Chapter 2
Ini adalah sebuah Fic yang khusus di persembahkan untuk para penulis di akun Author Icha-chan Ren.
•
…The Boy And The Power Of Magic…
Summary: Naruto bocah yang dianggap aib dan dibenci oleh warga desanya, karena dikira tidak memiliki chakra. Tetapi walaupun begitu, didalam tubuh Naruto terdapat kekuatan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Dunia Shinobi.
Naruto by Masashi Kishimoto
This story by Me
Genre: Advanture, Action, Fantasy, Friendship dan mencoba menyelipkan Humor(yang garing)
Pair: …X…
Rated: T - M
Warning: OC, OOC, GaJe, EYD Salah, Penggunaan Kata Tidak Sesuai, Typo(s), Miss Typo(s), Alur Berantakan, Semi-Canon, And Many More.
Enjoy it~
Prologue
Sebelumya di The Boy And The Power Of Magic:
Naruto diserang oleh tiga Anbu Ne suruhan Danzo. Itachi-Shisui sedang menjalankan misi bersama, karena itulah Naruto berada dalam bahaya. Tapi beruntung dia diselamatkan oleh seseorang di saat-saat terakhir. Naruto juga mulai memahami apa arti dari sebuah ikatan...
.
.
.
Chapter 2: Adik - Kakak
Keesokan harinya di kediaman Namikaze
Terlihatlah disebuah kamar. Seorang bocah yang berumur sekitar 7 tahun, sedang tidur dengan nyenyak diatas kasur miliknya dengan ukuran sedang.
Tok…tok…tok…
"Naruto, cepat bangun~", ucap sebuah suara dari balik pintu si pemilik kamar–Naruto–, yang sepertinya seorang wanita. Ketika sudah cukup lama tidak mendapat jawaban dari sang pemilik kamar, orang yang berada dibalik pintu pun dengan segera membuka pintu kamar tersebut.
Cklekk..krieett…
Pintu itu terbuka, dengan suara decitan pintu yang khas, dan menampilkan seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut berwarna merah sepinggul, serta pakaian berwarna putih dan hijau (A/N: semua penampilan character, saya samakan dengan di canon, agar mudah membayangkannya).
Seketika alis wanita tersebut berkedut menandakan kalau dia sedang kesal, karena melihat sang pemilik kamar–Naruto–masih tidur dengan nyenyak sambil memeluk gulingnya.
Dengan pelan, wanita tersebut berjalan kearah Naruto dengan rambut yang sudah melayang-layang mengerikan, dan mata yang sudah berubah menjadi merah seperti monster. Ketika sudah sampai di samping kasur, wanita itu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dan setelah merasa cukup, wanita itu langsung berteriak dengan keras…
"BANGUN NARUTO…!"
"WAAA…!", Naruto yang mendengar teriakan tepat diatas telinganya merasa kaget, dan karena refleks,,dia berguling kesamping yang berakhir dengan dirinya yang jatuh dari atas kasur dengan cukup keras.
Bugh. "Itte,,itte…", Naruto menatap kesal orang yang telah mengganggu acara tidurnya "..tidak bisakah Kaa-chan membangunkanku sedikit lebih lembut?", ucap Naruto meringis kesakitan, sambil mengelus punggungnya yang baru saja berciuman dengan lantai.
"Sudahlah, cepat mandi setelah itu sarapan, kalau tidak kau akan terlambat ke Akademi", ucap wanita tadi setelah kembali ke mode normalnya, yang ternyata adalah ibu Naruto, yang tak lain adalah Uzumaki Khusina.
Hmm..kenapa pergi ke Akademi?, jika kalian bertanya seperti itu,,tentu saja jawabannya untuk belajar. Yah..meskipun tidak memiliki chakra, Naruto tetap belajar di Akademi karena disuruh oleh kedua orang tuanya. Mereka bilang agar Naruto tahu dasar-dasar ninja, dan dapat melindungi diri jika bertarung dengan seorang walaupun begitu, Naruto juga tidak terlalu memermasalahkan nya, karena Naruto pikir mengetahui dasar-dasar dari seorang ninja itu juga sangat penting.
