U.A
Kelas 1-A
"Untuk latihan dasar kepahlawanan hari ini, aku, Allmight lalu juga satu orang lagi akan menjadi pengawas kalian." Terang Aizawa, memulai kelasnya di siang itu. Lantas saja hal ini membuat beberapa muridnya keheranan.
"Pak!" sahut Sero sambil mengangkat tangannya. "Apa yang akan kita lakukan?" Tanya nya lagi.
Aizawa mengangkat sebuah kartu bertuliskan 'Rescue'. "Bencana, Kapal Karam, dan hal-hal semacamnya. Dengan kata lain, Latihan penyelamatan." Jawabnya.
Seisi kelas kembali dibuat kaget olehnya. "Penyelamatan? Sepertinya kita juga harus berusaha keras kali ini." Keluh Kaminari.
"Dasar bodoh, Memang inilah tugas seorang pahlawan!" Protes Kirishima . "Aku sudah tidak sabar!"
"Hei, Belum selesai." Aizawa kembali menengahi sebelum kelas menjadi heboh. "Kali ini kalian boleh memilih ingin memakai kostum atau tidak. Karena ada kemungkinan kostum kalian malah akan menghambat nantinya."
Aizawa menekan sebuah tombol pada remote kecil yang ia bawa. Dengan begitu, loker kostum para murid kelas yang tersembunyi di dinding pun bermunculan. "Latihan ini akan diadakan di luar sekolah, jadi kita akan naik bis. Itu saja, bersiaplah!" Tambahnya.
Anak-anak kelas 1-A pun langsung bergegas mengambil kostum mereka. Hanya izuku yang masih duduk diam di bangku nya. Entah apa yang ia pikirkan. Ia keluarkan handphone miliknya. Ia teringat akan teman barunya, Kiryu Sento. "Kira-kira Sento-san sedang apa ya?" gumamnya.
.
Sento
.
Kota Hosu
Nascita
"Hei Sento, bisa kau bersihkan meja yang disana itu? sepertinya agak kotor."
"Baiklah, Owner-san!"
Sudah hampir 1 minggu semenjak pertemuan terakhir Sento dengan Izuku, Midnight dan mutant kadal itu. Kini Sento sudah memilih hidup baru dengan keluar dari kerjaan kantorannya dan bekerja di sebuah kafe kecil di salah satu sisi kota Hosu. Nascita, itulah nama kafe itu.
Pemilik Nascita seolah tahu betul tentang Kiryu Sento. Dia menyuruh Sento untuk keluar dari pekerjaan lamanya dan mengajak Sento untuk bekerja di kedai kopi miliknya. Awalnya tentu saja Sento menolak. Namun pak tua itu memberi Sento tawaran yang tak bisa dia tolak. Ia menyediakan sebuah ruangan khusus yang sangat luas sebagai laboratorium Sento kedepannya. Berkat hal itulah kini Sento sudah berhasil menciptakan 4 Panel kotak pandora, 16 fullbottles dan 3 evolbottles baru. Nama pria itu adalah Tokiwa Sougo, atau yang biasa dipanggil Owner oleh Sento.
Tokiwa Sougo bukanlah orang yang berasal dari dunia ini. Dia terkirim ke dunia ini dari dunia asalnya, begitulah pengakuan darinya. Awalnya dia berusaha untuk mencari cara agar bisa kembali ke dunianya yang semula. Namun setelah merasa nyaman, dia pun memilih untuk tetap tinggal.
Setelah menetap tinggal, Owner alias Sougo membuka kedai kopi kecil yang dia namai Nascita. Dengannya, Owner pun menjalani hidup layaknya manusia biasa. Tapi Sento tahu betul kalau pak tua ini bukanlah sekedari pemilik kedai kopi. Pasalnya dia bisa tahu identitas Sento sebagai Kamen Rider Evol hanya dengan melihat sekilas.
"Jadi bagaimana dengan proyek kotak pandora-nya?" Tanya Owner sembari sibuk mengelap gelas.
