"Bagaimana kabar Jackson?"
"Baik, nampaknya dia menikmati acara sekolahnya.." Yoora menyahut memberikan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh sosok ayahnya yang berada cukup jauh duduk dihadapannya pada meja makan mereka yang berukuran panjang.
"Adikmu?"
Yoora tak menjawab secepat pertanyaan sebelumnya, gerak tangannya bahkan terhenti untuk melanjutkan acara makannya, yang ia rasakan adalah rasa kering pada tenggorakannya dan juga kaku pada gerak bibirnya untuk berucap.
"Aku tahu penyakitnya kembali muncul kemarin.." Ayahnya kembali berucap. "Kau tidak mau membujuknya pulang?"
Yoora menyesap minumannya lebih dulu sebelum akhirnya menyiapkan beberapa kalimat untuk memberikan balasan.
"Ayah tahu bagaimana keras kepalanya Chanyeol, lagi pula, Ia tidak mau kembali ke Korea karena kejadian itu."
Ayahnya mengangguk setuju, melakukan hal yang sama seperti Yoora dengan menenggak air di gelas minumnya lalu hening sejenak.
"Ayah akan membawanya pulang, tolong siapkan saja salah satu pengurus yang bisa membantu Junmyeon disini nantinya." Satu kalimat panjang itu benar – benar diucapkan oleh Ayahnya sebelum sosok itu pamit untuk pergi lebih dulu mengingat ada meeting penting pagi ini.
Yoora mengangguk meskipun ia masih berusaha menyerap maksud ucapan Ayahnya yang masih sulit untuk ia percayai meskipun hatinya merasa bahagia mendengarnya.
Your Love is My Drug
#Chapter 1.
"Bagaimana keadaanya?"
"Sudah mulai stabil.." Sahutan itu adalah suara dari Kim Junmyeon selaku manager dan juga Dokter yang bertugas merawat dan mengawasi sosok Park Chanyeol yang sudah dalam dua hari ini terbaring lemah diatas ranjang.
Setelah kejadian dimana psikologis Chanyeol kembali terpuruk saat di gereja, pria itu tidak sadarkan diri. Hingga akhirnya Junmyeon harus kembali merombak apartemen milik Chanyeol menjadi ruangan rawat inap dengan segala peralatan rumah sakit yang dengan mudah ia dapatkan dari kenalannya yang memiliki rumah sakit di New York.
Ini bukan kejadian pertama kali bagi Junmyeon namun demikian melihat Chanyeol seperti ini selalu membuat hatinya merasa nyeri. Ia sudah bersama dengan pria itu sedari awal vonis Chanyeol memiliki penyakit yang kini ia derita.
Parkinson—penyakit yang tidak mematikan namun tidak bisa disembuhkan. Dan Park Chanyeol mengidap penyakit itu.
"Kenapa dia seperti ini lagi? Sudah hampir satu tahun ini ia bisa bertahan memiliki semangat hidup.. kenapa bisa seperti ini?" Junmyeon menghela nafas, jujur saja ia juga tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan dari suara wanita yang tengah meneleponnya, kakak Chanyeol. Park Yoora.
"Mungkin saja dia tengah lelah dan terbawa suasana mengingat lagi mengenai hal ini, ini salahku.. seharusnya aku mengawasi dan bisa menjaganya—maafkan aku." Junmyeon bergerak membungkuk sedikit walaupun ia sadar Yoora tidak mungkin melihat kesungguhannya meminta maaf saat ini.
"Jangan seperti ini.. kau sudah berkorban banyak dan mau melakukan banyak hal untuk adikku. Kami yang seharusnya meminta maaf.. Chanyeol tidak mungkin bisa bertahan seandainya kau tidak mendedikasikan kesungguhanmu sebagai dokter dan juga sahabatnya untuk merawat dan menjaganya.." ucapan Yoora memang benar adanya.
Seandainya Junmyeon menolak untuk menjadi manager bagi Chanyeol dan juga seorang dokter yang merawat pasiennya, mungkin saat ini Chanyeol sudah berada di tempat rehabilitasi atau lebih buruknya lagi.. mungkin pria itu hanya tinggal nama mengingat usaha bunuh diri yang berulang kali Chanyeol lakukan.
