Previously (Prologue) :
Suho menatap Tao dengan heran, kemudian mengerjap bingung.
"Jangan bingung, hyung. Makanan ini tidak sehat. Dagingnya busuk, tetapi didaur ulang. Sayurannya sudah ditumbuhi ulat. Beri aku daging di kulkas pada baris 3, dan masak dengan api 150 derajat. Beri saus kecap, dan akan terasa renyah di lidah bagian tengah."ucap Tao, membuat Suho mengernyit kaget–Tao bisa membaca pikirannya.
"Ba-baiklah, Tao."sahut Suho, kemudian hendak pergi keluar ketika Tao menginterupsinya.
"Hyung, jangan lupa membereskan peralatan untuk pergi."
"Nde, Tao."
Ya, Tao memang bisa membaca segala hal, lewat seluruh indera tubuhnya–termasuk otaknya.
.
-The Golden Chrysoberyl-
.
.
Chapter 1
Seoul, 6 April 2014, 10:29
"Hey, ini gedung penelitian arkeologi dan gemologi modern!"
Seorang namja tampak antusias, sedangkan namja lain hanya merekam lewat sebuah handycam. Taksi yang mereka kendarai pun masuk ke dalam area gedung itu, berhenti di depan gedung utama. Mereka pun turun dari taksi dan masuk ke lobby dengan wajah terpukau.
"Silahkan isi daftar tamunya."sang resepsionis menyodorkan sebuah buku catatan.
"Ini hebat, Chanyeol-ah! Tak kusangka kau membawaku ke perjalanan hebat ini!"pekik Luhan, membuat namja tinggi di sampingnya hanya mengangguk.
"Aku juga tidak menyangka kalau akulah yang akan dipilih untuk mendokumentasikan misi ini, hyung."ucap Chanyeol.
"Kurasa memang sudah rejekimu!"
Setelah mengisi buku tamu, mereka pun mengikuti instruksi untuk menuju aula utama pada lantai 6. Mereka naik menggunakan sebuah elevator.
TING!
Elevator berhenti pada lantai 6. Mereka pun keluar, kemudian mencari-cari aula utama. Mereka melihat setiap ruangan. Tampak banyak orang sibuk di dalamnya, tapi entah sedang apa.
"Itu ruangannya."ucap Chanyeol seraya menunjuk sebuah ruangan.
Mereka menghampiri ruangan itu, kemudian mengecek apakah benar itu aula utama. Setelah yakin, Luhan menekan kenop pintu tersebut.
CKLEK
Setelah mereka masuk, tampak sebuah ruangan dengan banyak kursi. Luhan mengamati sekeliling. Mereka disambut oleh banyak tatapan mata.
"Me-mereka siapa?"gumam Luhan dengan bisikan.
"Sudahlah. Mungkin mereka juga berminat ikut misi ini."sahut Chanyeol, diangguki Luhan.
"Jika kalian bingung kenapa kami di sini, seharusnya kalian sudah tahu kenapa."
Chanyeol dan Luhan mendengar seseorang mengucapkan itu, dan mereka menengok ke sebuah sumber suara. Sepasang namja yang duduk memojok, dengan namja berkantung mata yang menatap mereka dengan setengah kosong setengah fokus.
"Siapa kau?"tanya Luhan, kemudian menghampiri namja itu.
"Hanya seorang namja bernama Huang Zitao, Luhan-ssi."sahut namja itu, membuat Luhan membelalakkan mata kaget.
"Ba-bagaimana..."ucap Luhan, speechless.
Chanyeol menghampiri Luhan, kemudian menarik tangannya dan mengajaknya duduk di barisan tengah. Luhan menatap Tao lagi. Seorang namja pendek di sampingnya–sepertinya adalah keluarganya–tampak menghibur dan mengucapkan sesuatu pada Tao yang membuat namja itu mengangguk mengerti.
"Dia aneh, tapi itu yang membuatnya menarik."bisik Luhan, diangguki Chanyeol.
TING TING TING
"Baiklah, mari kita mulai saja pertemuan kita. Pertemuan kali ini akan briefing tentang misi kita untuk melakukan hiking ke Pegunungan Himalaya dan mengambil sampel batu pada Puncak Gunung Kangchenjunga, Himalaya."ucap sang pembuka rapat.