"Bisa dibilang berjalan lebih cepat dari yang aku kira." Jawab Sento. "Harus aku akui, Lab buatanmu memang sangat hebat. Semuanya sangat lengkap. Aku bisa menciptakan 1 fullbottle dalam sehari tanpa keluar ruah. Wow!"
"Baguslah kalau begitu. Soalnya aku mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membuatnya."
"Tunggu dulu, Kau membuatnya khusus untuk ku bahkan sebelum kau bertemu denganku!?"
Owner tertawa pelan. "Mungkin tangan takdirnya yang sudah mengkehendaki aku agar membuat laboratorium itu untuk mu. Kadang kala dunia ini bekerja dengan cara yang tak bisa dijelaskan oleh akal pikiran."
Sento mangut-mangut. "Yah, kurasa kau benar owner. Beberapa hal memang tak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan manusia. Contohnya saja kekuatan super yang ada di dunia ini."
"Nah, jadi sudah sampai mana perkembangan pandora Boxnya?"
"Mungkin sekitar 70%. Aku menggunakan ingatan pemberian Evolto untuk menciptakan ke-4 panel kotak pandora. Walaupun memakan tenaga, Namun aku berhasil menciptakan replika yang berfungsi persis seperti aslinya. Selanjutnya tinggal menciptakan ke-60 fullbottles agar kotak pandora bisa bekerja. Dengan begitu, aku akan mendapatkan Kekuatan tertinggi dari Kamen Rider Evol. Evol Trigger!"
"Evol Trigger?" Owner terlihat kaget. tangannya berhenti mengelap gelas. "Benarkah itu tujuanmu?"
Sento sedikit keheranan mendengar pertanyaan Owner barusan. "Tentu saja!" Jawabnya. "Memangnya untuk apa lagi?"
"Genius..." Balas Owner. "Genius bottle."
Sento terperanjat. Ia membelalak tak percaya atas apa yang dia dengar barusan. "B-Bagaimana kau bisa tahu hal itu!? Aku bahkan belum pernah memberi tahumu!"
Owner kembali lanjut mengelap gelas. Dia tersenyum. "Hanya sedikit usulan kecil. Tak perlu dibawa serius."
Sento terdiam. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana bisa Owner mengetahui hal yang sama sekali tak pernah ia ceritakan. Bahkan Sento sendiri pun sudah hampir melupakan Genius Bottle itu.
"Kurasa itu tak ada artinya. Kekuatan Evolto dan Genius Bottle memiliki sifat yang berlawanan. Jika digunakan bersamaan sifat saling tolak-menolak di antara keduanya hanya akan menyebabkan malfungsi dan kekacauan pada Evol Driver." Terang Sento.
"Kalau begitu tinggal dibuat kompatibel saja bukan.?" Balas Owner lagi. "Aku melihat kau terlalu terpaku untuk meniru Evolto. Ingatlah Sento, siapa kau sebenarnya."
Sento tersadar. Kata-kata Owner barusan seakan menohok ke dalam dirinya. "Kau benar. Aku bahkan hampir lupa siapa diriku yang sebenarnya." Ucapnya tersenyum penuh arti.
"Baguslah..."
Suasana kafe menjadi tenang seperti semula. Mereka berdua sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Sampai kemudian pintu kafe tiba-tiba saja terbuka. Seseorang dari luar masuk ke dalam. Owner seakan tak peduli. Tapi Sento cepat-cepat menemui tamu mereka itu. "Mohon maaf, tapi saat ini kami belum buka." Ujar Sento ramah. "Silahkan kembali lagi nanti ya..."
Tamu mereka, sesosok wanita yang mengenakan jaket berhoodie yang menutupi setengah bagian wajahnya. Dia tak menghiraukan omongan Sento. Dia duduk lalu melepas jaketnya. Menampakkan sosok yang cukup di kenal oleh Sento. Seorang pahlawan yang pernah dia selamatkan dulu. Midnight, hanya saja tidak sedang menggunakan kostum pahlawan miliknya.
