Naruto mengetuk-ngetukkan jarinya sambil menatap serius ke arah dua orang yang saat ini masih berlutut di lantai. Gai dan Kakashi-adalah dua orang penyebab kekacawan yang menyebabkan semua ini berakhir menjadi masalah besar. Naruto tak habis pikir bahwa ke dua pelayan setianya itu malah berbelok untuk menuruti perintah Kushina dan menculik pacarnya. Namun yang lebih parahnya lagi, adalah karena mereka malah menculik orang yang salah!
"Habisnya dia cantik sih boss, jadi kami pikir dia pacarmu"
"Aish.. DASAR BODOH!" Naruto terlihat geram, mana mungkin hanya karena cantik semua wanita bisa jadi pacarnya! Lalu bagaimana dengan nasib wanita cantik di luar sana, apa mereka ingin menculiknya satu per-satu? Itu hanya alasan yang terlalu mengada-ada.
"Tapi... bukankah itu aneh boss, kalau dia memang bukan pacarmu, kenapa kau memasang cincin itu untuknya? Seharusnya kau..."
GLEKK!
Gai meneguk ludahnya saat melihat Naruto bangkit dari kursinya. Sepertinya ia salah bicara lagi. Mulutnya itu seharusnya dijahit. Bahkan Kakashi sudah memberinya tatapan 'matilah kita Gai' saat dirasanya Naruto semakin dekat dengan aura gelap di sekelilingnya.
Lutut keduanya kembali bergetar. Bahkan rasanya mereka seperti akan dijatuhi hukuman gantung. Inikah terakhir kalinya mereka berdua hidup?
Naruto mendekat, dan ia berbisik di antara telinga Gai dan Kakashi.
"Kalian ingin minum?"
Seketika mata Gai dan Kakashi yang awalnya tertutup, sekarang menyisakan satu untuk mengintip. Mereka berdua saling pandang-pandangan dengan satu mata. Tidak jadi matikah?
"Boss...?"
"Aku sedang butuh teman mengobrol"
.
.
.
.
.
.
Warning: fic gila, rush, ga nyambung, aneh. siap kecewa sama cerita dan authornya yang lelet up, jangan berharap sama fic ini bakal bikin lu puas. isi nya pokonya jelek, iya jelek, yaaah..kalau lu bandel yaudah...
.
Chapter 2: Cincin Wasiat pembawa takdir.
.
.
.
.
.
.
Naruto menutup mata sambil duduk diam di kursi kebesarannya. Ia sedang tidak ingin marah-marah sepagi ini, bahkan Gai dan Kakashi saja sampai ia lepas. Naruto juga sedang tidak mood untuk melihat-lihat tumpukan dokumen apapun yang sudah menumpuk di mejanya. Paginya sudah cukup suram setelah Kushina memarahinya seperti ia masih bocah sekolah dasar. Naruto mana tahu, kalau cincin yang ia beri ke gadis asing itu adalah cincin warisan milik keluarganya yang sangat berharga. Kushina saja sampai menendang tulang keringnya setelah tahu, kalau Sakura ternyata bukan pacarnya. Naruto jadi bingung kenapa semuanya menjadi rumit. Ibunya itu memang terlalu cepat mendapat informasi apapun tentangnya. Dan berkat kejadian malam itu juga, Kushina langsung menyuruh Naruto agar menemukan cincin itu secepatnya. Paling tidak sebelum Tsunade mengetahui kebohongannya dan membatalkan pengobatan itu. Aaahh tidak, itu tidak boleh sampai terjadi. Dan Naruto tidak akan membiarkannya begitu saja. Makanya ia harus bisa menemukan Sakura sekarang juga.
Flashback:
Naruto menarik tangan Sakura dan membawanya menjauh, yang Naruto yakini nenek atau ibunya itu tidak akan bisa mendengar perbincangan mereka.
"Maaf, aku tahu kau pasti kebingungan, tapi keluargaku memang seperti itu" Naruto memperhatikan Sakura yang menggelengkan kepalanya. Sepertinya gadis itu bisa mengerti.
"Tak apa, ini hanya salah paham"
Di sisi lain, Kushina terus menoleh, ke kanan, kiri, depan dan belakang untuk mencari Sakura yang belum kembali setelah sepuluh menit dari kamar kecil. Ia masih ingin mengobrol banyak dengan calon menantunya itu. Tapi saat Kushina mencarinya di sana, Sakura sudah tidak ada, makanya ia mencari ke seluruh ruangan, siapa tahu gadis itu sedang kesasar di rumahnya. Namun sebaiknya Kushina mencarinya di taman, karena tempat itu menjadi satu-satunya tempat yang belum ia periksa. Mungkin saja Sakura memang ada di sana.
"Tapi.., bisakah kau merahasiakan ini sampai aku yang mengatakan sendiri pada mereka? Tolonglah, nenekku itu bisa mati detik ini juga kalau tahu kau sebenarnya bukan pacarku, jadi kumohon berpura-puralah menjadi pacarku"
Sakura mengangguk, ia menyetujui permintaan Naruto
"Ehh.. baiklah, aku akan melakukannya sebaik mungkin"
"..."
