The Student

A Jaemren Story

BoyxBoy

Bagian 1

.

Aku tidak mengerti mengapa Jaemin diizinkan memiliki rambut berwarna merah muda sejak kami menginjak bangku kelas 3. Dia anak tercerdas di kelas bahkan seangkatan. Sedangkan aku, posisi ranking satu di kelas saja tidak bisa kudapatkan sejak kelas satu, apalagi ranking satu seangkatan.

Sekolah kami adalah sekolah elit dengan segudang peraturan super ketat. Rambut harus berwarna hitam, perempuan tidak boleh memakai make up terlalu tebal dan laki-laki harus berambut pendek. Kecuali Jaemin, si murid baru itu sudah sejak kelas 2 semester terakhir menjadi siswa di sekolah yang sama denganku. Tadinya ia berada di kelas 2A namun setelah kenaikan kelas, sistem sekolah mengacak kelas sehingga aku harus sekelas dengannya di kelas 3E.

"Hey pinky boy, mau ke kantin tidak?" tanya Mark. Ia teman sekelas Jaemin sejak kelas 2. Kemana-mana mereka selalu berdua, bahkan banyak siswa yang mengidolakan dua siswa terkeren itu. Mark yang selalu berprestasi dalam basket dan Jaemin yang selalu berprestasi dalam bidang akademik.

"Duluan saja." Jaemin menyahut seperti biasa. Ia kemudian membereskan buku-buku sisa pelajaran yang berserakan di atas mejanya yang berada di pojok kanan baris paling belakang, di depannya ada meja Mark. Jauh dari mejaku yang ada di nomer dua dari depan.

"Renjun, ayo!" panggil Haechan yang memunculkan kepalanya dari luar kelas. Ia adalah sahabatku, sudah sejak tadi dia berkata akan pergi ke kantin untuk makan. Hingga tanpa kusadari, ia sudah keluar lebih dulu.

Tersentak dari lamunanku yang terlalu fokus pada Jaemin, aku pun membereskan buku dan alat tulisku yang berserakan di atas meja untuk bergabung dengan Haechan. Tanpa kusadari, laki-laki yang dari tadi kuperhatikan sudah berjalan pelan menuju ke arahku dan berdiri di sampingku.

"Ada apa Renjun?" Kurasakan bisikan berhembus di telingaku.

"Aaaaaa!" teriakku kaget. Reflek aku menoleh mendapati sosok Na Jaemin tersenyum lebar ke arahku. "A-apa yang kau lakukan Ja-Jaemin?" tanyaku terbata. Sosoknya terlalu tenang, senyumnya malah semakin lebar ketika melihat ekspresi terkejut dari wajahku.

"Sepertinya sejak kemarin kau memperhatikanku. Mau makan bersama?"

Aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukanlah mimpi. Jaemin? Siswa tercerdas seangkatan mengajakku makan bersama? Kami bahkan baru sekelas selama 3 hari.

"Ma-makan bersama?" tanyaku memastikan. Aku menoleh ke arah pintu kelas dan tidak menemukan Haechan disana. Mungkin dia sudah duluan ke kantin karena sejak jam pelajaran tadi, ia mengeluh lapar dan belum sarapan dari rumah.

Jaemin mengangguk, tersenyum lebar menunggu jawabanku.

"Baiklah." Aku menerima tawarannya lalu kemudian mengikutinya keluar kelas. Ia tidak menuju ke kantin namun malah pergi ke atap sekolah yang sepi. Merasa tidak yakin, aku berusaha untuk tetap tenang dan mengikutinya.

Aku berjalan di belakang Jaemin, bahunya yang lebar membuatku semakin melamunkan laki-laki berambut pink ini. Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya. Tentang siapa dia, darimana asalnya, mengapa dia pindah kesini dan lainnya, terutama tentang peraturan pengecualian yang dibuat untuknya dan semuanya. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Jaemin.

Sesampainya di atap sekolah, Jaemin mengeluarkan bekal yang sejak tadi ia bawa, dua buah sandwich rumahan. "Untukmu," ujarnya lembut sambil menyerahkan salah satu sandwich yang dibawanya. Aku benar-benar tidak menyangka. Orang ini ternyata memang seperti yang dirumorkan, baik dan murah senyum. Tidak seperti yang kupikirkan selama ini. Aku pikir, Jaemin adalah orang yang lumayan sombong dan susah didekati.

