Roda besi berputar cepat, sesekali teriakan dari cerobong asap kereta hitam terdengar. Asap hitam membumbung tinggi, membelah langit siang. Naruto duduk tenang di kursi paling belakang, mata biru menatap keluar jendela, memerhatikan pemandangan bergerak cepat. Saat ini tujuannya adalah lokasi kejadian menghilangnya Hanabi lima tahun lalu.
...
Kemarin siang, tepat sebelum lonceng jam dua belas berdentang, Hinata berdiri di depan pintu apartemen Naruto. Gadis itu membawa beberapa berkas, tanpa buang waktu, Naruto segera membaca, menelaah tiap data, maupun meneliti benda-benda terakhir milik Hanabi, berharap menemukan petunjuk. Namun hampir dua jam lamanya, tidak banyak yang bisa dijadikan petunjuk -hampir tidak ada malah.
"Apa kau ingat nama desa yang kalian datangi?" suara Naruto terdengar putus asa walau penyelidikan belum dimulai. "Nama daerah, atau nama festival saat itu, apapun!"
Sejenak Hinata terdiam, mencoba mengingat, namun gelengan menjadi jawaban. Naruto membanting punggung pada sandaran kursi kayu, mendesah pelan. Ini akan menjadi pekerjaan sulit, ketika petunjuk untuk memulai pencarianpun tidak ada. Ia memijit pelan pangkal hidung, memejam mata, berusaha mengenyahkan migran yang datang tiba-tiba.
"Ah! kalau tidak salah," suara Hinata membuat mata biru itu terbuka cepat, "Saya melihat sesajen yang diletakan di jendela bersama tanaman hias disetiap rumah. Kemudian sepertinya waktu itu ada pawai, orang-orang menari mengelilingi sebuah menara dimalam hari."
"Sesajen?" Ulang sang pemuda dengan pandangan heran. Melihat Hinata mengangguk yakin, Naruto mulai berpikir keras.
Ia tidak bisa meremehkan kesaksian sekecil apapun, meski hal itu terdengar tidak masuk akal sekalipun. Jika Naruto lebih memeras otak, ia pasti menemukan jawaban lebih logis. Jepang saat ini masih kental dengan budaya serta kepercayaan mengenai para dewa. Bahkan tidak jarang, ia mendengar perdebatan para warga mengenai kemunculan iblis. Mengingat kepercayaan itu, bukankah sebagian desa memiliki ritual atau festival tentang dewa?
"Benar juga!" Naruto yang tiba-tiba berseru, mengejutkan Hinata. Gadis itu mengerjap dua kali, memadang heran pada detektif di depannya. "Festival Tsukimi, yang kau datangi waktu itu adalah festival Tsukimi!"
Naruto kemudian berdiri, melangkah menuju meja kerja lalu menarik beberapa laci. Ia sibuk mencari sesuatu, sampai menemukan sebuah gulungan tua sebelum kembali duduk. Sang detektif membuka lebar-lebar kertas kusam berukuran sedang yang ternyata adalah sebuah peta.
"Bagaimana Anda yakin, bahwa festival yang saya datangi adalah festival Tsukimi?" tanya Hinata penasaran.
"Festival Tsukimi adalah festival menikmati pemandangan bulan. Acara ini biasa diselenggarakan dipertengahan musim panas. Masyarakat yang biasa menyelenggarakan ini menaruh dekorasi berupa rumput Jepang dengan bunga-bunga, serta kue dango sebagai persembahan, karena memuja alam untuk memperoleh panen yang berlimpah." mata birunya menelisik nama-nama daerah di peta sambil menjelaskan.
"Ah! pantas saja waktu itu banyak sesajen yang saya lihat," Hinata mengangguk paham.
Pemuda itu kemudian menujuk salah satu provinsi Jepang. "Masyarakat pertanian adalah yang paling sering melakukan festival Tsukimi. Daerah yang terkenal dengan desa pertanian ada di Prefektur Tochigi, antara desa Kanuma atau desa Ashikaga." Naruto kembali bersandar, "Karena saya tidak tahu desa mana yang tepat, saya akan mulai dari desa Kanuma baru ke desa Ashikaga. Ini lebih baik daripada tidak ada petunjuk sama sekali."
"Kapan Uzumaki-san pergi?"
"Besok pagi, lebih cepat lebih baik."
...
Seperti yang diharapkan dari salah satu desa pertanian terbesar di Jepang. Sepanjang mata memandang, lahan puluhan hektar dipenuhi tanaman pangan siap panen. Begitu tiba di stasiun, Naruto mengedarkan atensinya, memerhatikan suasana yang desa ini berikan.
