My GirlFriend
Kacchako My Hero Academia by Horikoshi Kohei
Original Story
Rated M/Romance/Sweet/Smut/Family
PS : Aku benar-benar minta maaf karena ada perubahan dalam ceritaku dari segi rating, sinopsis dan isi cerita yang kutambahkan. Mendadak banget deh pikiranku jadi liar kayak gini dan malah memutuskan menjadikan fanfic kali ini jadi mature content. Huhu maaf. Jadi aku ingatkan bagi yang belum cukup umur fanfic kali ini mengandung lemon, smut atau apalah namanya itu.
Jadilah pembaca yang bijak. Hope You Like it :)
Ochako Uraraka mengoleskan roti bakar miliknya menggunakan selai kacang dengan terburu-buru, karena bangun kesiangan ia jadi terlambat sarapan, teman-temannya yang lain sudah selesai sarapan dan besiap untuk berangkat sekolah. Sedangkan dirinya belum memakan sepotong roti pun untuk sarapannya.
"Tsu-chan kejam ... kenapa kau tidak membangunkanku."
"Maaf Ochako-chan, kukira kau tidak mau sarapan karena sedang diet."
Ochako menggembungkan pipinya, mengunyah roti sarapannya dengan terburu-buru sembari diselingi meneguk susu hangat jatahnya. Ia memang pernah mengatakan kepada Tsuyu kalau dirinya ingin diet, tapi niatnya tidak pernah dijalankan. Terlebih tiap ia mengeluhkan berat badannya di hadapan Katsuki pemuda itu mengatakan kalau ia sama sekali tidak keberatan dengan tubuhnya yang gemuk, menurut Katsuki sih biar Ochako enak dipeluk. Ochako hanya dapat tersenyum-senyum sendiri mengingatnya.
"Tsu-chan berangkat duluan saja bersama yang lain." Ochako merasa tidak enak terhadap Tsuyu yang setia menungguinya sarapan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membawakan ranselmu."
"Uwah ... Tsu-chan baik sekali aku berjanji akan mentraktirmu."
Ochako kembali mengoleskan selai ke sepotong rotinya dengan tenang, keadaan asramanya sudah sepi tapi Ochako tetap tenang-tenang saja menikmati sarapannya.
'pagi ini pelajaran present mic. Dan karena ia juga bekerja sebagai penyiar radio di pagi hari, biasanya ia tidak datang tepat waktu.' Ochako berkata dalam hati tetap mengunyah roti selainya dengan tenang. 'Hmm tapi bukankah dua hari yang lalu Present mic mengumumkan sesuatu di kelasku?'
Ochako mengeketuk-ketukkan dagunya mencoba mengingat-ingat apa yang diumumkan Present Mic di kelasnya kemarin.
'pertemuan berikutnya aku tidak bisa masuk jadi Eraser Head akan menggantikan jamku.'
Ochako sontak meloncat dari kursinya, gadis itu menghabiskan susu hangatnya dalam sekali teguk. Ia mengeluh dalam hati kenapa ia baru mengingatnya? Eraser Head selalu datang tepat waktu dan ia tidak segan untuk memberi hukuman kepada murid-murid yang datang terlambat.
'Aku harus bergegas.' Ochako menggigit ujung roti, membiarkan roti menggantung di antara kedua belah bibirnya. Kemudian gadis itu berlari menuju kelasnya.
_ooo_
Bakugou Katsuki memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya melangkahkah kakinya dengan langkah gusar. Karena perdebatan kecil dengan ibunya ia baru sampai di asramanya, ia harus meletakkan kembali tasnya ke dalam kamar sebelum masuk kelas. Semoga Eraser Head dapat memaklumi keterlambatannya, ia jelas ingat kalau pelajaran Present Mic pagi ini digantikan Eraser Head.
'Bruk.'
"Auw." Bagaikan menabrak sebuah tembok kokoh tubuh gadis pendek itu terjungkal jatuh ke lantai tepat saat ia bertabrakan dengan tubuh maskulin nan tinggi milik Bakugou Katsuki. Gadis itu meringis akibat bokongnya mendarat dengan keras di lantai. "Ah ... sarapanku."
Tapi kekhawatirannya tergantikan tatkala manik bulatnya menangkap roti panggangnya teronggok tak berdaya di atas lantai. Katsuki mengerjapkan kedua matanya terkejut dengan sosok yang tidak sengaja di tabraknya. Atau lebih tepatnya sosok itu lah yang menabraknya lebih dulu, berbeda dengan gadis itu Bakugou tidak jatuh akibat tabrakan tadi.
