Aku membencimu.

Miyuki terlonjak kaget, ia terbangun di tengah malam. Matanya samar-samar menangkap bayang-bayang langit-langit kamar apartemennya. Nafasnya berat dan keringat membasahi tubuhnya seperti habis berolaharaga. Ia segera duduk di atas kasurnya. Mencoba menenangkan diri dan mengatur nafasnya. Ia melirik jam digital di meja kerjanya.

01.20 am.

Miyuki menghela nafas. Ia mengelap wajahnya kasar. Sudah lama sekali ia tidak memimpikan mimpi itu. Empat tahun yang lalu. Sebuah terjadi insiden yang dikarenakan ia kurang dapat mengendalikan insting alphanya. Tangannya memijit pangkal hidungnya.

Aku membencimu.

Miyuki kembali mencoba mengingat mimpinya itu. Empat tahun yang lalu seseorang mengucapkan kata-kata itu penuh dengan rasa amarah dan benci. Seseorang yang terlibat dengannya. Anehnya Miyuki sama sekali tidak ingat dengan wajah, suara, ciri-ciri tubuh, bahkan aroma pheromone orang tersebut.

Miyuki kembali menghela nafasnya panjang. Mengingat insiden empat tahun yang lalu dimana dirinya tersadar, kala ia tengah tergeletak di lantai sebuah lorong dikampusnya. Pakaiannya berantakan. Saat itu ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tiba-tiba terdapat rasa besi muncul di lidah pengecapnya. Yang lebih anehnya Miyuki sama sekali tidak bisa mengingat kejadian sebelum ia keluar dari pintu toilet.

Instingnya mengatakan dirinya sudah melakukan sesuatu. Rasa penasaran, khawatir, takut bercampur di dadanya. Mulai dari hari itu hingga saat ini ia mencoba mengingat dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Miyuki sudah mencoba keras mungkin mengingat apa yang terjadi dihari itu. Dan berakhir dengan sebuah sakit kepala yang luar biasa hingga ia hilang kesadaran. Sialnya hari itu cctv di kampus mati dikarenakan adanya maintenance berkala bahkan tidak ada saksi mata.

Nyut...

"ugh..". Miyuki menarik rambutnya agak keras dengan salah satu tangannya. Sakit kepalanya mulai kambuh lagi. Sepertinya terlalu mengingat kejadian tempo lalu. Ia memilih bangkit dari kasurnya dan berjalan ke arah dapur.

Ia mengambil gelas kaca tanpa pegangan lalu mengisinya dengan air putih dan langsung meminumnya. Entah mengapa tenggorokan terasa sangat kering. Setelah itu ia segera kembali ke dalam kamarnya. Ia menatap kasurnya sejenak dan menghela nafasnya. Rasanya ia tidak bisa lanjut tidur lagi. Miyuki beranjak ke atas meja kerjanya dan menyalakan laptopnya. Sepertinya ia memilih mengerjakan pekerjaan yang ia sengaja bawa pulang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kuramochi menyalakan dan menghisap rokoknya sambil menikmati pemandangan malam dan taman bunga mini miliknya di rooftop cafe. Alisnya pendeknya menukik tajam hingga kerutan di atas pangkal hidungnya tercetak jelas. Mengingat kejadian beberapa saat yang lalu ketika Sawamura pulang dengan keadaan tidak beres.

Sawamura pulang dengan nafas nyaris putus. Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya gemetar. Panik. Ia dan Ryousuke segera menghampiri adik tingkatnya itu. Tapi Sawamura malah berlari ke toilet cafe yang berada di lantai 2 dan muntah. Dengan keadaannya yang seperti itu ia mengatakan dirinya baik-baik saja namun beberapa detik kemudian tubuhnya oleng dan kehilangan kesadaran.

Kuramochi mengumpat dan mengendong Sawamura ke dalam kamarnya. Tubuh anak itu panas tapi Sawamura menggigil kedinginan. Ryousuke hendak membawa Sawamura ke dokter, tapi anak itu tiba-tiba sadar dan memohon untuk tidak dibawa ke dokter. Kebetulan malam ini Haruichi mampir ke cafe. Begitu melihat keadaan Sawamura pemuda pink itu cemas dan segera merawat Sawamura.

