Chapter 2
.
.
Hiruma melihat ke Mamori yang membuka lipatan kertas secara utuh. Dia mengerutkan keningnya saat melihat dua nomor terakhir.
"Tujuh!?"
Mamori mengangguk.
"Dan kenapa juga dua nomor terakhir ini kosong? Berarti hanya lima kan, sialan?" protes Hiruma.
"Baca yang nomor lima." balas Mamori sambil menunjuk ke kertas.
Hiruma melihat lagi ke kertas dan mulai membacanya.
Permintaan nomor enam dan tujuh boleh diisi kapan pun jika Mamori merasa keberatan.
Hiruma tambah mengerutkan kening membacanya. Dia lalu melihat ke Mamori yang tersenyum tanpa bersalah.
"Baca saja dari nomor satu. Daripada kamu terus-terusan mengeluh. Kamu boleh merevisinya sebelum tanda tangan di bawah."
"Kau mengerjaiku, heh," keluhnya.
Hiruma lalu membaca permintaan nomor satu.
Mamori berhak mengambil hari libur dari klub jika banyak tugas mendesak dari kampus.
Hiruma terdiam. "Pinjam pulpen," ujarnya.
Mamori lalu merogoh tas kemudian memberikan pulpennya.
Hiruma lalu menambahkan tulisan di nomor satu.
Tidak dizinkan jika sedang ada pertandingan penting.
Hiruma lalu melanjutkan membaca lagi.
Hiruma harus mengantarkan Mamori sampai stasiun jika latihan klub lebih dari jam lima sore.
Hiruma memandang Mamori meminta penjelasan.
"Kereta terakhirku hanya sampai jam 7. Aku tidak akan sempat sampai stasiun jika naik bis," jelas Mamori.
"Keh... Tidak masalah."
Hiruma lanjut membaca lagi.
Hiruma dilarang mengumpat di depan Mamori. Terlebih jika ditujukan kepadanya.
"Apa-apaan ini, sialan!?"
Mamori berdecak keheranan. "Baru saja kau membacanya. Malah sudah kau langgar."
Hiruma menambahkan sesuatu di kertas.
Hiruma bebas melakukannya jika tidak ada Mamori.
Mamori lalu ikut membacanya. "Oke... Selama aku tidak mendengarnya."
Hiruma lalu membaca permintaan terakhir di nomor empat.
Hiruma harus menuruti perkataan Mamori jika itu demi kebaikannya.
Lagi-lagi Hiruma mengerutkan keningnya bingung dan memandangi Mamori. "Contohnya?" tanya Hiruma.
"Misalnya jika aku bilang kamu harus istirahat, kamu harus melakukannya. Jika aku bilang kamu tidak boleh ini itu, kamu harus melakukannya."
"Kenapa jadi memberatkan kepadaku, heh?"
Mamori mengangkat bahu. "Apa salahnya? Kurasa kamu juga tidak dirugikan."
"Lalu jika aku melanggar?"
"Kalau kamu membuatku kesal, maka aku akan keluar."
"Merepotkan saja," balas Hiruma.
"Jika sudah setuju, tandatangani."
Hiruma menorehkan tanda tangannya. "Latihan hari Senin, Rabu, dan Jum'at," ujarnya.
"Oke."
Dia lalu memutar kertas itu kehadapan Mamori. Mamori kemudian menandatangani kertas itu. Setelah selesai Mamori melipatnya lagi dan dimasukkan ke dalam tas.
.
.
Mamori keluar ruang kelas bersama dengan Sara. Kuliah jam kedua telah usai dan mereka beranjak ke kafe untuk makan siang. Mereka mengantri bergiliran menunggu makannya. Setelah membayarnya, mereka menuju ke meja kosong dan menikmati makan siangnya disana.
"Aku tidak bisa ikut pulang bersamamu," sahut Mamori.
"Kenapa?"
"Aku ada latihan klub," jawab Mamori.
"Kamu ikut Amefuto lagi?" tanya Sara yang berpikir cepat.
Mamori mengangguk. "Kamu tidak kaget?"
Sara menggeleng. "Kamu terlalu menyukai Devil Bats dulu. Jadi aku tidak heran," jawab Sara. "Bagaimana dengan klub bukumu?"
