Disclaimer : Serial Naruto dan tokohnya milik Masashi Kisimoto.
Warning : Typos, Out of character.
Cerita ini mengandung unsur kekerasan fisik dan pembunuhan. Dimohon bijak dalam membaca dan tidak meniru hal hal jelek dalam cerita. Terimakasih!
.
.
.
.
.
.
Hembusan nafas yang keluar dari hidung menjadi asap. Suasana Konoha di malam hari memang sangat dingin, bahkan jaket hitam panjang dan pakaian tebal yang dipakai Itachi tidak cukup untuk menghangatkan tubuhnya.
Jalanan di malam hari nampak sepi, beberapa kedai sake masih buka. Wilayah Konoha bagian barat memang berisi banyak mafia, mereka berinteraksi saat malam hari. Menjual barang haram, prostitusi, menyelundupkan barang impor yang tidak masuk bea cukai. Dan pekerjaan pekerjaan kotor lainnya.
Itachi memasukan kedua tangannya kedalam saku jaket, dan berjalan masuk ke dalam kedai sake. Duduk ditengah tengah kerumunan ramai yang sedang berjudi dan memesan satu botol sake untuk diminumnya. Ia memasang kupingnya tajam, berusaha mencari informasi apapun tentang Yami.
"Semua ini jadi terhambat." Seorang pria berambut putih menghisap tembakau yang ada di tangannya pelan, kepulan asap keluar dari mulutnya. "Yami si pembunuh sialan itu."
"Itu benar, polisi polisi Konoha yang menyebalkan jadi sering berjaga di perbatasan. Barang ilegal dari Kiri tidak bisa disuplai lebih banyak lagi." Satu pria berujar sambil meminum segelas sake.
Pria yang ketiga tertawa, lalu menghisap tembakau di tangannya. "Kabarnya si brengsek Yami itu memotong lidah Shikaku, sungguh seorang psikopat."
"Tindakan bodoh. Kenapa dia melakukan itu pada juru bicara Hokage?"
"Mungkin karena Shikaku terlalu banyak berbicara, jadi Yami sialan itu memotong lidahnya!"
Ketiga pria itu tertawa terbahak bahak, mengingat kematian Nara Shikaku, seorang juru bicara Hokage. Tugasnya memang mewakili Hokage dalam memberikan keterangan pada publik, tidak jarang Shikaku muncul di televisi karena tugasnya.
Itachi mendengus pelan mendengar perkataan ketiga pria itu. Mereka hanya berbicara yang tidak penting. Seseorang melewati meja Itachi dan mengetuknya pelan. Ia mengangguk, dan beranjak dari tempat duduknya seraya menaruh beberapa koin disana.
Shisui melepas topi fedora hitam yang dikenakannya, kepalanya terasa panas. Berharap suhu dingin Konoha mampu mendinginkan kepalanya.
"Menghilang." Ujar Shisui pelan pada seseorang yang berjalan disebelahnya. "Bagaimana denganmu?"
"Sama denganmu." Itachi mengancingkan jaketnya, "Setelah melakukan pembunuhan, Yami menghilang bagai ditelan bumi." Ujarnya pelan.
"Astaga, sungguh merepotkan." Shisui menggelengkan kepalanya.
Mau bagaimanapun mereka harus tetap menyelidiki kasus ini, hanya sedikit informasi yang mereka punya. Sudah tugas seorang detektif untuk selalu mempunyai banyak sumber informasi, begitupun Shisui. Ia baru saja menemui sumber informannya. Pengawas dunia malam, Orochimaru.
Sudah empat hari sejak pembunuhan Nara Shikaku, juru bicara Hokage. Mereka belum mendapatkan informasi lebih lanjut tentang ini, yang ada hanyalah surat peringatan yang ditujukan pada kantor polisi Konoha.
Crazy.
Isi surat itu diantarkan melalui pos, tidak ada alamat pengirimnya hanya alamat tujuan. Awalnya polisi Konoha mengira surat itu hanya penawaran surat kabar terbaru.