Pasti ini ada hubungannya dengan kejadian empat tahun yang lalu.

Insting 'Seorang kakak' milik Kuramochi sangat tajam. Sawamura adalah orang yang hangat, ceria, terbuka, dan jujur. Tapi ada satu hal yang tidak pernah ia ceritakan. Cerita dimana hampir dua bulan ia mengurung diri di kamar dan nyaris mati. Serta dosa yang tidak bisa Sawamura lupakan dan ia terus menyalahkan dirinya sendiri sampai sekarang. Empat tahun yang lalu dan selama dua tahun pertama yang lalu adalah masa terberat bagi anak itu.

Berulang kali dan tidak terhitung sudah seberapa banyak Sawamura mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Beruntung teman-temannya langsung mengetahuinya dan dapat mencegahnya. Serta Sawamura sudah memutus kontak dengan kerabat dari orangtuanya yang selalu membantunya. Inilah alasan utama Kuramochi dan Ryousuke mengajaknya—memaksanya—untuk tinggal bersama dan bekerja di cafe and bar ini waktu dua tahun yang lalu.

Siapa nanti yang akan mengawasi bocah nekat ini huh?

Satu tahun.

Satu tahun lamanya pemulihan fisik dan mental Sawamura sejak ia bekerja di sini. Tiga tahun lamanya warna emas yang redup nan kosong itu perlahan ada nyala kehidupan. Tiga setengah tahun lamanya senyum kecil mengembang dari wajah Sawamura. Dan sekarang semuanya kembali ke titik awal. Emas kembali redup dan hampa. Respon Sawamura kembali kosong dan datar.

"Sialan.", umpat Kuramochi kesal. Ketidaktahuannya ini tidak bisa membantu Sawamura. Tangannya mengepal keras.

"Kesal?", sahut Ryousuke tiba-tiba muncul dari belakang Kuramochi. Kuramochi langsung menoleh cepat.

"Ryou-san.. To-tolong jangan datang seperti itu.", ucap Kuramochi sambil memegang dadanya. Ia terkejut. Jantungnya berdegup kencang. Bahkan suara langkah kaki dari setan kecil itu tidak terdengar. "lama-lama kau bisa membuatku mati berdiri.", tambahnya sambil menghela nafas.

"Hahaa menarik. Aku ingin melihatmu mati berdiri Youichi-kun.", canda Ryousuke sambil berjalan mendekati Kuramochi. Kuramochi tidak membalas candaan itu ia kembali menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya. "Ma, untuk saat ini Sawamura sudah tidur dengan tenang mungkin efek obat penenang. Haruichi juga sudah tidur.", jelas Ryousuke.

"Untuk saat ini.. Kah?". Kuramochi menatap rokok ditangannya dan memainkannya.

"Sawamura belum menceritakan apa pun. Jangan cemberut seperti anak kecil.", kata Ryousuke mengingatkan sambil tersenyum simpul.

"So-soal itu aku tahu! Aku tidak akan memaksanya untuk cerita! Tapi..". Suaranya tercekat. Kesal. Kuramochi mengeraskan wajahnya.

"Tapi.. Saat ini kita tidak bisa apa-apa, bukan?", lanjut Ryousuke. Pahit. Kenyataan yang harus diterima. Bahkan Haruichi saja tidak bisa membujuk Sawamura untuk bercerita. Anak itu benar-benar menutup diri soal kejadian hari ini dan empat tahun yang lalu. "Youichi-kun, temani aku minum malam ini.", ajak beta merah muda itu.

"huh?"

"Temani aku. Ku traktir."

"tapi besok—"

"Cafe tutup. Saa, ayo!"

Kuramochi yang masih loading hanya mengangguk dan mengikuti Ryousuke pergi ke lantai 1 dan mereka minum-minum hingga jam 2 pagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"H-huh? Kazuya wajahmu parah sekali.. Kau kenapa? Patah hati?", ucap Narumiya kaget melihat sosok yang ia ajak makan malam di sebuah kedai ramen datang dan berjalan menuju meja yang sudah diduduki Narumiya.