"Tidak masalah ikut dua. Lagipula klub buku sifatnya santai. Anggota klubnya fleksibel dan bebas."
"Hari ini kamu mulai latihan?"
Mamori menggangguk.
Mereka lalu menghabiskan Makanannya dan membawa tempat makanannya ke tempat pengumpulan wadah kotor.
Mamori mendorong pintu kafe. Dia menghentikan langkahnya saat melihat seseorang duduk di motor di depan kafe.
"Bagaimana kamu tahu aku disini?" kaget Mamori.
Sara ikut menoleh ke seseorang yang dimaksud Mamori. "Kalau begitu aku duluan Mamori. Sampai besok," pamit Sara.
Mamori tersenyum seraya mengangguk. Dia lalu berjalan menghampiri Hiruma.
"Ayo," ajak Hiruma sambil memasangkan helm ke kepala Mamori.
"Yang kuingat di surat perjanjian itu, bukan menjemput tapi mengantar," ujar Mamori.
"Aku sekalian lewat."
"Kenapa tahu aku disini?" tanyanya sambil naik ke atas motor.
"Kemana lagi orang sepertimu saat jam makan siang kalau bukan kesini?" sindir Hiruma.
Mamori hanya mencibirkan bibirnya.
Hiruma lalu melajukan motornya.
.
.
Hari masih jam satu siang. Tentu saja ruangan klub masih sepi dan hanya ada mereka berdua.
"Kenapa kita datang cepat-cepat sekali?" tanya Mamori.
"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin tidur," sahut Hiruma sambil merebahkan dirinya di sofa di pinggir ruangan.
"Kamu enak tidur. Lalu aku?" sahut Mamori. "Apa yang harus kulakukan sambil menunggu waktu latihan?"
"Kau bisa tidur bersamaku," balasnya asal.
Mamori melengos dan mengambil laptop Hiruma di atas meja. Dia lalu berjalan dan duduk di sofa dengan kaki Hiruma bertengger di belakang punggungnya.
"Kenapa duduk disini, heh?" protes Hiruma. "Masih banyak kursi lain!"
"Kursi panjang itu tidak ada sandarannya. Aku pegal," balas Mamori. Dia lalu menyalakan laptop yang diletakkan di atas pangkuannya.
"Kau mau apa dengan laptopku?"
"Buka SNS," jawab Mamori sambil mengetik password laptop Hiruma.
"Memang kau tahu cara bermain SNS, heh?" ledeknya.
Mamori melirik tajam ke arah Hiruma. "Kamu bilang mau tidur. Tidur saja sana," perintahnya kesal.
Hiruma lalu menyengir puas.
Setelah itu keheningan melanda ke seisi ruangan. Mamori asik bermain SNS dan mengobrol dengan beberapa teman lamanya disana. Sesekali dia menoleh ke Hiruma yang tertidur pulas.
Waktu baru tiga puluh menit berlalu. Masih ada satu jam lagi sampai waktu latihannya. Mamori lalu meletakkan laptopnya di atas meja dan bangun dari duduknya. Dia beranjak ke ruang ganti, melihat beberapa lemari loker disana.
Mamori menuju ke loker yang terdapat stiker kelelawar. Sudah pasti Mamori tahu itu loker siapa. Dia lalu membukanya. Mamori menghela napasnya. Memang apa yang diharapkannya. Tidak mungkin loker Hiruma akan rapi dan tertata. Jadilah dia mengeluarkan baju-baju berserakkan di lokernya dan duduk di kursi panjang. Dia mulai melipat bajunya.
"Kupikir ada tas perempuan siapa di atas meja sana. Ternyata kamu Anezaki-san," sahut seseorang di ambang pintu ruang ganti.
Mamori kaget dan menoleh mendapati Segawa. Dia lalu berdiri dan membungkuk padanya. "Oh. Apa kabar Kapten?" sapanya.
"Tidak perlu sungkan," ujar Segawa tersenyum dan berjalan ke lokernya.
Mamori lalu duduk kembali dan melanjutkan aktivitasnya.
"Apa Hiruma yang menyuruhmu melakukan itu?"
Mamori melihat ke Segawa lalu melihat lagi ke baju di pangkuannya. "Tidak. Ak bosan dan Hiruma hanya tidur saja."