'melakukannya sebaik mungkin...' Langkah Kushina seketika berhenti, ia hanya bisa membatu di tempat saat mendengar perbincangan Naruto dan Sakura barusan. Ia tidak salah dengar tadi. PURA-PURA? Ya Tuhan, Jantung Kushina serasa mau copot setelah mengetahuinya. Sakura-gadis itu ternyata bukan pacar anaknya, lalu kenapa ia bisa memakai cincin warisan keluarganya itu? Apa Naruto tidak ingat penjelasannya kalau cincin itu adalah benda milik keluarganya yang sangat berharga. Cincin yang tidak boleh diberi ke sembarang orang karena bisa membawa akibat buruk. Cincin itu adalah pembawa benang merah yang tidak bisa hanya terikat pada satu ujungnya. Tapi Sakura... sebenarnya siapa gadis itu?
Kushina memijit pelipisnya. Jika ia saja nyaris pingsan mengetahui hal ini, maka Tsunade tidak boleh tahu soal ini. untuk itu Kushina akan merahasiakan ini dulu setelah ia nanti menghajar Naruto dan meminta penjelasan anaknya itu.
Flashback end.
"Hn..."
Naruto menghela napas panjang. Ini sudah hampir siang, dan Bee belum juga melapor apapun dari hasil mencari gadis 'pencuri' cincinnya itu. Jelas saja hal itu membuatnya bertambah kesal karena penasaran.
"Kenapa dia itu lama sekali, dattebayo!" Ucap Naruto kesal. Ia mengambil ponsel dari saku jasnya dan mencoba menghubungi Killer Bee di sana.
xxx
"Kau yakin, tidak kenal dengan gadis rambut merah muda itu? Ayolah, aku ini bukan orang jahat. Aku hanya ingin bertemu dengannya, hanya sebentar saja"
Temari memutar bola matanya malas, dia sudah memberitahukan kata "tidak" untuk yang ke sepuluh kalinya. Restoran tempatnya bekerja memang belum memasuki jam ramai. Tapi tetap saja ada Anko yang terus mengawasinya dari jauh. Ia tidak ingin terlihat mengobrol di saat jam kerja. Tapi pria di depannya ini terus saja berisik dan terus membuntutinya kemanapun dia pergi, itu membuatnya risih sekaligus kesal di saat yang sama.
"Aku sudah bilang aku tidak tahu apapun! dan berhentilah mengikutiku terus!" Ucap Temari sambil menunjukkan wajah galaknya yang merasa terganggu.
"Aku tidak tahu siapa yang kau cari, jadi pergilah! kau mengganggu pekerjaanku!" Ucap Temari sambil mendorong paksa Bee untuk keluar dari dapurnya.
"Tapi aku ingin bicara dengannya, ini soal hidup dan matiku, ku mohon bantu aku sekali ini saja, ya?" Bee berusaha bertahan, ia merentangkan tangannya untuk menutupi jalan dengan tubuhnya yang besar.
Sebenarnya ini semua atas suruhan Naruto- Bee mendatangi lagi restoran tempat kejadian ini bermula. Ia mencari Sakura di sana untuk mengambil cincinnya, tapi sial, Bee tidak bisa menemukan Sakura di restoran itu.
"Nona ayolah, sebentar saja"
"KUBILANG PERGI!"
Duakk!
"ittai!" Bee meringis. Lututnya seperti dialiri listrik saat ia jatuh tadi. Sepertinya Temari mendorongnya terlalu keras.
"Apa kau harus sekejam ini?"
"Aku kan tadi sudah menyuhmu pergi. Kau sendiri yang memaksaku berbuat kasar"
"Cih..." Bee pun akhirnya berdiri. Lututnya masih terasa ngilu. Wanita pirang ini galak sekali. Dia ternyata tidak bisa diajak bernegosiasi secara lembut. Ahhh... bikin darah tingginya naik saja.
"Dasar payah! bosku bahkan bisa membeli restoran jelek seperti ini"
"Aku tidak peduli, kau hanya harus pergi sekarang juga. Atau aku akan memanggil polisi untukmu! Cepat pergi sana!" Temari mengancam sambil mengambil sapu lidi yang ada di dekatnya. Ia sudah gerah mendengar pria besar di depannya ini karena terlalu sibuk mengoceh. Padahal ada sekarung bawang putih di dapur yang sedang menantinya untuk dikupas, tapi karena orang di depannya ini terlalu keras kepala. Temari sepertinya harus mengeluarkan jurus rahasianya.
"PERGIII!"
Duakk!
"Arghhhh"
.
.
.
.
.
.
Rumah Sakit Konoha
"Apa Sakura akan menjenguk ku hari ini? ya Tuhan, baru sehari aku bahkan sudah merindukannya"
Kushina berhenti mengupas apel saat Tsunade bertanya mengenai gadis yang dibawa anaknya itu tadi malam. Ia bingung harus menjawab apa untuk gadis yang kabur dengan cincin wasiat keluarganya itu. Tsunade masih dalam proses pengobatan dan Kushina sebaiknya berhati-hati bicara.
"Sakura pasti sedang sibuk, tapi aku akan menyuruhnya untuk melihat ibu pekan ini"
Tsunade menggeleng, ia terpikir sesuatu.