"Angel Face ...," panggil Katsuki.
Gadis itu—Ochako Uraraka—sontak mengangkat wajahnya, manik bundar berwarna cokelat yang selalu disukai oleh Katsuki itu kini membulat kaget mendapati sosok Katsuki yang menatapnya terkejut. "Ugh ... ternyata Bakugou-kun." Ochako menggembungkan pipinya dengan kesal, ia mengulurkan tangan kanannya. "Bantu aku berdiri."
Katsuki mengangguk, ia meraih telapak tangan mungil itu tersenyum lucu merasakan bantalan tangan di telapak tangannya yang bagaikan bantalan kucing sebagai bentuk quirk gadis berambut cokelat itu. Dengan satu tarikan lembut Katsuki membantu Ochako berdiri.
"Ugh ... maaf Bakugou-kun tapi aku buru-buru untuk masuk kelas." Mengabaikan perkataan Ochako,lengan kekar Katsuki memeluk erat tubuh pendek itu. Katsuki menarik napas panjang meletakkan dagunya di bahu gadis itu, tersenyum merasakan aroma sampo yang ia sukai dari rambut Ochako. "Bakugou ... kun?"
"Sial! Hanya beberapa hari saja tidak melihatmu, tapi kenapa aku sudah merasa rindu sekali."
Ochako tentu terkejut mendapatkan pelukan mendadak dari Katsuki terlebih pemuda itu jarang sekali mengatakan kalimat manis seperti ini terhadapnya. Ia tersenyum lembut membalas pelukan kekasihnya, ia juga sangat merindukan bocah pemarah satu ini. Ochako bahkan lupa kalau tadi malam ia ngambek dengan pemuda ini.
Perlahan Katsuki melepaskan pelukannya, kedua telapak tangannya kini menangkup pipi bulat bagaikan mochi itu, ibu jarinya mengusap tanda bulat berwarna merah muda di tulang pipi gadis itu. Katsuki lalu merendahkan wajahnya.
"Eum ... Bakugou-kun, kita harus masuk kelas."
"Aku tidak peduli," bisik Katsuki kemudian ia mengecup bibir gadis itu. Ochako menghela napas, menuruti kemauan pemuda itu ia meletakkan kedua tangannya di rambut Katsuki, mempermainkan dan mengusap-usap rambut blonde ash pemuda itu.
"Kenapa kau bisa terlambat?" tanya Katsuki kini lidahnya menjilat pucuk telinga Ochako.
"Uh ... aku tadi bangun kesiangan." Ochako menggigit bibirnya berusaha menahan geli."Bakugou-kun hentikan."
"Kenapa? Kau tidak suka?" Katsuki beralih mengecup leher jenjang gadis itu.
"Bukan begitu kita harus masuk kelas." Ochako mencengkram kuat bahu Katsuki, berusaha mendorongnya agar pemuda itu melepaskannya. "Pagi ini pelajaran Present Mic digantikan oleh Eraser Head. Aku tidak mau terlambat dan terkena hukuman." Ochako menggigit bibirnya meski pun ia berusaha mendorong pemuda ini, tenaga Katsuki terlalu kuat, dorongannya tidak membuat Katsuki mundur sedikit pun. Mati-matian gadis itu berusaha menahan suara desahannya akibat Katsuki yang menjilat dan menciumi lehernya dengan agresif. Ochako sadar desahannya justru akan membuat pemuda ini semakin bersemangat karena itulah ia berusaha menahan suaranya.
Sadar dengan usaha kekasihnya Katsuki mendecak gemas, merasa bosan karena ia tidak mendengar desahan Ochako yang bagaikan musik menggoda di telinganya. Ia lalu menarik wajahnya mendapati wajah merona Ochako disertai gadis itu yang tengah menggigit bibir mungilnya. "Baiklah kau menang. Tolong katakan kepada Eraser Head kalau aku baru tiba dan akan masuk beberapa menit lagi."
Ochako menghembuskan napas lega, gadis itu lalu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Nanti kita makan siang bersama ya, Bakugou-kun."
Sudut bibir Katsuki terangkat. "Bagaimana kalau kau yang menjadi makan siangku?"
"Dasar mesum."
Ochako berkata sembari mendorong dada bidang Katsuki dengan gemas, pipinya menggembung kesal Katsuki hanya tertawa mendapati reaksi salah tingkah dari gadisnya. Ia lalu mengusap puncak kepala Ochako dengan sayang sebelum gadis itu berlari-lari kecil menuju kelasnya.