Luhan mempersiapkan sebuah catatan, dan Chanyeol mempersiapkan handycam-nya. Luhan sedang mencatat, ketika dirasa seseorang sedang menatapnya. Luhan melihat sekeliling, kemudian mendapati seorang namja berambut cokelat keemasan sedang menatapnya. Ketika Luhan menyadarinya, namja itu sudah berpaling.
Luhan mendengarkan penjelasan dengan seksama, kemudian menulis di catatannya.
"Kami sudah memutuskan, bahwa kelompok misi yang terdiri dari 15 orang, 12 kru dan 3 pilot, akan mendaki Pegunungan Himalaya dan menyelidiki bebatuan di sana. Kami akan memanggil kalian setelah rapat ini, dan bersiaplah untuk dikarantina selama sehari di gedung ini. Terimakasih."
Luhan dan Chanyeol saling bertatapan, kemudian Chanyeol hanya mendelikkan bahunya. Luhan merapikan barang-barangnya, kemudian membuka handphone-nya.
Tampak sebuah message. Luhan membuka message itu, kemudian terkaget. Sebuah nomor privat, dan Luhan tidak pernah ingat kalau dia memberikan nomornya pada orang asing. Luhan bergetar, dengan sedikit ketakutan di wajahnya.
Selamat bergabung di kelompok ini, Luhan-ssi! Semoga kita bisa menjadi akrab. Salam, Huang Zitao.
-XOXO-
"Gedung ini punya arsitektur modern yang cukup simetris."
Seorang namja tampak sedang membawa barang-barangnya. Dengan kedua temannya di masing-masing sisi tubuhnya, mereka berjalan dengan tas besar mereka menuju ruang karantina.
"Kurasa, akan sangat bagus jika gedung ini mendapat tambahan semen. Dinding luarnya rapuh."gumam seorang yang berambut pirang.
"Aku setuju dengan Kris hyung."ucap yang berambut hitam.
Sehun, Kris, dan Kai terus berjalan seraya mengobrol. Mereka mengikuti arahan petugas tentang ruang karantina mereka.
"Tadi aku melihat seseorang. Dia menarik perhatianku."gumam Sehun, membuat Kris dan Kai menengok.
"Siapa?"tanya Kai, digelengi Sehun.
"Aku tidak kenal, tapi dia menarik. Itu saja."sahut Sehun, diangguki mereka berdua.
Kai terus menggoda Sehun dengan ceritanya tadi, dan Sehun hanya mengelak dengan wajah memerah. Kris menatap pertengkaran mereka, kemudian terkekeh saja.
"Kris hyung! Tidakkah kau menemukan seseorang menarik di ruangan tadi?"tanya Sehun, membuat Kris sedikit berpikir.
"Well, sebenarnya ada. Tetapi, dia cukup strange. Ya, tapi dia manis."gumam Kris, membuat Kai dengan gencar menggodanya.
"Ey, hyung berani suka seseorang sekarang!"pekik Kai, membuat Kris berusaha mengelak.
Kali ini, Sehun yang tertawa.
-XOXO-
"Sebenarnya, apa yang akan kita lakukan di sana?"
Kini, Kyungsoo, Jongdae, dan Lay sedang merapikan barang-barang mereka di kamar karantina mereka. Tampak 8 kasur tingkat yang sekamar dengan mereka, dan mereka bertiga yang pertama kali tiba.
"Kita akan menyelidiki banyak batuan di sana. Kita mengikuti misi ini nanti sebagai pemasok perbekalan kita. Kita juga akan menjadi pakar tumbuhan dan hewan di sana, mencari sumber makanan, dan membantu anggota lain memasak."jelas Kyungsoo, diangguki Jongdae.
"Apa di sana akan sangat berbahaya? Maksudku, ini hutan. Bukan perkotaan tempat kita hidup, tapi adalah hutan liar yang dipenuhi hewan-hewan aneh bermata banyak yang bahkan belum pernah kita lihat."gumam Jongdae, dikekehi Lay yang sedang melipat-lipat bajunya.
"We will never know, until we arrive there."sahut Lay, kemudian memasukkan bajunya ke dalam tas besar yang disediakan instansi tersebut.
CKLEK
Pintu kamar tersebut terbuka, menampakkan dua orang bertubuh imut yang membawa tas besar di masing-masing tangan mereka. Mereka semua saling bertatapan. Kedua orang itu tersenyum, kemudian mengangguk.
"Annyeonghaseyo."sapa mereka berdua, disahuti oleh Kyungsoo, Lay, dan Jongdae.