"Aaah tidak, tidak, aku rasa itu tidak perlu. Calon pengantin harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama kan? Naruto harus membuat Sakura yakin akan itu. Jadi biarkan saja mereka, kita tidak boleh menggangu mereka"
"Ah... ya..." Kushina hanya bisa tertawa garing, haduh... kalau saja Tsunade tahu kemana orang yang mereka bicarakan ini, Kushina bisa memastikan ia harus memesan batu nisan pada Hidan untuk ibu mertuanya itu. Sebaiknya jangan. Tsunade tidak boleh tahu masalah itu.
"Ibu benar, kita tidak boleh mengganggu mereka" .
xxx
Bee baru saja kembali untuk melapor. Ada sedikit benjolan di keningnya. Temari memang sial-gadis itu benar-benar tepat mengenai kepalanya. Bee bahkan sampai ngeri melihatnya. Dia sudah seperti atlet lempar lembing peraih medali emas. Walau itu bukan lembing dan hanya sebutir kentang, tetap saja kalau dilempar dengan tenaga monster dan tepat sasaran itu bisa terasa seperti sebongkah batu bata.
"Hn..."
Naruto menghela napas. Ia tahu Bee datang pasti bukan untuk kabar baik. Melihat kinerja anak buahnya itu, Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Jangan hiraukan aku" Ucap Bee membuang wajahnya ke samping. Sekaligus memotong untuk apapaun yang akan dikatakan Naruto perihal keningnya yang berwarna biru kegelapan. Tetap saja ia merasa malu karena Naruto terus melotot ke arah keningnya. Ia tahu apa yang Naruto ingin bilang, dan apapun itu, Bee tidak mau mendengarnya. Naruto terkadang bisa punya mulut yang lebih tajam dari pada otaknya. Makanya dia tidak ingin ini menjadi panjang.
"Baiklah..." Ada jeda cukup lama dalam nada bicara Naruto setelah mereka hening bermenit-menit. Bee sebagai orang yang bekerja bertahun-tahun dengan Naruto mengerti dengan cepat untuk apa yang harus ia lakukan. Naruto memberinya waktu untuk memulai.
"Aaah... gadis itu, Namanya Haruno Sakura. Umurnya 28 tahun dan ia bekerja paruh waktu. Dia tidak memilki ijazah universitas dan terus berpindah-pindah tempat kerja sebagai tenaga harian. Dia tinggal bersama ayah tirinya di Konoha sejak ia masih SMP, dan dia berusaha bekerja untuk hutang yang ditinggalkan ayahnya semasa hidup, sangat miris boss, tapi kurasa dia tipe orang yang suka bekerja keras"
Naruto mengerutkan keningnya. Informasi itu tidak cukup untuk mengetahui keberadaan gadis bernama Sakura itu, Naruto ingin lebih untuk bisa menangkapnya.
"Lalu, di mana dia akan bekerja hari ini?"
Bee bersiul kencang, ia meraih jasnya untuk mengambil selembar kertas dan menyerahkannya pada Naruto. Sebuah alamat tertulis besar-besar di atasnya.
"Kau tahu, karena ini aku mendapat benjolan di kepalaku, kau seharusnya berterima kasih"
"Hm.."
Senyum Naruto terkembang layaknya penjahat kejam. Ia puas dengan kerja Killer Bee kali ini. Sepertinya Ia harus menarik kata-katanya kembali bahwa Bee bukanlah seorang profesional. Tidak... Naruto akan memberikan hadiah kecil untuk Bee dengan bir kualitas terbaik.
xxx
"Selamat malam, obasan!" Sakura menyibak tirai kedai dango itu dan pamit pulang pada si nenek pemilik kedai. Hari ini ia sudah selesai bekerja dan menghabiskan jadwal terakhirnya.
Hari yang panjang dan melelahkan. Sakura sendiri tidak tahu kalau kedai kecil ini bisa sepopuler itu sampai mendatangkan banyak pelanggan. Seharian ini ia terlalu sibuk mengantar pesanan dan membagi brosur di depan jalan. Pinggangnya serasa hampir patah karena seharian terus berdiri.
Hari ini ia ingin menebusnya dengan tidur yang panjang dan makan satu cup ramen hangat di dalam kamarnya, Ah... berhubung soal makan, Sakura ingat ia belum sempat makan apapun karena hari ini ia begitu sibuk. Pantas saja dari tadi ia merasa kepalanya itu sangat pusing. Sebaiknya ia mampir dulu ke minimarket untuk membeli beberapa cup ramen instan. Ia tidak ingin, tidur nyenyaknya itu jadi terganggu karena suara lapar dari perutnya yang kosong.
tap.. tap.. tap
Sakura berjalan sambil menunduk lesu. Kepalanya kembali berdenyut-denyut, hanya saja ini jauh lebih sakit sampai ia harus berpegangan pada tiang di pinggir jalan. Jarak minimarket itu memang tidak terlalu jauh dari posisinya sekarang. Tapi kenapa ia merasa tidak segera sampai ke sana. Pandanganya juga menjadi buram, Sakura tidak tahu kenapa tubuhnya bisa seperti ini, padahal ia sudah biasa bekerja dari pagi sampai malam dan pulang dengan keadaan perut lapar. Tapi sepertinya hari ini adalah pengecualian, Sakura benar-benar kesakitan.
