Chapter 02, Hubungan.
Normal POV
Miku terkejut saat melihat seorang pria jangkung berambut panjang sedang berdiri di depan kelasnya. Alasan terkejutnya bukalah seperti siswa lain yang terpesona dengan ketampanannya, tetapi ia terkejut karena benar-benar mengenali pria itu. Terdengar suara kursi bergeser "Ehh?? Apa yang kau lakukan disini?" Pekiknya, Miku berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan pria yang sedang di ajaknya bicara hanya merespon dengan mengedipkan sebelah matanya, sehingga membuat suasana kelas menjadi semakin riuh. 'Dia mengenalnya?' 'Apa mungkin dia kekasihnya?' Kejadian itu juga berhasil menarik sedikit perhatian Len, ia melihat Miku dan 'Orang itu' secara bergantian dengan tatapan penuh selidik.
Pria itu kemudian berdehem. "Perkenalkan, namaku Kamui Gakupo, saya guru sejarah sekaligus wali kelas kalian selama satu tahun ini, ada pertanyaan?" Ucap pria bersurai ungu itu dengan memposisikan tangan kanannya ke depan dada. 'Kyaaaa... Kamui sensei!!' 'Dia seperti seorang ksatria!' 'Panutan para lelaki!' Teriakan beberapa siswa semakin menjadi-jadi, sedangkan Miku hanya memberinya tatapan yang seakan mengatakan 'Dasar maniak terong bodoh tukang cari perhatian!' Gakupo hanya menanggapinya dengan tersenyum miring. "Tolong tenang anak-anak. Karena tidak ada pertanyaan, jadi sekarang perkenalkan diri kalian, dan jika ada yang ingin ditanyakan silahkan langsung bertanya pada teman-teman baru kalian, dimulai dari ujung kanan." Para siswa pun memperkenalkan dirinya secara bergantian, hingga sampai di meja tepat disamping tempat duduk Miku, meja itu kosong, Gakupo melihat daftar siswa kemudian sekilas melihat kearah Miku. "Sepertinya ada 1 siswa yang tidak hadir, selanjutnya!"
Rin menarik pelan seragam Miku. "Miku-chan, sepertinya aura dinginmu itu sampai membuat mereka takut dan enggan duduk di sampingmu." Rin terkekeh pelan, sedangkan Miku hanya mendengus.
Miku kemudian berdiri dan memperkenalkan dirinya. "Selamat pagi, namaku Hatsune Miku, 15 tahun, hobiku bermain musik, yoroshiku" Ucapnya singkat sembari membungkukkan badan.
"Ada pertanyaan?" Ujar Gakupo.
Beberapa anak mengangkat tangan, Gakupo mempersilahkan mereka bertanya. "Apa kau kenalan sensei?" Miku mendesah pelan.
"Ada pertanyaan yang lain?" Ucap Miku tanpa menjawab bertanyaan sebelumnya.
"Apa kau adiknya sensei?" Miku hanya memutar bola matanya.
"Pertanyaan yang lain."
"Apa kau kekasihnya sensei?"
Miku sedikit geram. "Tidak, kurasa tidak ada pertanyaan lain, terimakasih." Ia kembali duduk, Gakupo menahan tawanya, sementara Rin sudah tertawa terbahak karena melihat Miku yang kesulitan dengan pertanyaan pertanyaan yang hampir sama.
"Selanjutnya!" Ucap Gakupo bersemangat.
Rin pun berdiri dari tempat duduknya. "Hai... Selamat pagi! Namaku Kagamine Rin, Umur 15tahun, hobiku bernyanyi, lagu genre apapun aku suka, selain itu aku juga suka memasak. Salam kenal~ Mari berteman dengan akrab!"
Setelah beberapa siswa bertanya kepada Rin kemudian giliran Len memperkenalkan dirinyan. "Selamat pagi. saya Kagamine Len, 15 tahun, hobi bermain gitar" ucapnya sesingkat mungkin, beberapa anak perempuan mengangkat tangannya. mereka sekedar menanyakan hal-hal yang tidak penting mengenai Len, seperti makanan favoritnya, minuman favoritnya, ataupun film favoritnya. Sepertinya ia cukup populer, dengan perpaduan wajah tampan dan manisnya tentu saja banyak gadis yang menyukainya!
