Chapter II
Adakalanya hidup seseorang seperti tontonan drama di televisi. Baekhyun misalnya, dia tumbuh di panti asuhan tanpa tahu bagaimana latar belakang keluarganya. Apa orang tuanya meninggal atau orang tuanya sengaja membuangnya, dia bahkan tidak tau siapa kerabat orang tuanya. Dulu dia hanya anak kecil yang tidak memikirkan banyak hal, karena banyak anak-anak seusianya yang bernasip sama, dan mereka hanya tahu jika bermain bersama-sama sangat menyenangkan. Lalu mereka akan diajarkan bersikap baik, agar setiap waktu yang tak di duga akan ada beberapa keluarga yang ingin mengambil anak asuh, bisa puas untuk melihatnya.
Saat itu si kecil Baekhyun yang berusia delapan tahun, bangun lebih awal. Dia mandi sampai bersih dan memilih baju yang warnanya paling bagus diantara warna-warna yang sudah kusam karena terlalu sering dicuci. Memperlihatkan giginya yang putih dan sudah lepas satu pada bagian atas, ada sedikit rasa malu dan dia mengatur senyumnya di depan cermin agar itu terlihat bagus. Dia akan bertemu orang tua asuhnya, yang menjadi impiannya sejak lama. Namun kebahagiaan yang membuatnya sampai sulit tertidur malam harinya itu hilang dalam sekejap. Ada teriakan dari ruangan belakang disertai dentuman keras, Lalu pagi damai itu berubah menjadi jeritan dan tangisan anak-anak. Teriakan tolong, kepulan asap hitam besar yang semakin membumbung tinggi, kilatan api yang mulai melahap bangunan tua itu terjadi sangat cepat, begitu mencekam dan akan menjadi mimpi buruk bagi anak-anak yang berhasil lolos dari maut itu.
Hari berikutnya Baekhyun terbangun dengan tubuh yang lemah, dia bertanya pada perawat yang datang hasilnya justru membuat tubuhnya gemetar. Ibu pantinya meninggal dan sedikit temannya yang selamat. Besoknya dengan tubuhnya yang sedikit bertenaga, ia mengganti bajunya dengan dress hitam sederhana. Berjalan lesu menuju ruang upacara pemakaman.
Gadis kecil itu menangis hingga tersedak berkali kali, hanya bisa melihat foto-foto orang yang disayanginya. Terlintas dipikirannya, mungkin orang tua asuhnya, tengah mencarinya, dan dia tidak harus sedih lagi dan akan punya keluarga baru. Kaki kecilnya berlari ke panti asuhan yang berjarak sekitar dua mil. Namun karena kondisinya yang masih lemah, dengan nafas pendek-pendek, penglihatannya menjadi kabur dan Baekhyun kehilangan kesadarannya.
Ketika mata sipitnya terbuka, dilihatnya wanita paruh baya yang menjaganya, yang kemudian dia tahu namanya Bibi Yun. Baekhyun dirawat dengan baik, hingga dia di bawa naik kereta menuju ke kota besar, Seoul. Selama perjalanan Bibi Yun menceritakan banyak hal, termasuk Park Chanyeol, tuan mudanya yang akan menjadi temannya bermain. Memasuki kawasan elit, taxi berhenti di depan villa mewah bersamaan dengan sedan mewah masuk ke dalam villa itu dan berhenti di pelataran yang luas.
Baekhyun hanya melihat kebawah di sepatunya dan menggenggam erat tangan Bibi Yun. Ada suara sepatu mendekat dan berhenti di depannya. Dilihatnya sepasang sepatu yang mengkilat dan itu membuat dia gugup.
"Kau Baekhyun? Aku Chanyeol. Mulai sekarang jangan bersedih lagi karena kau akan tinggal bersama denganku. Ada banyak mainan dirumahku. Atau kau mau coklat?"
Itu kata-kata yang cukup panjang, pada awal perkenalan keduanya, Baekhyun malu-malu menerima coklat itu, lalu tangan yang awal mulanya menggenggam erat Bibi Yun, kini digenggam erat bocah laki-laki tinggi dan ditarik keruang bermain besar, yang pada dasarnya bocah laki-laki kesepian itu begitu gembira karena mendapatkan teman baru. Tuan muda Park yang terbiasa sejak kecil tinggal dengan Bibi Yun dan pelayan lainnya, mulai menunjukkan senyumannya yang tampan, yang dulu entah tersembunyi kemana.
