.

Disclaimer:

Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

I don't take any material profit from it

.

Starring: Uchiha Sasuke, Uzumaki Karin

Sabaku Gaara, Inuzuka Kiba

Rated: T/M

Warning: OOC, OC, Alternate Universe, typo(s)

Genre: Romance, Drama

Selamat Membaca ^o^


Undeniable Yearning for You

BAB 1

by : hikarishifaa

"Sasuke… Sasuke…."

Terperanjat kaget Sasuke membuka matanya dan menemukan alarmnya berbunyi nyaring. Pukul 06.00 pagi. Jadwalnya untuk lari pagi sebelum bersiap – siap berangkat ke kantor. Dia biasanya adalah orang yang patuh pada jadwal yang ia buat. Namun terkadang melanggar peraturanmu sendiri dan sedikit bermalas – malasan cukup menggiurkan.

Pagi ini pikirannya sedang tidak foKus. Dia bermimpi lagi tentang wanita itu. Sudah empat tahun berlalu semenjak terakhir mereka bertemu. Dia pikir dia akan melupakannya dengan mudah. Tapi tidak. Dia masih mengingat jelas mata rubi yang memandangnya tajam. Suaranya masih menggema menghantui mimpi – mimpinya. Padahal wanita itu hanyalah gold digger murahan yang harusnya tidak pantas berada dalam ingatannya.

Tapi kenapa?

Kenapa setiap jengkal tubuh wanita itu masih terpatri kuat dalam benaknya? Suaranya masih menggema menghantui mimpi – mimpinya?

Setelah menikmati kopi dan koran paginya Sasuke memutuskan untuk berangkat lebih pagi dan mencari sarapan di luar.

Sasuke sedang menyusuri sudut kota dengan Ferrari miliknya saat melihat seorang anak kecil melesat begitu saja di depan mobilnya. Untung saja Sasuke mempunyai refleks yang bagus. Mobil yang dia kendarai berhenti tepat 15 cm di depan si anak kecil.

"Hey, anak kecil kau tidak apa – apa?" Sasuke menengok ke sekitar untuk mencari orang tua dari si anak kecil tapi nihil. "Gaki, kau sendirian? Mana orang tuamu?"

Si anak kecil yang sepertinya berumur sekitar 4 tahunan itu hanya memandangnya dengan matanya yang bulat jernih dengan ekspresi polos. Sasuke bahkan merasa kagum. Anak sekecil itu hampir tertabrak mobil dan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi shock atau takut.

"Mommy sedang sibuk."

"Hoo, jadi kau menyelinap pergi saat ibumu sedang lengah?" tanya Sasuke.

Si anak kecil lagi – lagi hanya menatap Sasuke dalam diam. Kemungkinan karena tidak mengerti maksud pertanyaan Sasuke.

"Dimana rumahmu? Ayo, kuantar kau pulang ke ibumu!"

Sasuke bukan penyayang anak kecil. Hanya saja dia tidak mungkin membiarkan anak berusia 4 tahun berkeliaran sendirian di jalanan.

"Aku nggak mau pulang, Paman. Aku mau omoraicu Bibi Touka!" ujar si anak kecil sambil menunjuk kedai brunch tak jauh dari mereka.

Mungkin brunch bersama anak kecil menarik yang baru saja ditemuinya tidak buruk juga.

"Hikaru, kau kesini bersama siapa?"

Sasuke menghembuskan nafas lega mengetahui si pemilik kedai sepertinya mengenal si anak kecil. Setidaknya dia bisa menitipkan anak kecil itu disini daripada meninggalkannya di jalanan tadi.

"Obachan! Aku bersama Ojichan kesini!" Hikaru melompat – lompat bahagia sambil menggandeng tangan Sasuke. Mengajaknya untuk menempati meja di pinggir jendela.