"Ma, tabunne.". Miyuki mendengus, sambil duduk di depan Narumiya dan merapikan barang bawaannya serta melepaskan jaket coatnya. Pakaian Miyuki cukup rapih dengan kemeja polos lengan panjang serta dasi dan beberapa name tag terkalung di lehernya dan satu diselipkan di kantong kemejanya serta beberapa pena juga terselip di sana. Ia mengenakan celana bahan coklat tua dan sepatu kets tanpa tali berwarna hitam.

Namun wajahnya berbanding terbalik. Lelah. Kantung mata yang hitam di bawah matanya terlihat jelas walau terhalang oleh kacatamanya. Rambut yang agak berantakan. Beberapa helai rambut di bawah dagu yang baru tumbuh. Mungkin sehabis pulang dari sini Miyuki akan mencukurnya. Wajah yang agak pucat serta kantuk tercetak jelas.

"Hee.. Pembohong.", gerutu alpha blonde itu. Miyuki membalasnya dengan tawa kecil. Tak lama pelayan di kedai itu datang dan mencatat menu yang mereka pesan. Setelahnya pelayan itu pergi ke dapur dan membawakan dua ocha hangat ke meja mereka dan kembali mencatat pesanan lain dari pelanggan lain yang datang.

"Naa.. Mei.", panggil Miyuki. Ia memandang sendu asap tipis yang dikeluarkan ocha hangat itu. Tanganya hati-hati meraba lekukan gelas keramik tepat didepannya. Narumiya langsung menatap Miyuki dengan serius. "akhir-akhir ini 'itu' kembali muncul.", lanjut Miyuki pelan.

"Mimpi tentang empat tahun yang lalu, Kah?", tanya Narumiya hati-hati. Miyuki tidak merespon. "kau.. tidak overdosis meminum analgesik dan tranquilizer kan? Jangan melebihi dosis yang diberikan dokter.".

"Aku sama sekali tidak memakainya.", jawab Miyuki dengan senyum kecil.

"Benarkah? Sedikit saja kelebihan itu bisa jadi anestetikum dan kalau ketergantungan malah jadi narkotika. Nyawamu bisa jadi taruhannya, Kazuya.", ucap Narumiya serius namun ada sedikit cemas di mata birunya. Miyuki membenarkan letak kacamatanya.

"Dakara tte, sudah kubilang. Aku tidak memakainya! Menyentuhnya saja tidak!", balas Miyuki kesal sepertinya Narumiya tidak mempercayai kata-katanya. "aku hanya akan memakainya kalau keadaannya benar-benar darurat.", tambahnya cepat meyakinkan. Narumiya diam dan menatap Miyuki dengan penuh selidik.

"Haah.. Baiklah aku percaya. Tapi kau setiap hari masih memakai suppressant khusus itu kan?", tanya Narumiya lagi. Tubuh Miyuki tiba-tiba kaku. Ia tidak bisa mengelak. "Hora! Kazuya sudah berapa kali aku bilang obat itu punya efek samping yang bahaya jika terus menerus kau minum! Walau sekarang efeknya hanya sebatas rasa kantuk yang luar biasa. Tapi nantinya—"

Takut.

"Mei. Aku..."

Aku tidak ingin kejadian itu terulang. Aku takut.

"Kazuya dengar, obat itu hanya boleh dipakai saat empat tahun yang lalu. Sekarang kau pasti—". Narumiya berhenti. Badan dan mulutnya kaku. Kata-katanya ia telan kembali. Tangannya mengepal keras. Rasanya ia ingin memukul meja sekeras mungkin. Ia ingin berteriak.

Aku takut akan diriku sendiri. Aku takut kehilangan kendali. Karena itu...

Miyuki tersenyum lembut. Pahit di mulutnya amat terasa. Warna amber yang sendu dan juga kesepian. Rapuh. Seakan-akan hancur jika disentuh.

Terimakasih.