Surat itu berisi sebuah pengakuan bahwa seseorang bernama Yami, sudah membunuh Nara Shikaku dengan sengaja. Ia senang melakukan pembunuhan itu, karena bosan melihat Shikaku yang berceloteh seperti burung beo di televisi, dan berkata ia akan melakukan pembunuhan lagi. Bahkan Yami mengirimkan lidah milik Shikaku yang dipotongnya saat pembunuhan.
Sekali lagi itu crazy.
Orang orang pengirim barang ilegal itu benar, Yami itu seorang psikopat gila. Pembunuhan memang bisa terjadi, tapi yang seperti ini baru Yami seorang. Bahkan ia sengaja mengirimkan surat peringatan pada kantor polisi, seolah olah menunjukan ke eksisannya sebagai pembunuh ulung.
Hasil otopsi dari Nara Shikaku juga begitu mengejutkan. Tubuhnya ditemukan tergantung di pohon taman kota, dengan keadaan dua tangan, kaki dan mulut tersumpal lakban. Wajahnya membiru, lidahnya terpotong bersama dengan satu jari kelingkingnya. Dan lagi, sekujur tubuhnya memerah seperti sudah menapat luka pecutan.
"Seperti pemikiranmu Itachi, Yami itu nama samaran bisa perempuan atau laki laki." Shisui menatap cahaya lampu jalan yang remang. "Kegelapan."
Itachi mengangguk, "Terlebih lagi tulisan yang ada di surat itu sangat rapih. Jujur saja Senior, lebih rapih dari tulisan ibuku."
Shisui tertawa, sudah empat hari tiga malam mereka tidak pulang ke rumah. Terus menetap di kantor, memeriksa para saksi. Kalimat Ibuku tadi menandakan bahwa Itachi sedang rindu rumahnya.
"Kau benar Itachi. Astaga aku sampai lupa alamat rumahku sendiri." Shisui tertawa sambil merangkul bahu itachi.
"Ya aku akan pulang, selagi otakku masih mengingat jalan dan nomor rumahku." Itachi menunjuk nunjuk kepalanya, berusaha menunjukan bahwa ia tidak amnesia alamat rumah pada Shisui.
Shisui tertawa, hembusan nafasnya menjadi asap. "Jika aku pulang sekarang, Ibuku pasti mengunci pintunya dari dalam. Boom. Aku tidak bisa masuk."
Itachi hanya menggelengkan kepala, heran. Kenapa seniornya ini sangat betah di kantor dan tidak pulang kerumah. Jujur saja Itachi sangat merindukan adik kecil dan masakan ibunya. Empat hari berada di kantor membuatnya harus memakan makanan cepat saji yang kurang sehat itu.
"Kau bisa menginap dirumahku, Senior. Ayahku sangat senang bisa mengobrol denganmu."
Shisui menggelengkan kepala, "Tidak, tidak. Aku akan pulang besok. Jika mendobrak rumah, ibuku bisa marah. Kau tahu tetanggaku itu sensitif."
Itachi tertawa, ia tahu itu hanya alasan saja.
"Pulanglah, aku akan tetap di kantor." Shisui melambaikan tangannya di perempatan jalan, "Sampaikan salamku untuk Sasuke yo!"
"Ya." Itachi menjawab pendek.
Ini jam tiga dini hari, jalanan sangat sepi. Itachi tidak takut, ia sudah biasa menghadapi gelapnya Konoha di malam hari. Bahkan di kasus kriminal kemarin, ia terpaksa merasakan jadi gelandangan Konoha. Pekerjaan yang sulit, demi mendapatkan informasi dan menangkap tersangka ia rela melakukan apapun.
Seperti biasa, daripada melewati gerbang rumahnya, Itachi memilih meloncatinya lewat pohon dan membuka bagian rahasia di lampu taman rumahnya. Ibunya selalu menyimpan kunci rumah disitu, khawatir jika anak sulungnya akan pulang larut malam.