Sesi perkenalan terus berlanjut dan kelas hari ini hanya di penuhi dengan game game ringan untuk mengakrabkan para siswa. Struktur kelas juga telah diatur, dengan Yohio sebagai ketua kelas, Piko sebagai wakilnya, Gumi sebagai sekertaris, dan Neru sebagai bendahara. Bel istirahatpun berbunyi.
Rin menuju meja Miku sembari membawa bekalnya "Miku-chan bawa bekal? makan bersama di atap yuk." Miku hanya mengangguk.
Sementara itu, Len bersandar di mejanya dengan kedua tangannya berada didalam saku celana. "Kau duluan saja Rin, aku mau beli minuman."
"Awas kalau kabur." Ucap Rin dengan nada mengancam.
"Berisik." Rin hanya nyengir.
Siang ini tidak terlalu terik. Miku dan Rin sedang menikmati bekal mereka di bangku atap sekolah, sesekali mereka bertukar isi bekalnya. Sedangkan Len bersandar di pagar pembatas sembari meminum jusnya, iris azurenya menatap birunya langit. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Sejak kapan kau pindah ke Tokyo?" Ucap Rin membuat fokus Len teralihkan.
"Sekitar 2 tahun yang lalu" Jawab Miku, kemudian memasukkan irisan sosis ke dalam mulutnya.
"Ah begitu, kami sangat merindukanmu, kau tahu?" Rin tersenyum manis, kemudian menarik tangan Len yang berdiri tepat disampingnya untuk duduk ikut duduk bersamanya. "Ya kan, Len?" Imbuhnya.
"Tidak." Jawab Len singkat
Rin tertawa canggung "A-ha-ha Maafkan sikap Len ya Miku-chan! dia memang tidak bisa jujur pada dirinya sendiri."
"Apa sih." Perkataan Len berhasil mendapatkan hadiah sikutan Rin tepat di perutnya.
"Ngomong-omong, kau pindah kesini karena pekerjaan orang tuamu?" Rin melanjutkan obrolan untuk mencairkan suasana canggung itu, sedangkan Len mulai membuka bekalnya, tapi diam-diam ia memperhatikan obrolan kedua gadis itu, sedikit tertarik mungkin?
Miku baru saja akan memasukkan sosis lain ke dalam mulutnya, tapi tangannya terhenti, ia berpikir sejenak. "Aku tidak ingat, sepertinya karena Luka-nee ingin melanjutkan kuliahnya disini."
"Luka-nee juga ikut?!" Miku mengangguk. Wajah Rin berseri-seri. "Sepulang sekolah nanti boleh aku ke rumahmu?! Aku juga rindu Luka-nee! Boleh ya? Boleh ya?!" Ucapnya dengan semangat.
Len yang melihat saudara kembarnya bersikap seperti itu segera menegurnya. "Jangan memaksa seperti itu Rin. Lagi pula kau biasanya tak akan pergi tanpa izin ma-" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya daru kotak yang sedang ia bawa.
"Um... dengan Len juga, boleh kan ma? Yeay!!" Perkataan Len terhenti saat mendengar suara Rin sedang menghubungi mamanya.
Len menyentuh dahinya. "Lupakan."
Pintu kereta terbuka, terlihat tiga remaja keluar dari sana. Satu gadis bersurai teal berkuncir dua dan dua anak kembar bersurai honey blonde, meskipun berbeda gender tapi wajah mereka benar benar mirip, hanya gaya rambut dan tinggi badan yang membedakanya, Len sedikit lebih tinggi dari Rin. Mereka bertiga sedang berjalan pulang ke rumah si gadis kuncir dua. Rin berjalan di samping Miku sembari membicarakan bermacam macam hal mengenai masa kecil mereka, sesekali ia melompat kecil, pita putih besar di kepalanya melambai-lambai tertiup angin. Sedangkan Len mengikuti kedua gadis itu dari belakang. "Oh iya, Kau benar benar kenalan Kamui sensei ya? Tidak mungkin dia kakakmu kan? aku tak pernah melihatnya saat aku dan Len bermain denganmu dulu." Ujar Rin penasaran.