"Kazuya.. Kau—"

"Hai, pesanan anda satu mangkuk besar kastu ramen dan satu mangkuk spicy curry ramen dengan tambahan kaldu ayam. Dan dua gelas bir!"

Aku terlalu takut.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kominato Haruichi. Pemuda berparas manis itu tengah diam berdiri di depan pintu apartemen salah satu sahabatnya, Sawamura Eijun. Hampir satu setengah jam ia berdiam diri dan selama itu beberapa orang meliriknya curiga. Tapi ia tidak peduli. Satu bulan lebih empat minggu kurang tiga hari Sawamura tidak menghubungi Haruichi. Semua chat Haruichi dan Furuya sama sekali tidak dibaca dan dibalas. Bahkan kata teman sekelasnya Sawamura belakangan ini tidak pernah hadir lagi di pertemuan semua mata kuliah ia ambil.

Bagaikan hilang tanpa jejak. Untungnya petugas keamanan di apartemennya melihat Sawamura beberapa kali turun untuk membuang sampah atau sekedar mengambil beberapa paket yang biasa dikirimkan kerabat orangtuanya.

Cemas.

Haruichi membulatkan tekad hari ini ia harus menemui sahabatnya itu. Ia tidak mengajak siapa pun bahkan Furuya. Namun ia belum berani mengetuk pintu. Dengan menguatkan hatinya ia perlahan mengetuk.

Tok... ... Tok... Tok... Tok...

"E-eijun-kun! Kau di dalam? Nee... Eijun-kun! Tolong buka pintunya.", pinta Haruichi dengan suara agak keras dan nada khawatir. Tidak ada sahutan balik. Haruichi menunggu 15 menit tapi tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Ia kembali mengetuk dengan lebih keras.

Tok... Tok... Tok...

"Eijun-kun, ini aku Haruichi. Tenang saja aku tidak mengajak Furuya, bahkan aniki dan Kuramochi-senpai.". Perasaan cemas kian menjadi-jadi. Pikirannya mulai memikirkan hal yang buruk-buruk. Haruichi menggelengkan kepalanya kuat.

Tidak! Eijun-kun pasti tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh.

Alis Haruichi menekuk tajam. Ia sangat mencemaskan keadaan sahabatnya itu. Keadaan Sawamura sangat jauh dari kata baik. Dengan penuh rasa gelisah dan putus asa, Haruichi mencoba kembali mengetuk pintu itu.

Tok—

Tiba-tiba pintu apartemen itu terbuka. Sedikit lega menghampiri Haruichi, namun beberapa detik kemudian pemuda berambut merah muda itu terkejut dan hatinya teriris. Sawamura terlihat kacau. Mata emasnya yang redup dan pandangannya kosong. Kantung mata yang parah seperti berhari-hari tidak tidur dengan tenang. Rambut coklat gelapnya kusam dan kusut. Terlebih lagi sahabatnya terlihat kurus. Dan satu hal yang menarik perhatiannya adalah perban yang melilit di leher Sawamura.

Dalam diam Sawamura mempersilahkan Haruichi masuk. Haruichi sendiri mengikuti Sawamura masuk ke dalam apartemen kecil sederhananya itu. Omega manis itu menangis dan menjerit dalam hatinya saat melihat Sawamura berjalan pelan dan lemas. Apartemen Sawamura hanya memiliki satu kamar tidur, dapur sederhana, satu toilet dan kamar mandi, dan satu ruang tengah yang terdapat meja segiempat dengan kaki pendek.

Tubuh Sawamura sempat oleng akan jatuh akibat tersandung, tapi dengan sigap Haruichi menolongnya. Pemuda berambut merah muda itu menyuruh Sawamura duduk di ruang tengah. Lalu ia melepaskan jaket dan tasnya dan pergi ke dapur itu membuat teh.

Tanpa diduga apartemen Sawamura cukup bersih. Sepertinya pemuda itu selalu mencari kegiatan lain seperti membersihkan apartemennya, mengurus pakaiannya, atau hal lain yang bisa dikerjakan di dalam apartemennya. Namun Haruichi tersenyum miris ketika didapatinya banyak sekali sampah bungkus mie instant di tong sampah yang berada di dapur. Sambil membuat teh Haruichi menimbang-nimbang kata-kata yang akan ia ucapkan.