Dan jika kalian bertanya kenapa Naruto kemarin tidak berada di Akademi, tetapi malah berada di hutan yang berakhir bertarung dengan para Anbu?, ya..karena kemarin di Akademi diadakan latihan praktek menggunakan chakra. Karena Naruto pikir dia tidak akan melakukan apa-apa, jadi dia memilih pergi ke hutan untuk melatih Kenjutsu dan Taijutsu-nya agar semakin hebat.
"Baiklah..." jawab Naruto sekenanya. Setelah itu Naruto pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
.
.
.
Setelah beberapa menit mandi, akhirnya Naruto keluar dengan memakai kaos lengan pendek warna biru gelap dengan dibaluti jaket orange tanpa lengan serta memiliki hodie yang tidak dipakai, dan pada bagian punggung jaketnya terdapat lambang klan Uzumaki. Tidak lupa celana panjang warna orange yang memiliki saku di kedua sisinya. Setelah merapikan pakaiannya dan menata rambutnya yang berwarna merah dengan model jabrik, diapun melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Tak butuh waktu lama untuk Naruto bisa sampai diruang makan, dan dia dapat melihat bahwa semua anggota keluarganya sudah duduk di kursi meja makan, yang sepertinya sedang menunggu sesuatu.
"Pagi Naruto", sapa Minato yang pertama kali melihat kedatangan Naruto. Kemudian kembali membaca koran pagi yang ada di tangannya.
"Hmm,,pagi Tou-chan", Naruto memandang bingung anggota keluarganya setelah dia duduk di kursinya "apa yang kalian tunggu?, kenapa tidak segera makan?"
"Tentu saja kami menunggumu, Baka Onii-chan", teriak seorang bocah yang seumuran Naruto dengan kesal, karena sudah dibuat menunggu dari tadi oleh orang yang di panggilnya kakak itu.
Apa..? Kakak..?. Jika kalian bertanya seperti itu, maka jawabannya..ya, bocah tadi merupakan adik Naruto, namanya adalah Namikaze Menma. Bisa dibilang mereka berdua adalah kembar, karena mereka lahir hanya berselang beberapa menit. Mungkin yang membedakan mereka hanya warna rambut, warna kulit dan tiga garis kumis kucing dipipi. Jika Naruto memunyai rambut merah jabrik, kulit putih, tanpa kumis kucing dipipi,,,berbeda dengan Menma yang memunyai rambut kuning cerah jabrik, kulit tan eksotis, tetapi memiliki tiga garis kumis kucing di masing-masing pipinya.
Naruto yang mendengar teriakan dari Menma,,hanya memandang adiknya itu sebentar tanpa berkata apa-apa, kemudian mengalihkan pandangannya kearah makanan di depannya, lalu memulai memakan sarapannya.
Menma yang melihat Naruto hanya diam saja dan tidak menanggapi ucapannya, langsung mengerucutkan bibirnya. Naruto yang menyadari adiknya sedang kesal, langsung tertawa dengan puas didalam hati. Karena menurut Naruto, mengerjai Menma adalah sesuatu yang sangat menghibur bagi dirinya sendiri.
"Ngomong-ngomong.." kata Minato yang sudah memulai sarapannya, "tidak seperti biasannya kau bangun terlambat, Naruto"
Naruto yang mendengar suara ayahnya langsung kembali sadar, dan sukses membuatnya menghela nafas lelah, "entahlah, Tou-chan..mungkin gara-gara kejadian kemarin"
"Lalu bagaimana dengan lukamu,,apa masih sakit?" tanya Khusina khawatir sambil memandang luka di tubuh Naruto yang kelihatan masih baru.
"Sudah tidak apa-apa kok, Kaa-chan. Tubuhku hanya terasa pegal-pegal saja…" jawab Naruto sambil memijat leher belakangnya.
"Makanya Naruto-nii, jika tidak ada Itachi-nii dan Shisui-nii jangan pergi keluar desa. Berbahaya,,kau tahu dattebayo!", tidak mau ketinggalan, Menma langsung menasehati kakaknya itu, sambil menunjuk-nunjuk Naruto menggunakan sumpit makannya. Tidak sopan memang,,,tapi begitulah Menma.
Sedangkan Naruto hanya mengangkat kedua bahunya, "mana kutahu kalau Itachi-nii dan Shisui-nii sedang menjalankan misi bersama. Lagipula.." Naruto kemudian tersenyum bangga, sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan sebelah tangannya, "..kau tidak perlu khawatir, Otouto. Kakakmu ini sudah kuat"
Menma sendiri hanya mengibas-ibaskan sebelah tangannya, tidak peduli dengan ucapan kakaknya, "ya..ya.."
