Rating: M
Genre: Romance with lemon dan Drama.
Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. Ter-inspirasi dari manga yang dibuat oleh Nakamura. This story is mine.
.
.
Di bawah guguran bunga sakura, pria itu ada di sana. Berdiri mengenakan sweater coklat muda dan celana bahan biru gelap. Rambut pirang yang berantakan disapa lembut oleh sang angin.
Tiap langkah membawanya mendekat pada sosok si pemuda. Remaja pirang itu berbalik, memberi senyum hangat menawan hati. Bisikan lembut dari suara serak dan berat yang tepat di telinga, memberi efek debaran serta panas di wajah.
"Hinata."
Kecupan manis pria itu berikan di kening, lalu turun ke pipi dan ke bibir. Rasa hangat yang kian lama berubah menjadi lumatan panas. Desahan hingga erangan, setiap sentuhan yang mampu membuai hingga ke langit ke-tujuh. Rasa nikmat yang pernah Hyuuga Hinata rasakan pada saat itu.
"Namikaze-senpai...," panggilan bernada malu itu menghentikan sang pria yang tengah mengenakan kembali seragamnya. "A-apa senpai menyukaiku?"
Butuh banyak keberanian bagi Hinata untuk menanyakan hal itu. Mereka sudah bersama hampir satu tahun lamanya, namun tak pernah sekalipun kata suka terucap dari bibir sang kekasih. Perasaan yang setiap hari kian menumpuk, membawa kegelisahan di sela-sela hati kecilnya.
"Pft!"
Mata yang semula terpejam kini terbuka lebar. Apa maksud dari tawa kecil itu? mengapa ia tidak lekas menjawab dan hanya menutup mulut serta memalingkan wajah?
Senpai, apa kau tidak mencintaiku?
Apa kau hanya mempermainkanku?
Meski aku begitu jatuh hati padamu.
Senpai...
...
Hinata membuka kedua matanya dengan cepat, entah sejak kapan ia tertidur. Mimpi masa lalu yang seharusnya sudah terkubur rapat itu kembali hadir tanpa bisa dicegah. Ia menghela napas pelan, dan mata peraknya melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangan. Pukul sepuluh malam, hari ini ia kembali terpaksa lembur akibat tumpukan kerja yang diberikan atasannya.
"Tiga puluh menit lagi sebelum kereta terakhir berangkat. Hebat sekali!" gerutunya dengan bibir yang mengerucut lucu. Hinata segera merapikan meja kerja dengan asal, lalu melangkah menuju lift.
Setibanya di lantai dasar, ia melangkah menyusuri koridor dengan pencahayaan yang minim. Setelah beberapa kali terpaksa lembur dan pulang malam. Hinata sudah tidak takut lagi dengan keadaan kantor yang sepi dan gelap. Ini semua berkat atasan sialannya itu.
"Lama sekali."
"U-Uzumaki-san?!" Hinata dibuat kaget oleh keberadaan pemuda pirang yang tengah duduk di dekat pintu masuk. "A-Anda belum pulang?"
Naruto tak lekas menjawab, ia berdiri dan memberikan sekaleng kopi panas pada Hinata. Setelah wanita muda itu menerimanya, barulah ia berucap. "Kerja bagus. Ayo, kita pulang."
"Eh? E-eh?" Hinata mencoba melepaskan tangan yang tiba-tiba saja sudah menggenggamnya. "Tu-tu-tu-tunggu sebentar, Uzumaki-san. Mengapa saya harus pulang bersama Anda? La-lagi pula memang Anda tahu rumah saya?"
Langkah besar pemuda itu akhirnya terhenti, ia berbalik dengan senyum miring yang membawa dampak berdebar bagi Hinata. "Kau pikir, aku siapa?"
Naruto menarik pinggang Hinata tiba-tiba, mengikis jarak di antara mereka berdua begitu saja. Mata biru langit yang masih sama seperti dulu, menatap sepasang mata perak dengan tegas dan tenang.
"A-apa yang kau lakukan?!"