Para pedagang menjajakan dagangan, pembeli berusaha menawar, Tawa canda ketika kesepakatan telah dibuat. Jajaran dagangan mulai dari pangan sampai kerajinan tangan. Dari stasiun sampai alun-alun, desa Kanuma sangat ramai.
Sang detektif mulai melangkahkan kakinya menuju sebuah toko yang menjual koran. Ia bertanya pada penjual, apakah masih menyimpan koran lima tahun lalu. Namun tidaklah mudah, satu hingga tiga toko di desa Naruto datangi. Tidak satupun dari mereka menyimpan atau menjualnya.
"Aku pikir akan mudah mencari penjual koran lama, mengingat desa ini termasuk desa maju diantara desa-desa lainnya." Naruto menghela napas pendek, kemudian memilih mampir ke kedai ramen, sekedar mengisi perut kosong.
"Selamat datang," seorang pria paruh baya bermata sipit, menyambutnya. Ia memakai topi berbentuk kerucut dengan kaos lengan pendek. "Hm?, aku belum pernah melihatmu. Kau tidak terlihat seperti seorang pengelana, apa kau orang baru?"
"Tidak, saya hanya berkunjung kemari." Naruto duduk di salah satu kursi, kemudian memesan satu porsi ramen asin. "Apakah Tuan tahu, di mana saya bisa menemukan penjual koran lama?"
Pria itu bergumam, berpikir keras tanpa menghentikan tangannya yang lincah membuat ramen. "Agak sulit anak muda, toko loak sekitar sini banyak yang gulung tikar."
"Kalau perpustakaan? apakah desa ini memilikinya?"
Semangkuk ramen dengan uap mengepul di taruh di atas meja. Pemilik kedai itu terbahak, "Desa ini tidaklah terlalu besar untuk memiliki bangunan berharga seperti itu."
Naruto menekuk bibir, tersenyum pahit. Lagi-lagi ia tidak mendapatkan petunjuk.
"Berita apa yang ingin kau tahu dari koran lama? apakah tentang Kaisar Yohiko naik tahta? ataukah tentang pergeseran politik yang terjadi karena mangkatnya kaisar terdahulu? Tidak heran jika kau mencoba mencari berita-berita lama sebelum pergantian zaman meijin."
Pemuda pirang itu terkekeh pelan, ia menegak teh hijau sebelum menyahut. "Tidak, tidak. Saya tidak tertarik dengan pergantian zaman ataupun pergeseran politik. Saya bukan seorang politikus, tetapi seorang detektif. Saya mencari berita seorang anak perempuan yang hilang lima tahun lalu."
"Anak hilang? Di desa ini?"
Naruto mengangguk, ia kemudian bertanya pada pemilik kedai, berharap kali ini mendapatkan petunjuk. "Apakah ada seorang anak perempuan, menghilang saat festival Tsukimi lima tahun lalu?"
"Aku rasa tidak ada. Jika benar ada anak hilang, tentu kabar ini akan ramai dibicarakan para penduduk."
Jawaban itu kembali Naruto dapatkan, sudah berapa orang yang ia tanyai hari ini. Semua menjawab sama, tidak ada kabar anak hilang. Ia menghela napas pendek, sumpit ia taruh, napsu makan hilang bersama harapan.
"Aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan anak hilang." Perkataan pemilik kedai menarik perhatian Naruto. "Lima tahun lalu, ada kabar yang cukup menggegerkan tentang seorang anak kecil."
"Bisakah Tuan menceritakannya pada saya?"
Pemilik kedai berjalan mendekat, duduk di samping Naruto, "Lima tahun lalu, pernah ada kabar bahwa ada seorang anak kecil yang kerasukan. Tetangga mengenalnya sebagai pribadi pendiam, pemalu, dan biasa-biasa saja. Tetapi tiba-tiba perilakunya berubah menjadi agresif, pemarah, bahkan tidak segan menyakiti dirinya sendiri."
"Apa yang membuatnya berubah seperti itu?"
"Semula orang tua anak itu memanggil tabib, tetapi jawaban yang mereka dapatkan adalah anaknya sehat-sehat saja. Tidak hanya dokter, mereka bahkan memanggil dukun, pendeta kuil, dan mereka berkata bahwa ada sosok iblis yang mengikuti anak itu."
Sebelah alis sang detektif mengerut, semakin dibuat heran oleh cerita pemilik kedai. Bahasan mengenai iblis, maupun roh-roh adalah topik yang tidak logis bagi para detektif. Tetapi tidak disangkal pula, bahwa memang ada sebagian kasus dimana memang mahluk gaib itulah penyebabnya.
