Tok tok tok...
"Masuklah."
Yuki membuka pintu diikuti oleh Kanda dibelakangnya. Terlihat Yuki sudah memakai seragam exorcist barunya yang berwarna hitam dengan aksen dekorasi warna merah. Seragamnya berupa dress coat selutut, memakai legging hitam dan boots hitam pula. Komui pun menyambut mereka.
"Berhubung ini hari pertamamu, aku ingin kamu berpatroli di sekitar istana. Katanya sih ada pergerakan aneh seputar istana, entah itu Akuma tau penjahat biasa. Kabari aku kalau ada sesuatu yang mencurigakan, oke?"
"Baik, Komui-san."sahut Yuki. Dan terdengar suara dengusan tak suka dari pria disebelahnya.
"Oh iya ya! Hampir saja lupa. Kanda, mungkin kamu bisa antar Yuki berkeliling dulu? Sekalian mengenalkan London padanya. Toh, dia juga baru pertama kali disini," pinta Komui dengan wajah memelas. Tampak Kanda merengut tak suka pada keputusan Komui.
"Ayolah! Kamu kan sudah sering menemani Lenalee juga. Kalau sama Yuki pasti juga bisa kan? Cuma jalan-jalan kok, hitung-hitung juga sambil kenalan juga dengan dia kan?" Komui mulai merajuk.
"Ko-Komui-san, tidak usah dipaksakan. Kalau Kanda tidak mau juga tidak apa-apa." sela Yuki.
"Ta-tapi..."
"Sudahlah terserah kalian."Kanda pun pasrah.
"Sungguh? Yakin mau menemani Yuki berkeliling?"tanya Komui berharap cemas.
"Mau aku berubah pikiran?"
"Tidak, tidak! Oke oke, Kanda-kun! Kamu temani dia, oke? Yuki, kamu bisa ikuti Kanda ya. Kalau ada apa-apa bisa langsung menghubungiku." Yuki mengangguk balas senyum pada Komui dan meninggalkan ruangan bersama Kanda.
Setelah keluar, Yuki mendengar suara desahan panjang dari pria rambut ekor kuda didepannya.
"Haaah, merepotkan sekali."keluhnya.
"Kau tidak suka aku bersamamu?"tanya Yuki.
"Bukan."
"Lalu?"
"Itu tidak penting. Tahu begini lebih baik ajak Lenalee saja."
"Lenalee masih ada tugas. Aku bertemu dengannya pagi ini dan…"Yuki berkedip.
"…sepertinya kamu kesal habis diceramahi dia ya?"
Seperti ada panah besar menusuk dadanya. Kata-kata perempuan ini tepat sasaran, batin Kanda. Bahkan dengan wajah datarnya itu terlihat ia senang melihat dia sengsara karena diceramahi oleh Lenalee. Bagaimanapun juga ia dipaksa oleh kakak beradik itu untuk menemaninya di hari pertama. Itu bukan suatu hal yang ia kerjakan disaat ia sendiri pusing memikirkan yang lain. Tapi, menolak permintaan atasan juga bukan ide bagus.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak mau. Aku hanya ingin bilang ini kesempatan bagus untuk menghirup udara segar setelah melakukan misi bukan?"timpal Yuki.
Kanda menggaruk tengkuknya. "Sudahlah, aku menyerah. Kali ini kau menang. Sekarang ikut aku."
Yuki pun akhirnya mengikuti Kanda berpatroli sekitar kota London. Selama perjalanan ia dan Kanda saling diam, meski begitu matanya tidak henti-hentinya mengagumi pemandangan kota London yang begitu indah. Kanda merasa ada sedikit perubahan pada sikapnya sekarang. Seperti terpengaruh oleh sesuatu, ia merasa lebih lunak bersama Yuki yang notabene orang baru. Entah mengganggu atau tidak, ia tidak terlalu mempermasalahkanya. Yuki juga tidak mempermasalahkan sifat Kanda yang mudah kesal ini. Mungkin memang awalnya kesal, tapi nanti pasti akan terbiasa, pikirnya.