'Ugh ... aku belum terbiasa dengan sisi Bakugou yang seperti ini.' Ochako menekan dadanya yang berdegup kencang. Sisi Katsuki yang ternyata bisa bersikap mesum dan genit dengan cara menggodanya, sebenarnya Katsuki selalu menunjukkan sisi dingin dan seolah tidak peduli terhadapnya, mungkin karena faktor merindukannya Katsuki bersikap seperti tadi.
Ochako Uraraka tidak menyangka kalau Katsuki bisa menunjukkan sisi yang berbeda terhadapnya, hanya di hadapannya. Apakah semua pria yang jatuh cinta akan seperti itu terhadap kekasihnya? Batin Ochako.
"Hei Bakubro bagaimana kalau nanti malam kita berkumpul di kamarmu?"
Katsuki mendecak pelan merasakan rangkulan erat dari Kirishima di bahunya saat ia sibuk melepas kostum pahlawannya. Ia memang telat masuk di pelajaran Present Mic yang digantikan Eraser Head, tapi ia masih sempat masuk ke jam pelajaran guru pahlawan satu itu. Dan Eraser Head tetap memperbolehkan dirinya berlatih bersama teman-temannya.
"Benar juga. Sudah lama kita tidak bersantai di kamarmu."Sero ikut dalam pembicaraan, sembari melepas helm kostumnya.
"Yah ... tapi kami tidak akan memaksa kalau malam ini kau mau menghabiskan waktu berduaan bersama kekasihmu di dalam selimut." Kirishima kembali bicara disertai dengan cengiran menggoda.
"Apa maksudmu?"
"Apa? Bakugou, kau sudah melepas keperjakaanmu?" Teriakan Kaminari yang ternyata diam-diam menyimak pembicaraan teman-temannya terdengar hampir di seluruh sudut ruang ganti.
"HAH?" Kontan saja hampir seluruh pasang mata melirik penuh curiga ke arah Katsuki, tapi ada juga yang tidak peduli seperti Todoroki. Untung saja Iida Tenya sudah keluar dari ruangan itu bersama Mineta kalau tidak dapat dipastikan tuduhan Kaminari akan berlanjut ke kehebohan Iida yang akan mengingatkan 'tujuan pahlawan dan jangan berlaku mesum selama sekolah' atau kehebohan Mineta yang mungkin mengatai Katsuki Bakugou ternyata memiliki sisi mesum.
"Bodoh! Aku tidak pernah melakukan itu!" Katsuki meraung marah hampir saja Kaminari meledak menjadi abu kalau saja Kirishima dan Sero tidak menahan lengan bocah peledak itu.
"Ugh ... maaf." Kaminari bergidik ketakutan. Bakugou menarik napas panjang berusaha menenangkan dirinya setelah Kirishima mengeluarkan kata-kata penghiburan terhadapnya. Pemuda itu mendecak keras menyambar seragam olahraganya yang tergantung dan mengenakannya.
"Baiklah ... nanti malam kalian boleh berkumpul di kamarku."
Kirishima, Sero dan Kaminari sontak langsung berhigh five mendengar ucapan Bakugou. Menurut mereka di antara semua kamar di asrama kelas A, kamar Bakugou Katsuki lah yang pantas dikatakan sebagai kamar idaman para remaja pria. Pemuda itu memiliki konsol PS4 lengkap dengan game-gamenya yang seru, kamarnya juga dilengkapi dengan wi-fi, PC, dan lemari yang khusus berisikan manga shounen. Layaknya kamar Midoriya yang menyimpan banyak action figure All Might, Katsuki yang juga mengidolakan All Might tentu memiliki banyak action figure pahlawan nomor satu itu.
"Tapi Bakugou, sebenarnya aku penasaran apa kau memang belum pernah melakukan apa pun terhadap Uraraka?"
"HAH?!" Perempatan imajiner muncul di kening Katsuki, kenapa Kirishima kembali mengungkit masalah ini? Teman-temannya memang sering menggodanya mengenai hubungannya dengan Uraraka, tapi baru kali ini lah mereka menanyakan sudah seberapa dalam hubungannya dengan Uraraka.
Katsuki mendesah kencang, mengamati seluruh ruang ganti yang sudah sepi. Hanya menyisakan dirinya dan tiga temannya. "Kami sudah berciuman, ok? Lalu apa yang kalian harapkan? Sex? Astaga kita masih SMA."
"Apa salahnya? Bocah-bocah SMP yang berada di bawah kita saja sudah pernah melakukan itu." Kaminari angkat suara, menunjukkan cengiran mesumnya. "Yah ... itu lah yang kutahu tentang betapa liarnya kehidupan anak-anak sekolah saat ini."