"Oi?"
"..."
Sakura tidak ingin menoleh ke belakang, ia tahu panggilan seperti itu hanyalah kerjaan berandalan iseng yang sedang mengerjainya. Lagi pula ia tidak ingin membuang-buang waktunya untuk diganggu oleh bocah-bocah yang sering menagih uang dari pejalan kaki yang sedang lewat.
"Oiii? Panggilan itu semakin keras dan Sakura sepertinya sadar kalau panggilan itu memang ditujukan untuknya. Sakurapun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari siapa yang memanggilnya. Tapi aneh karena tidak ada berandalan-berandalan itu di sekitarnya, justru yang Sakura lihat adalah seorang pria kantoran yang sedang bersandar di bodi mobilnya. Pria itu memakai kaca mata hitam-di tengah malam? Jika Sakura memiliki tenaga untuk tertawa dia akan melakukanya, namun untuk bernapas saja dia begitu sulit sekarang. Sakura justru kembali merasa pusing dan kepalanya itu semakin berat. Kali ini ia tidak bisa menahan tubuhnya lagi. Seketika yang Sakura lihat hanyalah langit malam yang gelap dan sesuatu yang berwarna kuning ke emasan-yang dalam pikiran Sakura itu terlihat seperti bulan purnama-tapi entahlah... mana ada bulan bentuknya runcing?
"Kau...?" itulah yang ada di pikiran Sakura, sebelum akhirnya ia pingsan dan tergeletak di aspal yang dingin.
BRUKKK!
Naruto membuka kaca mata hitamnya setelah melihat Sakura yang tiba-tiba pingsan. Naruto sedikit bingung.
"Apa karena aku terlalu tampan? Dia sampai pingsan karena melihatku" ucap Naruto kepedean.
"Hey, nona.." Naruto mencoba membangunkan Sakura. Ia menepuk-nepuk pipinya. Naruto tidak mengerti kenapa gadis itu pingsan begitu saja di depan matanya. Dia bahkan tidak melakukan kekerasan. Hanya sedikit menebar pesonanya sebagai pria tampan, itupun masih setengah yang ia keluarkan. Tapi... apa benar? hanya karena ia tampan itu bisa membuat seorang gadis sampai pingsan begini? Ah... Naruto bahkan tidak mau mengurusi hal yang seperti ini.
"Hei anak muda! apa yang kau lakukan pada pacarmu?" Naruto menoleh pada seorang kakek tua yang kebetulan lewat. Tatapannya terlihat marah menatap Naruto seperti sedang menuduhnya baru saja melakukan tindakan kejahatan.
"aaaa... " Naruto hanya bisa mendada-dada udara seperti mengatakan "Tidak, bukan aku. Aku tidak melakukan apapun" namun suaranya itu tidak pernah keluar dan dia justru terlihat seperti orang yang tidak waras di mata kakek-kakek tua. Kakek itu akhirnya malah memarahi Naruto yang sebetulnya tidak tahu apa-apa. Ia juga menepuk pundak Naruto dengan keras.
"Kenapa kau masih diam saja? Cepat bawa dia ke rumah sakit! oh... gadis yang malang!"
"Ah.. ya"
Naruto akhirnya menggendong Sakura dan membawanya ke rumah sakit. Ia menuruti perintah kakek itu karena tidak ingin bertengkar dengan seorang kakek yang... jika ditiup angin saja itu kakek bisa langsung die. Tidak, Naruto tidak ingin terkena karma karena melawan orang yang sudah tua.
Akhirnya Narutopun melajukan mobilnya dan mencari rumah sakit terdekat. Sebentar, Naruto melihat ke arah Sakura yang masih pingsan di sebelahnya.
"Baru melihatmu saja aku sudah terkena sial... ck, sepertinya ini tidak akan berjalan mudah"
.
.
.
.
.
.
Bau desinfektan, adalah hal yang paling Naruto benci. Ia tidak pernah ingin ke rumah sakit karena itu adalah tempat yang mengerikan baginya. Tapi karena sesuatu yang terjadi begitu emergency, ia justru berada di tempat yang paling tidak pernah ingin ia kunjungi sekarang.
"Aku sudah tahu apa masalahnya. Ini sudah sering terjadi pada pasien-pasien ku!" Orochimaru berkata sinis kepada Naruto. Naruto saja sampai terkejut dibuatnya. Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Sakura itu menatapnya seperti ingin mengajaknya berkelahi. Naruto jelas bingung- kenapa setiap orang yang ditemuinya hari ini selalu menganggap dia seperti musuh.
"Apa maksudmu?" Tanya Naruto bingung.
"Aku tahu, banyak sekali kasus pasangan muda dan pengantin baru yang keluar dan masuk ke ruanganku. Memang sulit untuk menahannya, tapi jangan sampai memaksa pacarmu, dia pingsan karena kelelahan sampai seperti ini. Kau tahu, setiap orang memiliki batas. Jadi kurang-kurangi untuk melakan 'itu' dengannya. Kau mengerti maksudku, anak muda?"
"Hah...?"
Naruto hanya bisa menganga. Dia bahkan kehabisan kata-katanya sendiri. Dokter ini dengan jelas baru saja menuduhnya sebagai orang mesum? hey...