"Dia temanku, sahabatku.. dan sebagai dokter dan juga sahabat aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri untuk menghadapi cobaan ini."
"Tentu, sekali lagi.. terima kasih untuk semuanya."
"Sama – sama.. hm—bagaimana kabar Jackson?" suara Junmyeon berusaha terdengar ceria bermaksud menyudahi perbincangan dan suasana sedih antara panggilan telepon dirinya dan juga Yoora.
"Dia masih di Jeju.. aku rasa anak itu begitu nyaman disana. Panggilan teleponku dijawab dengan nada riang, dia juga tidak terlibat masalah dengan teman – temannya disekolah. Aku rasa gadis SMA yang menjadi pengasuhnya saat ini benar – benar cocok dengan Jackson."
Junmyeon ikut tidak percaya mendengar ucapan Yoora mengenai Jackson karena yang selalu ada dalam bayangannya adalah sikap nakal dan juga rajukannya yang sangat mirip dengan Chanyeol. Bungsu dari keturunan Park itu benar – benar seperti copy sifat dari Ayah dan juga kakaknya.
"Wow.. sungguh berita baik."
"Aku setuju.. setidaknya ada hal baik yang terjadi pada akhirnya." Kesimpulan Yoora mendapatkan anggukkan kepala dari Junmyeon.
"Pasti akan ada hal baik untuk semua permasalahan yang Yoora, kita harus percaya.. Tuhan selalu mendengarkan doa kita hanya saja—"
"Kita harus bersabar dan tetap yakin pada-Nya. I know.. you've been told me about it every time, hm."
Seharusnya Yoora bisa melihat bagaimana wajah kikuk dan juga cengiran lebar karena merasa malu karena ucapannya sendiri.
"Aish.. aku sudah bosan mendengar hal itu.." Yoora terkikik. "Baiklah.. aku memiliki kencan malam ini, kabari mengenai perkembangan Chanyeol, dan Dokter Kim.. kau juga harus beristirahat. Mengerti."
Junmyeon mengangguk, "Di mengerti Nona Muda.." suara jawabnya terdengar lebih sopan menirukan suara – suara dokter lainnya yang tengah menjawab beberapa pasien.
Sambungan telepon keduanya terputus setelah mereka sempat berbagi tawa dalam waktu singkat, Junmyeon meletakkan ponselnya di kantung dalam jas yang ia kenakkan. Kembali duduk pada sofa besar dalam jarak tak jauh dengan ranjang dimana Chanyeol tengah terbaring dalam tidurnya. Chanyeol bukannya tidak sadarkan diri, pria itu terbangun beberapa kali namun karena tekanan darahnya yang melemah dan juga tremor akibat Parkinson yang ia derita memaksa Junmyeon untuk memperbanyak kapasitas istirahat Chanyeol sampai keadaan pria itu lebih baik.
:::
:::
Baekhyun tengah menikmati sentuhan angin pantai yang secara kasar namun menenangkan membelai kulit tubuhnya dibawa sinar matahari siang ini. Matanya terpejam sedemikan guna menikmati semuanya sementara bagian kakinya yang tengah tersapu ombak berusaha mengimbangi dan bertahan untuk tetap kokoh berdiri tak terusik akan tarikan ombak pantai.
"Noona!" teriakan dari suara anak kecil lekas mengalihkan kenyamanannya dan membuatnya berbalik sesegera mungkin. "Istana pasirnya sudah jadi!" teriaknya anak itu melanjutkan. Tentunya Baekhyun melangkahkan kakinya cepat beranjak dari pantai menuju dimana bocah berusia enam tahun tengah begitu tenangnya meratakan beberapa bagian dari Istana pasir yang berhasil ia buat.
"Wuah. Bagus sekali." Baekhyun memuji karena memang apa yang ia lihat terlihat sangat bagus dan begitu rapi. Jackson sangat pintar, Baekhyun mengakui itu. Ia bahkan mendapatkan informasi dari Guru – guru sekolah yang ikut serta dalam acara kunjungan ke Pulau Jeju bahwasanya memang Jackson yang memiliki nama Korea Park Dokjun adalah anak cerdas dan juga penurut.