..
Siapa sangka saat hubungannya dengan Chanyeol tengah memburuk, ada beberapa orang yang mengikutinya ketika berangkat atau pulang sekolah. Tentu saja Baekhyun takut. Dia akan mempercepat langkahnya ke halte bus atau berlari dari halte pemberhentiannyan ke kompleks villa yang jaraknya hampir setengah mil. Dan dia siap berteriak kala di hadang dua pria tinggi berjas hitam namun urung saat di belakangnya ada gadis seusianya yang berpakaian minim yang memanggil namanya. Itulah Luhan, sepupunya.
Dari Luhan dia tahu, siapa orang tuanya, siapa keluarganya, dimana kota kelahirannya, dan kenapa dia sengaja di tempatkan di panti asuhan. Kenyataannya begitu pahit, orang tuanya meninggal dibingkai dalam kecelakaan.
...
Lantas saat Baekhyun masih berusaha mempercayai kebenaran dari Luhan, Chanyeol datang seperti orang gila yang tidak dikenalnya melecehkan tubuhnya dan satu bulan sesudahnya dia tahu ada janin yang tumbuh diperutnya. Bukankah hidupnya seperti lelucon, Dia baru berusia 18 tahun dan harus menanggung kehidupan yang berat, karena pikirannya yang tertekan dan kehamilannya yang sedikit lemah, bayinya lahir dengan prematur. Disitulah Luhan, Nyonya Xi, Tuan Xi dan penatua Xi memberikan dukungan pada Baekhyun, hingga dia bisa menjalani kehidupannya dengan sangat baik bersama putra kecilnya Tang Tang yang istimewa.
...
"Hari ini setelah mengantar Tang Tang ke sekolah, pergilah ke perusahaan." seru Nyonya Xi pada Baekhyun untuk kesekian kalinya.
"Bu, aku.."
"Baekhyun, ingat kata profesor Han. Tang Tang harus dibiasakan sejak dini untuk berinteraksi dengan banyak orang, jika tidak putramu hanya akan sibuk dengan dunianya sendiri. Kau bisa mengantarnya ke sekolah tapi biarkan ibu yang menjemputnya, setelahnya Ibu akan membawanya mengunjungi Kakek buyutnya, Biarkan Tang Tang belajar dan bermain di sana."
Luhan yang sudah selesai dengan sarapannya ikut meyakinkan, " Ya, sebaiknya kau kerja di perusahaan, Ayah akan pulang seminggu lagi dari luar negeri. Dan aku benar-benar depresi dengan situasi perusahaan saat ini. Jangan terus bekerja di balik layar. Dan tidak perlu khawatir dengan coffee shop milikmu ada Yu Sheng yang handal mengelolanya."
Helaan nafas itu terasa berat, Baekhyun menatap bocah kecilnya yang duduk di sebelahnya, tengah sibuk memutar rubik 3x3nya, setelah menyelesaikan sarapannya. Tang Tang masih berusia enam tahun, dan dia sudah duduk di kelas dua tapi sudah mengeluh tentang sekolahnya yang membosankan dan segera ingin naik kelas, dia mampu menyelesaikan permainan rubiknya, dan hanya ingin mempercepat waktu pengerjaannya.
Tan Tang begitu fokus pada rubiknya yang tidak mau tau dengan percakapan ibunya, dan saat namanya di panggil dengan lembut, dia meletakkan rubiknya, menatap tepat pada sepasang mata sipit kesukaannya, seolah siap mendengarkan apa yang akan diucapkan ibunya.
"Hari ini Ibu akan mengantarkan kamu ke sekolah, tapi ibu tidak bisa menjemputmu."
Dan dia tidak menyela, 'kenapa?'
"Mulai hari ini Ibu akan bekerja di kantor, Tang Tang akan pulang dengan Nenek, setelahnya kamu akan pergi ke rumah Kakek buyut dan kamu bisa bermain rubik dengan Paman Huo sepuasnya, Apakah Tang Tang setuju?"
"En." Lalu ada kecupan lembut yang ia terima. Dan pipi bulatnya samar-samar terlihat kemerahan. Selanjutnya ia memasukkan rubiknya dalam tas, bergegas menuju mobil ibunya, tanpa banyak bertanya dia siap berangkat ke sekolah, seakan tidak mau terlambat satu detik pun.
