Sinar Matahari musim panas menerpanya dan membangunkannya. Ia mengucek ngucek matanya dan merasa asing ditempat empuk yang tidak dia kenali. Tidak mungkin ini kamarnya karena kasurnya tidak pernah terasa seempuk ini. Sekelilingnya begitu ganjil, dengan deretan tempat tidur yang tersusun rapih dan rak obat obatan-bukan obat namun sesuatu seperti ramuan- yang menghiasi tempat ini. Saat kesadaran kembali menyentaknya, histeria menyelimuti setiap sarafnya dan otomatis dia berteriak.

"TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN SEMUA INI NYATA, AKU HANYA PERLU TIDUR LAGI DAN MEMAKSA TUBUHKU UNTUK KEMBALI KE DUNIA NYATA".

Tatjana panik dan kembali memejamkan mata, namun semua itu sia sia karena ketika ia membuka matanya, pemandangan rumah sakit itulah yang memenuhi otaknya. Ia mulai panik dan gemetar tidak terkendali. Ia gemetar begitu hebatnya sampai tidak sadar ada orang yang mendekatinya.

"Miss Almar tenangkan dirimu!" perawat itu memegang bahu Tatjana dan mengusapnya dengan perlahan lalu ia meraih tangan Tatjana dan meletakkannya di dada perawat itu.

"Ikuti nafasku, tarik, tahan, buang" Tatjana berusaha untuk mengikuti arahan suster ini namun dadanya seperti sesak dan tidak ada ruang untuk bernafas.

"Tarik nafas" Tatjana mulai menarik nafasnya pelan pelan.

"Buang"

"Tarik" Ia mulai bisa mengikutinya.

"Buang" Tatjana mulai merasakan dadanya terisi dengan oksigen kembali. Ia mulai bernafas dengan teratur dan kepanikan yang mengikat tubuhnya perlahan lahan sirna. Ketika alunan nafasnya mulai stabil, perawat itu baru melepaskan tangannya dari bahu Tatjana.

"Minum ini, ini akan membuat mu tenang" Tatjana mengenali ramuan itu, ramuan yang sama yang ditawarkan oleh Profesor Dumbledore. Meskipun ragu ia menegaknya dan merasakan badannya jauh lebih tenang dari pada tadi.

"Ada apa miss Almar?" kata perawat itu dengan lembut.

Perawat lembut yang mengurusi rumah sakit di kastil ini. Tidak salah lagi dia Madam Pomfrey.

"Apakah anda Madam Pomfrey?" katanya berhati hati.

"Iya dear, aku Madam Pomfrey, dan kau pastinya Tatjana Almar?" katanya dengan hangat.

"Iya, dan maafkan saya, saya hanya panik" kata Tatjana dengan malu. Jika ia membangunkan ibunya dengan teriakan seperti tadi, sudah pasti ia mendapat tamparan.

"Tidak apa dear, berbaringlah kembali, aku akan memeriksamu sebentar" Madam Pomfrey mengeluarkan tongkat- benar benar tongkat sihir- dan merapalkan sejumlah mantar diagnostik yang terdengar seperti mantra mantra berbahaya. Perkamen dan pena bulu otomatis menulis mengikuti arahan tongkatnya. Setelah selesai ia menambahkan beberapa catatan dengan tangannya sendiri dan terdiam sejenak.

"Aku akan melaporkan kepada Kepala Sekolah, sarafmu agak tegang dan beberapa bagian tubuhmu memar yang kuduga akibat terjatuh terlalu keras, aku akan memanggilkan peri rumah untuk menghidangkanmu sarapan" Madam Pomfrey tersenyum sebelum menjetikkan jarinya dan memanggil peri rumah.

Bunyi pop keras kembali mengagetkan Tatjana , sepertinya ia belum terbiasa dengan kemunculan makhluk kecil itu. ia memakai kaos kaki hitam konyol sebelah dengan jubah bekas yang terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil itu. Ia menghidangkan Tatjana dengan Full English Breakfast dan segelas cairan-Tatjana menduga cairan itu adalah Jus Labu- dan air putih yang bisa terisi kembali.

"Apakah ada yang bisa kubantu lagi nona miss muda?" katanya. Mata dan telinga lebar memandang Tatjana dengan tatapan memuja yang membuat tidak nyaman.

"Err, terima kasih banyak sudah cukup, aku hanya ingin tahu siapa namamu?"

