Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei.
Warning: Incest, Typo, Canon, Alive!Kushina, Smut, Lemon, Mature content, OOC, and many more.
...
..
.
Enjoy it!
Seminggu berlalu setelah Naruto lulus menjadi genin. Dia bersama Kushina menjalankan beberapa misi tingkat D, sedikit banyak Naruto tahu akan misi tingkat D yang diberikan pada genin yang baru saja lulus dari Academy. Dia tak mengeluh sedikit pun tentang misi ini, lagipula dia mendapatkan bayaran atas misi tersebut, walaupun kecil.
Hubungannya bersama Kushina, sedikit lebih intim. Wanita itu bahkan beberapa kali memberikan ciuman pada bibir Naruto, setelah bocah pirang itu berhasil mengalahkannya dalam latihan. Sebenarnya, hal tersebut masih termasuk lumrah karena Naruto dan Kushina adalah Ibu dan Anak. Naruto memang memakluminya, tapi lama-kelamaan dia menginginkan bibir seksi milik Kushina.
"Melamun terus saja."
Naruto terkejut, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Saat ini dirinya tengah berjalan santai di jalanan Konoha bersama Kushina. Mereka berdua baru saja melaksanakan sebuah misi untuk mencari kucing milik istri Daimyo yang hilang.
"Ada apa, sensei?"
Kushina menghela napas lelah. "Kau sedari tadi melamun terus, sochi."
"Benarkah? Maafkan aku."
Wanita itu mengacak rambut pirang Naruto. "Tak apa, kaasan memakluminya."
Keduanya kembali berjalan, tujuan mereka saat ini adalah kembali berlatih ilmu berpedang. Pertemuan mereka yang terdahulu memang di isi dengan latihan berpedang serta ilmu segel. Kushina sendiri memberikan beberapa pelajaran tentang fuinjutsu pada Naruto, wanita itu ingin putranya bisa melakukan beberapa teknik segel menyegel.
Keduanya pun sampai di lapangan tempat mereka biasa latihan, Kushina membuka rompi Jounin miliknya, dan melemparkannya ke pohon yang tak jauh dari mereka berdua. Lekuk tubuhnya sungguh terlihat indah saat Naruto memandanginya, wajah si pirang itu merona melihat lekukan tubuh yang dimiliki oleh Kushina.
"Melihat apa?" Naruto menggeleng cepat saat Kushina bertanya pada dirinya. "Seminggu ini aku lihat kau banyak berkembang, Naruto. Sensei mungkin tak akan khawatir jika kita menerima misi tingkat C ataupun B nantinya." Kushina berjalan mendekati Naruto, dia menarik tubuh bocah itu, lalu mengenggelamkan kepala pirang tersebut pada belahan dadanya. "Lihat apa, hm?"
"Kaawwswaaann."
Kushina tersenyum lima jari melihat wajah Naruto yang sudah merona. "Dasar, bilang saja jika kau menginginkan benda ini—enggh!"
Naruto tanpa sengaja meremas dada Kushina, bocah pirang itu langsung menarik diri dari pelukan maut milik Kushina. "Ma-maafkan aku!"
Kushina malah memberikan sebuah senyuman menggoda pada Naruto. Dia melipat kedua tangannya di dadanya, menyanggah dua buah dada tersebut. "Dasar murid nakal." Kushina tahu, Naruto tak sengaja memegang buah dadanya. "Baik, lupakan hal tadi. Kita kembali ke pelajaran yang akan aku ajarkan untukmu."
"Ha'i!."
Beberapa saat kemudian, Naruto duduk dengan peluh yang membasahi tubuhnya, dia membuka jaket orange miliknya dan membiarkan semilir angin berhembus menerpa dirinya. Sementara itu, Kushina berjalan mendekati Naruto sembari membuka kaos biru yang dipakainya.
"Se-sensei?!"
"Apa?" tanya Kushina. Wanita itu saat ini hanya memakai sebuah bra hitam, serta celana panjang saja, tentu saja itu membuat Naruto sangat terkejut. "Panas Naruto, kaos sensei juga sudah basah banget ini." Ia meletakkan kaos itu di dahan pohon untuk mengeringkannya.
Sementara Naruto hanya bisa menahan dirinya sendiri, celana yang dipakainya terasa sesak. "Sial, Kaasan seksi sekali." Naruto terus menatap dada Kushina yang di tutupi oleh bra hitam, dia meneguk ludahnya dengan susah payah. "Dadanya besar sekali, aduh."
"Ukurannya DD."
"Eh?"
"Kau dari tadi melihatnya terus, sochi." Kushina menyandarkan punggungnya di batang pohon, dia memenjamkan kedua matanya menikmati semilir angin yang menerpa dirinya. "Jika kau ingin, kau boleh memegangnya. Yah, anggap saja untuk hadiahmu karena sudah berkembang—Enghh!" Kushina tersentak saat dadanya di remas oleh Naruto. Dia membuka matanya melihat putranya itu tengah menatap buah dadanya dengan pandangan berbinar. Kedua violet itu mengerjap sesaat, lalu sebuah senyuman mesum terpampang di wajah cantiknya.