'what the semvak' Naruto tidak habis pikir melihat dokter berambut panjang itu. Rumah sakit ini terlalu bagus untuk menampung dokter aneh semacam Orochimaru. Ia benar-benar kesal.
"Tidak, kau salah paham. Asal kau tahu saja, dia itu bukan pacarku!"
"Bukan. Lalu siapa, istrimu?" Orochimaru hanya menebak, ia merasa dua orang ini sangat cocok untuk bersama. Makanya dia bespekulasi seperti itu.
Tapi Naruto malas beradu argumen. Daripada menghadapi dokter stress. Ia lebih baik mengiyakannya saja. Ia ingin ini menjadi cepat.
"Apa dia perlu menginap?"
"Tidak, dia sudah bisa pulang, penyebab dia pingsan hanya karena dia kelelahan. Jadi turuti saja saranku"
"Baiklah..."
Naruto berjalan untuk menyelesaikan administrasi, namun saat ia sampai di sana, seorang perawat tidak berhenti menatapnya selama tiga menit.
"Maaf tuan, atas nama siapa?"
"Namikaze Naruto"
xxx
Naruto mungkin hanya kasar dalam hal bicaranya, tapi sebagai seorang pria ia adalah yang nomor satu dalam hal tanggung jawab. Naruto akan mengantar Sakura pulang sampai ke rumahnya. Itupun hanya berjaga-jaga jika gadis itu kembali pingsan di tengah jalan. Walau harus berdebat dengan cukup sengit dan penolakan Sakura dengan segudang alasannya, tetap saja Sakura sekarang berakhir di dalam mobil Naruto.
Awal yang selalu berakhir buruk. Naruto tahu selama ia berada dekat dengan Sakura, ia hanya akan terkena masalah, tapi tidak untuk sekarang, Naruto tidak mungkin menelantarkan seorang gadis yang sedang tidak berdaya di jalanan. Belum lagi masalahnya dengan Sakura itu selesai. Entahlah.. rasanya ini akan sulit, karena belum ada sepuluh menit mereka berdua saja sudah adu mulut lagi. Bahkan dari hal sepele seperti Naruto yang membukakan pintu depan, Sakura justru nyelonong ke kursi penumpang di belakang. Bahkan dari memilih pintupun mereka sudah tidak cocok.
"Bagus sekali, apa aku terlihat seperti supir pribadimu?"
"Memangnya kenapa? Aku tidak boleh duduk di sini?"
Naruto menarik napas. Sabar...
"Baiklah, di mana alamat rumahmu?"
Setelah Sakura memberitahukan alamatnya, mobil Naruto pun melaju dengan mulus, dan meskipun sudah cukup jauh dari parkiran rumah sakit, keduanya belum bicara apapun, suasananya saat itu mendadak seperti ruang baca yang hening. Sakura cukup tahu, kalau Naruto memang bukan orang yang terlalu banyak bicara jika ia sendiri tidak dipancing, laki- laki itu tidak akan berlama-lama menghabiskan waktu untuk basa-basi tidak penting. Sakura juga tahu, kenapa Naruto bersikeras untuk mengantarnya pulang- itu hanya karena ia sebentar lagi pasti akan diinterogasi oleh pria kuning itu habis-habisan. Rasanya duduk di mobil Naruto saja ia seperti duduk di kursi panas, makanya ia berusaha menolak ajakan Naruto untuk mengantarnya pulang, atau paling tidak ia ingin menjaga jarak dengan pria itu sejauh-jauhnya.
"Jadi..."
Tuh kan, sakura sudah menebaknya, laki-laki ini pasti mencarinya karena suatu alasan. Apa karena dia begitu marah dengan kejadian malam itu? Karena dia kabur? Ayolah, dia juga terjepit dengan masalah yang tidak kalah penting. Ini Jepang dan ada jutaan orang yang terburu-buru setiap harinya. Makanya dia lebih memilih untuk kabur malam itu karena ada situasi yang mendesaknya juga.
"Kau tahu, aku juga tidak suka situasi ini. Jadi aku langsung saja mengatakannya" Naruto menjeda kata-katanya, sebentar ia melirik dari spion dalamnya untuk melihat bagaimana ekspresi gadis merah muda itu yang terlihat gelisah di kursi belakang.
"Kita bertemu lagi karena ada sesuatu yang kau ambil dariku"
"Aku...?"
Sakura menoleh cepat. Ia tidak tahu apa yang sudah ia ambil dari orang ini sampai ia harus dicari-cari oleh seorang milyarder sibuk seperti Namikaze Naruto.
"Apa maksudmu?" Tanya Sakura bingung.
"Itu... cincin itu. Aku menginginkannya kembali"
Sakura mengedip-ngedipkan matanya, tampak ia kelihatan mengingat-ingat cincin apa yang Naruto maksud. Kepalanya bahkan belum pulih dari rasa pusingnya, tapi Naruto sudah menodongnya dengan pertanyaan absurd.
"Cincin?"
"Ya. Aku memberikan sesuatu yang sangat penting. Cincin itu warisan keluargaku dan tidak boleh diberikan ke sembarang orang. Makanya aku minta kau untuk mengembalikannya"
Sakura melipat kedua tangannya, aah benar juga! ia ingat sekarang, cincin itu adalah cincin gratis yang didapatnya dari pria yang sedang bicara dengannya sekarang. Tapi... kenapa sesuatu yang baru diterimanya harus dikembalikan, padahal pria itu sendiri yang memberikannya untuknya.