Wanita muda itu memberontak, mencoba melepaskan rengkuhan hangat Naruto. Namun bukannya ia terlepas, Hinata malah diangkat dan digendong paksa hingga wajahnya memerah malu. Walau umurnya telah di pertengahan dua puluh, tetap saja ia tak akan sanggup menahan debarannya ketika jarak mereka hanya beberapa senti.
"Kalau kau tidak bisa diam. Jangan salahkan aku bila bibirmu kubungkam." Ancaman Naruto berhasil membuat sang gadis terdiam, namun pria itu malah berdecak. "Cih, padahal mau ku cium."
"A-apa?! Dasar mesum—hei! Jauhkan wajahmu!" Hinata mendorong wajah tampan atasannya sekuat tenaga. Ia tidak akan membiarkan Naruto berbuat seenaknya. Namun tatapan intens yang pria pirang itu berikan, malah membuat pipinya merona. "Ja-jangan melihatku seperi itu!"
Suara pelan bernada merajuk dengan pipi merona, siapa yang bisa menahan diri melihatnya? Tanpa sadar Naruto memejamkan mata dan merasakan hangatnya tangan mungil yang membekap mulutnya.
Pemuda pirang itu membuka mulut, dan perlahan menjilati telapak tangan Hinata. Rasa panas mengejutkan sang gadis, membuat mata rembulannya terbelalak dan pipinya kian memerah. Jemarinya bergetar pelan sebelum menjauh dari rasa panas itu, dan entah sejak kapan jarak mereka mengikis. Hingga pada akhirnya dua bibir itu bertemu, saling melumat pelan dan menghantarkan rasa panas bagi keduanya di bawah bulan purnama.
...
"Tunggu sebentar, Uzumaki-san. Bukankah strategi pemasaran yang anda berikan terlalu beresiko?!"
Suara lantang penuh percaya diri itu berhasil menarik perhatian para pegawai kantor, termasuk Hinata. Mata peraknya mengerjap ketika melihat atasannya datang bersama seorang wanita muda berambut pirang bermata ungu tua.
"Menyuruh bagian percetakan untuk mencetak tiga ribu lembar di hari pertama publis itu benar-benar gila." Wanita muda itu berkata dengan tegas, tanpa merasa takut dengan tatapan menyeramkan Naruto.
Hinata menelan ludahnya gugup, sekali lihat dia jelas tahu bahwa suasana hati atasannya itu tidak baik saat ini. Ketika Naruto sudah berdiri di depan ruang kerjanya, ia segera berdiri dari tempat duduk dan menyambutnya.
"Selamat siang, Uzumaki-san."
Sebelum ia memasuki ruang kerjanya, pemuda pirang itu berhenti dan membalas sapaan Hinata. Wajahnya yang semula menyeramkan, berubah lembut. Perubahan itu jelas tidak luput dari perhatian sang gadis pirang di belakangnya.
"Apa pakerjaan yang aku berikan sudah kau selesaikan?"
Hinata mengangguk dan memberikan beberapa map berisi laporan pekerjaan yang telah ia selesaikan. "Semua sudah selesai seperti yang Anda perintahkan."
Naruto mengambil laporan itu dan membacanya cepat. Setelah selesai, ia tersenyum miring dan menepuk pelan puncak kepala Hinata.
"Kerja bagus."
Mendapat pujian yang tidak diduga itu, membuat Hinata salah tingkah. Ia lalu menunduk guna menutupi wajahnya yang memerah dan segera kembali ke tempat duduk, tanpa menyadari tatapan penuh selidik dari wanita berambut pirang.
Setelah pintu ruang kerja pemilik Uzumaki Corp tertutup, Shion, gadis bermata ungu itu segera menanyakan hal yang sejak tadi mengganggunya. "Siapa perempuan itu?"
"Hn? Dia seketaris baru yang ditunjuk oleh Kaa-san. Hyuuga Hinata."
Sudut pelipis Shion berkedut ketika mendengarnya. Sebuah nama yang melekat dalam ingatan bersama sosok rapuh sahabatnya. Bayangan ketika malam singkat berakhir dengan punggung kokoh Naruto yang membelakanginya, serta saat laki-laki itu menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Sudut hatinya tercubit, menghentak kesadarannya akan perasaan yang selama ini memang bertepuk sebelah tangan.