Peri rumah itu memandang takjub seolah olah ia telah memenangkan Turnamen Twizard.

"Dobby merasa terhormat ditanyakan namanya, bahkan Dobby tidak tahu nama miss muda ini, Dobby bodoh bodoh" Peri rumah itu mulai mencari sesuatu yang ia bisa gunakan untuk memukul kepalanya.

Sebelum ia sempat mengambil Vas Bunga disebelahnya, Tatjana memegang tangannya.

"Dobby Stop okay? Tidak apa kau tidak tau namaku, namaku Tatjana Almar dan err aku hanya ingin memastikan"

Matanya melebar dan ia menundukkan kepalanya, tangannya masih mencari cari benda lain untuk menghukum dirinya sendiri.

"Dobby stop! Bukannya kau peri rumah yang sudah dibebaskan Harry Potter?" Tatjana ngeri membayangkan bagaimana peri rumah ini terbiasa menyakiti dirinya sendiri.

"Miss Tatjana Almar pintar, Miss Tatjana Almar kenal Harry Potter Dobby masih membawa kebiasaan lama, Dobby bodoh bodoh" peri rumah itu mulai meraung dan membuat Tatjana panik.

"Its okay Dobby! Aku err ya mungkin mengenal Harry dan aku tau Harry pasti tidak akan senang jika kau menyakiti dirimu lagi seperti kebiasaan lamamu, sekarang stop dan kau boleh kembali" Dobby memandang Tatjana dengan tatapan memuja sekali lagi dan pergi dengan bunyi pop keras.

Tatjana menghela nafas dan mulai mengerti mengapa Hermione memulai program S.P. - jika hal itu memang benar benar ada- ia mulai memakan sarapannya yang terlalu banyak itu.

Tatjana memutuskan untuk menyerah menghabiskan sarapannya yang tidak sampai setengah habis dan menghabiskan jus labunya - yang menurutnya sangat aneh- ketika pintu Hospital Wing terbuka dan tiga sosok penyihir- baiklah sekarang ia mulai menyebut mereka penyihir- dan menghampirinya.

"Bagaimana kabarmu miss Almar?" kata Profesor Dumbledore dengan matanya biru cerah yang berbinar binar.

"Sudah lebih baik Sir, terima kasih" Tatjana tidak tahu ukuran sopan yang berlaku disini seperti apa namun ia berusaha untuk mengingat ingat pelajaran sopan santun yang diajarkan waktu ia sekolah dulu meskipun Tatjana tidak mau memandang kearah mata Profesor Dumbledore karena ia tahu bahwa penyihir tua itu punya kemampuan Legilimmens yang hebat.

"Miss Almar kita punya sedikit masalah disini, yang harus kau tahu bahwa aku dan Profesor Snape telah berusaha sekuat tenaga untuk mencari jalan keluar dari permasalahanmu, namun sayangnya kami belum menemukan buku ataupun arsip manapun yang menjelaskan tentang ini." ujar Albus, binar matanya mulai pudar.

"Jad-jadi ssay-saya tidak bisa pulang Sir?" Tatjana berusaha mengatur nafasnya tidak mau mengulang kejadian seperti tadi pagi.

"Aku meminta maaf untuk mengatakan ini, sayangnya tidak Miss Almar, kami belum menemukan cara untuk kau kembali ke duniamu" kata Albus dengan sedih. Madam Pomfrey mengelus elus bahu Tatjana yang sekuat tenaga mengatur nafasnya. Severus hanya diam berdiri dengan pandangannya yang tidak bisa terbaca.

"Miss Almar, dear izinkan aku menambahkan , karena kau terpaksa untuk menyesuaikan dengan dunia ini, kami akan mengadakan tes apakah kau seorang penyihir atau bukan" ujar Albus, ia meremas bahu Tatjana berusaha menguatkan.

"Saya jelas bukan penyihir Sir!" Tatjana mengatakannya terlalu keras daripada yang ia maksud.

"Perhatikan nada bicaramu, girl!" Severus akhirnya berbicara dengan nada bariton datarnya.

Tatjana tersentak. "Maafkan saya" katanya tertuju pada kedua penyihir laki laki itu.

"Its okay Severus, Miss Almar hanya sedikit bingung dengan banyaknya perubahan ini. Tidak apa apa dear kau sedikit terkejut dengan perubahan ini, namun ada beberapa tanda yang menunjukkan kau penyihir, ramuan penenang yang dibuat oleh Severus hanya bisa bereaksi di tubuh penyihir dan itu terbukti bereaksi padamu" kata Albus menjelaskan dengan sabar.