"Hei, kau seharusnya tahu, tidak sopan untuk meminta kembali barang yang sudah kau beri untuk orang lain. Apa yang sudah kau kasih mana boleh diminta lagi. Itu bukan hak mu lagi"
"Sudah jangan cerewet, kalau kau memang tidak mau memberikannya aku bisa membelinya darimu"
"Kau serius?" Sakura menggaruk rambutnya, ia mulai bingung, tentu saja bingung, pasalnya cincin itu sudah... cincin itu sudah... aduh... bagaimana bilangnya ya?
"Err... kalau itu..."
"Kenapa? Haa, Jangan bilang kau sudah menjualnya?" Wajah Sakura berubah pucat dan Naruto punya firasat buruk kali ini.
Padahal kecurigaan Naruto itu memang benar, Sakura menjual cincinnya untuk biaya pengobatan ibunya, dia cuma dapat dua ribu Yen untuk membeli obat, sisanya uangnya sudah diambil oleh ayahnya.
Ckittt... Mobil Naruto berhenti tiba-tiba.
"DUA RIBU YEN? KAU SUDAH GILA! Dengan cincin itu kau bahkan bisa membeli gunung di Myoboku"
"..."
Sakura terdiam, itu tidak masuk akal baginya. Mana tahu dia kalau cincin itu bisa semahal itu. Sakura hanya bisa menunduk, ia tidak berani membela diri dan mengangkat wajahnya di depan Naruto. Ia takut mulutnya yang pahit itu akan membuka masalah baru. Atau bagaimana jika Naruto meminta ganti rugi dan menuntutnya sampai ia tidak berkutik. Hah... itulah yang Sakura takutkan. Ia malas bersaing dengan orang-orang yang memiliki banyak uang-karena apapun yang ia lakukan ia pasti akan kalah telak. Itu jelas memuakkan!
"Baiklah, lupakan saja! di mana kau menjualnya?" ucap Naruto tak sabar, ia hanya ingin tahu di mana cincinnya itu berada.
"Itu... aku sudah lupa. Aku menjualnya di pasar dan bertemu banyak orang saat itu, yang ku tahu seorang pria menawariku dua ribu Yen, itu sudah cukup, jadi aku langsung setuju saat dia bilang segitu"
"Kami sama..." Rasanya Naruto ingin bunuh diri saat itu juga. Minum kuah ramen beracun pun juga tidak apalah. Sakura benar-benar gadis ajaib dengan otaknya yang setinggi Bonsai mini di kamarnya. Memangnya siapa yang menjual perhiasan di tempat aneh seperti itu hah?
"Kau?... Apa tidak mengerti arti perhiasan? kenapa kau tidak menjualnya saja di toko perhiasan dan membuat ini seharusnya mudah. Lagipula orang bodoh mana yang mau menjual perhiasan di pasar!" Ucap Naruto kalap.
"..."
Sakura menggembungkan pipinya, dia menahan geram untuk tidak mengetuk kepala pirang menyebalkan itu dengan sandalnya sekarang juga. Sakura protes, ia juga tidak ingin disalahkan mentah-mentah. "Kau tahu? awalnya aku berpikir seperti itu juga, tapi cincin itu tidak terlihat seperti cincin mahal- bahkan batu permata saja tidak ada di atasnya. Meskipun itu memang sangat indah tapi mana mungkin ada orang yang memberikan cincin semahal itu secara cuma-cuma, kau pikir saja sendiri orang bodoh mana yang mau memberikannya"
"ck..." Sial, gadis ini ternyata pandai juga membela diri, ini jadi tidak seru.
"Agh.. baiklah semalam aku memang agak gila. Tapi... apapun ceritanya, kau harus membantuku untuk menemukan cincin itu, atau... kau mau kuseret ke penjara sekarang juga! ingatlah bahwa kau juga bersalah dalam hal ini"
"APAA?"
Sakura membulatkan ke dua matanya, ketakutannya sekarang menjadi kenyataan. Inilah Namikaze Naruto yang sebenarnya. Ia dipaksa sampai terdesak dan tidak punya pilihan lain selain setuju dengan ancaman Naruto. Sakura juga tidak ingin nasibnya berakhir di penjara. Akhirnya dengan pasrah, ia akan menurut untuk apapun yang diminta oleh pria menyebalkan yang saat ini sedang tersenyum di balik kursinya.
"Sialan kau Namikaze, awas saja kau!" ucap Sakura sambil menahan geramannya dalam hati.
xxx
Beberapa menit akhirnya mereka sampai di Konoha. Naruto pun segera menepikan mobilnya setelah Sakura menyuruhnya berhenti.
Naruto mengernyitkan alisnya Karena melihat jalanan sepi yang hanya diterangi lampu jalan yang redup di depannya.
"Ini rumahmu?" Naruto melihat sekelilingnya. Itu adalah pemukiman padat penduduk yang terkenal kumuh di sudut kota.
"Bukan, ini hanya gangnya saja, kau tidak bisa lihat?" Sakura menunjuk jalan setapak yang penuh anak tangga di depan mereka.