"Bagaimana kamu tahu itu lokernya?"
"Karena ada stiker itu di depannya," jawabnya sambil menunjuk stiker kelelawar itu.
"Ternyata kamu mengenalnya dengan sangat baik. Pantas saja dia selalu mengandalkanmu."
Mamori hanya balas tersenyum.
Segawa duduk di sebelah Mamori sambil membuka sepatunya. "Jadi kamu mulai ikut latihan hari ini?"
Mamori mengangguk. Dia bangkit dan meletakkan baju-baju yang sudah dirapikannya ke dalam loker.
"Di depan ada lemari. Itu milik manajer yang dulu. Semua data-data ada disana. Kamu bisa memakainya," ujar Segawa. "Sebentar. Aku ambil kuncinya." Dia menuju ke lokernya lagi.
"Terima kasih," ujarnya saat menerima kunci lemari itu.
"Kamu butuh waktu untuk mempelajarinya. Karena banyak sekali."
"Sedang apa, heh?" tanya Hiruma di ambang pintu ruang ganti melihat Mamori dan Segawa yang santai mengobrol.
Segawa dan Mamori menoleh ke pintu.
"Aku lihat-lihat lemarinya dulu Kapten," ujarnya pada Segawa.
Segawa mengangguk dan tersenyum.
Mamori melewati Hiruma dan berjalan menuju ke lemari. Hiruma mengikuti di belakangnya. Mamori membuka lemarinya. Dia menghela napas lega, karena data-data itu tidak banyak menumpuk seperti yang diperkirakannya. Hanya ada satu tumpukan sedang. Isi lemari itu bermacam-macam. Mulai dari kotak P3K, handuk-handuk bersih, seragam tim untuk bertanding, dan juga rompi latihan. Dia melihat satu slot kosong dan bisa menduga kalau ini adalah tempat khusus untuknya menyimpan barang-barang miliknya.
"Kau mau membaca kertas-kertas itu, heh?" tanyanya di belakang Mamori.
Mamori tidak menoleh. Dia hanya memandangi tumpukan kertas itu. "Menurutmu aku harus membawa pulang semua ini?"
"Sebagian ada data-data anggota pemain lama Anezaki-san," sahut Segawa keluar dari ruangan. "Jadi kau hanya perlu mempelajari dari tiga tahun ke belakang."
Hiruma hanya menyengir dan menepuk-nepuk pundak Mamori sambil berlalu menuju ruangan ganti. Mamori hanya memberenggut mendapati sikap menyebalkan Hiruma seolah tidak mau tahu. Padahal karena dirinyalah yang telah menjerumuskan Mamori ke tugas-tugas ini.
.
.
Tugas hari pertama Mamori membuatnya kewalahan. Tidak ada henti-hentinya Pelatih menyuruhnya ini dan itu. Mulai dari mencatat kecepatan berlari, mengukur kekuatan lemparan, dan ketahanan. Tapi beruntungnya ada petugas pembersih klub yang bertugas membersihkan ruangan, mengumpulkan bola, dan pakaian kotor anggota tim. Jadi tugas Mamori benar-benar fokus hanya untuk membantu penyusunan strategi klub.
Mamori mengistirahatkan tubuhnya dan duduk di sofa. Dia melihat ke kertas di clipboard miliknya. Disitu tertulis nama-nama universitas yang mendaftar di kejuaran Rice Bowl. Pelatih memintanya untuk mengamati kekuatan dan kelemahan mereka. Bukan tugas yang mudah. Karena ada dua belas universitas yang harus diamatinya dalam kurun waktu satu bulan.
Satu per satu anggota klub sudah pada pulang. Hanya menyisakan empat orang anggota termasuk Mamori dan Hiruma. Mamori melihat Hiruma sudah melewatinya dan berjalan ke pintu keluar.
"Kamu mau kemana Hiruma?" cegah Mamori panik.
"Kita pulang dulu Anezaki-san," sahut anggota lain dan dibalas dengan anggukan kepala Mamori. Dia lalu beralih lagi ke Hiruma
"Tentu saja pulang, bodoh," jawabnya.
Mamori mengerutkan keningnya. Bukan karena kata kasar yang ditujukan padanya. Tapi lebih kepada Hiruma lupa dengan janji lainnya. "Kamu lupa?"