"Oh, perempuan itu," suara rendah Shion mengusik pendengaran Naruto hingga ia berbalik menatap sahabatnya. "Dia perempuan yang telah mencampakanmu begitu saja. Untuk apa kau membiarkannya bekerja di sini?"
Suara helaan napas pelan itu agaknya membuat Shion tersentak. Seakan dirinya tertangkap basah telah menunjukkan rasa cemburu dan amarahnya terang-terangan. Namun perkataan pria itu selanjutnya membuat hatinya tercekat.
"Dia tidak mencampakanku," Naruto bersandar pada meja kerja sementara mata birunya menatap jauh pada pintu hitam berjarak tiga meter di depannya. Seakan ia bisa menembus dinding penghalang dan melihat di balik sisi di mana Hinata berada. "Dan aku tidak mempermainkan dia. Semua ini hanyalah kesalahpahaman dari sikap kami yang masih labil saat itu."
"Dia meninggalkanmu ketika orang tuamu bercerai, ketika kau berada di titik terendahmu, Naruto-kun!" Shion tidak mengerti pada pemikiran laki-laki itu. "Apa hal yang telah kau lalui bisa dengan mudah kau lupakan dengan alasan 'kelabilan'?"
"Tentu saja," perkataan tegas itu membungkam Shion sepenuhnya. Naruto tertawa pelan, seperti seorang anak kecil yang telah menemukan kembali harta berharganya. "Jika itu bisa membuat Hinata kembali padaku. Itu tidak masalah bagiku, lagi pula memang kenyataannya itu semua hanya salah paham."
Senyuman itu tidak pernah Shion lihat sebelumnya. Selama bertahun-tahun berteman dan selalu ada di samping Naruto. Tidak pernah sekalipun ia melihat senyum itu, tidak. ia hanya menyangkal, menutup diri, menganggap bahwa dirinya yang lebih memahami pemuda itu.
Kedua tangan wanita itu mengepal erat, mencoba menutupi rasa yang menusuk dadanya dengan raut datar tanpa mengalihkan perhatiannya pada tatapan lembut yang Naruto berikan hanya untuk sekretarisnya seorang.
...
Suara air yang mengalir perlahan berhenti. Hinata menghela napas pelan lalu membasuh wajahnya dengan tisu basah. Tidak sia-sia ia lembur demi menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang diberikan atasannya. Walau hampir seluruh motivasi yang ia miliki berasal dari amarahnya terhadap pria itu.
"Huh, dengan ini ia tidak akan meremehkanku lagi!" dengusnya sembari tersenyum lebar.
Setelah membuang sampah, Hinata berbalik hendak kembali ke meja kerjanya. Namun seorang wanita yang berdiri di depan pintu toilet mengejutkannya. Perempuan cantik dengan rambut pirang bermata ungu menatapnya dalam diam.
"Se-selamat siang." Hinata menyapa dengan kikuk, ia belum tahu siapa wanita yang datang bersama atasannya itu. Terlebih tatapannya cukup menusuk, membuatnya tak nyaman dan berniat pamit.
"Shion," wanita itu mengenalkan dirinya begitu Hinata melewatinya. Memaksa wanita berambut biru itu untuk berhenti dan kembali berbalik. "Kau bisa memanggilku, Shion. Hyuuga-san."
"Ba-baik, Shion-san."
Wanita itu melangkah mendekat dan menatap tajam Hinata, "Tapi tidak untuk Naruto-kun," perkataan itu berhasil menarik atensi lawan bicaranya. Shion tersenyum miring, "Terima kasih telah membantu pekerjaan kekasihku dengan baik, Hyuuga-san."
Usai mengucapkan terima kasih, Shion pergi meninggalkan Hinata yang mematung. Meninggalkan wanita itu dengan perasaan kemelut serta pikirannya yang kalut.
...
