Selamat membaca!
.
.
.
Chanyeol melangkah pelan di sepanjang koridor sekolah. Segerombolan siswi memandangnya memuja dengan pekikan yang di tahan. Beberapa yang menyapanya malu-malu, ia balas dengan senyum ramahnya. Chanyeol melebarkan senyumannya ketika sosok Baekhyun terlihat di depannya dengan sepotong kebab di genggamannya. Dari mana ia mendapatkan kebab di pagi hari seperti ini? Pikirnya.
"Hai, Chanyeol."
Chanyeol menghentikan langkahnya ketika mendapati seorang siswi cantik menghadang tubuhnya. Chanyeol tersenyum ramah untuk sapaan lembut itu. Manis. Pikir Chanyeol.
Mendapat senyuman manis dari Chanyeol, siswi itu menundukan wajahnya malu. Sebelah tangannya terangkat untuk menyelipkan anak rambutnya pada sela telinga. Tidak sanggup menahan perasaan salah tingkah dirinya, ia dengan segera menyodorkan sebuah kotak dengan peach dengan pita berwarna pink. Chanyeol menatap kotak tersebut dan wajah manis siswi di depannya bergantian.
"Untukmu."
Chanyeol menerima kotak tersebut. Dan mengucapkan terimakasih. Sedangkan siswi di depannya menggigit bibir bawahnya menahan pekikan senang di hatinya.
"Aku menyukaimu." Ujarnya lirih.
Chanyeol mengerjap dan tidak tahu harus menjawab apa. Oh, ayolah. Ia bahkan tidak tahu nama siswi itu. Memang sih manis. Tapi mendapat pengakuan tiba-tiba seperti itu, membuat Chanyeol sakit kepala tiba-tiba. Dan anehnya, Wajah berminyak Baekhyun yang di penuhi jerawat justru terngiang di kepalanya.
"Yak! Baekhyun!" Chanyeol sontak memanggil namanya untuk menghindar dari siswi manis itu.
Baekhyun yang mendengar seruan tiba-tiba dari suara berat Chanyeol, tersedak kebabnya yang baru saja ia gigit. Ia terbatuk hebat ketika bulatan kebab itu melesak begitu saja ketenggorokannya. Chanyeol sontak berlari menghampirinya.
"Kau tak apa?" Tanyanya khawatir dengan menepuk-nepuk pelan punggung gempal Baekhyun. Para siswi yang melihatnya mengernyit tidak suka. Terlebih sisiwi yang tadi menyatakan perasaannya pada Chanyeol.
Baekhyun mengatur nafasnya, begitu batuk yang melandanya mereda. Ia mengatupkan rahangnya dengan kuat sebelum menatap Chanyeol dengan kesal.
"Kau mau membuatku mati, yaa? Kenapa memanggilku dengan tiba-tiba?" Teriaknya sebal.
"Y-ya maaf. Aku kan tidak bermaksud."
Baekhyun mendengus sebal dan berbalik meninggalkan Chanyeol dengan hentakan kesal di setiap langkahnya.
"Tunggu akuuu~"
...
Jam pelajaran tengah berlangsung dengan santai namun teratur. Siswa-siswi disana begitu telaten menarikan tangannya pada sketchbook di depannya dengan kuas di jarinya.Yaa, ini adalah pelajaran seni. Dimana setiap siswa dan siswi di tugaskan untuk melukis apa yang tengah di impikannya.
Begitu pula dengan Baekhyun. Lelaki gembul itu terlihat serius dengan apa yang di lukisnya. Sesekali ia menegakkan tubuhnya ketika gumpalan lemak yang mengganjal perutnya membuat Baekhyun merasa sesak.
Sementara Chanyeol, lelaki itu terlihat bingung akan melukis apa. Sudah lima belas menit berlangsung. Namun kertas di hadapannya masih bersih tidak tercoret sedikitpun. Ia lalu menolehkan kepalanya menatap Baekhyun yang berada satu meter darinya. Chanyeol hanyut dalam pikirannya. Iris bulatnya menatap Baekhyun dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Rambut tebalnya berwarna hitam legam. Alami karna belum pernah di warnai. Chanyeol yakin itu. Meskipun Chanyeol belum pernah menyentuhnya, tapi rambut legam itu sepertinya sangat halus. Terlihat dari poninya yang menjuntai menutupi alisnya, sesekali bergoyang seiring pergerakan Baekhyun. Yaa, meskipun terkadang aromanya tercium tidak sedap ketika Chanyeol di dekatnya. Mungkin karna rambut Baekhyun tebal, jadi mudah berkeringat dan menimbulkan bau tak sedap. Positif Chanyeol. Chanyeol tidak tahu saja jika Baekhyun seminggu sekali pun belum tentu mau berkeramas. Memakan waktu lama ketika mandi, katanya.
