-buru, Furihata melongok layar ponsel Kuroko, penasaran. "Memangnya ada apa dengan mereka?"

Kuroko menyodorkan ponselnya pada Furihata. "Mereka mengajak tanding lagi dengan kami. Kiseki no Sedai."

Rasa penasaran Furihata mengganda. "Loh, memangnya mereka bikin masalah lagi?"

Kuroko menggeleng, tidak tahu. Ia kembali mengutak-atik ponselnya, mengirimi berita yang sama pada yang lainnya.

...

..

"Ck, kali ini mereka bikin masalah apa lagi, sih?!" gerutu Midorima kesel usai melihat e-mail dari Kuroko.

Pasalnya, saat ini Midorima tengah belajar untuk kuis Matematika besok. Dan sedari tadi ponselnya bergetar mengusik kosentrasinya.

Bukan dari Kuroko saja melainkan dari e-mail spam milik Takao yang mengusilinya, teman-teman kelasnya yang minta contekan besok, serta mengingat banyaknya tugas lain yang menumpuk. Pokoknya di kelas tiga SMA ini Midorima tengah dijejali banyak tugas.

Makanya dia jadi sering sensi macam anak gadis yang lagi datang bulan. Disenggol dikit aja, pasti marah-marah. Seperti sekarang ini.

"Au ah!" Midorima segera mengubah mode silent pada ponselnya.

Lah, harusnya dari tadi ya?! Haduh, gimana dih si megane ini.

...

..

Lain halnya dengan Kise Ryouta yang sering mengabaikan notifikasi ponselnya. Dikarenakan kesibukkannya sebagai siswa kelas tiga, jadwal pemotretan dan sebagai kapten tim basket SMA Kaijou.

Iya, di tahun ketiga ini, Kise diangkat jadi kapten tim basket. Keren kan!

Nah, karena kesibukan itulah Kise jarang pegang ponsel, kecuali kalau ada panggilan dari orangtuanya, kakak dan adiknya, serta menegernya.

Notifikasi dari SMS, E-mail, Fb, Ig dan sosmed lainnya pasti bakal diabaikan oleh Kise.

'Paling-paling dari fans gua,' batin Kise narsis beud.

Tapi memang pada kenyataannya begitu, sih. Makanya E-mail dari Kuroko pun tidak sempat dibacanya.

...

..

"Oo, Jabberwock."

Sedangkan Murasakibara hanya menatap bosan pada isi E-mail dari Kuroko.

Sambil terus mengunyah snack di tangannya, Murasakibara membalas e-mail Kuroko. Isinya mengiyakan saja untuk ikut tanding dengan mereka.

Meski dari luar si tiang berjalan itu tampak tak peduli, namun diam-diam Murasakibara agak excited juga. Apalagi kalau mengingat lelaki bertubuh tinggi besar menyaingi dirinya dan berkulit hitam bernama Silver Jason.

Dia adalah orang yang berhasil membuat Murasakibara serius dalam bermain basket selain si kerdil Kuroko.

...

..

Sementara itu, si kapten Vorpal Sword bahkan tidak tahu sama sekali mengenai berita itu.

Sebab, Sang ayahanda tercintanya telah menyita ponsel Akashi semenjak ia duduk di bangku kelas tiga. Katanya Akashi harus fokus dengan nilai akademisnya.

Tidak diijinkan untuk bermain ponsel, berangkat dan pulang sekolah wajib diantar jemput oleh supir pribadi. Bahkan ketika di rumah pun Akashi harus tetap belajar, belajar dan belajar.

Akashi kadang merasa muak dengan ayahnya yang begitu menyebalkan. Namun, apalah daya, Akashi tidak berani membantah sang ayahanda tercinta.

Meski sifat ayahnya annoying banget, tapi Akashi sayang pada satu-satunya orangtuanya yang masih hidup itu.

Namun, tentu saja ada hari di mana Akashi ingin bebas. Dan diam-diam, Akashi berencana untuk kabur dari rumahdi timing yang pas.

