1. Official Missing You
Hujan turun membasahi permukaan bumi, sangat deras hingga titik terjauhpun yang terlihat hanya air. Curah hujan yang tinggi membuat kolam buatan di hadapannya meluap naik, menumpahkan bunga-bunga lotus ke daratan.
Tak jauh dari kolam minimalis di hadapannya, sepasang obsidian gelap menatap setengah melamun. Parasnya elok sedap dipandang dan terlahir dengan raut bahagia di wajahya. Rambut legamnya terurai di belakang punggung, bergoyang lembut ketika dia memilih untuk berjongkok.
Wei Wuxian namanya, seorang dokter. Profesi dimana ia selalu menghargai setiap detak jantung manusia karena ia bisa berhenti secara tiba-tiba, kapan saja di ruang operasi. Namun dokter adalah manusia biasa, ilmunya dangkal sedangakan kuasa Tuhan sangat hebat. Dia bisa dapat segera mencabut jiwa malang orang yang ingin dia selamatkan kepangkuannya.
Sepuluh tahun masa pengabdiannya menjadi dokter, baru kali ini dia merasakan betapa hatinya sangat sakit. Seolah jiwanya keluar dicabut sang malaikat kematian. Biasanya senyuman yang biasa dia dapatkan ketika pasien membuka mata, diiringi anggota keluarga yang menemuinya penuh haru dan pelukan ringan yang mengartikan kinerjanya berbuah hasil.
Namun apalah daya, dia seoarang manusia.
Jiwa pasien yang ingin dia selamatkan telah tiada dua jam yang lalu. Sementara dirinya sendiripun seolah kehilangan rasanya karena tak dapat menolong orang tersebut.
Sementara dia terus merana di depan pintu rumah sakit, seorang dengan baju berwarna ungu terang menepuk punggungnya keras, membuat dia mengaduh keras karena sentakan dadakan tersebut.
"Selain bodoh, apakah kau juga tidak dapat mendengar?!"
Wei Wuxian, "Mn."
Mendengar gumaman lembut dan aneh itu, orang itu mengernyit. Memandang Wei Wuxian kembali, sebelum menariknya masuk ke dalam rumah sakit. Melihat kursi tunggu berada di ujung matanya, orang itu menjatuhkan tubuhnya keras untuk duduk. Wei Wuxian yang langsung menatap di wajahnya tanpa sadar menutup mulut orang tersebut sebelum kata-kata itu keluar.
Dia memulai sambil menundukkan kepala, "Baiklah, baik! Jiang Cheng, Aku minta maaf!"
Dengan melepaskan tangan dengan keras, Jiang Cheng segera berdecih dan melototinya sedemikian rupa namun tanpa ucapan yang lain.
Wei Wuxian kemudian mendongak dan takjub, "Lihat dirimu. Jiang Cheng, kau biasanya akan berteriak ini dan itu kepadaku."
Jiang Cheng lantas berdecih kembali sebelum menyerahkan sebuah undangan cantik, berwarna pastel atas namanya.
Setelah mengambilnya dan menatap dalam, jiwanya seolah di tarik kembali. "Aku tidak akan datang," jawabnya.
Jiang Cheng, "Kali ini apa alasanmu?"
Wei Wuxian, menatap mata saudaranya itu sebelum menunjukkan jari tangan ke dadanya.
"…." Jiang Cheng, "Kau benar-benar sudah dikutuk cinta!"
Wei Wuxian cemberut, "Hanya sekali!" sebelum dia melanjutkan, "Kau seharusnya menghiburku dan jangan tatap aku seperti itu!"
Jiang Cheng tidak berkomentar, mungkin lelah dengan kelakuan saudara angkatnya. Dia kemudian berbalik ingin kembali ke ruang kerja, ia kira saudaranya itu akan mengikuti dibelakangnya namun ketika ia melirik ke belakang hanya untuk kembali melihat Wei Wuxian melamun.
Wei Wuxian jelas tidak baik-baik saja.
Ketika Jiang Cheng melihat, keluarga pasien yang menemui saudaranya. Riak wajahnya tidak berubah sama sekali, senyum konyol yang biasa dia tampilkan luruh seiring jawaban kecil yang dia ucapkan. Padahal keluarga pasien sudah mengatakan mereka baik-baik saja, bukan salahnya karena tidak bisa menyelematkan salah satu keluarganya.
Sayup-sayup dia mendengar dan melihat wanita senja memegang lembut kedua tangan Wei Wuxian, "Dokter. Suamiku pasti sudah bahagia di pangkuan-Nya. Terimakasih, karena anda yang menanganinya hingga akhir."
Tidak ada keraguan, kalimat terakhir adalah benar-benar ditujukan kepada saudaranya. Dia berbakat dan terampil, kerja kerasnya selalu terbayar dengan memuaskan. Jadi, jikapun tidak berakhir dengan baik, keluarga pasien tidak akan ada yang kecewa dengannya.
Jiang Cheng mengangguk dan tersenyum kecil tanpa sadar,bangga.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Wei Wuxian tiba-tiba.