"See.. aku sudah mengatakan bisa membuat Istana Pasir bukan." Jackson memperlihatkan smirk bangganya dan juga kini ia menyombongkan diri teringat beberapa waktu lalu Baekhyun mengatakan ketidamungkinan Jackson bisa membuat Istana Pasir sebagus ini.
"Ne.. maafkan aku Tuan Muda." Baekhyun mengusak kepala Jackson mengacak – acak rambut anak itu yang sudah kaku karena air pantai dan juga pasir yang menempel. "Ayo, kita harus membersihkan badan. Sore ini kita kembali ke Seoul.."
"Sebentar.. fotokan Jack dengan Istana ini." Anak itu dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari dalam tempat kedap air yang mengalung di lehernya, memberikannya pada Baekhyun dan bersiap – siap melakukan beberapa pose.
Baekhyun sudah memaklumi kebiasaan anak yang diasuhnya saat ini, setelah hampir satu bulan Jackson dititipkan padanya meskipun dalam waktu beberapa jam saja, kebiasaan melakukan selfie atau foto mengenai apapun yang ia lakukan sudah sangat sering ia lihat. Dan menurut Yoora, sebagai kakak Jackson, anak itu memang sengaja melakukannya karena ia ingin Ayahnya dan juga seseorang melihat kesehariannya.
Baekhyun enggan bertanya siapa sosok seseorang yang sangat berarti untuk Jackson hingga membuat anak itu begitu rajin mengambil foto segala hal yang ia lakukan.
"Noona ayo.. ikut berfoto juga." Anak itu mengajak dan Baekhyun hanya menurut hingga beberapa foto terlihat mulai memenuhi galeri di ponsel Jackson saat ini.
"Noona yeoppo.." Jackson memuji. Lalu beralih merapikan segala perlengkapannya dibantu Baekhyun dan mereka berjalan bersama sambal bergandengan tangan kembali ke kamar hotel.
Your Love is My Drug
"Setelah makan siang kami akan langsung ke Bandara.." Baekhyun tengah melaporkan keadaanya saat ini pada Park Yoora. Kakak dari Jackson dan juga bisa dikatakan sudah menjadi majikannya saat ini.
"Jam berapa kalian landing? Apakah sekitar pukul 4.40?"
Baekhyun bergegas memeriksa jadwal di tiket penerbangan miliknya dan juga Jackson. "Benar Eonnie." Jawabnya.
'Oke.. aku bisa menjemput kalian. Nanti katakan saja pada Guru Jackson bahwa aku menjemput kalian di Bandara.. aku juga akan mengirimkan pesan pada mereka juga. Terima kasih banyak Baekhyun."
"Ne.. ahh—aku yang berterima kasih Eonnie.. kau memberikan aku pekerjaan dan juga liburan." Baekhyun merasa malu dan juga juga tidak enak hati karena kalua boleh jujur, Baekhyun tidak pernah membayangkan akan ditawari pekerjaan dengan gaji yang lebih dari cukup untuk biaya hidupnya sebulan. Ia tidak perlu lagi bekerja part time di banyak tempat. Bahkan, baru beberapa hari ia mengiyakan untuk menjadi pengasuh Jackson, dirinya sudah mendapatkan liburan gratis sembari bekerja.
"Kau membantu banyak hal Baekhyun, menjaga Jackson adalah pekerjaan yang tidak bisa aku lakukan dengan baik. Dan kau melakukannya dengan baik.. sudah.. jangan kembali membahas masalah ini. Nikmati makan siangmu, kita bertemu beberapa jam lagi, aku tutup." Setelah Yoora berpamitan di telepon dan menutup panggilan teleponnya, Baekhyun tersenyum senang dan bertekad ia akan melakukan apapun untuk menjaga Jackson. Matanya berpaling melihat sosok anak itu yang tengah asyik bermain game di Playstation portable duduk santai di sofa lobby Hotel.
"Jack.. Yoora Noona akan menjemput kita nanti di Bandara." Baekhyun duduk disebelah anak itu, sedikit melirik permainan apa yang dimainkan bocah itu hingga ucapannya tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Noona menjemput?" tanya anak itu meskipun fokus mata dan tangannya masihlah terpaku pada portable di genggamannya.