Matanya mengamati pemandangan kota London yang serba modern sekaligus bernuansa klasik, berbeda sekali dengan tempat tinggalnya di Jepang yang serba tradisional. Para pria memakai jas dan celana kain, serta dasi. Para wanita memakai gaun terusan yang mengembang dan tubuhnya terbentuk sempurna karena mengenakan korset didalamnya. Kalau dipikir kembali, seragam yang ia sekarang pun bukan tipikal Yuki. Ia merasa menjadi dirinya yang berbeda dengan mengenakan seragam exorcist ini. Ketika ia berjalan, sesekali ia harus berlari untuk menyusul Kanda yang berjalan lebih cepat darinya yang tentunya membuat Yuki sedikit kesal.
'Bisa tidak jalannya lebih lambat? Aku bisa tersasar kalau dia meninggalkanku."
Namun saat ia sadari, ada yang mengikuti mereka. Yuki melihat orang-orang sekelilingnya dan merasakan ada beberapa pandangan yang tertuju ke arahnya. Mungkin ini alasan kenapa Kanda semakin mempercepat langkahnya hingga akhirnya berbelok ke sebuah gang yang tidak dilewati oleh orang lain. Yuki semakin yakin bahwa ia diikuti oleh beberapa orang yang memakai setelan hitam setelah ia memasuki gang. Kakinya semakin cepat berlari memasuki beberapa gang di dalamnya dan melewati pemukiman warga disekitar. Hingga akhirnya mereka sampai tepi sungai setelah keluar dari gang-gang kecil. Barulah terlihat kalau mereka dikepung oleh banyak pria berjas dan berkacamata hitam. Yuki dan Kanda saling membelakangi untuk melawan mereka semua.
"Akuma.."
"Sepertinya bukan." jawab Yuki.
"Lalu menurutmu apa?"
"Entahlah, hawa mereka berbeda dengan Akuma. Mungkin akan terjawab setelah kita melawan mereka semua."
Semua pria itu pun menyerang mereka bersamaan. Kanda dan Yuki mengaktifkan innocence mereka dan melawan mereka. Ayunan pedang meluncur cepat menebas tubuh mereka dan berubah menjadi lembaran kertas mantra. Sementara itu, Yuki melepaskan panahnya hingga membelah diri dan menancap pada tubuh penyerangnya hingga mereka pun berubah menjadi lembaran kertas. Beberapa saat kemudian, pertarungan pun berakhir dan menyisakan banyak kertas mantra yang bertebaran di jalan. Kanda mengambil salah satu kertas.
"Kertas mantra?" tanyanya.
"Bukan kertas mantra biasa. Itu shikigami yang berfungsi untuk menyegel roh jahat yang dipanggil oleh seorang yang memiliki kekuatan spiritual tinggi. Untuk memanggil rohnya butuh ritual yang rumit." jelas Yuki juga memegang salah satu kertas mantra.
"Tapi bagaimana ini bisa sampai sini?"
"Aku juga tidak tahu. Justru aku bingung, seharusnya sihirnya bersifat teritorial. Hanya berlaku ketika orang itu ada di Jepang atau bisa jadi yang mengirim Shikigami ada di sekitar London saat ini."
"Artinya si pelaku ada disini ya."
"Bisa jadi. Tapi aku paling merasakan kejanggalan karena faktor teritorial tadi. Seharusnya ini tidak berlaku disini." Yuki mengerutkan alisnya.
"Maksud?"
"Shikigami ini dikirim tidak serta merta untuk mencari seseorang, tapi juga ada tujuan khusus hingga ia bisa melewati batas teritorialnya. Artinya mereka dikirim dengan alasan lain."lanjut Yuki.
"Tujuan lain itu..."
"Aku tidak tahu. Kalau Shikigami ini sampai menghampiri kita, artinya antara kau dan aku yang mereka incar."
Kanda menghela nafas panjang sambil memijat keningnya. Lagi-lagi masalah baru, pikirnya. Ia ingin segera mengakhiri 'kencan' mereka hari ini dan segera menyelesaikan misi malamnya. "So, kalau sudah begini mau bagaimana?"tanyanya.
"Kita kembali saja dulu sambil membawa kertas ini pada Komui. Mungkin bisa jadi tambahan informasi saat kita akan menyelesaikan misi nanti malam."
Tiba-tiba kertas mantra yang ada ditangannya bergerak-gerak, lalu muncul sebuah mata diatasnya. Ia terkaget saat kertas itu berubah menjadi seekor gagak hitam bermata merah. Kanda dengan sigap langsung menebas ke arah gagak itu, namun gagal. Gagak tersebut justru menukik tajam ke arah Yuki. Ia pun refleks melindungi diri dengan tangan kirinya dan paruhnya mematuk tangannya hingga terluka.
