Uchiha Sasuke dibesarkan tanpa seorang Ibu, maka selama hampir tujuh belas tahun hidup ia hanya bergantung pada Ayahnya. Menjalani hari-hari di rumah yang sepi, ketika hanya sendiri tidak ada yang bisa Sasuke lakukan selain menonton televisi, tiduran dan bermain ponsel. Rumah mereka terlalu besar, terlalu luas jika hanya ditempati untuk dua orang. Apalagi Ayahnya lebih sering berada di luar kota, itu yang mendasarinya memilih bermain ke rumah teman bahkan tidak jarang pula menginap semalaman. Sejak sekolah dasar Sasuke sudah terbiasa disiplin dan mandiri, ia juga termasuk siswa pintar. Meskipun memiliki keluarga yang tidak lengkap, setidaknya Sasuke sudah cukup bisa memahami.
Hanya saja, akhir-akhir ini ada yang coba mengalihkan fokusnya.
Didasari rasa penasaran sekaligus tuntutan di hati, Sasuke terang-terangan menunjukkan diri. Tidak cukup hanya dengan kata-kata, ia tidak segan melakukan dengan tindakan.
Wanita itu harus tahu.
"Aku sudah bilang kalau kamu itu masih kecil, tugasmu hanya sekolah yang benar."
Lagi-lagi seperti ini, ada jarak yang tercipta sehingga menyebabkan perasaannya ikut terpukul. Lantas Sasuke tersenyum sesaat. "Kamu nggak bisa bilang seperti ini, Sakura."
Sakura berusia dua puluh delapan tahun sekarang, sedangkan Sasuke tujuh belas. Dia seharusnya memanggil Sakura dengan lebih sopan. "Kenapa?"
Di era modern ini, banyak sekali ditemui pasangan dengan berbagai karakter. "Yang aku tahu, kedewasaan nggak bisa hanya diukur dari usia. Aku suka kamu tulus, dan kamu harus percaya itu."
Lucu sekali.
Bocah laki-laki berstatus pelajar berani berterus terang, Sakura benar-benar miris. "Pergi dari sini."
Segala aspek feminisme ada di Sakura, Sasuke tidak tahu mengapa jiwa mudanya yang tengah dalam masa pubertas mulai bergejolak. Mengesampingkan jika Sakura merupakan Ibu muda beranak satu yang ditinggal mati suaminya. Dia cantik, keibuan, tutur katanya selalu lembut. Sasuke jatuh cinta pada apa pun yang dimiliki Sakura.
Bagaimana wanita itu?
"Aku akan selalu ke sini." Ego dan keinginan tidak terbendung. "Aku bersumpah."
Semuanya tidak baik-baik saja, Sakura menatapnya kesal lalu memeriksa sekeliling. Bicara berdua di halaman belakang, ini buruk jika sampai ada yang melihat. "Sasuke, dengar! Aku sudah pernah menikah bahkan punya anak, lupain perasaan kamu dan berhenti berlaku menjijikkan seperti ini. Pacari gadis seusia kamu, jangan aku!"
Alih-alih sakit hati mendengar ucapan Sakura, Sasuke justru tersenyum lebar dan langsung memeluknya. "I love you."
Keparat!
Pelukan yang Sasuke berikan tiba-tiba telah menembus sesuatu, Sakura tidak bisa berteriak begitu saja di rumahnya sendiri. Ia wanita terhormat dan tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu. Tetapi, apa yang telah dilakukan Sasuke benar-benar mengguncang dirinya. Sakura termangu, ada kelopak bunga yang mulai berjatuhan di hatinya. Sasuke lalu mengambilnya, menggenggamnya erat.
Kapan terakhir kali mendapati pelukan sehangat ini?
Sakura mengingatnya kurang yakin. "Lepas."
Sayangnya si laki-laki tidak bergeming.
"Sasuke, lepas!" Nyaris saja, Sakura merasakan lehernya diterpa napas panas dan ia refleks segera mendorong Sasuke menjauh.
Berlama-lama dengannya membuat darah berdesir keras, Sakura enggan mengakui jika dia terkejut bukan main. Sasuke pun merasakan hal sama. Lekukan tubuh wanita itu ternyata lebih menarik ketika disentuh, terbentuk indah dan kulitnya pun sehalus sutra. Ia ingin merasakan lagi, namun Sakura sudah terlebih dulu berlari pergi.
Sampai jumpa.