"Hum.. jadi kita tidak naik bis sekolah nanti.. Noona akan memberi tahu gurumu dulu ya.. jangan kemana – mana." Baekhyun beranjak begitu saja setelah melihat salah satu guru Jackson mulai bergabung dengan rombongan para murid dan juga wali mereka.
Seharusnya Jackson masih berkutat serius dengan permainan yang tengah ia mainkan namun suara dering singkat yang berbunyi dari arah ponselnya yang menggantung di leher, melihat nama yang tertera di layar ponselnya berhasil membuat fokusnya teralihkan dan bahkan memekik bahagia ketika panggilan itu ia jawab.
"Hyung! Hyung.. Jackson mengirimkan foto – foto bagus ke ponsel Hyung kemarin, Hyung sudah melihatnya?" ucapnya dengan cepat.
"Wuoah—Wuah—tenang Jack. Kau bersemangat sekali hm."
"Jackson rindu dengan Chanyeol Hyung! Kenapa pesan Jack tidak dibalas dari kemarin? Hyung sibuk ya?"
"Hm, begitulah.." nada Chanyeol terdengar tidak bersemangat seperti sebelumnya namun demikan Jackson belum mampu mengetahui perbedaan suaranya yang terdengar lirih.
"Jadi bagaimana Jeju?"
"Indah! Jackson bermain di Pantai bersama Baekhyun Noona—Hyung harus melihat foto –fotonya nanti. Noona sangat cantik!"
"Benarkah? Lebih cantik dari Yoora Noona?"
"Umm.."
Terdengar suara Chanyeol yang tertawa di sela-sela rasa bimbang Jackson menjawab pertanyaan dari Chanyeol.
"Ah.. Hyung.. mereka berdua sama – sama cantik.." Jackson menjawab sembari melihat kearah Baekhyun yang terlihat masih mengobrol dengan guru dan juga beberapa wali murid lainnya. Jackson dengan sengaja mengalihkan panggilan telepon dengan kakaknya menjadi panggilan video demi menunjukkan alasan kenapa ia mengatakan bahwa Baekhyun Noona yang ia bicarakan cukup cantik sebanding dengan kakak perempuannya.
"Lihat Hyung, Baekhyun Noona yang memakai baju berwarna putih itu.." Jackson mefokuskan kameranya kearah Baekhyun yang masih terlihat begitu serius mendengarkan orang – orang disekitarnya berbicara.
"Wuah." Chanyeol terlihat memperhatikan sosok yang tengah difokuskan oleh Jackson sementara Junmyeon yang sedang bergabung berkomentar lebih dulu memuji bahwa Jackson ternyata memang tidak berbohong.
"Cantik kan Hyung?" tanya Jackson lagi karena kakaknya terlihat masih begitu serius memperhatikan layar ponselnya.
Baekhyun tengah berjalan kearah dimana Jackson berada dan ia tidak tahu menahu bahwa anak yang tengah diasuh itu tengah melakukan panggilan video call dengan seseorang.
"Jack, ayo! Kita akan ke bandara sekarang." Ucap Baekhyun ketika jarak mereka mulai dekat.
"Baekhyunnie! Ini Hyung Jackson." Tangan anak itu membalik arah ponselnya hingga Baekhyun bisa melihat kearah layar ponsel Jackson saat ini dimana ada sosok pria disana tengah terlihat menatap kearahnya.
"Oh—annyeong haseyo." Dengan terburu – buru Baekhyun menutup wajahnya lalu menunduk bermaksud memberikan salam dan juga menutupi wajahnya yang tak mengenakkan make up seadanya.
"Oh—annyeong—" sosok pria itu membalas.
"Junmyeon Hyung?! Hyung kemana?" Jackson kembali membalikkan layar depan ponselnya kearahnya dan ia semakin bingung karena nyatanya wajah Chanyeol tak terlihat disana, melainkan wajah Junmyeon—sang manager.
"Oh, Chan—Hyungmu sedang ke kamar mandi." Junmyeon membalas; berbohong. Karena sesungguhnya Chanyeol masih berada disampingnya, tak berniat menunjukkan sosok dirinya pada sang pengasuh baru Jackson.