"Akh!" ringisnya kesakitan.
Setelahnya gagak itu pun pergi menjauh dari mereka berdua. Kanda mengumpat karena ia gagal mencegah gagak itu. Yuki memegang tangan kirinya erat-erat untuk menghentikan pendarahannya. Kanda berjongkok melihat luka di tangan Yuki.
"Lukanya?" tanya Kanda.
"Sepertinya dalam karena gagak tadi mematukku keras sekali. Rasanya ia mematuk sampai ke tulangku." jawabnya sambil meringis.
Tiba-tiba rasa sakit ditangannya menjadi sangat menusuk hingga Yuki oleng dan terduduk di lantai. Rasa sakitnya terasa menusuk hingga ke tulang dan menyebar hingga ke seluruh lengannya. Beberapa saat kemudian, ia buka pergelangan tangannya yang terluka. Matanya terbelalak saat melihat lukanya yang kini berubah menjadi sebuah lambang pentagram terbalik dengan lingkaran diluarnya.
"Ini?!"
"Oh, Tuhan. Kanda-kun, ini tidak bagus. Sangat tidak bagus." Yuki bergetar.
"Apa maksudmu?"
"Sepertinya akulah yang mereka incar. Dan ini adalah Mark dari si pengirim shiki tadi."
Kanda menahan nafas dan memasang wajah tak percaya. "Ini menyusahkan sekali." decaknya kesal. Ia menarik tangan Yuki agar segera bangkit.
"Kanda-kun?"
"Lebih baik obati dulu lukamu. Kau bisa jalan?"
"Uh, iya."
Mereka bergegas kembali ke markas dan berpapasan dengan salah satu finder yang sedang berjaga di gerbang. Setelah menyadari raut wajah mereka yang habis diteror, ia pun menghampiri Yuki dan Kanda.
"Ka-kalian kenapa?"
"Bantu aku bawa dia ke ruang medis. Dia habis diserang."
"Astaga! Kalau begitu ikut saya!"
Yuki mendesis kesakitan saat lukanya kembali terasa menggigit tangannya. Ia segera ke ruang medis untuk diberikan pengobatan.
Komui terlihat masih berkutat dengan segunung laporan yang menumpuk di meja kerjanya. Ia menaikkan kacamatanya sambil terus menandatangi beberapa surat yang ia terima. Kemudian, ia terinterupsi oleh suara ketukan pintu dari luar.
"Masuklah." sahut Komui menaruh kertas laporannya di atas meja.
Pintu dibuka oleh Yuki dan Kanda. Komui pun mengernyitkan alisnya bingung, ada sesuatu yang salah telah terjadi diantara mereka berdua. Yuki terlihat lesu sambil memegang tangan kirinya yang diperban.
"Yuki, ada apa denganmu? Kau terluka!"
"Ada yang ingin saya laporkan, Komui-san."ucap Yuki membuka pembicaraan.
Ia mengeluarkan kertas mantra dari dalam sakunya dan memperlihatkan pada Komui. "Kertas apa ini?" tanyanya. "Ini kertas mantra. Di Jepang, ini disebut kertas shikigami. Fungsinya untuk menyegel roh siluman ke dalam sebuah kertas mantra dan dilakukan oleh seorang onmyoji. Kami sempat diserang oleh para shiki ketika sedang berkeliling tadi siang. Kemungkinan shiki ini ada hubungannya dengan innocence yang dijaga di dalam istana Buckingham."jelas Yuki.
"Kami berhasil mengalahkan para shiki. Tapi, setelahnya Yuki diserang oleh kertas itu dan meninggalkan Mark ditangannya." tambah Kanda.
"Oh, astaga. Mengerikan sekali. Boleh aku lihat lukamu?"
Yuki mengulurkan tangannya dengan hati-hati. Ia membuka sedikit perbannya dan memperlihatkan Mark yang berbentuk pentagram terbalik dengan lingkaran diluarnya.
"Parah sekali. Aku kurang tahu ini pengaruhnya apa padamu. Kau tahu Mark ini sebelumnya?"
Yuki menggeleng lesu.