"Lihat anak kaasan. Sungguh polos."
"Kaasan!"
Kushina tertawa mendengar protes dari Naruto, dia pun membuka bra hitam miliknya. "Kau boleh memainkannya." Kushina mengangkat kedua buah dada berukuran Double D itu. "Enghh!" Kushina menahan desahannya ketika Naruto mulai bermain dengan puting susu yang masih berwarna merah jambu itu.
Naruto sendiri terus memainkan kedua puting susu Kushina, dia mendongak menatap Ibunya yang sedang memenjamkan kedua matanya menikmati sentuhan dari bocah pirang tersebut. Naruto kemudian melahap salah satu buah dada Kushina, menghisapnya dengan kencang seolah akan keluar air susu dari sana.
Kushina memeluk kepala pirang Naruto, dia memang membiarkan bocah itu bermain dengan buah dadanya. "So-sochi uhh!" Naruto terus menghisapnya, sembari meremas kedua benda kenyal nan besar itu. Bocah itu sangat suka bermain dengan dua buah dada itu. Kushina lalu menangkup kedua pipi Naruto, membawanya tepat di depan wajahnya. Wanita itu kemudian mencium bibir bocah pirang itu dengan mesra.
Keduanya pun terus memadu kasih walaupun hanya sebatas foreplay.
...
..
...
Naruto tak bisa tidur, dia terus terjaga memikirkan hal yang barusan terjadi. Dirinya menghisap buah dada Kushina—Sang Ibu tercinta. Dia tak menyangka akan hal tersebut, tapi Naruto sudah mendapatkan izin dari Kushina itu sendiri.
[Kau sepertinya sangat senang saat menghisap puting susu Ibumu?]
"Kurama kah?"
[Kau beruntung punya Ibu seperti Kushina.]
"Beruntung?"
[Dia punya hasrat seks yang besar. Selama ini, Minato selalu menggunakan bunshin miliknya untuk memuaskan Ibumu itu. Apa kau tak curiga saat dia dengan santainya membuka baju serta bertelanjang dada tepat di depan matamu?]
"..."
[Kushina mencari seorang lelaki saat ini.]
"...Mencari seorang lelaki?"
[Ya dan itu kau. Kushina sudah menemukannya. Kau lelakinya Naruto.]
"..."
[Aku mau tidur.]
Naruto terlihat merenung sejenak, dia tak menyangka jika Kushina memiliki hasrat seksual yang tinggi, jadi rasa penasarannya akan Kushina yang selalu menggoda dirinya pun terpecahkan. Naruto langsung beranjak dari tidurnya, dia ingin mengambil sebuah air minum di dapur rumahnya.
Hari memang sudah malam, tetapi dirinya tak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan hal tadi. Naruto terus saja memikirkan hubungan intimnya bersama sang guru, wajahnya langsung merona saat dia mengingat kejadian tadi siang.
"Ahh."
Langkah kakinya terhenti seketika, dia mendengar sebuah suara dari arah kamar Kushina. Dengan hati-hati, Naruto melangkah mendekati pintu kamar milik Kushina, dia mengintip kamar tersebut melalui lubang kunci. Mata birunya membulat sempurna melihat Kushina telanjang bulat dengan tangannya yang sedang menggesek area kewanitaannya. Wajah Naruto merona saat melihat Ibunya itu tengah beronani.
"Naruto... ahhh..."
Yang lebih membuat bocah itu terkejut adalah, Kushina memanggil namanya saat menggesekkan jarinya itu. Bocah itu pun pergi meninggalkan kamar Kushina ke dapur, untuk mengambil air. Tangan Naruto bergetar saat menggenggam gelas itu, dia masih shock akan Kushina yang beronani dengan dirinya sebagai Objeknya.
[Ibumu sudah sangat terangsang karena kau.]
"Ta-tapi, kita Ibu dan Anak, mana mungkin bisa berhubungan badan seperti itu?!"
[Persetan dengan hubungan itu Naruto, kau dan dia bisa bersatu.]
"..."
Naruto meletakkan gelas itu, dia beranjak untuk kembali ke kamarnya. "Sochi?" kedua mata Naruto melebar sempurna melihat Kushina yang keluar dari kamarnya dan hanya menggunakan kaos orange polos tanpai memakai celana dalam. "Belum tidur?"
"Aku haus, jadi aku mengambil air untuk kuminum."
"Begitu kah?"
Naruto berusaha keras untuk menyembunyikan rasa gugupnya di depan wanita seksi itu, dia melewati wanita itu dengan perasaan yang campur aduk, serta celana yang sangat sesak. Dia menoleh kebelakang, dan melihat Kushina membungkuk mencari beberapa camilan di dalam lemari pendingin, Naruto meneguk ludahnya dengan susah payah melihat bongkahan pantat serta area kewanitaan Kushina yang masih berlumuran cairan.
Naruto bergegas kembali ke kamarnya untuk tidur di atas kasunya.
...
..
.
To Be Continue
...
..