"Eoh?" Jackson nampaknya tak terima dengan alasan yang Junmyeon katakan dan memilih memutuskan sambungan panggilan video itu karena pihak sekolah mulai memanggil satu per satu nama anak murid untuk masuk dalam barisan sebelum mereka naik ke dalam bus yang akan mengantarkan ke Bandara.
.
.
"Well.. dia terlihat manis." Junmyeon memberikan ponsel Chanyeol kembali pada pria itu sementara sang empunya tengah sibuk melihat satu per satu foto yang nampak di layar laptopnya. Sosok gadis yang sama muncul pada panggilan video dengan Jackson sebelumnya.
"Bagaimana? Apa yang dikatakan mata – matamu?" Junmyeon tahu Chanyeol mengirim orang untuk mengikuti pengasuh Jackson itu dan kini Chanyeol sedang melihat satu per satu segala laporan yang dikirimkan padanya.
"Dia baru lulus, tinggal seorang diri, terlalu banyak memiliki pekerjaan part time sebelumnya. Tidak ada yang menarik." Chanyeol menyimpulkan namun tangannya masih melihat satu per satu foto – foto yang menampilkan wajah gadis itu.
"Dia memang manis." Junmyeon lagi memuji.
Alis Chanyeol mengerut tidak setuju terlebih ia sudah dua kali mendengar manajer dan juga dokternya itu memuji bagaimana wajah pengasuh Jackson itu.
"Ingat umurmu Hyung, umurnya jauh lebih muda darimu." Chanyeol menutup laptopnya dan kembali berkutat dengan ponselnya, mengirimkan pesan dengan cepat entah untuk siapa.
Junmyeon beranjak menjauh bermaksud mengambilkan minum dan juga obat – obatan untuk Chanyeol mengingat sudah saatnya pria itu kembali beristirahat setelah sempat bekerja dengan urusan musiknya.
"Kau tidak mengabari Yoora atau Ayahmu, mereka juga khawatir ketika aku mengabarkan kau pingsan dan mengalami tremor kemarin."
Chanyeol menghela nafas malas, menyandarkan badanya pada bantal dibelakangnya, "Besok saja." Jawabnya acuh.
"Terserah. Aku sudah mengabarkan lebih dulu." Junmyeon menyeringai bahagia dan enggan menjawab ketika melihat kearah Chanyeol yang memprotes dengan gerak mata dan raut wajahnya. "Diam, minum obatmu." Ia menyodorkan gelas dan juga beberapa obat ke tangan Chanyeol yang kemudian langsung diminum olehnya meskipun Junmyeon sangat yakin sosok sahabatnya itu tengah menahan rasa ingin mengumpat kesal kearahnya.
Junmyeon kembali ke sofa dekat ranjang Chanyeol, berkutat dengan pekerjaannya sementara Chanyeol kembali bermain dengan ponselnya.
"Media Korea mulai menginginkanmu kembali kesana.."
Fokus Chanyeol teralihkan dengan ucapan Junmyeon yang hanya berbicara sepotong kalimat lalu kembali serius melihat hal yang tersaji di layar ponselnya.
"So?" Chanyeol memancing pria itu untuk melanjutkan.
Junmyeon melihat kearah Chanyeol sesaat, "Bukankah ini waktunya kita pulang?"
Dan selanjutnya terdengar dengusan Chanyeol yang meremehkan serta menolak ide yang baru saja diucapkan oleh sang manajer.
"Wae? Mereka mulai mengirimkan permintaan undangan wawancara, photoshoot, variety show, bahkan brand – brand fashion mengirimkan undangan untuk kau hadiri di pembukaan rumah mode mereka."
Chanyeol kembali mendengus meremehkan mereka semua yang sekarang mulai mencari dan ingin melihat bakatnya.
"Sampah." Ucapnya penuh dendam. Ingatannya kembali teringat pada kejadian beberapa tahun lalu, hari dimananya Ibunya meninggal.
Sewajarnya media memberitakan sosok artis yang telah meninggal dengan mengenang karya – karya yang pernah dibuat oleh sosok artis tersebut, tapi nyatanya yang diberitakan oleh media Korea saat itu adalah penyebab meninggalnya mendiang Ibu Chanyeol dan juga berita – berita buruk yang belum diketahui kebenarannya, berita dating, masalah perselingkuhan terlebih Jackson saat itu baru berusia 2 tahun, yang sontak cocok untuk dijadikan bahan gossip mengenai perselingkuha terhadap mendiang Ibunya dan juga Ayahnya.