Suara lift yang terbuka terdengar, Hinata melangkah masuk dengan wajah tertunduk. Perkataan singkat yang Shion katakan dua hari yang lalu masih saja terngiang. Benarkah bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih?
Hinata menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan perasaan yang mengganjal dalam hati. Semua itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Terserah saja atasannya itu berkencan dengan siapa, mengapa harus ia ambil pusing?
Benar, Hinata mengangguk pada dirinya sendiri. Bukankah ia sudah bertekad untuk tidak akan kembali jatuh pada lubang yang sama. Ia tidak akan membiarkan Naruto mempermainkan dirinya lagi.
"Ah, tunggu sebentar!"
Suara berat yang sedikit serat itu mengejutkannya. Jemari lentik menahan pintu lift yang hampir tertutup sebelum melangkah masuk. Naruto menghela napas karena berhasil masuk sebelum lift tertutup. Mata birunya bertemu pandang dengan rembulan indah di depannya, namun saat ia hendak menyapa, Hinata telah melewatinya.
"Aduh, aku melupakan berkasku! Maaf uzumaki-san saya permisi."
"Eh, tunggu—Hinata?!"
Pintu lift tertutup tepat ketika Hinata melangkah keluar. Naruto terdiam saat mendapati punggung mungil sang gadis yang terlihat rapuh. Perempuan itu benar-benar menghindarinya.
Setelah mendengar suara lift yang bergerak naik, Hinata menghela napas yang entah sejak kapan ia tahan. Keringat dingin bahkan sudah turun di pelipisnya. Ya Tuhan, apa yang sudah ia lakukan?
"Kelihatan jelas sekali kalau aku menghindarinya!" Hinata menghela napas kasar, bukan ini yang dia inginkan. "Aku benar-benar bodoh."
...
"Baiklah, meeting hari ini kita akhiri sampai di sini. Terima kasih atas kehadirannya sekalian, sampai jumpa di rapat berikutnya."
Hinata tersenyum ramah, membalas satu persatu para legasi Uzumaki Corp yang menghadiri rapat hari ini. Dalam hati ia merasa lega karena dapat mengerjakan pekerjaannya dengan baik tanpa melibatkan perasaannya tengah kalut.
"Setelah ini Anda memiliki jadwal untuk bertemu dengan rekan dari Sabaku Corp, Uzumaki-san." Hinata berucap, mengingatkan. "Lalu Anda juga akan menghadiri makan malam bersama—"
"—Hinata." Naruto berucap lembut, "Buatkan jadwal untuk makan malam bersama Hyuuga Hinata."
Manik peraknya melirik dengan tak nyaman pada senyuman atasannya itu. "Mohon maaf Uzumaki-san, tetapi Anda akan makan malam dengan—"
"Hinata." sekali lagi Naruto memotong perkatannya seakan mempertegas bahwa ia akan makan malam dengan sekretarisnya itu. "Aku akan makan malam bersamamu, jadi kosongkan jadwal kita berdua, okay?"
Pemuda itu menarik pinggang Hinata, membawa sang gadis pada pangkuannya. Diam-diam bibirnya membentuk senyum saat ia merasakan tubuh mungil itu menegang. Naruto menaruh kepalanya pada ceruk leher sekretarisnya dan mencium pelan tengkuk jenjang yang tertutupi rambut panjang itu.
"U-Uzumaki...-san."
Suara Hinata bergetar, imut sekali batin Naruto. Pemuda itu bergumam pelan tanpa menghentikan kecupannya.
"To-tolong berhenti."
"...Apa kau terangsang?" pertanyaan itu berhasil membuat Hinata berbalik dan memukul lengan Naruto. Pipi putih itu telah merona, membuat sang pemuda tak kuasa menahan diri untuk tersenyum. "Benarkan?"
"Mana mungkin!" Hinata berdecak pelan, ia berusaha melepaskan lengan kekar Naruto di pinggangnya. "Tolong lepaskan saya, tidak seharusnya Anda melakukan hal ini ketika Anda memiliki kekasih!"
Kedua alis pemuda itu turun ketika mendengar perkataan Hinata, "Aku tidak punya kekasih."
