Hari itu setelah pendaftaran pernikahan, Kyu Hyun langsung membawa Sung Min ke apartemannya. Setelah sebelumnya ia membawa istri kecilnya itu berpamitan dengan ayah mertuanya. Diiringi tangis haru, gadis kelahiran Januari itu terlihat enggan berpisah dengan sang ayah yang selama ini selalu bersamanya. Namun dengan sedikit bujukan dari sang ayah—yang juga terlihat sedikit enggan berpisah, Sung Min akhirnya benar-benar ikut pergi dengan Kyu Hyun. Pria yang telah resmi menjadi suaminya.
"Masuklah." Kyu Hyun melepaskan sepatunya asal di depan pintu masuk dan menggatinya dengan sandal rumahan, setelahnya lelaki itu melenggang masuk begitu saja meninggalkan Sung Min yang menatapnya kesal.
Sung Min merapihkan sepatu Kyu Hyun dan miliknya sebelum melenggang mengikuti suaminya itu. Menyisiri lorong yang tak begitu panjang dari pintu masuk menuju ruang tamu yang cukup besar, matanya terbelalak takjub dan mulutnya membentuk linggaran kecil yang lucu. Dasar orang kaya, innernya memaki.
"Duduk."
Sung Min melirik jengkel melihat Kyu Hyun yang memerintahnya dengan tidak sopan, namun biar begitu ia tetap mengikutinya. Menarik kopernya dengan susah payah, Sung Min mendekati Kyu Hyun yang sudah duduk dengan santai di sebuah sofa. Dasar laki-laki menyebalkan.
"Kita lewatkan perkenalan, aku rasa seharusnya kau sudah tahu siapa aku." Sung Min baru saja mendaratkan bokongnya di sofa saat lelaki di hadapannya itu membuka mulut. Memangnya siapa dia sampai aku harus repot-repot mengetahuinya.
.
.
Forced Wedding
.
©Jejae Present
.
Cho Kyu Hyun
Lee Sung Min
.
Romance / Drama / Mature Content / Chapter
.
Warning!
GS! (Gender Switch), Typo(s), OOC! (Out Of Caracter)
.
Disclaimer: SJ's members are belong to their self, God and family. But the storyline is MINE!
.
Don't Like, Don't Read!
And please Don't be Silent Reader^^
.
.
.
Chapter 2
( Menjadi Istri )
.
.
.
Itu adalah pakaian terakhir dari dalam kopernya yang ia pindahkan ke dalam lemari. Sung Min sangat yakin jika ia membawa hampir semua pakaian miliknya namun lemari di hadapannya itu masih menyisakan banyak ruang kosong, membuat pakaiannya terlihat sangat menyedihkan. Sebenarnya selera berpakaian gadis sembilan belas tahun itu tidaklah buruk, ia juga memiliki beberapa pakaian bagus yang sempat ia beli saat ada diskon tahun baru lalu, jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dikritik dari beberapa pakaiannya yang sudah tertata rapih di dalam lemari. Salahkan saja lemari pakaiannya yang super besar.
Sung Min mendengus sebal dan menutup pintu lemari dengan cukup keras. "Pakaianku baik-baik saja, yang bermasalah itu lemari ini dan pemiliknya!" Dengan jengkel Sung Min menendang lemari di hadapannya, menyambar pouch perlengkapan mandi yang ia bawa dan beranjak ke dalam kamar mandi di dalam kamar.
Sekali lagi Sung Min dibuat takjub dan heran tentang seberapa kaya suaminya itu. Kamar mandi di hadapannya ini tidak seperti penampakan dari apa yang bisa ia bayangkan, lebih seperti penampakan dalam drama-drama yang menceritakan kehidupan orang kaya. Dengan shower room yang dilapisi dinding kaca doff tebal, bathtub berukuran besar juga satu set wastafel yang menyambut di dekat pintu. Oh, dan closet yang mempunyai pintu ruangan terpisah.
Sung Min menaruh beberapa peralatan mandinya yang tidak begitu banyak, dan setelahnya ia menuju kasur besar di dalam kamarnya. Ya, kamar miliknya yang ia dapatkan dengan susah payah setelah perdebatannya siang tadi dengan Cho Kyu Hyun. Lelaki itu memaksa bahwa mereka harus memiliki kamar tidur yang sama sementara hal itu berbanding terbalik dengan keinginan Sung Min.