"Tch bro, jangan samakan dirimu dengan Bakugou. Untung saja Jirou selalu menolak ajakan kencanmu," timpal Sero Hanta.
Kaminari mengerucutkan bibirnya, kesal tapi ia tidak dapat membantah ucapan Sero. Kaminari pikir apa yang dikatakan Sero ada benarnya, Bakugou Katsuki mana mungkin bisa semesum dirinya atau lebih parahnya lagi seperti Mineta.
"Hahaha benar. Aku percaya dengan Bakugou, dan lagi Uraraka itu gadis manis yang polos ia tentu tidak akan pernah memikirkan hal semacam itu." Kirishima menjentikkan jemarinya, menyetujui ucapan Kirishima.
Bakugou Katsuki mengabaikan pembicaraan ketiga temannya, jemarinya sibuk mengancingkan seragamnya. Seperti biasa ia tidak memakai dasi dan membiarkan dua kancing teratasnya terbuka begitu saja, membuat tulang selangkanya terlihat jelas. Setelah menunggui teman-temannya mereka lalu keluar dari ruang ganti dengan Katsuki yang pertama kali keluar dari dalam ruangan itu.
"Ah ... Bakugou-kun."
Manik merah Katsuki melebar tepat saat ia keluar dari dalam ruang ganti ia berpapasan dengan Ochako yang juga baru keluar dari ruang ganti. Ruang ganti untuk siswa dan siswi memang saling bersebelahan. Di belakang Ochako ada Tsuyu Asui, bibir mungil Ochako membentuk senyum manis melihat kekasihnya. "Kau baru saja selesai berganti baju?"
"Eum ... ya." Katsuki menjawab seadanya, keningnya berkerut dalam tatkala teman-temannya bersiul jahil kepadanya.
Ochako tertawa canggung, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kalau begitu aku duluan." Katsuki hanya mengangguk samar. Ochako meraih pergelangan tangan Tsuyu kemudian berjalan lebih dulu ke kelas mendahului Bakusquad.
"Ah Uraraka memang menakjubkan, wajah malunya itu manis sekali seperti malaikat. Sampai sekarang aku tidak habis pikir kenapa kalian bisa bersama." Kaminari berkata menyikut pinggang Katsuki. Bocah listrik satu ini memang tidak takut mati dengan terus menggoda Katsuki.
"Sebenarnya aku juga tidak menyangka kalau ia menyukaiku dan mau menerimaku." Katsuki bergumam pelan terlalu pelan sampai-sampai apa yang ia katakan tidak terdengar sama sekali oleh ketiga temannya.
Pandangan Katsuki tidak lepas sedikit pun dari Ochako yang berada beberapa langkah di depannya. Punggung kecil gadis itu, kepala bundarnya yang dimahkotai oleh rambut cokelat pendek, ah ... rasa-rasanya Katsuki ingin memeluk tubuh pendek dan gemuk itu dari belakang. Tatapan Katsuki tanpa sadar kini beralih ke rok seragam Ochako yang berayun-ayun pelan mengikuti irama langkah kaki mungil gadis itu, Katsuki pun menelan ludahnya tanpa sadar melihat betis berisi Ochako yang terbungkus dengan stocking hitam terlihat ketat dan seksi sekali. Di antara semua gadis di kelas A, hanya Ochako yang mengenakan stocking hampir tiap hari gadis itu membungkus kaki berisinya dengan stocking hitam ketat. Dulu ... Katsuki sama sekali tidak peduli akan hal itu tapi saat ini manik merahnya menjelajahi betis Ochako yang terbalut stocking sampai gadis itu hilang dalam pandangannya tatkala Ochako dan Tsuyu berbelok. Katsuki kembali menelan ludahnya. Kenapa hormonnya bergejolak tanpa tahu waktu? Tangannya bergetar membayangkan dirinya menarik stcoking itu dengan jemarinya menggunakan gerakan yang sensual. Katsuki mengerang mengacak rambutnya dengan frustasi. Ini semua karena teman-temannya tadi membicarakan seks.
Teman-temannya salah ia tidak sesuci itu, pada kenyataannya Katsuki pun pernah berpikiran kotor mengenai Uraraka Ochako.
"Bro kau kenapa?" Kirishima menepuk bahu Katsuki, heran melihat temannya yang mengerang dan sibuk mengacak-acak rambutnya.
"Tidak apa-apa."
Katsuki menjawab ketus sembari mendahului teman-temannya.