Chanyeol menurunkan pandangannya pada wajah glowing (berminyak) Baekhyun yang di tumbuhi beberapa jerawat pun dengan bekasnya. Iris sipitnya terlihat hampir tenggelam karna pilinya yang bulat. Hidungnya pun ikut terlihat kecil. Apalagi bibir tipisnya. Terlihat sangat mungil karna daging di wajahnya. Chanyeol menahan tawa ketika berpikir mungkin wajah Baekhyun pipi semua. Tapi di samping itu, jika di perhatikan lebih dalam lagi, Baekhyun itu sangat manis. Irisnya berwarna hitam. Begitu jernih seperti mata bayi. Dan bibir tipisnya berwarna pink cerah. Chanyeol meneguk ludahnya kasar begitu pikiran gila merasuki otaknya. Tuhan, tolong lindungi Baekhyun dari otak cabul Chanyeol.
Chanyeol semakin menurunkan pandangannya pada tubuh Baekhyun. Gemuk, tetapi sekal. Oh, tentu saja. Itu daging, bukan lemak. Lagi, Chanyeol menahan tawa karna pikirannya. Dadanya terlihat berisi, Chanyeol jadi ingin meremasnya. Astaga, otakmu. Chanyeol menggeleng dan memperhatikan perut Baekhyun yang berlipat karna tengah duduk. Chanyeol gemas ingin mencubitnya.
Chanyeol beralih pada bagian pinggang Baekhyun. Chanyeol membenarkan jika seseorang mungkin akan mengatakan jika Baekhyun memiliki bokong yang bulat, penuh, dan terlihat sexy? Chanyeol penasaran sendiri, jadinya. Chanyeol memperhatikan Paha Baekhyun yang padat dan berisi. Kenapa Chanyeol jadi panas dingin begini? Membayangkan jika Baekhyun mendesah manja ketika ia meremas paha dalamnya yang berisi itu.
Pletak!
"Akh," Chanyeol mengerang ketika penggaris besi memukul kepalanya. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati Baekhyun yang melotot menatapnya.
"Apa yang kau pikirkan, huh? Dasar cabul!" Umpat Baekhyun dengan suara tertahan.
Chanyeol tersenyum ngeri dan sesekali masih mengaduh. Ia kemudian memilih meluruskan duduknya menghadap sketchbook dan mulai menarikan tangannya disana. Sepertinya ia mendapat inspirasi setelah mengamati tubuh gempal Baekhyun. Chanyeol tersenyum ketika melukiskan mimpinya tersebut.
...
Di akhir jam pelajaran seni, yang kebetulan merupakan jam pelajaran terakhir sebelum di pulangkannya siswa-siswi ke rumah masing-masing. Guru seni mereka mengambil nilai lukisan dengan menyuruh siswa-siswinya menjelaskan maksud dari lukisannya. Merekapun maju untuk menjelaskan lukisannya masing-masing sesuai dengan nama yang disebutkan.
"Park Chanyeol!"
Chanyeol maju kedepan setelah guru seni mereka menyebutkan gilirannya. Ia meraih kertas yang disodorkan padanya dan memperlihatkan kepada teman-temannya. Seluruh pasang mata yang melihat lukisan Chanyeol, mengernyit tak mengerti. Pasalnya di kertas Chanyeol terlukis sketsa seorang lelaki yang tengah tersenyum manis, dengan tubuh ramping yang terlihat mempesona. Sedikit banyak mereka di buat kagum dengan lukisan Chanyeol yang mendekati nyata itu. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, siapa lelaki dalam lukisan Chanyeo?
"Ini adalah yang aku pikirkan ketika aku mencari ide untuk lukisanku. Aku ingin suatu hari... Melihat Baekhyun dengan tubuh seperti ini."
Keadaan menjadi hening. Seluruh mata menatap Baekhyun di pojok sana. Sedangkan Baekhyun tidak menampilkan ekspresi apapun. Lelaki itu menatap Chanyeol dalam arti. Sebenarnya, Baekhyun juga melukiskan dirinya dalam lukisan bertemakan mimpinya itu. Ia juga melukiskan tubuh proporsional dengan wajah yang lebih tampan, seperti sebelum-belumnya. Namun melihat orang lain menginginkannya dalam hal serupa, entah mengapa Baekhyun merasa sakit hati. Baekhyun merasa orang tersebut tidak menyukai dirinya yang sekarang. Dan sialnya, orang itu adalah Chanyeol. Seseorang yang Baekhyun harap menjadi orang terdekatnya.
...
Baekhyun pulang lebih dulu meninggalkan Chanyeol. Lelaki gempal itu bahkan tidak menatapnya sama sekali ketika Chanyeol memanggilnya atau berbicara padanya. Chanyeol tentu sangat merasa bersalah padanya. Chanyeol tidak menyangka jika apa yang di perbuatnya menyinggung perasaan Baekhyun.