Jiang Cheng yang tidak sadar saudara angkatnya sudah berada di depannya mendengus kasar, "Tidak ada apa-apa."
"…."
Jiang Cheng tidak tahan, ia menajamkan matanya, dikira laki-laki itu akan menumpahkan kacang berisi ucapan konyol atau sekedar menggodanya.
Sungguh, Wei Wuxian sedang tidak baik-baik saja. Tahu alasan kedua kenapa dia seperti itu, sambil mengertakan gigi, Jiang Cheng memulai, "Berikan surat itu, sekarang!"
Wei Wuxian tidak langsung memberikannya, kepalanya menunduk sambil meremas kecil ujung surat tersebut. "Jiang Cheng, seperti yang kau katakan. Sepertinya aku telah dikutuk cinta!"
"Konyol!"
Wei Wuxian cemberut, "Bukankah kau selalu mengatakan aku seperti itu! Lagipula apa aku tidak cukup baik?"
Jiang Cheng sekenanya. "Kau bertanya penampilanmu? Tentu saja, sekarang seperti wanita. Lebih baik cepat potong rambutmu."
Wei Wuxian menggeleng lagi menepuk kepalanya, "Jiang Cheng, berapa umurmu sekarang! Yang ku maksud bukan itu."
Jiang Cheng yang tidak terima dengan hal itu, mendecih kecil. "Tentu saja aku tahu! Aku hanya ingin kau merubah penampilan feminimmu itu! Kau itu laki-laki!"
"Aku mendengarnya," lirih Wei Wuxian.
"Mendengar apa?" jawab Jiang Cheng, kali ini meladeni ucapan sembrono saudaranya itu.
"Dia menyukai seseorang dengan rambut panjang maka dari itu aku memanjangkannya," kata Wei Wuxian. Tatapannya menerawang jauh seakan mengira-ngira sesuatu sebelum melanjutkan, "Baiklah, Jiang Cheng. Aku akan membuat pengakuan! Dan tahun ini aku akan ikut!"
"Kau yakin? Bagaimana jika …" Jiang Cheng tidak melanjutkan ucapannya, namun hati Wei Wuxian tahu apa kelanjutan kalimat tersebut.
Dengan samar, dia berujar. "Di tolak ya sudah, aku akan mengikuti Blind date dari Jie jie."
Jiang Cheng, "Kau benar-benar dikutuk cinta, terimalah akibatnya!"
"Ya aku memang dikutuk cinta!"
Flasback on
Ya, Wei Wuxian dikutuk cinta. Jalan lurusnya menjadi bengkok hanya karena ia mencintai seseorang. Jika seseorang yang dia sukai adalah wanita, kisahnya tidaklah rumit. Namun, siapa sangka dia menyukai seorang pria.
Pria ini bernama Lan Wangji, tetapi Wei Wuxian lebih suka memanggilnya Lan Zhan. Pria ini adalah pria lurus, berbudi pekerti baik, wajahnya tampan namun hanya dua kekurangannya; tanpa ekspresi dan jarang tersenyum.
Tiga belas tahun yang lalu, ketika dia masih duduk di bangku tahun pertama sekolah menengah atas. Wei Wuxian hanya tahu menjahilinya dan menggoda pemuda dingin itu. Baginya, menggoda Lan Zhan sangat menyenangkan.
Ketika jam istirahat, Wei Wuxian makan siang di atas atap pertama kali melihat pemuda tampan dengan jelas. Beberapa jam sebelumnya saat pengumuman siswa terbaik, meski dia melihatnya di depan panggung dia sudah terlalu malas mendengarkan ceramah yang membosankan tersebut dan berakhir saling menggoda Jiang Cheng dengan Nie Huaisang.
Kini dia terlihat jelas, fitur wajahnya yang tampan dan mata cerahnya yang mempesona membuat kaum hawa mati rasa karena cinta pada pandangan pertama, karena baru beberapa jam mereka sekolah di sekolah baru, pemuda itu sudah mendapatkan pernyataan cinta.
Di bawah pohon willaw yang daunya lebat diiringi hembusan angin sejuk, serta cahaya yang memantulkan parasnya yang semakin tampan. Gadis itu dengan keberanian tinggi memberikan surat dadakan yang ia buat untuk Lan Wangji.
"Aku menyukaimu!" kata sang gadis, memerah. "Berkencanlah denganku!" lanjutnya.
Dia baru pertama kali melihat yang seperti itu, dan takjub sebelum hal-hal yang seperti dipikirannya -memeluk dan membalas perasaan lantas bahagia- hancur, dengan kalimat. "Tidak."
Ah! Wei Wuxian jadi semakin kasihan dengan gadis tersebut karena tidak lama kemudian dia berlalu dengan wajah memerah dan tangis kecil.
"Kau meretakan hatinya," ucap Wei Wuxian tanpa sadar.
Lan Wangji agak terkejut dengan suara tersebut, mata cerahnya menyeretnya untuk mendongak ke arah bangunan yang ada dihadapannya, untuk menemukan seseorang pemuda dengan hoodie hitam dengan merah digaris lengannya.
