Itachi membuka kedua bola matanya yang masih terasa berat.

Ia kira cahaya menyilaukan itu datang dari sinar matahari, namun nyatanya cahaya itu datang dari api yang entah sejak kapan berada di tengah tempat tersebut.

Dan fakta lainnya ia baru tertidur beberapa jam saja.

Itachi hampir saja melonjak saat sebuah botol melayang ke arahnya, namun ternyata gerak refleknya cukup baik sehingga ia bisa menangkap botol tersebut dengan sempurna.

"Dari pada kau mati karena obat lebih baik kau minum itu saja," ucap Konan yang segera duduk di dekat api unggun.

"Kau mau membuatku mabuk?" Tanya Itachi.

Konan hanya tertawa, lalu berkata, "bukankah sebelumnya kau juga berusaha untuk tidak sadarkan diri dengan obat penenang itu?"

"Dasar penguntit," gumam Itachi.

"Jangan seenaknya, aku hanya membantumu."

Gadis itu segera membuka botol minuman yang sama dan menghabiskannya hanya dalam beberapa tegukan.

Dengan cepat rona merah menjalari wajahnya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Konan dengan nada tidak suka.

"Aku baru tahu kau seorang pemabuk," komentar Itachi.

"Sejak kapan itu menjadi urusanmu?" Konan mengikuti gaya bicara Itachi.

Itachi hanya tersenyum miring saat mendengar penuturan Konan. Ia pun melangkahkan kakinya untuk mendekati api unggun.

Itachi mulai meneguk minuman itu, sedangkan Konan sudah membuka botol keduanya.

"Biar ku tebak kau memikirkan pria itu," ujar Itachi yang entah sejak kapan menjadi cukup banyak bicara.

Konan mengibaskan tangannya di hadapan Itachi. "Jangan sok tahu, urusi saja Sasuke mu itu."

"Atau mungkin alasanmu menerima misi ini karena kau terlalu jengah untuk berdiri di dekat pria itu?" Tanya Itachi yang ikut menghabiskan minumannya.

"Itachi biar ku beritahu, aku tidak merasa jengah untuk berada di dekat Nagato ataupun Yahiko. Anggota yang cukup menyebalkan bagiku adalah kau," ucap Konan yang sudah cukup melantur karena sebenarnya wanita itu nyaris tidak pernah menyentuh minuman kesukaan guru lamanya tersebut.

Itachi tak bisa menahan senyumannya. "Kenapa?"

"Itu karena kau terlalu banyak ikut campur, dan aku tahu kau mengetahui sesuatu tentang aku, Yahiko, serta Nagato. Jadi berhentilah mencari tahu dan urus saja Sasuke mu itu," jawab Konan.

Itachi benar-benar ingin tertawa melihat tingkah wanita dihadapannya.

Apa yang dikatakan wanita itu tak sepenuhnya salah, tentu ia tidak akan diam saja, melainkan mencari tahu siapa dalang dibalik organisasi tempatnya tinggal, baik itu Konan, Yahiko, Nagato, bahkan Madara sendiri.

Itachi segera bangkit dan merebut botol minuman itu dari Konan.

"Kau sudah mabuk padahal itu baru botol kedua," gumam Itachi.

Konan kembali mengambil botol tersebut, lalu berkata, "kalau kau masih menginginkannya, ambilah di sana. Aku membeli cukup banyak agar kau bisa melupakan adik kesayanganmu itu."

"Cih, kau benar-benar sok tahu."

"Kau cukup banyak bicara juga," gumam Konan.

Hanya butuh beberapa menit untuk Konan terlelap karena sakit kepala yang menderunya, sedangkan Itachi berusaha melampiaskan semua kekesalannya pada botol itu.

"Bukankah ini di gurun? Kenapa sangat panas saat malam hari," racau Konan yang mulai tak nyaman dengan jubahnya.

"Sial, apa yang kau lakukan?" Tanya Itachi yang masih bisa berpikir jernih.

Ia segera menghampiri gadis itu dan membenahi pakaiannya. Namun gerakan Itachi berhenti saat jemari hangat itu menyentuh kulitnya.

"Nagato ku rasa kau harus berhenti menjadi Yahiko. Aku—aku jadi tak mengerti perasaanku sendiri," racau Konan yang mulai menyentuh wajah Itachi.

Itachi menghela napas lalu menurunkan jemari lentik itu dari wajahnya. Ia merasa ia harus segera pergi sebelum pertahanannya runtuh begitu saja.

