Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Chapter 1)
.
.
.
Sasuke pov.
Menatap anak kecil yang masih berumur 6 tahun itu, sebenarnya 6 tahun itu sudah termasuk anak yang cukup besar, tapi tubuhnya sangat kecil dan dia cukup pendek. Aku tidak bisa menarik kata-kataku untuk kedua kalinya, aku yang akan merawat Sakura, meskipun aku sungguh tak tahu bagaimana merawat seorang anak kecil, apalagi dia seorang gadis.
"Kenapa memanggilku 'Sasuke'?" Tanyaku.
Tatapannya jadi terlihat takut dan bingung, tidak, aku yang salah, seharusnya aku tidak menatapnya seperti ini, berusaha membuat wajahku lebih tenang.
"Aku tidak akan marah padamu, aku hanya penasaran." Ucapku.
"Aku mengikuti Niichan." Ucapnya, polos, dia mulai memanggil si orang tua itu dengan embel-embel Nii-chan, sangat bodoh untuk di dengar.
Gadis kecil ini hanya mengikuti ucapan Kakak, ya, aku tidak suka dia memanggilku kakak, aku juga bukan kakaknya, walaupun secara hukum, kami sekarang adalah saudara.
"Dengarkan kata-kataku mulai sekarang." Ucapku, aku akan mulai merawatnya dan mendidiknya menjadi gadis yang baik dan sempurna.
Ini hanyalah ide yang cukup konyol, tapi aku berpikir untuk membuatnya menjadi pasangan sempurna untukku di masa depan, walaupun umur kami terpaut jauh, aku yakin dia luar sana ada begitu banyak gadis yang masih muda memiliki pasangan yang cukup tua.
Sebuah anggukan kecil darinya, dia sangat polos dan menggemaskan. Aku harus menjauhkannya dari apapun, jangan sampai ada tangan kotor yang menyentuhnya.
"Mulai sekarang kita akan menjadi pasangan." Ucapku.
"Kenapa?" Tanyanya, bingung.
"Ya, karena kau akan menjadi pengantinku di masa depan."
"Apa akan seperti ayah dan ibu?"
"Ya kira-kira seperti itu."
Berhenti.
Apa yang sudah aku lakukan! Aku malah membuat hal yang belum dipahaminya, tidak apa-apa, dia akan mengerti dengan sendiri.
"Jadi, mulai sekarang, jangan pernah membuat kakak atau kak Izuna menyentuhmu, lari atau menjauhlah dari mereka." Perintahku.
"Kenapa?" Tanyanya lagi.
"Mereka penuh kuman, kau akan sakit jika dekat dengan mereka."
Tatapannya terlihat takut, ah, sangat mudah membohongi seorang anak kecil, tapi entah sampai kapan ucapan bodohku ini akan bertahan, kelak dia akan menjadi gadis dewasa yang memahami segalanya. Untuk sementara aku harus membuatnya seperti itu.
"Jauhi dapur, dalam artian kau tidak boleh masak atau menyentuh benda-benda di sana, tanganmu akan terluka. Mengerti?" Ucapku dan sebuah anggukan darinya.
"Jika kau perlu sesuatu, panggil aku, jangan panggil kakak atau kak Izuna."
"Apa aku juga tidak boleh bermain dengan Niichan dan kakak?" Ucapnya dan terlihat murung.
"Ya, jangan bermain dengan para om-om tua itu." Ucapku, walaupun mereka sebenarnya belum terlalu tua.
Kenapa dia terlihat murung? Aku saja sudah cukup.
"Sekarang aku akan mengantarmu ke kamarmu." Ucapku.
Menggenggam tangan kecilnya itu, gadis kecil yang terlihat begitu rapu, dia harus di perlakukan khusus.
Naik ke lantai tiga, di sana ada sebuah kamar, kamarnya dan kamarku tidak terlalu jauh, hanya di batasi oleh kamar kakak. Sebuah kamar yang sudah di persiapkan ayah dan ibu selama dia masih berada di rumah sakit.
Ada tempat tidur single bed, banyak boneka di tata di sana, kamar ini tidak begitu besar, dulunya menjadi tempat tidak terpakai, akhirnya di gunakan juga, di desain khusus untuk seorang anak gadis dan dia buat senyaman mungkin untuknya, harapan ayah dan ibu agar Sakura betah tinggal bersama kami.
"Ini kamarmu, di sebelah adalah kamar kak Itachi dan di sebelahnya lagi adalah kamarku. Jangan masuk ke kamar kakak atau Izuna." Ucapku, aku kembali memberinya beberapa peringatan. "Tapi kau boleh masuk ke kamarku sesuka hatimu." Tambahku.
Kembali sebuah anggukan kecil darinya, aku terlalu banyak memberinya perintah, apa dia akan mengingat segala perintahku itu? Apa dia akan menerapkannya? Aku harap dia melakukan apa yang sudah aku katakan padanya.
Aku ingin membuatnya menjadi wanita yang sempurna.
"Ah, satu lagi, jangan memotong rambutmu." Ucapku, sekarang rambutnya hanya sebahu, dia akan semakin cantik jika rambutnya panjang dan tergerai.
Semua ide ini membuatku sedikit bangga, aku tidak perlu sulit untuk mencari wanita di luar yang bahkan asal usul mereka tidak jelas dan pola kehidupannya yang mungkin buruk, pacaran di sana sini, dia sudah di sentuh oleh berbagai pria dan mungkin sudah melakukan hal buruk. Jika Sakura terus bersamaku, aku bisa memperhatikannya tumbuh dengan baik dan dalam lingkungan yang baik juga, dia akan menjadi wanita yang sangat spesial untukku.
"Uhuk', mau sampai kapan kau terus menjauhkan Sakura dari kami?" Tegur kakak. Menatap malas padanya, aku sudah membuat deklarasi tentang Sakura adalah milikku, masih saja sibuk ingin ikut campur.
"Aku memberitahukannya banyak hal agar dia melindungi dirinya, termasuk dari kalian." Ucapku.
"Ha? Dasar konyol Sasuke, kau jadi terlalu terobsesi pada Sakura, biarkan dia bersama kami juga." Ucap Izuna.
Mereka selalu saja mencari alasan untuk dekat dengan Sakura, apa tidak bisa membiarkan gadisku itu tenang dan sendirian saja?
"Tidak, jangan mengganggunya, dia sedang istirahat." Ucapku dan mendorong mereka menjauh dari kamar Sakura.
.
.
.
.
Mencari beberapa hal tentang merawat anak gadis di internet, tapi yang muncul adalah hal-hal bodoh dan menjijikan, ya aku tahu ini jadi semacam aku pedofil! Tapi aku tidak bermaksud melakukan hal itu padanya! Aku akan bersabar hingga waktunya tiba, dia harus menjadi dewasa terlebih dahulu, aku hanya ingin merawatnya seperti adik kecilku.
Ah..~ ini sungguh merepotkan, tapi aku harus melakukannya.
Di mulai dari apa yang di perlukannya.
.
.
TBC
.
.
author update dikit-diikit yaa.. =w=.
sengaja, biar cepat di ketik gitu, nanti author rajin update deh.
tenang saja, ini sebenarnya bukan fic tentang pedofilia, author hanya mencamtumkannya karena posisi Sakura yang masih cukup kecil, jadi itu saja jangan salah paham yaa, hehehe.
.
.
See you next chapter!