"Kalian juga ikut misi?"tanya Jongdae seraya menghampiri mereka, diangguki yang berwajah chubby.
"Perkenalkan. Namaku Kim Minseok, dan ini adalah murid pelatihanku, Byun Baekhyun."ucapnya, kemudian menjabat tangan Jongdae.
"Nah, pilihlah kasur yang kalian mau! Semoga kalian merasa nyaman!"ucap Kyungsoo dengan senyuman, diangguki mereka berdua.
Mereka pun berjalan melihat-lihat kasur, kemudian mencobanya satu persatu. Baekhyun menyarankan sebuah kasur di hadapan kasur Jongdae, kemudian diangguki Minseok. Jongdae menatap mereka berdua dengan penuh penasaran.
Lebih tepatnya, menatap penuh penasaran ke arah seorang Kim Minseok.
-XOXO-
"Ayo kita ke kamar, Tao."
Suho tampak hendak mengambil kedua tas besar mereka, tapi kemudian dicegat oleh Tao. Suho bingung, kemudian menatap Tao. Tao tidak menatapnya, tapi tatapannya selalu saja kosong.
"Kalau hyung mengangkatnya, hyung akan mengalami pembengkakan otot selama seminggu kedepan di bagian otot pundak kanan."gumam Tao, membuat Suho terdiam.
Tao mengambil kedua tas itu, kemudian membawanya di pundaknya masing-masing. Ia berjalan duluan, kemudian disusul oleh Suho. Mereka menyusuri lorong.
"Pintu yang mana, ya?"gumam Suho seraya melihat pintu-pintu yang mereka lintasi.
"Pintu kedua setelah belokan di kanan."
Suho menengok kaget, ketika Tao mengucapkan itu. Mereka bahkan belum pernah ke situ, tapi Tao dengan mudahnya mengatakan pintu itu!
"Kau sangat cerdas, Tao!"puji Suho, dengan senyumannya.
"Aku tidak cerdas, hyung. Aku hanya seorang anak dengan keterbelakangan mental ringan dan kemampuan menembus dunia gaib lewat seluruh indera di tubuhku."sahut Tao, disenyumi Suho.
"Itulah sebabnya kau jadi cerdas, Tao!"
Tao menatap Suho yang sedang tersenyum di sampingnya, kemudian ikut tersenyum kecil. Mereka terus berjalan, kemudian berbelok ke arah kanan. Tao menunjuk sebuah pintu cukup besar.
CKLEK
Suho membuka pintu itu, kemudian melihat ke dalamnya. Banyak orang yang sedang melakukan aktivitas masing-masing di atas kasur mereka, kemudian menatap Tao dan Suho. Suho menatap mereka, kemudian membungkuk.
"A-annyeonghaseyo. Namaku Kim Junmyeon, biasa dipanggil Suho oleh Tao. Ini Huang Zitao."ucap Suho, kemudian dibalas oleh mereka.
"Hai, Suho! Senang berkenalan denganmu."ucap seorang namja bertubuh tinggi yang sedang merapikan kasur atas.
"Apa dia keluargamu, Suho?"tanya salah seorang tinggi berambut hitam.
"Ya, dia adik angkatku. Tao, perkenalkan dirimu."ucap Suho pada Tao, tapi kemudian Tao hanya diam.
"Mereka penasaran siapa aku, tapi mereka sendiri tak mau memintaku berkenalan."gumam Tao, membuat mereka yang ada di situ terheran-heran.
Tao hanya menerobos kerumunan itu, kemudian memilih kasur paling ujung yang dekat jendela. Suho masih di pintu, kemudian hanya membungkuk maaf pada mereka semua karena ketidak-sopanan Tao.
Sementara Suho sibuk meminta maaf dan mengobrol dengan yang lain, seorang namja berambut pirang sibuk mengamati Tao yang kini sedang melamun ke luar jendela.
-XOXO-
Malam kian larut, dan semua anggota diharuskan untuk tidur.
Kecuali untuk yang satu ini.
Tao tampak tak bisa tertidur. Dia hanya melamun ke luar jendela, menatap pemandangan kota di luar yang begitu sibuk, siang maupun malam. Sesekali dia mengoceh tentang orang-orang di bawah sana.
"Kau tidak tidur?"
Tao menoleh, ketika mendengar suara berat nan dalam yang menginterupsinya. Seorang namja berambut pirang yang sedari siang memperhatikannya itu, kini duduk di sampingnya.