Meskipun Ayah Chanyeol sudah memberikan klarifikasi mengenai semuanya, namun media menganggap itu hanyalah tindakan dari sosok suami yang tidak mau mendiang istrinya dibicarakan begitu buruk oleh hampir seluruh warga Korea dan juga demi menjada nama baik Perusahaan serta keluarganya.
Saat itulah Chanyeol memutuskan untuk meninggalkan Negara kelahirannya terlebih ia memiliki kekurangan yang memungkinkan akan menjadi senjata menjatuhkan dirinya dan juga nama keluarganya kelak.
"Jangan pernah terpikir aku akan pulang Hyung, lebih baik berada jauh dari sampah – sampah seperti mereka, aku tidak mau membuat Ayah dan nama Keluarga Park kembali dibicarakan seperti waktu itu."
Junmyeon bisa melihat rahang wajah Chanyeol sudah mengeras menahan semua emosinya yang tidak bisa diluapkan kepada orang – orang yang sempat menghina keluarganya. Ingatan Junmyeon pun masih kuat mengingat bagaimana gossip itu membawa dampak buruk bagi seluruh Perusahaan dan juga karir Yoora, mereka sekeluarga bahkan harus mengasingkan diri cukup lama sebelum kembali ke Korea dan akhirnya berani kembali muncul dalam dunia bisnis, sementara Chanyeol memilih untuk menetap di Los Angeles melanjutkan karir bermusiknya di Negara Paman Sam.
"Aku tidak berpikir untuk membawamu pulang.. aku hanya berandai – andai membayangkan bagaimana bila suatu saat kau kembali ke Korea."
Kepala Chanyeol menggeleng cepat begitu juga dengan gerak tangannya yang menolak keras bayangan dalam kepala sang Manager. "Mungkin akan ada Perang Dunia Ketiga setelahnya." Tawa Chanyeol terdengar setelah namun berbeda dengan Junmyeon yang menganggap hal seperti itu bukanlah suatu hal yang masuk dalam topik bercanda.
Pembicaraan mereka kembali menjadi pembicaraan santai, tak membicarakan masalah pekerjaan dan hanya pembicaraan sesama teman yang telah lama hidup bersama dalam satu pekerjaan. Junmyeon merasa sedikit tenang, Chanyeol sudah bisa kembali tertawa dan bahkan memiliki sedikit semangat hidup lagi tak seperti beberapa hari lalu.
Hingga akhirnya suara ketukan pintu memotong pembicaraan mereka dan juga fokus keduanya, terlebih ketika Junmyeon sigap membukakan pintu ruangan kamar Chanyeol untuk melihat siapa sosok yang berada dibaliknya, dan yang terjadi selanjutnya adalah raut wajah tidak percaya dan juga keterkejutan karena sosok yang berada dihadapan Junmyeon saat ini adalah sosok yang tidak pernah ia pikirkan akan berada dihadapannya.
Your Love is My Drug
Yoora melambaikan tangannya keatas sesaat melihat Jackson dan Baekhyun yang tengah bergandengan tangan baru saja keluar dari pintu kedatangan Bandara. Jackson yang pertama kali melihat keberadaan Yoora pun lekas berlari dengan tangannya yang tetap menggandeng Baekhyun hingga gadis itu tergerak susah karena harus mengikuti Jackson berlari.
"Noona!" bocah kecil itu memeluk badan Yoora dengan begitu erat seakan – akan mereka tak bertemu selama beberapa bulan lamanya.
"Umm.. Noona rindu sekali denganmu anak nakal." Yoora mencubit pipi Jackson dan juga mengusak rambut bocah kecil itu yang tentunya membuat Jackson berteriak kesal.
Yoora lekas mengalihkan pandangannya pada Baekhyun yang tersenyum dalam posisi berdirinya tak jauh dari tempatnya. "Dia tidak merepotkanmu disana kan Baekhyunnie?" bisik Yoora dan dibalas gelengan kepala Baekhyun.
"Dia tidak berbuat hal – hal nakal Eonnie."