"Begitu ya. Apa aku perlu mengirim Lenalee juga untuk misi malam ini, Yuki?"
"Uhm...boleh saja. Setidaknya aku bisa tahu siapa yang mengirim shiki itu dan mencari petunjuk tentang Mark ini."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas laporannya. Kuharap kau baik-baik saja, Yuki-kun. Padahal ini hari pertamamu disini, tapi sudah diteror."
Yuki tersenyum miring. "Aku tidak apa-apa. Aku tetap akan ikut misi malam ini, siapa tahu aku bisa mendapat petunjuk."
"Aku mengerti. Kembalilah ke sini setelah makan malam. Aku akan jelaskan misi pertamamu mala mini."
"Baik."
Malam pun tiba. Yuki sudah menginjakkan kakinya di depan gerbang istana Buckingham bersama Marie dan Kanda. Setelah bertemu dengan penjaga istana, mereka pun diperbolehkan masuk. Halaman istana yang luas ditumbuhi oleh banyak tanaman hias terlihat angker ketika malam tiba. Yuki merasa apapun bisa muncul dibalik kegelapan. Kemudian, mereka masuk ke ruang lobby istana yang diterangi oleh cahaya lilin dari kandil besar yang menggantung ditengahnya. Lorong panjang istana juga diterangi oleh cahaya lilin yang tergantung ditiap pilar dengan tempat lilin yang mewah. Saat Yuki menginjakkan kakinya ke dalam istana, ia merasakan sakit di tangan kirinya tepat pada tanda Mark berbentuk pentagram terbalik. Ia menarik kain lengannya dan melihat tanda itu mengerut seperti habis digigit binatang dan terasa panas terbakar. Entah apa yang membuat tanda itu menyakitinya, tapi ia memiliki firasat bahwa hawa Akuma ada didekat mereka.
"Yuki, kau tidak apa-apa?" tanya Marie.
"Aku tidak apa-apa. Lukaku hanya sakit."
Kanda melirik Yuki, lalu menatap Marie. "Hei, sekarang apa yang harus kita lakukan disini?"
"Aku yakin kita disuruh untuk mencari bukti hilangnya anak perempuan 5 bulan yang lalu. Lalu, mengecek setiap cermin yang ada di kamar. Katanya cermin ditiap kamar terdapat pantulan sosok anak itu. Oh, kita juga sudah dapat kuncinya dari penjaga."
Marie memperlihatkan kumpulan kunci dalam satu ring besi. Ia mendahului Yuki dan Kanda yang mengikutinya di belakang. Mereka menaiki tangga menuju koridor yang berjejer beberapa kamar. Kamar pertama dibuka, Yuki masuk membawa tempat lilin yang ia ambil dari lobby dan menerangi kamar besar istana. Kamar ini terlihat rapi karena selalu dibersihkan oleh para petugas yang berjaga. Ia berjalan menuju salah satu sudut ruangan dimana terdapat sebuah foto keluarga. Yuki mengamati baik-baik foto itu. Terdapat sosok wanita duduk di kursi, seorang anak perempuan berambut coklat, dan seorang pria berdiri disebelah wanita itu. Ia balik bingkai itu dan terdapat sebuah tulisan dibelakangnya.
My beloved child, Rachel Bluebell.
Tiba-tiba lukanya terasa menggigit lengannya. Ia merasakan hawa yang tidak bagus disekitarnya. Ia mengembalikan foto itu dan berbalik pada rekannya.
"Apa yang kalian temukan?" tanya Marie.
"Tidak ada." jawab Kanda singkat.
"Aku hanya menemukan sebuah foto keluarga dan ada nama dari anak dalam foto itu. Namanya Rachel Bluebell."
"Sepertinya itu nama anak yang menghilang lima bulan lalu."
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka di ruangan sebelah. Mereka segera keluar dan mengecek keadaan luar. Terlihat sosok anak-anak menunggu mereka di depan kamar yang terbuka dan masuk ke dalamnya. Kali ini Yuki tidak merasakan gigitan dari Mark ditangannya. "Sepertinya ia ingin kita mengikutinya. Tetap waspada." ucap Yuki.