Dan benar saja, rumah sudah kosong. Hanya lampu tidur yang menyala dari ruang tengah. Itachi segera melangkahkan kaki ke kamarnya, berusaha tidak memikirkan kasus yang sedang diselidikinya. Bukannya ia tidak peduli, tapi berusaha santai agar tidak membuat dirinya stres karena sebuah kasus.
"Kakak! Bangun! Kakak!"
Sasuke mengguncang guncangkan tubuh besar yang masih berbalut selimut. Ini sudah pukul tujuh pagi, waktunya sarapan bersama. Sebetulnya Sasuke sangat merindukan kakaknya, sudah empat hari ini kakaknya terus bekerja. Tidak ada di rumah, ia bosan hanya bersama ibu dan teman teman bermain rumahnya yang menurutnya sangat konyol.
"Kakak!"
Itachi tersenyum kecil saat Sasuke menyerah dan malah terlentang di atas tubuhnya. Ia sudah bangun sedari tadi, hanya malas untuk melangkahkan kaki ke luar kamar. Ia memutuskan untuk bangun dan Sasuke terjatuh ke lantai.
Anak kecil itu tertawa lebar. "Kakak sudah bangun!" Ujarnya girang. "Hari ini kita latihan karate bersama kan?"
"Maaf Sasuke, hari ini aku bekerja."
Sasuke merengut, "Inikan hari sabtu, apa detektif seperti kakak tidak ada hari libur?"
Itachi tersenyum menatap adiknya yang masih duduk di lantai kamar, "Shisui akan memarahiku jika tidak kerja."
"Lagi lagi Kak Shisui." Sasuke melipat kedua tangannya di dada, wajahnya bertaut sebal. Baginya Shisui selalu merebut Itachi darinya.
"Lain kali saja ya, Sasuke." Itachi mendorong kepala Sasuke pelan dengan dua jarinya dan melangkah pergi ke ruang makan.
Pipi Sasuke sedikit memerah, ia menatap punggung kakaknya yang sudah menjauh. Sasuke hanya ingin menunjukan gerakan karate yang baru dipelajarinya, mungkin itu bisa lain kali. Lagipula Sasuke belum terlalu mengingat gerakan karate itu.
"Ayo makan." Mikoto menaruh dua mangkuk sup hangat diatas meja, lengkap sudah menu sarapan sederhana hari ini.
Keluarga ini selalu punya tradisi makan bersama, baik itu sarapan atau makan malam sekalipun. Tapi lihatlah, kepala keluarganya saja melanggar tradisi itu.
Itachi menatap kursi kosong yang ada di depannya, Ayahnya tidak pulang. Ia tahu tugas kepala kepolisian Konoha berat, apalagi kasus pembunuhan yang terjadi. Itachi memaksakan pulang karena khawatir dengan Mikoto dan Sasuke yang berada dirumah.
"Ayahmu akan pulang besok." Mikoto tersenyum lalu memberikan sepotong daging ke mangkuk nasi Itachi. "Aku mengerti ia sibuk, begitu juga denganmu Itachi."
"Sangat sibuk, hari sabtupun bekerja." Omel Sasuke, padahal mulutnya sedang penuh oleh makanan.
"Sasuke kunyah dulu, baru berbicara." Ujar Mikoto lembut. "Bagaimana pekerjaanmu? Lancar?"
Itachi mengangguk, "Begitulah bu, belum ada perkembangan."
"Ibu yakin kau pasti bisa mengungkap siapa pelakunya, Ayahmu juga pasti membantu."
Itachi tersenyum. Inilah alasan ia pulang ke rumah. Dukungan dan doa dari Ibunya sangat berarti. Bagaimana ia bisa melakukan pekerjaan dengan mulus jika tidak dilengkapi dengan dukungan dan restu dari Ibunya? Itachi anak yang berbakti kepada orang tua.
"Aku juga akan membantu!" Sasuke mengacungkan jari telunjuknya. "Kakak aku ikut penyelidikan ya?"