"Noona! Jackson jadi anak baik disana!" bocah kecil itu melanjutkan sebelum Baekhyun membuka suara menjelaskan sedikit cerita tentang liburan singkat mereka.
Yoora tersenyum lebar berbalas menatap Baekhyun yang jelas terlihat begitu gemas dan amat menyayangi Jackson layaknya adiknya sendiri.
"Baiklah, ayo kita makan malam bersama. Baekhyunnie, kau tidak keberatan kan untuk makan malam bersama kami lebih dulu?"
"Ah—Eonnie, aku mungkin harus langsung pulang—"
"Aniya! Noona harus ikut!" langkah Jackson melebar demi kembali menggandeng tangan Baekhyun lalu menarik gadis itu menuju mobil mereka yang sudah terlihat berada di area tunggu.
"Eonnie…" Baekhyun memohon bantuan pada Yoora namun wanita yang lebih tua jauh dari Baekhyun hanya membalas dengan gerakkan bahu yang terangkat, memasang kaca mata hitam menutupi matanya lalu berjalan angkuh menuju mobil lebih dulu. Dan karena itu Baekhyun tak bisa menolak ajakan dari Bossnya.
Yoora meminta mobil mereka diarahkan pada Restoran mewah yang terletak di pusat kota Seoul, The Park-view yang merupakan restoran miliknya. Perjalanan yang ditempuh tidak memakan waktu begitu lama , pembicaraan antara Baekhyun dan Yoora bahkan harus terpotong di tengah – tengah asyiknya topic pembicaraan mereka karena intruksi supir yang mengatakan bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan.
Yoora menurunkan Jackson lalu mempersilahkan Baekhyun untuk turun dan melangkah tepat disampingnya, beberapa pengawal yang keluar dari mobil lainnya ikut serta mengiringi langkah mereka. Kalau perhitungan Baekhyun tak salah, ada empat orang pria – pria bertubuh tegap dan kekar dengan raut wajah datar dibelakangnya saat ini.
Pandangan matanya terlalu terbuai dengan dekorasi suasana restoran itu hingga dirinya tak menyadari bahwa Ia sudah berada di sebuah ruangan private yang mana menjadi tempat Ia, Yoora dan Jackson untuk makan malam.
Awalnya Baekhyun merasa kaku serta gugup mengingat Ia tidak pernah berada di tempat seperti ini, tempat yang mewah, mahal dan juga berkelas. Sosok seperti dirinya jelas tidak cocok berada ditempat ini.
"Kau baik – baik saja?" Yoora yang jelas bisa melihat Baekhyun merasa tak nyaman akhirnya memberanikan untuk bertanya.
Baekhyun menggigit bibirnya menahan malu lalu menggeleng, "A-aku hanya belum pernah ke tempat seperti ini.."
Yoora tersenyum kecil. "Tenang saja, tempat ini sama seperti tempat – tempat lainnya.. hanya suasananya saja yang berbeda." Wanita yang terlihat sangat dewasa dan bijak dalam pemilihan kata – kata sebelum diucapkan itu mampu membuat Baekhyun merasa tenang dan kembali bisa bersikap seperti biasanya, yang tentunya bisa dilakukan karena adanya Jackson, bocah polos dan nakal itu menjadi satu – satunya pihak paling berisik diantara kedua wanita disana.
Makan malamnya berjalan sangat lancar, Baekhyun bahkan sudah tidak mampu menghabiskan makanan penutupnya yang sejujurnya terasa sangat nikmat dan sangat sayang untuk dibiarkan, namun kondisi perutnya tak mampu lagi menerima asupan makanan lagi. Jackson bahkan lebih dulu menyerah dan larut dalam kenyamanan, anak itu bisa – bisanya tertidur nyaman diruangan makan mereka dan bahkan mendengkur.
"Sepertinya dia terlalu banyak bermain di Jeju ya.." Yoora mengusap rambut Jackson dengan begitu lembut agar tak membangunkan adiknya.
"Eoh, lebih banyak acara bermain disana.. dan dia super aktif." Baekhyun membenarkan.
"Teirma kasih Baekhyun, adanya dirimu sungguh sangat membantu." Yoora kembali berterima kasih.