"Terima kasih Jaemin." Aku menerima sandwich pemberiannya. "Uhm, enak." Pada gigitan pertama, aku sudah sangat jatuh cinta dengan rasanya yang gurih dan campuran sayuran di dalamnya sangat segar.

"Benarkah? Aku senang kau menyukainya." Jaemin tersenyum lagi sambil memandangiku. Membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya walau mulutku masih sibuk mengunya sandwich pemberiannya.

"Jaemin, kenapa kau mengajakku kesini?" tanyaku penasaran. Aku bukan tipe orang yang mudah membaur dengan orang baru, juga bukan tipe orang yang mudah diajak untuk berteman. Namun Jaemin tanpa rasa ragu sedikitpun mau mengajakku berkenalan lebih dulu bahkan mengajakku ke atap sekolah untuk makan bersama hanya berdua saja.

"Kuperhatikan sejak kemarin kau sering memandangiku, kupikir ada yang ingin kau tanyakan padaku? Melihat kau adalah tipe orang yang tidak begitu suka keramaian dan sulit membaur dengan orang yang tidak kau kenal dengan baik, jadi aku mengajakmu kesini," jawab Jaemin tepat sasaran.

"Darimana kau tau kalau aku adalah tipe orang seperti itu?"

"Aku juga memperhatikanmu dari bangkuku." Jaemin mengerlingkan sebelah matanya ke arahku, membuatku hampir tersedak dengan muka memerah.

Jaemin tertawa melihat reaksiku. Tawanya benar-benar menenangkan hati, membuatku ikut tersenyum karenanya. "Jaemin, apa kau serius kalau kau sering memperhatikanku?"

Ia mengangguk lalu melanjutkan bicaranya. "Aku juga memperhatikan teman-teman yang lain. Haechan misalnya, sahabatmu yang jauh berbeda denganmu itu. Ia orang yang sangat mencolok, urakan, percaya diri dan pemberani. Berbeda sekali denganmu yang selalu menjaga sikap, pemalu dan paling tidak mencolok diantara teman-teman sekelas lainnya. Bisa kubilang Haechan yang paling mencolok di kelas dan berikutnya aku yang bahkan tidak berbuat apa-apa ini."

"Jaemin, kau mencolok bukan karena tidak berbuat apa-apa. Kau ini siswa paling cerdas seangkatan dan rambutmu berwarna pink. Bagaimana bisa kau tidak mencolok?"

Jaemin tersenyum. "Ada alasan tersendiri kenapa aku mewarnai rambutku seperti ini. Nanti juga kau tahu."

Setelah sandwich kami berdua habis, Jaemin mulai menceritakan bagaimana perasaannya berada di sekolah ini. Ia murid pindahan dari Busan. Ia pindah karena ikut ibunya. Katanya, sekolah ini sangat disiplin dan cocok untuk pribadinya yang suka belajar. Bisa kulihat dari nilai-nilai hampir sempurna yang selalu didapatkannya saat kelas 2, dia memang tukang belajar.

Ia berteman dengan Mark karena Mark adalah orang pertama di sekolah yang mengajaknya berteman lalu seiring waktu berjalan, tanpa ia sadari, sampai sekarangpun mereka tetap berteman dan bahkan semakin akrab dari hari ke hari. Hobinya adalah bermain piano dan ia memiliki beberapa prestasi dari hobinya itu. Saat aku mencoba bertanya tentang keluarganya, Jaemin selalu menghindari topik tersebut.

Tak terasa aku terlamun mendengar cerita Jaemin hingga bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi. Dengan segera Jaemin mengajakku turun dan kembali ke kelas.

Ketika jam pelajaran berikutnya dimulai, aku masih terdiam di kelas dan mencerna apa yang telah terjadi hari ini. Na Jaemin, orang yang selama ini aku perhatikan, mengajakku makan bersama hanya berdua?

Aku sangat senang hari ini.

.

.

.

End of Renjun's POV. Next will be author's POV.