Ketika pelukan itu mengendur, Hinata segera melepaskan diri dan menjaga jarak. Wanita itu kembali menunduk, tidak mampu membalas tatapan Naruto. "Ja-jangan membodohi saya. Saya tahu kalau Uzumaki-san berkencan dengan Shion-san."
"Shion?"
"Ka-karena itu tolong berhenti menggoda saya." Hinata yang tidak mampu lagi untuk menahan gejolak di dada, segera mencoba melarikan diri dari ruang yang hanya ada mereka berdua.
Namun sialnya, Naruto lebih cepat mencengkram tangannya. Pria itu menyudutkannya, menghimpit tubuh mungilnya di antara dinding dan tubuh jangkung laki-laki itu.
"Shion hanya sahabat. Tidak lebih, dan kau tahu aku hanya menyukaimu."
"Lepaskan saya, Uzumaki-san." Hinata tak ada niat untuk membalas tatapan Naruto, maupun terbuai pada kata-kata manis pria itu. "Kau mau berkencan dengan siapa saja, tidak ada urusannya denganku. Tetapi tolong berhenti mengatakan kau menyukaiku saat sudah ada wanita lain di sisimu."
Sial, sial, sial!
Jika ia tidak segera meninggalkan tempat ini. Hinata tidak tahu apa yang akan mulutnya ini katakan nanti. Bibirnya terkatup rapat, bahkan sudah menggigit bibir bawahnya, guna menahan diri untuk dia berkata lebih.
"Aku menyukaimu, Hinata. Tidak bisakah kau mempercayaiku?"
"Bagaimana bisa aku percaya? Ketika dulu aku bertanya dan kau hanya menertawaiku." Ah, Hinata tidak suka ini ketika air matanya mulai jatuh. "Dulu aku benar-benar menyukaimu, mencintaimu. Kau matahariku, senpai."
Kali ini Hinata menatapnya, namun sepasang rembulan itu menatapnya sendu dengan air mata yang mengalir deras. Hatinya kembali tercubit, perasaan bersalah kembali menggerayangi benaknya. Naruto merengkuh tubuh mungil itu, mengusap pelan punggung yang bergetar.
"Maafkan aku..."
Ucapan maaf yang terdengar pelan di telinganya membuat air matanya semakin deras. Mengapa pria itu malah meminta maaf? Mengapa ia tidak mengelak seperti biasanya. Mengapa ia seakan membenarkan sikapnya dulu?
Pelan Hinata mendorong dada bidang atasannya, "...Saya permisi dulu."
Tanpa mendengar jawaban Naruto, ia berbalik pergi. Membuka pintu ruang rapat dan berlalu begitu cepat. Saat ia hendak mengejar, pintu coklat itu kembali terbuka, namun bukan Hinata yang datang melainkan Shion.
"Apa yang kau katakan pada Hinata?" suara datar Naruto terdengar penuh penekanan.
"Hanya mengatakan kebenaran." Jawab Shion tanpa goyah akan tatapan yang pria itu berikan padanya. "Bukankah kita memang berkencan? Kau tidak ingat dengan malam kita waktu itu?"
Shion melangkah mendekat, ia mengusap pelan pipi Naruto penuh sayang. "Aku yang selalu ada untukmu Naruto-kun. Ketika orang tuamu bercerai, ketika Hinata pergi meninggalkanmu, dan ketika hidupmu berantakan, aku ada di sisimu. Bukan Hinata."
Tangan kekar pemuda itu meraih tangan Shion, menggenggamnya sebelum menariknya turun. "Karena itulah aku mengatakan kalau kau adalah sahabatku. Terima kasih telah ada di sampingku selama ini Shion. Tetapi, meski delapan tahun lamanya aku kembali jatuh cinta pada Hyuuga Hinata."
"Dia meninggalkanmu!"
"Itu karena kesalahanku," Naruto menyergah cepat. "Selama delapan tahun ini aku selalu menyesali tindakanku. Mengapa aku tidak pernah jujur padanya, mengapa aku tidak pernah sekalipun mengucap kata suka padanya. Aku selalu menyesali itu."