Mikoto tertawa, anak bungsunya yang baru berumur delapan tahun ini ada ada saja. "Sasuke, itu berbahaya. Kau masih kecil."
"Ibu, aku ingin seperti Kakak! Mengejar orang orang jahat dan memberantas kejahatan dengan pistol! Dor dor!" Sasuke memperagakan gaya menembak dengan sumpit di tangannya.
Mikoto dan Itachi tertawa bersamaan, ini lucu. Sasuke memperagakan bagaimana cara menembak dengan sumpit makan. Astaga, sejak kapan adiknya tahu bahwa Itachi sering memakai pistol?
"Lebih baik kau jadi polisi saja." Itachi mengelus kepala Sasuke pelan.
Perlu diketahui, Uchiha Fugaku, Ayah Itachi adalah kepala kepolisian Konoha. Mungkin sudah lebih dari sepuluh kali Ayahnya meminta Itachi untuk bergabung di kepolisian, menjadi anggota polisi atau intel. Tapi Itachi selalu menolak, ia tidak mau bekerja di kepolisian.
Jika ia menerima tawaran Ayahnya, pasti akan ada gosip beredar bahwa Itachi lulus tes kepolisian gara gara Ayahnya. Ia tidak mau hal itu terjadi. Itachi akan melindungi Konoha dengan caranya sendiri dan ingin memilih jalan yang berbeda dengan Fugaku.
Sampai akhirnya, sepucuk surat datang ke rumahnya. Mengatakan bahwa Otsutsuki Group mengajaknya bergabung ke anak perusahaan yang dipimpin oleh Otsutsuki Indra.
Awalnya Itachi ragu, tapi berkat bocoran dari Ayahnya bahwa Otsutsuki Indra adalah seorang detektif senior dari Konoha dan mempunyai anggota detektif hebat, Itachi jadi tertarik. Ayahnya juga menyebut kalau detektif yang ada disana sering dipekerjakan oleh kepolisian Konoha, bahkan oleh pejabat negara sekalipun.
Tentu saja hal itu lebih menarik daripada anggota kepolisian. Terlebih lagi, kasus kasus yang diambil oleh Otsutsuki Group itu kasus besar. Masyarakat hanya mengetahui penyelidikan besar selalu diselesaikan oleh kepolisian, padahal detektif dari Otsutsuki yang menyelesaikannya.
Mereka tidak membutuhkan nama besar yang diketahui banyak orang dan jadi terkenal. Simply, mereka menghindari sorotan publik. Bekerja dibalik bayangan dengan nama kepolisian Konoha, dan tidak ingin dikenal banyak orang sungguh pekerjaan yang Itachi idam idamkan.
"Mereka seperti ksatria di kegelapan, dan membawa cahaya dari gelapnya malam." Ujar Fugaku seraya menatap surat dari Otsutsuki.
"Aku bahkan tidak mengenal mereka Ayah."
Fugaku tersenyum, "Kalau begitu berkenalan saja dengan mereka. Datangi kantornya dan bertatapan langsung dengan detektif senior. Mereka orang yang wellcome."
Percakapan satu tahun lalu dengan Fugaku masih segar di ingatan Itachi. Tumben sekali Ayahnya menyetujui pekerjaan selain di kepolisian Konoha.
"Aku tidak tahu, Tuan Shikaku hanya bilang pekerjaannya sudah selesai makanya ia memilih pulang malam." Security gedung hokage memberikan keterangan pada Itachi.
"Tidak ada orang mencurigakan? Seperti penguntit?" Tanya Itachi.
"Aku tidak yakin, Tuan." Pria itu menggeleng, "Saat itu jalanan Konoha masih ramai dilalui banyak orang. Aku tidak menaruh curiga pada apapun. Lagi pula itu bukan pertama kalinya Tuan Shikaku pulang malam."
Itachi menghembuskan nafasnya panjang, ini sudah wawancara yang ke tiga puluh dua kali di kantor polisi. Tidak ada keterangan yang membantu, bahkan informasi dari kepolisian juga stuck. Tidak ada perkembangan.