"Kau lihat kan Baek! putraku adalah yang terbaik." seru Luhan dengan bangga. "Bu, aku berangkat. Dan kau Baek, sebaiknya cepat menyusul. Aku bisa kapan saja meloncat dari atap perusahaan jika masalah ini tidak cepat selesai." keluhnya seraya memperbaiki kerutan rok span selututnya dengan belahan dua puluh centimeter di belakangnya.
XI Enterprise bergerak dalam bidang fashion, khususnya jam tangan, sepatu dan tas. Persaingan di bidang fashion sangatlah ketat, masyarakat kelas atas cenderung memuja merk luar negeri yang harganya begitu mahal atau terkadang tidak masuk akal. XI Enterprise mengeluarkan merk Daze, dengan bahan kulit terbaik tapi harga masih dapat di jangkau kelas menengah. Namun empat bulan ini angka penjualan terus merosot.
Tuan Xi tengah meninjau ke berbagai kota di luar negeri untuk mencari bahan baku dengan kualitas yang lebih baik lagi. Sedangkan Luhan tanpa daya mengambil alih posisi ayahnya dan Baekhyun yang selama ini bekerja sebagai kepala departemen desain jarang sekali muncul di kantor, dia sering kali bekerja di coffee shop lalu berkomunikasi lewat konferensi video dengan bawahannya, itu dilakukan karena coffee shop miliknya berdekatan dengan sekolah Tang Tang. Masa awal sekolah, putranya sering sekali tak terkendali, jika ada kondisi yang membuatnya tidak nyaman tak jarang Tang Tang akan berteriak dan menangis yang mengharuskan Baekhyun datang lebih cepat. Jadi dia sengaja membangun bisnis kecilnya di dekat sekolah Tang Tang. Itu juga mempermudah untuk memantau kegiatan putranya, yang tumbuh secara istimewa.
...
Seoul, Korea Selatan.
Villa megah bercat putih itu tampak sunyi seperti biasanya. Tidak ada aktifitas yang begitu berarti bagi pemiliknya, ibarat hanya tempat singgah sementara. Nyonya Park yang baru melihat bahwa sarapan sudah disajikan dengan baik, segera mengetuk kamar putranya yang sangat jarang dilihatnya. Dia bahkan tidak yakin apakah dia benar memiliki seorang anak?
"Chanyeol, Bolehkah Ibu masuk?" Nyonya Park tahu jika putranya sudah bangun. Chanyeol adalah seorang yang disiplin yang bangun tepat waktu. Tidak ada jawaban, Nyonya Park bergegas masuk, yang didengarnya adalah bunyi air di kamar mandi dan suara berisik di Walk in closet.
"Apa yang kau lakukan Jongdae?" tanyanya pada asisten Chanyeol. Nyonya Park bisa melihat Jongdae mengemas beberapa setelan dalam koper. "Apakah Chanyeol akan pergi lagi? jelas tadi malam dia baru tiba dari Zurich. Anak itu benar-benar-"
Jongdae yang sudah selesai mengepak baru akan menjawab tapi urung melihat Tuannya sudah berdiri dibelakang ibunya.
"Aku akan pergi ke Beijing Bu." Chanyeol menjelaskan sambil memakai setelannya tanpa melihat ibunya. "Mungkin cukup lama, Aku ingin memperkuat cabang di sana. Jika butuh sesuatu mendesak ibu bisa menghubungi Jongdae."
"Chanyeol, jelas Ayah dan Ibu membutuhkan kamu disini. Di sana sudah ada Ye Han yang handal, kenapa kamu repot-repot untuk mengurusnya. Batalkan! Malam ini Wali Kota Kim secara khusus mengundang kita untuk makan malam."
"Makan malam untuk perjodohan?" Chanyeol berdecak kesal, tidak cukup satu dua kali, ibunya selalu mengatur hidupnya.
"Berapa kali aku harus katakan. Sudah cukup untuk Ibu mengendalikan hidupku. Baik itu untuk putri Wali Kota Kim, Atau putri dari teman-teman Ibu lainnya, Aku tidak bisa."
"Kamu-"
"Bu, Aku akan mengatakan terakhir kalinya" Dia mengambil tangan ibunya.