Genggaman itu perlahan terlepas, namun tatapan Naruto tetap teguh. "Kami kembali bertemu, dan aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Meski dia tidak percaya, akan aku katakan beribu kali kalau aku mencintainya."
"Kau sahabatku, Shion. Teman berhargaku. Karena itu maafkan aku."
Jika sudah begini, bukankah dirinya jelas-jelas ditolak? Shion tertawa pelan di sela-sela tangisnya. Bahkan ia sama sekali tidak sadar sejak kapan ia menangis. Semua yang mereka lalu, semua perhatian yang dulu pernah laki-laki itu berikan, hanyalah sebatas pertemanan, tidak lebih, dan di sini hatinya seenaknya jatuh hati.
"...Bodoh."
...
"Pada akhirnya aku melarikan diri," Hinata bergumam pelan. Sudah tiga hari berlalu semenjak kejadian di ruang rapat. Selama itu pula ia kembali menghindari Naruto. "Seharusnya aku lebih bisa menahan diri, dan tidak bertindak bodoh seperti itu.
Benar, seandainya saja ia lebih bisa mengontrol perasaannya. Menjaga pikirannya agar tidak mudah goyah ketika menyangkut soal mantan kekasihnya itu. Jika ia bisa melakukannya dari awal, maka Hinata tidak mungkin menjadi sekalut ini.
Tetesan dari langit mengejutkannya. Tiba-tiba saja langit berubah gelap dan hujan deras turun membasahi bumi. Hinata segera berlari menyusuri jalan menuju apartemen kecilnya. Padahal tinggal beberapa blok lagi ia akan sampai. Namun derasnya hujan tidak memungkinkan baginya untuk lanjut. Akhirnya ia memutuskan untuk berteduh di sebuah gedung yang terletak di depannya.
"Bagaimana ini? seharusnya tadi aku membawa payung." Gerutunya setelah berhasil meneduh.
"Achoo!"
Suara bersin di samping berhasil mengejutkan Hinata, terlebih ketika ia menemukan atasannya juga sedang berteduh dengan kondisi sebagian tubuhnya telah basah.
"U-Uzumaki-san?"
Pria pirang itu menoleh sambil menggosok hidungnya. Bagaimana bisa Hinata bertemu dengan dia di tempat seperti ini?!
"Kenapa tiba-tiba hujan deras seperti ini? apakah ramalan cuaca memang mengatakan kalau akan turun hujan?"
"Ti-tidak tahu..." Hinata menjawab kikuk sambil memalingkan wajah.
Naruto meliriknya diam, lalu kembali berucap. "Kau bawa payung?"
"...Tidaklah, kalau aku bawa tidak mungkin aku berada di sini."
Tanpa Hinata sadari, suara dan kata-katanya berubah dingin. Seakan menyadari dengan suasana hatinya yang tidak baik, Naruto tidak lagi berkata apa-apa. Namun keheningan yang hanya diiringi suara hujan malah membuat suasana terasa canggung.
"I-itu, kenapa kau ada di sini?" akhirnya Hinata memberanikan diri untuk bertanya. "Apakah ini arah ke rumahmu?"
"Aku berniat datang menemuimu."
Mata perak itu mengerjap, apakah itu artinya Naruto berniat datang ke rumahnya karena ia menghindarinya? Apa yang harus Hinata lakukan? dia belum siap sama sekali jika pria itu ingin membahas masalah kemarin.
Suara bersin kembali terdengar, Hinata menoleh dan mendapati wajah Naruto yang sedikit pucat. "Apa kau terkena flu? Jika Anda merasa tidak enak badan dan ingin mengambil cuti katakan saja. Saya akan mengatur jadwal agar Anda bisa istirahat total."
"kalau aku memintamu untuk merawatku, bagaimana?"
Kali ini Hinata terdiam. Ia tidak ingin menyahuti candaan pria itu, terlebih saat ia serius mengkhawatirkannya.
"Kau tidak akan merawatku, huh?"