- 0 -
Sudah hampir pukul setengah tiga sore, Tayuya menyadari teman-temannya mulai sibuk pada ponsel masing-masing dibandingkan menyelesaikan tugas sekolah meski pun mereka tadi sempat menyelingi kegiatan membosankan ini dengan bermain games. Hanya Sasuke yang masih setia mengerjakan, tampak fokus dan tidak bisa diganggu. Tayuya diam-diam memandanginya. Di sekolah, Sasuke tidak hanya terkenal pintar, tetapi ia juga tampan. Auranya tegas dan dingin, itu yang membuat banyak gadis menyukainya tetapi tidak berani mendekati. Beruntung sekali Tayuya berada di posisi ini, bisa berteman akrab dengan Sasuke sejak masa orientasi. Mereka sering bicara, baik itu tentang sekolah atau pun hal lain.
"Ngapain Ta ngelihat Sasuke mulu?" Bodoh! Apa pun alasannya, Tayuya tetap tidak bisa mengelak. Ucapan Nagato membuat semua orang di ruang tengah langsung terfokus pada Tayuta. "Lihatin gue saja sini deh, lebih eksotis dan oriental."
"Apa sih lo? Fitnah banget."
Yang Naruto dan Hinata tahu, Nagato sudah cukup lama menyukai Tayuya tetapi berulang kali ditolak. Alasannya karena dia tidak mau merusak pertemanan. Sasuke juga tahu hal itu kok, Tayuya sendiri yang mengatakan.
"Terus ngapain ngelihatin Sasuke kayak tadi?"
"Siapa juga yang ngelihatin Sasuke? Nggak ada tuh." Tayuya benar-benar malu sekarang, ingin mencakar wajah menyebalkan Nagato. "Heh Sas! Lo lihat gue ngelihatin elo nggak? Nggak kan?"
Terang saja Sasuke menggeleng.
"Tuh, dengarin!"
"Ya mana ada pertanyaan kayak gitu, bawel! Sasuke jelas aja nggeleng, gimana sih?"
"Ini gara-gara elo terlalu dibutakan cinta ke Tayuya, makanya elo jadi gini."
Hinata penyelamatku. Tayuya bergumam dalam hati, tersenyum lebar sembari memasukkan keripik bayam ke mulutnya.
"Terus kalau ngelihatin gue apa masalahnya? Gue fine aja sih." Mati! Itu suara Sasuke, jujur Tayuya kurang yakin. "Jangan cemburu lah, lagian Tayuya mana mungkin suka sama gue."
Asumsinya meleset.
"Eh Sas, justru dari ngelihatin itu lah yang menumbuhkan benih cinta. Ya kayak gue gini ke Tayuya." Lain kali Tayuya tidak akan membiarkan Nagato ikut berkumpul lagi seperti ini, ia jengah. "Tapi sayang, Tayuya nya nggak mau diajak jadian."
"Kasihan lo." Naruto tahu-tahu menyahuti dengan headset di telinga.
Mereka kemudian tidak melanjutkan pembicaraan setelah Naruto mulai membahas pertandingan sepak bola bersama Nagato yang merupakan penggemar berat Juventus, club besar asal Italia. Sasuke tidak begitu tertarik dan memilih untuk membuka ponselnya, tidak ada yang menarik di benda itu selain chat pribadinya dengan Sakura. Berbulan-bulan lalu, wanita itu sering membalas pesannya bahkan tidak jarang mau menemaninya begadang semalaman mengerjakan tugas. Tapi semenjak Sasuke menyatakan perasannya, dia mulai berubah lain. Sakura sepertinya tidak menerima, sekarang yang sering Sasukr dapat hanya balasan pesan singkat seadanya.
Itu tidak adil.
Sasuke merasa telah kehilangan sesuatu.
Memendam jauh di dalam hatinya.
"Sas, ajarin ini dong? Aku nggak ngerti."
Menarik sekali, Tayuya begitu mirip Sakura. Tapi ia tidak sedikit pun bisa menaruh perasaan pada gadis itu. Ada kalanya Sasuke membutuhkan sosok dewasa yang mampu memahaminya, dan itu Sakura. Apa salah? Apa salahnya menyukai wanita yang lebih tua? Sasuke tidak mengerti bagaimana cara orang dewasa berpikir hingga menyimpulkan jika apa yang terjadi padanya saat ini adalah kesalahan. Itu tidak masuk akal, seharusnya ada alasan yang lebih menguatkan lagi.
"Sasuke, kok malah bengong?"
To be continue...