"Hanya ada Baekhyun, sebagai menantu Ibu." Lantas Chanyeol memeluk ibunya sebentar, sekaligus memberi tatapan pada Jongdae untuk segera bergegas. "Paman Ye Han akan ku kirim kembali ke sini untuk membantu Ibu dan Ayah, Ada Juga Paman Wang, Aku juga akan bekerja dari sana. Seharusnya ibu tidak harus khawatir lagi."
Jelas Chanyeol bisa merasakan kemarahan ibunya, jadi dia mengusap lembut tangan ibunya "Jangan hanya fokus pada laba perusahaan, sekali-kali Ibu dan Ayah harus mengambil cuti untuk berlibur. Kesehatan kalian berdua jauh lebih penting. Bu, Aku pergi sekarang."
Dengan sedih dia menatap punggung tegak putranya yang selalu memberikan kesan dingin, apa benar dia sudah mengendalikan hidup putranya? Bagaimanapun juga, dia hanya seorang ibu yang ingin memberikan yang terbaik bagi putranya.
..
Setelah menempuh penerbangan dua jam dengan first class, akhirnya langkah kaki panjang itu menapak di Beijing Capital Internatioal Airport. Ada Oh Sehun kuasa hukum perusahaannya yang sudah tiba seminggu lebih awal menunggunya dan menyiapkan segala dengan praktis.
Ketiga pria itu terlihat menonjol, khusus Chanyeol dan Sehun yang berpostur tinggi, dengan setelan yang di desain khusus dengan jahitan tangan, itu benar memperlihatkan tubuh tingginya yang proposional, apalagi dengan wajah yang sulit diabaikan, kulit putih bersih, alis seperti pedang, hidung mancung, dan tatapan tajam sedingin malam, belum lagi dahi yang kurang ajar terlihat begitu menawan, cukup untuk mendiskriminasikan sosok begitu tampan dengan kesan dingin itu mampu menyedot perhatian baik wanita maupun laki-laki yang lalu lalang di bandara itu.
Mereka masuk dalam Maybach hitam yang sudah menunggu dan segera melaju cepat ke tempat tujuan.
"Untuk masuk markas utama pasukan khusus cukup memakan waktu. Ada beberapa pos keamanan yang harus dilewati. Apa kau tidak keberatan?" tanya Sehun pada Chanyeol yang duduk disampingnya. Terlihat Chanyeol hanya melihat keluar jendela mobil, itu pertama kalinya Sehun melihat rekan kerja sekaligus temannya tidak fokus untuk pertama kalinya. "Apa kau mendengar yang ku ucapkan?"
"En. Yi Fan sudah menjelaskan." jawabnya tanpa mengalihkan atensinya.
"Yi Fan sungguh hebat, diusianya 29 tahun dia sudah menjadi Mayor Jenderal dan pimpinan pasukan khusus."
"En. Sungguh keberuntungan aku bisa bertemu dengannya."
"Itu karena kau sudah menyelamatkan ibunya."
"Itu tanggung jawabku Sehun. Kau tidak perlu membual yang tidak perlu."
Sehun hanya mendengus "Baiklah bagaimana jika malam ini kita bersenang-senang dahulu. Temanku sedang meresmikan club barunya. Ada banyak wanita baru yang sudah dipersiapkan, jadi-"
Chanyeol memicingkan matanya, mengejek 'Sejak kapan kau punya teman selain aku?' namun kata yang dikeluarkan berbeda "Tidak, aku akan kembali ke kondominium yang sudah kau siapkan."
"Sejak di universitas kau selalu menolaknya, aku bisa membenarkan kata Jongdae jika kau mungkin--" sambil melihat bagian bawah tubuh pria disampingnya.
"Impotensi? Sialan, itu karena kau tidak bisa mengendalikan bagian bawah tubuhmu?" Chanyeol memahami benar bagaimana Sehun, pria yang selalu terlihat masa bodoh itu diam-diam gemar sekali bermain wanita. Lalu tatapannya beralih pada Jongdae yang duduk di samping pengemudi jelas sekali menegakkan punggungnya. "Jongdae jika kau berani sekali lagi berbicara di belakang punggungku, Aku bisa memangkas gajimu dengan mudah."
Ada gelak tawa disampingnya, Ada yang menelan ludah pahit di depannya.