Ayolah, Itachi hanyalah pria biasa ditambah lagi ia dan Konan dipengaruhi oleh alkohol.

Itachi segera berdiri dan hendak melangkahkan kakinya, namun tanpa ia sangka Konan membalik tubuhnya, dan kedua bibir mereka bertemu.

Itachi merasakan sesuatu yang hangat dan cukup basah.

"Yahiko," gumam Konan disela-sela ciuman tersebut.

Itachi berusaha untuk menghentikan semuanya.

"Ja—jangan pergi," bisiknya yang disertai dengan isakkan.

"Konan, sadarlah," ucap Itachi sembari menepuk kedua pipi bak salju itu.

"Argh, di sini panas sekali,"keluhnya sembari berusaha melepaskan jemari Itachi yang menutupi jubahnya.

"Konan kau-"

Mulut Itachi seketika terhenti dan tubuhnya mematung selama beberapa saat ketika Konan lagi-lagi membungkamnya dengan sebuah ciuman.

"Kau yang memaksaku melakukan ini," bisik Itachi di telinga Konan yang sudah melepas kembali jubahnya.

Sinar matahari benar-benar menganggu sepasang manusia yang masih terlelap itu.

Sepasang mata berwarna hazel mulai terbuka walau dengan ragu-ragu karena kepalanya masih berdenyut dengan cukup keras.

Ia mulai duduk dan memegang kepalanya, namun ia mulai menyadari sesuatu.

Sepertinya bercumbu dan berpelukan dengan seorang pria yang sebelumnya ia yakini sebagai Yahiko, bukanlah mimpi belaka.

Mata opalnya terbelalak kala melihat semua pakaiannya berserakan di sekitarnya. Ia tahu bahwa pria di sampingnya bukanlah Yahiko, ia tahu siapa pria itu.

Dengan perlahan ia melirik pria di samping kanannya dan benar saja Itachi masih terlelap di sana—tepat di sampingnya.

Dengan cepat Konan memunguti pakaiannya. Dalam hatinya ia merutuki semua perbuatan bodohnya.

Untuk apa ia mengajak Itachi beristirahat padahal bisa saja mereka melanjutkan perjalanan?

Untuk apa ia repot-repot mencari kedai dekat desa kabut dan membeli semua minuman sialan itu?

Untuk apa ia meminumnya padahal ia belum pernah merasakan minuman itu sebelumnya?

Untuk apa ia mempedulikan Itachi? Biar saja ia mati overdosis karena mengkonsumsi obat penenang itu.

Ia megacak rambut pendeknya, lalu melangkah pergi meninggalkan Itachi.

Erangan terdengar dari pria itu. Seluruh tubuhnya terasa lelah, namun mentari tak bersahabat dan memaksanya untuk bangun.

Butuh beberapa menit untuk mengembalikan pikirannya. Ia baru tersadar bahwa ia melakukan hal yang tidak masuk akal.

Bola matanya segera menjelajahi setiap sudut ruangan itu, namun ia tak mendapati Konan di mana pun.

Dengan cepat ia mengenakan pakaiannya lagi dan pergi mencari wanita itu.

'Sial, kenapa aku melakukan hal itu?' batin Itachi yang kembali mengingat kilas balik kejadian kemarin malam.

"Konan?" Panggilnya saat melihat seorang wanita duduk di hamparan pasir.

"Eh?"

"Kau-"

"Ayo lanjutkan perjalanan," ajak Konan yang segera mendahului Itachi.

Itachi segera mengimbangi langkah Konan.

Dengan perasaan yang sedikit ragu ia mulai mengeluarkan rangkaian kata yang dari tadi sudah ia susun.

"Aku—meminta maaf, aku benar-benar tidak-"

"Sudahlah, itu juga salahku. Lupakan saja semuanya," ujar Konan yang enggan menatap pria di sampingnya.

"Kalian mendapatkannya?" Tanya Pain Tendo.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Konan segera mengulurkan gulungan yang dimaksud oleh temannya itu.

"Oi Itachi, bagaimana misinya? Kenapa kau sangat lama? Tidak seperti biasanya," ucap Kisame.

"Ah mungkin itu karena dia pergi bersama Konan," timpal Hidan.

Tanpa mempedulikan apapun, Itachi pergi meninggalkan ruangan itu.

TBC


@Rollin'Chips-chan : Terimakasih udah baca fanfic pertamaku di lapak ini. Semoga suka sama cerita ini ((: