.Cast :
- Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
- Oh Sehun
CHANBAEK/GS/ROMANCE/DRAMA/FANTASY/RATE M
"Sajangnim..."
Sehun menepuk pundak sempit Baekhyun, mengabarkan eksistensinya pada si mungil yang tengah sibuk memoles wajah cantiknya di depan cermin. Menggambar sepasang alis yang simetris dan memulas kedua belah pipinya dengan warna jingga yang merona.
"Kau sudah pulang? Aku harap kau melakukan tugasmu dengan baik..."
Baekhyun tak sedikitpun menoleh, sepasang manik hazelnya masih menatap lekat ke arah bayang dirinya dalam cermin. Masih sibuk mematut dan menghias diri dengan koleksi perhiasan mewahnya yang berkilau.
"Anda terlihat semakin cantik dengan anting merah muda itu,Sajangnim...Apakah anda baru saja membelinya?"
Dari kilaunya yang terlihat begitu cantik, Sehun sepenuhnya yakin jika Baekhyun baru saja menghambur-hamburkan uang hotel dengan jumlah yang tidak sedikit. Tak lagi heran dengan tabiat Baekhyun yang boros dan begitu menggilai barang-barang mewah.
"Aku tidak...Arwah putri duyung dari kamar 12 yang memberikannya untukku...Dia bilang, ini adalah tanda terimakasih karena aku telah membantunya bertemu dengan kekasihnya sebelum dia pergi ke alam baka...Haruskah aku menjualnya? Aku yakin ini akan laku mahal jika dijual..."
"Jadi, anda meminjamkan bantal sutra agar mereka bisa berkencan di alam mimpi?"
Selain pohon kehidupan pemberian dewa maut, Baekhyun juga memiliki sebuah bantal sutra yang seringkali kali ia jadikan sebagai mesin pencetak uang. Bantal sutra itu memiliki sebuah kekuatan diluar nalar, yaitu bisa membuat para arwah bertemu dengan orang yang mereka kasihi dalam sebuah mimpi.
Bagi seorang yang matrealistis seperti Baekhyun, ini adalah sebuah jalan pintas untuk memperkaya diri. Ada harga yang harus dibayar mahal untuk mendapatkan layanan istimewa ini. Tak hanya setumpuk uang dan logam mulia yang bisa ia kantongi dalam sekali transaksi, namun, beberapa dari mereka bahkan membayarnya dengan sejumlah saham bernilai jutaan won. Bukankah itu sangat menggiurkan?
"Lebih dari itu...Aku meminjamkan tubuhku pada putri duyung agar ia bisa menikmati makan malam romantis bersama kekasihnya...Tadinya aku tidak mau, tapi dia terus memaksaku untuk melakukannya...Dia bilang, dia akan melakukan apa saja asal aku bersedia membantunya...Jadi, bukankah sudah seharusnya dia membayarku dengan harga yang mahal?"
"Jadi, hidupmu yang mewah dan glamour adalah hasil memeras para arwah gentayangan? Kau benar-benar bedebah licik,Byun Baekhyun..."
Baekhyun tergesa menoleh, sama sekali tak menyangka jika bajingan gila yang kemarin nyaris memperkosanya, kini berada tepat di belakangnya. Harga dirinya terluka, merasa tertohok oleh kata-kata Chanyeol yang terdengar begitu tajam dan melukai.
"Yak!Oh Sehun! Kenapa dia ada disini? Bukankah sudah ku bilang untuk melaporkannya ke kantor polisi? Kenapa dia masih berkeliaran disini? Kau dengar, dia bahkan meneriakiku bedebah licik...Aku benar-benar tidak bisa memaafkannya!"
"Sajangnim, saya tidak tega melaporkannya ke polisi...Jadi saya mengajaknya pulang kesini..."
"Tidak tega kau bilang? Bagaimanapun juga dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya...Dia telah dengan sengaja melecehkan dan nyaris memperkosaku...!"
"Bertanggungjawab untuk apa? Kau bahkan tidak hamil….Haruskah aku menikahimu sebagai bukti pertanggungjawabanku?"
Alih-alih minta maaf dan menunjukan raut wajah penuh penyesalan, Chanyeol justru kian berani menggoda Baekhyun. Tak ragu untuk melayangkan kerlingan mata nakal yang membuat Baekhyun seketika bergidig jijik.
"Tutup mulutmu! Aku tidak sedang berbicara denganmu!"
Baekhyun melayangkan sebuah tatapan sinis ke arah Chanyeol, mencoba mengintimidasi Chanyeol agar menarik kembali kata-katanya yang lancang.
"Oh Sehun, jelaskan padaku….Kenapa kau membawanya kesini tanpa persetujuanku?"
"Saya….Saya hanya kasihan padanya,sajangnim….Dia bilang, dia tidak memiliki keluarga atapun tempat tinggal….Jadi saya membawanya kesini…."
"Kau pikir hotel ini adalah tempat penampungan gelandangan? Bawa dia pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaranku…."
"Tapi,sajangnim..."
"Tapi apalagi? Apakah kau butuh bantuan dewa maut untuk mengusirnya pergi dari sini?"
"Sajangnim, saya benar-benar tidak bisa mengusirnya pergi…Dia bahkan tidak memiliki tempat tinggal dan identitas yang jelas….Lihatlah, hidupnya benar-benar menyedihkan…."
"Kau pikir aku peduli?"
Dengan kaki yang bersilang anggun, Baekhyun menikmati tetes demi tetes sampanye yang ada dalam gobletnya. Mencoba meredam panas di hati dan pikirannya karena ulah Sehun yang membuatnya benar-benar murka.
"Daripada membiarkannya pergi dan menjadi gelandangan, bagaimana kalau anda membiarkannya tinggal dan bekerja di hotel?"
"Untuk apa kau sekolah jauh-jauh ke Harvard jika otakmu masih saja bebal seperti ini? Kau ingin aku mempekerjakan seseorang yang bahkan tidak memiliki nama dan identitas? Berhentilah berbicara omong kosong,manager Oh..."
"Kalau begitu, kita harus memberinya sebuah nama,sajangnim...Bagaimana dengan nama Park Chanyeol? Bukankah itu terdengar keren dan cocok untuknya ?"
"Park Chanyeol kau bilang? Berani-beraninya kau menyamakan Chanyeol-ku yang tampan dengan bajingan mesum sepertinya?"
Sehun baru saja membangunkan singa betina yang tertidur.
Sama halnya dengan gadis muda lain, Baekhyun juga menggilai seorang idol yang telah ia anggap sebagai separuh jiwanya. Namanya Park Chanyeol, seorang solois berwajah tampan dengan tato monyet pada lengan kekarnya yang membuat Baekhyun begitu jatuh hati. Ia bahkan memiliki sebuah ruangan khusus untuk menimbun ribuan album koleksinya, lengkap dengan lightstick dan tiket konser yang dengan bangga ia pajang di dinding. Maka tak heran, jika ia begitu murka saat Sehun seenak hati memberikan nama Park Chanyeol tanpa memikirkan perasaannya.
"Jika kau keberatan memanggilku dengan nama Chanyeol, kau bisa memanggilku sayang..."
Dan terjadi lagi. Chanyeol kembali memperkeruh keadaan dengan sengaja menggoda Baekhyun. Mungkin ini terdengar sedikit aneh, namun bagi Chanyeol, Baekhyun justru terlihat semakin cantik saat sedang memasang wajah ketus dengan umpatan-umpatan kasar yang lolos dari bibir merahnya.
"Berhentilah menggodaku...Kau bahkan tidak lebih tampan dari mantan suamiku..."
Agar keadaan tak menjadi semakin keruh, Sehun tergesa menghampiri Baekhyun. Memberikan sebuah pijitan relaksasi di kedua pundak sempit baekhyun dengan sebuah niat yang terselubung. Ia selalu terlihat natural setiap kali memulai negosiasi. Menempatkan Baekhyun pada posisi yang nyaman sebelum mulai merayunya dengan sedikit aegyo yang menggemaskan.
"Sajangnim, sebentar lagi bulan purnama...Para arwah pasti akan datang berbondong-bondong dan membuat seluruh kamar terisi penuh...Hanya dengan membayangkannya saja, saya sudah lelah dan frustasi...Bukankah ini adalah saat yang tepat untuk menerimanya sebagai karyawan baru?"
"Baiklah...Aku akan menaikkan gajimu dan memberimu uang lembur...Jadi, berhentilah memintaku untuk menerimanya bekerja disini...Karena sampai kapanpun, aku tidak akan sudi membiarkan bajingan mesum sepertinya untuk bekerja di sini..."
"Hei...Berhentilah berbicara seolah-olah kau adalah korban... Bukankah kau juga menikmatinya?"
Sehun memutar bola matanya malas. Saat ia telah susah payah membujuk Baekhyun untuk menerimanya tinggal di hotel, Chanyeol justru sengaja memancing keributan dengan terus menggoda Baekhyun. Tak sedikitpun gentar meski Baekhyun telah dengan lugas memberinya penolakan bertubi-tubi.
"Menikmatinya kau bilang? Seharusnya kau sadar jika ciumanmu bahkan sangat payah..."
"Kita bisa mengulangi jika kau mau...Tapi jangan pernah menyesal jika pada akhirnya kau akan tergila-gila padaku..."
"Berhentilah menggodaku sebelum aku benar-benar murka dan membunuhmu..."
Detik ini, Sehun benar-benar menyesal telah memulai sandiwara bodoh ini. Sebuah sandiwara yang ia perankan demi memuluskan niatnya untuk bisa sejenak kabur dari hotel dan hidup sebagai seorang manusia yang normal.
"Oh Sehun, katakan dengan jujur...Apa yang membuatmu bersikeras memintaku untuk menerimanya bekerja disini? Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?"
Berbekal insting yang tajam dan kemampuannya membaca pikiran, bukan hal yang sulit bagi Baekhyun untuk menyadari adanya kebohongan yang tengah terjadi. Dengan gerak yang anggun, ia mencengkeram kerah kemeja Sehun hingga membuat wajah keduanya kini nyaris tak berjarak. Hazel cokelatnya menatap tajam ke arah Sehun, sengaja mengintimidasi agar Sehun tak memiliki pilihan lain selain berkata jujur.
"Itu karena...Karena saya ingin ada seseorang yang menjaga dan membantu sajangnim mengurus hotel selama saya pulang ke China..."
"Pulang ke China? Siapa yang mengizinkanmu pulang ke China? Kau tidak akan kemana-mana...Kau akan tetap disini...Di sanggarloka ini..."
"Saya akan tetap pulang ke China meskipun sajangnim tidak mengizinkannya..."
Detik ini, Sehun bangga pada dirinya sendiri. Setelah bertahun-tahun mengumpulkan keberanian, akhirnya kini ia bisa menyuarakan inginnya dengan lantang. Setidaknya ia telah mencoba, meski ia sadar tak mudah bagi Baekhyun untuk melepasnya pergi.
"Jadi, kau ingin mencoba kabur dariku? Lakukanlah...Pulanglah ke China dan tinggallah disana selama yang kau bisa...Tapi ada satu hal yang harus kau ingat, aku tak akan pernah mengembalikan penglihatanmu...Jadi, tak peduli dimanapun kau berada, kau akan tetap digentayangi hantu dan arwah penasaran..."
"Sajangnim, saya mohon...Untuk kali ini saja, biarkan saya pulang dan bertemu dengan keluarga saya...Saya mendapat kabar jika sekarang baba dalam keadaan kritis...Saya...Saya harus pulang,sajangnim...Saya harus pulang..."
Sehun yang semula tegar, kini mulai tertunduk terisak. Rasa rindu yang selama ini hanya bisa ia pendam seorang diri, kini tak lagi tertahan. Ia merindukan ayahnya yang kini terbaring lemah, merindukan sosok ibunya yang juga mulai beranjak renta, dan juga anjing kesayangannya yang kini telah tumbuh sebesar babi.
"Aku tetap tidak bisa membiarkanmu pulang, manager Oh...Jika kau pulang, siapa yang akan membantuku mengurus hotel ? Aku bergantung padamu...Kau tau itu,kan?"
"Anda tidak perlu khawatir, sajangnim...Chanyeol yang akan menggantikan saya untuk membantu anda mengurus hotel..."
Baekhyun kini benar-benar dilema. Ego dan inginnya untuk terus memonopoli kehidupan Sehun, perlahan goyah setelah melihat air mata yang meleleh di kedua pelupuk mata Sehun. Hati kecilnya memang telah tersentuh, namun ia masih belum bisa untuk sekedar membayangkan, bahwa ia harus menukar Sehun-nya yang manis dan penurut dengan begundal mesum seperti Chanyeol.
"Apakah kau benar-benar harus pulang? Tak bisakah kalian bertemu disini saja? Bukankah cepat atau lambat kalian pasti akan bertemu..."
Sehun menggengam kedua tangan Baekhyun dengan lembut, mencoba menenangkan Baekhyun yang terlalu takut akan jatuh bangkrut jika harus mengurus hotel seorang diri.
"Sebelum benar-benar terlambat, Ijinkan aku untuk menunjukan baktiku pada mereka...Aku ingin menemui mereka sebagai seorang anak...Bukan sebagai manager hotel yang melayani tamunya..."
...
"Kau harus menggosoknya seperti ini...Ingat, harus searah jarum jam...Kau mengerti?"
Bak seorang profesional, Sehun memvisualiasasikan sebuah tutorial dengan gerak yang terlihat begitu lihai. Meneliti dengan seksama, agar tak tersisa sebutirpun debu yang menempel di mobil kesayangan Baekhyun.
"Dan ingat, jangan sampai lecet...Atau sajangnim akan marah dan meneriakimu dengan kata-kata kasar..."
"Aku tidak peduli...Karena bagiku, dia justru terlihat jauh lebih sexy saat sedang mengumpat dan meneriakiku dengan kata-kata kasar..."
"Kau sudah gila..."
Jatuh cinta memang seringkali membuat seorang bucin sulit untuk berfikir waras. Bahkan, umpatan kasar yang seharusnya terdengar gaduh dan melukai harga diri, kini justru terdengar merdu dan candu di pendengaran.
"Jadi, berapa lama kau akan pergi?"
"Aku tidak yakin...Tapi aku akan segera kembali setelah Baba benar-benar sembuh..."
"Pergilah dengan tenang...Aku akan menjaga Baekhyun sampai kau kembali..."
"Ku beri tahu satu hal...Jika kau ingin selamat, jangan pernah sekalipun menyentuh pohon tua itu...Itu adalah pohon keramat..."
Ujung telunjuk Sehun mengarah pada pohon kehidupan milik Baekhyun, sebatang pohon ajaib yang pernah membuatnya nyaris meregang nyawa. Meski sekilas terlihat cantik karena bunganya yang mekar dan merona, namun tetap saja, pohon tua itu seringkali bereaksi berlebih saat seseorang tak sengaja menyentuhnya.
Kali pertama dan terakhir kali ia menyentuhnya, ia benar-benar sekarat karena pohon tua itu tiba-tiba mengeluarkan akar gantung yang membelit sekujur tubuhnya. Semakin keras ia berusaha meloloskan diri, semakin erat lilitan pada tubuhnya hingga berakibat patah pada tulang rusuknya. Tak hanya itu, bunga yang semula terlihat indah dalam pandangan, tiba-tiba saja berubah menjadi bara api yang nyaris menghanguskannya.
Beruntung Baekhyun lekas datang dan menyelamatkannya, bergegas mengiris telapak tangannya dengan belati dan menyiram pohon terkutuk itu dengan tetesan darahnya. Maka tak heran, jika hingga detik ini rasa trauma itu tak pernah berkurang satu desimalpun.
"Memangnya itu pohon apa? Kenapa aku tidak boleh menyentuhnya?"
"Sudah kubilang itu adalah pohon keramat...Kata sajangnim, itu adalah pohon pemberian dewa maut...Namanya pohon kehidupan..."
"Jadi maksudmu, Baekhyun berteman dengan dewa maut?"
"Tak hanya dewa maut, dia juga berteman baik dengan dewa pengantar arwah dan dewi kekayaan...Mereka bahkan sering minum sampanye bersama di bar hotel..."
"Ini benar-benar tidak masuk akal...Bagaimana mungkin seorang manusia bisa mabuk-mabukan dengan para dewa?"
Sehun menggaruk rambutnya yang tak gatal, sedikit kesulitan untuk mulai menjabarkan fakta-fakta yang mungkin akan terdengar seperti sebuah cerita dongeng.
"Sebenarnya, sajangnim bukanlah manusia biasa seperti kita...Dia adalah seorang arwah abadi yang sudah berumur lebih dari 1500tahun...Mungkin ini terdengar sedikit tidak masuk akal, tapi dia benar-benar sudah hidup sejak era Joseon..."
"Arwah abadi? Jadi dia sudah hidup ribuan tahun tanpa sekalipun reinkarnasi?"
"Tanpa reinkarnasi dan tanpa pernah menua sedikitpun...Kau lihat sendiri kan? Dia bahkan masih terlihat seperti gadis belia meski sebenarnya ia sudah kawin cerai berkali-kali..."
Sehun bergegas membungkam bibirnya dengan telapak tangan, mengutuk mulut bocornya yang tak sengaja mengumbar aib yang seharusnya ia tutup rapat-rapat. Terlebih, dari Chanyeol yang baru ia kenal belum genap 1 x 24jam.
"Jadi dia sudah kawin cerai berkali-kali? Ck...Sok cantik..."
"Bukan sok cantik...Tapi memang kenyataanya dia cantik...Dia bahkan adalah gadis tercantik yang pernah aku liat seumur hidupku..."
"Tentu saja bagimu dia adalah yang tercantik...Bukankah setiap hari kau hanya melihat arwah penasaran dengan wujud yang mengerikan?"
Sehun mendengus kesal. Wajahnya yang semula tersipu merona usai memuji kecantikan Baekhyun, seketika berubah masam seperti jeruk Jeju. Ia hanya tak habis pikir dengan jalan pikiran Chanyeol. Bagaimana mungkin ia membandingan kecantikan Baekhyun yang berada pada kasta tertinggi, dengan seonggok arwah penasaran yang buruk rupa?
"Jadi menurutmu sajangnim tidak cantik?"
"Biasa saja...Tak ada yang istimewa darinya...Bahkan di tempat asalku, banyak bidadari yang jauh lebih cantik dan menggoda daripada Baekhyun..."
Andai dewa memberinya kekuatan untuk bisa memutar waktu, Chanyeol pasti akan menarik kembali ucapnya sedetik lalu. Seharusnya ia mengunci bibirnya rapat-rapat, bukan malah sesumbar dan mementahkan usahanya yang telah susah payah meyakinkan Sehun jika ia adalah seorang manusia.
"Jadi maksudmu, kau pernah tinggal di khayangan bersama pada bidadari? Sadarlah...Kau terlalu banyak berhalusinasi..."
Chanyeol hanya bisa tersenyum bodoh saat Sehun terpingkal menertawakan jawabannya. Beruntung, Sehun hanya menganggap apa yang ia ujarkan sebagai sebuah omong kosong. Tak tertarik untuk mengulik lebih jauh perihal pernyataannya yang terdengar begitu ambigu.
"Lalu apa hubungan antara Baekhyun dengan pohon tua itu?"
"Pohon tua itu yang membuat sajangnim bisa hidup hingga ribuan tahun...Karena sajangnim telah menumbalkan darah manusia untuk membuat raganya abadi dan tetap cantik seperti sekarang..."
"Sesuai dugaanku...Dia adalah seorang pembunuh yang keji..."
Chanyeol menyeringai, memuji insting tajamnya yang tepat menerka perihal jati diri seorang Byun Baekhyun. Meskipun telah dibalut tubuh yang molek dan wajah yang menawan, namun tetap saja, delusi itu tak akan cukup untuk mengelabuhi seorang penghuni surga sepertinya.
"Maka dari itu, jangan pernah menyentuh pohon tua itu... Atau kau akan berakhir menjadi burung bakar..."
"Burung bakar? Sudah kubilang aku ini bukan burung...Aku manusia biasa, sama sepertimu...Kau terlalu banyak berhalusinasi..."
"Aku tidak berhalusinasi...Aku bahkan melihat dengan mata kepalaku sendiri jika kau memiliki sepasang sayap di balik punggungmu...Kau tidak perlu menutupinya dariku...Akui saja..."
Meski Chanyeol terus saja menyangkal dan mengingkari, namun instingnya sebagai pawang siluman dan arwah gentayangan mengatakan, bahwa Chanyeol bukanlah seorang makhluk bumi.
Sejak mengabdi dan terpenjara di hotel, Sehun perlahan mulai terbiasa dengan penampakan para siluman dan arwah dengan wujud yang sesekali membuatnya menggigil ketakutan. Namun, saat pertama kali ia melihat Chanyeol, ia merasakan sebuah aura yang jauh berbeda, begitu kuat dan dominant. Sebuah aura asing yang tak pernah ia rasakan saat bertemu dengan siluman, arwah penasaran, maupun arwah abadi seperti Baekhyun.
"Aku hanya manusia biasa dengan dua mata, dua tangan,dan dua kaki sepertimu...Aku tak punya sayap seperti apa yang kau khayalkan..."
"Baiklah aku percaya...Selama aku pergi, tolong layani sajangnim dan para arwah dengan baik...Dan jangan membuat keributan di hotel..."
"Tentu saja...Aku tak hanya akan melayani Baekhyun dengan baik..Tapi juga akan memuaskannya..."
Detik ini, Sehun akhirnya percaya jika Chanyeol benar-benar bajingan mesum. Alih-alih mengartikannya sebagai sebuah tugas negara, Chanyeol justru mengartikannya sebagai sebuah tantangan untuk menaklukan Baekhyun.
"Yak,Kau! Berhentilah menggoda sajangnim...Atau kau akan bernasib sama seperti Kris dan mantan suaminya yang lain...Kau akan mati dengan leher tercabik dan tubuh biru-biru..."
"Percayalah padaku, tidak akan...Karena aku yang akan membuat tubuh sexy Baekhyun penuh dengan tanda cinta kemerahan..."
"Terserah kau saja...Tapi tolong, jangan mati sebelum aku kembali..."
Chanyeol hanya mengangguk lirih. Tak ingin mendebat Sehun lebih jauh karena ia takut jika mulutnya akan kembali berulah. Tentu saja Chanyeol tidak akan mati, karena sebenarnya, ia telah mati ribuan tahun yang lalu.
"Aku pikir, manager adalah sebuah pekerjaan yang keren...Tapi ternyata, tugasku hanya membersihkan besi kuning seperti ini..."
Chanyeol memutar bola matanya dengan malas, mulai dilanda bosan karena harus terus membersihkan mobil kesayangan Baekhyun hingga benar-benar glowing dan bersinar.
"Jangan salah...Ini bukan besi kuning sembarangan, harganya sangat mahal...Bahkan, gajimu selama 10tahunpun tak akan cukup untuk membelinya..."
"Benarkah?"
Ini adalah kali pertama Chanyeol melihat sebuah mobil, sebuah benda asing yang konon katanya berharga fantastis dan memiliki fitur yang maha canggih. Meski tentu saja, besi kuning ini tak akan mampu mengalahkan pegasus miliknya yang bisa berlari dengan seribu kecepatan cahaya.
"Apakah dia akan membunuhku jika aku menggoresnya seperti ini?"
Sehun terbelalak saat Chanyeol tiba-tiba mengeluarkan kuku panjangnya yang tajam dan melengkung, menggoreskan sebuah garis lurus sepanjang hasta tanpa sedikitpun rasa bersalah.
"Yak! Apa yang kau lakukan? Kau sudah bosan hidup?"
Sehun memekik histeris saat melihat mobil kesayangan Baekhyun kini tergores parah. Mulai diserang panik berlebih hingga sepasang pelipisnya kini dibanjiri keringat dingin.
"Aku harus kabur...Aku harus menyelamatkan diri dari amukan sajangnim..."
...
"Kau terlihat begitu menyedihkan..."
Jongin hanya bisa mengelus dada dengan iba, tak sampai hati melihat Chanyeol yang tengah berjibaku membersihkan mobil kesayangan Baekhyun dengan lelehan peluh yang tak henti menetes. Wajah tampannya bahkan kini nampak sedikit tan, terbakar sinar matahari yang kini berotasi tepat di atas kepala.