"Tapi memang begitu kenyataanya kan, Menma!"
"Terserah apa katamu-ttebayo~"
"Menmaaaa!"
Sementara itu, Minato dan Khusina hanya tersenyum melihat interaksi dari kedua anak mereka itu.
Sungguh..keluarga yang harmonis…
.
.
~TBaTPoM~
.
.
Setelah menghabiskan sarapannya, Naruto dan Menma berangkat ke Akademi.
"Kami berangkat dulu,,Kaa-chan, Tou-chan!" kata keduanya secara bersamaan.
"Ya. Hati-hati di jalan,,Naruto, Menma!"
Saat di jalan menuju Akademi, Naruto dan Menma selalu melakukan perbincangan kecil untuk menghilangkan kebosanan mereka. Bahkan sesekali Naruto menjahili Menma, dan itu sukses membuat Menma kesal, tetapi kekesalannya itu hanyalah sementara,karena dia tahu Naruto melakukan itu hanyalah sebatas candaan saja.
Saat mereka berdua sudah sampai di jalan pasar Konoha, tiba-tiba suasana ditempat itu langsung berubah. Tempat yang biasanya setiap hari selalu ramai itu tiba-tiba berubah sepi, ketika melihat dua bocah yang mereka anggap aib bagi desa–Naruto– dan juga monster–Menma–.
Jika kalian bertanya, kenapa Menma dianggap monster? Yaaah..karena Menma sebenarnya adalah seorang Jinchuriki dari Kyuubi no Kitsune. Didalam tubuh Menma terdapat setengah chakra dari Kyuubi, yang disebut-sebut sebagai yang terkuat diantara para biju. Para penduduk mulai takut dan menganggap Menma sebagai monster, mereka mengira kalau Menma tidak akan bisa mengendalikan chakra biju yang ada dalam tubuhnya, sehingga dia akan lepas kendali dan menghancurkan desa..sama seperti tragedi yang terjadi 7 tahun lalu.
Menma yang merasa adanya perubahan pada sekitarnya, langsung melirikkan matanya ke sekelilingnya. Dan benar saja, semua orang yang ada disana sedang memandang kearah mereka dengan pandangan yang berbeda-beda. Ada yang memandang marah, jijik, takut dan lain-lain.
"Hei Nii-chan, kau tidak merasa kalau kita sedang menjadi pusat perhatian disini-ttebayo?" kata Menma kepada Naruto dengan pelan.
Naruto yang mendengar bisikan Menma langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah sebentar. Kemudian kembali memandang lurus kedepan.
"Sudahlah Menma, abaikan saja. Bukankah setiap hari kita memang selalu dipandang seperti itu…", masih dengan berjalan..Naruto hanya menanggapi hal tersebut santai, seolah-olah hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi kehidupannya.
"Aku sudah mencoba untuk mengabaikan nya seperti yang kau lakukan, Onii-chan. Tapi tetap saja tidak bisa" keluh Menma.
Naruto yang mendengar keluhan Menma hanya bisa tersenyum kecil.
Bruuk...
"Aaww..", rintih Menma pelan, saat tiba-tiba ada seorang wanita yang–sepertinya sengaja–menabrak Menma dan sampai membuatnya jatuh.
"Apa yang kau lakukan monster?!, lihatlah! Barang belanjaan ku jadi berantakan!" bentak wanita tadi yang ditujukan kepada Menma. Sedangkan Menma yang mendengar bentakan itu hanya bisa duduk dan menunduk kan kepalanya.
"Maaf, Bibi. Sepertinya yang menabrak duluan adalah Bibi", Naruto mencoba mengutarakan pendapatnya sesopan mungkin, agar tidak menambah kemarahan dari wanita didepan nya ini.
Tetapi, sepertinya Naruto harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Karena wanita itu terlihat semakin marah setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Naruto tadi.
"Diam kau, aib desa! Kalian berdua sama saja, sampah bagi Desa Konoha..", wanita tadi memandang Naruto dan Menma dengan pandangan marah "..cepat kalian pergi dari sini! Aku sudah muak melihat orang seperti kalian!", lanjut wanita tadi dengan nada sinis.