"Ta-tapi saya tidak pernah menyihir sebelumnya, secara sengaja maupun tidak sengaja, harusnya saya menunjukkan hal tersebut sebelum saya berumur sebelas tahun kan?" kata Tatjana menjelaskan dengan lebih tenang.

"Kau benar dear,banyak dugaan dugaan yang tidak pasti yang berkeliaran di pikiran orangtua ini, namun setidaknya kita bisa memastikannya dengan tes yang akan kita lakukan sekarang, Severus kau bisa bantu aku"

Albus meraih tongkatnya yang panjang dan menyihir sekelilingnya sehingga terbentuk gelembung tak kasat mata yang mengelilingi mereka. Severus mendekati Tatjana yang berjengit ketika didekati.

"Miss Almar, tanganmu" katanya, untuk beberapa saat Tatjana tidak bergerak dan hanya memandang lantai.

"Miss Almar kita tidak punya waktu seharian" Dengan ragu Tatjana memegang tangannya dengan posisi sepetti menjabat tangan. Ia selalu trauma untuk menyentuh lawan jenis, terutama semenjak kejadian itu.

Hangat.

Tatjana tahu Harry dan kawan kawannya menjuluki Profesor Snape sebagai Kelelawar Jahat dari Bawah Tanah, Tatjana hampir percaya bahwa kulitnya dingin seperti raut wajahnya, namun ketika menggengam tangannya ia hangat seperti manusia pada umumya.

Tatjana berusaha keras menahan tawa karena Hell, dia menyentuh tangan tokoh fiksi pujaannya.

"Tanganmu akan berjabat tangan dengan Profesor Snape sebagai penyihir dan kau yang akan diuji, sementara aku mengucapkan mantranya, Miss Almar dear mantra ini akan menyebabkan sedikit rasa sakit pada saraf dan sendimu, namun Profesor Snape sudah menyiapkan ramuan antidotesnya dan aku meminta izin kepadamu untuk mengambil sedikit darahmu dan mencampurkannya ke ramuan ini"

Tatjana sedikit berjengit ketika Profesor Dumbledore dengan lembutnya mengambil darah dari jari jarinya menggunakan tongkat sihirnya. Rasanya seperti digigit semut ketika kau diperiksa golongan darah oleh entah apa nama alat itu. Lalu ia meneteskan darahnya dengan hati hati kedalam vial kecil yang berisi cairan bewarna kehijauan, otomatis cairan itu berubah menjadi bening.

"Silahkan Miss Almar" Albus memberikan cairan itu yang ditatap Tatjana dengan curiga. Namun karena tatapan cepat-habiskan-kalau-tidak-ku-sectumsempra-kau dari Profesor Snape membuat Tatjana cepat cepat meneguknya. Tatjana tidak akan menyebut jus labu aneh jika dibandingkan dengan cairan ini.

"Hominum Incantator!" seketika Tatjana merasakan nyeri disekujur tubuhnya, saraf sarafnya seperti tertarik satu sama lain dan darahnya seperti mengalir lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya kaku seperti terikat dan ektremitasnya terasa kebas namun ia menggigit bibirnya sekuat mungkin menahan teriakan.

Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit.

Pandangan Severus tidak berubah, mata kelamnya tidak terbaca dan masih menatap lurus kedepan, meskipun kebas, namun Tatjana sebisa mungkin menghindari pandangan dari ahli Legilimmens itu.

Tatjana tidak pernah melihat orang dengan pandangan tanpa emosi seperti itu.

Setelah beberapa lama, selubung kasat mata yang diciptakan Albus mulai dipenuhi dengan cahaya keemasan, Tatjana menyadari bahwa cahaya itu berasal dari tubuhnya, sedangkan orang tanpa emosi didepannya memancarkan cahaya putih yang meneduhkan mata. Lama kelamaan selubung itu dipenuhi dengan cahaya kehijauan yang memancar dari tubuh kedua duanya.

Rasa sakit itu seperti berkumpul di jantungnya, di perutnya. Kakinya makin kebas dan Tatjana tidak sanggup menahan beban tubunya sendiri. Sarafnya seperti terikat satu sama lain.

Dan tiba tiba semuanya menjadi gelap.