Tanpa terasa mereka sudah melalui pos penjagaan, perlahan mobil itu berhenti di depan bangunan besar yang memiliki halaman dua kali lapangan sepak bola. Masih ada beberapa orang yang berseragam hijau zaitun menyambutnya, Sehun dan Jongdae menunggu di bawah, Sementara Chanyeol naik pada lantai dua berbicara secara pribadi dengan pimpinan markas.
.
"Bagaimana Kabar Bibi Wu?"
"Berkat kamu, kondisinya sangat bagus."
"Yi Fan, Jangan terlalu sopan. Jika bukan karena Bibi Wu yang bertekad kuat, tanpa aku Ibumu juga akan dalam kondisi yang baik."
Yifan hanya menarik senyumnya dan memberikan berkas yang diminta Chanyeol,
"Jadi ini wanita yang membuatmu menolak untuk ku kenalkan pada adikku." Yifan cukup terkejut melihat Chanyeol memperlihatkan senyum lembutnya sebagai jawaban, meski itu hanya sekian detik tapi itu seperti kejadian langka yang muncul sekali dalam seratus tahun.
"Kebetulan aku bertemu sekali dengannya di ulang tahun Penatua Xi."
"Sungguh?"
"En, Penatua Xi adalah Kakek Baekhyun. aku belum tau jika dia adalah wanitamu karena kau baru meminta datanya seminggu yang lalu. Panatua Xi adalah kapten senior Ayahku di militer. Dua puluh lima tahun yang lalu ada kondisi buruk yang menimpa keluarganya."
Ada gejolak di hati Chanyeol yang membuatnya tegang. Dia tidak menyangka hidup wanita yang dulu menjadi teman kecilnya harus begitu tragis. Yang Chanyeol ambil dari cerita itu, Panatua Xi punya dua anak laki-laki. Ayah Baekhyun mengikuti jejak Panatua Xi di bidang militer sedang anak satunya di bidang bisnis. Karir ayah Baekhyun, Xi Feng terlihat bagus, di usianya yang muda Xi Feng sudah menjadi Ajudan Kapten Gu pemimpin tertinggi militer untuk kawasan pertahanan bagian IV, sayangnya Xi Feng harus mengetahui fakta bahwa kapten Gu menggelapkan sejumlah senjata negara. Xi Feng mengungkapkan kebenaran tersebut sebagai akibatnya dia harus kehilangan nyawanya dan istrinya. Beruntung Baekhyun sudah diamankan dahulu tanpa terendus identitasnya, Kapten Gu mendapat konsekuensi nya, dipecat dengan tidak hormat dan diadili dengan lima belas tahun kurungan jeruji besi. Saat itu kondisinya pelik, pihak keluarga Gu membalas dendam, hingga bisnis keluarga Xi hancur dan seluruh keluarga Xi pindah ke Amerika, menyisakan Panatua Xi yang melepaskan jabatannya dan hidup sebagai pensiunan.
"Chanyeol, kau tidak perlu khawatir sudah sejak lama kejadian itu, Keluarga Gu sudah hidup baik di luar sana. Kamu juga sudah tahu Keluarga Xi sudah membangun kembali bisnisnya."
"Apakah kau yakin tidak ada pergerakan lagi dari Gu?"
"Aku sudah memeriksanya sampai sekarang tidak ada. Keluarga Gu sekarang menutup diri. Tenang saja jika nantinya ada sesuatu yang menurutmu mencurigakan, aku siap membantumu. Ditambah keluarga Xi memiliki Huo Shao yang selalu melindunginya. Dia adalah anak angkat Panatua Xi sekaligus rekan kerjaku."
"Terima kasih Yifan." ucap Chanyeol tulus.
"Satu lagi, Baekhyun sepertinya tidak sendiri lagi."
Punggung lelaki tinggi itu menegang, Dia memeriksa berkas yang diberikan Yi Fan sangat cepat. Karena posisi Yi Fan sangat khusus, dia dapat memperoleh data sangat akurat dan terperinci, data yang sebenarnya di lindungi oleh negara.
Melihat Chanyeol yang seperti orang bodoh saat menatap sebuah foto Ibu dan anak dan memeriksa sekali lagi data anak kecil itu, melihat tanggal kelahirannya, menghitung usianya, bisakah dia menyimpulkan satu hal?
