Although it's just another day

A day before tomorrow


Esoknya, selepas mengurusi kebun serta peliharan-peliharaannya, Micah memutuskan untuk nanti pergi ke Sol Terrano dan menghabiskan waktu luangnya bersama Ondorus—lagi. Biasanya sih Micah akan mengunjungi Blacksmith dan membantu Raven menyusun barang-barang, atau bahkan membantu Gaius menempa beberapa pedang.

Namun karena alasan yang sama, pada akhirnya Micah tak punya pilihan lain selain ke desa univir. Awalnya dia ingin melepas stressnya dengan berendam di spa air panas milik Shino, tapi Micah rasa ia akan melakukannya pada malam hari—sembari menikmati pemandangan bintang dan bulan.

Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya Micah bukanlah tipe yang akan menjauhi seseorang hanya karena insiden kecil. Apalagi ini teman dekatnya, Gaius, yang selalu menjadi tempat pertama Micah untuk mencurahkan berbagai keluhan atau sekedar berbagi cerita. Lagipula bukan maksud Micah untuk menjauhi Gaius. Ia takut jika nanti ia malah membuat atmosfer antara dirinya dengan Gaius menjadi canggung dan pemuda dwarf itu justru menjauh darinya.

Micah tidak mau kehilangan Gaius, tetapi juga tak ingin mengambil resiko untuk semakin dekat dengannya dan membuatnya makin tak bisa menyelesaikan misinya—membuat Sharance Tree mekar.

Ah, benar juga.

Micah mendongak ke atas, terduduk di antara anak tangga rumahnya, menatap dedaunan Sharance Tree yang menyejukkan mata, lengkap dengan beberapa kuncup bunga. Bagaimana jika ia tidak bisa memenuhi tugasnya? Bagaimana jika ternyata Sharance Tree tidak akan mekar karena salahnya? Micah menjadi satu-satunya harapan Wells, mewakili para warga desa, serta harapan orang-orang univir. Namun … bisakah dia?

Ia menarik kedua kakinya dan memeluknya, menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut. Micah takut. Takut tidak bisa memenuhi harapan orang-orang terdekatnya. Takut jika perasaannya sendiri malah merugikan orang banyak. Takut … jika ia tidak bisa mendapat memori penuh tentang dirinya sendiri.

Bukan berarti Micah tak mengingat siapa dirinya—ia sudah mendapat ingatannya dari orb setelah melawan monster-monster yang ada. Micah hanya merasa kalau semua itu belum cukup. Ia masih tidak menegtahui darimana ia berasal, apakah ia punya pasangan di tempatnya sebelumnya, atau apakah ia punya keluarga. Micah tak tahu.

Oleh karenanya, Micah pikir apabila ia sukses untuk membuat bunga-bunga Sharance Tree mekar, ia akan dikirim kembali ke tempatnya semula. Meski Micah menyayangi orang-orang di desanya yang sekarang ini dan tak rela untuk meninggalkan mereka, Micah merasa lebih baik kalau ia kembali ke tempat asalnya. Karena, bagaimana jika ada orang di sana yang ternyata menunggu kepulangannya? Ibunya mungkin? Atau keluarganya?

"Hei," sebuah sapaan singkat terdengar, bersamaan dengan tepukan halus di puncak kepalanya. "Kau sedang apa? Daydreaming?"

Micah buru-buru mengangkat kepalanya, menyadari siapa pemilik suara barusan, sebelum membalas cepat, "Gaius? Kau sedang apa di sini? Bukankah sekarang Blacksmith masih buka?"

Gaius tak langsung menjawab. Pemuda dwarf itu malah mengangkat kedua bahunya, memberikan ekspresi 'aku tak tahu', lalu duduk di sebelah Micah. "Raven yang sedang menjaga toko."

"Tumben?" tanya Micah curiga. Raven yang biasanya, 'kan, tidak akan membiarkan Gaius leha-leha seenaknya ketika jam kerja.

"Aku yang minta. Aku bilang aku mau bertemu dengan domba kesayang punyaku, hehe."

Micah memalingkan wajahnya, sedikit merasa kesal karena kekehan Gaius terdengar seperti ejekan yang biasa dilontarkan Ondorus. "Siapa yang punya siapa?"

"Habisnya…," Gaius menggantungkan ucapannya, "belakangan ini kau tidak datang ke toko. Kau sengaja menjauhiku, ya?"

"Um—bukan begitu," ujar Micah cepat. Hening sejenak, ia menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Tapi kau benar. Maafkan aku."