"Terimakasih untuk keterangannya, Anda boleh pergi."
Ia kembali memeriksa catatan penyelidikannya, membaca salinan dari surat yang di tulis oleh Yami. Ini benar benar gila. Staf di kantor Otsutsuki juga sedang berusaha menyelidiki tentang kasus ini, memeriksa setiap jengkal dari TKP.
"Rumit bukan? Makanya kami memerlukan bantuan detektif." Obito berdiri disamping meja yang ditempati Itachi.
Itachi mengangguk sambil memijit pelipis kepalanya yang terasa pening.
"Yaaah itulah." Obito menepuk pundak Itachi, "Kau perlu berlibur sobat!"
Tidak. Itachi tidak butuh berlibur, sebetulnya ia sangat gemas dengan identitas Yami. Sangat misterius dan tertutup. Ah iya. Itachi sampai lupa harus mengunjungi dokter otopsi untuk dimintai keterangan. Shisui bilang ia menunggunya disana.
Itachi juga tidak ingin terlalu lama bersantai di kantor polisi.
"Selidiki mayatnya baik baik." Ujar Tsunade sambil memberikan sepasang sarung tangan karet pada Itachi dan Shisui.
"Luka panjang ini seperti pecutan." Shisui menyentuh bagian dada sampai perut mayat. Bahkan di bagian punggungpun terdapat luka itu.
Tsunade mengangguk, ini kedua kalinya ia mengotopsi mayat Shikaku.
Itachi mengerutkan kening, itu juga kedua kalinya Shisui mengatakan luka pecutan. Dan benar itu memang seperti bekas pecutan.
"Kau tahu senior, guru karateku dulu selalu memecut kedua tanganku dengan sabuk karatenya jika aku melakukan gerakan yang salah."
Tsunade tertawa, "Kau malah nostalgia masalalu."
"Tentu saja itu ada hubungannya dokter. Luka ini berasal dari pecutan sabuk. Mungkin bahan yang di gunakan lebih tebal seperti sabuk kulit mungkin?" Sambung Itachi.
"Astaga! Idemu masuk akal." Shisui menganggukan kepala. "Awalnya Yami menangkap Shikaku, mengikat kaki dan tangannya dengan cepat. Ia menyumpal mulutnya lalu menarik lidahnya yang menjulur keluar dan memotongnya." Ujar Shisui.
"Shikaku pasti tersungkur ditanah, lalu Yami memecutnya dengan sabuk yang dipakainya beberapa kali, sampai tidak berdaya. Lalu menggantungnya dengan tali yang sengaja dibawa, sampai Shikaku meregang nyawa karena kehabisan nafas dan pendarahan." Sambung Itachi.
"Jangan lupakan, Yami brengsek itu memotong satu jari kelingking Shikaku." Tsunade menambahkan.
Itachi dan Shisui mengangguk.
"Aku akan mengunjungi kantor Hokage." Ujar Shisui sambil melepas sarung tangan karet yang digunakannya, lalu mencuci tangan di wastafel. "Itachi pergilah mengumpulkan informasi."
"Sudah selesai? Keluarga Nara sudah meminta jasadnya untuk dimakamnkan." Tsunade meminta ijin pada dua detektif itu.
"Ya, terimakasih dokter. Sampaikan rasa terimakasih kami pada keluarga Nara." Ujar Shisui.
"Senior, aku akan mengunjungi dia."
Shisui mengangkat satu alisnya, "Kau yakin? Bukankah itu hanya bualan saja?"
Itachi tertawa, "Terkadang perkataannya benar tapi sedikit meleset. Bukan bualan."
"Ya ya! Terserah kau saja. Jika ada perkembangan hubungi aku." Shisui menunjukan telepon genggamnya.
Itachi mengangguk, tidak ada salahnya kan mengunjungi seorang guru di sebuah desa dekat utara Konoha? Sekalian ia bertanya tentang petunjuk buntu kasus Yami yang begitu membuatnya gila.