Hiruma melihat ke jam tangannya. "Masih jam setengah lima."
. "Aku masih harus merapikan data ini. Aku tidak tahu kapan selesainya!" protes Mamori.
"Kau bisa melakukannya besok," balas Hiruma.
"Tapi kau harus tetap mengantarku. Aku capek," keluhnya.
"Cih... Merepotkan saja," balas Hiruma. "Ayo cepat."
Mamori lalu bergegas memasukkan data-data ke lemari dan merapikan barangnya. Hiruma bersandar di pintu sambil menunggu Mamori.
"Kau tidak bawa jaket?" tanya Hiruma.
Mamori menggeleng. Dia lalu mengunci lemarinya.
"Ambil jaketku di loker sana," perintah Hiruma.
"Untuk apa..."
"Anginnya kencang bodoh."
Mamori melotot. "Dua kali kamu mengataiku Hiruma. Kamu lupa di surat perjanjian nomor tiga?"
Hiruma tidak memedulikan Mamori dan berjalan menuju lokernya. Dia lalu kembali lagi ke Mamori. "Bodoh itu tidak kasar. Kalau aku bilang sialan, brengsek, itu baru kasar, bodoh."
Mamori menarik jaket Hiruma kesal. "Sudahlah. Aku pusing mendengarkanmu."
Hiruma mengikuti Mamori keluar dan menutup pintunya.
.
.
Akhir pekan telah tiba. Mamori ada janji bertemu dengan Suzuna. Mereka bertemu di kafe yang biasa mereka kunjungi. Mamori memandang ke jalanan dari tempatnya duduk. Angin musim semi masih berhempus dengan aroma khasnya. Dari kejauhan dia melihat Suzuna berjalan menuju ke arah kafe. Mamori lalu melambaikan tangannya.
"Maaf menunggu lama Mamo-Nee," ujar Suzuna sambil menarik kursi di depan Mamori dan duduk disana.
"Tidak apa. Aku juga baru datang," kita pesan minuman dulu."
Minuman sudah datang sesuai dengan pesanan mereka. Mamori lalu menikmati minumnya.
"Jadi kamu ikut klub Amefuti lagi...," sahut Suzuna memamerkan senyumannya. "Sudah kuduga."
"Jangan berkata seperti itu Suzuna," sahut Mamori. "Aku sudah susah payah menguatkan hatiku."
Suzuna tertawa. "Bukan begitu. Dulu saat kamu 'diam-diam' bilang padaku tidak ingin ikut Amefuto lagi. Tapi aku tidak yakin kamu bisa melakukannya," jelasnya. "Ditambah kalau You-Nii tahu, dia pasti tidak akan diam saja."
"Sulit sekali menolak 'yang satu itu'," keluh Mamori menghela napasnya.
"Tugasmu pasti berat Mamo-Nee," sahut Suzuna. "Mengingat The Wizards adalah klub yang terlalu sempurna."
"Makanya itu..." lanjut Mamori. "Aku bersikeras tidak mau. Aku takut tidak bisa membagi waktuku. Aku takut klub akan terbengkalai gara-gara aku."
Suzuna tertawa. "Tidak akan mungkin seburuk itu. Ingat masih ada You-Nii dan senior-senior yang lain."
"Ya... Tapi mereka terlalu percaya padaku. Mereka pikir aku bisa menangani semuanya."
"Jalani saja dulu," ujar Suzuna. "Jika sulit, kamu masih punya You-Nii," sarannya.
"Kenapa selalu disangkutkan dengannya. Padahal dia yang menjerumuskanku."
"Yahh... Anggota klub pasti tidak akan sembarangan percaya pada seseorang. Jadi mereka pasti sudah tahu kamu."
"Entahlah... Aku hanya berharap semuanya baik-baik saja."
.
.
To Be Continue
.
.
Side Note :
Okee... Masalah masih belum terlihat. Jadi tenang saja... Saya tidak akan membuat cerita yang rumit. Dan semoga kalian tetap menanti kelanjutan ceritanya.
Jalan lupa reviewa yang buuaannnyaaaak XD biar notif email saya penuh. Biar saya semangat untuk menulis lagi. Okee? XD
So guys, jangan lupa reviewnya ya.
.
.
Salam : De