Naruto kembali menghela napas, apakah tugas kali ini memang bukanlah kasus yang bisa ia tangani. Mengingat yang ia dapatkan sampai saat ini, lebih mengarah pada spiritual.
"Lalu apa yang terjadi dengan anak itu sekarang?"
Pemilik kedai menggeleng, membuat Naruto menatapnya heran. "Terakhir kabar yang beredar, anak itu dipasung. Tidak lama kemudian rumah keluarga mereka kebakaran, dan tidak ada yang selamat."
...
Saat kaki panjang itu tiba di depan gedung apartemen tua, bulan purnama sudah berada di atas kepala. Naruto melangkah menaiki anak tangga menuju lantai empat. Ia pulang dengan membawa beberapa gulungan koran tua. Sebelum pulang, pemuda pirang itu berhasil menemukan toko loak yang masih menjual koran lama.
Saat berada di lantai dua, suara bising menarik perhatiannya. Mata biru itu mengerjap, ia lalu melangkah tergesa, menghampiri dua orang pria paruh baya yang berjarak lima anak tangga darinya.
"Iruka-san, Jiraiya-san, selamat malam."
Iruka menoleh, pria paruh baya itu tengah kesulitan menggopoh pria tua berambut putih yang mabuk. Jiraiya adalah penghuni apartemen di lantai dua, sementara Iruka tinggal di lantai tiga. Sepertinya mereka berdua baru saja pulang setelah minum-minum.
Naruto mengapit gulungan koran bersama koper di ketiak kanan, kemudian mengambil alih tubuh besar Jiraya. Iruka menghela napas lega, mengucapkan terima kasih pada Naruto.
"Irukaaa~ mengapa hanya aku yang tidak memiliki kekasih?" suara parau khas orang mabuk dengan racauannya. Naruto menggeleng pelan mendengar keluhan Jiraiya. "Bahkan adik manis kemarin tidak menggubrisku sama sekali. Apakah aku kurang tampan? hei~"
"Inilah sosok pria bau tanah yang tidak sadar umur." Iruka mendesah pelan, ia merogoh kunci apartemen Jiraiya, kemudian membuka pintu lebar-lebar. "Terima kasih atas bantuanmu, Naruto."
Setelah membaringkan Jiraiya di atas futon, Naruto tersenyum tipis. "Tidak masalah, Iruka-san."
Mereka berdua kemudian menutup pintu, membiarkan Jiraiya tertidur. Iruka kembali mengajak Naruto berbicara, mengingat jarang sekali bisa bertemu seperti ini.
"Apakah kau sedang menyelidiki sebuah kasus baru?"
Naruto mengangguk, tersenyum masam. "Tetapi sampai saat ini, tidak ada petunjuk berarti."
"Petunjuk bisa kau temukan pada hal kecil sekalipun. Kau sering mengatakannya, jangan terlalu sedih jika belum menemukannya."
Iruka menepuk punggung pemuda yang hanya berbeda dua tahun darinya. Berharap ia mampu memberi dukungan walau sedikit. "Kau bisa berkencan sejenak untuk melepas penat, apartemen kita akhir-akhir ini sering kedatangan gadis muda."
Naruto mendengkus pelan, tertawa tanpa suara mendengar godaan Iruka. Jika sudah seperti ini, Iruka pasti akan panjang lebar memberi ceramah agar ia kelak mencari calon pendamping hidup.
"Dua hari yang lalu seorang gadis muda berambut coklat panjang terurai sampai pinggang. Kemudian kemarin, perempuan cantik berdada besar dengan rambut disanggul ke atas." Iruka mulai menjelaskan lebih detail sambil tersenyum lebar. "Jiraiya-san mengincar yang berdada besar, lebih baik kau dekati dia, sebelum gadis itu kabur dan tidak jadi tinggal di sini."
Tawa pelan hanya menjadi respon dari Naruto. Ia terlalu lelah dan tidak tertarik dengan perempuan muda. Tabungannya saat ini menipis, belum lagi pekerjaan yang mulai jarang datang. Untuk hidup sendiri saja susah, mana sanggup ia mendengar omelan sang istri nantinya.
Naruto pamit undur diri, dengan penolakan halus ia berkata lelah dan butuh istirahat. Pada nyatanya, sesampai di apartemen, pemuda itu membuka koran lama, mulai menyelusuri tiap kolom berita.
"Mereka tidak memiliki anak kembar. Hanya seorang anak perempuan."
Ia teringat perkataan dari pemilik kedai, saat ia bertanya terakhir kalinya sebelum pergi. Dari fakta itu saja sudah jelas, bahwa anak perempuan yang Naruto cari, bukanlah anak itu.
.
.
.
To Be Continue...