Lalu Chanyeol mendengar penjelasan sekali lagi dari Yi Fan, dia sekali lagi meminta pertolongan dari Yi Fan dan segera undur diri. Dalam perjalanan pulang, ada banyak hal yang melintas dalam pikirannya. Karena dia adalah orang yang praktis, maka dia harus bertindak dengan cepat tanpa membuang banyak waktu.
Sepasang mata dalam bak sumur tua itu menyiratkan banyak hal yang sulit untuk dipahami. "Sehun, kita langsung ke kantor, kau dan Jongdae siapkan berkasnya malam ini juga, besok kita akan bertemu klien."
"Sial! Selama ini kau bahkan tidak membiarkan aku tidur dengan nyenyak." Hanya Sehun yang tahu bagaimana dia terbang dari negara satu ke negara lainnya dan dalam waktu seminggu dia harus menyiapkan semua berkas untuk cabang perusahaan baru GK Grup.
...
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi perusahaan berlantai dua belas itu, masih penuh dengan karyawan. Terlihat jelas bagaimana penampilan lesu mereka. Jangan berharap untuk pulang lima menit atau sepuluh menit lagi. Karena--
"Jika dalam dua jam aku tidak dapat mendapat laporan yang baru! Bermimpi lah kalian untuk mendapat bonus akhir bulan ini."
Lihat! bagaimana wanita langsing itu memerintah? meski Luhan terlihat kecil dan kurus, cara kerjanya melebihi Tuan Xi, hingga setiap kepala departemen tidak ada yang bisa membantah. Dia terlihat kesal dan segera meninggalkan ruang pertemuan itu dan kembali ke ruangannya di ikuti Baekhyun.
Setelah menutup pintu, dia justru tertawa terbahak-bahak. Luhan duduk dengan nyaman di kursi Ayahnya, mengambil cermin dan memastikan riasan wajahnya masih terlihat bagus.
"Luhan!"
"Baekhyun tenang, lihatlah lingkaran hitam di bawah mataku. Aku hanya tidur empat jam untuk memikirkan solusinya, dan mereka justru mengacaukannya. Aku sudah bilang untuk mendapatkan model dengan wajah baru, mereka justru datang dengan wajah palsu dari operasi plastik. Apa kau pikir aku membayar mahal mereka hanya untuk duduk santai. Enak saja!" Luhan berbagi keluh kesahnya, lantas mendekat pada Baekhyun dan mendorongnya ke arah pintu "Lebih baik sekarang kau pulang dulu. Tang Tang mungkin sedang menunggumu. Dan aku sudah sangat puas dengan desainmu. Ayah sudah memberi kabar baik. Besok kita akan bertemu dengan pemilik bahan bakunya.
"Sungguh?"
"En, Langsung dari Swiss. Ayah bahkan sudah membuatkan janji."
Baekhyun mendesah lega, dengan begitu XI Enterprise segera dapat memproduksi produk baru dengan kualitas yang lebih bagus dan segera dapat menutup kerugian.
Baekhyun mempercepat kemudinya, berharap bisa bertemu dengan Tang Tang. Namun setibanya di rumah, kamar putranya gelap. Dia berniat menghubungi ibunya dan ponselnya berbunyi lebih dulu. Ada nama Huo ge ge dalam layar ponselnya. Entah kenapa dia akan sedikit gugup mendengar suara berat kakak laki-lakinya itu.
Pada menit ketiga sambungan telepon itu berakhir. Baekhyun tahu jika Tang Tang dan ibu sudah menginap di sana, itu tidak akan satu hari atau dua hari melainkan bisa seminggu mengingat Kakeknya yang enggan berpisah dengan Tang Tang, padahal jarak antara rumah mereka hanya membutuhkan dua puluh menit perjalanan dengan mobil.
Membiarkan pikirannya yang melayang kemana-mana, Baekhyun tertidur di kamar Tang Tang tanpa membersihkan tubuhnya dulu. Tubuh kecilnya yang meringkuk dalam kedinginan malam, hanya menyisakan bayangan sosok wanita yang lemah nan rapuh.
...
Dari pagi sampai sore Baekhyun belum pindah dari kursinya. Jika rancangan satu sudah disepakati, maka dia siap membuat desain lain untuk produk lainnya yang rencananya akan dilaunching bulan depan. Dia juga memilah-milah desain dari rekan setimnya. Gumpalan kertas di tempat sampahnya sudah penuh, menunjukkan sudah banyak coretannya yang membuatnya tidak puas. Saat Luhan masuk keruangannya barulah dia meletakkan pensilnya, menyerah.