Naruto yang memang tidak berniat menjawab nya, langsung menarik sebelah lengan Menma untuk bangun dan pergi dari tempat itu.
"Dasar aiib..."
"Monsteerr..!"
"Dasar sampah desa..!
"Mati saja sana!"
Mulai terdengar teriakan dari para warga yang ditujukan pada Naruto dan Menma, bersamaan saat keduanya mulai meninggalkan tempat itu.
"Jika saja kedua orang tua kalian bukanlah pahlawan Desa Konoha, aku yakin kalian berdua pasti sudah diusir oleh Sandaime-sama!"
Deg..! Tiba-tiba hati Naruto terasa sakit saat mendengar perkataan terakhir yang diucapkan oleh salah seorang warga. Mengalihkan pandangan nya kearah adiknya, dan dapat Naruto lihat bahwa adiknya sudah mengeluarkan air mata dari kedua matanya dengan sangat deras.
Seketika itu juga, emosi Naruto langsung naik. Kepalanya tertunduk dengan gigi-gigi nya yang bergemeletuk dengan keras, 'kenapa..? Padahal sudah kucoba untuk mengabaikan semua ucapan dan hinaan dari warga desa..' Jari-jari tangan kanan nya terkepal dengan kuat, hingga kuku jarinya memutih. '..tapi kenapa? Saat melihat mereka menghina dan membuat Menma menangis, aku tidak bisa menahan amarahku!?' batin dari bocah Namikaze berambut merah jabrik itu.
Naruto menggigit bibir bawahnya untuk mencoba meredam emosinya. Dia juga menghirup udara dan menghembuskan nya secara teratur, sehinngga dapat terlihat bahwa amarah nya mulai menurun.
Setelah itu, Naruto menarik lengan Menma kembali dan berlari dengan cepat menuju arah tujuan awal mereka, yaitu Akademi.
.
.
~TBaTPoM~
.
.
Sore hari di Desa Konoha
Oke, mungkin ini hari terburuk bagi Menma. Sebenarnya untuk Naruto juga sih,,meskipun dia hanya ikut terseret karena mencoba melindungi Menma.
Bagaimana tidak? Saat pagi hari mereka sudah mendapatkan masalah di pasar. Lalu saat di Akademi juga…
Flashback
Di dalam kelas Akademi, terlihat seorang pria dewasa yang mamiliki luka sayatan horizontal pada hidungnya sedang berdiri di depan kelas. Namanya adalah Iruka. Dia sedang menuliskan sesuatu di papan tulis dan sesekali menjelaskan materi di buku yang saat ini dia pegang.
Iruka membalikkan tubuhnya, sehingga menghadap pada anak didiknya. "..Nah, jadi begini anak-anak. Dulu-" penjelasan Iruka tiba-tiba terhenti saat pandangan kedua matanya jatuh pada seonggok tubuh yang sedang menidurkan kepalanya diatas kedua tangannya, yang ada diatas meja.
Sebelah alis Iruka berkedut dengan pelan, menandakan kalau dia saat ini tengah kesal. Dengan pelan dia berjalan kearah tempat tubuh bocah tadi yang memiliki rambut kuning jabrik. Sementara murid-murid disana hanya memandang bingung kearah Sensei mereka itu.
Saat sudah sampai di depan meja bocah tadi, Iruka mengangkat tangan kanannya cukup tinggi, kemudian…
Braakk!
"WAAA..!"
"Kyaa!"
..menggebrak meja dengan sangat keras, sehingga membuat bocah berambut kuning jabrik–yang ternyata adalah Menma–, bangun dari tidurnya dan berteriak karena ada yang mengagetkan nya.
Sebenarnya tidak hanya Menma sih, karena bocah perempuan di samping kanan Menma, yang memiliki rambut berwarna merah muda sepunggung juga kaget. Yah,,,karena dia saat itu sedang berbicara dengan teman perempuannya yang memiliki rambut kuning dan diikat model ponytail, yang keadaan nya duduk dibelakang perempuan berambut merah muda tadi. Jadi otomatis, bocah perempuan berambut pink itu tidak tahu kalau Sensei nya itu sedang menghampiri mejanya.