...

..

"Kira-kira mereka bakal dateng gak ya?" Silver Jason duduk mengangkang sambil memainkan bola basket di tangannya. Ekor matanya melirik si bos pirang di pintu besi outdoor sana.

"Gua yakin banget mereka bakal datang," ucap Nash mantap dan penuh percaya diri. Di tangannya terdapat sebuah kaleng minuman keras. Lalu dibukanya tuas dalam kaleng, sebelum meneguknya nikmat.

"Kok gua gak yakin ya?" sahut salah satu di antara ketiga teman Nash dan Silver. Dia memasang mimik skeptis.

...

..

Nash hanya menyeringai begitu melihat dua orang yang berjalan dari kejauhan. Dilihatnya sosok cowok bersurai biru muda bersama temannya dari tempatnya berpijak.

Ialah Kuroko Tetsuya dan Furihata Kouki.

Seperti menyadari tengah ditatap oleh seseorang, Kuroko berpaling dari Furihata ke arah outdoor sana. Dan akhirnya manik cerulean Kuroko bersitatap dengan netra Nash yang tajam dan tampak berkilat.

"Kuroko, sabenarnya aku gak pede banget dateng kemari. Kenapa pula kau harus mengajakku, sih? Aku kan bukan bagian dari Kiseki no Sedai?" cerocos Furihata sambil tengak-tengok ke kanan kiri. Ia merasa gerogi sekaligus gugup kalau-kalau bertemu dengan anggota Kiseki no Sedai yang lainnya. Terutama si kapten Kisedai. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Akashi Seijuuro.

Rupanya insiden Winter Cup di tahun pertama masuk SMA dua tahun yang lalu belum juga hilang dalam ingatan Furihata mengenai Akashi. Furihata masih terus mengingat kejadian di mana ia pernah mem-block Akashi, namun malah berakhir terkena ankle break andalan Akashi. Yang menurut Furihata begitu menakutkan, sehingga membuatnya selalu diserang tremor dadakan ketika berhadapan dengan Akashi secara langsung.

"Tenanglah, Furihata-kun." Kuroko memutuskan kontak mata dengan Nash dan beralih kembali pada Furihata. "Jangan khawatir. Kiseki no Sedai maupun Jabberwock tidaklah semenakutkan yang dulu. Jadi, selo aja, oke?"

"Um, o-oke." Meski belum sepenuhnya merasa tenang, Furihata berusaha menghargai ucapan Kuroko.

Kuroko tersenyum tipis dibalik wajah datarnya.

"Tetsu-kuuun!"

Tak berapa lama, langkahnya terhenti dan hampir terjungkal akibat terjangan mendadak dari Momoi Satsuki dari arah samping jalan.

Furihata pun agak kaget dengan kemunculan sosok cewek pink dari balik kerumunan orang di sekitar alun-alun ini yang begitu ramai.

"Oh, Momoi-san. Hai, apa kabar?" balas Kuroko ramah seperti biasa.

"Aku sangaaat baik2 saja, Tetsu-kun. Hehe." Momoi menjawab kelewatan antusias. Gadis itu bahkan masih memeluk Kuroko tanpa rasa malu dilihatin banyak orang.

Sementara itu, Furihata mulai merasa dikacangi.

Dan kalau di sini ada Momoi pasti ada sobat gonguronya. Mata Kuroko mengedar. Dahinya mengerut begitu tak menemukan entitas seseorang yang selalu dekat dengan Momoi.

Seperti tahu apa yang tengah dicari si pujaan hati, Momoi berkata, "Kalau kau mau bertanya tentang Dai-chan, dia sedang mengantri di kedai es krim sana." Momoi menunjuk kedai es krim yang tidak jauh dari tempat mereka berpijak.

Kuroko semakin keheranan. "Sejak kapan Aomine-kun doyan jajan kayak Murasakibara-kun?"