"Apa kau tidak mengubah penampilanmu?" Luhan akan menanyakan hal sama pada Baekhyun, saat mereka akan bertemu dengan mitra kerja. "Kau seharusnya mencontoh Olivia, dia selalu membuat wanita lain iri padanya."
Olivia adalah asisten Luhan. Dia campuran China dan Eropa, tubuhnya tinggi menyerupai model catwalk dengan rambut kecoklatan dan wajahnya yang cantik. Lantas Luhan akan mengeluh lagi "Aku sudah memakai hak sepuluh centimeter dan kau masih lebih tinggi dariku, menyebalkan."
Tidak ada yang berubah dari Baekhyun, dia masih berpenampilan sederhana. Rambutnya suka di ikat kebelakang, lebih sering memakai celana khaki dengan kemeja dengan warna-warna lembut. Namun justru dengan begitu saja dia sudah terlihat menawan. Dan perkataan Luhan juga tidak berpengaruh baginya. Dia cukup memastikan jika penampilannya tidak berantakan dan dia siap kemanapun akan pergi.
Restoran dengan bintang Michelin menjadi tempat perjanjian pertemuan. Jelas jika kerja sama ini di bangun dengan mitra yang berkompeten. Baekhyun, Luhan dan Olivia disambut sangat baik oleh pelayan, kemudian mereka langsung diarahkan pada ruang privat lantai tiga yang sudah di reservasi sebelumnya oleh pihak mitra perusahaannya.
Mereka memasuki ruangan dengan dekorasi yang indah, dan mereka masih harus menunggu. Luhan mendapat pemberitahuan jika bahwa pihak lain akan sedikit terlambat jadi mereka dipersilahkan untuk memesan makanan terlebih dahulu.
"Oh aku benar-benar akan memesan yang paling mahal." Lagi-lagi seruan Luhan yang apa adanya tanpa ada filter di setiap kata-katanya, selalu menjadi hiburan bagi Baekhyun dan Olivia.
"Aku akan memesan sea food kesukaan kalian. Dan aku akan memesan angsa kesukaanku."
Ada berbagai macam hidangan sea food dan daging yang di tulis dengan kalimat bahasa Inggris dengan nama yang indah. Lima belas menit kemudian meja besar itu penuh dengan piring - piring makanan yang beraroma harum dengan tampilan yang menggoda. Luhan benar-benar puas melihatnya. Dia benar-benar tidak sabar untuk mencicipinya.
Baekhyun dan Olivia harus mempertanyakan dimana Luhan telah meninggalkan rasa malu dan etikanya sebagai putri pewaris Xi Enterprise?
Seolah mengerti ketidaksabaran Luhan. Dua laki-laki masuk setelah mengetuk pintu sebelumnya. Mereka sedikit membungkuk saling memberi salam. Lantas Luhan memperkenalkan Baekhyun dan Olivia pada Pria yang ia baru saja tahu namanya, Tuan Oh.
"Maaf membuat kalian harus menunggu."
"Tidak masalah, Kami mengerti Jika Tuan Oh pasti sangat sibuk." Luhan tersenyum manis, di dalam hatinya dia cukup terkejut jika mitranya masih muda dan fashionable.
"Nona Luhan, sebelumnya kami sudah berdiskusi dan sudah mencapai kesepakatan dengan Tuan Xi. Kami sudah menyiapkan kontrak kerja sekaligus membawa contoh bahan untuk anda lihat." Sehun menunjuk tas besar yang di letakkan Jongdae pada meja kecil di samping mereka. "Melihat makanan yang sudah di siapkan, Sebaiknya kita menyantapnya terlebih dahulu. Akan tidak enak jika sudah dingin."
"Baik. Tuan Oh sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah memberi kepercayaan pada perusahaan kami."
"Nona Luhan mengucapkan pada orang yang salah. Aku hanya kuasa hukum G fashion, pemiliknya adalah-- oh sebentar ponselku berbunyi" Sehun hanya menjawab panggilan dengan 'en' lalu meminta Jondae untuk keluar.
"Maaf Nona Luhan, Tuan Park pemilik sebenarnya sudah ada di dalam namun lupa dengan nomor ruangan ini dan Jongdae baru akan melihatnya."