Sementara bocah laki-laki di samping kiri Menma yang memiliki rambut raven dengan model pantat ayam, hanya melirik sebentar bocah yang sudah dia anggap sebagai teman sedari mereka kecil, kemudian kembali memandang kedepan dengan gaya yang masih sama seperti tadi, menutupi mulutnya dengan kesepuluh jari yang di rapatkan disela-sela jarinya.
Kembali ke Menma
Dia saat ini hanya memandang kearah Sensei nya dengan pandangan bingung, "ada apa, Iruka-sensei?"
"Ha ha ha.."tawa Iruka datar, "..'ada apa', katamu. Cepat keluar dan berdiri di samping pintu kelas!" perintah Iruka dengan tegas.
"Haah?! Kenapa aku harus melakukan itu?!" teriak Menma tidak terima.
"Cepat lakukan!" teriak Iruka "itu hukumanmu karena berani tidur saat aku mengajar dikelas"
Menma yang ingin membalas kembali perkataan Iruka harus berhenti, karena kehilangan kata-kata "ta-tapi kan…"
"Sudahlah, atau kau mau kuberikan hukuman yang lebih berat, hemm?"
Glek. Menma hanya bisa menelan ludahnya saat mendengar 'penawaran' yang diberikan oleh Sensei nya itu.
"Sudahlah, Sensei..tidak usah terlalu keras pada Menma.."
Iruka mengalihkan pandangannya kearah asal suara tadi yang berasal dari bagian belakang, dan dapat dia lihat seorang bocah berambut merah jabrik yang bersuara tadi sedang duduk dibagian tengah dari jejeran tempat duduk, bersama seorang bocah dengan rambut hitam model daun nanas yang raut wajahnya selalu terlihat mengantuk. Dia ada disamping kiri Naruto–nama bocah berambut merah jabrik tadi–. Juga perempuan berambut pendek dengan warna indigo yang ada disamping kanannya, dia juga memiliki mata amethist.
"..mungkin saja Menma terlalu lelah sehingga dia tertidur dikelas. Benarkan, Menma?" tanya Naruto pada adiknya sambil tersenyum kearah Iruka.
Iruka kembali memandang Menma yang mengangguk kan kepalanya cepat, kemudian menghela nafas lelah, "dengar ya, Naruto..aku tidak peduli meskipun jika dia ini adalah adikmu. Jika ada salah satu muridku yang melakukan kesalahan, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghukumnya.." Iruka memandang satu persatu anak didik nya itu. Kemudian kembali berhenti pada Naruto, "jika kau masih mau membela adikmu, maka kau jaga akan aku hukum. Mengerti?!" ucap Iruka tegas.
"Err..kurasa tidak perlu, Iruka-Sensei. Hehehe" kata Naruto sambil cengengesan.
"Hm hm, baguslah kalau kau mengerti" ucap Iruka sambil mengagguk pelan. Tapi sesaat kemudian dia tesentak, karena teringat sesuatu.
"Oh benar juga.." Iruka kembali memandang Naruto, kali ini dengan senyum iblis.
Naruto yang melihat senyuman dari gurunya itu, entah mengapa merasakan bulu kuduk nya berdiri, 'sepertinya aku merasakan firasat buruk..' batin Naruto.
"Naruto!, karena kemarin kau tidak masuk ke Akademi, kau juga kuhukum berdiri di luar kelas. Kalian berdua, cepat lakukan!, kalau tidak.." senyum Iruka berubah menjadi psyco, "..kalian berdua akan kulaporkan kepada IBU kalian~"
GLEK!. Naruto dan Menma menelan ludah mereka sendiri sebanyak yang mereka bisa, saat mendengar ancaman dari Iruka. Demi kolor ayah mereka sendiri, mereka berdua bersumpah lebih memilih melakukan hukuman apapun daripada harus dilaporkan kepada ibu mereka!
"AKAN KAMI LAKUKAN, SENSEI!", teriak mereka berdua bersamaan. Setelah itu, keduanya pun langsung berlari dengan cepat keluar kelas.
Sreeet..Braaakk!
Iruka hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas lelah melihat kelakuan dari kedua adik-kakak itu. Iruka melirikkan matanya pada anak didiknya yang cuma terbengong melihat dua bocah Namikaze tadi.
"Baiklah,mari lanjutkan palajarannya!"