Sambil menunggu pesanan mereka datang, Sasuke memanfaatkan waktu menunggu untuk mengecek beberapa email sebelum sesuatu mengacaukan fokusnya. Hikaru kecil di depannya menatapnya dengan netra hitamnya yang jernih dengan ekspresi polos penuh rasa ingin tahu. Entah kenapa tatapan itu amat mengganggu Sasuke. Terlebih mata hitam kelam milik anak itu. Terasa teramat familier baginya.

"Hey, gaki apa yang kau pikirkan?"

Hikaru hanya mengedikan kepalanya acuh dan menyeruput jus tomat kesukaannya. Membuat Sasuke sedikit kesal. Baru kali ini ada yang terang – terangan mengabaikannya. Dan itu berwujud manusia berumur 4 tahun.

"Kau baru saja bertemu denganku tapi tidak takut ikut bersamaku. Apakah kau tidak pernah diajari orang tuamu jangan sekali – kali mau diajak pergi oleh orang asing?" tanya Sasuke penasaran.

Gerakan kaki Hikaru yang mengayun gembira sesaat berhenti.

"Apakah Ojichan orang jahat yang akan menculikku?" tanyanya polos.

Sasuke sedikit terperangah dengan pertanyaan lugas Hikaru kecil. "Tidak. Tentu saja tidak."

"Lagipula aku kan mengajak Ojichan ke tempat Touka-obachan, kalau Ojichan jahat aku akan langsung berteriak!" ujar Hikaru membuat Sasuke tertawa. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Sasuke tertawa karena seorang anak kecil.

"Nah, ini dia omoraicu kesukaan Hikaru-chan!" Touka tersenyum melihat Hikaru kecil bersorak menyambut makanan kesukaannya. "Silahkan Tuan ini pesanan Anda!"

"Hm. Oh ya, setelah ini saya ada meeting penting. Bisakah saya menitipkan Hikaru disini? Sepertinya Anda kenal baik dengan Hikaru."

"Tidak masalah, Tuan. Saya kenal baik dengan Hikaru-chan dan Ibunya. Mereka sering datang kesini. Hikaru kecil bahkan kadang – kadang dititipkan disini saat Ibunya ada keperluan mendadak."

"Syukurlah." ujar Sasuke lega. Dia menatap lagi Hikaru yang sedang asyik menyantap makanan kesukaannya dengan bahagia. Tanpa sadar bibirnya naik membentuk senyuman tipis.

.

.

.

Karin menghela napas panjang. Dia tak menyangka akan kembali ke tempat ini lagi. Takdir terkadang memang benar – benar aneh. Kali ini dia berhubungan dengan tempat ini lagi setelah sekian lama. Siapa yang sangka pelanggan setia toko kuenya adalah salah satu karyawan perusahaan ini. Dan siapa yang menyangka Hinata-san itu akan mempunyai ide untuk memakai produk bakery-nya untuk menjamu tamu super penting perusahaan Uchiha.

"Karin-saaaan…. Apakah kau sudah lama menunggu?"

Senyum Karin mengembang melihat Hinata berlari ke arahnya dengan begitu cerah. Sesuai dengan namanya, tempat yang hangat, Hinata adalah tipe yang membuat orang disekitarnya bahagia saat dia tersenyum. Sungguh berkebalikan dengan kepribadiannya.

"Tidak apa – apa, Hinata-san. Ini, aku sudah menyiapkan pesananmu. Kau tinggal mengeluarkannya dan menatanya dengan cantik."

"Ah, terimakasih Karin-san. Tapi kau beneran tidak berminat ikut denganku dan menatanya denganku saja. Mungkin dengan begitu aku bisa merekomendasikanmu ke boss supaya-"

"Tidak!" Karin menjawab segera dengan panik.

Bertemu dengan bos tempat ini adalah hal terahir yang Karin inginkan.

"Maksudku aku sudah cukup senang kamu mau memakai produk kami untuk menjamu tamu penting. Kau hanya perlu mempromosikan ke yang lainnya." Cepat – cepat Karin mengubah nada suaranya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Oh, begitu? Tapi kau mau kan menemaniku minum kopi terlebih dahulu. Tidak mungkin kau mau langsung pulang kan?"