Ada yang punggungnya menegang kala nama tak asing itu terucap. Baekhyun tiba-tiba gugup, memejamkan matanya berharap itu hanya kebetulan nama marga saja yang sama.
Kecuali Baekhyun semua mata melihat pada sosok yang baru saja masuk. Sosok yang sekali saja kau melihatnya maka akan meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Itu Park Chanyeol.
Baekhyun menelan ludahnya kasar dan membuka matanya, apa yang dilihatnya adalah sepasang mata gelap yang kini juga menatapnya tajam.
Ruang dadanya tiba-tiba terasa sesak. Entah bagaimana, itu ada rasa terkejut, gugup, berdebar, marah, benci. Jantungnya mungkin sudah siap melompat keluar, karena kejadian ini benar diluar isi otaknya. Dia menggenggam telapak tangannya yang sudah berkeringat dingin. Hanya bisa menunduk, tidak ada keberanian untuk mengangkat kepalanya pada pria yang kini sudah duduk tepat di depannya.
Mendengar suara berat yang saat ini sedang berbicara. Suara yang dia kenali meski sudah tujuh tahun tidak pernah dia dengar lagi. Suara yang saat ini membuat tubuhnya menggigil.
"Lu..Han, Aku akan ke toilet sebentar." Ucapnya setelah Baekhyun berusaha mengkondisikan tubuhnya untuk tenang.
Ketika Baekhyun berhasil keluar dari ruangan itu. Dia merasa paru-parunya dapat berfungsi kembali untuk menghirup oksigen sebanyaknya.
Apakah ini mimpi?
Tapi jelas dia melihat tangannya yang sedikit gemetar mendorong pintu toilet. Baekhyun ingin menyandarkan tubuh lemasnya ke dinding. Namun tubuh lemahnya lebih dulu didekap oleh orang dibelakangnya. Otaknya yang blank bahkan tidak mendengar langkah kaki yang mengikutinya.
Jelas ini aroma pria yang dulu selalu dekat dengannya.
Saat itu juga air matanya meluncur begitu saja. Dia bisa merasakan hembusan nafas hangat ditelinganya. Lalu didengarnya kata-kata yang tidak masuk akal.
"Aku sangat merindukanmu. Sangat."
Lelaki kurang ajar itu menyandarkan kepalanya pada pundak sempitnya. Ada semacam sengatan listrik dan Baekhyun segera sadar akan akal sehatnya.
Dia seharusnya memberi tamparan keras padanya, jika perlu memukulnya atau menendangnya keras. Bukannya malah tubuhnya sendiri yang didorong ke dinding, dan bibirnya yang sudah di hisap kuat oleh lelaki tak tahu malu ini. Bibir tipisnya bahkan di gigit, sehingga dia meringis membuka giginya dan lidah kasar mendorong masuk, bertindak sesukanya.
Kedua tangannya bahkan digenggam erat diatas kepalanya, pun kakinya dihimpit. 'Apa kau pikir aku akan diam saja?'
Baekhyun melumat bibir bawah itu dan menancapkan giginya sekuat tenaga, hingga dia bisa mencium bau darah bahkan mengecap rasanya yang anyir. Barulah saat itu Chanyeol mendesis dan melepaskannya.
Belum puas dengan itu dia memberikan tamparan keras. Bukankah itu persis seperti dulu.
Tidak.
Jika dulu Chanyeol marah, yang ada sekarang dia mengambil tangan merah yang baru saja menamparnya dengan seluruh kekuatan, membawanya pada bibirnya yang robek, mengecupnya pelan dan tersenyum lembut.
"Aku tahu tamparanmu tidak akan pernah cukup untuk menebus kesalahanku, tapi aku harap itu dapat mengurangi sedikit kemarahanmu padaku."
Baekhyun bernafas tersengal tak percaya, "Aku yakin kau sudah meninggalkan otakmu dirumah!"
Lantas dia menarik tangannya paksa dan berlari secepatnya meninggalkan lelaki yang tengah menahan senyumnya dengan kedutan di sudut bibirnya.
...
TBC
...
Apakah ini sesuai dengan harapan kalian?
.
Baiklah, aku tunggu review kalian untuk penyemangat aku melanjutkan chapter berikutnya.
Terima kasih.
Ran Ran