"Aku tidak pernah mengantuk."sahut Tao, dengan suara lirih.
"Perkenalkan. Aku Wu Yifan. Panggil aku Kris."ucap namja itu seraya tersenyum.
"Aku sudah tahu. Aku Huang Zitao."ucap Tao, kemudian kembali menatap ke luar.
"Kau menarik sekali."
Tao terdiam, ketika mendengar Kris mengatakan itu. Tao kembali menoleh, mendapati Kris yang sedang menatapnya dalam. Entah kenapa, Tao cukup bergetar ketika melihatnya.
"Kau menarik sekali. Bagaimana kau tahu bahwa namaku adalah Wu Yifan alias Kris?"tanya Kris, kemudian semakin memperhatikan Tao dengan intens.
"A-aku anak indigo dengan autisme tingkat satu."jawab Tao, membuat Kris sedikit mengerjap dan takjub.
"Wow. Apa kau melihat sesuatu yang aneh hari ini?"tanya Kris, membuat Tao tersenyum kecil.
"Aku melihat banyak cahaya kuning di jalan. Ada yang akan meninggal besok subuh, lusa siang, bahkan minggu depan pada hari minggu. Kematian mereka berbeda-beda, tapi aku tidak peduli."jawab Tao, diangguki Kris.
"Cahaya kuning? Berarti kematian?"tanya Kris, diangguki Tao.
"Aku melihat cahaya kuning pertama kali, ketika ibuku sakit parah. Aku melihat cara kematiannya dan kapan waktunya. Aku melihat bagaimana Malaikat Maut mencabut nyawa ibuku, kemudian melambai padaku dan terbang ke langit. Aku bisa melihat masa depan, tapi aku sering tidak yakin dengan masa depanku sendiri."jawab Tao, diangguki Kris.
"Well, kau anak cerdas yang hebat! Bisa ceritakan padaku semua pengalaman aneh yang kau alami?"
Semalaman itu, Kris dan Tao begadang dan saling bercerita tentang diri masing-masing.
-XOXO-
Seoul, 7 April 2014, 07:20
"Eungh."
Seorang namja terbangun dari tidurnya, kemudian meregangkan otot-otot di wajahnya. Ia menatap sekeliling, kemudian membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya yang hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek. Dengan mengantuk, dia turun dari kasurnya, mengorek tasnya, mengeluarkan sebuah sikat gigi, dan menuju kamar mandi.
CKLEK
Sehun membuka pintu kamar mandi dengan mengantuk, kemudian menuju wastafel dan membasuh wajahnya. Dia menyapukan pasta gigi ke sikat giginya, kemudian menggosok giginya dengan telaten.
"Lalalalala."
Sehun terdiam, ketika mendengar sebuah suara. Ia melihat ke pintu di sampingnya–pintu kamar mandi tempat bak air, bathub, dan keperluan mandi lainnya. Sehun menatap sekeliling–berharap tak ada yang mengintip, kemudian mendekatkan kepalanya ke pintu.
"Lalalalala."terdengar seseorang bernyanyi!
Sehun mengernyit heran, kemudian mendelik. Dia pun melanjutkan acara sikat giginya.
CKIT
Terdengar suara keran shower yang dimatikan, juga terdengar suara handuk yang terjatuh. Sehun sedang menatap giginya yang sudah bersih, ketika terdengar suara pintu yang terbuka.
CKLEK
Sehun menatap seseorang dari cermin di depannya. Namja tersebut masih tidak menyadari kehadiran Sehun, kemudian tampak wajah kagetnya.
"Ma-maaf!"pekiknya, kemudian membungkuk maaf.
Sehun hanya menatapnya dari cermin, dan entah kenapa membuat namja itu membeku di tempat. Sehun dan namja itu bertemu pandang di cermin.
Ternyata dia adalah Luhan yang hanya mengenakan bathrobe.
Sehun mengamati Luhan yang kini semakin erat mengenakan bathrobe-nya. Sehun terfokus pada leher putih mulus Luhan yang benar-benar eksklusif. Dia juga terkesima dengan mata berbinar Luhan yang tampak sayu saat ini. Beautiful.
Setelah menikmati momen sesaat itu, Sehun segera membersihkan sikat giginya, kemudian berjalan keluar kamar mandi. Luhan menatapnya, kemudian sedikit menaruh perhatian pada punggung Sehun.