Bakugou Katsuki masuk ke dalam kelasnya, melihat kondisinya yang sepi ia menghela napas lega. Benar-benar berbanding terbalik dengan suasana kafetaria yang terlalu berisik di jam istirahat. Masih ada waktu seperempat jam sebelum bel tanda waktu istirahat habis berbunyi. Katsuki memutuskan untuk kembali ke kelas sendiri, mendahului teman-temannya yang masih bercanda di kafetaria. Ia ingin menyalin catatan pelajarannya yang tertinggal selama ia pulang ke rumah. Katsuki mendekati meja Kaminari, ia akan meminjam buku catatan Kaminari. Katsuki mengakui di antara ketiga teman dekatnya tulisan tangan Kaminari lah yang paling rapi, memang cukup mengejutkan bila mengingat peringkat bocah listrik itu yang menduduki nomor paling terakhir dalam UTS.
Tadi sebelum ia kembali ke kelas ia sudah meminta izin ke Kaminari untuk meminjam bukunya, dan Kaminari dengan tidak keberatan mengatakan kepada Katsuki kalau ia boleh mengambil buku catatan itu di laci mejanya.
"Ugh ... yang mana bukunya?" keluh Katsuki. Dengan gerakan tak sabar ia menarik keluar tumpukan buku milik Kaminari yang berada di laci meja pemuda listrik itu, memeriksa buku itu satu persatu akan tetapi gerakan terburu-buru Katsuki terhenti saat manik merahnya menangkap sebuah buku yang berbeda dari yang lainnya.
'Dasar pikachu mesum.' Katsuki mengeluarkan sumpah serapah untuk Kaminari saat menemukan sebuah majalah dewasa yang berada di antara tumpukan buku pelajaran Kaminari yang lainnya. Katsuki mendesah kencang, memegang majalah itu untuk menaruhnya kembali ke dalam laci meja Kaminari. Tapi mendadak ia teringat dengan pembicaraan mesum teman-temannya tadi saat di ruang ganti.
'Apa kau belum pernah melakukan apa pun terhadap Uraraka?'
Katsuki membasahi bibirnya yang terasa kering, dadanya berdesir pelan, dan dengan telapak tangan yang berkeringat dingin ia membuka halaman pertama dalam majalah itu. Ia bukanlah pemuda polos nan suci, Katsuki tentu terkadang tertarik akan hal itu membaca atau menonton majalah dan film dewasa. Hanya saja ia tentu tidak semesum Mineta, ia menonton film dewasa hanya untuk memenuhi rasa penasarannya lagipula dirinya selalu terobsesi untuk menjadi nomor satu sehingga ia tidak terlalu memedulikan hormon prianya. Tapi itu dulu ... sekarang ia memiliki Uraraka Ochako. Dan Katsuki sadar dirinya selalu merasa bergairah bila berada di dekat gadis itu, beruntung ia masih bisa menahan dirinya.
'Brengsek!' Katsuki kembali mengumpat bahkan foto-foto wanita seksi dalam majalah itu yang berada dalam balutan berbagai jenis pakaian dalam ia membayangkan wajah Ochako. Tubuh Katsuki bergetar hebat.
Apa ia harus berlari ke kamar mandi? Memuaskan gejolak dalam dirinya melalui gerakan tangannya sendiri? Katsuki menggelengkan kepalanya. Apa-apaan ini? Ia sudah lama tidak melakukan perbuatan nista itu dan hanya gara-gara pembicaraan di ruang ganti ia menjadi seperti ini?
"Bakugou-kun?"
Katsuki melonjak kaget, refleks ia mengembalikan majalah itu ke dalam laci meja Kaminari saat suara menggemaskan yang ia sukai memanggil namanya. Ia menolehkan kepalanya mendapati Uraraka Ochako yang melangkah masuk ke dalam kelas setelah menutup rapat pintu kelas mereka. Saat mereka bertemu pandang Ochako tanpa sadar meringis dan menggaruk pipi tembamnya.
"Maaf, Bakugou-kun terlihat kesal pasti karena aku tadi membatalkan janji kita. Seharusnya aku menemani Bakugou-kun istirahat bersama tapi aku tidak bisa karena harus menemani Tsu-chan di UKS."
Katsuki mengerjapkan kedua matanya mendengar penuturan Ochako, apa memang wajahnya terlihat kesal untuk saat ini sampai-sampai kekasihnya menjadi salah paham? Sebenarnya Katsuki memang merasa sedikit kesal karena Ochako membatalkan janjinya, tapi ia bisa memakluminya. Lagipula Ochako tidak bisa bersamanya di jam istirahat karena sahabatnya Ochako si gadis kodok ternyata terkena demam.