"Aku tidak ingin menyakiti mobil mahalmu ini, lagipula tidak seharusnya orang sepertimu bisa melewati jalan itu. Ada ratusan kecoak dan tikus yang bisa menyapamu. Kau yakin ingin menguji nyali?"
Naruto melihat jalan di depannya, gangnya terlalu sempit dan itu memang hanya bisa dilalui dengan pejalan kaki. Membayangkan mahluk-mahluk menjijikan itu ada di dekatnya saja bisa membuatnya merinding. Tidak, dia tidak ingin pergi ke sana.
"Berikan ponselmu"
"Untuk apa?"
"Jangan cerewet, berikan saja"
Sakura dengan wajah malasnya memberikan ponselnya pada Naruto. Naruto terlihat mengutak-atik ponselnya sebentar dan mengetikkan sesuatu di sana. Entah apa yang ia kerjakan, Sakura tidak ingin ambil pusing.
"Kau terlihat seperti penjahat yang licik. Itu membuatku khawatir"
Sakura memutar bola matanya malas, pria di depannya ini telah membuat persepsi kalau dia seakan-akan seperti penjahat ketahuan yang akan melarikan diri.
"Aku tidak akan kabur, dan aku akan membantumu untuk mencari cincin itu, kau bisa pegang kata-kataku"
Naruto tidak menjawab apa-apa, ia hanya mengembalikan ponsel Sakura dan menuju mobilnya. Namun saat Naruto ingin masuk ke mobil, Sakura malah menahan tangannya. Dan saat Naruto ingin protes, Sakura justru menundukkan kepalanya.
"Itu... Terima kasih karena sudah menolongku saat pingsan tadi, dan juga telah memberiku tumpangan. Aku akan bayar biaya pengobatanku, meskipun aku miskin aku tidak ingin merepotkan siapapun"
Naruto hanya mengangguk-angguk, dia tahu kalau Sakura adalah gadis yang punya harga diri tinggi, itu hanya akan mempersulitnya jika ia menolak. Jadi Naruto akan membiarkannya kali ini.
Naruto pun melajukan mobilnya dan meninggalkan daerah kumuh itu, namun sesaat, ia melirik dari kaca spion untuk melihat gadis merah muda itu yang dilihatnya berjalan miring seperti orang mabuk.
Naruto mendengus.
"Cih... kepalanya itu pasti terbuat dari batu. Aku benci dia"
.
.
.
Sakura jatuh dan ia hampir masuk ke tempat penampungan sampah, kalau saja tangan itu tidak cukup cepat untuk menangkap tubuhnya, ia pasti akan terjatuh ke dalam tumpukan sampah.
"Hiyaaaaa"
Grepp.
Sakura melihat seseorang menarik lengannya "kau"
"Aku akan mengantarmu, jangan bertanya! Sekarang tunjukkan saja di mana rumahmu?"
Sakura tidak percaya, laki-laki ini mau kembali hanya untuk mengantarnya dan memastikan ia baik-baik saja. Padahal Sakura tahu Naruto tadi sudah pergi dengan mobilnya sampai beberapa menit yang lalu.
Tapi... ini benar-benar seperti keajaiban dunia yang ke delapan. Naruto si evil ternyata punya sisi baik juga. Dan Sakura tidak tahu... haruskah ia tersenyum sekarang dalam rangkulan orang menyebalkan ini?
.
.
.
"Ini rumahmu?"
Naruto memperhatikan rumah di depannya, tidak terlalu besar dan lebih kelihatan seperti gubuk reot daripada disebut rumah.
Sakura menyadari tatapan Naruto yang sedang menilai rumahnya.
"Tidak sebagus rumahmu, tapi dia punya perasaan. Rumah ini ada penunggunya, jadi jangan menatapnya seperti itu sebelum dia marah"
Naruto menelan ludahnya, ia tidak suka hal yang berkaitan dengan mahluk supranatural. Itu menakutkan bahkan untuk bisa dilawan. Naruto bahkan lebih baik memilih pulang. Aura di situ sangat tidak nyaman untuknya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pula-"
PLAKK!
"arghhhh..."
Naruto membatu sesaat. Ia barusan mendengar suara teriakan wanita dan beberapa barang yang pecah. Dari jendela, Naruto bisa melihat siluet orang yang sepertinya sedang berkelahi, sampai beberapa saat yang ia dengar adalah suara wanita menangis yang sangat memilukan.
Naruto menatap Sakura. Ia ingin bertanya apa itu suara hantu? Namun sebelum ia bertanya Sakura justru mendesaknya untuk pulang.
"Aku sudah sampai di rumahku, sekarang kau sudah bisa pulang. Sekali lagi terima kasih karena sudah mengantarku"
Tanpa menunggu jawaban dari Naruto, Sakura berjalan dan membuka pagar rumahnya lalu menguncinya. Tidak membiarkan Naruto bertanya lebih jauh.