Suara beratnya ketika mengatakan hal itu malah menimbulkan rasa bersalah di hati Hinata. Ia tidak mengira kalau Naruto yang sering memaksanya kini bersikap seperti itu. Seakan pria itu serius ingin meminta dirinya untuk merawatnya.
"Hei, aku sudah menjelaskannya pada Shion."
"Eh?"
Tanpa melihat Hinata yang jelas-jelas menatapnya, Naruto kembali berujar. "Aku bilang kepadanya, kalau aku tidak bisa berpacaran dengannya karena aku menyukaimu."
"Dia itu sepertinya menyalahkanmu, aku menjadi kacau waktu itu. Tapi itu sama sekali bukan salahmu. Ya, bukannya kau tidak salah sama sekali, sih. Saat itu kau pergi tanpa mendengarkan penjelasanku dulu, dan saat itu aku baru mengetahui kalau ayahku ternyata bukan ayah kandungku. Pokoknya, itu dikarenakan banyak hal yang terjadi sekaligus."
Hinata mengerjap pelan, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana ketika mendengar salah satu hal tentang pria itu. Baru saja Naruto dengan mudahnya mengatakan kalau ayahnya itu bukan ayah kandungnya.
"Lalu, aku selalu memikirkan hal ini." Hinata kembali menoleh, mendengar dengan seksama apa yang Naruto katakan. "Dulu, saat kau menanyakan padaku, "Apakah kau suka padaku?", kau bilang aku malah tertawa. Sepertinya, aku tertawa karena aku berpikir, "Kenapa dia menanyakan hal itu setelah apa yang kita lakukan?"."
Tanpa bisa Hinata cegah, pipi putihnya kini merona merah. Ia teringat dulu saat itu mereka baru saja melakukannya, di rumah Naruto saat bunga sakura di tahun ke-dua mereka berguguran. Di hari sebelum Hinata memutuskan secara sepihak hubungan mereka esok harinya.
"Alasan kenapa aku langsung menyadarimu saat kita bertemu kembali, karena aku memang sudah memperhatikanmu juga diam-diam."
Untuk kesekian kalinya, Hinata dibuat terkejut oleh pernyataan Naruto. Ia tidak pernah menyangka kalau kakak kelas yang selama ini ia kagumi juga diam-diam melihatnya.
"Ketika kita bertemu lagi setelah delapan tahun, seseorang yang dulunya lugu dan selalu menunduk dengan wajah memerah, tidak pernah kusangka menjadi orang yang suka melawan begini."
"Tu-tunggu dulu!" Hinata menyergah cepat, ia tidak terima dengan kata-kata atasannya itu. "Ma-mau bagaimana lagi?! Itu karena aku selalu melihatmu dari jauh. Aku tidak terbiasa berada di dekatmu, jadi aku tidak bisa menatap wajahmu."
Kali ini Naruto yang menoleh, menatap tidak percaya pada kata-kata Hinata. "Huh? Apa-apaan itu?"
"Te-terserah kalau kau mau percaya atau tidak!" Hinata kembali menunduk, tidak mau berani memerlihatkan pipinya yang sudah merah. "La-lagi pula aku menyukaimu bukan karena wajahmu, ya!"
"Hm.., begitu, ya?"
Sebenarnya ada apa dengan hari ini? mengapa tiba-tiba saja laki-laki itu memberitahunya begitu banyak hal hingga membuat Hinata tidak tahu harus bagaimana.
"Ah, dan satu hal lagi yang aku katakan pada Shion." Naruto menoleh menatap Hinata yang kali ini membalas tatapannya. "Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama, meski kau tidak percaya padaku. Aku akan memberitahumu ribuan kali kalau aku menyukaimu."
Hujan yang mulai mereda, udara yang dingin bersama embusan angin senja. Namun semua itu seakan tidak dapat Hinata rasakan ketika seluruh tubuhnya terasa panas. Seakan darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Ia tidak akan heran ketika melihat pantulan dirinya dengan wajah yang sudah merah padam.
Ba-bagaimana ini, di dalam dadanya sesuatu bergejolak. Seakan sesuatu itu akan tumpah ruah tak lama lagi bersama kata-kata yang sudah di ujung kerongkongannya.