"Tidak apa-apa. Aku tidak marah sama sekali."
Ochako tersenyum lega. "Syukurlah. Besok aku akan tidak akan mengingkari janjiku lagi untuk menemani Bakugou-kun saat jam istirahat." Mendapati anggukan ringan dari bocah peledak itu Ochako berseru riang. "Oh ya kalau tidak salah aku masih punya biskuit buatanku kemarin. Coba kuperiksa, sepertinya aku tadi membawanya ke kelas. Aku ingin Bakugou-kun memakannya."
Katsuki tidak menanggapi perkataan Ochako tapi sudut matanya mengamati gerak-gerik gadis itu yang kini mendekati bangkunya yang berada di urutan paling belakang. Terkadang Katsuki berpikir kenapa gadis dengan tubuh mungil seperti Ochako mendapati urutan bangku paling belakang? Bahkan Ochako berada tepat di belakang Iida Tenya yang bertubuh tinggi dan besar.
Ochako sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memeriksa laci mejanya, tanpa sadar Katsuki menelan ludahnya. Bagian kerah seragam gadis itu kurang rapi dan tidak seperti biasanya Ochako tidak memakai dasi miliknya. Katsuki tadi sempat melihat dasi merah itu menyembul keluar dari kantung rok gadis itu, sepertinya Ochako belum sempat memakai dasi itu. Dan karena itu lah Katsuki dapat melihat jelas tulang selangka gadis itu yang biasanya tertutup rapat, dari leher hingga tulang selangka gadis itu tampak basah mungkin sebab berkeringat.
Sembari menggigiti bagian dalam bibirnya Katsuki melangkah mendekati Ochako kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Tch, sepertinya aku meninggalkan bungkusan biskuit itu di kamarku." Ochako mengeluh sembari mengusap keningnya ia sama sekali tidak menyadari bahwa Katsuki kini sudah berdiri di belakangnya.
Katsuki kembali meneguk ludahnya melihat rok seragam Ochako yang sedikit terangkat karena gadis itu membungkukkan tubuhnya. Dari posisinya sekarang ini manik merahnya dapat melihat dengan jelas paha berisi Ochako yang berbalutkan stocking, Katsuki merutuk dalam hati. Kenapa ia baru menyadari betapa seksinya paha berstocking Ochako Uraraka.
"Bakugou-kun, aku tidak membawanya." Ochako menegakkan tubuhnya dan betapa terkejutnya dirinya saat ia baru menyadari kalau Katsuki sudah berdiri tepat di belakangnya. Manik bulat Ochako berkedip cepat karena manik merah crimson bocah ledakan itu menatapnya tajam. "Bakugou-kun, ada apa? Apa ada yang salah?"
Katsuki tidak mengatakan apa pun, ia tetap menatap lekat gadis itu yang tentu saja akibat sikap anehnya membuat Ochako merasa tidak nyaman sendiri. Katsuki mengulurkan tangannya meraih pundak Ochako mendorongnya lembut membuat gadis itu terduduk di atas mejanya. Kemudian telapak tangannya beralih menyentuh leher Ochako, gadis itu menggigit bibirnya menahan geli. Sentuhan Katsuki turun ke tulang selangka gadis itu.
"Uhm."
Ochako menahan desahannya tatkala Katsuki mengecup bibirnya sekilas lalu bibir seksi pemuda itu beralih menciumi tulang selangkanya yang berkeringat. Ochako memerah menyadari hal itu.
"Bakugou-kun hentikan. Aku sedang berkeringat."
"Lalu kenapa?" tanya Katsuki tak peduli dengan bibirnya yang tak beranjak sedikit pun dari sana.
"A-aku perlu membersihkan tubuhku dulu."
"Aku tidak peduli."
Tubuh Ochako bergetar merasakan kecupan kuat dari bibir Katsuki sampai-sampai menimbulkan bunyi decapan. Jemari mungilnya mencengkram pinggiran meja yang didudukinya menahan tubuhnya agar tidak terjungkal ke belakang akibat perbuatan Katsuki, sedangkan tangannya yang bebas mengusap rambut Katsuki dengan hati-hati.
"Kita ada di kelas. Kau tahu itu kan?" bisik Ochako sedikit merasa tak nyaman dengan ciuman Katsuki yang tidak paham tempat.
"Tidak ada orang. Tidak akan ada yang melihat kita. Lagipula hanya berciuman, apa salahnya?"