"Aku tidak," kata Lan Wangji.
Wei Wuxian terkekeh sebentar dan mulai tertarik dengan pemuda Lan tersebut. Tanpa bicara lagi,ia mulai berlari menuruni tangga dan menghampirinya. Tanpa tahu malu, duduk dekat dengannya bahkan mengatakan omong kosong tanpa henti.
Dia terkikik geli saat ditemukannya hal lucu dari pemuda tampan itu.
Lan Wangji, "Apa?"
"Apa kau selalu mengatakan kata membosankan seperti itu?" kekehnya.
"…."
Tahu akan tidak ada jawaban dia mulai mengoceh lagi. Namun karena bel masuk mulai bordering, dia lantas berdiri dan menoleh kearah Lan Wangji. Ide jahil muncul di benaknya, yang mana hal tersebut akan menjadi kematiannya di tahun ketiga mereka sekolah.
"Lan Zhan, Bagaimana jika aku yang menyatakan perasaan kepadamu. Apa kau akan menerimaku?"
"Menyedihkan!" katanya datar dan Wei Wuxian lagi-lagi terkekeh geli.
"Padahal aku sangat menyukaimu, Lan Zhan! Berkencanlah denganku!"
"…."
--
Di tahun ketiga, seperti kata Jiang Cheng. Dia dikutuk cinta, Wei Wuxian sadar mulai mencintai si bungsu Lan. Hal tersebut ia sadari ketika, gossip berhembus jika pemuda tampan tersebut telah menjalin kasih dengan seseorang.
Meski mereka sekelas saat itu, dia mulai menjauhi Lan Wangji. Dengan dua alasan yang masuk akal, serta meluruskan semua tabu.
Yang pertama, karena dia bukan gay. Sedangkan yang kedua, ia takut jika Lan Wangji akan mengetahui hal tersebut dan menghancurkan pertemanannya yang sudah mereka bangun.
Namun puncaknya adalah Prom Night , dimalam perpisahan yang mewah itu. Wei Wuxian untuk terakhir kali mengatakan hal tersebut dengan wajah merah di wajahnya, seolah dia dikutuk karena sempat tertawa kecil tiga tahun lalu melihat seorang gadis menyatakan cinta.
Sekarang dia yang berada diposisi tersebut.
"Lan Zhan, Aku mencintaimu!"
"Mn," jawab Lan Wangji bergumam. Dia sedikit terkejut karena selama tiga bulan ini dia tidak pernah berbicara dengannya.
Mendengar jawaban seperti biasanya, Wei Wuxian tidak tahu harus tertawa atau menangis. Yang pasti kalimat tersebut adalah kalimat tertulus selama hidupnya. Dia mengubah kalimat 'menyukaimu' menjadi 'mencintamu'. Namun Lan Wangji tidak sadar, orang-orang disekitarpun tidak sadar.
Wei Wuxian tertawa canggung diikuti yang lain.
"Wei Wuxian, tidakkah kau sehari saja tidak menggoda Lan Wangji?" celetuknya.
Wei Wuxian tersenyum kecil nyaris menahan air matanya. Dengan keberanian besar, dia memeluk tubuh Lan Wangji dengan erat. "Lan Zhan, izinkan teman baikmu ini memelukmu! Dan selamat tinggal!"
Hati Wei Wuxian bergetar dan air matanya menetes tanpa sadar membasahi kemeja Lan Wangji yang segera ia hapus. Dengan berat hati, dia melepaskan pemuda tersebut.
"Selamat tinggal, Lan Zhan!" Wei Wuxian membungkuk kecil sebelum melarikan diri dari kerumunan orang tersebut dan bergabung dengan Jiang Cheng hingga akhir acara.
Flasback off
Malam itu ia kembali melamun bahkan di tengah lamunan tersebut air matanya mengalir kecil. Membuat pemuda yang berada di hadapannya mengernyit kecil.
"Ayah, apakah kau sakit?"
Wei Wuxian segera menyeka air matanya, "Aku tidak menangis, aku hanya kelilipan." Dustanya.
Pemuda itu menggeleng, "Ayah, kau tidak bisa berbohong kepadaku."
Wei Wuxian tersenyum. "Aah, A-yuan. Terimakasih." Ia pun segera memeluk sang anak erat tanpa sadar air matanya mengalir. "Kau paling mengerti aku."
"Ayah, kehadiran siapa yang kau rindukan?" tanya A-yuan sambil mengusap punggung sang ayah. Shizui atau kerap di panggil A-yuan adalah anak angkat dari Wei Wuxian, ketika dia melarikan diri ke Jepang 13 tahun yang lalu, dia mengadopsi bayi tersebut dan merawatnya seperti anak sendiri. Pemuda yang sudah besar tersebut selalu disebut-sebut ahli nujum, ramalan dan tebakannya selalu akurat. Jadi A-yuan tahu apa yang dirasakan olehnya.
"Lan Zhan, aku merindukannya."