"Hehe." Momoi nyengir, "Sejujurnya tadi aku yang pengin beli es krim. Gak tahunya Dai-chan suruh aku pergi duluan ke tempatmu ini dan membiarkan dirinya yang mengantri begitu tahu kalau di kedai itu sedang banyak pembeli."

Dari barisan orang-orang yang mengantri di kedai es krim sana, Kuroko dapat melihat sosok cowok paling tinggi ditengah barisan dan berkulit tan. Dialah Aomine Daiki.

Diam-diam Kuroko berdecak kagum pada mantan cahaya-nya itu. Meski Aomine terlihat seperti preman pasar dan hobi nonton video bokep, namun dia selalu bersikap gentleman terhadap Momoi. Terkadang Kuroko bingung, kenapa mereka berdua tidak jadian saja. Padahal kemana-mana mereka selalu bersama dan kelihatan romantis.

"Su-sumimasen," ucap seorang cowok di belakang Momoi yang sukses menjadi pusat perhatian mereka.

Cowok itu berwajah melas sambil membungkuk-bungkukkan badannya secara berulang, "Ah, maafkan aku telah memotong acara reoni dadakan kalian."

"Ya ampun, Sakurai-kun. Tak perlu meminta maaf segalalah. Kau kan tidak bersalah." Momoi membalas sambil mengukir senyuman.

"Tapi, aku sungguh minta maaf. Harusnya aku juga tidak ikut kemari menemani Aomine-san buat tanding bareng Jabberworck. Maafkan aku, maafkan akuuu!" kata Sakurai sambil membungkukkan badannya lagi.

Furihata menatap setengah bete. Sedangkan Kuroko hanya memasang wajah datar. Sudah paham betul dengan tabiat Sakurai Ryou si shooting guard handal dari SMA Touou yang punya hobi meminta maaf gini.

"Ohayou, minna," sapa seseorang dari balik tubuh Kuroko. Mereka semua menoleh sambil mendongak. Sebab seseorang yang baru saja menyapa mereka memiliki postur tubuh kelewatan tinggi.

"Murasakibara-kun, harusnya bukan ohayo tapi selamat siang. Ini kan sudah siang," koreksi Kuroko berbalik menghadap Murasakibara Atsusi.

"Hm." Murasakibara tampak tak peduli. Mulutnya sibuk mengunyah snack-nya. "Nyam, nyam, jadi apa semuanya sudah berkumpul? Kenapa baru kau dan aku yang datang?" tanyanya malas.

"Aomine-kun juga sudah datang, kok. Sekarang dia sedang mengantri buat beli es krim," Kuroko menunjuk Aomine dari kejauhan. "Kalau yang lainnya aku tidak tahu," lanjutnya lagi.

Mendengar Kuroko menyebut salah satu makanan kesukaannya, Murasakibara mendadak jadi pengin beli es krim. Matanya memandang arah tunjuk Kuroko di mana Aomine yang sedang mengantri di sana.

"Aku juga pengin beli es krim, ah," kata Murasakibara langsung berlalu menuju stan penjual es krim.

Momoi geleng-geleng kepala. "Mukkun tidak berubah ya. Padahal udah kelas tiga, tapi masih doyan jajan aja. Herannya, kok dia gak gemuk-gemuk."

"Kau benar, Momoi-san. Aku juga heran," sahut Kuroko.

Di lain sisi, Furihata sudah mulai gemetaran semenjak kedatangan center Kiseki no Sedai barusan. Berarti di sini sudah ada Kuroko, Aomine, dan Murasakibara. Lalu yang belum datang tinggal tiga orang lagi. Furihata berharap tremornya tidak kambuh lagi kalau bertemu kapten mereka nanti.

...

..

Sambil menunggu Aomine dan Murasakibara, mereka memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menghampiri tim Jabberwock.

Furihata sengaja berjalan paling belakang. Nyalinya yang ciut tak kuat untuk bersitatap dengan orang-orang bertubuh tinggi dari Amerika itu. Menurut Furihata, mereka sama menakutkannya dengan Akashi.