"Midnight-san? Ada apa kau sampai datang kemari?" Tanya Sento.
"Aku sudah mencari-carimu, Kiryu Sento." Jawab Wanita itu. "Ada hal penting yang harus aku beritahukan padamu. Tapi sebelum itu, bisakah kau kuatkan aku kopi? Gulanya yang banyak. Jangan lupa juga bawa beberapa kue."
"Sudah ku bilang kami belum buka!"
...
..
.
..
...
"Ini Kopinya..."
Sento meletakkan dua cangkir kopi di atas meja tempat Midnight duduk. Satu untuk wanita itu, satu lagi untuk dirinya. Tak lupa juga beberapa kue kering sebagai camilan. Lalu dia pun ikut duduk di meja yang sama.
"Jadi, ada hal penting apa yang ingin kau beritahukan padaku Midnight-san?" Tanya Sento memulai pembicaraan.
"Kau cukup panggil aku Nemuri saja di luar pekerjaan pahlawanku. Tidak usah kaku begitu." Ucap Midnight mencairkan suasana.
"Hoo, kalau begitu kau cukup panggil aku Sento saja. Soalnya umurku baru 19 tahun. Lebih muda dari mu."
"Memangnya ada masalah apa dengan umurku!?"
"T-Tidak ada kok Nemuri-san..."
"Baiklah, sekarang saatnya untuk serius. " Ucap Nemuri alias Midnight. "Apa yang aku sampaikan ini adalah mengenai hal yang mungkin sangat kau kenal. Faust."
Sento menaikkan alisnya. "Faust? Maksudmu organisasi kejahatan yang dulu aku ikuti? Bukannya Faust sudah bubar sejak pemimpin kami Katsuragi Takumi memutuskan untuk pensiun?" Tanya Sento bertubi-tubi.
"Memang benar Faust yang kau kenal dulu sudah bubar sejak dulu. Namun entah bagaimana caranya 1 tahun yang lalu mereka kembali berdiri. Nampaknya kali ini Faust berada di bawah pimpinan orang yang berbeda. " Jelas Nemuri.
"Faust? Apakah yang kau maksud itu Faust yang sama dengan apa yang aku pikirkan?" Owner ikut-ikutan nimbrung.
"Jika maksudmu Faust dari dunia Evolto, maka kau salah. Faust adalah organisasi kejahatan Internasional yang sangat disegani pada masanya. Saat itu Faust beranggotakan 8 orang saja yang dipimpin oleh Penjahat kuat bernama Katsuragi Takumi. Anggotanya yaitu aku, Kengo Ino, Keiji Uraga, Kaisei Mogami, Gentoku Himuro, dan Kazumi Sawatari. Yah, nama mereka memang terdengar familiar bagimu bukan, Owner-san?" Terang Sento.
"Kami adalah organisasi kejahatan yang tak main-main dalam memilih anggota. Faust Ditakuti dan dikenal di seluruh dunia. Setidaknya sampai ketua kami kehilangan putrinya dan memilih untuk pensiun. Semuanya pensiun, hanya aku yang masih beraksi sebelum kemudian aku menyerahkan diri pada polisi." Lanjut Sento lagi.
"Itu benar." Nemuri menambahkan. "Dan saat ini, Faust kembali bangkit. Dipimpin oleh seseorang yang menamai dirinya Vernage."
"PFFFFTTTT!" Sento dan Owner terlonjak kaget mendengar nama barusan. "Sento terbatuk-batuk tersedak kopi yang sedang dia minum. Sementara Owner terpeleset jatuh dan hampir terkena serangan jantung. "S-Si-Siapa tadi!?" Tanya Sento dengan nafas tak beraturan.
"Eh? Vernage? memangnya kenapa?" Nemuri balik bertanya. Kebingungan melihat tingkah mereka berdua.
Sento dan Owner tak menjawab. Mereka shok. Sento terduduk dan sibuk mengelapi kopi yang tadi tersembur dari mulutnya karena kaget. Di sisi lain, Owner terduduk sesak nafas. "Sulit dipercaya..." Ratap Owner. "Ini mengerikan..."