Kini, Chanyeol benar-benar terlihat serupa makhluk bumi, terlihat tak berdaya usai para dewa menyegel seluruh kekuatannya.
"Apanya yang menyedihkan? Aku baik-baik saja...Aku bahkan bahagia tinggal di bumi..."
Tentu saja itu bohong. Hidup di surga jauh lebih menyenangkan daripada di bumi yang panasnya terasa seperti separuh suhu neraka. Namun, ia memiliki sebuah alasan kuat untuk tetap bertahan disini . Yaitu Baekhyun, gadis mungil berwajah ketus yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kau yakin? Apakah menjadi pesuruh rendahan seperti ini membuatmu bahagia?"
"Tentu saja aku bahagia...Karena aku melakukan semua ini untuk wanita yang aku cintai..."
Jongin tersenyum remeh usai membaca dengan jelas gurat kebohongan yang tercetak di wajah Chanyeol. Menertawakan Chanyeol yang sama sekali tak berbakat untuk membohonginya.
"Bukankah sudah kubilang, jangan membuat onar...Tapi lihatlah apa yang kau lakukan? Kau justru sengaja membuat para dewa murka dan menendangmu ke bumi..."
"Pergilah...Jangan ganggu aku...Aku sedang menikmati hukumanku di bumi..."
"Aku datang untuk memperingatkanmu...Karena aku dengar, para dewa berencana untuk menambah hukumanmu, karena kau dengan sengaja telah melecehkan seorang makhluk bumi..."
Detik ini, ingatan Chanyeol seketika kembali pada kenangan pertamanya bersama Baekhyun. Kenangan saat ia melumat bibir tipis Baekhyun dengan kasar, dan nyaris menelanjanginya . Chanyeol benar-benar tak dapat menahan pikiran kotornya saat ini.
"Berhentilah berpikiran kotor, dasar idiot!"
Jongin memukul kepala Chanyeol dengan gemas, menyadarkan Chanyeol yang terlanjur menjadikan Baekhyun sebagai objek fantasi liarnya.
"Dan berhentilah membaca pikiranku! Kau sangat tidak sopan!"
Chanyeol mendengus kasar, sedikit emosi ketika menyadari bahwa Jongin baru saja membaca pikiran kotornya tentang Baekhyun. Tentang fantasy dan niat kotornya untuk kembali melecehkan Baekhyun.
"Semakin sering kau berulah, maka akan semakin lama hukumanmu di bumi...Dan kemungkinan terburuk, kau tidak akan pernah kembali ke surga..."
"Aku tidak peduli...Lagipula, untuk apa aku kembali ke surga? Jika kau merindukanku, kau bisa mengunjungiku disini..."
"Kau sudah gila..."
"Aku sungguh-sungguh...Aku benar-benar tidak ingin kembali ke surga...Aku lebih suka disini..."
Chanyeol menatap lurus ke arah Jongin, membuktikan kesungguhanya yang hanya dianggap sebagai sebuah omong kosong. Meski tak seindah surga, namun, pertemuannya dengan Baekhyun telah membuat tekadnya bulat untuk menetap di bumi. Paras cantik yang disempurnakan dengan tatap yang terlihat dingin dan angkuh, benar-benar telah membuat Chanyeol jatuh hati. Membuatnya tak ingin terpisah barang sejengkalpun.
"Kenapa?"
"Karena aku telah jatuh cinta pada seseorang..."
"Siapa?"
"Gadis mungil berwajah ketus pemilik hotel ini..."
TBC
A/N :
- Apa yang kalian baca 10menit, adalah apa yang susah payah gue tulis selama hampir sebulan, jadi please jangan bilang kalo ini pendek. Ini sebenernya belum masuk plot, baru sebatas ngasih tau tentang siapa Chanyeol dan darimana dia berasal. Siapa Chanyeol? Dia adalah makhluk blasteran Korea-Surga.
- Apakah ini kelewat mirip hotel Deluna? Engga kan? Sebenernya gue rada ga pede bikin genre fantasy kek gini, dan lebih ga pede lagi karena malem ini gue update bareng sama author senior ParkAyoung yang update Damn Imagination di Wp. Yuk dibaca bareng.
- Sampai jumpa di next chapter. Salam Chanbaek is real.