Karin hampir saja mengiyakan permintaan Hinata saat dia melihat sosok yang sangat dikenalnya keluar dari lift tak jauh dari mereka. Karin segera berbalik agar orang itu tidak bisa melihat wajahnya.

"Maaf, aku-aku lupa ada sesuatu yang harus kulakukan. Sampai jumpa!"

Tidak menunggu balasan dari Hinata dan tanpa mengindahkan panggilannya, Karin segera mengambil langkah seribu. Orang itu tidak boleh melihatnya ada disini.

Karin baru bisa menghela napas lega saat di sudah ada di luar gedung. Dia melangkah menuju taman di samping gedung untuk menemui putranya yang ia suruh menunggu disana.

.

.

.

"Gaki, apa yang kau lakukan disini?"

Sasuke tidak bisa menahan rasa terkejutnya melihat anak kecil yang dia temui tadi pagi kini sedang berjongkok di depan mobilnya.

"Ojisan tampan!" seru Hikaru girang. "Aku sedang mencari bolaku yang jatuh!"

"Aku jadi ingin sekali bertemu dengan orang tuamu. Orang tua macam apa yang sering menelantarkan anaknya."

"Okaasan! Hikaru menemani Okaasan!"

"Hemm, jadi kau kesini bersama ibumu?"

"Ya! Ah, itu Kaasan!"

Mata Sasuke mengikuti Hikaru yang berlari keluar tempat parkir. Dia menubruk kaki seorang wanita dan bergelayut manja. Sasuke tidak bisa mendengar apa yang dicelotehkan Hikaru kepada wanita yang sepertinya adalah ibunya itu karena jarak mereka yang cukup jauh. Hikaru sedikit meringis saat wanita itu menjewer telinganya. Sasuke meringis geli.

Rasakan! Anak nakal itu memang harus diberi sedikit pelajaran agar tidak kelayapan.

Mata Sasuke terus mengikuti pergerakan si anak kecil bahkan sampai saat Hikaru kecil dan ibunya hilang dari pandangan. Sayang sekali Sasuke tidak melihat jelas sosok ibu Hikaru karena jarak yang cukup jauh. Padahal Sasuke penasaran bagaimana rupa orang tua yang begitu teledor hingga membuat anak seaktif Hikaru tidak terkontrol dan sering kelayapan. Sunggguh orang tua yang ceroboh.

.

.

.

"Kaasan…Kaasan….Jangan marah lagi! Hikaru janji nggak akan nakal!"

Karin harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memasang wajah serius. Hikaru kecil sedang memasang wajah paling berbahaya. Menarik – narik rok Karin dengan manja. Matanya berkaca – kaca dengan raut paling menyedihkan yang akan membuat siapa pun manurutinya. Jika saja Karin tidak sangat mengenal putranya itu, dia pasti akan termakan rayuan bocah nakal itu lagi.

"Sudahlah, Karin. Lihat, kali ini sepertinya Hikaru-chan benar – benar menyesal kali ini!"

Hikaru segera berlari menyongsong pelukan penyelamatnya kali ini.

"Kiba-ojisaaan!"

Kiba tentu saja menerima pelukan bocah kesayangannya dengan sepenuh hati.

"Aku lapar… Kaachan tidak memberikan pudding kesayanganku, jiisan~"

"Bagaimana kalau kau ikut Jiichan saja dan kita bisa jalan – jalan ke Touka-obachan dan membeli pudding dan omorice kesukaanmu?" ujar Kiba sambil berbisik yang tidak cukup pelan sehingga masih mengundang pelototan dari Karin.

"Inilah alasannya Hikaru menjadi sangat susah diatur. Karena kau selalu memanjakannya Kiba!" Karin mematikan kompor dan berkacak pinggang di depan dua orang kesayangannya itu.

"Kapan Hikaru-chan kita menjadi anak yang susah diatur? Hikaru-chan adalah anak yang baik dan penurut, benarkan boy?"