"Ti-" Ucapannya terpotong oleh Rin.
"Jangan berkata tidak, seisi kelas tadi mendengarmu bertanya padanya kenapa dia bisa berada di sekolah lho!" Rin tersenyum jahil, ia menaikkan dan menurunkan alisnya dengan cepat. Senyumannya seolah mengatakan 'Ayolah, katakan padaku, jangan malu malu.'
Baru saja Miku akan menjawabnya, tapi lagi lagi sesorang menyela pembicaraannya, kali ini Len. "Diamlah Rin, jangan mengorek informasi pribadi orang lain." Rin hanya mendengus sebal.
Setelah berjalan beberapa saat, mereka sudah sampai di depan rumah Miku. Sebuah rumah bergaya modern dengan dua lantai yang ukurannya cukup besar untuk ditinggali oleh dua orang gadis. Terdapat taman kecil di beranda rumah, berbagai macam bunga ditanam disana, sebuah ayunan gantung berwarna putih juga diletakkan di pojok taman dengan meja bulat kecil di sampingnya. Miku membuka pintu pagar di ikuti Rin dan Len. "Aku pulang!" Ucapnya sembari membuka pintu rumah.
Terdengar suara seorang pria menjawab Miku dari dalam rumah. "Ah, selamat datang tuan putri!" Len dan Rin bertukar pandang. Kemudian seorang pria datang dengan membawa sebuah nampan berisi cangkir teh. "Eh? ada tamu ya? ayo silahkan masuk."
Si anak kembar seketika melebarkan kedua matanya, mereka terkejut melihat siapa yang berada di hadapan mereka. "Sensei?!" Pekik Rin. Gakupo hanya tersenyum, kemudian masuk ke dalam dapur, meninggalkan ketiga remaja itu.
Miku yang menyadari situasi ini seketika panik. "Tu-tunggu dulu! aku bisa menjelaskan ini!" Ucap Miku gusar.
"Kau tinggal serumah dengan sensei?!"
"T-tentu sa-" Lagi lagi Rin memotong pembicaraan, sepertinya ia benar benar harus menghilangkan kebiasaannya itu.
"Ternyata benar ya." Gumam Rin. Miku melihat ke arah Len, berharap Len akan mengatakan sesuatu seperti 'Dengarkan dulu penjelasannya, Rin.' atau semacamnya, ayolah Len! Tetapi terkadang sesuatu memang tak sesuai seperti yang diharapkan, alih alih Len mengatakan sesuatu seperti biasanya, justru Len ikut melihatnya dengan tatapan penuh selidik. "Maaf mengganggu kalian! Len! Sebaiknya kita pulang, oke!" Wajah Rin bersemu merah, kemudian menarik lengan Len.
Saat kedua remaja bersurai honey blonde itu akan membalikkan badan, Miku menahan bahu mereka untuk mencegah mereka pergi. "T-tunggu dulu! Biarkan aku menyelesaikan perkataanku! Jangan seenaknya memotong pembicaraan, Rin!" Rin meneguk ludah, ia takut melihat wajah seram Miku. "Aku akan mengatakan tentu saja tidak! ma-maksudku Sensei tidak tinggal bersamaku, tapi dia memang sering kesini."
"Kalian benar-benar sepasang kekasih?!" pekik Rin.
"Tidak, Rin! Dia...
...kekasihnya Luka-nee."
Rin bernafas lega, wajahnya kembali memerah mengingat apa yang telah dipikirkannya tadi. Ia mengira kalau teman masa kecilnya itu telah tinggal satu atap dengan kekasihnya. "Ah... ternyata begitu, maafkan aku Miku-chan."
"Sudahlah, ayo masuk."
Ketika mereka hendak masuk, terdengar suara seorang gadis semakin mendekat. "Miku-chan, kata Gakkun ada tamu, kenapa belum-" Perkataannya terhenti tepat saat ia melihat Rin dan Len di depan rumahnya. "Rin-chan?! Len-kun?!" Ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa terkejut, tidak nyaman, sekaligus khawatir.