Setelah Sakura benar-benar masuk ke rumahnya. Naruto akhirnya pulang dan meninggalkan rumah Sakura, walau sebenarnya ia penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Sakura juga kenapa tadi terlihat panik? itu membuatnya penasaran.
xxx
Pagi harinya Naruto bangun dengan wajah malas. Tidurnya tadi malam tidak nyenyak. Dan ia sendiri tidak mengerti kenapa pikiranya terus berkelana memikirkan kejadian aneh di rumah Sakura. Itu yang membuat ia bingung. Kenapa ia harus repot-repot dan begitu peduli dengan kehidupan orang asing?
Aaah, Naruto sepertinya butuh berendam. Ia ingin menjernihkan pikirannya dan membuang semua hal yang berkaitan dengan Sakura. Gadis itu terlalu banyak membuatnya menderita akhir-akhir ini. Makanya ia ingin membuang kesialan itu.
.
.
Bunyi pisau yang beradu dengan sayuran, sup yang mendidih dan panggangan roti yang menimbulkan bunyi 'ting' menambah kegaduhan dari arah dapur.
Kushina tampak sibuk mengerjakan ini dan itu. Ia sedang menyiapkan sarapan untuk Naruto sebelum ia berangkat ke kantor.
"Pagi Bu"
"Pagi sayang..."
Kushina mengernyitkan alisnya. Ia menangkap jelas lingkaran hitam di bawah mata anak laki-lakinya itu. Kushina sedang menduga, Naruto mungkin memiliki beberapa masalah yang cukup membuatnya tidak nyenyak tidur tadi malam. Naruto jarang-jarang sekali menunjukan wajah stress, dan menurutnya itu pasti terjadi sesuatu. Mungkinkah Sakura? Ah... Kushina juga ingin tahu.
"Bagaimana dengan cincin itu Naruto? Kau sudah mendapatkannya?"
Telinga Naruto seketika berdenging, ia sedang tidak ingin membahas apapun perihal cincin, karena cincin itu memiliki kaitan dengan Sakura. Dan Naruto sedang alergi terhadap apapun dengan Haruno Sakura. Wajahnya berubah masam.
"Aku akan mendapatkannya kembali, ibu tenang saja"
Walaupun tidak bebohong sepertinya Kushina sudah tahu apa yang terjadi. Jadi itu masalahnya?
"Jangan terlalu memaksakan diri Naru, jika kau tidak bisa mencari cincin itu kau bisa melakukan sesuatu untuk menebusnya"
"Hm?"
"Nenek mu mulai menanyainya, jadi ibu akan berusaha menahanya paling tidak sampai pengobatannya selesai"
"Apa?"
"Menikahlah dengan gadis itu"
"APA! kenapa aku harus menikahinya? aku bahkan tidak mengenalnya bu"
"Bukankah namanya Haruno Sakura?" Naruto langsung menghentikan kunyahan pada roti lapisnya dan melotot pada Kushina seperti mengatakan 'seberapa banyak yang ibu tahu?'
Kushina terkekeh, Naruto sepertinya terlalu sibuk dengan perusahaan sampai ia begitu meremehkan pekerjaan ibu rumah tangga seperti Kushina. Darah Uzumaki ibunya itu adalah keingintahuan yang besar, ahhh... Naruto baru saja melupakan hal penting itu.
"Aku mugkin terlalu usil untuk mengagu privasimu, tapi setelah ia sampai kemari aku langsung menyelidiki identitasnya, hanya jaga-jaga jika putraku jatuh cinta pada gadis yang tidak baik"
"Ya.. tapi ibu benar, dia memang patut di waspadai bu" Kushina mengoles selainya. Dia tersenyum.
"Tapi aku cukup yakin dengan gadis itu, sepertinya dia gadis yang baik"
"Oh Hoo, ibu sudah tertipu! dengar bu, dia bukan orang baik, dia tidak akan berhenti bicara dan selalu melotot dengan mata hijaunya yang besar itu. Cih... keras kepala dan egois. Gadis itu, aku bahkan tidak tertarik untuk mengencaninya"
"Tidak ada salahnya mencoba, lagian ibu dan nenekmu sangat menyukainya. Kau juga harus mencoba menyukainya, gadis secantik Sakura mana boleh disia-siakan, ia bisa diambil orang kapan saja loh!"
Naruto menelan rotinya dengan susah payah. Tenggorokannya menjadi kering.
Ooh... ini buruk- kenapa semua yang buruk selalu terjadi setelah ia mengenal gadis merah muda itu. Astaga, masalah selalu datang bertubi-tubi menimpanya.
'Haruno Sakura... aku sangat membencimu'
TBC...
.
.
.
.
.
.
Huweh... chap 2 gue akhirnya jadi juga wkwkw. iya, setelah mengumpulkan niat buat ngetik dan waktu yang tak kunjung ada, akhirnya karna hibernasi covid 19 baru dah bisa up.
btw, sebelomnya, author mau tebar confeti dulu, karna baru ini berhasil update wahaha hore! hip hip horeeee
Eh, gimana, hancurkah? jelek? ga jelas? hina? hancur lebur? wkwkwk, author sudah siyap dengan segala hinaan kalian. Tuang di review bagi yang ikhlas, di flame kalau lagi gada kerjaan. diam2 di sukai tapi ga ripyu juga silahkan. gue cuma kangen NaruSaku. itu doang :)
btw, tengkyu yang udah ripyu, maap ga bales tapi dibaca kok. kalian yg tebaek :)
ps: Pet, buat fic sana :D