"Hu'um! Hikaru is good boy!"

"Hahaha… Oh ya, aku membawa hadiah untukmu!"

"Benarkah?"

"Ada di tasku." Belum selesai Kiba menyelesaikan kalimatnya, Hikaru sudah menghilang melesat mencari tas milik Kiba.

"Anak itu…." Karin hanya bisa menghela napas sedang Kiba tertawa terpingkal – pingkal.

"Jadi, kau bertemu dengannya disana?"

Karin mengambil bantal sofa terdekat untuk memukulkannya ke kepala Kiba.

"Aw, sakit Karin!" keluh Kiba.

"Kau berani menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu? Tentu saja aku tidak bertemu dengannya, Bodoh!" Karin melanjutkan memukuli Kiba dengan bantal sofa dan baru berhenti saat Kiba berteriak minta ampun. Kiba menggerutu perihal betapa kini sahabatnya semakin brutal. Karin mengabaikannya.

"Aku melihatnya dari kejuahan dan langsung pergi. Menurutmu, apakah dia sempat melihatku? Apakah dia mengenaliku?" tanya Karin dengan suara bergetar. Dan itu menyakiti Kiba. Dia sedih bagaimana bajingan itu masih berefek begitu besar terhadap Karin.

"Kau tidak bisa selamanya bersembunyi darinya, Karin. Dia berhak mengetahui tentang Hikaru," ujar Kiba.

"Tidak!" sergah Karin keras. "Dia sudah kehilangan haknya untuk mengenal Hikaru di detik dia menolak kehadirannya."

"Bagaimana dengan Hikaru? Hikaru berhak mengenal siapa ayahnya. Dia butuh sosok Ayahnya, Karin. Kau tidak bisa memungkiri yang satu itu."

"Tidak. Hikaru tidak perlu ayahnya. Aku bisa membesarkannya sendiri sebagai ayah dan ibunya sekaligus. Dia tidak akan kekurangan apa pun. Kau salah Kiba. Kau salah!"

"Tapi Karin…."

"Cukup! Jangan bicara seakan – akan kau mengerti!"

.

.

.

Karin masih mendiamkan Kiba semenjak hari itu. Dia tidak akan meminta maaf duluan karena sudah berbicara keras padanya. Kiba yang harus meminta maaf padanya. Kiba tidak berhak mengatakan hal itu padanya. Padahal dia mengetahui semua yang terjadi padanya karena si brengsek Sasuke. Kiba mengetahui semua perjuangan dan pengorbanan yang dia lakukan demi membesarkan Hikaru.

Hari – hari selanjutnya masih berjalan seperti biasanya. Mengantarkan Hikaru ke Day Care. Membuka toko Bakery kecil miliknya. Bermain dan menemani Hikaru berjalan – jalan. Hikaru bisa rewel setengah mati jika terus terkurung di dalam ruangan. Semua berjalan sempurna selain adrenalin yang harus dia rasakan setiap dia mengunjungi Uchiha Sky Tower untuk mengantarkan pesanan.

Disatu sisi Karin senang mereka sangat menyukai produk Scarlet Bakery miliknya dan mulai memesan untuk tiap tamu – tamu penting mereka. Kadang dengan jumlah besar. Namun disisi lain dia takut bahwa secara tidak sengaja dia akan bertemu dengan Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut. Seperti kali ini. Dia harus menghabiskan sepuluh menit penuh untuk menghela napas dan memanjatkan doa agar hari ini pun dia tak perlu bertemu dengan orang itu.

"Selamat pagi, Uzumaki-san. Mau mengantarkan pesanan lagi?"

Karin bahkan belum sempat bertanya, sang resepsionis itu sudah terlebih dahulu menyapanya. Dia sudah sangat sering kesini sehingga mereka sudah tidak asing lagi dengan dirinya.

