NARUTO belongs to Masashi Kishimoto

A/N: WARNING! AU, typos, OOC.

.

.

.

.

.

"Kau akan pergi ke kantor di hari Minggu?" tanya Menma tak percaya kala melihat Ino sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

Sang istri mengangguk sambil menyiapkan sarapan. "Sasuke ada pertemuan dengan salah satu kolega dari Australia dan aku sebagai sekretaris harus siap selalu."

"Haruuuu!" Ino berteriak memanggil Haru.

"Sepertinya masih tidur," sahut Menma.

"Kaubangunkan, sana."

Walaupun menjawab dengan helaan napas, Menma tetap mengikuti apa kata Ino. Ia menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Menma sampai di kamar. Ia duduk di tepi kasur. Menatap anak lelaki berumur lima tahun yang masih menikmati bergumul dengan selimut dan guling.

"Hei, Menma, bangun." Pria itu memanggil sang buah hati dengan namanya sendiri seraya menepuk pelan lengan si anak yang tertutup selimut.

Haru mendesah kecil. Ia mengerjapkan matanya, kemudian duduk dan mengucek kedua matanya pelan lalu kembali meraih guling dan memeluknya.

"Menma sudah bangun …." Haru bergumam dengan mata yang kembali terpejam.

"Kalu masih begitu nanti Ino marah," ancam Menma seraya tersenyum geli.

"Ino marah? Kenapa Ino marah?" Haru membeo. Kini matanya dengan perlahan terbuka.

Menma menahan tawa melihat ekspresi anaknya saat mengatakan itu.

"Karena Ino adalah singa yang—"

"Singa yang apa?"

Menma mematung mendengar suara tersebut. Haru yang tadinya masih mengantuk juga sama terkejutnya. Rupa-rupanya bocah itu sadar betul atas apa yang dikatakannya tadi.

Di ambang pintu, sambil menyender pada sisi kayu, Ino menyilangkan kedua tangannya.

"Singa yang apa, kutanya?" Kini ia mendekati kedua ayah dan anak itu.

"Ino adalah singa perempuan yang cantik dan mama dari singa kecil bernama Haru," ujar Haru dengan logatnya yang menggemaskan.

"Dan istri dari singa jantan bernama Menma." Pria itu menambahkan.

Haru mengangguk mantap. "MENMA!"

Ino terkekeh melihat keduanya. Ia mengelus pucuk kepala Haru. "Singa betina, sayang, bukan singa perempuan," ralatnya.

Wanita itu merasa seperti ada jutaan kupu-kupu terbang di dalam perutnya kala mendengar Haru yang menyebutnya dan sang ayah menggunakan nama. Menggemaskan sekali, asal kautahu.

"Waktunya sarapan."

.

.

.

.

.

Menma duduk di sofa. Televisi menyala namun fokusnya tertuju pada bocah yang tengah memainkan lego miliknya.

Hari Minggu. Seharusnya dihabiskan dengan quality time bersama keluarga kecilnya. Namun rupanya sang istri harus tetap bekerja. Dan Menma yang harus menjaga sang anak seharian.

Melihat anaknya asik seperti itu membuat Menma berniat mengeluarkan ide gilanya. Maka ia bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Haru.

"Halo Haru~" Ia menyapa.

"Halo raksaksa!" Haru balas menyapa tanpa mengalihkan pandangannya pada sang ayah.

'Raksasa, sayang,' ralat Menma dalam hati yang ia katakan secara refleks karena kebiasaan Ino itu ternyata mampu menulari. Namun ia biarkan saja toh anak itu tak akan peduli.

"Raksasa ini datang untuk menghancurkan kota." Sebenarnya Menma hanya berucap dengan nada santai. Tapi reaksi yang Haru berikan tak ayal seperti warga yang kotanya akan dilanda bencana.

"Hentikan, Raksaksa!" Haru menjulurkan tangannya ke depan dan mengarahkan telapak tangan kecilnya kea rah Menma, mencoba menghentikan Sang Raksasa yang kini makin mendekat.

KRAK

"Papaaaaa!" seru Haru saat lego-lego yang sudah ia buat sedemikian tinggi malah runtuh.

"MENMA RAKSAKSA JAHAT!" pekik Haru sambil memukuli tubuh sang ayah dengan tenaganya yang mungil.

Menma dengan sigap merengkuh Haru ke dalam pelukannya. Ia terbius dengan tingkah laku dan cara Haru bicara. Anak itu sungguh lucu dan polos.

Pria tersebut tertawa keras setelah berhasil membuat Haru menunjukkan ekspresi super kesalnya dengan bibir yang melengkung ke bawah dan kedua alis yang tertaut.

Haru memukul dada Menma.

"Sekarang Raksasa ini tidak akan melepaskan Haru!"

Tak diduga, Haru menggerakkan lututnya sehingga berhasil menendang perut Menma. Selanjutnya bocah itu menjauh dari dekapan sang ayah.

Ia berlari ke arah kamar yang terletak di lantai atas. Menma segera menyusulnya dengan berjalan.

Oh tentu ia dapat dengan santai berjalan sedangkan anaknya itu harus mengeluarkan energi untuk berlari.

Sampai di kamar, matanya menangkap Haru yang tengah berusaha bersembunyi di balik selimut. Ia tak dapat menahan tawanya melihat pemandangan itu.

Menma berjalan mendekati kasur dan duduk di sana.

"Haru mana, ya?" gumamnya yang ia yakin dapat didengar oleh si pemilik nama. Menma mulai menaiki kasur, ia lalu berbaring di sana dengan tangan memeluk tubuh Haru yang dibalut selimut.