Sung Min menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langi kamar yang juga terlihat mewah. Sejujurnya apartemen milik Kyu Hyun sama sekali tidak cocok untuknya, terlalu mewah, terlalu lengkap, terlalu mahal, terlalu luas, terlalu bukan Sung Min. Diseumur hidupnya gadis itu terbiasa dengan segala kesederhanaan dan keterbatasan. Adakalanya ia hanya bisa menikmati apa yang ia punya tanpa punya kesempatan untuk mengeluh.
Sung Min terbiasa dengan kamarnya yang kecil, kamar mandi yang sempit, rumah yang hanya diisi barang-barang murah. Bahkan benda paling mahal di rumahnya adalah televisi juga kulkas yang dibeli dengan harga sangat murah dari salah satu kenalan ayahnya saat usaha restorannya tidak berjalan baik.
Merasakan nyamannya kasur yang ia tiduri membuat Sung Min merasa nyaman, ditambah semilir sejuk dari pendingin ruangan, membuat matanya terasa berat. Menuruti keinginan tubuhnya perlahan Sung Min memejamkan kedua matanya, membiarkan dirinya jatuh ke dalam mimpi.
.
—oOo—
.
Sung Min bertumpu di kedua lengannya yang terlipat pada pagar balkon apartemen. Rambutnya yang basah sehabis mandi bergerak lembut di terpa angin sore hari. Senja belum turun, matahari musim panas bersinar sayu. Sesekali Sung Min mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sejauh mata memandang yang dapat ia lihat hanya barisan rapih gedung-gedung bertingkat, taman-taman kota juga jalanan besar salah satu distrik padat ibu kota.
Sung Min hanya mencoba membiasakan diri dengan suasana tempat tinggalnya, biar bagaimanapun ia kini telah menjadi seorang istri dan Sung Min sendiri bukan seseorang yang tidak menghormati pernikahan. Walaupun pernikahannya adalah sebuah hubungan timbal balik tapi ia ingin menjalaninya dengan baik.
Sung Min beranjak dari tempatnya, menutup pintu balkon dan berjalan menuju sofa di ruang santai. Tangannya terulur meraih remot di atas meja, menyalakan televisi dan mencari drama favoritnya.
Baru beberapa menit sejak ia menyalakan televisi, sebuah dering ponsel menarik perhatiannya dari acara yang sedang ia tonton. Dengan cepat Sung Min mematikan televisi di depannya dan meraih smartphone miliknya, menggeser ikon penerima panggilan.
"Halo ayah?"
"Sung Min-ah.." Suara dari seberang sambungan terdengar begitu nyaring membuat Sung Min tersenyum tipis. "Apa yang sedang kau lakukan nak? Apa semua baik-baik saja?"
Sung Min tergelak geli mendengar ayahnya yang terdengar tidak sabaran. "Aku baru saja selesai mandi, semuanya baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Tentu.."
"Syukurlah…" Ada kelegaan luar biasa dari suara ayahnya yang Sung Min tangkap. "Ayah sedikit cemas tapi kalau kau baik-baik saja ayah akan tenang."
Sung Min menyamankan posisi duduknya, mengangkat sebelah kakinya untuk ditekuk. Ia pikir ayahnya ini cukup dramatis, padahal baru beberapa jam ia meninggalkan rumah dan sekarang ayahnya bersikap seperti dirinya telah menjalani rumah tangga selama beberapa tahun.
"Ayah ini berlebihan sekali, pernikahan kami baru beberapa jam."
"Apa salahnya jika ayahmu ini khawatir?"
"Ya aku mengerti." Sung Min menyahut kalem lalu setelahnya sambungan terputus setelah ayahnya mengatakan untuk selalu akur dengan suaminya.
Mendengar itu membuat Sung Min jadi berpikir, apakah hubungan ini akan baik-baik saja nantinya?