"Selamat siang, Tomoki-san. Kau benar. Hinata bilang akan ada meeting dengan calon investor. Jadi, dia memesan kue buatanku lagi. Aku tersanjung perusahaan besar seperti Uchiha Group mau memesan pastery buatan toko kecil semacam Scarlet Bakery."

"Ah, tapi sayang sekali. Hinata-san sedang pergi sebentar untuk mengurus sesuatu. Tadi dia berpesan jika kau datang, dia mempersilahkan Karin-san untuk langsung saja ke lantai 18 ke ruang persiapan saja. Dia akan menyusul Anda kesana."

"Apa? Err, tidak bisakah aku menitipkannya padamu saja Tomoki-san?"

"Tapi… Hinata-san meminta kami memastikan Anda sendiri yang menyiapkan sajian meeting di lantai 18. Dia berkata ada hal penting yang harus dibahas juga dengan Anda."

Karin mendesah frustasi. Semakin lama dia disini akan semakin riskan dia bertemu dengan Sasuke Uchiha. Bukannya dia takut bertemu dengan orang itu. Tidak sama sekali. Seorang Karin Uzumaki pantang untuk merasa inferior dihadapan orang lain. Bahkan bila seseorang itu adalah Sasuke Uchiha.

Karin akhirnya mengalah dan menerima permintaan untuk pergi ke lantai 18. Lift yang beranjak naik serasa lama sekali dirasa oleh Karin. Dia berkali – kali menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang betalu – talu. Di perusahaan sebesar Uchiha Group tidak mungkin semudah itu untuk saling bertemu kan?

Baru saja Karin tersenyum lega karena merasa yakin dia tidak akan bertemu dengan orang itu, tapi sepertinya Tuhan senang sekali membuat lelucon untuknya.

Tepat saat pintu lift terbuka, sosok yang sangat dia kenali berdiri tepat di depannya. Sasuke Uchiha.

.

.

.

Karin sadar dia bukan umat Tuhan yang baik. Tapi dia tidak menyangka Tuhan bisa sebercanda ini mempermainkan kehidupannya. Mengapa dari semua orang, dia harus bertemu kembali dengan Sasuke Uchiha. Orang terakhir yang ingin dia temui selama hidupnya.

Lebih dari seribu purnama akhirnya dia bisa menatap mata yang selalu bisa menghipnotis sanubarinya. Bisa Karin lihat Sasuke juga membeku melihatnya ada di hadapannya. Karin tidak yakin berapa lama waktu telah berlalu. Dia baru tersadar saat pintu lift otomatis yang akan menutup kembali, dihadang oleh tangan Sasuke agar tetap membuka. Karin segera mengembalikan kesadarannya. Dia tidak boleh membiarkan pria ini tau sebanyak apa pertemuan kembali mereka mempengaruhinya. Namun belum sempat Karin membuka mulut untuk bersuara, Sasuke tiba – tiba masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai tertinggi.

"Uzumaki Karin?"

"Kaget melihatku disini, Sasuke?" Karin mencengkeram paper bag yang dibawanya agar suaranya tidak bergetar. Namun itu semakin sulit saat Sasuke malah memojokkannya di dinding lift.

"Apa yang kau lakukan disini, Karin?"

"Jangan salah sangka. Aku tidak bermaksud untuk menemuimu. Kebetulan aku sedang ada sedikit urusan disini."

"Banarkah? Jadi, kau sudah melupakanku sepenuhnya?"

"Sepertinya kau yang belum melupakanku, Sasuke-kun."

Karin tidak akan kalah kali ini. Tidak peduli aroma musk Sasuke kini menguar hampir merusak kewarasannya.

Denting Lift yang menandakan mereka telah sampai di lantai tertinggi berbunyi. Namun Sasuke malah menutup pintu lift dan menekan angka satu.

"Hey, apa yang kau lakukan?"

"Kita harus bicara."

"Tidak. Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Mengapa kita tidak berpura – pura menjadi orang asing saja saat bertemu? Bukankah itu yang kau inginkan?"