Setelah selesai membuat teh Haruichi segera membawanya ke ruang tengah dan menyajikannya. Tapi tak ada satu pun kata-kata yang tepat untuk keadaan sekarang. Haruichi duduk di depan Sawamura yang tengah menatap kosong teh hijau yang disajikan. Hening dan sunyi. Tidak ada yang membuka suara.

Haruichi meremas celananya kuat. Ia harus mencairkan suasana. Tujuannya ke sini bukan hanya menonton Sawamura. Sawamura adalah orang yang penting baginya dan sahabat pertamanya. Kalau seperti ini terus.

"Eijun—"

Brak...

"ugh.."

Tiba-tiba saja Sawamura bangkit berdiri. Salah satu tangannya menutup mulutnya. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Keringat dingin juga terlihat meluncur dari kepalanya.

"E-Eijun?", panggil Haruichi yang bingung. Bukannya menjawab Sawamura malah berlari ke arah toilet. Ia membuka kasar pintu toilet dan terdengar Sawamura membuang isi perutnya. Haruichi langsung bergegas mengikuti Sawamura ke toilet.

Tubuh Sawamura bergetar pelan. Haruichi memilih menepuk-menepuk dan mengelus pelan punggung Sawamura. Mencoba menenangkan. Hanya cairan asam lambung yang dimuntahkan Sawamura itu membuat Haruichi makin sedih. Berarti dari tadi atau bahkan dari kemarin malam Sawamura belum makan.

Setelah selesai Sawamura benar-benar lemas. Ia memaksakan tubuhnya berdiri. Kepalanya terasa berat dan pening. Tubuhnya merosot jatuh. Diambang kesadaran Sawamura melihat wajah panik Haruichi yang terus memanggil namanya dan semuanya gelap.

"EIJUN-KUN!", teriak Haruichi dengan panik ia menahan badan Sawamura agar tidak langsung jatuh ke lantai. Kemudian dengan badannya yang mungil Haruichi memapah Sawamura keluar dari toilet. Kemudian ia membaringkan Sawamura dengan pelan di ruang tamu. Kepala Sawamura terasa panas tapi tangan dan kakinya terasa dingin.

Haruichi dengan panik segera menghubungi kakaknya, Kuramochi, dan Furuya. Setelah tiga puluh menit Furuya yang datang pertama dengan tergesah-gesah bahkan ia salah memakai alas kaki. Begitu melihat Furuya, Haruichi menangis histeris. Otak Furuya yang minim di situasi seperti ini menjadi macet. Ia tidak tahu harus bagaimana. Tak lama Ryousuke dan Kuramochi datang dengan wajah tidak kalah panik.

Ryousuke membawa mobilnya dan ia menjemput Kuramochi baru ke tempat apartemen Sawamura. Kuramochi langsung menggendong Sawamura di punggungnya dan segera menuju ke mobil. Ryousuke meminta Furuya dan Haruichi menyusul dengan menggunakan bus serta meminta penjelasan Haruichi nanti yang lebih lengkap di rumah sakit. Ia langsung pergi ke mobil dan membawa mobilnya ke rumah sakit terdekat.

Sesampainya di rumah sakit Sawamura langsung dibawa ke unit gawat darurat. Sedangkan Kuramochi dan Ryousuke dilarang masuk. Ryousuke menghubungi Furuya dan Kuramochi berjongkok di depan pintu unit gawat darurat itu. Ia terus meyakinan diri dengan terus mencoba berpikir positif.

Semuanya akan baik-baik saja. Kumohon.

Lima belas menit kemudian Furuya dan Haruichi sampai. Jejak air mata masih membekas di wajah Haruichi tapi dirinya kini lebih tenang. Dan ia mulai menceritakan apa yang terjadi hari ini di apartemen Sawamura.