"HAI', SENSEI"
Flashback End
Saat ini Naruto dan Menma sedang duduk di jembatan kecil di pinggir sungai yang ada didalam Desa Konoha, sambil memandang matahari sore yang hampir tenggelam. Naruto dikanan sedangkan Menma dikiri. Kaki mereka dibiarkan bergelantungan hingga masuk ke dalam air sebatas mata kaki.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat murung?" tanya Naruto sambil memerhatikan raut wajah milik Menma.
"Tidak ada, Nii-chan. Aku hanya memikirkan sesuatu.."jawab Menma. Matanya memandang matahari sore di depannya.
Naruto tersenyum jahil, sambil memandang adiknya. "Hee~ apa kau sedang memikirkan hutang mu pada paman Teuchi?"
Menma memandang Naruto tajam, "Tentu saja bukan itu! Cih,,dasar toping ramen" teriak Menma kesal, sambil mengejek nama milik kakaknya.
"Oi..oi..namamu juga toping ramen, apa kau lupa hah?!" protes Naruto tidak terima.
"Hah..sudahlah tidak usah membahas itu. Aku sebenarnya sedang memikirkan perkataan dari warga desa tadi pagi", Menma memandang air sungai di bawahnya. Kilasan ingatan miliknya tentang hinaan para warga desa kembali muncul. Naruto yang mendengar itu hanya mengangguk mengerti. "Apa benar rupaku sangat buruk sampai warga desa memanggilku monster!?" Menma memandang pantulan dirinya di air sungai yang ada dibawahnya.
Duaagh. "Dasar baka-otouto, jangan pernah mengatakan itu lagi. Apa kau lupa kalau kita ini kembar? Itu sama saja kau menghinaku jelek, kau tahu!" teriak Naruto marah, setelah memukul kepala milik adiknya.
"Itteeii~Eh? Benar juga. Kalau begitu apa alasan mereka menyebutku monster?"
Naruto memandang langit sambil memegang dagunya, "Hmm..entahlah. Saat kita tanya pada Tou-chan dan Kaa-chan, mereka juga selalu mengalihkan pembicaraan seperti ada sesuatu yang sengaja mereka tutupi". Naruto mencoba mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu dalam hidupnya, "Kalau para warga memanggilku aib sih,,aku paham karena aku tidak memiliki chakra"
Naruto tiba-tiba tersentak seperti menyadari sesuatu. "Oh! Apa mungkin mereka memanggilmu seperti itu karena dekat denganku, yang merupakan aib desa ini? Kalau memang itu alasannnya kau sebaiknya jangan dekat denganku lagi, Menma"
Buaagh. "Itte-tte. Apa yang kau lakukan, Otouto?!"
"Sekarang kita impas..", gumam Menma setelah memukul kepala kakaknya itu. Dia meniup kepalan tangan kanannya yang mengeluarkan sedikit asap, menandakan betapa kerasnya dia tadi memukul.
Naruto memandang Menma sengit. "Jadi maksudmu kau balas dendam karena aku memukul kepalamu tadi hah?!"
Menma memandang Naruto sambil menghela nafas. "Tidak, bukan itu. Maksudku,,,jangan pernah mengatakan itu lagi. Kita ini saudara..mana mungkin aku menjauhimu hanya karena alasan tidak masuk akal seperti itu. Lagipula.." Menma tersenyum, kemudian memukul pelan bahu kiri Naruto dengan kepalan tangan kanannya "..jika aku dipanggil monster hanya karena dekat denganmu, bagaimana dengan Sasuke, Sakura, Shikamaru dan teman-teman lainnya yang juga dekat denganmu. Kenapa para warga tidak menyebut mereka monster? dan hanya aku saja yang dipanggil begitu"
Naruto terdiam sesaat, memikirkan perkataan dari adiknya. Lalu tersenyum menanggapi perkataan Menma barusan. "Heeh~ aku tidak menyangka adikku bisa berkata seperti itu juga..."
"Tentu sa- tunggu dulu. Jadi kau pikir selama ini aku bodoh sehingga tidak bisa berkata keren seperti tadi hah!?"
"Hmm..begitulah~"
"Sialan kau, Naruto-nii!"
"Hahahah..oke oke, aku minta maaf. Hahaha.."