Nemuri mulai terlihat khawatir. "K-Kalian kenapa?"
"T-Tidak ada kok! Hahah... Lanjutkan saja!" Seru Sento. "J-Jadi apa yang terjadi pada Faust yang baru ini? Apa ada kabar bagus?"
"Benar. Aku sampai lupa." Nemuri kembali ke topik pembicaraan. "Berbeda dengan Faust yang sebelumnya dimana kalian hanya menerima anggota yang kalian anggap pantas, Faust kali ini sepertinya berusaha mengumpulkan anggota sebanyak mungkin. Selebaran dan banner mereka bertebaran di dunia maya. Terlebih di Web-web terlarang. Nampaknya mereka merencanakan penyerangan besar-besaran. Mutant yang kau hadapi beberapa hari yang lalu itupun adalah salah satu Anggota Faust baru ini." Jelas wanita itu panjang lebar.
Sento mengingatnya. "Oh, yang saat itu aku menemukanmu dihajar sampai babak belur itu ya? Aku juga keheranan kenapa kau tidak memanggil bala bantuan saat itu. Padahal jelas kau di hajar habis-habisan olehnya."
Ekspresi wajah Nemuri mendadak berubah. "Saat itu, aku dibutakan oleh dendamku. Karena Faust...sudah membunuh teman-teman pahlawan yang bekerja di agensi ku."
"Jadi kau berencana untuk menghabisi mereka sendiri?"
"Awalnya begitu, tapi sekarang aku sadar kalau itu mustahil. Terlebih setelah melihatmu bertarung dengan kekuatan mu yang mengerikan itu, aku jadi sadar betul akan batas kekuatanku."
Nemuri menyeruput kopi miliknya. "Ah, enak banget. Kopi ini benar-benar nikmat."
"Heh! Tentu saja! Aku yang buat." Seru Sento membanggakan diri. Dia berdiri berkacak pinggang.
"Satu hal lagi yang perlu kau tahu, Faust baru ini nampaknya sedang berusaha untuk merekrut kembali anggota-anggota Faust terdahulu. Kengo Ino dan Gentoku Himuro telah melapor kalau mereka didatangi oleh anggota Faust yang baru ini. Mereka dipaksa bergabung, yang untungnya ditolak oleh kedua orang ini." Tambah Nemuri. "Kami bakal makin repot kalau anggota Faust yang lama sampai bersatu kembali."
"Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Sento menyerobot.
Nemuri mengangguk. "Para cecunguk itu bukanlah tandingan untuk mereka berdua. Masalahnya sekarang adalah dirimu. Mereka pasti akan menemui mu cepat atau lambat. "
Sento hanya terdiam mendengarnya. "Naruhodo..." Gumamnya pelan.
"berhati-hatilah." Nemuri beridri. Diletakkannya uang di atas meja sebagai bayaran atas kopi dan kue yang disajikan. "Oh iya, aku hampir lupa. Para polisi berniat untuk merekrutmu setelah mereka melihat aksi heroik mu menyelamatkanku. Aku anjurkan kau menerima tawaran mereka. Tapi semuanya terserah padamu sih. Dah ya, aku pamit. Terima Kasih untuk kopinya."
"Tunggu dulu, kenapa kau sampai mau memberi tahuku informasi sepenting ini?" Tanya Sento Curiga.
"Anggap saja ini sebagai bentuk rasa terima kasihku karena kau telah menyelamatan nyawaku. Setidaknya, sekarang ini kita impas." Dengan itu, Nemuri alias Midnight pun membuka pintu dan pergi keluar. Meninggalkan Sento yang tersenyum kecil dibuatnya.
.
.
.
Sento berfikir keras memproses hasil pembicaraan mereka barusan. Tentang dirinya, Faust dan sosok yang bernama Vernage itu. "Hei Owner!" Ucap Sento berbalik pada sang Owner. Dia tersenyum mantap. "Kurasa, Evol Trigger memanglah apa yang aku inginkan saat ini."