Katsuki mengangkat wajahnya, menghentikan kecupan yang ia lakukan di leher Ochako. Manik crimsonnya kini menatap dalam bola mata kecokelatan milik Ochako. Telapak tangan kasar Katsuki mengusap pipi bulat Ochako. "Saat ini aku sangat ingin menciummu."
Ochako menelan ludahnya perkataan dan nada suara lembut dari Katsuki sangat berbanding terbalik dengan tatapan pemuda itu, kekasihnya ini menatapnya datar tanpa emosi sedikit pun. Membuat Ochako bertanya-tanya dalam hati sebenarnya apa yang diinginkan oleh kekasihnya saat ini? Kenapa ia mendadak menjadi agresif seperti saat ini?
Katsuki kembali mencium bibir mungilnya, menggigit bibir merah itu sehingga membuat Ochako mendesis. Ia tidak menyiakan kesempatan itu lidahnya dengan lincah masuk ke dalam rongga mulut Ochako. Ochako mengerang meremas rambut pirang Katsuki, jemarinya bergetar dan berkeringat dingin, membuat tangannya berkali-kali tergelincir dari rambut halus Katsuki.
Tangan Katsuki bergerak meremas paha berisi Ochako yang terbungkus stocking membuat gadis itu mengerang terkejut atas tindakannya. "B-bakugou-kun ... apa yang kau lakukan?" Ochako menarik wajahnya menjauh, seutas liur muncul di kedua belah bibir mereka. Wajah gadis itu merah padam Katsuki menatapnya lekat dan wajah pemuda itu masih terlihat datar tanpa ekspresi.
"Entahlah aku baru menyadari kau sangat seksi dengan stocking ini Uraraka."
Ochako semakin salah tingkah mendengarnya. "T-tapi tanganmu ... hentikan itu."
"Aku menolak." Ochako menahan pekikannya saat Katsuki kembali meremas pahanya. "Aku ingin melahapmu Uraraka."
'Sialan ... ini semua karena mereka.' Katsuki mengumpat dalam hati. Tangan kanannya terus mengusap paha Ochako, meremasnya sekali dua kali, Katsuki meneguk ludahnya pelan betapa kenyalnya paha dan betis gadis ini ingin rasanya ia mrelepas stocking yang membungkus seluruh kaki gadis ini agar ia bisa merasakan seberapa halusnya kulit si gadis gravitasi.
"Ugh." Ochako mendesis saat Katsuki menarik stockingnya kemudian melepaskannya menciptakan sengatan kecil dari sana. Tidak sakit memang akan tetapi gerakan sensual itu sekaligus seringai licik yang terpampang di bibir Katsuki membuat tubuh Ochako bergidik sendiri. "Bakugou-kun ... hentikan." Ochako berkata di sela napasnya yang memburu panas.
Katsuki tetap menyeringai. "Tapi sepertinya kau menyukainya?" Sembari berkata seperti itu Katsuki kembali menarik stocking yang berbahan elastis itu kemudian melepaskannya, lagi-lagi menciptakan sengatan kecil untuk paha Ochako. Pemuda itu kembali menyeringai mendengar rintihan gadisnya, kedua mata Ochako terpejam rapat.
"Kau sangat seksi. Wajah memerahmu yang terlihat malu sekaligus bernafsu itu ... aku menyukainya." Ochako membuka kedua matanya terkejut mendengar perkataan Katsuki. Benarkah yang dikatakan Katsuki?
Katsuki beralih menyentuh pinggang Ochako, menarik gadis itu dan memeluknya erat, mengecup sekilas daun telinga si gadis gravitasi. Kemudian ia kembali melumat bibir mungil Ochako. Ochako merona merasakan lutut Katsuki menekan tubuhnya, pemuda itu dengan sengaja meletakkan lutut kanannya di antara kedua kaki Ochako. Menekan bagian terlarang pada diri gadis itu.
Tubuh Ochako terasa panas, kepalanya berputar. Ia tidak lagi menahan Katsuki, membiarkan kekasihnya bertindak semaunya. Karena bagaimana pun juga ia tidak dapat menyangkal bahwa ia menyukainya.
'Apa ia ingin melakukan 'itu'?' Ochako menggigit bibirnya tatkala Katsuki kembali membubuhkan kecupan-kecupan di lehernya. Tekanan lutut bocah peledak itu semakin kencang. Ochako merasa wajahnya seolah terbakar saat pikiran itu melintas dalam benaknya. Selama ini hubungan mereka hanya sebatas berciuman serta beberapa kissmark di lehernya. Ochako tak pernah berharap hubungan mereka menjadi lebih dalam lagi, mengingat betapa terobsesinya seorang Bakugou Katsuki menjadi nomor satu. Ochako pikir Katsuki tidak akan pernah mau merepotkan dirinya lebih jauh lagi dalam kehidupan percintaan mereka.