Mereka bertiga berpindah ke kamar yang dimasuki sosok anak-anak tadi. Hawa ruangan itu membuat bulu kuduk mereka menjadi berdiri. Kanda langsung memegang pedang yang ada dipinggangnya. Sedangkan Yuki mendahului mereka dan menaikkan lilinnya agar cahayanya menyebar ke seluruh ruangan. Nafasnya melambat sambil terus waspada terhadap sekelilingya. Kemudian, terdengar sebuah benda jatuh dengan lembut ke lantai. Yuki berjalan ke lemari dimana suara itu berasal dan menemukan sebuah kertas yang dilipat di atas lantai. Ia memungut kertas itu dan membukanya.
"Apa isi kertas itu?" tanya Marie.
"Sepertinya surat. Coba kita baca."
'Yang tersayang, Rachel Bluebell. Maafkan Ayah karena tak bisa bersamamu ketika kau ulang tahun. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu bersama ibumu. Ini karena pekerjaan menuntut Ayah untuk pergi. Jadi, Ayah berharap kau bisa menjaga ibumu baik-baik. Salam sayang, Kevin Bluebell.'
"Hmm, surat dari ayahnya ya." Yuki meletakkan kembali surat itu diantara buku-buku dalam lemari. Lalu, sekali lagi tangannya terasa digigit oleh sesuatu tepat pada tanda Marknya. Yuki meringis dan bertanya-tanya kenapa tanda itu terasa sakit.
'Apakah sesuatu akan muncul?' batinnya.
"Oi, kalian. Lihat ini."
Pikirannya buyar ketika Kanda menunjukkan sebuah tulisan darah yang terpampang pada cermin yang sudah retak. Yuki mendekatinya dan rasa sakit pada tangannya kian menusuk hingga tulangnya. Keringatnya meluncur saat membaca tulisan itu.
'Ibu berkhianat pada Ayah. Aku akan merebutnya kembali dari orang itu.'
Begitu bunyi tulisan yang dibuat dengan darah yang sudah mengering. Seketika itu juga, kepala Yuki terasa berat dan telinganya berdenging. Tangannya juga semakin sakit. Ia lihat tangannya yang sudah memerah disekitar tanda Marknya. Kemudian, ia mendengar sayup-sayup suara dalam kepalanya.
'perlihatkan….kenangan padanya…'
Yuki meringis saat suara itu menghilang dan nafasnya terengah. Marie memegang pundaknya ketika mendengar suara nafasnya yang tidak biasa. Pria buta itu berusaha menenangkannya. "Yuki, kau baik-baik saja? Nafasmu tidak biasa."ucapnya. Yuki memegang tangannya dan perlahan menurunkannya.
Meski bergetar, ia memaksakan dirinya agar nadanya tidak terdengar ketakutan. "Aku baik-baik saja."
Ia kembali ke lemari dimana ia menemukan surat itu dan mengambilnya. Tangannya bergetar saat ia memasukkan surat itu dalam sakunya. Lalu, terdengar suara retakan dari atas kamar. Semuanya mengadah dan melihat langit-langit yang sewaktu-waktu akan jatuh. Yuki menahan nafasnya. Tiba-tiba rasa sakit menghujam tangan kirinya hingga ia jatuh berlutut.
"Ugh! Perasaan ini!"
'Akuma itu ada disini.'
Yuki terkejut saat langit-langit kamar itu digedor dengan kekuatan penuh hingga retakannya semakin membesar. Ia berseru, "Akumanya ada disini!"
Sontak Marie dan Kanda langsung mundur saat langit-langit kamar itu hancur dan ambruk. Setelahnya terlihat Akuma berwujud anak-anak dengan setengah tubuhnya berbentuk tubuh laba-laba menatap mereka bertiga dengan lapar. Dengan segera, mereka bertiga keluar dari kamar dan berlari menuju lobi. Ketika Kanda ingin membuka pintu istana, ternyata pintu itu terkunci dan tak mau terbuka meski ia tendang.
Akuma semakin mendekat dan ia berdiri di atas tangga melihat mereka yang terjebak.
"Kalian…apakah kalian orang yang berkhianat pada ayah juga?" tanyanya. Kepalanya miring perlahan hingga wajahnya yang mengerikan tampak semakin meneror mereka.