Baekhyun segera mendudukan tubuhnya di meja makan sesampainya di rumah. Ranselnya bahkan masih menggantung di punggungnya ketika ia membuka penutup makanan dan mengambil lima sendok nasi ke piringnya. Tanpa lauk sedikitpun, ia menghabiskan nasi di piringnya dengan cepat. Sesekali ia terbatuk karna perasaan sesak didadanya.
Nyonya Byun yang juga baru kembali dari pekerjaannya terkejut melihat keadaan putranya. Ia menghampiri Baekhyun yang memakan nasinya dengan air mata yang membasahi wajahnya.
"Baekhyun, kau kenapa, nak?"
Nyonya Byun mendongakan wajah putranya dan menghapus air mata di wajah Baekhyun. Baekhyun sesenggukan dengan mulut penuh nasi. Ia lalu memeluk erat ibunya dan membenamkan wajahnya pada perut ibunya.
Nyonya Byun hanya mengusap kepala putranya dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
"B-aekhyun juga i-ingin punya tubuh ba-gus dan wajah tam-tampan. Huhuhu. Baek-hyun juga tidak mengharapkan punya tu-buh seperti ini, huhuhuhuu~" Raungnya dengan tersendat-sendat.
"Sst, apa yang kau bicarakan, hmm? Kau tetap putra ibu yang paling tampan."
Nyonya Byun melepaskan pelukan Baekhyun dan berjongkok di hadapan putranya. "Katakan pada ibu. Apa ada yang mengejekmu? Apa ada yang membullymu di sekolah? Katakan pada ibu siapa orangnya?"
Bukannya menjawab, Baekhyun justru semakin meraung. Ia menggeleng keras dan memeluk leher ibunya. Sementara Nyonya Byun kembali mengusap lembut punggung putranya. Mencoba membuatnya tenang.
...
Setelah kejadian di meja makan kemarin sore, Baekhyun yang kelelahan langsung menidurkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mandi atau sekedar mengganti seragamnya.
Ibunya yang mendapati hal itu pun hanya menghela nafas pasrah dan menyelimutinya.
Paginya, Baekhyun mulai menggerakan tubuhnya yang tidak nyaman. Ia meringis ketika pantatnya yang terasa gatal terasa linu saat ia menggaruknya. Baekhyun membuka matanya dan mencoba melirik bagian pantatnya tersebut. Dengan pandangan yang masih membuaram, Baekhyun menurunkan celananya dan jemarinya menyentuh tonjolan sebesar biji jagung di pipi pantatnya. Baekhyun mengernyit mendapati merah tonjolan tersebut sangat kontras di kulit putihnya.
"Ti-tidak," Lirihnya nyaris tak bersuara.
Ia sontak beranjak dan menghampiri cermin untuk melihat lebih jelas. Irianya terbelalak begitu ia menyodorkan pantatnya di depan cermin, hal yang di khawatirkannya benar benar terjadi.
"I-ibuuuuu!!!!! Ada bisul di pantatkuuuu!"
Masalah kemarin pun belum selesai, sekarang timbul masalah baru. Baekhyun berjanji akan hidup lebih baik setelah ini.
...
"Ibu sudah memperingatimu berkali-kali untuk rajin mandi dan mengganti rutin celana dalammu. Lihat kan apa yang sekarang terjadi? Ibu mengomelimu setiap hari itu bukan semata-mata karna ingin mengomel. Semua demi kebaikanmu."
Baekhyun semakin menenggelamkan wajahnya pada bantal. Ia membiarkan ibunya yang sedang mengompres bisul di bokongnya itu mengomel tiada henti.
"Bukankah kemarin kau baru saja mengeluhkan tubuhmu ini? Mulailah menjalani pola hidupmu dengan baik mulai sekarang."
Ibunya kenapa membahas masalah kemarin, sih? Baekhyun kan jadi ingin menangis lagi.
"Ibu akan membantuku, kan?" Lirihnya menahan tangis.
"Ibu sudah membantumu dari dulu. Kau saja yang tidak mau mendengarkan ibu."
Baekhyun cemberut dan kembali menenggelamkan wajahnya pada bantal.
"Sekarang istirahatlah. Biarkan pantatmu seperti ini dulu. Jangan sampai bisulnya pecah karna tergesek kain atau kau paksa duduk. Ibu sudah menitipkan surat ijinmu pada Chanyeol."
Mendengar nama Chanyeol, dada Baekhyun kembali terasa sesak. Tiba-tiba ia tidak ingin lagi bertemu lelaki jangkung itu. Belum ada seminggu ia mengenalnya, tetapi lelaki itu telah membuat Baekhyun sakit hati sedemikian rupa. Baekhyun kan jadi menangis lagi sekarang. Menyebalkan.
Bersambung...