Tapi ternyata ... kenapa pemuda ini sekarang bersikap aneh?
"Midoriya ... kau habis dari mana? Aku tidak melihatmu di kantin tadi."
"Ah ... Todoroki-kun? Tadi aku ke UKS menjenguk Asui-san bersama Uraraka-san."
Tangan Ochako secara refleks mendorong dada bidang Katsuki untuk menjauh darinya saat ia mendengar suara Midoriya Izuku dan Todoroki Shouto di depan pintu kelas mereka. Dengan tubuh bergetar karena gugup ia meloncat turun dari mejanya, telapak tangannya yang berkeringat dingin membetulkan kerah seragamnya serta rok dan stocking yang ia merasa sedikit lega karena kedua orang itu berbicara dulu di depan kelas mereka sebelum langsung masuk ke dalam kelas, ia tidak membayangkan dirinya tertangkap basah sedang bercumbu dengan Katsuki. Sedangkan Katsuki mendengus kencang, merasa kecewa manik crimsonnya Ochako yang menundukkan wajah serta menggerakkan jemarinya dengan gugup.
"J-jam istirahat sebentar lagi akan habis, Bakugou-kun," ucap Ochako usai membasahi bibirnya yang terasa kering.
Katsuki menghela napas, ia mengusap puncak kepala Ochako sebelum mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu, berbisik dengan suaranya yang dalam dan seksi. "Lain kali kita akan melanjutkannya."
Ochako menelan ludahnya dengan susah payah mendengar bisikan Katsuki, wajahnya terasa panas sentuhan Katsuki tadi seolah masih membekas terlebih bisikan pemuda itu membuat pikirannya menjadi liar.
"Ah Kacchan, Uraraka-san ternyata kalian sudah ada di kelas."
Pintu kelas mereka terbuka menampakkan sosok Midoriya yang menyapa mereka dengan ramah serta Todoroki yang memperhatikan gerak-gerik aneh dari sepasang kekasih itu dengan bingung.
"Tch." Katsuki menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku. "Tidak usah sok bersikap ramah Deku."
Midoriya hanya tertawa canggung mendengar bentakan Katsuki. Bocah bermabut hijau ikal itu lalu melangkah masuk ke dalam kelasnya diikuti oleh Todoroki. Pemuda yang di cap sebagai cowok paling tampan di kelas A itu berjalan ke belakang kelas, kursinya berada di deretan belakang bersebelahan dengan Yaoyorozu. Tapi kedua mata Todoroki yang berbeda warna itu memperhatikan Ochako dengan bingung.
"Uraraka wajahmu merah, apa kau demam?"
Ochako terkejut mendapati pertanyaan Todoroki, Midoriya yang mendengarnya bergegas ke bagian belakang kelas menghampiri Uraraka. "Benar, wajahmu merah sekali. Kacchan, apa Uraraka-san perlu di antar ke UKS?"
Ochako mengigit bibirnya saat Katsuki menoleh ke belakang ke arahnya, wajah pemuda itu tampak kesal karena kekasihnya tengah di kelilingi oleh kedua pemuda. Tapi sudut bibir Katsuki segera terangkat, menunjukkan seringai yang Ochako sukai sekaligus membuat gadis itu merinding.
"Tenang saja aku yang membuat wajahnya memerah seperti itu."
"Eh? Kacchan apa maksudmu?" Midoriya yang polos bertanya bingung.
"A-aku mau ke toilet sebentar."
Ochako berusaha menyingkir dari hadapan Todoroki dan Midoriya. Gadis itu berlari-lari kecil keluar dari kelas mereka. Kedua telapak tangannya menangkup pipi bulatnya yang terasa panas, gadis itu mengeluh dalam hati kenapa Katsuki berubah seperti ini? Pemuda itu menjadi lebih agresif bahkan terkadang melemparkan kalimat sensual atau pun ucapan yang terkesan jahil yang sanggup membuat Ochako berdebar.
Ochako tersenyum tipis bagaimanapun juga ia masih tetap sangat mencintai pemuda pemarah itu.
_TBC_
Agar author bisa memperbaiki kalau ada yang salah dicerita ini mohon krisarnya ya. Readers mungkin bisa ngasih tau kalau ada yang salah :)
Soalnya author tuh sering typo hehe
﹏