Akuma itu melayangkan serangan pada mereka dengan menembakkan jaring laba-laba dari mulutnya. Yuki segera mengambil meja yang ada didekatnya dan melindungi dirinya. Jaring itu mengenai mejanya dan ditarik oleh anak itu. Kemudian, Marie mengaktifkan innocencenya dan membentangkan senarnya ke tubuh Akuma itu. Ia rapalkan mantra hingga membuat Akuma itu tersiksa akan nyanyian yang dilantunkan oleh innocencenya. Akuma itu masih setengah sadar dan melayangkan serangan pada Yuki. Salah satu kakinya menerjang, namun berhasil ditangkis oleh Kanda. Yuki mundur, lalu mengeluarkan surat yang ia baca sebelumnya.
'Mungkin ini akan bekerja padanya.'
Ia aktifkan innocencenya dan mengeluarkan panahnya. Surat itu ia tusukkan pada panahnya, lalu mengarahkannya pada Akuma itu. Selama Akuma itu sibuk dengan Kanda dan Marie, ia membidikkan panahnya pada tubuh Akuma. Panahnya menggandakan diri hingga menjadi enam panah yang siap dilepaskan. Kemudian, ia melepaskan keenam panahnya hingga menancap ke tubuh Akuma itu.
Anak itu menjerit dan menangis. Beberapa saat kemudian, ia berkata lirih, "Ayah, oh ayah. Maafkan Rachel. Rachel sayang ayah…"
Tubuhnya hancur menjadi abu bersamaan dengan tangisnya. Setelahnya, keadaan kembali tenang. Yuki tidak merasakan sakit lagi ditangannya, tapi ia melihat tanda marknya berubah. Satu sudut bintang pentagramnya menghilang hingga menjadi bintang sudut empat yang tidak sempurna.
"Marknya berubah."
"Hei, Yuki. Coba lihat ini."
Kanda mengayunkan tangannya agar Yuki segera menghampirinya. Ia memperlihatkan sebuah kertas mantra yang memiliki tanda Mark yang sama dengan tangannya. Kertas itu juga muncul ketika ia pertama diserang oleh sekelompok pria yang merupakan shikigami. Kini Yuki semakin curiga, bagaimana bisa Akuma disegel menggunakan kertas mantra dan menjadikannya shikigami. Ia mengambil kertas itu, lalu membakarnya dengan api dari salah satu lilin yang ada di istana.
"Kau membakarnya?" tanya Marie.
"Iya, aku bakar supaya mantra itu hilang. Harusnya aku pakai api suci, tapi karena Akuma itu sudah disucikan, mantra ini pun juga sudah disucikan bersamaan. Jadi, membakarnya dengan api biasa pun bisa." jelas Yuki.
"Oh…lalu, bagaimana dengan tanganmu?"
"Sudah tidak sakit lagi kok. Maaf aku jadi membuatmu khawatir."
"Kalau begitu, kita kembali."
Kanda mengeluarkan golemnya dan menghubungi markas. Beberapa saat kemudian, Komui mengangkat interkom yang masuk dari golemnya.
"Kanda? Bagaimana misinya?"
"Sudah selesai."
"Baiklah, kalau begitu. Kalian boleh kembali."
Komui menutup interkomnya dari markas. Kanda membalikkan badannya, "Ayo kembali."
Yuki dan Marie menganguk. Saat ia mau meninggalkan istana, tiba-tiba sebuah rasa sakit menyerang kepalanya. Yuki menjerit hingga ia kembali jatuh berlutut. Ia memegang kepalanya. Keringatnya kembali mengucur, tapi lebih deras hingga ia tidak sanggup bangkit seperti sebelumnya.
"Yuki! Kau kenapa?!" Marie menahan tubuhnya.
"Ke-kepalaku! Rasanya mau pecah!"
Yuki berusaha untuk menahan sakitnya. Pandangannya sedikit demi sedikit kabur. Bahkan ketika Kanda memanggilnya pun ia hampir tak bisa mendengarnya. Kemudian terdengar sayup-sayup suara dalam kepalanya seperti memanggilnya.
'Yuki…'
Suara itu begitu familiar dan lembut. Ia seperti pernah mendengarnya entah dimana. Suara itu bergantian dengan suara Marie yang sedang berbicara lewat golemnya dan Kanda yang merangkul tubuhnya. Semuanya membuat dia pusing, pandangannya mulai kabur, dan tubuhnya terasa ringan. Kemudian, semua menjadi gelap.