Baekhyun bahkan sudah lupa berapa kali wanita yang menjadi Boss-nya saat ini berterima kasih padanya semenjak dirinya menjadi pengasuh Jackson.
"A-aku juga berterima kasih Eonnie, karena dirimu menawari dan memberikan kesempatan untukku bekerja mengasuh Jackson.."
Yoora mengangguk. "Bagaimana dengan sekolahmu? Bukankah besok acara kelulusanmu?"
"I-iya.. besok aku akan mengambil ijazah kelulusan.." suaranya terdengar parau mengingat kecil kemungkinannya ia bisa melanjutkan sekolahnya pada jenjang yang lebih tinggi.
"Ehm.. apa kau sudah mendaftar kuliah?" Yoora bertanya ragu dan bahkan meminta maaf setelahnya takut pertanyaannnya menyinggung Baekhyun.
Namun gadis itu lebih dulu menggeleng dan bahkan memberikan senyuman manisnya, "A-aku sudah mendaftar di SNU, ta-tapi belum melihat pengumumannya.."
"Aaahh.. pasti kau diterima! Kau mengambil jurusan apa?"
Baekhyun lagi – lagi menggigit bibirnya, "Ehm.. nur-nursing.."
Yoora membelakkan matanya tak percaya dan merasa takjub tentu saja. "Kau mau menjadi perawat?"
Baekhyun mengangguk.
"Ke-kenapa tidak menjadi dokter juga?"
"A-aku tidak bisa.."
Yoora menunggu Baekhyun menyelesaikan ucapannya sebelum kembali berucap.
"Kalau aku menjadi dokter, mungkin aku tidak bisa mengoperasi seseorang dan juga membedah mereka.. terlalu banyak hal yang dipelajari.. jadi lebih baik aku menjadi perawat saja."
"Aaah.. Temanku ada yang menjadi dokter, dan sepertinya memang perjuangannya tidak mudah." Yoora tersenyum, mencoba terlihat memahami perasaan dan pemikiran Baekhyun mengenai pilihannya.
Ada jeda keheningan yang terjadi diantara keduanya setelah pembicaraan itu hingga mereka berdua merasa kaku terhadap satu sama lain.
"A-aku—ada yang ingin aku tanyakkan lagi sebenarnya, tapi Aku takut menyinggung perasaanmu."
Baekhyun membeo binggung, tak mengerti maksud ucapan Yoora barusan kepadanya.
"A-aku ingin menawarkan pekerjaan lainnya.. tapi ini terlalu rumit untuk dijelaskan."
"Pe-pekerjaan lain? A-apa aku tidak lagi menjaga Jackson?" Baekhyun lekas bertanya dan menunggu penjelasan Yoora, pikirannya mulai berkecamuk memikirkan hal buruk, membayangkan ia tak lagi menjaga Jackson dan diberikan pekerjaan yang akan menggangu kerja part timenya yang lain, dan hal buruknya Ia mulai membayangkan bagaimana ia bisa mengumpulkan uang untuk membayar uang kuliahnya kelak.
"Oh, tidak! Maksudku.. kau tetap menjaga Jackson, hanya saja ada pekerjaan tambahan lainnya.." penjelasan yang Yoora katakan secara singkat membuat Baekhyun merasa lega.
"A-aku tetap mempercayakan dirimu menjaga Jackson, tapi ada satu pekerjaan yang aku ingin kau lakukan juga."
Baekhyun menyimak dengan serius.
"A-aku ingin kau juga mengawasi.. dan merawat adikku.."
Penjelasan Yoora yang belum lengkap sepenuhnya membuat Baekhyun merasa bingung, ingatannya kembali pada celotehan Jackson sejak Baekhyun mengenal bocah kecil itu. Jackson selalu mengatakan rindu pada kakaknya yang tinggal jauh darinya, anak itu bahkan selalu berceloteh ringan mengatakan kakaknya adalah sosok artis yang terkenal dan disukai banyak orang. Satu per satu celotehan Jackson coba diingat oleh Baekhyun dan ia kumpulkan menjadi satu kesimpulan untuk membantu menyimak maksud dari tawaran Yoora yang belum tuntas diucapkan.
"A-aku ingin kau merawat adikku, Park Chanyeol."
Tbc.