"Luka-neechan!!!" Seru Rin, kemudian menghambur ke pelukan Luka.
"Aku tak menyangka akan bertemu kalian lagi, ayo silahkan masuk, aku dan Gakkun baru saja membuat cup cake."
Mereka semua pun masuk ke dalam ruang makan, disana Gakupo sedang menghidangkan beberapa cemilan di atas meja kemudian Luka segera kembali membantunya. Miku duduk di kursi paling ujung, sedangkan Rin duduk bersebelahan dengan Len berhadapan dengan Miku. "Bagaimana kalian bisa bertemu?" Ia melirik ke arah Miku. "Aku terkejut Miku-chan bisa mengingat kalian, ingatannya kan sangat buruk!" Ujar Luka dengan nada mengejek Miku. Ia masih berdiri membawa nampan, sedangkan Gakupo menggeser kursi di samping Miku.
Rin tertawa kecil. "Kami satu kelas, saat pertama kali melihatnya, aku langsung menyadari kalau itu Miku-chan. Dan Luka-neechan benar sekali, Miku-chan sempat tidak mengingatku lho! Saat dia sudah mengingatnya malah kata pertama yang keluar adalah 'Jeruk' dia lucu sekali hahahaha!" Luka dan Gakupo tertawa lepas.
"Tadi Miku-chan juga bilang kalau tidak mengenalku. Jahat sekali~~" Ujar Gakupo.
Wajah Miku cemberut. "Itu kan salahmu sendiri! kau tidak memberitahuku terlebih dahulu kalau akan mengajar disana. Luka-nee juga tidak memberi tahuku!"
Luka mengerutkan dahinya. "Eh? Aku malah baru tahu, Gakkun tidak bilang kalau dia akan mengajar di sekolahmu." Miku terkejut, biasanya Gakupo selalu bercerita hal sekecil apapun kepada Luka, terlebih lagi ini mengenai pekerjaannya.
"Heheh, aku berencana membuat kejutan untuk kalian!"
Miku memutar bola matanya. "Dasar... jangan sekali-sekali bersikap aneh saat disekolah!"
"Baik, tuan putri. Tidak akan."
"Jangan memanggilku begitu!!" Wajah Miku semakin cemberut, membuat semua orang disana kecuali Len dan Miku tertawa.
"Oh iya!" Suara Rin berhasil membuat mata semua orang yang ada disana melihat ke arahnya. "Miku-chan dan Luka-nee pindah kesini hanya berdua? Aku tidak percaya Miku-chan bisa berpisah de-"
Luka memberikan Rin sebuah cemilan. "Ini ada cup cake rasa jeruk, Rin-chan sangat suka jeruk kan?" Rin mengangguk.
Mata Rin seketika berbinar binar saat mencobanya. "Enak sekali! Boleh aku minta resepnya?" Senyuman Luka mengembang.
"Skukurlah! Tentu saja, akan kuberikan padamu sebelum pulang nanti."
Hari Semakin sore. Kedua anak kembar itu berpamitan untuk pulang, dan akan di antar oleh Gakupo. Sebenarnya mereka menolak, tapi Gakupo memaksanya karena bukan hanya ia menghawatirkan anak didiknya, tapi juga sebagai rasa terimakasih sudah mau menyempatkan berkunjung ke rumah Miku. Luka memberi Rin bebera cup cake untuk dibawa pulang, dan memberinya resep yang telah dijanjikannya. Miku mengantar mereka sampai kedepan gerbang kemudian kembali ke kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur berwarna baby blue itu. Ia mulai memikirkan kembali hal hal yang telah dilewatinya hari ini, Miku berfikir mungkin ia memang harus menghancurkan dinding yang telah ia buat selama ini, ia merasa telah menemukan kembali dirinya yang lama, dirinya yang dulu...
...di masa lalu.
Sementara itu di tempat lain
Gakupo tiba tiba menghentikan mobilnya, ia memutar badannya ke arah Rin dan Len yang duduk di belakangnya.
"Kagamine-kun, Kagamine-san, ada yang ingin kubicarakan."
To be Continued...
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