"A-ano... Ngg... Se-sebenarnya aku...aku menyukaimu, Uzumaki-san!"
Sudahlah, ia tidak peduli lagi. Hinata membiarkan perasaannya yang semula ia tutup rapat-rapat kini meluap begitu saja. Ketika atensinya menangkap tatapan terkejut Naruto yang perlahan berubah, hatinya ikut menghangat. Pria itu tersenyum lembut, dengan tatapan penuh kasih sayang.
Tanpa banyak kata, Naruto menggenggam tangan Hinata yang dingin. Di bawah derasnya hujan, genggaman tangan itu saling menyalurkan kehangatan bagi mereka berdua bersama detak jantung yang kian cepat.
"Kencang sekali suara detak jantungnya," perkataan Naruto yang tiba-tiba membuat Hinata salah tingkah. Ia hendak mengelak namun pria itu lebih dulu berucap lagi, "Ah, punyaku."
Naruto melirik, memerhatikan bagaimana Hinata begitu gugup dengan wajah memerah. Ia ingin memeluknya, menciumnya, merengkuhnya.
"Hinata," ia memanggilnya lembut, menarik dagu yang terasa dingin itu dan membawa kecupan hangat di bibir mungil.
Hari itu hujan tak kunjung reda, hingga mereka berdua sampai di apartemen Hinata. Ruangan yang tidak terlalu besar, dengan lampu yang dibiarkan padam. Hinata berusaha menghentikan pemuda itu.
"U-Uzumaki-san... Uzu—Mph!" pria itu tidak membiarkannya, tanpa henti memberi lumatan-lumatan yang memabukan. "Itu... tunggu dulu—Ngg!"
Tanpa bisa Hinata cegah, ketika tangan kekar itu menelusup di bawah kakinya, desahan pelan lolos begitu saja. Ketika melihat Naruto yang mulai melepaskan pakaiannya, ia berusaha beranjak dari kasurnya.
"Tempat tidurnya, tempat tidurnya akan basah!"
"Tidak usah dipikirkan."
Hinata berdecak pelan, "Aku memikirkannya! Lebih baik jika kita keringkan dulu sedikit, apa lagi kalau kau sampai terkena flu!"
Naruto yang sudah melepaskan mantelnya kembali memeluk Hinata dan berbisik pelan. "Apa, sih yang kau lakukan di saat seperti ini? bodoh."
Bagaimana bisa dadanya berdebar ketika mendengar ejekan dari pria pirang ini? bagaimana bisa kecupan di pipinya terasa seperti sengatan listrik? Bagaimana bisa pelukan Naruto begitu hangat dan lembut?
"Hinata..., aku menyukaimu."
Naruto kembali menciumnya, membiarkan lidahnya bergerak lincah di mulut Hinata. Sementara itu tangannya yang lain mengelus pelan kaki dan pahanya lalu beralih pada bagian bawahnya. Salah satu tangannya yang lain mulai memijit pelan dada Hinata.
"Hng..," desahan kembali lolos dari bibir mungil hinata ketika ia merasakan rasa panas di putingnya. Terutama ketika Naruto memainkannya. "U-Uzu...A-ah!"
Tak butuh lama sampai keduanya kini tanpa sehelai benangpun. Di bawah balutan selimut, keduanya saling terhubung. Hinata merengkuh Naruto, memeluknya erat ketika tubuhnya terus berguncang mengikuti irama hentakan pinggul pria itu.
"Ah-ah, ah! U-Uzumaki...-san."
"Hinata, Hinata, Arg!"
Keduanya saling memanggil, menyebut nama dan memeluk erat. Ketika titik sensitifnya tersentuh, tubuh Hinata melengkung sempurna, lalu jatuh di atas dada bidang Naruto. Napas keduanya sama-sama memburu, namun kecupan yang pria pirang itu berikan menghapus segalanya. ]
Bibir tipisnya membentuk senyuman, dan ketika Hinata memejamkan matanya. Untuk kesekian kalinya Naruto berbisik.
"Aku mencintaimu, Hinata."
.
.
.
Fin...