Suara pintu yang dibuka membuyarkan lamunan singkat Sung Min, tanpa sadar ia bergegas menuju pintu masuk setelah mengetahui kemungkinan yang datang adalah Kyu Hyun. Sementara Kyu Hyun sendiri cukup kaget melihat Sung Min datang menyambutnya di pintu masuk, mengingat sikap defensif yang ditunjukan gadis itu padanya sejak pagi tadi.
Ada jeda sesaat di antara keduanya, menyebabkan perasaan canggung yang tiba-tiba. Sung Min membuang muka ke sembarang tempat, mendadak ia menyadari tindakannya sesaat setalah ia berhadapan dengan Kyu Hyun. Ya Tuhan apa yang aku lakukan?
Sementara Kyu Hyun pun mengalihkan pandangannya ke arah yang berbeda dari Sung Min. Kyu Hyun berdeham kecil untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka, tangannya terulur memberikan tas kerjanya ke pada Sung Min dan melenggang masuk begitu saja.
Sung Min dengan sigap menerima barang yang disodorkan padanya, setengah terkejut ia menoleh ke arah Kyu Hyun. "Tssk, dasar tukang perintah." Gerutus gadis itu dan mengambil langkah yang sama.
Sung Min menghampiri Kyu Hyun yang terduduk di atas sofa sambil melonggarkan ikatan dasinya. "Kenapa kau sudah pulang?" Sung Min bertanya heran, ia mengambil duduk di hadapan Kyu Hyun. "Bukankah ini belum waktunya pulang?"
Kyu Hyun menatap malas ke arah Sung Min, lengannya ia bentangkan pada kepala sofa sementara satu kakinya terlipat angkuh di atas kaki lainnya. "Kenapa aku harus mengikuti jam karyawan sementara aku adalah pimpinannya?"
Sung Min memutar bola matanya mendengar perkataan Kyu Hyun, pertanyaan dijawab dengan pertanyaan, cih..
"Apa kau diam-diam sedang memakiku?"
Sung Min langsung menatap pria di depannya, setengah kaget Sung Min mencoba mengendalikan ekspresi dan suaranya sebelum membuka mulut. "Tidak."
"Bagus. Kau tunggu di sini ada yang ingin aku katakan padamu." Kyu Hyun meraih tas kerja miliknya dari atas meja dan hampir beranjak saat suara Sung Min mengintrupsinya.
"Kau mau kemana?"
"Mandi, kenapa?" Kyu Hyun awalnya terlihat bingung namun saat Sung Min menjawabnya dengan gugup membuatnya ingin menjahilinya. Kyu Hyun melangkah mendekati Sung Min, mencondongkan tubuhnya sedekat mungkin dengan gadis itu. Sementara Sung Min sudah gugup setengah mati, tubuhnya mendadak kaku dan wajahnya mulai terasa panas saat Kyu Hyun dengan santai menghimpitnya dan berbisik tepat di telinganya.
"Apa kau mau mandi bersama, istriku?"
Demi Tuhan! Sung Min rasanya hampir tekena serangan jantung, terlebih saat mereka saling melirik dalam jarak yang begitu dekat. Sung Min bisa melihat dengan jelas bagaimana rupawannya seorang Cho Kyu Hyun. Matanya yang tajam, hidungnya yang tinggi, kulitnya yang putih pucat, dan bibirny—Cukup! Aku pasti sudah gila!
Sung Min dengan cepat mengalihkan wajahnya dan mendorong tubuh Kyu Hyun menjauh. "Ya! Dasar mesum, pergi sana!"
Kyu Hyun tertawa geli dan melenggang pergi setelah sebelumnya sempat mengacak suarai hitam Sung Min. "Aku tidak akan mengunci pintunya kalau kau mau masuk."
"Dasar gila!"
To be continiue...
.
.
.
.
Chapter 2 mengudara~
Telat satu hari, seharusnya kemarin saya posting /bow
Sempet ragu waktu mau balik ke ffn tapi begitu tau masih ada yang merespon baik saya jadi semangat lanjut buat cerita. Terimakasih buat kaliaaaaan , LOVE!
Gak tau irama di chapter ini udah cukup tersampaikan atau belum, tolong kasih kritik nya ya
Maret 2020