...

..

"Hei, lama tidak berjumpa, wahai para mini monkey?" sapa Jason Silver dengan kampretnya.

"Hoo, apa begini cara orang Amerika menyapa?" Momoi bertanya sarkastik.

Jason terdiam tak membalas. Matanya meneliti mereka. Dari Kuroko yang ekspressionles, senyuman kelewatan manis dari Momoi, seorang cowok berwajah memelas dan satu cowok lagi yang tampak gemetaran di belakang Kuroko.

"Kok, cuma kalian yang datang. Mana temen-temen lo?"

"Mereka belum datang, Silver-san," jawab Kuroko sambil ikut meneliti penampilan tim Jabberwock yang lain.

Dilihatnya Nash Gold di sudut lapangan. Pria pirang itu tampak berbincang dengan kawan yang lainnya dalam bahasa inggris. Penampilan mereka seperti preman saja. Dengan mengenakan celana bolong-bolong dibagian lutut, kaus tanpa lengan bergambar tengkorak serta beberapa pierching di telinga dan bibir mereka.

"Jadi kali ini apa tujuan kalian menantang kami?" Kuroko bertanya datar.

"Tentu saja untuk balas dendam atas kekalahan kami tahun lalu. Aku tidak terima dikalahkan oleh para mini monkey macam lo-lo pada."

Mata Kuroko memicing tidak suka. Begitu pula dengan Momoi, Sakurai yang cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah annoying Jason serta Furihata yang mendadak pengin pulang saja.

"Bacot! Ayo langsung tanding aja!" ucap Aomine kesal di belakang Kuroko dan yang lainnya. Di sampingnya ada Murasakibara yang membawa banyak snack di tangan besarnya. Mereka baru saja datang.

Mata sayu Murasakibara berkilat ketika bersitatap dengan Jason Silver yang menyeringai.

"Ini es krimnya, Satsuki. Lo duduk aja di pinggir lapangan sana. Trus ini gua titip jaketnya ya." Aomine memberi satu cup es krim jumbo pada sobat pink-nya beserta jaket hitamnya. Lalu ia melangkah berhadapan langsung dengan Jason Silver. Aomine pasang muka menantang.

"Ano, Aomine-kun. Itu Midorima-kun, Kise-kun dan Akashi-kun kan belum datang," celetuk Kuroko mengingatkan.

Aomine sedikit kaget ketika entah sejak kapan Kuroko berada tepat di sampingnya.

Rupanya hawa keberadaan Kuroko yang semenjak dulu selalu tipis macam setan itu masih saja ada sampai sekarang. Sebab Aomine baru menyadari kehadiran Kuroko di sini.

"Tetsu, sesekali hilangkan kemampuan missdirection-mu itulah. Capek gua. Kalo ketemu sama lo mesti olahraga jantung terus alias selalu bikin kaget," protes Aomine sambil mengelus-elus dadanya.

"Emang dasar Aomine-kun saja yang kurang jeli. Padahal sedari tadi aku sudah ada di sini." Kuroko membalas datar.

"Ah sudahlah, ayo kita langsung main saja. Mereka bertiga kelamaan. Tetsu, lo jadi starter. Murasakibara, lo jadi center. Ryou, lo gantiin Midorima jadi shooting. Terus si cihuahua, lo jadi point guard gantiin Akashi. Dan gua yang bakal jadi power forward-nya. Yuklah main!" Aomine memerintah seenak jidatnya yang langsung dapet protesan dari yang lainnya.

Terutama Furihata. Selain ia merasa tidak pede serta minder, Furihata juga tidak terima disebut cihuahua oleh Aomine.

Melihat keributan itu mengusik Nash yang tadinya asik mengobrol. Cowok bertato itu melangkahkan kakinya. Ia men-dribble bola basket ditangannya dengan suara keras untuk meminta perhatian mereka. Dan itu berhasil, yang lainnya langsung terdiam berpaling ke arah Nash.