Naruto berhenti tertawa, kemudian memandang serius matahari yang hampir tenggelam. "Tapi yang jelas, Menma..mungkin karena kita masih kecil, Tou-chan dan Kaa-chan menyembunyikan sebuah rahasia dari kita. Dan aku yakin, suatu saat nanti kita pasti akan mengetahui sendiri rahasia itu"
Menma menggangguk pelan yang kemudian juga memandang matahari didepannya serius. "Ya aku juga percaya, kedua orang tua kita pasti punya alasan tersendiri untuk menyembunyikan sesuatu dari kita. Dan mungkin..jika masa nya telah tiba, Tou-chan dan Kaa-chan pasti akan memberi tahu kita kebenaran nya."
Keduanya saling terdiam cukup lama. Menma masih memandang matahari didepannya,,,tapi pandangannya sedikit melembut dan sudut bibirnya sedikit terangkat, "Naruto-nii, terima kasih.."
Naruto melirikkan matanya pada adiknya yang duduk disebelah kirinya itu. "Untuk apa?"
"Terima kasih karena telah menjadi kakak yang hebat bagiku.."
Naruto terdiam beberapa saat, lalu terkekeh pelan. Kemudian dia menarik leher Menma dengan lengan kirinya, lalu mengacak rambut kuning jabrik milik adiknya itu sedikit keras dengan tangan kanannya, "Ya. Dan terima kasih juga untukmu, karena telah menjadi adik yang mau mendengarkan ucapan dari kakak yang payah sepertiku.."
Keduanya pun tertawa bersama sambil menikmati momen yang belum tentu dapat mereka berdua rasakan lagi…
Sungguh..Adik-Kakak yang saling melengkapi…
.
.
.
To Be Continued
[A/N]:
I'M COME BACK!. Hai..saya kembali dengan fic alakadarnya ini. Hmm..up fic jeda cuma satu hari, apa ini termasuk update kilat? Mungkin…
Yang pertama, saya berterima kasih karena ada mau yang membaca fic ini, juga yang sudah mau memberi saya Review. Saya hargai itu…
Yang kedua, saya di chapter ini sedikit menjelaskan penampilan karakter dific ini. Yah..karena dichap 1 saya menggunakan sudut pandang Naruto, gak banyak yang bisa saya jelasin. Lalu juga tentang Naruto dan Menma,,,Menma disini merupakan Naruto di canon..mulai dari penampilan, sifat, juga gaya bicaranya yang selalu ditambahi dengan dattebayo atau -ttebayo.
Sedangkan Naruto disini..mungkin masih ada sifat konyol nya, tapi nanti akan lebih saya tonjolkan ketenangan nya sih..
Lalu ketiga, disini saya juga kasih tau kalau Menma adalah jinchuriki dari setengah Kyuubi. Kenapa cuma setengah? dan dimana yang setengah? Yaah..itu akan dibahas nanti, tapi masih lama,,,mungkin. Karena memang itu ada hubungannya saat di season 2 nantinya, tapi itu masih lama. Yah..do'a in aja saya tetap sehat supaya bisa nyelesaiin ini fic.
Jujur saja,,,ini merupakan fic jangka panjang yang memerlukan kira-kira 4 sampai 5 season. Jadi tolong do'a kan saya supaya bisa nyelesaiin ini fic. Hmm..mungkin itu saja dari saya, karena gak ada lagi yang perlu dibahas.
.
.
.
Preview for the next chapter:
"Jangan berdiri didepan pintu,,,kalian bisa menghalangi orang yang ingin masuk. Cepat kembali ketempat duduk kalian!" / "Eh? Oi oi Hinata. Kenapa kau malah tidur? Aku dari tadi bicara padamu, kau tahu?" / "ngomong-ngomong..tadi paman hebat juga dalam menggunakan pedang. Apa paman bisa mengajariku?!" / "Hidupku yang dulu..adalah sebagai pahlawan pelindung dunia" /
Selanjutnya, di The Boy And The Power Of Magic: Chapter 3 Energi Sihir
"Maksud paman tentang 'itu'..?" / "..ya, kau memiliki Energi yang sama seperti ku, Energi Sihir atau Mana."
•
•
Please favorit and follow me..!
Give me a Review..?
Tolong berikan saya kritik, saran dan dukungan yang baik..agar saya bisa memerbaiki cerita ini untuk kedepan nya..
Tertanda. AkaRyuu666. (29-03-2020)