Dirasakannya tubuh mungil dalam selimut itu bergerak ke sana ke mari. Hingga akhirnya dahinya menyembul dari balik selimut dan langsung diberi sebuah ciuman oleh Menma.

Menma mengeratkan pelukannya, begitu juga Haru yang balas memeluk Menma dari balik selimut walau agak kesusahan karena ketebalan selimut tersebut.

Sampai akhirnya keduanya terlelap setelah Haru lelah bermain.

.

.

.

.

.

Pukul 9 malam dan Ino belum juga kembali.

Si kecil masih terjaga dan kini sedang bermain dengan mainan kereta Thomas and Friends-nya.

Menma duduk di bawah sofa dan punggunnya ia senderkan pada kaki sofa.

Awalnya semua aman terkendali sebelum Haru mulai menggerutu karena tiba-tiba roda kereta paling depan macet dan membuat kereta-kereta di belakangnya juga ikut macet.

Menma tak peduli karena toh itu hanya sebuah permainan dan nanti juga sembuh kembali.

Namun pikirannya salah. Dilihatnya kini Haru sudah menendang kereta-kereta tersebut dan mematahkan rel kereta yang melingkar.

Matanya berair dan bibirnya bergetar.

"Haru tidak suka rodanya berhenti," rengeknya seraya menahan isak tangis.

Menma beralih posisi. Ia mencoba menenangkan Haru yang tangisnya kian menjadi.

"Haru … hiks … benci …."

Menma panik bukan main. Setahunya tangisan Haru itu kencang dan memekakan telinga. Tak pernah ia dengar anaknya menangis tertahan seperti itu.

Ia membawa Haru ke dalam dekapannya. Mencoba menenangkan.

"HARU … TIDAK … HIKS SUKAA!" Kini bocah itu berteriak.

"Haru … Haru sudah. Dengarkan Papa." Menma berusaha menangkis tangan Haru yang bergerak ke sana ke mari. "Ini hanya permainan. Nanti Papa betulkan, ya."

Haru menggeleng dan telapak tangannya tak sengaja mengenai wajah sang ayah.

Menma sebenarnya sudah kesal bukan kepalang.

Apakah istrinya ini sudah biasa dengan Haru yang seperti ini? Apa yang Ino lakukan jika ini terjadi? Apa ia akan kesal? Atau marah? Bagaimana cara Ino menenangkannya?

Menma mencoba memutar otak agar Haru tenang. Namun semakin ia mencoba, semakin panas otaknya.

Akhirnya ia meninggalkan Haru dan membiarkan bocah itu menangis.

Menma meraih handphone-nya dan mencari kontak Ino. Menghubungi wanita itu adalah satu-satunya solusi.

Tak lama, Ino mengangkat panggilannya.

"Ino? Ino?" Menma memanggil dengan nada panik.

"Ya, kenapa?"

"Oh astaga! Apa yang harus kulakukan?" tanyanya.

"Tenang dulu, Menma. Ada apa?"

"Ck." Menma berdecak setelah dirasa bisa mengendalikan emosinya. "Haru."

"Kenapa dengan Haru? Ia menangis?"

"Ya. Dan ini tidak seperti biasanya."

"Bagaimana?"

"Tangisannya tidak kencang, sih," cicitnya.

"Ah, aku mengerti." Ino mengangguk di seberang sana. "Dia mengantuk, sayang. Bawa dia ke kamar."

"Kamarnya?" Menma membeo.

"Kamar kita karena aku ingin tidur dengannya malam ini."

Menma mendesah. Lagi-lagi.

"Ck. Merepotkan."

"Hei!"

"Kenapa sih, bocah itu tidak bisa berpikir dewasa?!" tanya Menma dengan nada sewot.

Tanpa mendapat jawaban, panggilan diputus begitu saja oleh Ino.

"Oh, God." Ternyata ia salah bicara.

Menma melirik Haru yang masih terisak pelan di karpet. Ia menghampirinya, kemudian menggendongnya dan segera membawanya menaiki anak tangga menuju kamar.

Ia membaringkan tubuh kecil Haru di kasur. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga batas perut dan meraih guling serta membawanya ke samping Haru untuk kemudian dipeluk. Tak lupa ia mencium dahi sang buah hati.

"Pasti ngantuk sekali, ya," gumam Menma saat melihat Haru yang dengan mudah terlelap.

Ia mengusap dahi anak itu yang sedikit berkeringat. Kemudian meraih remote AC dan menyalakannya dengan suhu 20 derajat.

Menma memandangi wajah polos yang tengah tertidur itu sebelum ia merasa sepasang tangan melingkar di kedua bahunya. Tanpa menoleh pun sebenarnya Menma sudah tahu siapa pelakunya.

Namun ia sengaja menoleh dan membuat wajah keduanya berjarak begitu dekat hingga menyebabkan bibir mereka saling bertemu.

Ino adalah yang pertama melepas ciumannya.

"Maaf, aku pulang malam sekali."

Menma memejamkan matanya saat merasakan bibirnya disentuh oleh milik Ino.

"Sebenarnya apa saja yang kalian lakukan hingga membuat bocah Power Rangers itu begitu kelelahan?" tanya Ini di sela-sela ciumannya.

Menma membalikkan badannya menghadap Ino. Ia memperdalam ciumannya. Menahan tengkuk Ino agar bibirnya lebih leluasa.

"Hanya bermain," jawab Menma. Kemudian ia menggendong Ino dan membawa wanita itu ke kamar tamu yang terletak di lantai bawah.

.

.

.

.

.

TAMAT

eheheheh cuma twoshoot ternyata gais. soalnnya aku ganahan butuh menmaino bgt wkwmwmwm jdlah aku yg terjun sendiri akhirnha. semoga suka yakkk