"Apa ini ada kaitannya dengan aku yang menciummu waktu itu?" tanya Gaius, telak tepat mengenai Micah. Ia lantas segera menoleh, mendapati wajah Gaius yang ternyata tengah serius. "Kau tahu, aku minta maaf jika memang itu mengganggumu."

"Tidak, aku yang salah." Micah mengembuskan napas. "Akunya saja yang terlalu emosional. Padahal itu bukan masalah besar. Maaf."

Gaius terdiam sesaat sebelum menarik pundak Micah dan merangkulnya dengan satu tangan. "Duh, kenapa kau jadi seperti ini sih, Mic? Kita ini bros, satu atau dua ciuman tak masalah! Aku tak akan melakukannya lagi, deh."

Micah tersenyum tipis. Sakit. Tetapi ia tak mau masalah ini tetap berlanjut. "Janji ya? Awas saja. Aku akan laporkan pada Raven."

Kemudian keduanya tertawa.


"Daritadi kau memasang wajah konyol itu, ada apa?"

Micah yang sedang mengurus barang-barang pesanan Zaid langsung menoleh, masih dengan senyum tipis dan senandung kecil. "Hm? Tak ada apa-apa."

Zaid menatapnya tak percaya, lalu membaringkan diri di atas ranjang. "Konyol. Aku tebak, pasti itu ada kaitannya dengan dwarf yang sedang menunggumu di luar itu, hei Micah?"

"Teehe~"

"…menggelikan. Tapi, yah, terimakasih sudah membantuku mengumpulkan bahan-bahan itu, bahkan tanpa dibayar."

Pemuda berambut moka keemasan itu hanya membalas dengan senyuman, sebelum melambaikan tangannya dan berjalan keluar tenda Zaid. Biasanya Micah akan kesal jika disindir seperti itu, terutama oleh Zaid, tetapi karena mood-nya sedang bagus, maka ia tak masalah.

Gaius sedang bermain dengan monster-monster kecil ala Sol Terrano ketika Micah sudah menyelesaikan urusannya dengan Zaid. Mungkin menyadari keberadaan Micah, Gaius lantas membalikkan badan dan memberikan isyarat 'sudah selesai?' yang dibalas dengan anggukan Micah.

Kemudian keduanya memutuskan untuk segera kembali ke desa, karena langit juga sudah mulai menggelap, menandakan malam akan datang. Beberapa langkah sebelum sampai di pertigaan antara dungeon dan desa, Micah tiba-tiba menarik tangan Gaius, membuat sang empunya bertanya-tanya.

"Mau kencan?" tanya Micah dengan nada bercanda sementara telunjuknya menunjuk ke arah Star Dunes.

"Jarang sekali kau bercanda seperti itu," balas Gaius, ditutup dengan kekehan di ujung dan tepukan kecil pada kepala Micah. "Perasaanmu sedang senang ya. Apa Shara menyatakan perasaan padamu?"

"Tidak. Aku juga heran. Kenapa ya?" balas Micah ambigu.


Pemandangan langit malam hari di Star Dunes benar-benar memanjakan mata. Makanya, ketika Micah pertama kali diajak kemari oleh Raven, ia sangat terpana sampai-sampai mulutnya menganga, membuat Raven sempat mengejeknya selama seminggu penuh.

Biasanya Micah datang kemari bersama Shara maupun Raven, entah untuk semacam kencan atau hanya menghabiskan waktu biasa bersama teman. Namun kali ini ia membawa Gaius bersama.

Micah menatap Gaius, mendapati pemuda dwarf itu sedang berbaring di atas pasir dengan mata terpejam. Ia tertawa kecil. Pasti Gaius merasa kelelahan, menemaninya selama siang sampai sore hari di Sol Terrano karena Zaid memintanya mengumpulkan beberapa Fire Crystal. Micah memutuskan untuk memberinya semangkuk Udon nanti.

Wajah Gaius tampak damai, disinari oleh cahaya bintang dan bulan di atas sana. Helaian rambutnya bergerak halus mengikuti irama angin malam yang belum begitu dingin. Ah, Micah terpana. Bukan cuma Star Dunes yang indah, nyatanya, Gaius juga sangat indah—bagi Micah.

"Hei, satu ciuman lagi tak masalah, benar?"


I have to cherish every moment

By kissing you


TBC

A/N : sorry for the long update, cus telkoms*l blocked ffn jadinya ga bisa buka lewat chrome :(. Btw i appreciated buat satu-satunya orang yang udah review ff ini haha, though idk their username is. Tapi terimakasih banyak sudah menyempatkan diri untuk baca /bow.