"Kalian sudah datang? Bagus. Kalau begitu langsung main saja," katanya sambil menatap satu persatu orang-orang jepang itu. Namun, dahinya menyergit begitu menyadari ada yang kurang. Nash tidak menemukan entitas hijau, kuning dan terutama yang merah. "Sepertinya ada yang belum hadir, huh?"

"Tak perlu menunggu mereka yang belum datang. Kita langsung tanding saja," balas Aomine tak sabar. Tangannya gatal ingin cepat-cepat memegang bola basket.

Nash memasang muka agak kecewa dibalik wajah songongnya. Tidak ada yang menyadari akan hal itu, kecuali Jason Silver yang sudah hapal akan tingkah sang kapten.

Maka dengan datangnya sebuah ide konyol, Jason Silver pun berkata, "Sebelum itu, supaya lebih menantang bagaimana kalau kita bikin taruhan?"

Kini Jason sukses menjadi pusat perhatian.

"Taruhan? Taruhan apa?" Kuroko bertanya agak curiga. Matanya mencoba mendalami apa isi pikiran Jason. Entah kenapa Kuroko merasa firasat yang tidak enak.

Nash mengangkat satu alisnya dengan heran. Kalau dipikir-pikir, sobatnya ini jadi sering main taruhan akhir-akhir ini. Dan terkadang itu selalu melibatkan dirinya.

"Kalau timku kalah, kami berjanji tidak akan datang ke sini lagi. Tapi kalau kami yang menang, aku ingin kapten kalian ikut bersama kami ke Amerika selama seminggu. Kalau tidak salah, musim panas ini sekolah di Jepang diliburkan, benar?"

Sepasang alis Nash semakin menukik tajam. Tuh kan! Benar apa yang dipikirkannya. Nash tahu kalau Jason mengetahui keinginan terdalamnya yang pengin ketemu Akashi. Tapi, ya tidak perlu bawa Akashi ke Amerika segala kan?

"Maksudmu Akashi?" konfir Aomine yang agak terkejut. Kenapa pula harus bawa-bawa Akashi? Orangnya saja tidak ada di sini.

Berbeda dengan reaksi Kuroko. Wajah datarnya berubah jadi berekspresi. Matanya tajam menatap Jason penuh kekesalan. Apalagi ketika sekelebat memori tahun lalu di mana Akashi dinistakan oleh Nash di depan umum. "Kalian bertele-tele. Sabenarnya ini tujuan kaliankan?! Aku tidak terima kalau kalian mengapa-apakan Akashi-kun lagi."

Aomine, Murasakibara, Sakurai, Furihata dan Momoi menatap tidak percaya pada Kuroko. Mereka tidak menduga kalau Kuroko bakal ngomong begitu.

Jason tergelak. Merasa lucu melihat ekspresi marah pada si biru muda yang punya muka baby face itu. "Kalau begitu kalian harus menang lawan kami."

Nash menyikut Jason agak keras. Lalu berbisik, "Kau bodoh atau bagaimana?! Kalau kita kalah lagi aku tidak bisa ketemu Akashi."

"Jangan khawatir, Bos. Gua yakin banget kita bakal menang. Lagian anggota Kiseki no Sedai itu kan tidak lengkap. Ini pasti mudah dikalahkan." Jason membalas dengan bisikan pula.

Puk!

Aomine menepuk bahu kecil Kuroko untuk menenangkan. "Tidak perlu cemas, Tetsu. Kita pasti bakal menang. Kan masih ada aku. Walau tidak ada Midorima, Kise, Akashi dan Kagami, aku yakin kita pasti akan tetap menang. Karena yang bisa mengalahkanku hanyalah aku!"

Momoi menatap bete Aomine. Apalagi setelah mendengar kata-kata favorit sobat itemnya ini. Meski begitu, Momoi berdoa akan kemenangan kawan-kawannya.

...

.

.

Tbc di sini ya, guys. Hehe.