"Memangnya kau tahu apa yang aku inginkan?" Sasuke semakin mendekat. Jaraknya dengan Karin kini bahkan tidak sampai satu jengkal. Semakin menguapkan kewarasan Karin.

"Menjauhlah, Sasuke."

"Siapa yang memutuskan? Dalam hubungan seperti kita, harusnya aku yang memutuskan untuk mengakhirinya Karin. Bukan kau."

"Hubungan? MEMANG MENURUTMU HUBUNGAN APA YANG KITA MILIKI?" teriak Karin tepat saat denting lift kembali menyala.

"Karin?" Karin merasa lega sekaligus takut saat seseorang memanggilnya. Hinata Hyuuga berdiri memandang mereka dengan kening berkerut. Tentu saja. Posisinya dan Sasuke saat ini bisa dibilang sangat ambigu.

Dia mendorong Sasuke menjauh dan tersenyum menatap Hinata seperti tidak ada apa – apa.

"Kalian-"

"Kau tidak akan masuk, Hinata? Bukankah kita sudah terlambat?" Karin menatap Hinata dalam – dalam. Berharap Hinata akan mengerti kode yang dia kirimkan.

"I-iya. Kita memang terlambat. Ayo!"

Karin mengehela napas lega. Hinata memillih menempatkan dirinya diantara Karin dan Sasuke. Karin hanya perlu bertahan sedikit lagi dan dia akan terbebas dari suasana awkward di dalam lift. Dan benar saja. Denting lift mengabulkan doanya. Dia segera bergegas keluar walau masih bisa dia rasakan. Tatapan Sasuke yang membakar punggungnya mengikutinya sampai keluar dari lift.

Hinata ternyata orang yang sangat pengertian karena tidak mengajukan pertanyaan apapun mengenai Sasuke. Padahal bisa Karin lihat, Hinata terlihat penasaran. Berkali- kali Hinata melirik ke arahnya. Terlihat sekali ingin menanyakan sesuatu. Tapi tetap tidak ada kata yang keluar dari mulut Hinata.

Jadi, sisa hari itu hanya mereka gunakan untuk berbicara tentang bisnis. Sekali lagi Karin berhasil membuat client penting puas dengan kue – kue yang dia hidangkan. Atasan Hinata sangat puas karena merasa jamuan yang disiapkan Karin juga ikut andil dalam deal-nya proyek bernilai milyaran.

Seharusnya ini hal yang membahagiakan. Apalagi Karin mendapat tawaran kontrak tetap untuk menyiapkan setiap jamuan penting acara Uchiha Group dimasa depan dan suntikan dana bagi Scarlet Bakery.

Namun Karin tahu dia harus segera memutus hubungan dengan perusahaan Uchiha secepatnya. Pertemuannya dengan Sasuke hari ini membuatnya memiliki firasat buruk. Terlebih Karin tidak benar - benar memahami jalan pikiran Sasuke. Sehingga dia tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi bila ia terus berhubungan dengan perusahaan Uchiha sementara Sasuke telah menyadari keberadaannya. Dia tidak bisa mengambil resiko. Apapun yang terjadi Sasuke tidak boleh mengetahui keberadaan Hikaru.

"Kaachan?" Karin menoleh menatap Hikaru kecil yang kini sedang bergelayut di kakinya dengan manja. Matanya terasa panas, hatinya kebas. Sebuah ironi karena Hikaru tersenyum begitu lebar di depannya.

Karin membulatkan tekad dan memeluk Hikaru yang kegiarangan.

Tidak akan.

Dia tidak akan membiarkan Sasuke merusak kedamaian jiwa Hikaru. Hanya Hikaru yang dia miliki di dunia ini.

.

.

.

TBC...

.

#WorkFromHome :)

.

Notes:

Okaachan/ okaasan: ibu

Ojichan/ ojisan: paman

obachan/obasan: bibi

gaki: anak kecil (laki - laki) nakal

.

.

.

[02.04.2020]