"Jadi kau sama sekali tidak tau apa penyebabnya?", tanya Ryousuke pelan. Haruichi hanya menggangguk pelan. "Sawamura juga akhir-akhir ini tidak menghubungiku. Aku tidak terlalu memperhatikannya.", tambahnya. Ryousuke sedang sibuk membuka cafe bar miliknya.

"Sialan.", umpat Kuramochi.

"Ano, kurasa Sawamura pernah membatalkan janji mengerjakan tugas bersama di perpustakaan dengan ku dan Haruichi. Padahal dia sendiri yang minta.", ucap Furuya dengan pelan. Akhirnya alpha tinggi itu buka suara. Seketika semua orang menoleh ke arahnya.

"Kapan?", tanya Ryousuke cepat.

"Sekitar dua bulan yang lalu mungkin. Dan setelahnya ia tidak menghubung-hubungi ku lagi.", jawab Furuya dengan tatapan datar.

"dua bulan yang lalu?... Ah, masaka... Yang tiba-tiba siangnya ia batalkan? Dia bukannya bilang dia lupa kalau hari itu ternyata jadwal ia ke lab?", kata Haruichi pelan dengan raut bingung.

"Tapi setelahnya tidak ada kabar padahal kita sudah di perpustakaan.", keluh Furuya. "Tapi bau Sawamura agak berbeda dari biasanya.", ucap Furuya dengan polos. Namun sekian detik kemudian semua yang ada di sana membeku kaku. Perban yang ada dileher Sawamura mungkin saja tanda pair.

Satu jam.

Sawamura kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap. Kemudian dokter yang menangani Sawamura mengajak empat orang itu untuk berbicara di ruangannya.

"Masa kritisnya sudah dilalui. Sepertinya Sawamura-kun kurang makan makanan yang sehat. Ia mengalami radang tenggorokkan. Sakit kepala dan panas di area kepala itu akibat radang tenggorokan. Sawamura-kun tinggal sendiri? Atau diantara kalian salah satu teman kamarnya?" tanya dokter itu dengan tenang.

"E-Eijun-kun tinggal sendiri di apartemen.", jawab Haruichi pelan.

"Sawamura-kun sudah menikah atu sudah punya pasangan? Pacar mungkin.", tanya dokter itu lagi dengan hati-hati. Keempat orang itu saling melirik kemudian mereka menggelengkan kepalanya. Entah mengapa laju denyut jantung mereka berlomba. Karena mungkin apa yang diucapkan Furuya barusan bisa saja benar dan ada hubungannya.

Dokter itu berdeham. Lalu membaca lagi hasil pemeriksaan atas nama Sawamura Eijun. Wajahnya berubah menjadi serius. Ia sendiri tidak yakin harus menyampaikan hal ini ke teman-teman Sawamura. Dokter itu menggambil nafas panjang. Lalu menatap dengan serius ke arah mereka.

"Kami melakukan pemeriksaan USG pada Sawamura-kun.". Dokter itu memberikan jeda.

"Janin berumur 7 minggu ditemukan di perut Sawamura-kun."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

end or continue

Oke nice! cut!.

wkwkwk Doumo kuroshironekore desuuu! nih lanjutannya wkwk wuuah kuro tak sanggup baca ulang...

bagaimana dengan chapter ini? harus ada lanjutannya?

apa udah gini aja? /kabur

maafkan kuro yang muter balik sifat Kazuya wkwkwkwk TIDAK JADI FAKKU BOY or HOTTY BOSS hahahaa terlalu dark kuro ga bisa nyiksa Eijun lebih dari ini(?)

terimakasih sudah mau baca cerita gaje ini huee...

balasan review:

Akakuro dan Bbbfang : terimakasih banyak sudah mau baca cerita kuro. iya ini sudah lanjut hehehe. Kuro akan berusaha untuk menamatkan cerita ini wkwk

yuuinoe : Yokkata! EH KENAPA TERIAK GAJE?! ADA APA?! oya oya oya iya! gemesin! sayangnya Kazuya ga mau bagi bagi huuee... Douzo ini lanjutannya semoga tidak mengecewakan/kuro lagi gali kuburan. Hai Ganbarimasu! daijoubu kekko ii yo!