Entah salah lihat atau apa, Luhan melihat sebuah dua garis kemerahan kulit yang muncul di bagian lehernya Sehun, menjalar ke balik kausnya.
Entah garis apa.
-XOXO-
"Jangan panas-panas, Kyungsoo-yah! Nanti gosong! Lihat!"
Jongdae tampak sedang memarah-marahi Kyungsoo di dapur, dengan Lay dan Baekhyun yang hanya terkekeh melihatnya. Lay dan Baekhyun saling membantu dalam mencincang sayuran dan bawang, sedangkan Jongdae dan Kyungsoo mulai bertingkah lagi.
"A-anu.. maafkan kelakuan teman-temanku ini."bisik Lay, dikekehi Baekhyun.
"Tak masalah. Aku lebih nyaman mendengar pertengkaran namja-namja manis dibanding mendengar pertengkaran sepasang namja bermasalah."jawab Baekhyun.
Baekhyun dan Lay masih sibuk, ketika seorang namja tinggi tampak menghampiri Baekhyun, membuka laci di atasnya dan mengambil sebuah gelas.
Baekhyun membeku ketika merasakan nafas di ujung kepalanya.
Baekhyun memberanikan diri untuk menoleh, kemudian berhadapan dengan dada bidang namja itu. Namja itu menundukkan kepalanya, menatap Baekhyun yang kini sedang mendongakkan kepala.
Keduanya membeku sesaat, ketika tenggelam dalam tatapan masing-masing.
"Ah, mianhae."
Namja tinggi yang ternyata adalah Chanyeol itu pun langsung menyingkir, kemudian meminta maaf. Entah karena sebab apa, wajah Baekhyun merona samar. Chanyeol meraih sebuah botol minum di sebelah Baekhyun, kemudian menuangkan minum itu di tempat itu juga.
Baekhyun berusaha fokus memotong, tapi kemudian pikirannya sudah melayang ke mana-mana.
"ARGH!"
Tiba-tiba terdengar pekikan. Karena terlalu tidak fokus, Baekhyun sampai melukai ujung jarinya. Lay, Jongdae, Kyungsoo, dan Chanyeol terkaget ketika mendengar pekikan Baekhyun.
"Omo, darahnya cukup deras!"pekik Kyungsoo, kemudian bersembunyi di balik punggung Jongdae–dia memang mengidap hemophobia alias fobia darah terhadap darah manusia, walaupun tidak parah.
"Aku akan mengambil lap bersih!"ucap Lay, kemudian berlari ke dorm mereka.
Sementara Jongdae sibuk menenangkan Kyungsoo yang mulai berfantasi liar tentang darah, Chanyeol dengan sigap memutar tubuh Baekhyun agar berhadapan dengannya. Chanyeol mengangkat tangan itu, tepat ke hadapan kepalanya.
SLURP!
Baekhyun merona parah, ketika ia menyadari apa yang Chanyeol lakukan. Baekhyun sadar bahwa Chanyeol sadar sepenuhnya dengan apa yang ia lakukan. Dia tahu itu, dari mata Chanyeol yang sadar.
Chanyeol menghisap darah pada jari Baekhyun.
"A-anu.. tu-tuan..."gumam Baekhyun, karena dia memang belum mengenal Chanyeol.
"Ah, mianhae. Kau pasti belum tahu namaku."setelah Baekhyun menginterupsinya, dia pun melepas hisapan itu dan mulai menatap namja di hadapannya dengan prankster smile andalannya.
"Na-namaku Byun Baekhyun."ucap Baekhyun, disenyumi Chanyeol.
"Namaku Park Chanyeol. Salam kenal!"ucap Chanyeol dengan bahagia, membuat Baekhyun mau tak mau tersenyum.
Mereka pun mulai bersenda gurau, tak memedulikan jari Baekhyun yang berdarah–darahnya sudah berhenti karena hisapan kuat Chanyeol yang menghisap seluruh darah yang akan keluar.
Dan saat mereka sedang asyik-asyiknya bercanda, Lay datang dengan sebuah kain lap kering yang ia minta dari Suho. Ckckck.
To Be Continue
Note :
Wkwkwk, di sini belum muncul konfliknya yaaaa, sabar readers
Di sini baru memunculkan chemistry antar-karakter, jadi nanti bisa mendukung kemunculan plot twist di akhir cerita
Mind to REVIEW and FAVOURITE?
HUANG AND WU
